(Chapter 4) Find Love To Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

Title  : Find Love to Find Life (Chapter 4)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

Guest :

* Park Yoochun (JYJ) as Lee Sunjoon (Sungkyunkwan Scandal)

Mianhae author baru sempat posting ff ini. jeongmal mianhae!!!

Terimakasih banyak untuk readersdeul yang sudah like ataupun comment d ff aku.

Pasti pada penasaran ya bagaimana nasib Hyunji. Silahkan baca ne dan kalian akan mengetahuinya. Oh ya nanti ada satu tokoh baru yang akan keluar…..

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak-jejak petualangan kalian ne?

Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

Tumpukan jerami kering diletakkan di sekeliling Hyunji membentuk sebuah lingkaran. Laki-laki yang bersemangat ingin menyingkirkan Hyunji memegang obor dan mengangkatnya.

“Semoga dewa air mengampuni desa kita.” Ucap laki-laki itu dan menjatuhkan obor itu di tumpukan jerami hingga terbakar.

Jerami kering itu dengan cepat tersulut api dan tersebar mengelilingi tubuh Hyunji yang masih terdiam. Seluruh desa bersorak berbeda dengan kedua orangtua Hyunji dan Sunjoon. Bahkan Miri tak tega melihat putrinya dibakar hidup-hidup hanya bisa menangis dalam pelukan Inchul.

Hyunji mulai merasakan kepanasan namun gadis itu tetap terdiam. Peluh keluar dari sekujur tubuh gadis itu. Hyunji menggigit bibir bawahnya tatkala merasakan kulitnya terbakar.

Tess…. Tess…. Tess….

Tetesan hujan turun membasahi pipi Minji. Minji menyentuh air di pipinya dan terlihat cairan bening membasahi tangannya. Tetesan hujan itu semakin lama semain deras hingga memadamkan api di sekeliling Hyunji. Seluruh penduduk desa terheran melihat kejadian itu. Sedangkan kedua orangtua Hyunji dan Sunjoon bernafas lega. Setelah api itu padam hujan seketika berhenti.

“Hentikan.” Seluruh penduduk desa seketika menoleh mendengar ucapan seorang laki-laki.

Laki-laki itu berjalan menghampiri Hyunji. Wajah tampan dan asing itu membuat seluruh penduduk desa memandangnya penasaran. Laki-laki melepaskan penutup mata Hyunji dan gadis itu tampak terkejut melihat laki-laki yang tempo hari di temuinya di kamar sudah berada di hadapannya.

“Yoon?” Panggil Hyunji tak percaya.

“Siapa kau? Menyingkirlah kami sedang melakukan perintah dewa air.” Usir salah satu penduduk desa.

Yoon berbalik menghadap laki-laki itu. Namun Yoon tak berkata apapun dia justru berjalan menghampiri Minji.

“Dewa air mengirimku untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Kekuatanmu sudah disalahgunakan oleh seseorang Minji-ah. Anak laki-laki yang kau temui itu bukanlah dewa air.” Seluruh penduduk desa tercengang mendengar penjelasan Yoon.

“Kekeringan di desa ini bukanlah kesalahan Hyunji. Itu adalah wujud kemarahan dewa pada desa ini.” Yoon memandang seluruh penduduk desa.

“Sang dewa marah pada kami?” Kaget laki-laki yang hendak membunuh Hyunji.

“Semua itu karena kesalahan kalian yang tak bertanggungjawab mempergunakan air yang sudah dewa berikan.”

Seluruh penduduk desa segera berlutut. “Maafkan kami dewa. Maafkan kami. Ampuni desa kami.” Doa mereka.

Yoon kembali menghampiri Hyunji dan melepaskan ikatan Hyunji.

“Ikutlah bersamaku Hyunji-ah.” Ucap Yoon mengulurkan tangannya.

Hyunji terdiam melihat tangan Yoon yang terulur. Entah apa yang dipikirkan Hyunji namun hatinya mengatakan untuk mengikuti laki-laki itu. Hyunji menerima uluran tangan Yoon dan laki-laki itupun langsung berlari menarik gadis itu menuju laut. Sunjoon berlari mengejar Yoon dan Hyunji. Sampai di pantai Yoon terus menarik Hyunji ke laut hingga Sunjoon menarik tangan Hyunji menahan gadis itu.

“Lepaskan Hyunji.” Ucap Sunjoon dingin.

Yoon tersenyum sinis pada Sunjoon.

