DARK INVITATION 8

CreditposterbyAndinarima@CafePoster

CreditposterbyAndinarima@CafePoster

Dark Invitation Chapter 8

By Alana

Cast :  Park Jiyeon and Kim Myungsoo

Support Cast :  Oh Sehun, Base Suzy and other siluman

Genre : Comedy Fantasy

Length : Chaptered

Rated : G

.

.


“Kita siapkan persembahan lagi nanti malam!”  ujar Myungsoo sambil masuk ke dalam rumahnya.


 

 

 

 

 

Siluman kelinci Jiyein tidak berani pulang ke kediamani ibu tirinya. Dia memilih untuk tetap berdiam diri di dalam gua persembunyiannya. Dia terus bertapa hingga larut malam, sementara ajumma terus menjaganya dengan setia. Kekhawatiran membayang di wajah rentanya. Malam yang begitu dingin membuat semua mahluk termasuk siluman menjadi rentan. Mereka sibuk menyembunyikan diri dalam ruangan yang hangat, namun tidak dengan Jiyeon. Dia masih bertapa dan menenangkan hatinya. Dia tidak menyadari kalau hawa dingin itu telah membuat helai-helai rambutnya mejadi beku. 

 

Ajumma melihatnya dengan resah. Dia memberikan selimut pada tubuh rentan siluman kelinci yang masih terpejam itu. Posisi duduknya membuatnya seperti seorang dewi yang begitu suci. Aura putih memancar dari sekujur tubuhnya. Jiyeon terlihat damai dan tenang. Ada sesuatu yang telah memberikannya penceahan. Dia bisa merasakan bahwa dirinya tidak akan terluka hanya karena seorang Myungsoo.

 

Laki-laki keturunan dewa yang dianggab nista oleh khayangan itu terus berusaha untuk membuktikan eksistensinya sebagai keturunan yang layak untuk berada di dalam khayangan. Meskipoun dia tidak menginginkan untuk selamanya berada di sana.

 

Myungsoo hanya ingin melihat Ayahnya yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Dan juga kenapa dia mengabaikan ibunya yang selama ini hidup sebagai budak di dunia. Dan juga, Myungsoo ingin membuat perhitungan dengan ibu tirinya yang semena-mena telah mengabaikan dirinya dan juga ibunya.  Apakah Ayahnya tahu, jika ibu tirinya yang kejam itu telah mencelakai dirinya.

 

 

“Tuan Myungsoo !”  Sehun berdiri di sisi Myungsoo dengan perasaan takut. Malam yang sangat dingin ini ternyata membuat tubuhnya menggigil juga. Perasaan kalutnya hilir mudik ketika Myungsoo ingin mengorbankan seorang manusia sebagai silih atas persembahannya untuk Dewa Kemakmuran, Ayahnya.

 

“Ajudan Sehun, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. ” Ujar Myungsoo putus asa. Dia setengah frustasi karena sebenarnya dia tidak ingin mengorbankan manusia manapun hanya demi mencapai niatnya. ” Persetan dengan Prestige ! ” teriaknya keras.

 

“Tuan, dimana saya harus mencari manusia bernama Prestige ?. Bagaimana ini ?”  tanya Sehun bingung. Myungsoo hanya memutar bola matanya, menyadari betapa lugunya Ajudan semata wayang yang dia kasihi ini. 

 

 

Lalu tiba-tiba

 

“Myungsoo-ssi !” panggil sebuah suara. Myungsoo menoleh ke arah pintu. Dia melihat wanita tua yang sedang membungkuk ke arahnya.

 

“Siapa ?” tanya Myungsoo dengan suara yang hampir merobohkan tiang penyangga rumahnya. Pikirannya sedang kacau, dan darahnya mendidih dengan interupsi mendadak yang membuatnya semakin kalut.

 

“Sa..sa..saya…pengasuh Nona Jiyeon, Myungsoo ssi !”  ujar ajuma itu dengan gugub. Dia melihat emosi Myungsoo yang mencapai ulu hatinya.

