[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 4

half-way-to-death

Title
Dream Catcher

Sub-Title
Half-way To Death

[Previously: First Nightmare | Boy In The Dream | We Fight Monsters and Unfold The Mystery ]

Author
Yoo Jangmi

Genre
Fantasy; AU; School; Teen-romance

Length
Mini Seri(es)

Rating
PG

Cast
Krystal Jung [f(x)]
Byun Baekhyun [EXO]
Kang Jiyoung
Lee Taemin [SHINee]
Jung Ilhoon [BTOB]
Oh Sehun [EXO]
And many other cameos~

Disclaimer
All cast featured here are not mine, but the storyline purely mine. Please be a good reader by leaving a feedback and don’t plagiarize! ^^

H A P P Y R E A D I N G

(PS: ditengah cerita nanti akan dibagi jadi tiga bagian (?) )

Suara hak sepatu Kim Sonsaeng yang mengetuk lantai marmer bangunan sekolah memecah keheningan malam. Wanita itu berjalan tanpa suara diikuti oleh lima orang anak berjalan di belakangnya, yang sama diamnya karena kelelahan. Kim Sonsaeng membawa mereka ke koridor panjang yang belum pernah mereka lewati sebelumnya. Koridor itu berakhir pada sebuah pintu putih besar dengan lambang ke-empat dorm di depannya.
“Masuklah.” Ujar Kim Sonsaeng pelan.
Krystal dan teman-temannya hanya mengangguk lalu masuk ke dalam. Ruangan di balik pintu itu sangat besar dan didominasi nuansa merah, ada begitu banyak bingkai foto kosong di pajang di dinding; tapi jika diperhatikan sebenarnya bingkai-bingkai itu tidak kosong. Begitu banyak benda unik lainnya di dalam ruangan itu seperti bola kristal berpendar atau peri yang tidur di dalam toples. Mereka berlima terlalu sibuk memandangi benda-benda itu sampai tidak menyadari kehadiran seorang pria tua yang rambutnya sudah setengah memutih di dalam ruangan itu.
“Mereka indah kan? Aku tidak mendapat barang-barang itu dalam semalam tentu saja.” Kata Mr. Park atau Headmaster Park.
Sontak kelima anak remaja itu menoleh ke arahnya, lalu menundukkan kepala seolah mereka telah melanggar puluhan aturan sekolah. Ya memang benar begitu sih.
Mr. Park memberi tanda agar mereka duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan di hadapan meja kerjanya. Kelimanya lalu duduk berjajar, masih tidak mengeluarkan sedikit pun suara.
“Aku membuat peraturan sekolah memang bukan untuk dilanggar,” Mr. Park memulai, “tapi tentu saja kalian di sini bukan karena pelanggaran yang baru saja kalian buat.” Lanjutnya.
“Jadi, mengapa kami dipanggil ke sini? Sonsaengnim tidak akan menghukum kami?” Ujar Jiyoung, yang akhirnya berani buka suara.
Pria tua itu tersenyum penuh makna pada Jiyoung, lalu melanjutkan kalimatnya lagi.
“Kalian pasti dihukum, hanya untuk formalitas. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku membuat aturan bukan untuk dilanggar, murid-murid di sini adalah anak-anak spesial. Mereka akan tahu apa yang terjadi malam ini dan jika kalian tidak dihukum, maka tidak akan ada yang patuh pada peraturanku, betul bukan?”
Kelimanya mengangguk dan kembali menyimak perkataan Mr. Park.
“Aku tahu apa yang sedang kalian lakukan, seharusnya aku menyuruh kalian berhenti tapi… diantara kalian ada yang terpilih. Jadi aku percaya kalian bisa menyelesaikan ini. Aku bisa dengan mudah melakukannya tapi aku sudah tua, jadi yang bisa kuberikan pada kalian hanya berupa bantuan.”
Sekarang mereka saling pandang, menerka-nerka kira-kira siapa salah satu dari mereka yang terpilih. Dan lagi, apa maksudnya terpilih ini?
“Sudah sejauh mana penyelidikan kalian?” Tanya Mr. Park tiba-tiba.
Mulut Krystal sudah mau membuka untuk menjawab, tapi ia terlalu gugup sampai tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Ia akhirnya menghela napas dan menyerah. Ia terlalu kacau untuk mengatakan apa pun jadi ia biarkan Sehun yang menjawab.
“Kami sudah punya dugaan tentang pelaku penculikannya, sementara ramalan yang satu lagi mengenai lokasi Baekhyun sunbae dan mungkin korban lain belum kami pecahkan.” Ujar Sehun.
Mr. Park hanya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia mengerti maksud Sehun.
“Sebenarnya…” Krystal tiba-tiba bersuara, membuat keempat temannya dan Mr. Park mengalihkan perhatian padanya.
“Mungkin ini terdengar gila tapi aku tahu— tidak, aku punya dugaan kuat mengenai keberadaan Baekhyun sunbae, ia ada dibalik pintu itu! Pintu perak yang ada di koridor sekolah yang terlarang bagi murid. Ramalan wanita bulan itu mengarah ke sana.” Kata Krystal sangat yakin.
Mr. Park menggelengkan kepalanya dan berdecak.
“Tidak, tidak itu tidak mungkin, Jung Soojung, pintu itu isinya rahasia sekolah yang sangat penting karena itu dilarang bagi murid untuk ke sana. Kalau ia ada di sana kita semua pasti sudah tahu.” Kata Mr. Park
Krystal berdiri dari tempat duduknya, ia terlihat marah atau mungkin kecewa karena dugaannya yang ditolak mentah-mentah oleh Mr. Park. Ia yakin sekali dengan dugaan itu, ia mengalami sendiri mimpi-mimpi aneh, dan juga ramalan wanita peramal bulan waktu itu, ia mendengar sendiri wanita itu mengucapkan kata pintu.
“Sonsaengnim tahu apa, yang mengalami semua mimpi buruk itu aku. Kami yang datang ke peramal bulan dan mendengar sendiri ramalannya. Kau dan semua guru lainnya telah ditipu soal pintu itu, semua ini didalangi IWWA, mereka memasukkan mata-mata ke sekolah, aku yakin begitu!” Seru Krystal penuh keyakinan, rambut merahnya memancarkan pendar energi biru karena emosinya yang sedang naik.
Karena tidak ada yang merespon perkataannya, Krystal berlari keluar dari ruangan kepala sekolah karena kesal. Sehun baru saja akan mengejar, tapi Taemin menahan tangannya supaya membiarkan Krystal pergi.
“Biar saja biar dia tenang dulu.” Bisik Taemin.
Mr. Park berdehem untuk mencairkan suasana.
“Sekarang aku akan membicarakan soal hukuman yang harus kalian jalani karena melanggar peraturan sekolah.”
Perhatian mereka pun tertuju pada Mr. Park lagi. Setelah yakin ke-empat muridnya itu menyimak, ia pun memberitahukan hukuman yang mereka dapat.
“Kalian semua diskors selama 1 minggu, jabatan ketua dorm fire, Lee Taemin akan dicabut selama dua minggu, dan digantikan oleh Park Chanyeol. Selama menjalani skors, kalian terbebas dari peraturan sekolah karena pada dasarnya kalian tidak sedang menjadi murid sekolah ini saat di skors ya kan?”
Awalnya mereka hendak memprotes tapi jika mereka terbebas dari segala peraturan sekolah selama diskors maka itu adalah bantuan untuk mereka.
Mr. Park memandangi mereka satu persatu sekali lagi lalu tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk pergi.

