Bohemian

wpid-bohemiancover.jpg

Bohemian

by

lovelybaekkie

BTS’s Jeon Jungkook as Maincast – Slice of Life is the genre Length of this fic is Vignette – Rating; PG-15

Happy reading!

.

.

.

Kaki pria itu melangkah lambat, seolah tak ada beban yang tersampir di pundak. Dengan pakaian sederhana yang melekat, ia tetap tampan dengan wajah natural tanpa bantuan dokter bedah wajah. Sorot mata yang menyiratkan betapa bebasnya ia, membuat siapa saja tahu jika hatinya sedang merasakan kegembiraan yang kentara.

“Hai, Jungkook! Kamu mau menyerahkan lukisanmu?”

“Mm-hm.”

Jungkook mengangguk dengan senangnya, tangannya mengulur menyerahkan sebuah kanvas yang dibalut kertas coklat agar tak terlihat siapapun. Pengelola galeri itu tahu betul jika anak ini akan sangat senang apabila sudah membahas lukisan. Tak pelak, ia pun ikut merasakan hawa gembira saat Jungkook tengah berhadapan dengannya.

“Ini, uang yang kemarin Direktur Lee titipkan. Karyamu yang kemarin sudah terjual. Selamat!”

“Terimakasih Pak Kim. Aku pamit!”

Jungkook teramat senang. Kali ini ia dapat mentraktir teman-temannya di rumah. Ia berjalan dengan senyuman yang tertoreh di wajah. Mungkin, sang mentari akan tersenyum pula melihat betapa manisnya senyuman Jungkook hari ini.

.

.

.

Gomawoyo Jungkook hyeong!”

Anak-anak tersenyum ceria setelah menerima masing-masing satu bungkus ayam goreng juga nasi. Mereka makan dengan lahap dan itu cukup membuat Jungkook kenyang dengan melihat raut bahagia dari anak-anak itu.

“Kamu tak makan?”

Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung yang sedang menggenggam satu bungkus paket ayam dan nasi. Jungkook tersenyum dan menggeleng pelan. Taehyung mengendikkan bahu lalu duduk bersama anak-anak lain, mereka sama-sama menikmati makanan yang Jungkook bawa tadi. Pria itu tersenyum melihat teman senasibnya yang kini begitu ceria saat bersama anak-anak. Taehyung memang dingin pada setiap orang dewasa ataupun sebayanya, tapi jangan remehkan kehangatan yang selalu ia berikan pada setiap anak disini.

Setiap hari Jungkook akan selalu kesini. Ke tempat dimana ia tinggal sekedar bermalam dan melakukan aktivitas favoritnya―menorehkan cat air pada kanvas. Jungkook dikenal dengan sejuta bakat sebenarnya. Tapi kini ia lebih memilih melukis sebagai bentuk apresiasi hobi juga sebagai mata pencaharian. Ya, inilah Jungkook, si pelukis handal yang menetap di sebuah panti asuhan.

.

.

.

“Bagaimana bisa kamu masuk ke panti? Setidaknya masih ada aset yang bisa kau gunakan, Jeon!”

“Ceritanya panjang. Yang jelas aku tak mau ikut andil dalam perebutan takhta di perusahaan, walau secuil uang pun aku tak mau menyentuhnya.”

“Cih, menyerah sebelum berperang, Bung?”

Jungkook tersenyum miring. Ia tahu jika dirinya pengecut soal ini. Menyerah sebelum berperang, apa itu salah? Ia hanya tak mau menjadi gila di usianya yang tergolong sangat muda karena penurunan saham perusahaan. Otaknya lebih bersedia untuk diajak bergelut dengan segala urusan di bidang seni.

“Jimin hyeong, kenapa mencariku?”

Halmeoni ingin kamu pulang, Jeon. Lagipula, kamu tak memikirkan Sangmi?”

Seringai Jungkook kembali muncul menghiasi wajahnya. Mendengar kata ‘nenek’ yang disebut memang membuat hati pria ini bergetar, tapi hatinya kembali menjadi sekeras batu saat nama selanjutnya yang masuk ke gendang telinganya.

“Sangmi? Dia masih memikirkanku, hyeong?”