 

“Jiyeon…?”  Myugsoo seperti tersadar pada sebuah janji yang dia lupakan. Dia mendengus dan menahan debaran hatinya. Jiyeon pasti marah, dia pasti menyuruh pengasuhnya untuk mencaci makinya, menendangnya, mencincangnya, lalu dihempaskannya ke samudra lalu dimakan oleh ikan-ikan dan kepiting, dan akhirnya menghilang bersama kotoran ikan yang dimakan oleh plankton-plankton, dan plankton-planton itu di makan oleh ikan lagi. /Halaaah!/

 

“Myungsoo Ssi,  saya haus.” ujar Ajumma itu dengan duduk terengah-engah. Wajahnya pucat, sepertinya habis berlari jauh. Myungsoo menoleh ke arah Sehun

 

“Ajudan, tolong ambilkan minuman segar di lemari es !” 

 

“Tuan Myungsoo kita tidak punya lemari es  !”  jawab Sehun sambil menyipitkan matanya.

 

Myungsoo mendadak berpikir kembali. Benarkah ?  Dia melirik Sehun tajam.

 

“Ba..ba..baik, Tuan Myungsoo. Saya akan mencarinya di ….”  Sehun segera berlari. Dia takut dengan tatapan mata itu.

 

Sepeninggal Sehun, Myungsoo duduk di hadapan Ajuma itu dengan raut khawatir. Dia membayangkan Jiyeon sedang menangis di sana karena merasa diterlantarkan.

 

“Maafkan Saya, Ajumma. Saya tidak bermaksud untuk mengingkari janji Saya. Tetapi memang karena urusan yang begitu penting menyangkut kelangsungan hubungan saya dengan para dewa, termasuk Ayah Saya. Saya terpkasa mengenyampingkan perihal lamaran saya kepada Jiyeon.”  ujar Myungsoo menjelaskan.

 

“Myungsoo Ssi,  Jiyeon sekarang dalam keadaan muksa. Dia hilang bersama tubuhnya. Oleh sebab itu saya datang ke sini untuk meminta bantuan Myungsoo Ssi supaya bisa menemukan Jiyeon di dimensi yang berbeda.”

 

“Muksa ?”  

 

“Benar, Myungsoo ssi. Dia menjalani tapa dan hampir menguras waktunya. Saya merasakan bahwa mungkin Dewa telah mengabulkan permohonannya untuk mencapai Nirwana. Dia menghilang dan entah bagaimana nantinya, saya tidak ingin melihatnya sendiri di sana. “

 

“Nirwana ?”  kembali Myungsoo terkejut.

 

“Tuan, ini minumnya. Saya hanya bisa membuatkan es kelapa muda. Supaya Ajuma ini bisa kembali segar.”  Sehun menyerahkan satu gelas penuh es kelapa muda untuk ajuma. Wanita itu menerimanya dengan senang.

 

“Terima kasih Tuan Sehun. Tapi es kelapa muda ini pakai gula merah atau bula putih ?”  tanya Ajumma itu tanpa dosa. /haalllah! repot!

 

“Kemungkinan gula putih ajuma, karena warnanya putih.”  Sehun tersenyum. Dia duduk di sisi Myungsoo. 

 

“Betul. Kalau gula merah, pasti warnanya merah.” jawab Ajuma itu.

 

“Kalau sudah yakin betul, silahkan dikumpulkan hasilnya !” ujar Myungsoo kemudian. Dia melirik. Sehun dan Ajuma bergantian. Mereka konyol sekali dengan masalah gula. 

 

“Aku sarankan padamu Ajuma, jangan terlalu banyak mengkunsumsi gula, karena kebanyakan orang menderita diabetes karena pola makan dan penggunaan gula yang berlebihan.”  ujar Myungsoo menjelaskan.

 

“Saya mengerti Myunhsoo Ssi. Baiklah !” 

 

“Ajudan Sehun, kenapa kau tidak membuatkan untukku juga ?” tanya Myunhsoo kemudian. 

 

Sehun hanya menatap beku pada majikannya. 

 

“Ah Tuan Myungsoo!”  hanya kalimat itu yang sanggub dikatakan Sehun.

 

.

.

.

 

 

 

 

Myungsoo berdiam dalam mata terpejam. Dia mencoba untuk mencari petunjuk atas keberadaan Jiyeon. Dia merasa kalau tubuh dan jiwa Jiyeon tercintanya dalam keadaan yang baik-baik saja, kecuali jika mulai memasuki sebuah gerbang hitam yang menghubungkan dunia para dewa dan iblis di neraka. Jalan menuju ke sana memang sangat indah dan penuh godaan. Biasanya semua mahluk yang muksa dan berkeinginan mencari keabadian, akan tergoda untuk memasuki gerbang hitam itu. 

