(Chapter 1) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

Title  : Find Love to Find Life (Chapter 1)

Author : Chunniest http://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

Mianhae untuk ff Sunggyu author sedang mencari ide membuatnya. Karena kemarin ada yang minta ff ini di posting ya akhirnya author memberanikan mempostingnya, semoga readersdeul menyukainya. Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

 

Musim kemarau panjang melanda desa Yangdong. Tanah kering membuat tanaman layu. Pepohonanpun tak memiliki daun untuk melindunginya dari terik matahari. Semua petani mengeluh padi mereka layu tak bisa panen. Semua penduduk desa mengatakan ini semua terjadi karena kemarahan Dewa air.

Di sebuah rumah kecil tampak semua penduduk mengelilinginya. Memasuki rumah yang kecil dan sederhana itu seorang gadis cantik duduk di depan cermin. Hwarot dengan pola kupu-kupu berwarna merah sudah melekat di tubuh gadis itu. Seorang wanita paruh baya selesai mengepang rambut panjang gadis itu lalu memasangkan baetssi daenggi diatas kepalanya.

wpid-chuno-e02-100107-hdtv-xvid-san-avi_001064597.jpg

Wajah gadis itu sudah di rias bak seorang pengantin namun wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan seperti yang biasa pengantin perempuan tunjukkan. Terakhir wanita paruh baya itu memasangkan kerudung berwarna merah menutupi gadis itu. Wanita paruh baya itu memegang bahu putrinya.

“Hyunji, jika saat saat ini kau benar-benar menikah, kau adalah gadis paling cantik yang pernah eomma lihat.” Ucap wanita paruh baya dengan suara gemetar.

Hyunji menyentuh tangan ibunya. “Eomma. Kumohon jangan menangis. Hatiku tidak akan tenang jika eomma tetap menangis.”

Wanita paruh baya itu segera mengusap air matanya.

“Mianhae. Eomma berjanji tidak akan menangis.”

Hyunji berdiri membuat Hwarot yang dipakainya menjuntai ke bawah. Tanpa di ketahui semua orang gadis itu menghela nafas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya. Langkahnya terhenti saat berada di depan pintu.

“Ini lentera untukmu. Maafkan abeoji tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkanmu.” Seorang laki-laki paruh baya berkata seraya menyerahkan lentera pada Hyunji.

“Tidak apa-apa abeoji. Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita.”

“Abeoji akan mengantarmu untuk terakhir kalinya.”

Laki-laki itu menggandeng tangan Hyunji. Hyunji bisa mendengar bisik-bisik semua orang yang membicarakannya. Hyunji muak mendengar mereka merasa kasihan padanya padahal dalam hati mereka mengatakan betapa beruntungnya mereka karena tidak menjadi korban persembahan untuk dewa air.

Mereka berjalan sampai di tepi laut. Laki-laki paruh baya itu membantu Hyunji menaikki perahu kecil. Hyunji sedikit mengangkat Hwarot nya agar mudah melangkah. Hyunji duduk di tengah perahu itu.

“Maafkan ayah Hyunji.” Laki-laki paruh baya itu mendorong perahu Hyunji hingga air laut membawa perahu itu menjauh darinya.

Lelaki itu masih berdiri di tepi pantai melihat kepergian perahu yang membawa putrinya. Begitupula dengan ibu Hyunji dan penduduk lainnya.

Diatas perahu Hyunji memegang lenteranya dengan erat. Gadis itu sebenarnya ketakutan jika membayangkan akan bertemu dengan dewa air yang sangat menyeramkan. Tubuh Hyunji terombang-ambing di tengah lautan. Tiba-tiba sebuah petir menggelegar mengagetkan Hyunji. Hyunji mengeratkan pegangan pada lenteranya. Ketakutan melanda gadis itu saat angin berhembus dengan kencangnya.

“AAAHHH….” Teriak Hyunji saat perahunya terbalik.

Tubuh Hyunji terjatuh di laut. Karena tak bisa berenang Hyunji tak bisa mencapai ke permukaan. Hyunji merasakan tubuhnya melemah karena kehabisan oksigen. Gadis itu bisa merasakan air memasuki paru-parunya. Samar-samar Hyunji melihat seseorang mengulurkan tangannya. Hyunji tak bisa melihat wajahnya karena kesadaran Hyunji semakin menghilang.

*   *   *   *   *

Hyunji terbangun mendengar suara langkah kaki. Perlahan gadis itu membuka matanya. Ruangan asing langsung menyambut matanya yang terbuka. Sebuah ranjang mewah berwarna kuning emas terlihat indah di mata Hyunji. Hyunji menyibakkan selimut dan terbangun dari tidurnya.

“Anda sudah sadar rupanya nona Hyunji.” Hyunji melihat seorang laki-laki memasuki ruangan itu.