“Iya. Ayolah, Jeon. Apa salahnya untuk pulang? Sudah berlalu 5 tahun.”

“Aku tak bisa beranjak. Tempatku disini. Ini tempat yang paling cocok dengan ragaku. Dan soal Sangmi, aku tak yakin jika dia benar-benar masih memikirkanku setelah perselingkuhannya dengan Kim Seokjin lima tahun lalu.”

Kali ini Jimin bungkam. Ia kalah telak dengan kalimat terakhir yang terlontar. Jimin sadar betapa keparatnya saudara sepupunya itu. Ia wanita, tapi bejatnya melebihi seorang Jeon Jungkook yang lelaki.

“Baiklah. Lupakan soal Sangmi. Bagaimana dengan nenekmu, hm? Akhir-akhir ini ia terus bertanya mengenai keadaanmu.”

Jungkook terdiam. Pikirannya berputar untuk memutuskan. Nenek adalah salah satu orang yang sangat berharga baginya. Tapi nenek masuk ke dalam salah satu jeratan yang Jungkook benci. Neneknya masih berada di kungkungan tangan penjahat sesungguhnya. Jungkook ragu, apa ia harus tetap disini dan menikmati hidup bebas atau justru kembali dan menyelamatkan nenek dari penjara kehidupan itu.

“Aku..”

.

.

.

Pria itu terdiam di dalam mobil. Matanya hanya tertuju pada jalanan yang kini dilewati mobil yang dikendarai oleh supir itu. Tangan yang semula menyangga kepalanya kini merogoh salah satu kantung kecil di tasnya, mengambil sebuah benda persegi yang sedang berkedip-kedip layarnya.

“Halo?”

Tercekat nafasnya mendengar suara parau yang masuk ke dalam sistem pendengarannya. Ia memejamkan mata juga menghembuskan nafas guna menenangkan dirinya. Tapi justru yang terjadi kini adalah ia malah semakin risau. Ia memijit pelipisnya berharap beban yang harus ditanggung pikirannya lenyap begitu saja.

“Maaf, aku gagal. Maafkan aku, halmeoni.”

Semakin menambahnya pikiran kalut saat suara isak tangis seorang wanita setengah baya yang terdengar di seberang sana. Sudah cukup masalah perusahaan yang membuatnya pening hari ini. Dan kini satu masalah baru timbul. Kali ini otak jeniusnya tak bisa memikirkan jalan keluar apapun. Hatinya juga tersayat ketika suara parau itu kembali menyapa telinganya.

“Jungkook.. kapan ia akan kembali kesini, Jimin-a? Aku terlampau merindukannya..”

“Aku tak bisa memastikan. Setelah dirinya masuk ke dalam kelompok bohemian, akan semakin sulit mengajaknya kembali. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk saat ini. Sekali lagi, maafkan aku, halmeoni..”

.

.

.

Jeon Jungkook adalah nama lengkap pria itu. Lahir dengan title keluarga kaya juga orang tua yang sangat menyayangi dirinya. Ditambah kasih sayang sang nenek yang tak pernah luput untuknya. Ia seorang yang lahir dengan ragam bakat yang mumpuni. Didukung dengan wajah tampan dan masuk ke dalam salah satu anak dari chaebol Korea Selatan, siapa yang tak suka pada sosoknya?

Tapi kehidupan yang bahagia itu harus terenggut sempurna saat ayah dan ibunya meninggalkan dunia akibat kecelakaan. Saat itu tepat ketika ulang tahunnya yang ke-17, dan Jungkook sudah paham betul siapa yang menjadi dalang dibalik kecelakaan itu. Kejanggalan yang dirasakan Jungkook mengenai kecelakaan itu tak tersampaikan karena tak ada yang mau mendengar dan tak ada yang percaya pada bocah ingusan sepertinya. Meski bukti sudah dikumpulkan olehnya, Jungkook tetaplah bocah ingusan yang tak akan dianggap sepenuhnya diantara orang dewasa itu. Neneknya pun hanya bisa mengelus kepalanya, wanita paruh baya itu juga tak bisa melakukan apapun.

