(Chapter 3) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

Title  : Find Love to Find Life (Chapter 3)

Scripwritter : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

Guest :

* Park Yoochun (JYJ) as Lee Sunjoon (Sungkyunkwan Scandal)

Annyeong readersdeul…. Sudah menunggu ff ini ya? (Authornya kepedean bangets sih#Gubrak). Untuk part ini mianhae yang suka SuHyun couple (Suga dan Hyunji) kenapa author minta maaf? nanti readersdeul akan tahu jawabanya. Ya sudah daripada bosan mendengar author berceloteh selamat menikmati. Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

 

Hyunji mengerang dan membuka matanya. Matanya di sambut dengan atap kamarnya. Hyunji terduduk dan melihat sekelilingnya. Hyunji merasakan keanehan pada dirinya. Entah mengapa Hyunji merindukan kamar ini.

“Kau sudah sadar Hyunji-ah?” Hyunji menoleh dan melihat ibunya menghampirinya dengan membawa baki di tangannya.

“Memang ada apa denganku eomma?” Bingung Hyunji.

Gadis itu hanya teringat dirinya tengah tertidur.

“Ombak membawamu sampai di pantai. Dan abeoji menemukanmu.”

“Ombak membawaku?”

“Ne. Apa kau tidak ingat Hyunji-ah?” Hyunji menggelang.

Miri itu menghela nafas sebelum memberitahu puterinya.

“Apa kau tidak ingat, kau dipersembahkan untuk dewa air sebulan lalu. Apa kau tidak ingat bagaimana kau bisa kembali?” Hyunji kembali menggeleng.

“Kau tak perlu memikirkannya, eomma senang kau bisa kembali. Sekarang makanlah bubur ini.” Miri meletakkan baki berisi bubur di pangkuan Hyunji.

Hyunji menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. Bubur itu terasa lembut dan hangat di dalam mulut Hyunji. Miri tersenyum dan membelai rambut hitam panjang Hyunji.

“Eomma pikir, eomma tak bisa melihatmu lagi. Eomma bahagia kau kembali. Selamat datang di rumah Hyunji.” Hyunji menoleh dan melihat wajah ibunya begitu gembira.

Hyunji kembali memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Ibunya mengatakan dirinya di persembahkan untuk dewa air, namun Hyunji tak bisa mengingat satu halpun yang terjadi pada dirinya.

Hyunji dan Miri terkejut mendengar suara langkah kaki.

“Hyunji-ah.” Panggil seorang laki-laki menghampiri Hyunji.

“Abeoji.”

Inchul memegang pipi Hyunji seakan memeriksa keadaan putrinya.

“Kau tidak apa-apa? Apa sang dewa menyakitimu?”

“Sepertinya tidak abeoji, aku tidak ingat.”

Inchul menarik Hyunji ke dalam pelukannya.

“Syukurlah kau kembali.”

Hyunji terdiam dan membalas pelukan ayahnya. Entah mengapa ada perasaan rindu merasuki hati.Hyunji. Namun juga ada perasaan kecewa dalam hati Hyunji. Tapi gadis itu tidak mengerti untuk apa gadis itu kecewa.

*   *   *   *   *

Suga memasuki kamar ratu Soye dan menerobos Rin yang menghalangi jalan. Dengan kasar Suga membuka pintu kamar ratu Soye. Terlihat ratu Soye tengah menyulam dengan kedua dayang setia berdiri di sampingnya. Sang ratu mendongak dan tersenyum pada putranya.

“Eomma tak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu Suga.” Ucap ratu Soye melanjutkan sulamannya. Terlihat gambar burung phoniex berwarna emas hampir saja selesai.

“Apa yang mulia yang melakukannya?” Tanya Suga tak mendengarkan nasehat ibunya.

“Melakukan apa putraku?”

“Apa yang mulia yang mengendalikan tubuhku untuk membawa Hyunji kembali ke desanya?”

Tangan ratu Soye terhenti dan menatap tajam putranya. Suga tampak tak terpengaruh dengan tatapan ibunya.

“Bagaimana bisa kau menuduh eomma seperti itu?”

“Karena hanya eomma yang bisa mengendalikan tubuh seseorang di kerajaan air ini.”

Ratu Soye tertawa mendengar perkataan putranya.

“Mengapa yang mulia melakukannya?” Tanya Suga menghentikan tawa ratu Soye.

