(Chapter 2) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

Title : Find Love to Find Life (Chapter 2)
Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/
Genre : Romance, Fantasy
Cast :
* Jung Hyunji (OC)
* Min Yoongi / Suga (BTS)
* Seok Jin Ah / Jin (BTS)
* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)
* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)
* Park Ji Min (BTS)
* Oh Hayoung (A Pink)
* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)
* Kim Tae Hyung (BTS)
* Kim Nam Joon (BTS)
* Kim Sunkyung as Queen Soye

Senangnya banyak yang suka ff ini. Author jadi tambah semangat menyelesaikan ff ini. Tolong jangan bosan untuk komen ya, komen dari readersdeul sangat membantu author. Gomawo yang kemarin sudah komen di chapter 1.
Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

* * * * *

SHE IS COMING!!!

Di taman air terlihat semua orang tengah berkumpul dan sibuk dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri. Seperti biasanya Suga asyik dengan bukunya dan di sampingnya Jungkook duduk menikmati arak. Bomi memainkan kecapi dengan merdunya. Hyunji, Hayoung dan Jimn berjalan-jalan di air yang dangkal dan sesekali bermain air. Sedangkan Jin sibuk membersihkan panahnya.
“Awas kau Hyunji-ah.” Teriak Hayoung mengejar Hyunji dan mencipratkan air dengan tangannya.
“Aahhh… Cukup Hayoung-ah, kau membuatku basah kuyup.” Hyunji menggembungkan kedua pipinya melihat bajunya basah.
“Akan kubalas kau Hayoung-ah.” Hyunji berlari mengejar Hayoung dan memberikan gadis itu serangan air.
“Semenjak Hyunji di sini istana menjadi ramai.” Ucap Jungkook memandangi Hyunji tengah bermain dengan Hayoung dan Jimin.
“Kau benar. Hyunji gadis yang ceria. Dia membawa suasana ramai dimanapun dia berada. Benar bukan Suga?” Tanya Bomi masih memainkan kecapinya.
“Aahh..eehh… Ne.” Bomi tersenyum melihat Suga salah tingkah.
“Jika kau ingin melihtnya tak perlu bersembunyi Suga.” Goda Jungkook.
“Aku.. Aku tidak melihatnya.” Suga memaksa matanya untuk melihat bukunya.
Jungkook tertawa melihat Suga salah tingkah.
“Sejak kapan kau membaca terbalik Suga.” Jungkook meraih buku Suga dan membalikkan buku itu.
Bomi, Jungkook dan Jin tertawa melihat wajah Suga memerah karena malu.
“Diam. Kalian sangat berisik.” Suga berusaha fokus membaca tulisan yang ada di buku itu.
Bomi, Jungkook dan Jin melanjutkan kegiatan mereka.
“Ommo… Anjing ini lucu sekali.” Tiba-tiba terdengar suara Hyunji.
“Anjing? Jangan menyentuhnya Hyunji.” Teriak Suga memperingatkan.
Namun terlambat bagi Hyunji. Tangan gadis itu tinggal beberapa centi dan tiba-tiba anjing kecil yang lucu itu berubah menjadi serigala raksasa dengan mulut terbuka hendak memakan tangan Hyunji.
“UWWWAHHHH….” Teriak Hyunji menutup matanya ketakutan.
Dengan gerakan cepat Jin menarik Hyunji ke belakang dan menggantikan posisi gadis itu. Jin meringis kesakitan saat tangannya tertusuk gigi-gigi serigala itu. Jin menusukkan anak panah yang di pegangnya tepat mengenai perut serigala itu. Serigala itu melepaskan gigitannya dan berubah kembali menjadi anjing kecil. Lolongan lemah keluar dari mulut anjing itu.
Hyunji membuka matanya dan terkejut melihat darah keluar dari tangan Jin.
“Jin-ah.” Panggil Hyunji.
Jin mendongak dan tersenyum meskipun wajahnya memperlihatkan kesakitan.
“Maafkan aku Jin-ah.” Sesal Hyunji.
“Tidak apa-apa nona Hyunji, yang penting nona selamat.”
“Tapi…”
“Tidak perlu merasa bersalah nona Hyunji, sudah tugasku melindungi keluarga kerajaan.”
Tangan Suga terkepal melihat Jin mengorbankan tangannya demi menyelamatkan Hyunji.
“Jika saja kekuatanmu tidak menghilang di siang hari kau pasti sudah menolongnya, benar bukan Suga?” Tanya Jungkook meletakkan cangkir kecilnya di meja.
“Tidak. Aku tidak peduli padanya.” Suga mengambil bukunya dan beranjak pergi.
Jungkook tersenyum melihat Suga berpura-pura bersikap dingin.
“Apa kau lihat Bomi-ssi. Ucapanku memang benar bukan?” Jungkook berdiri dan menghampiri Jin.
Permainan kecapi Bomi berubah. Suara kecapi yang lembut saat ini berubah menjadi suara yang penuh emosi. Bomi terus memetik kecapi itu untuk mencurahkan perasaannya. Hingga akhirnya satu tali tipis itu lepas menghentikan permainan Bomi. Jemari Bomi memerah karena terlalu kasar memetik tali-tali tipis itu.
“Ommo…. Jin kau berdarah. Bagaimana ini? Kita harus mencari seseorang tabib.” Panik Jimin melihat darah terus keluar dari tangan Jin.
“Minggir…. Tabib sudah datang.” Jungkook mendorong Jimin menjauh dari Jin.
Jungkook mulai membersihkan darah Jin. Hyunji menggigit bibir bawahnya tak tega melihat luka itu. Jin tersenyum melihat Hyunji ketakutan.
“Sakit begini masih bisa tersenyum eoh?” Dengan sengaja Jungkook menekan luka Jin membuat pengawal itu berteriak kesakitan.
“Memang apa salahnya tersenyum huh?”
“Cihhh…. Hyunji-ah.” Panggil Jungkook.
“Bisakah kau mengambil perban di ruanganku? Hayoung-ah tunjukkan ruanganku padanya.”
“Baiklah.” Hyunji segera pergi melaksanakan perintah Jungkook bersama Hayoung dan Jimin.
“Apa kau menyukainya?” Tanya Jungkook tanpa berhenti membersihkan luka Jin.
“Siapa?”
“Hyunji.”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Sejak tadi kau tak melepaskan matamu darinya. Aku jadi teringat masa lalu.”
“Itu hanya masa lalu Jungkook-ah. Lagipula hal itu berbeda..”
“Bukanlah hal yang mustahil jika masa lalu terulang Jin-ah.”
“Ini Jungkook-ah.” Hyunji kembali menyerahkan perban pada Jungkook.
Jungkook mulai membelitkan perban itu di tangan Jin yang sudah diobati. Hyunji terdiam dan mengamati Jungkook mengobati Jin. Tangan Jin sudah diperban rapi.
“Selesai. Sepertinya hewan berbulu itu sudah tahu soal Hyunji. Kau harus lebih waspada Jin.” Jungkook berdiri dan beranjak pergi.
“Hewan berbulu?” Bingung Hyunji.
“Manusia srigala yang menemui nona Hyunji kemarin. Jangan lagi berbicara dengannya nona Hyunji, dia adalah musuh tuan Suga.” Jelas Jin.
“Musuh Suga?”
“Ya. Sudah lama dia ingin menghancurkan kerajaan air ini. Dan anjing srigala tadi adalah anak buahnya. Tapi nona Hyunji tak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaga nona.”
“Terimakasih Jin-ah.”