“Jika butuh bantuan katakan saja.” Ujar Mr. Park.

Jiyoung membalas senyum kepala sekolahnya itu dan berkata “Bantuan sonsaengnim sudah lebih dari cukup.”


 
Sementara itu Krystal pergi ke belakang sekolah. Ia duduk beralaskan rerumputan dan membangun semacam tembok es mengelilingi dirinya. Ia duduk termenung, masih memikirkan dugaannya, dan apa yang harus ia lakukan. Seketika ia merasa dirinya tidak cukup kuat untuk melawan kejahatan apa pun itu dibalik kasus penculikan itu. Ia merasa lelah dan merasa semua yang ia lakukan sia-sia.

Ia masih termenung, ketika tiba-tiba Baekhyun muncul di sebelahnya. Transparan seperti biasanya, tapi terlihat berkilauan karena sinar bulan yang menembus tubuh arwahnya.

“Krys?” Panggilnya.

Sunbae mau bilang apa lagi sekarang?” Tanya Krystal, dengan nada bicara yang begitu ketus, diiringi senyuman sarkastis.

“Krys, jangan menyerah. Kita sudah dekat—“

Sunbae selalu bilang begitu. Tapi nyatanya sunbae selalu menghilang saat kami dalam masalah, mentang-mentang kau hantu jadi kau bisa seenaknya minta tolong pada orang untuk menyelamatkanmu, dan menghilang begitu saja setiap orang itu dalam kesulitan atau bahkan dalam keadaan hampir mati.” Kata Krystal panjang lebar sambil memeluk lututnya, ia tidak mau melihat ke arah Baekhyun saat mengatakannya.

“Aku ini hantu Krys, memangnya apa yang bisa kuperbuat? Setidaknya aku memberimu informasi-informasi yang kau butuhkan seperti saat melawan burung-burung tadi.” Kata Baekhyun.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia lakukan untuk Krystal sejak gadis itu memutuskan untuk membantunya. Ia ingin sekali membantunya menghadapi monster-monster yang mengganggu misi mereka, ia ingin memegang tangan gadis itu dan melindunginya, ia ingin mengajari Krystal banyak hal, tapi semua hal itu tidak bisa ia lakukan dalam keadaannya yang sekarang.

“Aku lelah. Tolong saja dirimu sendiri.” Kata Krystal.

Baekhyun menghilang sesaat lalu muncul lagi di hadapan Krystal, ia menatap ke dalam mata gadis itu lekat-lekat sambil mengucapkan “Kau tidak boleh menyerah. Aku mohon.”

Krystal terdiam sesaat, balik menatap mata Baekhyun yang seolah kosong tapi Krystal dapat melihat betapa indahnya kedua mata itu pastinya kalau sang pemiliknya hidup. Krystal tenggelam dalam tatapan itu dan ia pun menyaksikan memori-memori milik Baekhyun seperti film berseri. Salah satunya adalah memori ketika Baekhyun diculik dan terpisah dari tubuhnya, ia bahkan bisa merasakan perasaan yang dirasakan Baekhyun waktu itu. Rasanya menyakitkan dicampur ketakutan, dan perasaan lainnya.

Tanpa sadar gadis itu meneteskan air mata setelah selesai melihat semua itu.

“Seperti itukah rasanya ketika kau akan diculik oleh mereka?” Tanya Krystal setengah berbisik.

Baekhyun mengangguk pelan, “karena itu, aku tidak mau hal itu terjadi pada orang lain lagi… terutama kau.”

Krystal tersenyum kecil mendengar kata-kata Baekhyun yang seolah “menspesialkan” dirinya. Entah kenapa ia senang seseorang menganggapnya penting.

Sunbae, menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Krystal.

“Aku tidak tahu. Ikuti saja kata hatimu.” Jawab Baekhyun, memperoleh tatapan kesal dari Krystal yang sedang merengut.

Baekhyun ingin sekali mencubit gadis itu kalau saja ia bukan arwah, tapi saatnya juga sedang tidak tepat untuk hal seperti itu. Jadi ia menyimpan semua itu untuk nanti saat semuanya sudah selesai.

Krystal masih merengut, ia menekuk lutut dan bertopang dagu sambil memikirkan banyak hal. Tembok es yang ia bangun di sekelilingnya sudah ia lepas sihirnya dan dibiarkan mencair. Baekhyun yang duduk di sebelahnya ikut terdiam sehingga hanya terdengar suara angin dan hewan-hewan kecil berlarian di sela rerumputan.

Tiba-tiba Krystal teringat akan sesuatu yang ia lihat dalam memori Baekhyun. Ada seseorang di dalam ruangan rawat Baekhyun saat laki-laki itu diculik.

Sunbae, kau benar-benar tidak ingat wajah penculikmu atau apapun tentang kejadian penculikanmu?” Tanya Krystal.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, “Kenapa memangnya?” Tanya laki-laki itu.

“Aku melihat seseorang dalam memorimu yang kau perlihatkan padaku sebelumnya. Seorang pria, ia ada di ruang rawatmu sunbae. Aku seperti kenal wajahnya tapi siapa ya…” Ujar Krystal.

“Apa menurutmu ia pelakunya?” Kata Baekhyun, sambil memandangi Krystal.

“Aku tidak tahu, tapi… nah aku tahu siapa dia! Sekarang aku ingat wajah itu.” Seru Krystal

“Itu Pelatih Shin.”


Pagi ini Krystal bangun pagi-pagi sekali, sebelum orang lain di dormnya bangun. Ia berencana pergi ke N’s Magic Shop, mungkin ia bisa menemukan bantuan di sana. Ia sengaja pergi tanpa teman-temannya karena ia pikir mereka tidak percaya padanya.

Krystal memakai blouse biru muda dan celana jeans, ia mengenakan luaran rajutan putih di atasnya, lalu memakai sepatu sneakers putih kesukaannya. Ia juga tidak lupa membawa dream catcher-nya.

Setelah keluar dari dorm, ia menyusuri koridor sekolah yang masih sangat sepi, tidak terlihat aktivitas apapun. Krystal merasa sangat beruntung mengetahui dirinya sedang diskors, ia tidak perlu mengikuti kelas Pelatih Shin saat kebetulan ia memang sedang menghindari pria itu.

Udara pagi yang sejuk langsung menyapanya begitu ia keluar dari gedung sekolah. Krystal mengusap kedua lengannya sambil terus berjalan menuju toko barang-barang sihir yang ada di sebelah bangunan sekolah. Toko itu belum buka , terlihat N si pemilik toko sedang mengelap kaca jendela toko dari luar. Krystal segera menghampiri N dan mengajaknya bicara.