“Anda siapa? Bagaimana anda tahu nama saya?” Tanya Hyunji waspada.

“Selamat datang di kerajaan air nona. Saya adalah Kimbum kepala pelayan di sini.”

“Kerajaan air?” Hyunjipun teringat jika dia telah dikorbankan untuk dewa air.

Apa kerajaan air ini milik dewa air? Bingung Hyunji.

“Apa anda lupa tujuan anda kemari?”

“Tidak. Tentu saja saya tidak lupa. Saya di korbankan untuk menjadi pengantin dewa air.”

“Kalau begitu, mari saya akan mengantarkan anda pada tuan Suga.”

“Tuan suga?”

“Iya. Tuan Suga adalah dewa air. Mari saya akan mengantarkan anda.”

Hyunji terkejut melihat tubuhnya sudah dibalut hanbok berwarna Pink dengan pola buah pinus yang lebih bagus dari yang pernah dimilikinya. Namun yang menjadi pertanyaan siapa yang mengganti pakaiannya?

“Dayang yang menggantikan pakaian anda nona.” Hyunji mendongak melihat Kimbum mengetahui apa yang sedang di pikirkannya.

“Oh.. Ne.” Hyunji mengikuti Kimbum keluar.

Hyunji terpesona melihat pemandangan di luar kamarnya. Di sekitar jalan terdapat kolam ikan dengan air jernih penuh dengan ikan-ikan kecil berenang kesana kemari. Mata Hyunji tertarik pada bayangan seseorang. Dengan tubuh tegap laki-laki itu menarik ujung anak panahnya. Matanya membidik pohon yang letaknya jauh. Laki-laki itu melepaskan anak panahnya. Dengan kecepatan tinggi anak panah itu melesat di udara. Dari kejauhan Hyunji bisa melihat anak panah itu menancap di papan kayu berbentuk lingkaran.

Apa dia dewa air yang sangat di takuti itu?

“Kemampuan anda semakin meningkat tuan Jin.” Kimbum berkata dan lelaki itu berbalik tersenyum.

“Terimakasih Kimbum-ssi, itu semua karena aku sering berlatih. Apakah ini pengantin tuan Suga yang di beritakan itu?” Jin beralih pada Hyunji dan tersenyum pada gadis itu.

“Benar tuan Jin ini adalah nona Hyunji, calon pengantin tuan Suga.”

“Selamat datang nona Hyunji. Kau sangat cantik.” Hyunji tersipu malu mendengar pujian Jin.

“Terimakasih tuan Jin.”

“Jin, panggil aku Jin saja.”

“Baik Jin.”

“Kami permisi dulu tuan Jin. Tuan Suga pasti sudah menunggu.” Kimbum berkata memotong pembicaraan mereka.

“Mari nona Hyunji.”Kimbum mengajak Hyunji melanjutkan perjalanan mereka.

Hunji tersenyum pada Jin sebelum gadis itu mengikuti Kimbum. Hyunji terus mengagumi pemandangan di tempat yang asing itu sampai akhirnya Kimbum membuka pintu besar.

“Silahkan masuk nona, tuan Suga sudah menunggu.” Ucap Kimbum.

Hyunji menatap ruangan di hadapannya dengan gugup. Bayangan menyeramkan tentang dewa air berkelebat di pikirannya. Dengan langkah pelan Hyunji memasuki ruangan itu. Hyunji mengedarkan pandangannya ternyata ruangan itu adalah ruang baca yang dipenuhi dengan rak-rak berisi banyak buku. Hyunji tak menemukan seorangpun di sana. Gadis itu berbalik hendak bertanya pada Kimbum namun sayang laki-laki itu sudah menghilang.

Hyunji memberanikan diri melangkahkan kaki mengitari ruangan itu. Hyunji melewati setiap rak yang ada di sana. Hyunji menyentuh buku-buku itu, tak pernah gadis itu melihat buku sebanyak ini.

“Ommo…” Kaget Hyunji melihat seorang anak laki-laki tengah mengambil sebuah buku. Hyunji tersenyum dan menghampirinya.

“Adik kecil apa kau tahu dimana dewa air?” Tanya Hyunji berjongkok di hadapan anak itu.

“Adik kecil?” Anak itu tampaknya tidak suka dengan sebutan yang Hyunji katakan.

“Apa aku salah?”

DUK….

Buku yang dipegang anak itu melayang di kepala Hyunji.

“Tentu saja kau salah. Aku adalah dewa air itu.”

Hyunji menggigit bibirnya menahan tawa. Kesal anak itu melayangkan bukunya lagi membuat Hyunji meringis kesakitan.

“Apanya yang lucu huh?”

“Bukankah dewa air adalah dewa yang menakutkan. Anak kecil dan imut sepertimu mana mungkin dewa air.” Hyunji mencubit pipi anak laki-laki itu dengan gemasnya.