* * * * *

Seorang pengawal berjalan cepat melewati lorong-lorong istana yang remang. Setelah melewati beberapa anak tangga laki-laki itu berjalan menuju pintu yang terletak di ujung lorong. Suara sepatu bootnya terdengar memenuhi lorong itu. Tombak di tanganya tak menyulitkan laki-laki itu melangkah. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu dengan gambar ukiran serigala yang banyak.
TOKK…TOKK… TOKK….
Laki-laki itu membuka pintu yang berat itu. Pengawal itu masuk ke dalam ruang yang penuh rak buku itu lalu berlutut.
“Pengawal menghadap paduka.” Pengawal itu menunduk hormat.
Seorang laki-laki tengah berdiri melihat keluar jendela seketika menoleh. Laki-laki itu menghampiri pengawal itu.
“Apa Namjoon sudah kembali?”
“Sudah yang mulia. Tapi dia terluka parah.” Ucap pengawal itu tanpa berani mendongak.
“Apa dia berhasil menjalankan tugasnya?”
“Tidak yang mulia.”
Salah satu sudut bibir J-hope terangkat menunjukkan senyuman sinisnya. Dengan satu tangannya J-hope mencengkram leher pengawal itu.
“Tidak kau bilang”
Begitu mudahnya J-hope melemparkan tubuh pengawal itu hingga membentur rak buku.
“Dasar tidak berguna.” Tangan J-hope terkepal, giginyapun bergeletuk dan matanya berubah merah menunjukkan emosinya.
J-hope bersiul dan seekor burung hantu tiba-tiba hinggap di jendela ruangan itu. J-hope menghampiri burung itu yang menunduk memberi hormat pada J-hope.
“Anda memanggil hamba yang mulia?” Burung hantu itu berkata.
“Pergilah ke istana air, ikutilah gadis Suga itu dan berikan informasi menarik padaku.” Perintah J-hope.
“Baik yang mulia.” Sekali lagi burung itu menunduk lalu terbang menghilang dari hadapan J-hope.

* * * * *

Hyunji menyusuri jalanan dalam istana mencari Suga. Langkah gadis itu menuju ruang baca tempat biasa Suga berada. Hyunji membuka pintu yang menutupi ruang baca itu. Namun ruangan itu gelap gulita.
Hyunji menghela nafas dan hendak menutup pintu itu kembali. Namun gerakannya terhenti saat sudut matanya menangkap sebuah cahaya di balik rak buku. Hyunji kembali memasuki ruang baca itu dan menghampiri ke arah sumber cahaya. Hyunji mengintip dari balik rak dan terkejut melihat Yoon duduk dengan gulungan kertas di tangannya dan matanya terpejam.
Hyunji menghampirinya laki-laki itu dan berlutut di sampingnya. Hyunji melambaikan tangan tepat di depan wajah Yoon namun tak ada reaksi dari laki-laki itu. Mata Hyunji tertarik dengan gulungan yang ada di pangkuan Yoon. Gadis itu membuka gulungan itu, sebuah lukisan seorang gadis cantik mengenakan hanbok yang didominasi warna pink dan putih, sebuah baetssi daenggi berwarna merah dan putih menghiasi kepalanya. Gadis itu terlihat cantik dengan senyuman manis terlihat di wajahnya. Di bagian bawah lukisan itu tertulis ‘Son Naeun’.

url-176

“Naeun?” Gumam Hyunji membaca tulisan itu.
Hyunji kembali menatap Yoon yang masih tertidur. Gadis itu kembali menggulung lukisan itu dan menaruhnya kembali di pangkuan Yoon. Hyunji bangkit berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Namun sebuah tangan memegang tangannya menghentikan langkah gadis itu. Hyunji menoleh dan ternyata itu adalah tangan Yoon.
“Naeun-ah. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon tetaplah di sampingku.”Yoon berkata dengan mata yang masih terpejam.
Hyunji kembali berlutut di samping Yoon.
“Aku bukan Naeun Yoon-ssi. Aku Hyunji.” Hyunji berusaha melepaskan tangan Yoon, namun genggaman lelaki itu sangat kuat, susah untuk di lepaskan.
“Naeun-ah kembalilah. Naeun-ah.” Tangan Yoon semakin erat seakan takut tangan Hyunji menghilang meninggalkannya.
“Aku bukan Naeun Yoon-ah bangunlah.” Hyunji mengguncangkan bahu Yoon menyadarkan laki-laki itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoon sama dinginnya dengan Suga.
“Aku sedang mencari Suga. Apa kau melihatnya?”
“Tidak. Untuk apa kau mencarinya? Bukankah sudah kubilang dia tidak memperdulikanmu?”
“Suga peduli padaku buktinya dia menurunkan hujan di desaku.”
Yoon mendekati wajah Hyunji membuat Hyunji salah tingkah.
“Ada apa?” Bingung Hyunji.
“Apa kau menyukainya?” Hyunji terkejut mendengar pertanyaan Yoon.
“Ne. Aku menyukainya.”
“Dengan bentuk tubuh anak kecilnya?”
“Ne. Aku tahu Suga dewa yang baik dan ia peduli padaku karena itulah aku menyukainya.”
“Lalu bagaimana denganku?”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau menyukaiku?”
“Kita baru dua kali bertemu bagaimana bisa aku mengetahui perasaanku padamu.”
“Aku tahu bagaimana cara mengetahui perasaanmu.”
“Nde?”

