One Word

BaekU one word

ONE WORD

An Oneshot

by Risuki-san

Cast : Byun Baekhyun (EXO’s Baekhyun) & Lee Jieun (IU) | Rating : General | Genre : Romance | Disclaimer : FF abal ini asli buatan author | [A/N] : Hai, aku baru gabung disini XD hanya oneshot pendek tapi…semoga suka XD

Dan…salam kenal XD

.

‘Kau tak pernah benar-benar menyesal…kau hanya mengucapkannya’

-Lee Jieun-

.

One Word

Satu kata…

Satu kata yang tak pernah ia ucapkan dengan benar, satu kata yang seharusnya mewakili hatinya, satu kata yang terlalu sering ia ucapkan, satu kata yang akan lebih baik jika tak pernah terucap karena…

.

.

.

Hanya menatapnya dari kejauhan, ingin mendekat, mendekat untuk melihatnya, senyum tulus yang dulu hanya miliknya.

Menyesalinya, kenapa ia melakukannya? Kenapa ia tak mempertahankannya? Kenapa ia meninggalkannya dan memilih yang lain?

.

.

.

Hanya melangkah pelan, tak ingin berlari meski ada seseorang yang kini tengah menunggunya.

Lebih memilih untuk menikmati udara kota Seoul di sore hari, memutuskan untuk berlari kecil, dekat dan semakin dekat…menarik tubuh mungil didepannya, memenjarakan gadis bermarga Lee itu dalam sebuah pelukan.

“Menunggu lama?”

 “Sangat lama” berucap singkat bahkan dengan sebuah senyum, setelah menunggu hampir dua jam, dan ia masih bisa tersenyum?

“Maaf”

“Tak apa”

Memilih untuk tersenyum, bahkan setelah menunggu beberapa jam, bahkan setelah lelaki itu mengingkari janjinya, bahkan setelah menemukan fakta jika Baekhyun menyakitinya, Jieun, bukankah ia terlalu baik?

.

.

.

Memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menyapa permukaan kulitnya, dingin dan sangat menyegarkan kala kaki-kaki miliknya tersentuh ombak kecil.

“Jieun, mainkan gitarmu”

“Tidak mau”

“Jika kau tak mau kau akan…”

“Akan?”

Memilih untuk berdiri, menatap gadis itu, memasang ekspresi setenang mungkin, dengan cepat meraih tubuh mungil Jieun.

“Aku akan membuangmu ke laut!! Bersiaplah!!”

Mengangkat tubuh mungil itu ke udara, mengarahkannya pada lautan seolah akan membuangnya, tersenyum senang karena…Jieun, ia ketakutan.

Merasakan tangan putih itu melingkari lehernya, memeluknya erat…

Memilih untuk menatap gadis itu, mukanya yang merah dan mata kecil yang terpejam kuat lalu bibir mungil yang mengatup rapat, memilih untuk memanggilnya…

“Jieun”

“…”

“Jieun, lihat aku”

Merasakan kedua kakinya memijak pasir lalu suara itu…suara yang memanggilnya, memilih untuk membuka mata, menatap lelaki dihadapannya…

Dan…

Merasakan sapuan hangat pada bibirnya, merasakan sebuah tangan mendorong punggungnya, merasakan debaran jantung lain selain dari jantung miliknya.

Tak teratur dan terdengar merdu, lebih merdu dari alunan piano lagu favoritnya, merasakan kehangatan diantara hembusan dingin angin pantai.

Melepas tautan itu, saling menunduk karena merasa malu tapi…ini nyaman, membuat dua manusia itu menginginkannya…lagi.

.

.

.

Memberikan kue pertama untuk seorang Byun Baekhyun, ia ingin melakukannya tapi…lelaki itu bahkan belum manampakkan batang hidungnya.

Merasakan kecewa untuk kesekian kali, selalu seperti ini, selalu terlambat. Hanya satu hari dalam setahun, tak bisakah lelaki itu datang tepat waktu?