 

“Ajuma, dia baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit bingung. Saya akan segera menyusulnya jika saya sudah selesai dengan urusan di persembahan ini. “

 

“Persembahan ?”

 

“Ajuma, Saya mengalami kesulitan untuk mencari korban manusia. Ini mungkin memang terdengar sadis. Tapi untuk hal ini saya benar-benar membutuhkan manusia untuk menyatakan keberadaan saya sebagai keturunan dewa kepada Ayah Saya.”

 

“Aku mengerti, Myungsoo Ssi. Saya sudah mendengar tentang perseteruan Anda dengan Ibu tiri Anda. “

 

“Ya, seperti itulah. Tapi saya belum mendapatkan korban manusia tersebut.” ujar Myungsoo putus asa.

 

“Myungsoo Ssi, apakah dengan mengorbankan manusia maka masalah ini akan selesai, dan Myungsoo Ssi akan benar-benar mempertanggungjawabkan kehidupan Jiyeon seutuhnya ?” tanya Ajuma itu dengan antusias.

 

“Ya. Saya akan segera menemui Jiyeon dan membawanya kembali. Kami akan hidup bahagia hingga masa menghilang dan dunia ini berubah. “

 

“Myungsoo Ssi, saya bersedia menjadi korban itu.” ujar Ajuma dengan sungguh-sungguh

 

Myungsoo dan Sehun terkejut. Mereka saling menatap. 

 

“Ajumma, kami sungguh tidak tega. Biarkan kami mencari orang yang tidak terkenal, mungkin pengemis, atau orang gila di pinggir jalan sehingga tidak ada yang akan mencari atau menuntut pada kami tentang kehilangan mereka.”

 

“Myungsoo Ssi, tidak apa-apa. Ini demi Jiyeon dan supaya Myungsoo Ssi segera menemukan Jiyeon. Kasihan dia. Pasti kesepian di sana. Di dunia ini Suzy dan ibu tirinya begitu jahat padanya. Saya berharap ada seseorang yang bisa membahagiakannya. Dan mungkin itu adalah Myungsoo Ssi. Saya Mohon,…!!”  Ajuma itu menjura di depan Myungsoo dengan tetesan air mata.

 

“Suzy ?  ” tanya Sehun.

 

“Benar, Tuan Sehun. Suzy dan ibu tirinya selama ini selalu memperlakukan Jiyeon dengan tidak baik.”

 

“Benarkah Suzy.ku seperti itu ?”  Sehun sepertinya tidak percaya.

 

“Benar. Saya tidak berdusta.”

 

“Kalau begitu aku harus segera memisahkan Suzy dari Ibunya. ‘  ujar Sehun sambil berdiri. Namun Myungsoo menarik tangannya untuk segera duduk kembali.

 

“Itu nanti saja. Sekarang kita harus menyelesaikan masalah ini.” Myungsoo mendesah berat.

 

Dia memikirkan permohonan Ajuma yang ingin dikorbankan menjadi tumbal atas perselisihannya dengan ibu tirinya.

 

“Baiklah, Ajumma. ”  Ujar Myungsoo berat. Dan Ajuma itu tersenyum lega.

 

.

.

.

.

 

# Beberapa saat kemudian,

 

Ajuma itu duduk di depan altar dengan mengenakan pakaian serba putih. Dan Myungsoo berdiri di sisinya. Tubuh Ajuma itu terlihat begitu tenang. Dia sungguh rela mati demi Jiyeon, demi hal-hal yang nantinya akan membuat anak asuhnya itu bahagia.

 

“Ajumma, apakah kau bersungguh-sungguh ?” tanya Myungsoo.

 

“Ya. ” jawab Ajuma dengan mata tertutup rapat. 

 

“Tapi…” Myungsoo masih terlihat ragu-ragu. 

 

“Segera laksanakan Myungsoo Ssi!”  

 

Myungsoo menghela nafasnya berkali-kali. Diliriknya Sehun yang berdiri lemas di sisinya. Dia sangat khawatir dan tidak tega. Dia benar-benar takut kali ini. Selama ini dia sering menghadapi kematian beberapa manusia, namun menghadapi kematian yang akan terjadi dan direncanakan ini, hatinya sungguh tercabik-cabik. Dia terharu. 