Jimin adalah anak dari salah satu kolega bisnis ayahnya. Jungkook teramat dekat dengan pria itu. Mereka adalah teman semasa kecil hingga remaja. Saat dimasa-masa dukanya, Jimin akan selalu berada di sisinya, berkata bahwa semuanya hanyalah sepotong kehidupan pahit yang harus diterima. Jungkook adalah sosok pria baik hati di mata Jimin, jadi ia pun tak ragu untuk mengenalkan salah satu sepupunya, Park Sangmi.

Semuanya terasa indah saat Jungkook bersama dengan Sangmi yang menjadi kekasihnya. Tapi rasa bahagia yang membuncah harus kembali luntur. Dikhianati adalah satu hal yang paling Jungkook benci dalam hidupnya. Mendapati kekasihnya sendiri sedang mendesah menyuarakan lelaki lain di ranjang sebuah hotel, merupakan kejadian menyakitkan yang tak akan pernah ia lupakan. Kepercayaannya pada Sangmi selama ini harus lenyap karena pengkhianatan yang berujung pada timbulnya berjuta luka di hati Jungkook.

Saat pergolakkan mengenai harta mulai terjadi diantara keluarganya, Jungkook terombang-ambing. Ia tahu jika pamannya yang buta akan obsesi pada harta adalah penyebab adanya kecelakaan itu. Jadi, Jungkook sudah tahu rasa pengkhianatan yang sesungguhnya sebelum ia dikhianati oleh orang yang dicintainya. Cukup dengan semua itu, Jungkook perlahan mundur dari kehidupan gemerlap kota Seoul dan lebih memilih menetap di sebuah panti asuhan di Busan.

Selama lima tahun terakhir ini ia hidup dengan senyuman yang terus tertoreh di wajahnya. Hidup bebas tanpa beban memang mimpinya selama ini. Asanya yang ingin menjadi seniman pun dapat ia capai dengan mudah berkat bakatnya. Kini hidup Jungkook tak terikat dengan segala kertas-kertas kurva ekonomi ataupun kontrak-kontrak yang harus ditandatangani, hidupnya sudah terlampau bebas. Berulang kali tawaran untuk kembali ditawarkan Jimin seperti waktu itu, tapi ia memilih menjadi bagian dari sebuah kelompok yang sesuai dengan mimpinya. Ia memilih untuk tetap disini, merajut asa sebagai seniman tanpa harus memikirkan masa depan.

Karena dirinya adalah Jeon Jungkook, si bohemian.

.

.

.

fin.

Bohemian adalah orang yang hidup bebas seperti kebanyakan seniman; orang yang hidup mengembara dan tidak teratur serta tidak memikirkan masa depannya. (KBBI 3)

Ini adalah fic pertama aku disini, Yehet! ^^~

Perkenalkan nama aku Nilam, 00L. So, jangan panggil aku ‘thor’ ok? I have a name too J

Soal fic ini; mungkin ini ga jelas dan absurd. Tapi aku hanya menyalurkan apa yang aku pikirkan tentang satu kata ini; bohemian. Persepsi aku sih, bohemian itu adalah seorang yang hidup bebas seperti kebanyakan seniman tanpa terikat aturan dan mereka tak perlu repot-repot memikirkan masa depan. Toh, mereka menjalani kehidupan layaknya air yang mengalir.

Maaf jika ada salah-salah kata yang menyinggung ataupun typo yang mengganggu penglihatan. Dan soal persepsi aku itu, itu hanya opiniku, dan jika salah, maukah anda sebagai pembaca cerdas membantu saya mempelajari tentang bohemian? ;)

Just that, lastly, salam kenal semuaa ^^~

NILAM

2 thoughts on “Bohemian

  1. 00L? Wah kita sama chingu ^^
    btw saya new reader
    ceritanya bagus, ditambah bahasanya yg apik jadi buat ceritanya makin bagus, kalo typo sih kyk nya gk ada
    fighting and keep write :)

    • Hehet, seumuran dums ;)
      Oh halo, saya pun author baru disini :)
      Wah makasih loh ya, padahal saya ngerasa diksi saya di cerita ini bener-bener ancur (/.\) But, thanks ya :D
      Hehe, intinya sih terimakasih banyak udah baca dan comment <3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s