“Tentu saja itu untuk demi kebaikanmu Suga. Eomma tak ingin kau disakiti lagi. Karena itu eomma akan mempersiapkan pernikahanmu dengan Bomi.”

“Bomi?”

“Ya, Bomi, dewi petir. Menurut eomma dia sangat cocok untukmu, dan dia juga menyukaimu.”

“Bomi menyukaiku?”

Ratu Soye kembali tertawa melihat putranya kebingungan.

“Kau sudah berumur 200 tahun Suga tapi kau tetap saja masih polos. Bahkan tak bisa menyadari perasaan Bomi yang selalu bersamamu.”

“Tapi aku tidak menyukainya yang mulia, dan aku tidak akan menikah dengannya.” Suga berbalik pergi tanpa memberi hormat pada ibunya.

Ratu Soye hanya bisa menghela nafas melihat putranya sangat keras kepala. Namun ratu Soye masih memiliki rencana lain untuk membuat putranya bisa menikah dengan Bomi.

Suga keluar dari kamar ibunya. Laki-laki itu terkejut melihat Bomi berdiri di depan kamar ratu Soye.

“Bomi? Apa kau mendengar pembicaraanku dangan yang mulia ratu tadi?” Tanya Suga dan Bomi mengangguk lemah.

“Jangan salah paham Bomi. Aku tidak membencimu, tapi aku menyukaimu hanya sebagai teman. Kau adalah teman yang sangat baik dan selalu membantuku. Tapi maaf aku menyukai orang lain.” Suga berkata sebelum akhirnya meninggalkan Bomi dengan air mata nyaris jatuh.

Hati gadis itu begitu sakit mendengar perkataan Suga. Sudah sejak satu abad Bomi menyimpan perasaannya pada Suga. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Suga.

~~~FLASHBACK~~~

Bomi kecil berlari di taman kerajaan petir membawa burung kertas di tangannya. Gadis itu begitu asyik berlari hingga akhirnya tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang membuat Bomi terjatuh.

“Bukankah kau utusan monster hutan itu bukan?” Bomi mendongak dan melihat dua orang gadis menatapnya penuh dengan rasa jijik.

“Kau benar Chorong berarti dia juga monster.”

“Dasar monster…. Dasar monster….” Kedua gadis itu terus menghina Bomi hingga mata Bomi berkaca-kaca.

Tiba-tiba seseorang laki-laki berdiri di hadapan Bomi menghalangi kedua gadis itu.

“Bomi bukanlah monster. Kalianlah yang monster karena sudah menghina orang lain.”

“Bukankah dia adalah….”

“Lebih baik kita pergi Chorong-ah.” Gadis yang satu mearik gadis bernama Chorong itu pergi.

Laki-laki itu berbalik dan Bomi terpesona dengan wajah tampannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Bomi memandang tangan mungil laki-laki itu lalu kembali memandang wajahnya. Meskipun tak ada senyuman sama sekali, Bomi tetap tertarik padanya. Bomi menerima uluran tangan itu dan dengan kekuatannya laki-laki itu membantu Bomi berdiri.

“Terimakasih.” Ucap Bomi dengan suara lirih.

“Tuan Suga…. Tuan Suga….” Seorang pelayan menghampiri Suga dan Bomi.

“Tuan Suga, yang mulia memanggil anda, sebaiknya kita cepat menemui yang mulia.” Pelayan itu menarik Suga pergi. Bomi terus memandang laki-laki yang tak menoleh sama sekali hingga menghilang di dalam istana.

~~~FLASHBACK END~~~

Bomi menghapus air mata yang jatuh di pipinya lalu gadis itu menarik nafas dalam-dalam menenangkan hatinya yang sakit.

“Meski kau tak bisa menyukaiku tapi aku akan selalu menyukaimu Suga.”

Bomi berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

*   *   *   *   *

Dengan susah payah Hyunji menarik tali yang terhubung dengan ember berisi air dari dalam sumur. Hari sudah gelap dan suasana di sekitar sumur itu tampak sepi dan hening. Hanya ada sebuah lentera yang menerangi sumur itu. Hyunji mengambil ember yang sudah penuh dengan air dan menuangkannya di ember kayu miliknya. Hyunji melepaskan tali itu dan mengelap peluhnya. Kemudian gadis itu mengambil lentera di tangan kiri dan mengangkat ember di tangan kanan.