 

“Myungsoo Ssi, saya sudah siap.” Ujar Ajumma lagi. 

 

Lalu Myungsoo menghunus pedangnya. Dia meniliti sebentar pedang yang berkilauan di tangannya. Dia sangat tipis, tajam, dan mengkilap di timpa cahaya lilin yang menari-nari. Dia seperti sebilah pedang api yang siap menghujam ke tubuh wanita yang sedang bersimpuh di depannya.

 

“Ajumma, kalau kau mengurungkan niatmu, berteriaklah, supaya aku bisa menghentikan aksiku !” ujar Myungsoo.

 

“Baiklah Myungsoo ssi, tapi sepertinya aku tidak akan mengurungkan niatku. Aku melakukannya karena aku menyanyangi Jiyeon.”  Ajuma semakin larut dalam doa-doa.

 

Lalu pedang itu diayunkan Myungsoo untuk menebas kepala Ajuma itu, namun dia mengurungkannya. Dia merasa memenggal kepala Ajuma itu sungguh mengerikan, kemudian dengan gerakan yang cepat dia menghujamkan pedang itu tepat di jantung wanita yang tengah berdiam pasrah itu.

 

“Ajummaaaaa!” jerit Sehun . Dia sungguh ngeri melihat itu. Lalu dengan tubuhnya Sehun menangkap tubuh ajuma itu yang ambruk. Dia memapahnya dan memanggkunya. Wanita itu sudah memejamkan matanya dalam kedamaian. Darah yang tertumpah itu seperti sebuah asap. Dia mengepul ke atas dengan aroma anyir menusuk hidung.

 

Tidak ada tanda-tanda kehadiran ibu tirinya. Apakah persembahannya berhasil. Myungsoo melangkah keluar rumah. Dia meninggalkan Sehun yang masih mengurus jasad wanita itu.  

 

Myungsoo berusaha mencari petunjuk di atas langit. Namun yang dilihatnya hanya sekumpulan awan yang mulai berpencar dihembus angin. Semua tampak normal dan biasa. Namun tiba-tiba ada sebuah cahaya yang menghampirinya. Cahaya itu datang bersama sekawanan angsa putih bermahkota. Mereka berbulu putih dengan semburat keemasan diantara bulu-bulunya. Matanya berwarna cerah. Mereka menurunkan cahaya itu dari tubuh-tubuh mereka dengan membungkuk.

 

“Myungsoo, apa yang kau lakukan ?” tanya suara yang dihadirkan cahaya itu.

 

“Apa..? Siapa ?” tanya Myungsoo bingung.

 

“Aku, Ayahmu. Apa yang kau lakukan dengan wanita itu. Kenapa kau membunuhnya ?” tanya suara itu.

 

“Bukankah ini yang kau inginkah, Ayah ?”  ujar Myungsoo ketika menyadari bahwa suara itu adalah milik Ayahnya, namun dia tidak berwujud. Myungsoo hanya melihat cahaya yang menyilaukannya.

 

“Kau tidak harus seperti ini’!”  hardik Sang Ayah.

 

“Tapi, ibu tiri mengatakan hal itu !”

 

“Dia wanita bodoh ! dia menyukai darah. Dia senang pertumpahan darah.” ujar Ayahnya lagi.

 

“Menurutnya, hanya dengan cara seperti ini aku bisa bertemu denganmu, Ayah. Dan ternyata benar.”

 

“Dan aku tidak suka dengan cara seperti ini. Kenapa kau tidak bersabar hingga mencapai usia tiga puluh tahun. “

 

“Apa maksudnya Ayah ?”

 

“Aku akan menemuimu di saat usiamu tiga puluh tahun. Karena pada saat itulah kau menikah dengan seorang putri yang aku tentukan.”

 

“Putri ?”  Myungsoo tercengang. Apakah yang dikatakan Ayahnya ini benar. Kenapa Ayahnya ingin menjodohkannya dengan seorang putri. Apakah dia tidak mengijinkan Myungsoo menikah dengan Jiyeon, siluman kelinci itu.

 

“Myungsoo, segera urus wanita itu. Jangan biarkan dia terlalu lama kehilangan darah. ”  ujar Sang Ayah.