tumblr_mta694sTYi1sgbtl8o1_500

Suga menarik tengkuk Hyunji dan mencium gadis. Hyunji mendorong Yoon dan wajahnya tampak memerah.
“Aku adalah calon istri Suga, bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu pada calon istri sepupumu?”
Senyum sinis terlihat di wajah tampan Suga.
“Bukankah ini permainan yang menyenangkan. Bermain di balik Suga? Bukankah kamu juga tertarik?”
“Mwo? Aku tidak tertarik.”
“Benarkah lalu kenapa kau mendekatiku jika kau tidak tertarik?”
Yoon tersenyum melihat Hyunji salah tingkah seakan tertangkap basah melakukan suatu kesalahan.
“Aku… Aku…”
“Aku juga tertarik padamu.”
Mata Hyunji membesar menunjukkan gadis itu terkejut.
“Kembalilah ke kamarmu. Sangat berbahaya kau berkeliaran di malam hari. Selamat malam Hyunji.”
Lagi-lagi Yoon menghilang begitu saja dari hadapan Hyunji. Hyunji masih terduduk diam, gadis itu masih bingung dengan ucapan Yoon. Hyunji menyentuh bibirnya seakan tak percaya Yoon baru saja menciumnya. Hyunji berdiri dan keluar dari ruang baca.
“Apa yang nona Hyunji lakukan malam begini?” Hyunji mengelus dadanya terkejut mendengar suara seseorang.
“Kau mengagetkanku Jin-ah.”
“Maaf nona aku tidak bermaksud mengagetkanmu.”
“Aku sedang mencari Suga, apa kau melihatnya Jin-ah?”
“Tidak nona.”
“Kau juga apa yang kau lakukan di malam hari begini?”
“Tentu saja berjaga nona. Itu adalah tugasku.”
“Jin-ah, apa kau tahu soal Son Naeun?” Tubuh Jin membeku mendengar pertanyaan Hyunji.
“Kenapa nona menanyakan itu?”
“Tadi aku melihat lukisan dengan nama Son Naeun. Apa kau megenalnya?”
“Tentu saja nona, dia adalah istri tuan Suga.”
Mata Hyunji melebar mendengar ucapan Jin. “Mwo? Istri tuan Suga?”
“Ne. Tapi nona Naeun sudah meninggal 5 tahun yang lalu.”
Jika Naeun adalah istri Suga, kenapa Yoon menyimpan lukisan Naeun? Dia juga memanggilnya saat tertidur. Apa Yoon menyukainya?
“Nona… Nona Hyunji…” Panggil Jin menyadarkan Hyunji.
“Ehh… Ne Jin-ah.”
“Besok akan ada festival untuk menyambut dewa Matahari, ayah tuan Suga, apa nona mau pergi ke festival?”
“Festival? Tentu saja aku mau. Apa kau mau menemaniku Jin-ah?”
“Bukankah sudah tugasku melindungi anda nona jadi tentu saja aku akan menemanimu. Sebaiknya nona masuklah. Selamat malam nona Hyunji.”
“Selamat malam Jin-ah.” Ucap Hyunji masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa mereka sadari seekor burung hantu bertengger di pohon memperhatikan mereka. Setelah mendapat informasi menarik burung hantu itupun terbang pergi.