“Kau memang imut Suga.” Hyunji dan anak itu menoleh mendengar suara seseorang.

Seorang laki-laki berambut hitam ikut berjongkok di hadapan mereka.

“Diam kau Jungkook-ah.” Anak laki-laki itu pergi dengan kesalnya.

“Apa kau memanggil anak itu Suga?” Tanya Hyunji pada laki-laki bernama Jungkook itu.

“Ya dia Suga si dewa air.”

“Kau tidak bercanda bukan? Tapi dia masih anak kecil.”

“Jangan terkecoh dengan penampilannya nona Hyunji. Meskipun tubuhnya kecil Suga sudah berumur 200 tahun.”

“Apa? Jadi dia benar-benar dewa air?”

Tiba-tiba Jungkook mendekat dan berbisik di telinga Hyunji.

“Apa kau meyesal setelah melihat Suga? Bagaimana kalau kau denganku saja nona Hyunji?” Dengan cepat Hyunji mendorong tubuh Jungkook.

“Aku kemari menjadi untuk menjadi pengantin tuan Suga bukan anda.”

Hyunji berdiri dan meninggalkan Jungkook. Sebuah senyuman misterius terlihat di wajah Jungkook.

“Pengantin tuan Suga.” Gumam Jungkook.

*   *   *   *   *

Hyunji berjalan mencari Suga hingga akhirnya gadis itu sampai di sebuah gazebo. Hyunji terdiam menikmati pemandangan danau yang tenang dan indah. Hyunji merasakan angin semilir berhembus. Angin yang menyejukan.

“Indah bukan?” Hyunji berbalik mendengar seseorang.

Hyunji melihat seorang gadis memakai hanbok hijau muda dengan dangui berwarna hijau tua menatapnya tajam.

“Siapa kau?”

“Aku adalah dewi petir, dewi Bomi.”

“Wahh… Cantik sekali pengantin Suga.” Tiba-tiba angin berhembus dan seorang gadis muncul dengan hanbok merah dan dangui pinknya.

“Aku adalah Hayoung, dewi angin.”

“Kau cepat sekali Hayoung-ah.” Hyunji melihat seorang laki-laki dengan pakaian serba putih langsung memeluk tubuh Hayoung dari belakang.

“Kau tak akan bisa mengalahkan angin sayang.”

“Cihh….. Siapa dia?” Tanya laki-laki itu menyadari kehadiran Hyunji.

“Dia adalah calon pengantin Suga Jung Hyunji.” Ucap Bomi memperkenalkan diri.

“Bagaimana kau tahu namaku?” Bingung Hyunji.

Bomi tersenyum sinis dan mendekati Hyunji.

“Ingat Hyunji-ah, kami adalah dewa. Kami tahu segalanya berbeda sekali dengan manusia.” Hyunji sebenarnya merasa terhina dengan sindiran Bomi namun gadis itu memilih diam saja.

Bomi berjalan meninggalkan Hyunji.

“Jangan kau masukkan dalam hati. Bomi selalu bersikap seperti itu jika ada orang asing. Sebenarnya dia orang baik. Nanti lama-lama kau juga akan tahu.” Ucap Hayoung masih dalam dekapan kekasihnya.

“Oh ya kau belum mengenal kekasihku. Dia adalah dewa api. Dewa Jimin.” Hyunji tersenyum pada Jimin.

“Wah….. Ternyata kau cantik sekali.” Puji Jimin.

DUGHHH……

Sebuah pukulan keras mengenai dada Jimin membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

“Kau mau melupakanku eoh?” Hyunji tertawa melihat Hayoung cemburu.

“Kau tenang saja Hayoung-ssi, aku tidak mungkin mengalahkan kecantikanmu. Oh ya Hayoung-ssi apa kau melihat tuan Suga? Aku sedang mencarinya.”

“Suga? Mungkin dia ada di taman air, di sana.” Hayoung menunjukkan jalan kearah yang berlawanan.

“Terimakasih Hayoung-ssi, Jimin-ssi.” Hyunji berjalan menuju jalan yang Hayoung tunjukkan.

Istana itu begitu tenang. Hanya terdengar riak air dan kicauan burung. Hyunji melewati tembok dengan lubang lingkaran sebagai pintunya. Hyunji tersenyum melihat seorang anak kecil tengah duduk di kursi membaca sebuah buku.

“Untuk apa kau kemari?” Tanya Suga tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

“Aku kemari karena aku ingin minta maaf padamu dewa air. Maafkan aku karena sudah meremehkan tubuh mu.” Hyunji menunduk menyesali perbuatannya.

Suga menutup bukunya dan berjalan menghampiri Hyunmi. Namun langkah terhenti dan tiba-tiba tubuh mungilnya jatuh ke tanah. Hyunji berlari menghampiri Suga. Gadis itu membalikkan tubuh Suga hingga kepalanya berada di pangkuan Hyunji.

