TELL HIM 2

CreditposterbyArin Yessy@PosterChannel

CreditposterbyArin Yessy@PosterChannel

 

 

 

 

 

 TELL HIM 2

by.Alana

Lee Joon and Park Jiyeon

Supoort Cast.

Eunjung | Mir

,

 

Joon mendesah. Dia berdiri mengambil langkahnya pada gadis yang berdiri di depan pintu itu. 

 

“Aku menemukanmu…”  ujar Joon kemudian.

 

Jiyeon mengerutkan dahinya. Apa maksudnya Joon mengatakan hal itu. 

 

 

****

 

Jiyeon, dia memiringkan kepalanya. Mencoba untuk memastikan ucapan yang baru di dengarnya. Wajahnya seperti kelopak mawar yang merekah diantara embun pagi. Begitu segar. Joon ingin menyentuhnya, namun dia ingat bukanlah ini tujuannya. Dia tidak ingin menggoreskan kesan apapun pada Jiyeon.

 

“Aku mendapatkan tugas dari dosenku untuk melukis. “

 

“Melukis gadis buta ?”  tanya Jiyeon.

 

“Bukan.”

 

“Lalu kenapa kau bersikeras untuk melukisku?”

 

“Karena aku sangat kagum dengan dirimu.”

 

Kembali Joon menemukan rona kemerahan itu di wajah Jiyeon. Senyumnya tersungging. 

 

“Selain itu kau mewakili segalanya.”

 

“Maksudnya ?” Jiyeon terlihat begitu tertarik.

 

“Bagaimana kalu kita duduk dulu.” Ajak Joon kemudian.

 

Jiyeon semula terlihat ragu, tap akhirnya dia duduk di tempatnya tadi dia berdiri. Joon masih berdiri melihat gadis itu duduk. Perasaanya terasa penuh oleh udara bebas. Dia seperti sedang menghadapi kepolosan. Berbeda dengan Eunjung. Joon mendesah, kenapa dia membedakan Jiyeon dengan Eunjung. Mungkin seperti langit dan bumi. Eunjung sangat berbeda. Dia,….mungkin rumit. Begitulah kesan pertama yang Joon ambil dari seorang Eunjung.

 

“Duduklah !” suruhnya lembut. Suaranya ragu. Dia menunduk.

 

“Apa aku mengganggu waktumu ?”  tanya Joon kemudian. Dia takut, akan mengganggu aktifitas Jiyeon. Gadis itu menggeleng.

 

“Tidak. “

 

“Ijinkanlah aku melukismu.”  pinta Joon lagi.

 

“Kau sudah melukisku. Lalu bagaimana mungkin aku tidak mengijinkan.”

 

Joon tersenyum. Betul. Tanpa seijin Jiyeon pun dia sudah melakukannya. 

 

“Apa aku boleh bertanya sesuatu ?”

 

“Silahkan. Semoga aku bisa menjawabnya.”

 

“Pendengaranmu begitu tajam.”

 

“Ya.”

 

“Apakah memang seperti itu sejak awal ?”

 

“Aku buta. Aku hanya bisa mendengar dan menyentuh.”

 

“Ya. Kau mengagumkan.” 

 

“Kau kagum pada orang buta. Apa tidak salah ?”

 

“Ya. Apakah salah ?” tanya Joon memastikan.

 

“Aku tidak tahu. Kenapa dengan diriku ?”

 

“Ya. Itulah yang kumaksud. Suara. Kau sangat peka terhadap suara. Aku menemukan keindahan itu di sana. Meskipun pengelihatanmu tertutup, namun kau mempunyai kekuatan yang sempurna dengan pendengaranmu.”

 

“Kau jangan memujiku, apalagi mengagumi. Ini membuatku besar kepala.”  Jiyeon tersenyum. Senyum pertama yang Joon lihat darinya. Sangat indah. 

 

“Apa tidak ada yang pernah mengatakan hal ini padamu ?”

 

“Siapa ?”

 

“Mungkin temanmu, kekasih barangkali ?”  Jiyeon tersenyum lagi.

 

“Kekasih tidak ada. Tapi kalau teman aku punya.”

 

Jadi dia tidak punya kekasih. Kenapa Joon harus merasa senang. Matanya semakin jeli mengamati wajah Jiyeon. Bersih, lembut, putih segar, dengan alis yang tersusun rapi alami. Bibir yang kemerahan dan bentuk hidung yang ramping dan anggun. Dia teramat indah. Tidak membosankan. 

 

“Apa kau sudah selesai ?” tanyanya kemudian.

 

“Oh, maaf. Sebenarnya aku masih ingin bicara denganmu.”