* * * * *

Suga membuka pintu dan memasuki sebuah kamar. Suga melangkah mendekati ranjang yang ada dalam kamar itu. Hyunji tertidur pulas, wajahnya tampak damai. Suga mengulurkan tangannya untuk menyelipkan rambut Hyunji di belakang telinga. Tangan Suga tertahan saat Hyunji mencengkramnya.
“Appa… Eomma…” Gumam Hyunji dengan mata yang masih terpejam.
Suga menatap wajah Hyunji yang kembali tenang. Tangan Suga yang terbebas terulur membelai rambut Hyunji yang terasa lembut.
“Apa kau merindukan keluargamu?” Tanya Suga namun hanya terdengar dengkuran pelan dari Hyunji.
Cengkraman Hyunji telepas membebaskan tangan Suga. Suga beranjak menuju meja yang terletak di tengah kamar itu. Tubuh anak-anaknya duduk di kursi lalu Suga menuangkan poci teh ke dalam gelas kecil. Bunyi gemericik air terdengar saat air teh itu terjatuh dalam gelas. Setelah penuh Suga meletakkan kembali poci itu ke tempatnya lalu mengambil gelas kecil itu dan meminumnya. Perlahan Hyunji membuka matanya dan terbangun. Gadis itu tersadar saat melihat Suga duduk di kursi kamarnya.
“Suga?” Suga menoleh mendengar panggilan Hyunji.
“Apa aku membangunkanmu?”
“Tidak. Bukankah sudah saatnya aku bangun?” Hyunji tersenyum lebar seperti biasanya.
Suga kembali menuangkan teh ke dalam gelasnya. Hyunji berdiri dan menghampiri Suga. Hyunji duduk di samping Suga dan juga menuangkan teh ke gelas kecil lainnya lalu meminumnya.
“Apa kau merindukan keluargamu?” Hyunji terdiam mendengar pertanyaan Suga.
Gadis itu ingin mengatakan iya namun mengingat ayah dan ibunya membutuhkan pertolongan Dewa air Hyunji tak ingin membuat Dewa air marah.
“Tidak. Apa kau mau minum lagi Suga?”
Suga menatap Hyunji yang memaksa tersenyum. Suga yakin Hyunji hanya berbohong dan berusaha tersenyum seakan mengatakan semua baik-baik saja.
“Boleh.” Hyunji menuangkan kembali teh ke dalam gelas Suga.
Suga meminum teh itu dalam sekali teguk.
“Apa kau akan datang ke festival nanti malam Suga?” Tanya Hyunji menatap Suga penuh harap.
“Tidak. Aku tidak suka keramaian. Aku akan kembali keruanganku jika kau mencariku.” Suga turun dan berjalan keluar kamar.
Entah mengapa ada perasaan kecewa di hati Hyunji mendengar penolakan Suga. Gadis itu ingin mengenal Suga lebih dekat namun sepertinya Suga selalu membangun dinding pembatas membuat Hyunji kesulitan menembusnya. Suga keluar dari kamar berjalan dengan kedua tangan di belakang.
“Kau tidak menyesal tidak datang ke festival?” Langkah Suga terhenti mendengar pertanyaan Jungkook.
Jungkook bersandar di dinding menatap Suga yang masih memunggunginya.
“Kudengar Hyunji akan pergi dengan Jin, apa kau akan membiarkan mereka pergi berdua?”
Tangan Suga terkepal mendengar ucapan Jungkook. Entah mengapa ada perasaan kesal dalam hati Suga mendengar Hyunji akan pergi dengan laki-laki lain. Suga sedikit meoleh tanpa berbalik berhadapan dengan Jungkook.
“Bukan aku yang akan pergi, tapi Yoon yang akan pergi.”
Jungkook tertawa mendengar perkataan Suga.
“Sepertinya kata ‘tertarik’ tidak lagi menunjukkan perasaanmu Suga. Sepertinya kau mulai menyukai calon pengantinmu.”
Suga berbalik mendekati Jungkook. Tatapan tajam dilayangkan pada laki-laki di hadapannya.
“Sifat ‘suka menarik kesimpulan sendiri’ mu itu semakin lama semakin menggangguku Jungkook. Jika kau masih ingin berada di sini sebaiknya singkirkan sifat itu.” Suga berbalik meninggalkan Jungkook.
Jungkook menatap kepergian Suga dengan tersenyum tak gentar dengan ancaman Suga. Jungkook mengeluarkan seruling seputih tulang lalu meniupnya. Suara seruling begitu nyaring mendatangkan seekor peri dengan sayap berwarna biru muda. Sayap itu terkepak membuat tubuh mungil sang pemiliknya melayang di hadapan Jungkook.
“Anda memanggil saya tuan Joongkook?” Tanya peri menunduk memberi hormat.
“Ya. Aku ingin kau menyampaikan berita ini pada yang mulia ratu.”
“Baik tuan Jungkook saya akan menyampaikan pesan anda pada yang mulia ratu.”
Jungkook membisikan sesuata pada pada peri itu. Sang peri itu mengangguk mengerti apa yang diminta Jungkook.
“Sampaikan pesan itu pada yang mulia ratu.” Perintah Jungkook.
“Baik tuan.” Peri itu terbang meninggalkan Jungkook.
Sebuah senyuman menghiasi wajah Jungkook.
“Sebentar lagi sang ratu akan beraksi, apa yang akan kaulakukan Suga?” Gumam Jungkook.