“Suga-ssi….. Suga-ssi… Ada apa? Bangunlah. Apa yang terjadi?” Hyunji mengguncangkan tubuh Suga namun tak ada respon dari bocah itu.

“Dia tidak apa-apa. Suga hanya terlalu lemah jika berhadapan dengan sinar matahari. Aku akan membawanya ke kamar.” Jungkook mengangkat tubuh mungil Suga dan berjalan pergi diikuti Hyunji di belakangnya.

“Kenapa Suga lemah dengan sinar matahari?”Tanya Hyunji penasaran.

“Suga adalah dewa air. Jika sinar matahari menyinarinya air dalam tubuhnya menguap dan dia kekurangan air dalam tubuhnya. Itulah yang membuatnya pingsan.”

Hyunji mengangguk mereka. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai di sebuah kamar. Hyunji membantu menbuka pintu dan Jungkook membawa tubuh Suga memasuki kamar itu. Jubgkook meletakkan tubuh Suga di ranjang.

“Terimakasih Jungkook-ssi.”

Dengan cepat Jungkook menghampiri Hyunji membut gadis itu terkejut. “Bagaimana jika satu ciuman untuk ucapan terimakasih.”

“APA?” Dengan kasar Hyunji mendorong lelaki itu.

Jungkook tertawa melihat reaksi Hyunji. “Aku hanya bercanda. Suga hanya perlu beristirahat saja. Nanti dia juga akan bangun. Bye.” Jungkook menghilang secepat kilat.

Hyunji menghampiri ranjang Suga dan duduk di samping ranjang itu. Gadis itu mengamati wajah Suga. Rambut hitam legam membingkai wajahnya yang seputih susu. Bulu mata lentik terpejam, hidungnya yang mancung dan bentuk bibir yang sangat menggemaskan. Bibir atas sedikit lebih tebal daripada bibir bawahnya. Tangan Hyunji terulur menyentuh garis bibir Suga. Bibir itu terasa lembut di jari Hyunji.

“Menggemaskan.” Gumam Hyunji.

Hyunji menarik tangannya lalu menyatukan kedua tangannya sebagai bantalan dan meletakkan kepalanya diatasnya. Matanya mulai terpejam merasakan kantuk.

*   *   *   *   *

Hyunji mengerang dan menegakkan tubuhnya yang terasa pegal. Hyunji mengangkat tangannya meregangkan tubuhnya. Gadis itu membuka mata dan terlihat kecewa Suga sudah tidak ada di ranjangnya. Hyunji berdiri dan berjalan keluar kamar. Ternyata hari sudah gelap, gadis itu bisa melihat pantulan sinar bulan dari permukaan kolam.

Hyunji memutuskan berjalan-jalan sembari mencari Suga. Hyunji menikmati pemandangan istana di malam hari. Suasana istana sangat sepi tak ada seorangpun yang terlihat. Angin malam berhembus membuat Hyunji merinding kedinginan. Langkah Hyunji terhenti mendengar suara di balik semak-semak.

“Suga-ssi kaukah itu?” Hyunji mendekati semak-semak itu.

Rasa takut merasukinya. Hyunji menengok sekelilingnya berharap ada seseorang datang menolongnya namun sayang harapannya tak terwujud. Hyunji semakin mendekati semak-semak itu. Tangannya terulur menyentuh semak-semak itu. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Hyunji memasuki semak-semak itu. Hyunji meringis kesakitan saat punggungnya menyentuh tanah. Hyunji membuka matanya betapa terkejut gadis itu saat melihat seorang lelaki menindih tubuhnya. Laki-laki itu terlihat tampan dengan kulitnya yang putih meski dalam kegelapan malam. Mata hitam kelam menatapnya tajam. Mata Hyunji beralih ke bibir lelaki itu yang mengingatkannya pada bentuk bibir Suga. Namun mata Suga tak setajam ini.

“Si-siapa kau?” Tanya Hyunji ketakutan.

Laki-laki itu terdiam terus mengamati Hyunji membuat Hyunji semakin ketakutan.

“Aku Yoon. Kau calon pengantin Suga bukan?”

“Kau mengenal Suga?”

“Tentu saja dia adalah sepupuku.”

“Jadi Yoon sepupu tuan Suga. Bisakah kau menyingkir dari tubuhku?”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Nde?”

Hyunji terpaku melihat senyum laki-laki itu. Hingga akhirnya Yoon berdiri dan mengulurkan tangannya membuat Hyunji tersadar dan menerima uluran tangan itu. Hyunji membersihkan tanah yang menempel di hanboknya.

“Apa yang kaulakukan malam-malam begini eoh?”

“Aku mencari Suga. Apa kau melihatnya?”