“Boleh aku minta tolong? Aku mau tanya beberapa hal.” Kata Krystal.

N langsung tersenyum melihat Krystal datang. “Kau yang waktu itu membeli dream catcher kan? Tentu saja, masuk saja duluan, nanti aku menyusul.”

Krystal mengangguk, membuka pintu toko lalu masuk ke dalam. Aroma toko itu masih sama dengan terakhir kali ia ke sini, barang-barang yang dipajang banyak yang baru tapi ada beberapa barang lama yang Krystal pernah lihat masih terpajang di rak. Beberapa saat kemudian N masuk ke dalam toko, laki-laki itu mengajak Krystal ke belakang toko, di mana ada sebuah ruangan multifungsi tempat ia tinggal. Ada sebuah sofa kecil untuk dua orang dan meja kecil di ruangan itu, ada tempat tidur dan lemari pakaian kecil. Krystal duduk di sisi kanan sofa kecil itu, diikuti N yang kemudian duduk di sebelahnya dan memunculkan sebuah teko teh serta dua cangkir di meja dalam sekali petik jari.

“Jadi, mau membicarakan apa?” Tanya N sambil menuangkan teh ke kedua cangkir itu.

“Aku sedang mencari sesuatu. Apa ada benda yang bisa membantuku?” Ujar Krystal.

“Kau mencari barang hilang atau barang yang disembunyikan?” Tanya N lagi.

Krystal menatap laki-laki di hadapannya sejenak, ia sedang menimbang-nimbang apa N bisa dipercaya. Akhirnya hatinya memutuskan N orang yang bisa dipercaya. Jadi ia akan menceritakan tentang penculikan itu padanya.

“Aku mencari orang yang diculik. Ia diculik oleh IWWA. Aku sudah memiliki dugaan akan tempat ia disembunyikan tapi aku tidak yakin, aku butuh petunjuk yang bisa mempermudahku untuk menemukannya” Kata Krystal lagi.

Setelah mendengar pernyataan Krystal, N mengambil katalog barang jualannya lalu membalik-balik halamannya, mencari barang yang tepat untuk Krystal.

“Jadi maksudmu kasus penculikan itu ya? Hm barang-barangku mungkin tidak akan banyak membantu, tapi mungkin ada satu barang yang bisa. Nah ini dia.” Kata N sambil menekan gambar 3 buah batu berbentuk segitiga dengan lubang ditengahnya.

Tiba-tiba saja batu-batu itu sudah ada di meja, tepat di bawah buku katalog milik N. Krystal tercengang selama beberapa detik tapi kemudian ia sadar, tentu saja hal itu bisa terjadi. Di tempat ini semua pakai sihir, kan?

N menyerahkan tiga batu itu pada Krystal lalu menjelaskan kegunaannya. “Ini batu pencari. Kau tinggal lihat lewat lubangnya, semua akan jadi hitam putih kecuali yang kau cari, benda yang dicari biasanya akan berpendar kalau dilihat lewat batu itu. Jadi ini sangat membantu. Aku dapat itu dari seorang gipsy, ia bilang batu itu kebal sihir. Jadi walaupun mereka menggunakan sihir untuk menyembunyikan orang yang kau cari itu, kau masih bisa menemukannya dengan ini.”

Krystal memasukkan batu-batu itu ke saku celana jeans-nya sambil mengangguk mengerti.

“Boleh aku tanya satu hal lagi?” Tanya Krystal.

“Tentu saja.” Ujar N.

Dream catcher ini, sebenarnya apa kegunaannya? Maksudku bagaimana cara menggunakannya.”

N berdiri untuk mengambil sebuah kardus di atas lemari pakaiannya, lalu kembali duduk di tempatnya sambil mengobrak-abrik kardus itu.

“Hm, simple saja. Benda itu untuk menangkap mimpi buruk. Maksudku itu benar-benar bisa menangkap makhluk bernama nightmare yang mendudukimu saat kau tidur dan menyebabkan mimpi buruk.” Kata N, kemudian mengeluarkan setumpuk barang dari dalam kardus tadi.

Ia meletakkan barang-barang itu di atas meja dan dalam sekali ayunan tangan, mereka sudah terbungkus kantong kertas cokelat. N memberikan kantong itu pada Krystal sambil tersenyum. “Ini mungkin akan lumayan membantu juga.”

Krystal membalas senyum N dan menerima barang-barang itu. “Terima kasih.” Katanya pelan.

Krystal mulai menyadari waktu, ia sudah berjam-jam berada di sana dan toko milik N harus terlambat buka karena dia. Ia pun berdiri dari tempat duduknya, hendak pergi saat itu juga. Tapi ada sesuatu yang membuatnya penasaran.

“Aku mau tanya satu hal lagi.” Kata Krystal pada N yang sedang membereskan kardus tadi.

“Tanyakan saja.” Kata N.

“Bagaimana kau bisa ada di sini? Maksudku, sekolah ini kan tersembunyi.” Ujar Krystal.

N hanya tersenyum mendengar pertanyaan Krystal. “Dulu aku tercatat sebagai Cha Hakyeon di dalam daftar siswa sini. Aku anak dari Medusa, kau tahu wanita ular itu kan? Aku animagus ular. Dan sewaktu menginjak tahun ke-4, aku melukai pacarku sendiri hingga akhirnya aku dikeluarkan. Ya beruntungnya mereka memperbolehkanku tinggal di sini karena sudah tidak mungkin bagiku untuk pulang ke rumah.”

Krystal agak tercengang mendengar cerita N. Sambil berjalan menuju pintu depan toko, ia kembali menanyakan beberapa pertanyaan.

“Medusa? Kau pernah bertemu dengannya? Seperti apa dia? Bukannya ia berbahaya?”

“Ia cantik. Cantik yang membuatmu merinding, mengerti kan maksudku? Ya, tapi ia tidak pernah membuatku atau ayahku membatu.” Kata N, kemudian ia membukakan pintu untuk Krystal.

Krystal memandanginya dengan tatapan yang seolah memohon untuk boleh menanyakan satu pertanyaan lagi, tapi N harus segera membuka tokonya, kerumunan murid juga sudah berkumpul di depan toko. Jadi ia harus pergi sekarang.

“Oh baiklah aku pergi sekarang. Terima kasih Hakyeon sunbae.” Kata Krystal sambil tersenyum tipis.

“Semoga berhasil, nona serba-ingin-tahu.”


Jam sekolah sudah dimulai sejak sejam yang lalu. Krystal berjalan secepat yang ia bisa sepanjang koridor agar bisa cepat sampai ke dormnya untuk menemui teman-temannya dan menjalani hukuman skors. Sejak tadi ia masih memikirkan cerita N, ia masih penasaran siapa mantan pacar N. Itu bukan hal penting tapi ia selalu penasaran pada segala hal.