“Maaf, aku terlambat”

“Byun Baek jelek, kau sangat terlambat!”

“Maaf, aku akan lakukan aegyo, lihat aku”

Hanya tersenyum kecil karena Jieun, ia seperti anak kecil. Mudah merajuk tapi juga begitu mudah menenangkannya.

Hanya serangkaian aegyo sederhana, gadis itu sudah tersenyum senang, bahkan tertawa renyah, memilih untuk melupakan kenyataan jika lelaki itu datang jauh setelah pesta ulang tahunnya selesai.

Berusaha memakluminya, karena Baekhyun yang tak pernah datang tepat waktu, bukankah itu memang sifatnya?

“Jieun”

“Ya?”

“Jika aku bersalah, kau akan memaafkanku?”

“Apa aku pernah tak memaafkanmu?”

Sebuah pertanyaan bodoh, iya kan?

Bahkan setelah melihatmu berkencan dengan gadis lain, Jieun masih bertahan disisimu, memaafkanmu, dan kini kau masih bertanya, Byun Baekhyun?

Hanya menggaruk lehernya, menatap gadis itu kikuk, ingin mengucapkannya, mengucapkan harapan-harapan baik untuknya tapi…sebuah suara menahannya.

“Tapi…”

.

.

.

Menatap langit Seoul yang mulai menggelap, memeluk tubuh mungilnya karena…ini terlalu dingin.

Meniup-niupkan nafasnya diatas telapak tangan lalu menyentuh pipinya yang sedikit memerah, meloncat-loncat kecil untuk menciptakan sedikit kehangatan untuk dirinya sendiri.

Dalam hati ia memanjatkan doa, berharap jika Baekhyun, ia akan menepati janjinya, iya kan?

Merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya kala…ponsel itu berdering.

Jadi lelaki itu melakukannya? Lagi?

Menghembuskan nafasnya sedikit kasar, merasakan kecewa…lagi. Bukankah hal seperti ini selalu terjadi? Kenapa ia belum juga terbiasa?

Hanya meninggalkan satu pesan singkat dengan satu kalimat padat jelas dan singkat.

‘Maaf, aku benar-benar harus mengantar ibuku, maaf’

Tubuh itu merosot, tak mampu menahan berat tubuhnya, memilih untuk duduk di tepi trotoar.

Merasa telah menerima terlalu banyak kata maaf darinya, Jieun, ia mulai merasa jika ini…bukankah ini keterlaluan?

“Apa aku terlalu baik? Kenapa ia selalu lakukan ini padaku?”

Merasakan sesak dan…

Air bening itu membasahi mantel tebalnya, memilih untuk menahan isakannya, membenamkan kepalanya diantara lipatan tangan.

Ia ingin berhenti, berhenti menangisinya tapi…gadis itu pun tak mengerti bagaimana cara mengendalikan air mata maupun perasaannya.

.

.

.

Jika saja mesin waktu benar-benar ada, jika saja ia bisa membaca masa depan, jika saja ia tahu ia akan menyesalinya, jika saja…ya…hanya sebatas jika saja…

…Jika saja ia dapat memahami perasaannya sendiri.

.

.

.

Jika saja ia tidak datang, jika saja ia menuruti apa kata hatinya, jika saja ia memilih untuk berdiam diri saja di rumah.

Menyesali perbuatannya…

Menembus hujan hanya untuk menemuinya, memastikan jika lelaki itu telah sembuh dari demamnya tapi…

Apa hal seperti ini yang pantas ia dapatkan?

Byun Baekhyun dengan gadis lain tengah bergumul diatas sofa, melakukan yang seharusnya tak pernah mereka lakukan.

Kenapa ia melakukannya lagi? Bahkan dengan gadis yang sama?

“Jieun?”

Hanya mampu menatap lantai, menahan air bening itu tapi…ia tak sanggup melakukannya. Memilih mundur kala lelaki itu terus mendekat, menyentuh bahunya pelan.