“Tidak. Untuk apa kau mencarinya. Dia saja tak memperdulikanmu.”

“Tadi dia pingsan dan aku mengkhawatirkan keadaannya.”

Yoon mendekati Hyunji dengan tatapan tajamnya. Hyunji melangkah mundur hingga punggung Hyunji menyentuh tembok. Yoon mengunci tubuh Hyunji dengan kedua tangannya.

“Untuk apa kau peduli padanya? Kau hanya akan dijadikan selirnya, jadi kau tak perlu pura-pura peduli padanya.”

“Peduliku bukanlah pura-pura. Aku tulus mengkhawatirkannya. Bukankah sudah seharusnya kita memperdulikan orang lain di sekitar kita?”

“Jadi karena itu kau rela menjadi korban persembahan untuk dewa air?”

“Aku melakukannya bukan karena penduduk desa tapi karena keluargaku membutuhkanku.” Yoon terdiam.

Entah apa yang dipikirkan Yoon karena Hyunji tak bisa membaca mata laki-laki itu. Yoon melepaskan tangannya dan tiba-tiba menghilang dari hadapan Hyunji. Hyunji masih terdiam di tempatnya, masih terkejut dengan yang dilihatnya. Suara lolongan serigala mengagetkan Hyunji. Hyunji memutuskan kembali ke kamarnya dan mencari Suga besok.

*   *   *   *   *

“Hayoung-ah.” Panggil Hyunji saat melihat Hayoung tengah bermain di kolam bersama Jimin.

“Oh… Hyunji-ah, kemarilah di sini sejuk sekali.” Hayoung melambai ke arah Hyunji.

Hyunji menghampiri Hayoung yang sedang duduk dengan kedua kaki dicelupkan di sungai. Hyunhi melepas sepatunya dan mengikuti Hayoung.

“Pagi Hyunji-ah.” Sapa Jimin dengan nada ceria.

“Pagi Jimin-ah. Hayoung-ah, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Ada apa? Tanyakan saja.”

“Apa kau mengenal Yoon?”

“Yoon? Bukankah dia…..” Ucapan Jimin terhenti saat Hayoung membekap mulut kekasihnya.

“Ada apa kau menanyakan Yoon?” Hyunji menoleh saat mendengar seseorang berkata di belakangnya.

Dilihatnya Bomi menghampirinya. Bomi mengenakan jeogori berwarna hijau dan Chima berwarna merah. Hyunjipun berdiri dan membungkuk pada Bomi.

wpid-dalshabetina.com-130925-dal-shabet-hanbok-fashion-show-2013-2.jpeg

“Pagi Bomi-ssi.”

“Tak perlu berbasa-basi padaku. Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa kau menanyakan Yoon?”

“Semalam aku bertemu dengannya. Dia bilang dia adalah sepupu tuan Suga. Apa itu benar?”

Bomi terdiam sesaat lalu sebuah senyuman terlihat di wajahnya.

“Benar dia adalah sepupu Suga. Apa yang dia lakukan padamu?”

“Tidak melakukan apa-apa. Tapi aku merasa mereka mirip sekali seperti orang yang sama.”

“Tentu saja. Mereka kan sepupu.” Hyunji tertawa mendengar kebodohannya sendiri. Bomi, Hayoung dan Jimin ikut tertawa.

“Ternyata kau orang yang baik Bomi-ssi. Kupikir kau orang yang jahat.” Bomi terdiam dan mendekati Hyunji.

“Jangan menilai orang dari wajahnya Hyunji-ssi. Bahkan orang yang lucu sekalipun bisa sangat berbahaya. Tapi kau memiliki kami Hyunji-ssi.”

“Terimakasih Bomi-ssi.” Meski Hyunji tak mengerti siapa yang di maksud Bomi, namun Hyunji senabg bisa berteman dengan mereka.

*   *   *   *   *

Di ruang baca Suga dengan tubuh mungilnya tengah duduk membaca bukunya. Wajahnya tampak serius menghayati bacaan di buku tebal itu. Suara gemericik air membuat suasana sangat nyaman bagi Suga.

“Sejak kapan kau memiliki sepupu Suga?” Suga menoleh menapati Jungkook bersandar pada salah satu rak buku.

“Berisik.” Suga kembali membaca tak menperdulikan kehadiran Jungkook.

“Kau belum menjawabku Suga. Sejak kapan kau memiliki sepupu?”

“Sejak semalam.” Jawab Suga tak peduli.

Tawa Jungkook memenuhi ruangan itu. Suga mendengus kesal karena terganggu tawa Jungkook. Suga melayangkan tatapan membunuh pada Jungkook namun sepertinya Jungkook kebal terhadap tatapan Suga.

“Kenapa kau tak jujur padanya? Bukankah dia calon istrimu?”

“Aku hanya ingin sedikit bermain-main.”