Terlalu banyak hal yang ia pikirkan dalam satu waktu, ia pun tidak memperhatikan langkahnya dan menabrak seseorang sampai hampir menjatuhkan kantong kertas yang ia bawa. Krystal mengatur napasnya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak, ia hendak meminta maaf padanya. Tapi ketika ia melihat wajah orang yang berdiri di hadapannya, jantungnya langsung berdegup lebih cepat, perutnya terasa mual. Ia merasa pusing dan takut.

“Jung Soojung, aku tidak melihatmu di kelas duel pagi ini.” Kata Pelatih Shin sambil menyeringai.

Krystal menghindari kontak mata langsung dan ia tidak mau melihat seringai jelek Pelatih Shin, tapi ia menyadari ketika pria itu melihat dream catcher di tangannya, seringai itu lenyap dari wajah bercodetnya.

“Aku sedang diskors.” Jawab Krystal singkat.

“Di skors karena terlalu banyak ingin tahu ya?” Kata Pelatih Shin lalu memberi tatapan mengintimidasi pada Krystal.

“Kau seharusnya tidak ikut campur urusan orang lain, jangan seperti orang tuamu.”

Krystal benar-benar tidak bisa membuka mulutnya ataupun menggerakkan tubuhnya. Ia ketakutan. Entah apa yang akan terjadi kalau Jiyoung tidak datang dan membawanya pergi. Ia membiarkan Jiyoung memegangi pergelangan tangannya, ia terus berjalan tanpa melihat ke belakang.

“Krys, kau baik-baik saja ‘kan?” Tanya Jiyoung, merasakan tangan dingin Krystal dalam genggamannya.

Krystal hanya mengangguk pelan. Tapi wajah pucatnya berkata lain.

“Jing, dia itu… penjahatnya.” Ujar Krystal pelan.

“Iya aku tahu, karena itu sekarang kita ke perpustakaan untuk menemui Sehun, Ilhoon dan Taemin sunbae.” Kata Jiyoung.

“Jing tapi kita sedang di skors kan? Kita harusnya tidak ada area siswa.” Kata Krystal, sesaat setelah mereka memasuki ruang perpustakaan.

Peduli amat, kita kan harus menyelesaikan ini secepatnya.” Tukas Jiyoung.

Mereka menuju meja paling pojok, di section ramuan yang jarang didatangi orang. Di meja itu sudah ada Sehun, Ilhoon dan Taemin yang menunggu. Krystal duduk di kursi yang kosong di sebelah Sehun lalu Jiyoung duduk di sebelahnya.

“Dengar Krys, maaf kami sempat tidak percaya dengan dugaanmu. Tapi sekarang kami rasa kau benar.” Kata Ilhoon membuka pembicaraan mereka.

“Pelatih Shin ternyata terlibat. Ia yang memasukan Troll yang waktu itu menggunakan cambuknya. Dan aku yakin ada banyak hal lain yang sudah ia lakukan.” Kata Sehun.

Krystal tersenyum tipis mendengar kata-kata kedua temannya. “Aku sudah tahu kok kalau dia penjahatnya.”

“Baiklah, jadi bagaimana rencana selanjutnya. Apa yang harus kita lakukan pada Pelatih Shin?” Tanya Taemin.

Jiyoung mengangkat kedua bahunya kemudian melirik Krystal. Krystal mulai merasa teman-temannya mengharapkan ide-ide cemerlang muncul dari dirinya lagi. Ia memandangi teman-temannya satu persatu lalu menghela napas. Baiklah, ujar sebuah suara di hatinya.

Ia meletakkan kantong kertas dari N di atas meja, diikuti tiga buah batu pencari dan lembaran Peta Jalan Rahasia yang diberi Ilhoon tempo hari. Dibukanya peta itu lebar-lebar diatas meja.

“Aku ada rencana. Mudah saja, jika teoriku soal tempat disembunyikannya korban benar, kita akan menemukan mereka dengan mudah menggunakan ini.” Kata Krystal, sambil memperlihatkan batu pencari pada teman-temannya yang sedang memperhatikannya dengan serius.

“Aku akan membagi kita menjadi tiga regu. Aku sendiri, sebenarnya dengan hantu Baekhyun sunbae, Ilhoon dengan Sehun, Taemin sunbae dengan Jiyoung. Ilhoon dan Sehun mencari ke area siswa— ruang makan, kamar mandi, perpustakaan, kelas, Taemin sunbae dan Jiyoung cari di sekitar luar bangunan sekolah. Aku sendiri akan ke pintu perak mencari tubuh Baekhyun sunbae, dan mungkin harus menghadapi pelatih Shin.” Lanjut Krystal, sambil menunjuk area-area itu pada peta jalan rahasia.

“Baiklah rencana yang bagus, tapi kenapa aku dipasangkan dengan Sehun?” Protes Ilhoon.

Krystal menatapnya tajam sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. “Kau mau dipasangkan dengan siapa memangnya?”

Ilhoon melirik Jiyoung yang balas menatapnya dengan tatapan bingung. Ilhoon menggelengkan kepalanya sambil berkata “Siapa pun tidak apa-apa sih.” Kemudian menunduk supaya tidak ada yang melihat pipinya yang berubah warna.

“Oke.” Kata Krystal sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Kalian pilih saja beberapa barang ini untuk dibawa siapa yang tahu kita akan menghadapi sesuatu malam ini.” Kata Krystal, menunjuk kantong kertas yang ia letakkan di meja, lalu memberikan batu pencari pada Sehun dan Taemin.

“Malam ini?” Kata Jiyoung setengah memekik, kaleng Petrifying Spray yang ia pegang langsung jatuh dari tangannya.

“Iya. Kau bilang ingin cepat selesai kan?” Ujar Krystal sambil merobek Peta Jalan Rahasia menjadi tiga bagian dan memberi masing-masing satu helai pada Sehun dan Taemin lagi.

Ilhoon hanya diam menyaksikan barang tua ayahnya disobek begitu saja oleh Krystal. Ia tidak akan pernah bisa menang kalau harus berdebat dengan Krystal soal peta itu.

Bel sekolah yang menandakan jam istirahat telah selesai baru saja berbunyi, semua murid yang berkeliaran di perpustakaan dan koridor berlarian menuju kelas masing-masing. Hal itu memberi kesempatan untuk Krystal dan teman-temannya agar bisa keluar dari perpustakaan dan kembali ke dorm tanpa dipergoki guru, karena seperti yang Krystal bilang sebelumnya, seharusnya mereka tidak ada di area siswa selama diskors.

Jadi mereka kembali ke dorm masing-masing untuk melanjutkan hukuman skors dan menunggu malam tiba.


Tepat jam 10 malam, gerbang sekolah dikunci. Lampu-lampu koridor diredupkan, seluruh pintu kelas di tutup rapat. Masing-masing ketua dorm memeriksa kamar seluruh murid untuk memastikan mereka sudah tidur seperti biasanya.

Lizzy dan Chanyeol memeriksa setiap kamar bersama-sama karena dorm mereka yang masih disatukan. Setelah yakin semua murid sudah tidur, mereka berjaga di dekat pintu dorm sampai jam 12 malam tepat. Ini peraturan sekolah yang baru dibuat dengan alasan keamanan, setiap ketua dorm harus tidur tengah malam dan bangun satu jam lebih pagi.