Hyunji menyusuri jalanan yang gelap terlihat kesusahan membawa ember di tangannya. Hyunji memasuki desanya. Ada beberapa orang berlalu lalang. Hyunji mulai merasa tidak nyaman dengan pandangan aneh penduduk desa. Tiba-tiba seseorang menghalangi jalan Hyunji membuat gadis itu menabraknya dan terjatuh. Air dalam ember itu tumpah membasahi tubuh Hyunji.

“Bagaimana bisa kau masih berani keluar huh? Gara-gara kau kembali, desa kita mengalami kekeringan lagi. Lebih baik kau enyah saja dari sini.” Ucap seorang laki-laki penuh emosi.

“Benar, sebaiknya kau enyah saja dari sini, kau tak pantas berada di sini.” Seorang laki-laki lain hendak menampar Hyunji. Namun seseorang menahan tangan laki-laki itu.

“Bukankah kalian tak berhak mengusir Hyunji. Apa kalian tidak ingat. Gara-gara Hyunji selama sebulan ini dewa mengirimkan hujan di desa kita. Seharusnya kalian berterimakasih padanya bukan memperlakukannya seperti ini.” Marah seorang pemuda membuat kedua laki-laki itu menunduk seakan segan terhadap pemuda itu.

“Maafkan kami tuan muda Sunjoon.” Ucap kedua laki-laki berlalu pergi.

Laki-laki bernama Sunjoon itu berbalik dan membantu Hyunji berdiri.

“Kau tidak apa-apa Hyunji-ah?”

“Tidak apa-apa Oppa. Terimakasih sudah menolongku.”

“Aku senang kau bisa kembali Hyunji-ah. Apa kau diperlakukan baik di sana?”

“Entahlah Oppa, aku tidak ingat.” Jawab Hyunji menggeleng.

“Tak perlu kau ingat lagi. Yang penting saat ini kau sudah kembali.” Sunjoon membelai rambut Hyunji.

Tanpa kedua orang itu sadari , kejadian itu terlihat dalam pantulan air. Yoon mengepalkan tangannya. Ada perasaan tak suka saat melihat laki-laki lain menyentuh Hyunji.

“Apa kau mengkhawatirkannya Yoon?” Terdengar suara Jungkook di belakang Yoon.

Yoon mengacak air itu hingga bayangan Hyunji menghilang.

“Tidak.” Dingin Yoon berdiri meninggalkan Jungkook.

“Benarkah? Sayang sekali aku sangat mengkhawatirkan Hyunji. Istana ini terasa sepi semenjak Hyunji pergi. Apa kau juga merasakannya?” Jungkook berjalan sembari mengagumi bulan purnama yang bersinar dengan indahnya.

Tanpa berkata apapun Yoon pergi meninggalkan Jungkook. Jungkook menatap kepergian Yoon dengan tersenyum puas. Tatapan Jungkook beralih melihat seseorang berdiri di pinggir hutan. Laki-laki itu menerbangkan seekor burung hantu yang menghilang dalam hutan. Jungkook menghampiri laki-laki itu.

“Wajah yang ramah ternyata memiliki hati yang busuk juga Jin-ah.”

Jin terkejut mendengar suara Jungkook. Namun laki-laki itu segera menyembunyikan.keterkejutannya.

“Apa maksudmu Jungkook-ah?”

“Aku tidak bodoh Jin-ah. Aku tahu burung itu milik siapa. Apa kau mencoba mengkhianati Suga?”

Untuk pertama kali Jungkook melihat senyum sinis Jin. “Apa kau hendak mengadukanku Jungkook-ah?”

“Entahlah. Mungkin saja aku akan melakukannya.”

“Apa kaupikir aku tidak tahu kau juga mengkhianati Suga?”

Seketika tubuh Jungkook terpaku.

“Aku melihatnya Jungkook-ah, aku melihat kau menghunuskan pedangmu ke perut Naeun dan membuang gadis itu ke hutan.”

Wajah Jungkook berubah pucat mendengar ucapan Jin. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin akibat gugup.

“Apa kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu sedetail itu Jungkook-ah? Bagaimana jika kuberitahu Naeun masih hidup.” Jin tersenyum puas melihat wajah Jungkook semakin pucat. Dan rasa ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

“Kau tenang saja, jika kau tutup mulut, aku juga akan tutup mulut. Selamat malam Jungkook-ah.” Jin meninggalkan Jungkook yang masih terpaku.

tiba-tiba lututnya lemas tak bisa menahan tubuhnya hingga laki-laki itu berlutut ketakutan. Tubuhnya gemetar terlihat sangat ketakutan seakan laki-laki itu baru saja melihat hantu.