 

“Aku harus membantu Eomma menyiapkan sarapan.” ujar Jiyeon sambil berdiri. Joon membantunya.

 

“Baiklah. Apa kau punya waktu lagi ?” tanya Joon .

 

“Akan kuberitahu nanti jika aku sudah meminta ijin Eommaku.”

 

“Oke.”  jawab Joon singkat.

 

Jiyeon masih berdiri, belum melangkah sedikitpun.

 

“Apa ada yang salah ?” tanya Joon bingung.

 

Dia tertawa.

 

“Selimutnya.” ujar Jiyeon mengingatkan Joon akan selimut yang tadi dia bicarakan.

Joon merasa seperti orang bodoh. Dia malu.

 

“Aku lupa. Sebentar aku ambilkan.”

 

 

 

Joon teridiam, di berpikir tentang Jiyeon. Ya, memang sudah diketahui oleh sebagian orang bahwa orang yang mengalami kebutaan tidak hanya bisa mendengar lebih baik, tapi juga memiliki indera sentuhan yang lebih baik dan penciuman yang lebih kuat.

 

Mereka ternyata memiliki kemampuan echolocation, sensor navigasi yang digunakan kelelawar dan lumba-lumba untuk menentukan objek mati berdasarkan pantulan suara. Joon sangat mengagumi hal itu, terlebih pada sosok Jiyeon yang terlihat tegar dan mandiri.

 

 

***

 

Joon membantu Jiyeon menuruni jalan menurun terjal. Sebenarnya dia tidak tahu kenapaJiyeon mengajaknya pergi ke lembah ini. Katanya jika siang hari, lembah yang ditumbuhi oleh rerumputan itu biasa di gunakan oleh peternak domba untuk menggembalakan dombanya. Dan jumlahnya sangat banyak.

 

Joon merasa beruntung Ny. Park mengijinkannya berjalan-jalan di pedesaan bersama Jiyeon. Gadis itu terlhat sangat bahagia berada diantara alam terbuka. Dia mendudukkan gadis berambut panjang itu di bawah pohon 

 

“Domba-dombanya sudah berdatangan.” seru Jiyeon sambil memperhatikan ke arah depan. Namun Joon tidak meliat apa-apa. Dia sibuk menoh ke kiri dan ke kanan.

 

“Mana ?” tanyanya bingung

 

“Dari sebelah Timur. Domba-domba itu sedang menuju ke sini. Apa kau tidak mendengar derap kakinya juga baunya ?”  Joon mendadak tertawa.

 

“Iya. Bodohnya aku!  Aku tidak tahu.” jawab Joon.

 

“Mungkin lima menit lagi mereka akan tiba.”  ujar Jiyeon lgi.

 

“Kau bisa mengetahuinya walau jaraknya masih lima menit lagi dari sini.”

 

“Terbawa oleh angin.”

 

“Apanya ?”

 

“Baunya. Kau tahu, bau seekor domba itu sangat khas. Dia akan mudah terbawa oleh angin, dan aku dengan mudah mengenalinya.”

 

“Kau sungguh luar biasa.”

 

“Berhentilah memujiku.”

 

“Aku baru kali ini bertemu dengan sosok yang membuatku begitu tertarik.”  

 

Kemudian Jiyeon menunduk. Joon telah membuat gadis iu berebar-debar. Tiba-tiba dia merasa khawatir. Apakah dia bersikap terlalu berlebihan. Bagaimana jika Jiyeon nantinya akan jatuh cinta padanya.

 

“Joon ssi!”  paanggil Jiyeon kemudian.

 

“Hm.?.”  Joon mendekat.

 

“Aku ingin mengetahui bagaimana dirimu.” ujar Jiyeon.

 

“Bagaimana ?”

 

“Aku ingin menyentuh wajahmu. Apakah boleh ?”  Jiyeon sedikit malu saat mengatakannya, namun Joon mengambil tangan gadis itu dan meletakkannya di wajahnya.

 

“Kau boleh menyentuhnya sepuasmu.” 

 

Jiyeon tergelak diantara gemerisik ranting-ranting pepohonan. Dia menyentuhkan kedua tangannya pada Joon. Meraba setiap detainya. Joon pada awalnya merasa geli. Dia berkedip-kedip sambil menyeringai, tapi kemudian dia mulai menikmati kelembutan tangan Jiyeon di wajahnya. Dia menyentuh dahi, kemudian alis dengan jari telunjuknya, lalu hidungnya yang mancung hingga ke puncaknya.

 

“Alismu tebal. Kau pasti orang yang tegas.”  ujarnya.