* * * * *

“Ommmooo…. Festivalnya meriah sekali.” Semangat Hyunji melihat begitu ramainya festival itu.
Banyak sekali yang menjual makanan, minuman, pakaian bahkan baetssi daenggi.
“Tentu saja nona. Penduduk kerajaan air sangat bersemangat menyambut dewa matahari.” Jelas Jin berjalan di samping Hyunji.
Wajah Hyunji berubah kecewa mengingat Suga tidak pergi bersamanya.
“Ada apa nona Hyunji? Apa anda tidak menyukai festival ini?” Tanya Jin membuyarkan lamunan Hyunji.
“Tidak. Aku suka dengan festival ini. Bagaimana kalau kita ke sana Jin-ah?” Hyunji menarik Jin menuju salah satu penjual ikan.
Hyunji memandang penuh kagum melihat banyak ikan kecil berwarna emas dan bersinar terang.
“Ikan ini cantik sekali Jin-ah.”
“Benar nona. Itu adalah geumbung (Ikan emas). Semua penduduk di sini percaya ikan ini adalah kiriman dewa matahari yang bisa memancarkan sinar seperti matahari. Karena itu penduduk percaya dengan melepaskan ikan ini ke asalnya dewa matahari akan mengabulkan permintaanmu.”
“Benarkah?”
“Ne. Apa nona Hyunji mau mencobanya?”
Hyunji mengangguk penuh semangat. Jin membeli seekor geumbung lalu menyerahkan kantong plastik berisi ikan itu pada Hyunji.
“Terimakasih Jin-ah.”
“Lepaskan ikan itu di sungai itu nona lalu mintalah kepada dewa matahari apa yang nona inginkan.” Jelas Jin menunjukkan sungai yang tak jauh dari mereka.
Hyunji mengangguk mengerti dengan penjelasan Jin. Gadis itu berjalan ke arah sungai meninggalkan Jin. Sampai di pinggir sungai Hyunji berjongkok lalu membuka tali di kantong plastik itu. Hyunji memandang ikan bercahaya yang berenang dengan lincah di dalam plastik itu.
“Kau akan bisa berenang bebas ikan kecil.”
Hyunji membuka kantong plastik itu dan melepaskan ikan itu ke dalam sungai. Hyunji menutup kedua matanya dan mengucapkan keinginannya dalam.hati.
Aku berharap appa dan eomma bisa hidup bahagia.
Itulah keinginan terbesar Hyunji. Hyunji membuka matanya dan ikan itupun sudah tak terlihat lagi. Hyunji tersenyum senang dan berdiri. Hyunji berbalik namun wajah gadis itu berubah panik saat tak mendapati Jin berdiri di tempatnya tadi. Hyunji berlari di tempat dia berpisah dengan Jin.
“Jin-ah… Jin-ah…” Panggil Hyunji seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok Jin namun gadis itu semakin panik kala tak juga menemukan Jin. Hyunji berlari ke dalam keramaian kembali mencari Jin. Hyunji begitu ketakutan di tempat asing itu sendirian. Hyunji meneliti setiap tempat hingga akhirnya gadis itu berhenti di depan jalanan sempit dan gelap.
“Jin tak mungkin berada di sana.” Pikir Hyunji.
Hyunji berbalik dan hendak pergi namun sebuah tangan menahannya. Hyunji berbalik dan mendapati seorang laki-laki dengan pakaian compang-camping menatap Hyunji dengan tatapan yang membuat gadis itu ketakutan.
“Bukankah kau manusia? Kau bukanlah penduduk kerajaan air bukan?” Ucap laki-laki itu.
“Si-siapa kau?”
“Manusia tidak boleh berada di sini, akan kuberi kau pelajaran.” Laki-laki itu menyeret Hyunji memasuki jalanan sempit itu.
“Tidakkk… Lepaskan aku…. Toloongg…” Teriak Hyunji ketakutan namun tak satupun orang memperdulikannya. Hyunji berusaha melepaskan cengkraman laki-laki itu namun tak berhasil.
Hyunji mulai menyesal sudah keluar dari istana. Diapun teringat Suga dan gadis itu berharap Suga datang menolongnya.
“Sugaa….” Panggil Hyunji lirih.
Tiba-tiba sebuah tangan melepaskan cengkraman laki-laki itu. Hyunji menoleh dan terkejut melihat Yoon berdiri di sampingnya lalu menarik tubuh Hyunji ke dalam dekapannya.
“Berani sekali kau menyentuh calon istriku?” Ucap Yoon menatap tajam laki-laki itu.
“Tapi di adalah manusia, dan aku harus membawanya.” Laki-laki itu hendak menarik Hyunji. Dengan kasar Yoon menepis tangan laki-laki itu. Yoon menggerakkan tangannya dan dengan ajaib air keluar dan melingkar di leher laki-laki itu. Yoon mengepalkan tangannya dan seketika air itu mencekik laki-laki itu.
“Tak akan kubiarkan kau membawa calon istriku pergi. Siapa yang menyuruhmu?”
Laki-laki itu berusaha melepaskan air itu namun laki-laki itu tak bisa menggenggam air itu.
“Tidak ada yang menyuruhku.”
Yoon kembali mecengkramkan tangannya membuat air itu semakin mencekik leher laki-laki itu.
“Cepat katakan sebelum air ini mencekikmu sampai mati. Apa J-hope yang menyuruhmu?”
“Ne… Nee… Tolong lepaskan.”
Yoon membuka tangannya dan seketika air itu jatuh ke tanah. Laki-laki itu terbatuk dan menghirup udara sebisa laki-laki itu lakukan.
“Katakan pada J-hope dia tak alan bisa mebgambil calon pengantinku.”
Dengan ketakutan laki-laki itu berlari pergi.
“Terimakasih Yoon.”Yoon menoleh mendengar suara Hyunji yang bergetar.
Hyunji berusaha memaksakan bibirnya menyunggingkan senyuman namun Yoon bisa melihat tubuh gadis itu bergetar ketakutan.
“Kau tidak apa-apa?”Tanya Yoon mengelus pipi Hyunji.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi tidak seharusnya kau mengatakan aku adalah calon istrimu Yoon. Bagaimana jika Suga mendengarnya?”
Yoon tersenyum. “Kau tak perlu khawatir J-hope tidak akan mengatakan apa-apa pada Suga. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Yoon menarik tangan Hyunji pergi dari tempat itu.
Hyunji memandang punggung lebar Yoon lalu pandangan Hyunji beralih pada tangan Yoon yang menggenggam erat tangannya. Mereka sampai di pinggir sungai tepat di hadapan mereka ada sebuah perahu kecil. Yoon melompat naik ke dalam perahu itu.
“Kemarilah.” Yoon megulurkan tangannya dan disambut oleh Hyunji.
Yoon membantu Hyunji naik ke dalam perahu.
“Kita mau ke mana Yoon?”
“Berlayar sebentar. Kau pasti akan menyukainya.”
Tanpa dayung Yoon dengan mudahnya menggerakkan air membawa perahu itu ke tempat yang diinginkannya. Perahu itu keluar dari sungai yang kecil menuju perairan yang lain. Namun perairan itu lebih terlihat seperti kabut putih dengan kemilau cahaya yang begitu indah. Hyunji begitu kagum melihat perairan itu. Yoon menghampiri Hyunji dan memeluk gadis itu dari belakang.
“Aku tahu kau sangat ketakutan. Jangan pernah pergi sendirian lagi, kau membuatku khawatir.” Ucap Yoon.
“Kau mengkhawatirkanku?”
“Tentu saja. Bagaimana aku tidak khawatir saat gadis yang kusukai dalam bahaya?”
Hyunji terkejut mendengar pengakuan Yoon. Entah mengapa ada perasaan bahagia melingkupi hati Hyunji. Namun tiba-tiba bayangan Suga melitas di pikiran Hyunji membuat gadis itu tersadar. Hyunji melepaskan pelukan Yoon dan berjalan menjauhi laki-laki itu.
“Kau tidak bisa menyukaiku Yoon, aku adalah calon pengantin Suga.”
Padahal tadi pagi Hyunji senang bisa mengobrol lebih lama dengan Suga tapi sekarang dia malah senang mendengar pengakuan Yoon.
“Aku tidak peduli. Bukankah aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kemarilah.” Ucap Yoon mengalihkan pembicaraan.
Meski ragu Hyunji mendekati Yoon.
“Lihatlah itu.” Yoon menunjuk ke arah bawah.
Hyunji begitu terkejut melihat desanya berada di bawah sana. Perairan yang mirip dengan kabut tipis mempermudah Hyunji melihat jelas desanya. Mata Hyunji langsung tertuju pada rumahnya. Nafas Hyunji tercekat melihat ibunya membantu appanya membawa satu ember berisi air. Wajah keduanya tampak senang saat menatap air itu. Hal itu menandakan kekeringan di desa Yangdong sudah berakhir.
“Apa kau mau turun?” Hyunji menoleh mendengar pertanyaan Yoon.
“Tidak. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka dengan tiba-tiba muncul. Melihatnya saja sudah cukup untukku. Terimakasih Yoon-ah.” Hyunji kembali melihat kedua orangtua yang mondar-mandir mengambil air sedangkan Yoon tak melepaskan pandangannya dari Hyunji.