“Aku tidak tahu kalau jadi ketua dorm itu artinya kita kurang tidur lalu anemia.” Kata Chanyeol, kemudian menguap.

“Diam Chanyeol. Kau berisik. Lagi pula kau ini kan cuma ketua pengganti selama Lee Taemin di skors. Kau baru mengalami ini selama sehari.” Ujar Lizzy, sambil mengusap matanya. Jujur saja ia juga mengantuk.

Ketika keduanya sedang berusaha melawan kantuk, sekumpulan murid (kau pasti tahu siapa) menghampiri pintu dorm. Lizzy langsung mengenali rambut Krystal yang merah menyala walau matanya sudah 5 watt.

“Krystal? Kau mau kemana? Jangan bilang kau mau buat masalah lagi, kau sedang di skors sekarang.” Kata Lizzy dengan nada mengomelnya seperti biasa.

Krystal tersenyum pada Lizzy, “Iya aku tahu. Dan kami diberi kebebasan dari peraturan sekolah jadi izinkan kami keluar. Kumohon sunbae.”

Lizzy menggelengkan kepalanya lalu balas tersenyum pada Krystal, “Tidak bisa dear, maafkan aku.”

“Kalau begitu maafkan aku juga karena harus melakukan ini.” Kata Krystal lalu menggunakan sihirnya untuk membekukan Lizzy menjadi patung es.

Chanyeol hanya memandanginya dengan mulut terbuka karena terkejut.

“Ia akan meleleh dalam beberapa jam. Tenang saja sunbae. Sekarang kami harus pergi.” Ujar Krystal lagi.

Krystal, Jiyoung, Ilhoon dan Taemin yang berhasil keluar dari dorm dengan cepat berlari ke aula sekolah untuk menemui Sehun, satu-satunya anggota mereka yang saat ini tinggal di dorm yang berbeda. Aula sekolah saat itu terlihat tua, mungkin karena lampu yang diredupkan. Mereka berdiri di sebelah mimbar tempat guru-guru biasa memberikan pengarahan atau pengumuman, membuat mereka bisa melihat seluruh aula. Krystal teringat hari pertamanya memasuki aula ini, ia teringat saat tidak ada satupun bola kristal yang bereaksi pada sentuhannya, ia juga ingat hari pertama bertemu Jiyoung. Krystal pun tenggelam dalam lamunannya sendiri sampai terdengar sebuah suara memanggil namanya.

“Krystal?”

“Ya?” Jawab gadis itu sambil melihat ke arah pemanggilnya.

“Ayo kita mulai sekarang.” Kata Sehun.

Krystal mengangguk pelan. Ia dan keempat temannya berjalan keluar dari aula. Di pintu aula, Krystal mengulang tugas mereka masing-masing, lalu kelimanya saling menyemangati satu sama lain. Setelah itu mereka pun berpisah ke tempat pencarian masing-masing.
-Taemin & Jiyoung –
Malam ini langit sangat berawan, tidak terlihat satupun bintang, bahkan bulan juga tersembunyi di balik awan. Angin dingin bertiup kencang, sebentar lagi pasti musim dingin dimulai. Taemin dan Jiyoung baru saja keluar dari bangunan sekolah, karena area pencarian mereka adalah lingkungan sekitar sekolah. Tapi malam itu sangat gelap, Jiyoung sangat membenci kegelapan saat ia terbangun.

“Aku tidak suka gelap.” Gumam Jiyoung sambil mengusap-usap kedua lengannya.

Taemin langsung menjentikkan jarinya, membuat bola api kecil yang seolah menggantung di udara untuk penerangan mereka. Jiyoung tersenyum kecil sambil menggumamkan kata “Terima kasih.”

“Kau bawa batu pencarinya kan?” Tanya Taemin sambil melangkahi beberapa bongkah batu.

Jiyoung mengangguk lalu mengeluarkan batu berbentuk segitiga itu dari saku mantelnya. Ia melihat dari lubang di tengah batu itu, seketika seluruhnya jadi berwarna hitam putih.

Keduanya tidak saling bicara selama menyusuri halaman sekolah, mereka sangat canggung dengan satu sama lain saat ditinggalkan berdua saja seperti ini. Taemin ingin berusaha membuka pembicaraan tapi ia melihat Jiyoung sedang sibuk sendiri dengan batu pencarinya, jadi ia mengurungkan niatnya dan terus berjalan.

Sekarang mereka memasuki halaman belakang sekolah, jarang sekali ada murid yang pergi ke daerah ini karena bagian halaman belakang itu langsung tersambung ke hutan. Guru-guru mengatakan hutannya tidak berbahaya, tapi tetap saja jarang ada yang mau masuk ke sana, kecuali saat acara sekolah.

Sunbae.” Tiba-tiba Jiyoung bicara, masih sambil melihat dari batu pencari.

“Ya?” Jawab Taemin singkat.

Sunbae janji mau cerita padaku soal alasanmu ikut penyelidikan ini.” Kata Jiyoung

“Ah itu, kau mau aku cerita sekarang?” Tanya Taemin.

Jiyoung mengangguk, dan memusatkan perhatiannya pada Taemin.

“Jadi, sebenarnya orang tuaku adalah anggota IWWA, aku tidak suka jadi aku kabur untuk sekolah di sini. Karena itu setiap liburan aku tetap tinggal di sekolah bersama beberapa anak sedorm yang bernasib sama. Contohnya Chanyeol hyung.”

“Jadi sunbae mau melawan orang tua sendiri atau…”

Tiba-tiba saja Jiyoung merasakan tanah licin di bawah kakinya, ia hampir terperosok ke dalam lubang kalau Taemin tidak cepat menangkap tangannya.

Tanpa sadar mereka sudah berjalan sampai di depan hutan. Jalan di hadapan mereka dipenuhi lubang-lubang besar yang mengerikan. Bukan hanya itu, di atas jalan penuh lubang-lubang besar itu, berdiri tiga makhluk yang terlihat seperti anjing. Mereka sangat buruk rupa, bulu mereka hitam, dengan gigi-gigi tajam dan mata merah menyala yang ganas, menatap ke arah Taemin dan Jiyoung dari jarak beberapa meter.

Hellhounds.” Bisik Taemin.

“Di belakang sekolah ada yang seperti ini?” Pekik Jiyoung.

“Mungkin makhluk-makhluk itu menjaga sesuatu, coba pakai batunya.” Kata Taemin lagi.

Jiyoung cepat-cepat melihat dengan batu segitiga di tangan kanannya, ia pun menangkap sesuatu yang bercahaya di balik Hellhounds itu.

“Dibalik anjing-anjing itu! Ada yang bercahaya. Mungkin itu yang kita cari! Ayo sunbae!” Kata Jiyoung semangat.

“Sebentar, bagaimana cara melewati anjing-anjing neraka itu? Kita bisa mati dicabik-cabik.” Kata Taemin, sambil memegang lengan gadis di sebelahnya kuat-kuat supaya ia tidak langsung berlari ke anjing-anjing itu.