 

“Bukankah dia sudah mati.”

 

“Dia tidak bisa mati. Apa kau tidak tahu dia itu siluman merak. Dia tidak mati dengan pedang. Dan dia benar-benar berani mengatakan dirinya manusia dan mengelabuimu. Dia sungguh nista !”  Ujar Ayahnya marah.

 

“Saya tidak tahu. ”  Myungsoo menoleh ke dalam dan melihat Sehun menutupinya dengan kain putih.

 

“Baiklah. Ayah akan memberikanmu tanda supaya kau bisa memasuki khayangan. ”  Sang Ayah memberikan sebuah tanda di dahi Myungsoo berupa sinar yang meresap dan menyatu dengan kulit kepala Myungsoo. 

 

Myungsoo seperti merasakan hawa dingin, meski bentuk sinar itu lebih seperti api yang meresap di tubuh Myungsoo.

 

“Kau hanya tinggal menyebut dirimu sebagai putra dewa, maka kau akan bisa masuk ke khayangan dengan menghentakkan kakimu satu kali ke tanah.” Ujar Ayahnya bijaksana.

 

“Baik Ayah.”  jawab Myungsoo. Lalu cahaya itu kembali menaiki punggung-punggung angsa bersinar  dengan sekali hentakan. Dan kemudian melambung ke angkasa dan menghilang diantara bintang-bintang.

 

.

.

.

.

 

Tubuh Ajuma itu berubah dingin dan pucat. Namun dia masih bernafas. Myungsoo memperhatikannya dengan lekat. Mungkin wanita itu akan tersadar sebentar lagi. Dia akan meninggalkan wanita itu bersama Sehun. Myungsoo narus segera mencari Jiyeon. Dia tidak ingin Jiyeon tersesat di antara kebingungannya.

 

“Sehun, dia akan bangun. Jagalah dia !”  ujar Myungsoo.

 

“Baiklah Tuan Myungsoo.”

 

.

.

.

 

Myungsoo memikirkan perkataan Ayahnya mengenai usia ketigapuluhnya. Apakah yang akan terjadi pada saat itu. Apakah dia akan benar-benar menikahi putri itu. Lalu bagaimana dengan Jiyeon.

 

Myungsoo melangkahkan kakinya ke halaman dan dia mulai membaca sebuah mantra supaya dia bisa memasuki dimensi di mana saat ini Jiyeon berada. 

 

Sebuah gumlalan asap menyambutnya. Dingin, mereka menggelitik kulit tubuh Myungsoo ketika melangkah masuk pada sebuah gerbang yang begitu sepi. Di sana tidak terdapat pepohonan atau tanda-tanda kehidupan. Semuanya tampak hampa. Namun Myungsoo terus melangkah, dia merasa bahwa Jiyeonpun merasakan hal yang sama dengan dirinya. Dia terjebak dan sungguh bingung dengan langkahnya.  

 

Perjalanannya mencapai pada sebuah jalan setapak berbatu, dengan beberapa bebatuan besar yang berjajajar di kiri kanannya. Apakah dia sudah salah masuk dimensi. Benarkah dia berada pada tempat di mana Jiyeon kini berada.

 

Tiba-tiba sebuah batu berukuran genggaman tangan melesat mengenai bahunya. Myungsoo terhempas ke tanah dengan sebuah rintihan. Dia memegangi bahunya yang tergores. Lalu terdengar sebuah tawa yang menyerbu dengan begitu keras dan beruntun. Suara tawa itu sanggub membuat tanah yang dipijak Myungsoo bergetar. Aigoo, begitu kuatnya tenaga dalam mahluk ini. PIkir Myungsoo.

 

“Kau siapa ?” tanya Myungsoo sambil mencoba menemukan bentuk yang tidak dilihatnya itu. 

 

“Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau siapa? Kenapa berani sekali memasuki gerbang translucent tanpa meminta ijin !”  ujarnya keras. Lalu terdengar suara derap lari kuda yang menghampirinya dari utara, di mana pintu gerbang yang terbuat dari setumpuk tulang belulang yang disusun dengan rapi dimana antara satu dengan lainnya dikaitkan oleh benang-benang putih, yang merupakan sulur-sulur dari jaring laba-laba. Mereka berkumpul di kiri kanan jalan sambil menyeringai ke arah Myungsoo. Mengerikan sekali.