 

“Tegas sekali. Aku mungkin juga terkesan galak. “

 

Jiyeon tersenyum.

 

“Hidungmu bagus. Mempunyai lekuk yang sempurna. Pipinya tidak gemuk, bibirmu sangat lembut, kau pasti tidak merokok. Kedua telingamu tidak terlalu besar. Kau bukan type orang yang keras kepala.”

 

Joon benar-benar tidak habis pikir dengan penilaian Jiyeon tentang dirinya. Kenapa dia bisa menebak dengan se akurat itu. Semua yang dikatakan Jiyeon sangat tepat.

 

“Selebihnya kau sangat tampan.”  Jiyeon melepaskan tangannya dari wajah Joon. Lalu dia melihat ke arah Timur.

 

“Benar. Menurut teman-teman wanitaku, aku memang tampan. “

 

“Benar kan.” Jiyeon tertawa.

 

“Itu domba – dombanya datang. Mereka sedang berlari.”  Jiyeon menunjuk ke arah Timur. Dan mata Joon mengikutinya. Dia melihat segerombolan domba yang tengah berlari menuju padang rumput di tengah lembah. Bau yang khas dari domba-domba itu membuat Joon sedikit mengerutkan wajahnya.

 

“Bau.”

 

“Ya. Mereka memang seperti itu. “

 

“Apa kau tidak merasa terganggu dengan bau domba-domba itu ?”

 

Jiyeon menggeleng menanggapi omongan Joon. Dia sama sekali tidak merasa terganggu. Justru dia merasa senang.

 

Dia mulai menggambar sketsa wajah Jiyeon. Dia masih meenungkan tentang makna suara yang dia simpulkan dari gadis itu. Matanya terpejam. Dia sedang menikmati angin, dia sedang mendengarkan domba-domba itu bercengkrama, dia senang melakukannya. Dia begitu tenang. Wajahnya sangat damai. 

 

“Apa kau sedang menggambarku  ?”  tanyanya.

 

“Ya. “

 

“Apakah aku cantik ?”

 

“Cantik. ”  jawab Joon.

 

“Apakah aku terlihat aneh dengan mataku yang buta ?”

 

“Tidak. Kau sangat indah.”

 

“Apakah kau sudah punya kekasih ?”  

 

Pertanyaan itu tidak langsung di jawab. Namun Jiyeon sudah bisa menebaknya. Gelombang keguguban Joon begitu dia rasakan. Joon sedang mengetuk-ngetukkan pinsilnya pada buku sketsanya, dan ritmenya tidak beraturan. Sekali menghentak dia lalu menghentakkannya dengan kecepatan berganda. Dia menahan perasaannya. Jiyeon tersenyum.

 

“Dia pasti cantik. “

 

“Ya. ” akhirnya Joon mengakuinya. 

 

Laki-laki itu memperhatikan raut Jiyeon. Dia sama sekali tidak terlihat kecewa. Senyum masih menghiasi bibirnya yang segar. 

 

“Jiyeon !”  panggil seseorang. Dia laki-laki yang masih mengendarai sepedanya  itu sudah berteriak dari kejauhan.

 

“Eoh !  Mir ! ” Sebut Jiyeon.

 

“Mir ?” tanya Joon.

 

“Temanku. Dia seorang guru. Mungkin dia sudah selesai mengajar.”

 

“Temanmu ? benarkah ?”  goda Joon.

 

“Kau ini bicara apa ? Jelas dia temanku.”  ujar Jiyeon malu.

 

“Hi,..!”  sapa Mir, ketika dia mendekat. 

 

Matanya terlihat begitu bersahabat. Dia tersenyum pada Joon dan Jiyeon, meski gadis itu tidak melihatnya. Ditepuknya pundak Jiyeon.

 

“Kau sedang apa di sini ?”  tanya Mir.

 

“Aku mengantar tamu hotelku berjalan-jalan, Oppa. Apa kau sudah selesai mengajar ?” 

 

“Sudah. Ini aku bawakan kau permen. Tadi ada muridku yang memberikan permen ini untukku. Maklum, guru tampan sepertiku banyak penggemarnya.”  ujarnya ceria. Dia tertawa, sementara tangannya mengambil tangan Jiyeon untuk meletakkan lolipop yang dia ambil dari saku bajunya.

 

“O..terima kasih Oppa !”  Jiyeon terlihat sangat senang. Dia merasa begitu bahagia dengan hal-hal yang sederhana seperti itu. Sungguh manis hatinya.

 

“Maaf cuma satu. Tamu hotelmu tidak kebagian.”  ujar Mir lagi.