Jiyoung menatap sunbae-nya itu lekat-lekat sambil menganggukkan kepalanya, berusaha meyakinkan laki-laki itu bahwa ia tahu apa yang harus dilakukan. Mereka saling berpegangan tangan dan dengan hati-hati melangkah melewati jalan berlubang di hadapan mereka. Seiring langkah kakinya, Jiyoung membentuk senjata yang terbuat dari air di tangannya sedikit demi sedikit, dimulai dari gagang pegangannya sampai akhirnya cambuk airnya terbentuk sempurna. Ia berasumsi kalau Hellhounds akan takut pada air, karena mereka berasal dari neraka kan? Di tempat itu banyak api, ia merasa power-nya akan lebih dibutuhkan saat ini dibandingkan power milik Taemin.

Ketika mereka berada sekitar 20 langkah dari Hellhounds yang sudah siap menyerbu, Jiyoung menyiapkan senjatanya dan melepaskan tangan Taemin. Seolah mengerti apa yang harus dilakukan, ia segera berlari menuju lubang terakhir di ujung sementara Jiyoung menghadapi anjing-anjing itu dengan cambuk airnya.

Makhluk-makhluk itu bergerak sangat cepat dan gesit, sehingga sulit untuk mengenai mereka dalam sekali cambuk. Jiyoung berputar dan mengayunkan cambuknya di udara, akhirnya salah satu ayunan kuatnya mengenai salah satu dari tiga hellhounds itu dan membuatnya melebur jadi debu hitam. Gadis itu pun mengayunkan cambuknya sekali lagi, kali ini ayunannya lebih terarah sehingga ia berhasil membunuh satu hellhound lagi.

Keringat menitik di pelipisnya, gadis itu sudah kelelahan, ia melihat ke jalanan berlubang di hadapannya, Taemin sedang kesusahan melewati lubang-lubang itu dengan cepat, ditambah lagi ternyata ada tanaman rambat yang terus menarik kaki laki-laki itu, berusaha membuatnya terperosok ke dalam lubang.

Jadi Jiyoung mengangkat cambuknya sekali lagi, kali ini cambuknya meleset, anjing jahat itu melompat ke arahnya dan hampir mencabiknya hidup-hidup. Tapi sebuah ledakan di belakang anjing itu membunuhnya dan merubahnya menjadi debu hitam, menyusul kedua temannya.

Jiyoung menghela napas lega. Ia bangkit perlahan dan melihat Taemin berdiri beberapa meter di hadapannya, tangan laki-laki itu membara seolah menggunakan sarung tangan yang terbuat dari api.
Gadis itu berjalan cepat melewati jalan berlubang sambil menggunakan cambuknya untuk membunuh tanaman rambat yang mengincar kakinya. Ia segera menghampiri Taemin lalu membalut kedua tangan sunbae-nya itu dengan air untuk memadamkan apinya.

“Lain kali kita harus hadapi bersama-sama.” Kata Taemin sambil tersenyum.

Jiyoung hanya mengangguk, untuk saja tempat itu gelap sehingga perubahan warna pada pipinya tidak terlihat.

Setelah melewati sekitar lima lubang lagi, mereka akhirnya sampai di lubang terakhir. Taemin kembali membuat bola api untuk penerangan, ia mendekatkan bola itu ke pinggir lubang untuk melihat ke dalam lubang yang sangat gelap.

Di dalam lubang itu seorang gadis berambut panjang sedang tertidur pulas, ada lingkaran sihir berwarna hitam di sekitar tubuhnya.

“Lee Young sunbae!” Seru Jiyoung, berusaha membangunkan gadis di dalam lubang itu, yang ternyata adalah Lee Young, salah satu murid yang hilang saat terjadi serangan Troll di sekolah.

“Kita naikkan saja dulu.” Kata Taemin.

“Bagaimana caranya?” Tanya Jiyoung.

Taemin memastikan tidak ada tanaman rambat yang menghalangi, lalu turun ke dalam lubang. Lubang yang terakhir ini ternyata tidak dalam, Ia mengangkat tubuh Lee Young dan menaikkannya keluar dari lubang, setelah meletakkan sunbae-nya itu dengan hati-hati dipinggir lubang, ia sendiri keluar dari dalam lubang.

“Bagaimana cara menghilangkan sihir yang mengelilinginya?” Tanya Taemin.

Jiyoung menggelengkan kepalanya, “aku tidak tahu, yang aku tahu kita harus membangunkannya dari tidur.” Ujar Jiyoung, kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Lee Young sambil terus memanggil namanya.

Gadis itu akhirnya mengerjapkan matanya perlahan dan lingkaran hitam di sekitar tubuhnya hilang. Lee Young yang baru saja terbangun dari tidur sihirnya, langsung duduk lalu menarik napas dalam seolah ia tidak bernapas selama ini.

“Aku… semalam aku mimpi buruk, mimpinya aneh sekali.” Kata Lee Young, sambil melihat ke sekitarnya. Setelah sadar bahwa ia berada di dalam hutan, ia mulai panik.

“Tenang saja sunbae, kami sudah menyelamatkanmu.” Kata Jiyoung.

“Ayo kita bawa dia ke rumah sakit sekolah dulu.” Ujar Taemin, kemudian Jiyoung membantunya membopong Lee Young ke rumah sakit sekolah.


-Ilhoon & Sehun-

Lorong-lorong sekolah yang sepi membuat langkah kaki mereka yang paling pelan pun terdengar keras. Jung Ilhoon dan Oh Sehun berjalan perlahan, sambil mengecek setiap ruang kelas, untuk melihat adakah hal yang janggal atau ada petunjuk-petunjuk tersembunyi.

“Kau mau pergi dengan Krystal kan.” Kata Ilhoon sambil memainkan batu pencari di tangannya.

Engga, kenapa bisa berpikir begitu?” Tanya Sehun.

“Kau kelihatan menyukainya, ga tahu sih.” Kata Ilhoon lagi.

“Kamu juga mau pergi dengan Jiyoung kan? Sayangnya sainganmu Taemin sunbae. Jiyoung pasti lebih pilih dia.” Balas Sehun, seiring kakinya melangkah menaiki tangga menuju deretan kelas di lantai dua.

“Setidaknya sainganku manusia, bukan arwah.” Kata Ilhoon.

“Apa mak— hei lihat, ada yang bercahaya.” Kata Sehun, ia menunjuk salah satu ruang kelas, yang anehnya pintunya terbuka.

Keduanya melangkah dengan hati-hati menuju ruang kelas itu, mereka mengira akan menemukan monster atau apapun sesuatu di dalam kelas itu, ternyata yang mereka temukan hanya ribuan kunci perak berterbangan di langit-langit kelas, yang merupakan sumber dari cahaya menyilaukan yang Sehun lihat sebelumnya.

“Ini kelas Greek Mythology. Kelas kesukaan Minjoo nuna.” Kata Ilhoon sembari melangkah masuk ke dalam kelas itu, diikuti Sehun di belakangnya.