* * * * *

“Hayoung-ah, apa kau melihat Jin?” Tanya Hyunji saat bertemu Hayoung di taman air.
“Jin? Aku tak melihatnya.” Hyunji menghela nafas kecewa mendengar jawabannya.
“Tadi aku melihatnya, dia sedang berlatih memanah di padang rumput.” Sahut Jimin yang bermain dengan api di tangannya.
“Di padang rumput? Terimaksih Jimin-ah.” Ucap Hyunji berlari meninggalkan Hayoung dan Jimin.
“Apa tidak apa-apa membiarkan Hyunji dekat dengan Jin?” Tanya Hayoung pada kekasihnya.
Jimin menghilangkan api di tangannya secepat angin berhembus lalu menghampiri Hayoung.
“Bukankah lebih baik mereka dekat? Kita jadi bisa melihat kejadian masa lalu terulang lagi.” Ucap Jimin memeluk tubuh Hayoung dari belakang.
“Kau benar. Tapi aku lebih menyukai Hyunji, dia gadis yang ceria dan sangat polos berbeda dengan Naeun yang pendiam dan sangat misterius.”
“Aku juga menyukai Hyunji.”
“Apa kau bilang?”
Jimin tertawa melihat kekasihnya cemburu.
“Tapi aku lebih menyukai Oh Hayoung si dewi petir.” Kali ini Hayoung yang tertawa mendengar rayuan kekasihnya.
Hyunji berjalan menuju padang rumput. Hyunji melihat tubuh Jin tegap, tangan kiri Jin memegang busur dan tangan kanannya menarik anak panah. Matanya memicing membidik papan lingkaran yang terletak jauh darinya. Jin melepaskan anak panah itu dan anak panah itu bergerak dengan kecepatan tinggi. Ujung anak panah yang tajam menancap tepat di tengah lingkaran itu.
PLOKK….PLOKK…PLOKK….
Jin menoleh mendengar Hyunji bertepuk tangan.
“Nona Hyunji.”
“Kau hebat sekali Jin-ah.” Puji Hyunji.
“Terimakasih nona Hyunji. Soal tadi malam saya minta maaf sudah meninggalkan nona. Saya hanya menuruti perintah tuan Yoon.”
“Yoon?”
“Ne. Tuan Yoon sepupu tuan Suga.”
“Ne aku tahu.” Mata Hyunji tertarik melihat sesuatu terbang di belakang Jin.
“Serangga yang cantik.” Kagum Hyunji melihat manusia berukuran sangat kecil terbang menggunakan sayang yang tipis seakan tak terlihat.
Jin berbalik mengikuti arah pandang gadis itu. Ekspresi keterkejutan terlihat di wajah Jin.
“Rin?” Panggil Jin membuat makhluk itu menghadap Jin.
“Jika kau berada di sini berarti…..” Ucapan Jin terpotong saat mendengar suara seseorang.
“Kau benar Jin-ah. Aku datang. Lama kita tidak bertemu Jin-ah.”
Seorang wanita turun dengan awan di kakinya. Wanita itu mengenakan jeogori berwarna biru dan Chima berwarna merah muda dengan sulaman yang begitu rumit membentuk burung phoenix khas kerajaan. Wanita itu terlihat begitu cantik hingga membuat Hyunji terpesona.