“Sepertinya kau tidak peduli padanya. Apa kau tak menyukainya?”

Suga terdiam menatap buku tanpa bisa meresapi kata-kata yang tertulis di dalamnya.

“Tidak. Aku memang tak peduli padanya.”

“Benarkah? Kalau begitu apa kau tidak akan marah jika aku merebutnya darimu?”

BUKKK…..

Suga menutup bukunya dengan kasar. Lagi-lagi tatapan tajamnya, Suga layangkan pada Jungkook.

“Ambil saja jika kau mau.” Suga berdiri meninggalkan ruang baca.

“Ambil saja jika kau mau.” Jungkook menirukan ucapan Suga dengan suara yang dicemprengkan.

“Jelas-jelas tidak rela tapi masih pura-pura tidak peduli. Cihh… Dasar dewa air.” Cibir Jungkook.

*   *   *   *   *

Hyunji berjalan sendirian mengitari taman istana. Pohon-pohon rindang tumbuh mengitari taman itu. Hyunji melihat penuh kekaguman pada pemandangan hijau yang rimbun. Angin berhembus menyejukkan hati gadis itu.

“Apa kau calon pengantin Suga itu?” Hyunji menoleh mendengar suara seseorang.

Gadis itu melihat seorang laki-laki dengan baju serba putih dan bulu-bulu putih mengitari bahunya. Hyunji tak bisa melihat wajah lelaki itu karena tertutup topeng berwarna putih berbentuk seperti tengkorak manusia. Laki-laki itu mendekati Hyunji. Hyunji merasakan aura mencekam di sekitar laki-laki itu.

“Siapa kau?” Tanya Hyunji waspada.

“Perkenalkan aku adalah J-hope penguasa hutan ini.” Laki-laki itu membuka topengnya.

Bentuk wajah oval dengan kulit sama putihnya dengan Suga menggantikan topeng menyeramkan itu. Dua garis terlihat di kedua pipi laki-laki itu. Gambar bulan sabit terlukis di dahinya.

“Kau tinggal di hutan ini?”

“Ya.”

“Apa tidak ada hewan buas di dalam sana? Apa kau tidak takut?”

“Bagaimana aku bisa takut jika semua binatang tunduk padaku. Kenapa kau masih di sini? Bukankah Suga tak peduli padamu?”

“Suga peduli padaku, jadi anda jangan berlaku seakan anda tahu semuanya.” Kesal Hyunji berbalik meninggalkan J-hope. Langkah Hyunji terhenti merasakan J-hope menahan lengannya.

“Aku memang tahu semuanya Hyunji-ssi. Jika Suga peduli padamu dia pasti akan menurunkan hujan di desamu bukan? Pada kenyataannya Suga belum juga menurunkan hujan.”

Tubuh Hyunji terpaku mendengar ucapan J-hope. Hyunji memandang laki-laki itu tak percaya. Dengan kasar Hyunji menepis tangan J-hope.

“Kau bohong. Kau hanya ingin aku marah dan meninggalkan kerajaan ini bukan?”

J-hope menggidikkan kedua bahunya tak peduli.

“Terserah kau mau percaya atau tidak, kau bisa menanyakan langsung pada Suga.”

Hyunji terdiam bimbang namun akhirnya gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan J-hope. Sebuah senyuman kepuasan menghiasi wajah tampan J-hope melihat kepergian Hyunji.

*   *   *   *   *

Suga memasuki ruangannya diikuti Kimbum di belakangnya. Diatas kursi besar dan mewah khas kerajaan Suga duduk dengan santainya. Suga membuka gulungan kertas di atas mejanya.

“Tuan Suga, apa anda tidak akan menurunkan hujan di desa Yangdong? Bukankah mereka sudah menpersembahkan nona Hyunji.”

Suga terdiam berhenti membaca gulungan kertas yang berisi surat dari ayahnya. Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang bergerak cepat menuju ruangannya.

BRAKKK…..

Dengan kasar pintu terbuka dan memperlihatkan Hyunji berdiri dengan nafas terengah-engah. Gadis itu menghampiri meja Suga dengan wajah penuh amarah.

“Apa benar kau belum menurunkan hujan di desa Yangdong?” Tanya Hyunji terengah-engah.

Suga mendongak dan menatap Hyunji dengan dinginnya.

“Ya benar.” Gigi Hyunji bergeletuk menahan amarahnya.

“Kenapa kau melakukannya? Bukankah mereka sudah memberikanku sebagai korban untukmu, apa itu belum cukup HUH? Kau benar-benar kejam.”

Suga tersenyum sinis. “Kejam? Bukankah manusia lebih kejam dariku eoh? Mereka menghabiskan air sendirian tak memperdulikan hewan dan tumbuhan yang juga membutuhkannya. Sekarang siapa yang menurutmu lebih kejam?”