*   *   *   *   *

Hyunji menyisiri rambut panjangnya seraya memandang bayangannya di cermin. Mata gadis itu tertarik keluar jendela di sampingnya. Hyunji memandang langit yang begitu cerah. Terlihat kabut diatas langit memanjang membentuk jalan, begitu indah. Tiba-tiba seorang laki-laki naik di jendela Hyunji membuat gadis itu terlonjak kaget.

“Si-siapa kau?” Tanya Hyunji gugup.

Laki-laki itu menyunggingkan senyumnya.

tumblr_n0zk2ufUmp1s70o1po1_500

Entah mengapa Hyunji merasa tidak asing dengan senyum itu dan jantungya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku adalah Yoon.”

“Lalu untuk apa kau di sini?”

“Aku sedang mencari calon pengantinku yang hilang.”

“Hilang?”

“Iya. Aku kehilangannya karena seseorang tak menginginkannya.”

“Tapi tak ada seorangpun masuk kemari.”

Yoon turun dari jendela dan mendekati Hyunji. Tangannya terulur mengelus pipi Hyunji. Hyunji seakan pernah merasakan kejadian seperti ini, namun gadis itu tak dapat mengingatnya jelas.

“Benarkah?” Tatapan Yoon bertemu dengan tatap Hyunji. Keduanya diam mematung saling memandang satu sama lain.

“Hyunji kau bicara dengan siapa?” Hyunji menoleh mendengar suara ibunya memasuki kamar.

“Aku berbicara dengan …..” Hyunji kembali menoleh tapi gadis itu terkejut saat tak melihat laki-laki tadi. Yoon menghilang begitu saja dari hadapan Hyunji.

“Dengan siapa?” Tanya Miri kembali menyadarkan Hyunji.

“Aku hanya berbicara sendiri eomma.”

“Tidurlah Hyunji, hari sudah malam.”

“Ne eomma.”

Miri keluar kamar Hyunji sedangkan Hyunji menghampiri jendela. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari Yoon. Namun tak ada seorangpun di sana. Tanpa diketahu Hyunji, Yoon berada di atas pohon mengamati gadis itu. Yoon terus mengamati Hyunji hingga gadis itu menutup jendelanya. Yoon segera menghilang dari pohon itu.

*   *   *   *   *

J-hope berjalan menghampiri jendela di ruangannya. Kegelapan malam langsung menyambut mata kucingnya. Dengan bentuk mata seperti itu J-hope bisa melihat dalam kegelapan hutan itu. Mata J-hope menangkap burung hantu terbang mendekatinya.

“Hamba menghadap yang mulia.” Ucap burung hantu itu memberi hormat.

“Ada berita apa dari Jin?”

“Tuan Jin mengatakan sebentar lagi sudah waktunya yang mulia mengeluarkan umpan anda yang mulia.”

J-hope mengeluarkan senyum kepuasaan mendengar berita itu.

“Kerja bagus kau boleh pergi.”

“Baik yang mulia.”

Burung hantu itu terbang meninggalkan J-hope. J-hope berbalik dan berjalan keluar ruangan. Laki-laki itu menyusuri lorong yang hanya diterangi oleh api obor. J-hope menuruni tangga demi tangga. Menuruni anak tangga terakhir J-hope bisa melihat pintu berwarna perak. Laki-laki itu menghampiri pintu itu dan membukanya. Dalam kamar yang lebih terang itu terlihat seorang gadis tengah duduk di depan cermin seraya menyisiri rambut hitam panjangnya. J-hope tersenyum dan menghampiri gadis itu. Tangannya memegang kedua bahu gadis itu.

“Tak lama lagi tugasmu akan dimulai jadi bersiaplah.” J-hope berkata memandang bayangan gadis itu di cermin.

Gadis itu berdiri dan berhadapan dengan J-hope. Kedua tangannya terentang memeluk leher laki-laki itu.

“Apa kau yakin aku bisa melakukannya Oppa? Aku takut jika melakukan kesalahan.”

“Aku yakin kau pasti bisa melakukannya Naeun-ah. Bukankah kau sudah berjanji akan membantuku menghancurkan Suga? Dan hanya kau orang yang penting bagi Suga.”