the-king-and-i-Queen-Sohye-korean-dramas-18560819-446-674

“Pengawal Jin memberi hormat pada yang mulia.” Hyunji begitu terkejut melihat Jin berlutut dan menunduk memberi hormat pada wanita itu.
Hyunjipun ikut membungkuk seperti yang Jin lakukan. Tatapan wanita itu beralih pada Hyunji.
“Wahai kau manusia, bangunlah.” Perintah wanita itu.
Hyunji ragu-ragu namun gadis itu tak berani menolaknya. Hyunji berdiri namun tetap menunduk. Aura tegas dalam diri wanita itu begitu kuat membuat wanita itu di segani. Dengan awan yang di naikinya, wanita itu mendekati Hyunji. Saat kaki wanita itu meyentuh tanah seketika awan itu menghilang. Wanita itu mengangkat dagu Hyunji memaksa Hyunji menatapnya.
“Jadi gadis ini calon pengantin putraku.”
Nafas Hyunji tercekat mengetahui wanita itu adalah ibu Suga.
“Jangan mengganggunya yang mulia. Angin apa yang membuat yang mulia datang kemari setelah limapuluh tahun melupakan putranya.” Terdengar Suara Suga mencuri perhatian ratu Soye.
Ratu Soye melepaskan dagu Hyunji dan menghampiri putranya.
“Apakah ini sambutan yang layak dari seorang anak untuk eommanya?” Ratu Soye membungkuk memeluk tubuh mungil Suga. Suga hanya terdiam dalam pelukan ibunya. Ratu Soye melepaskan pelukannya dan tersenyum pada putranya.
“Eomma sangat merindukanmu Suga.”
“Ada urusan apa eomma kemari tanpa memberitahu terlebih dahulu padaku?” Ratu Soye menghela nafas melihat sifat dingin putranya. Sang ratu menegakkan tubuhnya dan berbalik menghampiri Hyunji.
“Aku kemari ingin melihat calon pengantinmu. Berhentilah bermain-main dengan manusia Suga. Eomma pernah membiarkanmu bertindak sesukamu namun melihat kejadian masa lalu eomma tak ingin kau melakukan kesalahan yang sama. Aku akan mengembalikan gadis ini kembali ke desanya.” Soye menarik tangan Hyunji.
Hyunji begitu terkejut mendengar ucapan Soye. Saat pertama kali berada di kerajaan air, Hyunji ingin sekali pulang, namun sekarang entah mengapa perasaan itu menghilang. Hyunji justru tak ingin meninggalkan tempat itu.
“Aku tidak bermain-main dengannya yang mulia, jadi lepaskan Hyunji. Tak akan kubiarkan yang mulia membawanya pergi.” Ucap Suga menahan tangan Hyunji.
Hati Hyunji begitu senang mendengar ucapan Suga. Ratu Soye terdiam memandang putranya. Lalu Ratu Soye melepaskan tangan Hyunji.
“Baiklah. Karena saat ini aku merasa lelahjadi aku ingin beristirahat dulu. Ayo Rin.” Ratu Soye berjalan meninggalkan tempat itu diikuti peri kecil bernama Rin.
“Benarkah kau tidak bermain-main denganku Suga?” Tanya Hyunji pada Suga.
“Nde? Memang kapan aku mengatakan itu?” Hyunji menggembungkan pipinya mendengar jawaban Suga.
“Bukankah tadi kau berkata begitu?” Hyunji tersenyum melihat wajah Suga memerah.
“Aku tidak berkata begitu.” Ucap Suga berbalik dan diikuti ahyunji.
“Iya kau berkata seperti itu tadi.”
“Tidak.” Hyunji tertawa melihat wajah Suga semakin memerah.
“Iya.”
“Tidak.” Hyunji dan Suga terus berdebat. Tanpa mereka sadari Jin memandang mereka dengan tatapan tidak suka. Tangannya terkepal menggenggam busurnya.

* * * * *

Rin terbang memasuki kamar Soyee. Soye tengah duduk memakan buah-buahan dan kedua dayang mengipasinya.
“Rin menghadap yang mulia.” Dengan tubuh masih melayang Rin membungkuk pada ratu Soye.
“Ada apa Rin?”
“Dewi Bomi ingin menghadap yang mulia.”
“Bomi. Ternyata berita kedatanganku cepat sekali menyebar. Bawa dia masuk.”
“Baik yang mulia.”
Rin terbang keluar dan tak lama kemudian Dewi Bomi masuk dan membungkuk pada ratu Soye
“Bomi memberi hormat pada yang mulia.”
“Ada apa kau menemuiku dewi Bomi?”
“Kudengar Suga menghalangi yang mulia membawa Hyunji kembali ke tempatnya. Apa yang mulia akan menyerah begitu saja?”
Ratu Soye tertawa mendengar pertanyaan Bomi. Sejak dulu ratu Soye memang menyukai Bomi karena dewi itu sangat mengerti apa yang dipikirkannya.
“Tidak tentu saja tidak. Kau sudah mengenalku begitu lama kau pasti tahu aku bukanlah ratu yang semudah itu menyerah.”
“Jadi apa rencana yang mulia?”
“Aku akan menggunakan kekuatanku untuk menyingkirkannya. Kau tenang saja Bomi-ah, aku lebih memilihmu menjadi pengantin Suga.”
“Terimakasih atas dukungan anda yang mulia.”
“Aku akan selalu berpihak padamu meskipun kau pernah mengecewakanku.”
“Apa maksud anda yang mulia?”
“Aku tidak sepolos putraku Bomi, yang mudah percaya pada siapapun. Aku tahu kau yang merencakan pembunuhan Naeun.”
“Yang mulia.”Wajah Bomi terlihat panik.
“Kau tenang saja, aku masih tetap menginginkanmu menjadi pengantin Suga karena aku merasa kau sangat mirip denganku.”
“Terimakasih yang mulia. Saya akan undur diri.” Bomi kembali membungkuk sebelum akhirnya gadis itu pergi.
Setelah Bomi menghilang dari kamarnya, ratu Soye tersenyum saat merasakan sesuatu.
“Bukankah sangat tidak sopan menguping pembicaraan orang lain Jungkook-ah?”
Jungkook yang sedari tadi bersembunyi di balik tirai akhirnya keluar.
“Anda selalu sangat peka yang mulia.” Ucap Joongkook berdiri menghadap Soye.
“Jika tidak peka kau akan di manfaatkan orang lain Jongkook-ah.”
“Kenapa anda begitu memihak Bomi yang mulia?”
“Bukankah kau sudah mendengarnya tadi, Bomi mengingatkanku pada diriku dulu sebelum menjadi seorang ratu. Sangat berambisi untuk menjadi seorang ratu.”
Jungkook mendekatkan wajahnya hingga berjarak sangat dekat dengan ratu Soye.
“Itulah yang kusuka dulu.”
Ratu Soye tersenyum namun senyum itu tidak menunjukkan perasaan senang namun lebih tepat terlihat seperti senyuman yang sinis.
“Apa kau mencoba merayuku lagi Jungkook-ah?”
“Kenapa tidak?”
Ratu Soye kembali tertawa mendegar jawaban Jungkook yang sangat berani.
“Tapi saat ini aku bisa melihat kau menyukai gadis itu?”
“Gadis itu?”
“Ne. Sepertinya gadis bernama Hyunji itu sudah memikat banyak laki-laki di sini, Suga, Jin bahkan kau.”
Kali ini giliran Jungkook yang tertawa. Laki-laki itu menegakkan tubuhnya dan menatap ratu Soye tanpa takut.
“Mungkin kau benar aku memang tertarik pada Hyunji karena itulah aku memanggilmu. Aku ingin kau memisahkan Suga dan Hyunji.”
“Kau bisa bernafas lega karena keinginanmu akan segera terkabul Jungkook-ah.”
Untuk pertama kalinya Jungkook membungkuk di hadapan ratu Soye.
“Terimakasih yang mulia.”
“Gadis itu benar-benar hebat bisa membuatmu membungkuk padaku.”
“Hyunji memang gadis yang hebat yang mulia.” Ucap Jungkook beranjak keluar kamar ratu Soye.