“Maaf”

Ia menggeleng kuat, tidak, ia tak membutuhkannya.

“Kau berjanji takkan mengulanginya”

Memilih untuk mengatakannya, berusaha untuk menatapnya, menunjukkan mata kecil miliknya yang memerah dan basah.

“Maaf”

Menatap lelaki itu dalam, ada luka yang dalam disana, menggeleng kuat karena ia menerima terlalu banyak kata maaf.

Kenapa selalu meminta maaf?

“Apa kata maaf hanya sebuah formalitas untukmu?”

.

.

.

‘Jika aku bersalah, kau akan memaafkanku?’

‘Apa aku pernah tak memaafkanmu?’

‘…’

‘Tapi…akan lebih baik jika kau tak pernah meminta maaf’

‘Ya?’

.

.

.

Terdiam menikmati langit sore yang sesungguhnya tampak seperti biasanya, memejamkan mata menikmati alunan gitar favoritnya lalu suara itu suara lembut yang selalu mengingatkannya pada sesuatu yang indah, sesuatu yang selalu membuatnya tersenyum tanpa alasan.

Memutar kembali ingatan itu, ingatan yang selalu tersimpan rapi dihatinya, ingatan dimana sebuah tangan putih melingkari tubuhnya, mendekapnya erat, tak ingin melepasnya meski hanya sedetik.

“Byun Baek jelek!!”

Sebuah suara memanggilnya, memilih untuk membalik posisi tubuhnya menatap…

Senyum paling indah di seluruh dunia…

“Jieun, ayo pergi”

“Tidak mau”

“Jika kau tak mau, aku akan…”

“Akan?”

“Membuangmu ke tong sampah!”

Hanya mencuri dengar bahkan membuat hatinya bahagia?

Ya, hanya suara tawa renyah dan mencuri pandang, hanya itu yang pantas ia dapatkan saat ini.

“Byun Baek Jelek!”

Mengabaikan sosok di depannya yang kini menatapnya sebal. Memilih untuk pergi dari sosok Baekhyun yang terlihat gila.

“Baiklah aku pergi duluan, ada apa dengannya?”

Menyisakan lelaki dengan marga Byun itu sendiri, sendiri dengan kesendiriannya.

Merasakan ketidak relaan kala tangan kekar itu memeluk miliknya, miliknya?

Memilih untuk pergi, tak tahan jika harus melihatnya, melihat betapa mereka bahagia, betapa lelaki dengan mata sabit itu selalu menyemukan pipi Jieun.

Ingin menyingkirkan lelaki itu saja, meminta maaf lagi, berjanji lagi tapi…

Menyesalinya…menggeleng kuat karena ia mengingatnya, Jieun dengan sorot mata yang terluka lalu berucap…

‘Kau tak pernah benar-benar menyesal…kau hanya mengucapkannya’

Ya, ini kesalahannya, ia tak boleh melakukannya, sekuat tenaga berusaha merelakannya, sudah cukup mengatakan maaf padanya, sudah cukup ia menyakitinya karena Jieun…ia telah bahagia.

END

7 thoughts on “One Word

  1. Oh Tuhan, gimana ya, aq harus sedih atau bahagia. Ini menguras emosi banget! Kasihan Jieun, and Baekhy…ke laut aja deh luh! Ampun, titik kesabaran Jieun itu …bertitik-titik…panjang dan mengharukan. Duh, enak banget, mengandalkan kata maaf. Bener-bener ikut kesel bacanya. Q pites aja deh baekhynya ! Aq suka dengan susunan kalimat yang kamu usung di sini. Sejuk bacanya, mengalun dan gaya bahasanya sangat teratur, sangat mengesankan. Pokoknya top !

  2. Iya, aq Alana. Salam kenal. Aq author somplak. Suka bikin cerita somplak, ga jelas. Hehe…
    Kayaknya aq pernah liat nama author di mana ya, author di IFK ya ?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s