“Mungkin kita akan menemukannya di sini. Kunci-kunci aneh itu mungkin jawabannya.” Ujar sehun.

“Kalau selama ini ia ada di sini, kenapa tidak ada yang tahu? Maksudku mereka kan pakai kelas ini hampir setiap hari.” Kata Ilhoon tidak yakin.

“Ya siapa tahu saja. Coba perhatikan kunci-kunci itu.” Ucap Sehun, kemudian ia melempar batu ke salah satu kunci, dan kunci itu melebur menjadi debu putih.

“Mereka semua berbentuk sama, tapi tidak semuanya benar-benar ada, hanya ada satu kunci yang asli. Betul juga. Kurasa ini jawabannya.” Kata Ilhoon setuju.

Semua kunci perak yang berterbangan itu memiliki sayap transparan, dan sebuah batu ruby merah kecil yang sangat mencolok. Sulit sekali untuk membedakan mana yang asli dan mana yang ilusi. Bahkan kalau mereka tahu mana yang asli, tidak akan mudah mengambilnya dari langit-langit kelas.

“Pernah lihat ini di film kan? Kita harus pilih satu kunci yang asli, dan dengan kunci itu kita bisa membuka sesuatu seperti pintu, peti atau semacamnya.” Kata Sehun.

“Kau ada ide?” Tanya Ilhoon.

“Ada. Aku akan menggunakan sihir udaraku untuk menarik kuncinya, dan untuk mengetahui mana yang asli, kau harus membantuku. Pegang batu pencari itu dan posisikan di depan mataku, supaya aku bisa lihat kunci mana yang bercahaya.”

Ilhoon mengangguk mengerti. Ia membuka kepalan tangannya yang sejak tadi menggenggam batu berbentuk segitiga itu. Ia memegang batu itu dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu berdiri agak sedikit di belakang Sehun.

“Kau siap?” Tanya Ilhoon.

Sehun mengangguk. Ilhoon mengulurkan tangannya, menempatkan batu pencari tepat di depan mata kiri Sehun, laki-laki itu langsung bisa melihat sebuah kunci yang bercahaya ditengah ribuan kunci ilusi.

Ia mengangkat tangannya ke atas, mengumpulkan udara di tangannya lalu mulai membuat angin berputar, semacam tornado mini, dan mengarahkannya ke kunci yang asli, kunci itu diam di tempat tak bergeming seiring putaran angin itu semakin mendekat padanya.

Putaran angin itu menghempas kunci-kunci ilusi dan membuat mereka marah, kunci-kunci perak itu berterbangan membabi buta dan berusaha menyerang mereka. Salah satunya berhasil mengenai kepala Ilhoon.

“Au! Mereka bisa menyerang! Sehun cepatlah.” Seru Ilhoon sambil berusaha menghindari serangan kunci berikutnya.

“Aku sudah dapat kuncinya.” Kata Sehun, tangannya sedang bergerak menarik gulungan angin yang sekarang membawa kunci yang mereka butuhkan di dalamnya.

“Tepis saja mereka dengan tangan, mereka cuma ilusi, bodoh.” Tambah Sehun.

Ilhoon mendengus kesal karena dikatai bodoh namun ia menuruti saran Sehun dan menepis kunci-kunci itu dengan tangannya. Benar saja, kunci-kunci itu langsung hancur menjadi debu putih.

Setelah sedikit perang melawan kunci-kunci ilusi, Sehun akhirnya berhasil memegang kunci yang asli di tangannya. Sekarang satu hal lagi yang harus mereka pikirkan, kira-kira kunci itu untuk membuka apa?

Keduanya duduk di lantai kelas sambil memperhatikan bentuk kunci perak itu.

“Mungkin ini kunci untuk lemari tua yang di sana.” Ujar Ilhoon, ia bermaksud pada sebuah lemari buku di pojok belakang kelas.

Lemari itu sangat besar, warnanya cokelat mahoni kusam. Menurut Ilhoon, manusia bisa saja dimasukkan ke sana.

Sehun pun berdiri, masih sambil menggenggam kunci perak tadi di tangan kanannya, lalu berjalan ke belakang kelas untuk mencoba kuncinya pada lemari kayu tua itu. Setelah memeriksa dengan meraba dan melihat dengan matanya, ia tidak menemukan lubang kunci di sisi mana pun dari lemari itu.

“Sepertinya kau salah, tidak ada lubang kunci di lemari ini.” Kata Sehun pada Ilhoon yang masih duduk di lantai.

Tapi kemudian kunci bersayap itu melepaskan diri dari genggaman Sehun dan menemukan lubangnya sendiri, tepat di pojok atas pintu lemari itu. Kunci itu berputar sendiri, dan dengan sedikit bunyi ‘krek’ pintu lemari tua itu terbuka.

“Oh baiklah tanganku tidak sampai ke atas sana.” Gumam Sehun.

Laki-laki itu membuka pintu lemari itu lebih lebar dan menemukan seorang gadis berambut sebahu, dengan wajah dan bibir yang pucat, sedang terlelap. Ada cahaya hitam di sekitar tubuh gadis itu. Gadis itu masih memakai seragam, ada emblem lumba-lumba di seragamnya, dan name tag bertuliskan “Jung Minjoo”.

“Hei, aku menemukan Nuna-mu! Cepat sini.” Seru Sehun.

Ilhoon langsung beranjak dari tempatnya, menghampiri Sehun yang sedang berusaha mengeluarkan Minjoo dari dalam lemari. Ilhoon segera membantu temannya itu. Mereka lalu menggendong Minjoo ke depan kelas, lalu membaringkannya dengan posisi kepala berada di pangkuan Ilhoon dan tubuhnya di lantai.

Nuna! Ayo bangun!” Kata Ilhoon sambil menepuk-nepuk pipi Minjoo.

Setelah beberapa kali memanggil namanya, bahkan menyiramkan sedikit air ke wajahnya, Minjoo terbangun dari tidur sihir yang hampir membunuhnya. Ia agak terkejut saat melihat adiknya dan ruang kelasnya.

“Kenapa aku di sini? Kalian sedang apa? Ini jam berapa?” Tanya Minjoo bingung.

“Kami sedang… menyelamatkanmu.” Jawab Sehun.

Nuna tidak ingat? Nuna diculik.” Kata Ilhoon.

“Diculik? Yang benar saja. Aku cuma ingat aku mimpi buruk kemarin, lalu.. entahlah.” Kata Minjoo.

“Lebih baik kau pergi bawa Nuna-mu ke dormnya atau ke rumah sakit sekolah. Aku mau pergi mencari Krystal.” Kata Sehun.

Setelah pamit pada Ilhoon dan Minjoo, Sehun berlari keluar, ia tidak tahu di mana pintu perak yang dimaksud Krystal tapi ia mau menemukan gadis itu dan membantunya.