 

“Joon. Namaku Lee Joon.”  ujar Joon mengenalkan diri.

 

“Aku Mir. Panggil saja begitu. ” Mir tertawa.

 

“Dia seorang pelukis.”  ujar Jiyeon menjelaskan.

 

“Bukan. Aku mahasiswa seni lukis.”

 

“Hebat sekali.” puji Mir.

 

“Jangan terlalu memuji.  Tidak ada yang berharap terlalu banyak dari seorang mahasiswa seni seperti kami.”

 

“Maksudmu ?”  tanya Jiyeon tak mengerti.

 

“Ya, mahasiswa seni seringkali tidak dianggab. Tidak ada yang mengharapkannya, tidak seperti mahasiswa yang kuliah untuk menjadi pengacara, dokter atau politikus. Orang semacam kami tidak terlalu dibutuhkan. Kami hanya bentuk dari penggembira belaka. Negara tidak terlalu mengharapkan kami ” Jelas Joon sambil terus memperhatikan Jiyeon.

 

“Kau terlalu merendahkan dirimu. Kenapa kau seperti itu ? Apa kau tidak berterima kasih atas bakat yang diberikan oleh Tuhan padamu?”

 

“Jiyeon, itu berbeda. Aku tentu saja sangat menghargai bakatku, oleh sebab itu aku tetap memperjuangkannya hingga aku tiba di tempat ini.”  jelas Joon lagi.

 

“Lalu kenapa kau merasa dirimu tidak berguna ?” 

 

“Karena hanya segelintir dari kami yang akan sukses dengan jalan hidup sebagai pelukis.” 

 

“Semua itu tergantung dari ketekunan dan kerja keras, kan ?”  ujar Mir.

 

“Dan nasib baik.” sambung Joon.

 

Lalu Joon, Jiyeon dan Mir sama-sama terdiam. Joon menghentikan kegiatannya menggambar sketsa Jiyeon. Dia memperhatikan Mir yang sesekali menekuni wajah Jiyeon. Lalu menunduk resah ketika Joon memergokinya. Ada sesuatu di sana. Tentang Mir.

 

“Ayo kita pulang !” ajak Jiyeon kemudian.

 

“Apa kau sudah lelah ?” tanya Mir. 

 

“Tidak. aku sangat menikmati ini.” jawab Jiyeon

 

“Naiklah sepedaku.”  saran Mir kemudian.

 

“Iya. Kau sebaiknya membonceng Mir. “

 

“Lalu kau bagaimana ?”  Jiyeon mengkhawatirkan Joon.

 

“Aku akan berjalan-jalan sebentar.”

 

“Jangan tersesat ?”  ujar Jiyeon.

 

Joon tersenyum. Pesannya benar-benar polos. Dia memperhatikan Mir yang menggandeng Jiyeon menapaki jalan menanjak yang tadi dilalui. 

 

“Jangan lupa dengan makan siangnya. Aku sudah memasukannya di dalam tasmu!” ujar Jiyeon mengingatkan.

 

Hah! makan siang ?  Joon membuka tasnya dan benar di dalamnya sudah ada satu kotak makan siang yang dibungkus kain dengan rapi. Joon tersenyum. Entah kenapa hatinya seperti sedang dirayapi perasaan yang begitu indah.

 

Dari jauh JOon memperhatikan Jiyeon yang duduk di belakang Mir. Dia terlihat ceria dengan laki-laki itu. Angin-angin masih membuat sibuk tangannya menyingkap rambutnya yang sesekali menutupi wajahnya. 

 

***

 

 

Menjelang sore, Joon baru kembali. Dia terlihat lelah. Wajahnya dipenuhi peluh saat mengambil air minum dari dapur Ny. Park. Suasana hotel yang seperti rumah membuat Joon merasa lebih betah dan leluasa. Dia seperti berada di rumah sendiri. Apalagi Ny. Park tidak membatasi tempat kecuali untuk lantai dua di bangunan utama. Di lantai itu hanya dikhususkan untuk keluarga Park.

 

 

“Joon ssi !”  sapa Ny. Park.  Joon segera menoleh.

 

“Ya, Ny.Park .”  jawab Joon sambil meminum airnya.

 

“Ada tamu. Katanya mencarimu. ”  ujar Ny.Park.

 

“Siapa, apakah temanku ?”

 

“Dia dari Seoul. Wanita.”  Hah? jangan-jangan Eunjung. Mau apa dia ke sini ?

 

Joon segera berlari ke kamarnya. Dari jauh dia sudah melihat sosok itu. Eunjung. Dia begitu anggun duduk di beranda di depan kamarnya. Eunjung tersenyum saat melihatnya.