Tempat apakah ini ? pikir Myungsoo .

Lalu bentuk derap langkah kuda itu menjadi lirih dan berhenti tepat di hadapan Myungsoo.

 

Myungsoo terkesiap dengan penampakan Centaur di hadapannya. Siluman macam apalagi ini ?  

 

“Aku penjaga gerbang ini !” ujar bentuk Centaur itu dengan lantang. Dia mengarahkan pedang itu ke leher Myungsoo.

 

“Kau Penjaga Gerbang ini ?”

 

“Benar!” mahluk itu menatap dengan mata bulat bercahaya. Benuk tubuhnya yang setengah kuda dan setengah manusia itu terlihat kekar. Dia tinggi dan besar. Rambutnya yang hitam legam teruarai lurus hingga ke bahunya. Dan bagian tubuh kudanya berwarna coklat dan kekar. Myungsoo terpukau melihatnya.

 

“Kau jangan terpesona olehku. Aku memang mahluk yang luar biasa, tapi aku tidak menyukai manusia apalagi homo ! Mengerti !”  Myungsoo meringis mendengar pengakuan sang Penjaga Gerbang.

 

“Aku setengah manusia dan setengah dewa, dan aku bukan HOMO ! ” ujar Myungsoo tegas.

 

“Hmm, kalau begitu aku bisa mempertimbangkannya…Maksudku untuk putriku. Bukan untukku.” ujar sang Penjaga Gerbang.

 

“Maafkan aku, tapi aku ke sini untuk mencari kekasihku. Dia telah memasuki gerbang ini dan berada di dalam sana sendirian.” ujar Myungsoo menjelaskan.

 

“Wanita. Apakah dia cantik ?” tanya Centaur itu.

 

“Ya. Dia cantik. Dan dia tunanganku. Kami akan menikah.”  ujar Myungsoo menegaskan.

 

“Aku rasa aku tau di mana dia. Apakah dia seekor siluman kelinci yang begitu cantik dan manis ?” tanyanya lagi.

 

“Ya. Di mana dia ?” tanya Myungsoo.

 

“Aku rasa kau akan menemukannya di lembah teratai. Di sana di Danau Roh, di mana banyak teratai yang merekah di saat bulan purnama sedang bersinar. Kau akan menemukan seluruh siluman berkumpul di sana untuk mandi.” ujar Centaur memberi bocoran.

 

“Mandi katamu ?”  tanya Myungsoo.

 

“Ya. Apa kau pernah melihat siluman mandi ?”  

 

“Belum.” jawab Myungsoo.

 

“Apa kau mau melihatnya ?” /plak/ tawar Centaur itu sambil menyimpan pedangnya kembali.

 

Myungsoo meringis. Penjaga gerbang ini sungguh cabul. Pikirnya. Mana mungkin dia mau melihat para siluman mandi.

 

“Aku rasa aku akan menunggunya di tempat yang jauh saja “

 

“Dan mengintip mereka, maksudmu ?”  Centaur itu menggoda hasrat Myungsoo.

 

“Tidak. Aku tidak akan mengintip, tapi kalau terpaksa, apa boleh buat…!”  jawab Myungsoo.

 

.

 

tbc

 

 

a/n

 

Memang lama banget baru bisa ngelanjutin ff ini karena memang wangsitnya baru turun. 

Aduh ga ngerti lagi deh, kenapa jadi begini. Berhasilkah Myungsoo menemukan Jiyeon di danau Roh itu ? Maaf kalo banyak typos.

 

Oke, bersambung lagi yah…jangan bosen sama Alana!

 

 

 

 

 

 

 

 

25 thoughts on “DARK INVITATION 8

  1. ya ngeliat dikit mah nggak apa2 kalau terpaksa sih myungsoo benar jgn di tahan ha ha ha semoga aja jiyeon ketemu …yg masalah es kelapa bikin ngakak ngeributin masalah gulanya knp sehun nggak kasih dia es dawet/cendol gitu :D yakin lana ini stok ceritanya udah disimpen berapa lama ya ampun hampir lali q ingetnya cuman ajudan sehun doang :D :D

    • Iya, aq emang kalo fantasy paling OoN..haha..bingung. Makanya agak ribet cari bahan ceritanya.tapi syukurlah sekarang sudah jelas, mau dibawa kemana alurnya. Thank u dear !