-Krystal-

Pedang es di tangan kanannya mengepulkan asap dingin yang membentuk bunga-bunga es di udara, kepingan es pun berjatuhan dan segera mencair begitu menyentuh lantai. Krystal mengikat rambut merah menyalanya, ia membawa dream catcher di dalam saku mantelnya untuk berjaga-jaga. Ia berjalan sangat perlahan menyusuri koridor sekolah, ia terpaksa harus lewat jalan biasa karena ia tidak menemukan satupun jalan rahasia menuju koridor terlarang tempat ia menemukan pintu perak waktu itu. Sejak sepuluh menit yang lalu, ia terus merasakan udara dingin berhembus di belakangnya, ia juga merasa seperti sedang diikuti, tapi setiap ia membalikan badannya untuk melihat tak ada seorang pun di belakangnya. Jadi ia melanjutkan berjalan tanpa menengok sedikit pun, sampai sebuah sentuhan dingin yang lembut terasa di tangannya.

“Baekhyun sunbae!” Kata Krystal hampir memekik.
Sosok tidak terlihat di sebelahnya segera memunculkan tubuh transparannya. Laki-laki itu tersenyum pada Krystal, namun Krystal tidak membalas senyuman itu sedikit pun, ia malah menatap arwah sunbae-nya itu dengan tatapan kesal.

“Maaf aku baru menemuimu lagi Krys, aku sempat kehilangan jalan untuk kembali ke sini.” Kata Baekhyun, membuat Krystal mengurungkan niatnya untuk memarahi Baekhyun karena menghilang seharian.

“Tidak apa-apa. Sunbae juga sebaiknya menjauh kali ini, karena ini sangat berbahaya. Aku takut pelatih Shin akan menangkapmu. Lagi.” Ujar Krystal.

“Bukankah aku seharusnya ikut denganmu?” Tanya Baekhyun.

Krystal tidak menjawab pertanyaan itu dan mulai mempercepat langkahnya, karena ia baru saja menemukan koridor yang ia cari. Baekhyun terus mengikutinya dari belakang.

Pintu perak itu masih sama seperti pertama kali Krystal melihatnya. Dengan warna perak yang menyilaukan, memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Krystal memegang kenop pintu itu dan memutarnya perlahan, tapi pintu itu tidak mau terbuka seperti waktu itu. Kali ini pintu itu terkunci.

Krystal menghela napas sambil menyibakkan poninya. Apa ia harus mendobrak pintu ini? Apa ia kuat melakukannya? Mungkin sebuah mantra atau kekuatannya bisa membantu? Ia sedang berusaha memikirkannya.

“Ada apa?” Tanya Baekhyun, melihat Krystal yang raut wajahnya memuram.

“Pintunya terkunci.” Kata Krystal.

“Kau bisa membukanya dengan sihir.” Ujar Baekhyun.

“Aku sedang memikirkannya. Menurut sunbae, kalau aku pakai air seperti Jiyoung apa cukup kuat untuk membuka pintunya?”

Baekhyun baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Krystal, ketika suara gemerincing kunci menyela percakapan mereka di koridor yang sepi itu. Diikuti suara langkah kaki.

“Pintu itu hanya bisa dibuka dengan salah satu dari kunci-kunci ini. Sayangnya tidak akan kuberikan pada kalian.”

Pelatih Shin, masih dengan pakaian mengajarnya, berdiri beberapa meter dari Krystal dan Baekhyun. Di tangan kanannya ada serendeng kunci, dan ditangan kirinya ada cambuknya, yang semua orang tahu selalu di selipkan di sabuknya. Ia menyeringai, dengan seringai jeleknya yang baru Krystal lihat kemarin siang.

“Sialan.” Gadis berambut merah itu mengumpat sambil menyiapkan pedang esnya.

“Oh, itu dia arwah yang kabur dariku. Jung Soojung, kalau kau berikan dia padaku, aku tidak akan mengganggumu lagi.” Kata Pelatih Shin lagi sambil melihat ke arah arwah Baekhyun.

“Apa sebenarnya tujuanmu menculik mereka?” Tanya Krystal, masih dengan pedang yang siap di tangannya.

“Pimpinan kami butuh lebih banyak kekuatan, ia ingin jadi penyihir terkuat. Karena itu kami mengumpulkan anak-anak penyihir untuk diambil kekuatannya, selama Eternity Juice belum ditemukan.” Kata Pelatih Shin, sembari membuka gulungan cambuknya.

Eternity Juice?” gumam Krystal.

Baekhyun sejak tadi hanya bisa memperhatikan keduanya bicara, ia memperhatikan gerak-gerik keduanya. Baekhyun berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk membantu Krystal, tapi mau bagaimana, ia tidak bisa menggunakan kekuatannya sedikit pun.

“Krys, jangan lengah.” Bisik Baekhyun pada gadis itu.

Krystal mengangguk pelan. Memberi isyarat pada Baekhyun untuk tenang dan jangan khawatir. Lalu ia kembali fokus pada “musuh” di hadapannya.

Eternity Juice yang dibuat oleh pasangan ilmuan penyihir Jung, mereka menyembunyikan itu entah dimana sebelum mereka dibunuh dan meninggalkan empat anak. Karena itulah, target kami sesungguhnya adalah kau, Jung Soojung.”

“Jung? Orang tuaku?” Krystal terpaku mendengar kata-kata Pelatih Shin, ia selalu ingin tahu kemana perginya kedua orang tuanya.

Pelatih Shin sadar saat itulah Krystal sedang lengah, ia memecutkan cambuknya ke udara sekali, cambuk itu mengeluarkan pendar hitam. Ia kembali mengayunkan cambuknya, kali ini ke arah Krystal. Gadis itu mengangkat pedang esnya untuk melakukan perlawanan namun terlambat, cambuk itu mengenai sisi tubuhnya, melemparnya ke lantai dengan cukup keras.

Krystal terbaring di lantai marmer yang dingin, matanya terasa berat untuk dibuka. Kepalanya terasa pusing. Tapi ia bisa mendengar seseorang memanggil namanya, menyuruhnya untuk bangun.

“Krystal! Jung Soojung! Bangun, kau tidak boleh tertidur! Krystal…”

Please wake up…

-To Be Continued-


 

Hai hai, maaf jadinya lama lagi -_- salahin aja sekolah saya (?). terus maaf kalo ga bagus :( karena saya pun ngerasa ini chap rada gaje (?) tapi semoga aja ga segaje itu XD. Abis chapter ini, ada chapter terakhir, abis itu disambung ke Seri ke-2 nya :3 semoga masih tertarik buat baca kkk. Please leave a feedback whether you liked it or not LOL.

(*bagian cerita yang dibagi tiga itu ceritanya terjadinya hampir di waktu yang bersamaan(?). *kalau saya pake bahasa yang ga baku, itu artinya mereka semacam lagi ngomong informal/kasar gitu XD)

-yoo jangmi-
25.11.2014

4 thoughts on “[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 4

  1. Kakkkkkk;-; uh moment baekhyun krystal yg itu bikin aku gigit gigit bantal serius ;-; /slapped

    Oke kak ini aku sepot dulu ya kak, tar aku komen sekalian sama dream catcher yang chapter 3/slapped. Aku ngilang dulu uas soalnya eheh, see you kak! Keep going;D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s