 

“Oppa !”  dia menghambur dalam pelukan Joon.

 

“Eunjung ? Kenapa kau ke sini ?”  Joon menyambut pelukan Eunjung. Dia membawa gadis berambut pendek itu duduk di beranda. Joon meletakkan tasnya, juga beberapa tangkai bunga bunga yang dia petiknya ketika dia melewati jalan-jalan di pegunungan.

 

“Apakah bunga itu untukku ?”  Eunjung langsung mengambilnya. Dia tidak sungkan-sungkan menaruh kepalanya di pundak Joon.

 

“Oppa, sejak kapan kau romantis seperti ini ?”  Joon meringis. Sebenarnya dia mengambil bunga-bunga itu untuk Jiyeon. Ah, tapi Eunjung ternyata datang dengan tiba-tiba. 

 

“Kapan kau akan pulang ?”  tanya Eunjung.

 

“Eunjung, aku baru tiba kemarin. Aku belum menemukan object untuk bahan lukisanku.”

 

“Kenapa lama sekali !” rujuk Eunjung manja.

 

“Apa kau sengaja datang ke sini ? Apa kau sudah minta ijin orang tuamu untuk ke sini menemuiku. Bagaimana jika mereka marah ?”  

 

Joon mengingat bahwa orang tua Eunjung tidak merestui hubungan mereka. Ya, mungkin karena orang tua Eunjung terlalu mengharapkan putrinya bersanding dengan orang yang lebih bisa menjamin kehidupan anak semata wayangnya ini.

 

“Kenapa aku harus minta ijin ?”  Eunjung selalu bersikap seperti itu.

 

“Bagaimana jika aku dituduh menculikmu ?”

 

“Tidak akan. Mereka kan tidak tahu aku pergi ke mana ?” 

 

“Mereka bisa mencarimu lewat satelit. Kau kan dibekali sensor panas untuk mempermudah mereka menemukan posisimu lewat sistem navigasi global. “

 

“Oppa, kau bisa saja !”

 

Eunjung memukul lengan Joon. Laki-laki itu tertawa melihat Eunjung yang manja. Gadis itu sangat cantik. Matanya begitu indah. Bahkan dia terlalu cantik untuk seorang Joon yang terkesan biasa-biasa saja.

 

“Kau sudah melukis apa ?”  tba-tiba Eunjung mengambil buku sketsa dari dalam  tas Joon. Laki-laki itu tidak sempat untuk merebutnya.  Eunjung membukanya dan mendapati sketsa Jiyeon di sana. Wajahnya langsung berubah dingin. 

 

“Siapa dia ?” tanyanya datar. Matanya melirik Joon tajam. Mendadak dia terlihat begitu menakutkan.

 

“Dia Jiyeon. Dia putri pemilik penginapan ini.”

 

“Kenapa kau melukisnya ?”

 

“Karena aku menemukan sesuatu di sana?”

 

“Apa karena dia cantik, kau melukisnya ? Oppa, kau bahkan belum pernah melukisku !” hardik Eunjung keras. Suaranya bahkan mengalahkan suara angin yang tiba-tiba membuat pohon-pohon bambu itu bergoyang.

 

“Ini tidak kaitannya dengan dia cantik atau tidak, Eunjung !”  

 

“Lalu apa ? Apa kau tertarik padanya?”

 

Joon menarik nafasnya kesal. Situasi seperti ini sungguh tidak dia harapkan. Benar-benar diluar perkiraan. Kalau sudah begini, bagaimana dia akan melanjutkan projectnya. Joon menghela nafasnya lagi.

 

“Ayo kita kembali ke Seoul!”  ajak Eunjung tiba-tiba.

 

 

 

tbc.

 

 

a/n

 

Ya, cukup lama ya updatenya. Biar lama asal selamat! wkwkw…sorry!

Sibuk*ajiaaah/sok sibuk* 

beneran ! tapi ga akan ninggalin ff ku koq!  

 

 

oke, see you

peace,alana

 

 

 

 

 

 

11 thoughts on “TELL HIM 2

  1. astaga q kmana knapa q melewatkan ni lnjtan ff yg q nanti.ah perasaan ni ff gak muncul diberanda.biasanya kan muncul.ni roman2nya mir suka ama jiyeon.bagus deh kalau joon udah ngaku klau sdah punya pacar biar jiyi mengantisipasi perasaannya..

    • ff ini kayaknya lumayan agak lama lagi updatenya. Tapi nanti Jiyeon akan ada acara balas dendam ke Joon… Dia akan movin dari desanya itu ke kota.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s