“Aku tidak akan melepaskannya.” Yoon memeluk Hyunji dari belakang.

Dengan kekuatan airnya Yoon mendorong tubuh Sunjoon menuju pantai. Sampai di pantai Sunjoon terus mengejar Yoon dan Sunjoon hingga masuk ke dalam laut. Dia berdiri dengan tubuh yang basah kuyup. Sunjoon melihat Yoon masih tersenyum sinis lalu menarik tubuh Hyunji ke dalam laut.

Melihat Hyunji menghilang, Sunjoon panik dan menghampiri tempat Hyunji menghilang. Sunjoon menyelam mencari Hyunji namun laki-laki itu tak kunjung menemukannya.

*   *   *   *   *

“Aku merindukan Hyunji.” Gerutu Hayoung yang bersandar di jendela kamar Bomi.

“Tidak biasanya kau merindukan seseorang selain Jimin Hayoung-ah?” Tanya Bomi tengah melukis.

“Hyunji berbeda Bomi. Dia teman yang menyenangkan, berbeda sekali dengan Naeun.”

Tubuh Bomi membeku mendengar nama Naeun.

“Aku lebih setuju Suga dengan Hyunji. Bagaimana denganmu Bomi?” Tanya Hayoung menyadarkan Bomi.

“Entahlah.”

Hayoung menatap Bomi dengan tatapan kesal tak puas dengan jawaban Bomi.

“Aisshhh… Kau tidak mengasyikan Bomi.”

“Lalu kenapa kau masih di sini?”

Hayoung mendengus kesal. Tujuan gadis itu ke kamar Bomi ingin mencurahkan perasaannya tapi hanya kekesalan yang gadis itu dapatkan. Tiba-tiba angin berhembus memasuki kamar Bomi. Angin itu berhembus menerpa Hayoung. Hayoung terdiam mendengarkan angin yang berbisik di telinganya.

Bomi menghentikan kegiatannya dan menunggu Hayoung menyampaikan informasi yang di dapatkannya. Hayoung tersenyum mendengar bisikan angin itu. Lalu angin itu lenyap begitu saja.

“Berita apa yang kau dapat?” Tanya Bomi.

“Suga mendapatkannya.”

“Mendapatkan siapa?”

“Hyunji, Suga mendapatkan Hyunji. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Seseorang mengalihkan jalur pulang Suga dan Hyunji. Kita harus bagaimana Bomi?”

“Bukankah ada Suga? Kau tak perlu khawatir.”

“Kau benar. Suga pasti bisa kembali.” Senang Hayoung.

Tanpa Hayoung sadari tangan Bomi terkepal keras si bawah meja.

*   *   *   *   *

“Uuuhhuukkk…. Uuuhhhuuukk…. Uuuhhuuukk…” Hyunji terbatuk saat dia sampai di permukaan sungai.

“Seseorang sudah mengubah jalur pulang kita.” Gumam Yoon yang muncul di samping Hyunji.

“Yoon? Kenapa kita berada di sini? Bukankah terakhir kali kita berada di kerajaan air?” Yoon terkejut melihat Hyunji.

“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” Hyunji keluar dari sungai dengan baju basah kuyup.

Yoon mengikuti Hyunji keluar dari air dan menghampiri gadis itu. Tangan Yoon terulur memeluk tubuh Hyunji dari belakang.

“Selamat datang kembali Hyunji.”

Bibir Hyunji menyunggingkan senyuman mendengar ucapan Yoon. Dengan kekuatannya Yoon menghilangkan air di pakaian mereka.

“Memang aku dari mana?”

“Kau meninggalkanku.”

“Benarkah tapi mengapa aku tak mengingatnya?”

“Lebih baik jika kau tidak mengingatnya,” Ucap Yoon mengeratkan pelukannya.

Suasana itu terganggu saat mendengar suara langkah kaki berlari mendekati mereka. Yoon segera menarik Hyunji ke belakangnya. Matanya terus mengawasi bersiap-siap menghadapi seseorang yang mengarah padanya. Langkah kaki berlari itu semakin mendekat, hingga akhirnya seekor kijang besar bertanduk berhenti tepat di hadapan Yoon. Kedua tanduk kijang itu hampir saja menggores tubuh Yoon.

“Lama tak bertemu V sang penjaga barat?” Ucap Yoon.