Naeun terdiam memikirkan ucapan J-hope. Naeun memang pernah mengatakan akan membantu J-hope karena gadis itu berpikir hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membalas kebaikan J-hope yang sudah menolongnya.

“Baiklah aku akan melakukannya. Tapi benarkah aku orang yang penting bagi Suga? Kenapa aku tak bisa mengingatnya?”

“Kau tak perlu mengingatnya lagi, dia bahkan tak menolongmu saat kau menderita. Sekarang sebaiknya kau beristirahat, kau terlihat kurang tidur.” J-hope membelai kulit di bawah mata Naeun terlihat menghitam.

“Beberapa hari ini aku bermimpi buruk Oppa. Aku bermimpi seseorang laki-laki menghunuskan pedang ke perutku. Dan saat itu aku merasakan bekas lukaku terasa sakit. Apa laki-laki itu yang sudah membuat bekas lukaku Oppa?”

J-hope memeluk Naeun untuk melindungi gadis itu.

“Lupakanlah itu. Tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu. Aku pasti akan selalu mengawasimu.” J-hope berkata dan Naeun mengangguk dalam pelukan J-hope.

*   *   *   *   *

Seorang gadis berambut pendek berjalan di pinggir sungai. Sungai itu begitu jernih terlihat membentuk kilau berlian tatkala memantulkan sinar matahari. Gadis itu begitu terpesona dengan pemandangan yang indah itu. Langkah gadis itu terhenti saat melihat seseorang anak laki-laki dengan jubah berwarna emas berdiri membelakanginya.

Gadis itu mendekati anak laki-laki itu. Mendengar langkah gadis itu, anak laki-laki itu menoleh. Gadis itu terpesona melihat ketampanannya meskipun masih kecil. Karena tubuh laki-laki itu lebih kecil darinya, gadis itu harus sedikit menunduk.

“Aku tahu kau akan datang Minji-ah.” Minji tampak terkejut melihat laki-laki itu mengenalnya.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

“Tentu saja aku tahu. Aku adalah dewa air.”

“Maaf saya bersikap tidak sopan pada anda dewa.” Minji menunduk memberi hormat pada dewa air.

“Apakah dewa yang memanggil saya kemari?” Tanya Minji.

“Iya. Aku memanggilmu karena ingin menyampaikan pesan untuk desamu.”

“Pesan apa dewa?”

“Semenjak gadis itu meninggalkan kerajaan air, aku sengaja tidak menurunkan hujan di desamu.”

“Maaf dewa sudah membuat sang dewa marah. Mohon ampunilah desa kami dewa.” Minji kembali menunduk meminta ampun pada sang dewa.

“Aku akan mengampuni jika desamu melakukan satu hal untukku.”

“Baik, dewa kami akan melaksanakannya.”

“Bunuh gadis itu. Aku akan segera menurunkun hujan setelah gadis itu terbunuh.” Laki-laki tiba-tiba membentuk air dan menghilang dari hadapan Minji. Seketika Minji terbangun dari tidurnya.

“Nona Minji, apa kau mendapatkan penglihatan lagi?” Tanya seorang nenek menghampiri Minji.

“Ne. Aku tahu bagaimana caranya agar dewa air menurunkan hujan di desa kita.” Ucap Minji terengah-engah.

*   *   *   *   *

Yoon terlihat kesal melihat pemandangan yang dilihat dari permukaan air. Terlihat Hyunji tengah berlari dan tertawa senang. Sunjoon yang berlari mengejarnya mencipratkan air sungai ke arahnya.

“Kau masih mengkhawatirkannya?” Yoon menoleh dan melihat ibunya berjalan mendekatinya diikuti Rin yang terbang di sampingnya.

Yoon mengangkat tangannya dari dalam air hingga gambar Hyunji dan Sunjoon menghilang. Yoon hanya berdiri diam menatap ibunya.

“Apa kau menyukainya Suga? Eomma tak mengerti kenapa kau menyukai gadis yang baru datang di kerajaan ini.”

“Hyunji memang baru datang di kerajaan ini yang mulia, tapi aku sudah mengenalnya lama.”