* * * * *

Hyunji berjalan mondar mandir dalam kamarnya yang remang-remang. Sebuah lentera hanyalah satu-satunya penerangan dalam kamar itu. Dalam hati Hyunji tengah terjadi peperangan yang sengit. Di satu sisi Hyunji ingin keluar dan menemui Yoon namun di sisi lain hati Hyunji diingatkan pada kejadian tadi siang dimana Suga menahannya untuk pergi. Langkah kaki Hyunji terus terdengar hingga akhirnya terhenti. Hati Hyunji sudah memutuskan tindakan apa yang diambilnya.
Hyunji berjalan membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar. Dengan langkah pelan Hyunji mengedarkan matanya mencari Yoon. Langkah Hyunji sampai di pintu lingkaran menuju taman air. Melihat bayangan seseorang, Hyunji segera bersembunyi di balik dinding. Hyunji menjulurkan kepalanya megintip keadaan. Nafas Hyunji tercekat melihat Yoon keluar dari air dengan rambut dan tubuh yang basah. Dada Yoon yang telanjang membuat Hyunji bisa melihat sebuah gambar naga berwara hitam di dada kanan Yoon.
“Aku tidak tahu mengintip adalah salah satu kegemaranmu.” Yoon berkata mengetahui kehadiran Hyunji. Hyunji keluar dari tempat persembunyiannya.
“Bagaimana kau tahu aku berada di sini?”
Yoon keluar dari air dan Hyunji segera berbalik merasa malu melihat tubuh telanjang Yoon.
“Kau tak perlu malu karena aku tidak telanjang sepenuhnya.”
Hyunji berbalik dan benar apa yang Yoon katakan, laki-laki itu memakai celananya. Yoon menggerakan tangannya seakan menarik air yang membasahi celana. Tetes-tetes air keluar dari celana Yoon dan celana itu kering kembali seperti semula.
“Kenapa kau bisa mengendalikan air? Bukankah dewa air adalah Suga?”
Yoon tampak terkejut mendengar pertanyaan Hyunji.
“Aku memiliki kekuatan yang sama dengan Suga hanya Saja Suga lebih beruntung bisa menjadi seorang raja.”
Tiba-tiba tubuh Yoon diam tak bergerak membuat Hyunji kebingungan.
“Yoon-ah… Yoon-ah….” Hyunji menghampiri Yoon dan terus memanggilnya. Hyunji memyentuh bahu Yoon dan seketika laki-laki itu tersadar.
“Kau tidak apa-apa Yoon-ah?” Cemas Hyunji.
“Aku tidak apa-apa. Hyunji bagaimana perasaanmu berada di kerajaan air ini?”
“Aku merasa nyaman berada di sini. Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?”
“Apa kau tak merindukan keluargamu?”
Hyunji terdiam. Berbeda dengan saat Suga bertanya padanya kali ini tak ada alasan bagi Hyunji untuk berbohong.
“Ne. Aku merindukan keluargaku.”
“Bagaimana kalau kau pulang? Aku bisa mengirimmu pulang.”
“Tidak. Setelah kejadian siang tadi aku tak bisa meninggalkan Suga.”
Yoon tersenyum sinis membuat Hyunji merasa ada hal yang aneh dengan Yoon. Tiba-tiba tangan Hyunji sudah terikat air di belakang dan kaki Hyunjipun juga terikat air membuat gadis itu terjatuh. Namun sebelum tubuhnya terjatuh kumpulan air menahan tubuh gadis itu.
“Apa yang kau lakukan Yoon?” Tanya Hyunji tak percaya.
Kumpulan air itu semakin banyak hingga menenggelamkan tubuh Hyunji. Hyunji tak bisa berkata apa-apa lagi. Hyunji berusaha melepaskan diri namun air yang tak bisa digenggamnya itu menyulitkan gadis itu.
“Lebih baik Kau pulang Hyunji-ah. Selamat tinggal.” Ucap Yoon sebelum mengirim kumpulan air berisi tubuh Hyunji ke dalam sungai.
Hyunji sudah kehabisan nafas hingga akhirnya air itu terminum olehnya. Kesadaran Hyunji menipis dan gadis itu tak tahu lagi apa yang terjadi. Terakhir kali yang gadis itu lihat hanyalah wajah Yoon yang melihatnya dari pinggir sungai. Mata Hyunji tertutup lalu terbuka lagi dan bayangan wajah Yoon masih terlihat hingga akhirnya mata Hyunji tertutup dan tak sadarkan diri.

~~~TBC~~~
Akhirnya Chapter 2 sudah jadi.
Tolong untuk readersdeul jangan lupa untuk komennya.
Author ingin tahu bagaimana penilaian readersdeul setelah membaca FF ini.
Gomawo!!!!

10 thoughts on “(Chapter 2) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

  1. Aaahh author pokoknya harus tanggung jawab dah bikin ak ketagihab baca ff ini.. lanjut jangan lama2 please~
    Knp suga gak ngaku2 aja sih kalau dia itu jg yoon, bkin gemess sndri bacanya

  2. holllaaa authooorr!! uyeeeaah akhirnya kembali baca ini setelah tertahan UAS sebelumnyaaa :((

    waaitt waiitt kenapa begitu banyak orang jahat di chapt ini? hahahha xD

    Suga sama Yoon 1 orang kan? atau emang sepupuan? tapi kok di sini Yoon ga ketebak sih? antara jahat dan ah entahlah…

    owkaaay, lemme read the next chapt^^

    jyaa nee^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s