“Tidak semua orang melakukannya bukan? Contohnya seorang petani mereka bahkan merelakan dirinya sendiri tidak minum hanya untuk memberikan air itu pada tanamannya. Satu orang yang melakukan kesalahan apa harus semua orang yang menanggungnya? Selain kejam kau juga tidak memiliki perasaan. Orang sepertimu tidak pantas menjadi seorang dewa.” Hyunji berbalik meninggalkan Suga yang terpaku di tempatnya.

“Tuan Suga?”

“Keluarlah Kimbum-ssi. Aku ingin sendiri saat ini.”

“Baik tuan.” Kimbum keluar dan menutup pintu ruangan Suga.

Suga terdiam masih memikirkan ucapan Hyunji. Hyunji benar sangatlah tidak adil satu orang yang melakukan kesalahan tapi semua orang yang menanggungnya. Suga berdiri dan menghampiri jendela yang ada di ruangan itu. Suga menatap langit dan tangannya bergerak seakan tengah mengendalikan awan. Beberapa awanpun berkumpul dan berubah warna menjadi hitam. Awan itu semakin lama semakin besar dan airpun keluar dari awan itu. Air itu membasahi seluruh kerajaan air.

*   *   *   *   *

Dengan lesu Hyunji berjalan tanpa arah. Hyunji teringat ayah dan ibunya. Gadis itu mengkhawatirkan keadaan keluarganya. Padahal mereka sangat mengharapkan hujan akan turun setelah Hyunji pergi, namun harapan mereka ternyata sia-sia. Hyunji sangat marah pada dirinya sendiri. Di sini gadis itu bisa hidup dengan enak sedangkan kedua orangtuanya dengan cemas menunggu hujan.

“Aku benar bukan?” Hyunji menoleh dan melihat J-hope berdiri di hadapannya.

Hyunji masih terdiam tak tahu harus berkata apa. J-hope mendekati Hyunmi yang tak bergerak sedikitpun.

“Bagaimana jika kau ikut denganku. Aku bisa mendatangkan hujan di desamu.”

“Kau bukanlah dewa air, jadi kau tak bisa menurunkan hujan.”

“Benarkah? Tapi kenyataannya aku memang bisa.”

“Jangan ganggu dia J-hope.” Hyunji dan J-hope menoleh dan melihat Jin mendekati mereka.

Jin menarik Hyunji menjauhi J-hope.

“Jangan pernah mendekatinya lagi, atau kau akan berhadapan denganku.”

“Ciihhh…. Lagi-lagi kau menggangguku pengawal Jin. Tapi aku sedang malas berurusan denganmu. Sampai jumpa nanti Hyunji-ssi.” J-hope melambaikan tangan pada Hyunji sebelum akhirnya menghilang.

Jin berbalik menatap Hyunji.

“Kau tidak apa-apa nona Hyunji?” TanyaJin dan Hyunji menggeleng lemah.

“J-hope bukanlah orang yang baik, sebaiknya kau tidak bertemu dengannya nona Hyunji. Dia bisa menyakitimu.”

Hyunji menatap Jin dengan sedihnya membuat Jin bingung.

“Saa pertama kali aku berada di sini aku mengira  kau adalah dewa air. Jika saja dewa air itu adalah kau Jin, perasaanku tidak akan kecewa seperti ini.” Air mata Hyunji akhirnya keluar juga.

Melihat hal itu Jin menarik Hyunji ke dalam pelukannya. Bahu Hyunji bergetar karena menangis. Jin hanya bisa menepuk-nepuk punggung Hyunji membiarkan gadis itu mencurahkan perasaannya. Tiba-tiba sinar matahari tertutup awan besar. Jin mendongak meliht awan besar hitam melayang di langit. Jin tersenyum mengetahui ulah siapa itu. Jin merasakan setetes air mengenai pipinya. Lalu digantikan dengan hujan. Jin menarik tangan Hyunji memasuki kerajaan. Meski sudah berteduh, Hyunji memandang hujan itu tak percaya.

“Nona Hyunji?” Panggil Jin namun Hyunji tak bergeming sedikitpun.

“Hu-hujan?” Wajahnya berubah ceria menyadari hujan sudah membasahi tubuhnya.

“Apa Suga yang melakukannya?” Hyunji menoleh dan menatap Jin.

“Tidak ada dewa satupun yang bisa mendatangkan hujan selain tuan Suga.”

Senyuman Hyunji semakin cerah menunjukkan gadis itu benar-benar bahagia.

“Aku harus pergi. Terimakasih Jin.” Hyunji berlari meninggalkan Jin.

Langkah cepatnya mengarah menuju ruangan Suga. Hyunji tak memperdulikan bajunya yang saat ini sudah basah. Saat ini gadis itu hanya berpikir untuk menemui Suga. Hyunji membuka pintu ruangan kerja Suga. Hyunji menghela nafas lega mendapati Suga masih duduk di tempatnya. Mendengar pintu terbuka Suga mendongak.