Ratu Soye menatap putranya bingung.

~~~FLASHBACK~~~

“Eomma… Bunga ini indah sekali.” Teriak gadis kecil berlari ke arah ibunya.

“Hyunji-ah jangan berlari di pinggir danau kau bisa terjatuh nanti.” Miri tengah membantu suaminya membersihkan jaring.

“Ne eomma.”

Hyunji meninggalkan ibunya dan mencari bunga-bunga indah yang ingin dipetiknya. Hyunji memetik setiap bunga yang berbeda dan berwarna-warni. Mata gadis itu tertarik pada bunga teratai yang ada di permukaan danau. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya namun sayang tangan mungilnya tak bisa menggapai bunga itu.

Hyunji kecil menoleh ke arah ibunya hendak meminta tolong namun sayang sang ibu tampak sibuk. Hyunji kembali menjulurkan tangannya lebih panjang lagi. Tinggal sedikit lagi gadis itu bisa menggapai bunga itu. Karena terlalu memaksa akhirnya gadis itu terjatuh ke air. Suara air yang keras mengagetkan Miri dan Inchul. Mereka panik saat tak melihat putri mereka. Mereka menghampiri danau, namun sayang mereka tak bisa melihat keadaan dalam danau.

“Bagaimana ini yeobo?”

Inchul segera terjun ke danau dan mencari putrinya. Inchul berusaha meyelam namun tak kunjung menemukan putrinya. Tubuh Hyunji semakin tenggelam. Gadis itu semakin terlihat melemah karena kehabisan oksigen. Hyunji begitu ketakutan tak bisa melihat ayah dan ibunya. Mata Hyunji yang hampir tertutup melihat sebuah tangan terulur menarik tangannya.

“Uhhukkk… Uhuukkk…” Hyunji terbatuk saat sampai di permukaan.

Inchul yang melihat putrinya langsung menghampirinya. Tangannya meraih tubuh putrinya dan menariknya ke pinggir. Hyunji terengah-engah saat sampai di pinggir danau. Miri menghampiri putrinya yang sudah basah kuyup.

“Syukurlah kau selamat Hyunji-ah.” Miri memeluk putrinya menunjukkan betapa khawatir sang ibu itu.

“Eomma, tadi aku melihat sebuah tangan menarikku, tangan siapa itu eomma?” Tanya Hyunji.

“Itu pasti dewa air. Kita harus berterimakasih pada dewa air.”

Hyunji mengikuti ayah dan ibunya melipat kedua tangannya berterimakasih pada dewa air.

“Dewa air sangat baik ya eomma. Jika besar nanti aku ingin menikah dengan dewa air eomma.” Ucap Hyunji membuat kedua orangtuanya tersenyum.

Suga yang berdiri tak jauh dari danau ikut tersenyum mendengar. Ada secercah perasaan senang merasuki hati Yoon. Kedua sudut bibir Yoon melengkung membentuk sebuah senyuman.

“Aku akan menunggumu Jung Hyunji.” Ucap Yoon sebelum menghilang.

~~~FLASHBACK END~~~

“Aku sudah mengenal Hyunji sejak dia kecil yang mulia. Dan Hyunji di persembahkan untukku bukanlah hal yang kebetulan, tapi aku sudah mengaturnya yang mulia.”

Ratu Soye tampak terkejut mendengar kebenaran itu. Ratu Soye menghela nafas mengetahui putranya memang menyukai Hyunji.

“Jika kau memang menyukainya eomma tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”

Ratu Soye mendekati putranya dan mengulurkan tangannya mengelus pipi Yoon. Yoon terkejut dengan tindakan ibunya yang sangat jarang dilakukan setelah puluhan tahun berlalu.

“Eomma tidak ingin kau terluka lagi Suga. Gadis itu adalah manusia, dia akan terus bertumbuh hingga dia tua dan meninggal sedangkan kau, kau akan selalu hidup abadi. Kalian tidak akan bisa hidup bersama selamanya Suga.”

Tanpa ratu Soye jelaskan, Yoon tahu jelas resiko itu. Namun baginya hanya Hyunji yang bisa menyembuhkan luka hatinya.

“Eomma akan kembali ke kerajaan. Pikirkanlah ucapan eomma. Ayo pergi Rin.” Ratu Soye berbalik meninggalkan putranya diikuti peri kecil yang selalu setia mengikutinya.

Yoon menatap kepergian ibunya, untuk pertama kalinya Yoon merasakan jika eommanya menyayanginya. Dengan perasaan senang Yoon menghilang meninggalkan kerajaan air.