  2. tidak akan mengintip kalau terpaksa,apa boleh buat…hahaha myungsoo gayamu keren betul…gimana nasib jiyeon.ayoo cepatan nemuin jiyi sebelum terlambat..

    • Hahaa..merekanketwmunya lama banget ya, oerasaan cuma di ff ini momen myungyeonnya kurang, apa jarus diganti dengan myunghun. Myungsoo Sehun /plak/…oke ! Mereka harua ketemu!

    • Nih pengennya cepet ketemu, ntar kalo ketemu cepet nikah, ntar kalo udah nikah kapan punya anaknya. Aduh kayak ibu mertua aja nih kesannya. Wkwkw…

    • Sukur kalo ngefeel kocaknya. Soalnya asal doang bikinnya, tapi tetep fokus ke tujuan, walau pas bikinnya agak error gini. Btw thank u!

    • Myungsoo emang plin plan. Dari awal kharakternya emang gitu. Waktu diajakin ke rumah bordir dulu sama Sehun dia marah-marah tapi mlah nanya apa ceweknya cantik2. /gubrakh/ dan terus begitu. Haha..sukur kalo lucu.

  3. akhirnyaa diLanjuttttt!!
    Gula itu manis tapi bikin diabetes wkwkwk Konyol bgt obrolanya sehun sama ahjumma~
    Myungsoo keikut2 penjaga gerbang yg Cabul /-\ Oh Noo!!! dewaa pertemukan Myungsoo dan Jiyeon :-D

  4. Busettttt dahhh ade2 aja banyolan author ini
    . Somplak amet.. mslh gula aja pke nawar debat dlu. Oooooouuuu ud gtu myung tuh masa kaga bs bedain siluman ama mnusia sihhhh ilmunya patut d prtnyakan tuhhh. ????
    Dan lg.. somplakkk jg tu penjaga gerbang pke ngbrolin hal mesum sgla lg dasar cabul. Yahhh klo emg myung nyari org kbetulan nyari jiyi ampe k tmpt pemandian yah mau gmn lg … asal niat nya bener ajeee…. next lamaan dkit ah baru bc ud tbc… kaga seruuuu donk

  5. Akhirnya myungsoo bisa serius jg meskipun kdng msh koplak,apalagi kl berdua sm sehun
    Contohnya aja masalah es kelapa srmpet” nya ahjumma sm sehun ngriburin mslah gula’ ada” aja tp bikin ketawa siii
    Mdh”an myungsoo bisa ketemu jiyeon,tp gimana nanti kl jiyeon tau myungsoo bakalan di jodohin sm seorang putri,bisa” patah hati seumur hidup

  6. Alanaa akhirnya dark invitation muncul kembali :)
    Hoho semakin ruwet ini ff dunia lain. Kalo seumpama Myung tergoda ngintip bakalan ada hukumannya kagak nih Lan? Bakalan berabe pula kalo Jiyeon tau tapi kalo yang diintip pas Jiyeon mah kagak papa, hahha.
    Loh apa maksud ahjumma boong sama Myung? Semoga emang beneran biar Myung bisa nemuin Jiyeon.
    Eh Sehun mau nyelamatin Suzy, semoga berhasil aja deh ya, goodluck! :D
    Jangan, nggak boleh, Myung nggak boleh dijodohin kecuali sama Jiyeon. Titik! Maksa XD
    Oh abang ilham sam bang wangsit jangan lupa ya main-main ke Alana biar dia bisa muncul ide mulu buat ini ff. :)

  7. ff ini bkn hanya bikin ngakaks tapi kali ini di part ini jadi sedikit bikin tegang, sedikit yaa, hanya sedikit! Cekakak. perkara myungsoo ternyata bkln di jodohin ama sang putri yg entah siapa itu, kalau myung terlambat ketika jiyeon telah mencapai nirwananya…. mereka batal nikah dong, huaaaaa
    heol! si ahjumma pantesan ikhlas bgt dijadiin tumbal. ternyata dia gk bs mati –” semvak

  8. Thehun polos banget sih😆
    Anday! Itu penjaga gerbang apa banget coba😝 terus myungsoo juga lagi “kalo terpaksa apa boleh buat” apa banget coba ini😑 ckckck

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s