“Ada apa lagi?” Tanya Suga dingin.

Hyunji tersenyum mendekati Suga.

CUPP….

Hyunji mendaratkan bibirnya di pipi Suga membuat laki-laki itu terkejut.

“Terimakasih Suga. Hujan itu sangat berarti untukku. Akan kutarik ucapanku. Kau bukanlah dewa yang kejam. Kau dewa yang baik dan sangat menggemaskan.”Hyunji memeluk tubuh mungil Suga gemas.

“YA!! Lepaskan aku.” Suga mendorong Hyunji melepaskan pelukan gadis itu.

“Aku terima ucapan terimakashmu. Kau boleh keluar sekarang.” Usir Suga namun Hyunji masih tetap tersenyum.

CUPP…

Hyunji kembali mencium pipi Suga sebelum akhirnya gadis itu berlari pergi meninggalkan ruangan Suga. Masih duduk di tempatnya Suga melihat Hyunji meninggalkan ruanganya. Senyum tipis menghiasi wajahnya tanpa diketahui orang lain. Suga memegang kedua pipinya bekas ciuman Hyunji.

“Gadis aneh. Bisa sesenang itu hanya karena hujan.” Gumam Suga.

*   *   *   *   *

“Hujan.” Gumam Bomi memandangi keadaan di luar dari balik jendela yang diguyur hujan deras.

“Apa karena gadis itu Suga menurunkan hujan?” Tanya Jungkook bersandar di pintu.

“Tentu saja apalagi alasan Suga menurunkan hujan tiba-tiba.”

“Apa menurutmu Suga menyukai gadis itu.”

“Entahlah, bagaimana menurutmu?”

“Sepertinya Suga mulai tertarik padanya. Apa kau akan meyingkirkannya?”

Bomi menoleh menatap Jungkook tersenyum sinis.

“Saat ini dia bukan ancaman untukku jadi hal itu belum perlu.”

“Apa kau tidak takut jika Suga tahu siapa dalang pembunuhan Naeun?”

Bomi tertawa mendengar pertanyaan Jungkook.

“Aku memang dalangnya. Tapi ingat Jungkook-ah, dengan tanganmulah pedang itu menghunus perut Naeun bukan?”

Jungkook tertawa mendengar Bomi yang tak memiliki rasa takut.

“Kau benar Bomi-ah. Tapi untuk kali ini aku tidak akan menurutimu. Segeralah cari penggantiku Bomi-ah.” Jungkook beralalu pergi.

Bomi mendengus kesal dan menatap pintu tempat Jungkook tadi berdiri.

“Ciihh… Dasar pengecut.”

~~~TBC~~~

 Jangan lupa komennya ya!!!!!>_<

11 thoughts on “(Chapter 1) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

  1. hai hai ~ aku author sini juga. my pen name is Yoo Jangmi ^^ ini kali pertama baca ffmu. ini semacam fantasy plus sageuk gitu ya? atau ini jaman modern? tapi aku ngebayanginnya kayak jaman joseon gitu XD aku suka ff bergenre ginian(?). bahasa penulisannya bagus (kayaknya lebih bagus dari aku malah (╰╯▽╰╯) lol) tadi cuma ada kesalahan penulisan nama tokoh kayaknya tapi overall bagus dan ga ada typonya XD
    bomi sama jungkook disini perannya jahat ya? ;v; dan entah kenapa aku lebih ngeshipin(?) hyunji sama jin(?) XD
    oke maaf aku komen gaje lol salam kenal ya ~ looking forward to the next chapter :) fighting!

  2. Annyeong authornim~ ak reader baru yg entah bagaimana bisa nyasar ke sini. Ak suka gaya tulisanmu thor, enak dibaca dan gak belibet. Nextnya jangan lama2 ya

  3. hollaaa^^ thia here. salam kenal
    waaahhh ini fantasynya bikin aku suka bangeeettt :3 terlebih di kerajaannya itu looo :’3
    tuan suga sekecil apa sih? aku bener bener bayanginnya anak kecil nih hahahaha
    ah suga mah udah suka pake pura-pura ngga sukaaa

    bomi ternyata jahat yaaa -_- pasti bomi suka Suga sampe ngebunuh Naeub gitu :/
    Naeun dewi atau manusia kaya hyunji nih?
    duuh part 1 yg akhir akhir bikin penasaran sama lanjutannya huhuhu
    apa kisah Naeun akan diflashback? hahaha
    let us wait :3 GANBATTE^^

  4. Huwaaaaa~ keren thor :*
    maaf ya gak bisa panjang panjang soalnya mau buru buru baca chapter selanjutnya :) kamsahamnida :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s