*   *   *   *   *

“Aaahhh… Hentikan Oppa kau membasahiku.” Pekik Hyunji merasakan cipratan air membasahi tubuhnya.

“Kau yang sudah memulainya Hyunji, jadi rasakan pembalasanku.”

Hyunji berlari menghindari Sunjoon namun sayang Sunjoon terus mengejarnya. Hingga akhirnya kedua berhenti terlalu lelah untuk bermain kejar-kejaran kembali. Hyunji dan Sunjoon duduk di atas rumput dan memandang bintang-bintang yang menjadi lampu-lampu kecil di malam hari. Tanpa Hyunji sadari Sunjoon terus memandangi gadis itu. Dada Hyunji naik turun tak beraturan dan keringatpun meluncur turun membasahi pipinya. Tangan Sunjoon terulur menggenggam tangan Hyunji membuat gadis itu menoleh dan memperlihatkan senyuman yang sudah membuat Sunjoon menyukainya.

“Hyunji-ah, maukah kau menikah denganku?” Tubuh Hyunji terpaku mendengar permintaan Sunjoon.

Sunjoon terus menatap Hyunji tanpa berniat mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

“Sunjoon Oppa… Aku…”

“Sudah lama aku menyukaimu Hyunji-ah, dan perasaan itu tak pernah berubah sampai saat ini.”

Hyunji terdiam memandang Sunjoon yang terlihat sedang tak bercanda. Sunjoon meremas lembut tangan Hyunji untuk meyakinkan gadis itu.

“Aku… Aku… Juga menyukaimu Oppa tapi hanya sebagai Oppa. Hanya itu perasaanku Oppa. Mianhae.” Hyunji menunduk merasa menyesal tak bisa membalas perasaan laki-laki yang selalu baik padanya.

Dirasakan sebuah tangan menepuk pelan puncak kepala Hyunji. Hyunji mendongak dan melihat senyuman Sunjoon.

tumblr_mc930uQ7uc1qbmg6oo1_500

Suasana itu rusak saat mendengar suara beberapa orang datang menghampiri Hyunji dan Sunjoon. Hyunji dan Sunjoon bingung melihat beberapa penduduk desa berduyun-duyun datang dan salah satunya adalah sang peramal, Minji. Hyunji dan Sunjoon berdiri ketika rombongan itu sampai di hadapan mereka.

Tampak kekesalan di mata Sunjoon saat melihat Minji. Karena Minjilah yang dulu meramalkan agar Hyunji dipersembahkan untuk dewa air. Kali ini entah apa yang akan peramal itu sampaikan, Sunjoon akan melindungi Hyunji.

“Hyunji.” Hyunji menoleh dan melihat ayah ibunya menghampirinya.

“Ada apa ini appa eomma?” Bingung Hyunji.

“Benar bukan ucapanku. Kekeringan di desa ini pasti gara-gara gadis ini.” Amarah laki-laki yang pernah mengusir Hyunji tempo hari.

“Apa maksudmu ahjushi?” Tanya Hyunji tak mengerti.

“Aku mendapatkan mimpi dari dewa air Hyunji-ah.” Ucap Minji.

Sunjoon melayangkan tatapan penuh kebencian dan hal itu membuat Minji mendunduk sedih.

“Mimpi apa Minji-ah?”

“Dewa air mengatakan akan menurunkan hujan jika… Jika…” Minji sangat sulit mengatakannya.

“Jika apa Minji-ah?” Tanya Sunjoon dingin.

“Jika Hyunji…. Dilenyapkan.” Minji menunduk seakan menyesal mengatakan perintah dari dewa air.

Miri menangis mendengar putrinya harus dihukum mati tanpa memiliki kesalahan apapun sedangkan Inchul memeluk istrinya menenangkan wanita itu. Sedangkan Hyunji terdiam tak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaannya saat ini.

“Kau tidak membuat-buatnya kan Minji?” Ucap Sunjoon sarat dengan kebencian.

Minji mendongak dan ekspresi sedih terlihat di matanya.

“Aku tidak mungkin bermain-main dengan ramalanku Oppa.”

“Ramalan Minji selalu benar kita harus membunuh gadis ini agar desa kita selamat.” Teriak salah satau laki-laki dan seketika dua orang laki-laki menghampiri Hyunji menarik gadis itu. Hyunji hanya terdiam saat tubuhnya ditarik untuk dieksekusi.

“Jangan… Aku mohon jangan bunuh anakku.” Teriak Miri berusaha melepaskan tangan kedua laki-laki itu dari Hyunji.

“Diam saja kau.” Dengan kasar satu laki-laki itu mendorong Miri hingga terjatuh.

Hyunji menatap kesal laki-laki itu. Dia pun menepis tangan laki-laki itu.

“Aku bersedia mati untuk desa ini. Tapi jangan pernah melukai keluargaku kembali.” Hyunji menghampiri Miri dan membantu ibunya bangkit berdiri.

“Eomma kau tidak apa-apa?” Hyunji merapikan rambut ibunya yang berantakan.

“Hyunji… Jangan tinggalkan eomma. Eomma sudah pernah kehilanganmu dan eomma tidak ingin kehilangan kau lagi.” Tangis Miri pecah dan wanita itu memeluknya erat seakan tak ingin putrinya pergi meninggalkannya.

Hyunji berusaha menahan tangisnya, gadis itu begitu sedih melihat eommanya serapuh ini.

“Eomma ini adalah takdirku. Aku melakukan ini bukan untuk desa tapi untuk appa dan eomma. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan appa dan eomma. Aku menyayangi kalian.”

Hyunji melepaskan pelukan dan menghapus air mata di pipi ibunya. Hyunji menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya Hyunji berdiri meninggalkan ibunya. Miri hanya bisa menangis melihat kepergian putrinya dan Inchul dengan setia menenangkan istrinya.

“Aku tidak akan membiarkan kalian membawanya.” Ucap Sunjoon menghalangi dua laki-laki yang ingin membawa Hyunji.

“Menyingkirlah tuan muda. Tidak seharusnya tuan muda menghalangi perintah dewa.”

“Minggirlah Oppa. Aku rela melakukannya.”

Sunjoon berbalik dan menggenggam tangan Hyunji.

“Tidak.. Aku tidak akan membiarkanmu mati hanya untuk dewa itu Hyunji.”

Perlahan Hyunji melepaskan tangan Sunjoon.

“Ini adalah takdirku Oppa.” Hyunji meninggalkan Sunjoon yang masih terdiam di tempatnya.

Kedua laki-laki itu langsung menarik Hyunji menuju tengah desa. Di sana tubuh Hyunji diikat pada sebuah tiang kayu. Hyunji tersenyum melihat kedua orangtuanya yang menangis. Pandangan gadis itu beralih pada Sunjoon yang menatap Hyunji penuh kesedihan. Seseorang menutup mata Hyunji dengan sebuah kain hingga gadis itu tak bisa melihat apapun.

tumpukan jerami kering diletakkan di sekeliling Hyunji membentuk sebuah lingkaran. Laki-laki yang bersemangat ingin menyingkirkan Hyunji memegang obor dan mengangkatnya.

“Semoga dewa air mengampuni desa kita.” Ucap laki-laki itu dan menjatuhkan obor itu di tumpukan jerami hingga terbakar.

Jerami kering itu dengan cepat tersulut api dan tersebar mengelilingi tubuh Hyunji yang masih terdiam. Seluruh desa bersorak berbeda dengan kedua orangtua Hyunji dan Sunjoon. Bahkan Miri tak tega melihat putrinya dibakar hidup-hidup hanya bisa menangis dalam pelukan Inchul.

~~~TBC~~~

Gomawo readersdeul yang sudah membaca ff ini.

Jangan lupa komennya ya…

Saranghae readersdeul!!!!^-^

18 thoughts on “(Chapter 3) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

  1. Anyeong!! readers baru.. ;-)
    gak thu knpa bisa nyasar ke ff ini.. Bagus bnget FFnya.. aku suka ff kyk gini :-) BTW kok cast.nya Taehyung belum nongol2 ya..
    Next aja lah..
    Aku tnggu chpter slnjutnya :-D Keep Writing!!

  2. holla (again) ^^
    eung eung kalau mataku tidak salah ada sedikit typo hehehe .___.

    sempet mikir si anak kecil itu Suga. Hmmm kayanya itu ilusinya Ratu yaaa ewh sekaliiii

    Yesss nemu fix kalo Yoon Suga emang 1 orang hahaha. Kayanya Ratu Soyee itu bisa ilusi kali ya? gereget nih (?)

    owkaaay, mau berpindah ke chapt 4^^

    jyaaa nee^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s