Hyunji yang bersembunyi di balik tubuh Yoon mengintip. Tiba-tiba kijang itu berubah menjadi seorang laki-laki tampan dengan jubah coklatnya. Tanduknya menghilang di balik rambut orangenya.

“Angin apa yang membuatmu datang ke daerah kekuasaanku?”

“Ada seseorang yang mengalihkan jalurku. Kau tak perlu khawatir aku akan segera meninggalkan daerah kekuasaanmu.” Yoon menarik tangan Hyunji kembali ke sungai.

Langkah mereka terhenti mendengar tawa V.

“Kau tidak akan bisa kembali lewat jalur yang sama Yoon. Dan ingat sebentar lagi matahari akan terbit. Aku tahu apa artinya itu.”

Yoon berbalik menatap V penuh kewaspadaan.

“Kau tidak bermaksud mengundang kami ke kediamanmu bukan V? Seingatku hanya satu orang saja yang kauijinkan masuk ke dalam.kediamanmu.”

V tersenyum mendekati Yoon dan Hyunji.

“PPFFTTT…..” V bersiul dan tak lama seekor burung gagak hitam besar terbang dan mendarat di dekat mereka.

“Ini adalah Sanzuwu, dia yang akan mengantar kalian pulang.” Jelas V mengelus kepala burung yang menunduk itu.

“Imbalan apa yang kau inginkan? Bagi orang yang sudah diusir dari kerajaan matahari kau terlalu baik V.”

“Aku hanya memenuhi janjiku pada seseorang untuk menolongmu.”

Yoon tersenyum mengetahui siapa orang itu.

“Aku tidak suka berhutang budi. Ikutlah denganku. Aku akan mengundangmu mengunjungi kerajaan air. Aku tahu sudah lama kau tak bertemu dengannya bukan?”

V terdiam tampak sedang memikirkan tawaran Yoon.

“Baiklah, tidak ada ruginya untukku bukan?”

V berubah kembali ke wujud rusanya sedangkan Yoon dan Hyunji menaiki burung gagak hitam besar itu. Burung itu mengepakkan sayapnya hingga kakinya tak menyentuh tanah. Burung itu terbang melintasi langit malam. Di depan mereka V dalam wujud rusa terbangnya menjadi penunjuk jalannya. Hyunji ingin masih terdiam memikirkan pembicaraan Yoon dan V. Gadis itu tampak bingung dengan pembicaraan kedua laki-laki itu.

“Bomi.” Bisik Yoon yang berada dibelakang Hyunji.

“Nde?” Bingung Hyunji.

“Kau ingin tahu siapa yang ingin V temui bukan?” Tanya Yoon dan Hyunji mengangguk.

“Jadi V ingin bertemu dengan Bomi?”

“Ne. Karena hanya Bomi yang mau bereteman dengan V.”

Hyunji mengangguk akhirnya pertanyaan yang sedari tadi mengganjal pikirannya terjawab sudah. Melihat pemandangan langit malam membuat mata Hyunji mengantuk. Hingga akhirnya Hyunji tak dapat menahan kantuknya dan tertidur dalam pelukan Yoon.

*   *   *   *   *

Malam yang sudah menjelang pagi, tampak Bomi berjalan menyusuri jalanan istana menuju ruangan Jungkook. Kekesalan tampak di wajah gadis itu.

“Lama tak bertemu Bomi?” Langkah Bomi terhenti mendengar suara yang sudah sangat lama tak di dengarnya.

Gadis itu berbalik dan mendapati V bersandar pada tiang dan menunjukkan senyumannya. Wajah V terlihat lebih tampan dibandingkan saat terakhir Bomi bertemu dengannya. Garis rahang yang tegas membuat V tidak lagi terlihat seperti anak kecil. Warna rambutnya yang semakin terang memperlihatkan kematangan laki-laki itu.

“V? Apa yang kau lakukan di sini? Jika Suga melihat…”

“Sugalah yang mengundangku Bomi.”

V menegakkan tubuhnya dan menghampiri Bomi. Tangannya terulur menangkup pipi Bomi. Ibu jari V mengelus pipi Bomi yang terasa lembut ditangannya. Tatapan tak percaya terlihat di mata V. Laki-laki itu sadar sudah sangat lama dirinya tak bertemu gadis itu. Bomi menepis tangan V menyadarkan laki-laki itu.

“Apa maksudmu dengan Suga yang mengundangmu?” Bomi mundur membuat jarak diantara mereka.

“Aku memenuhi janjiku padamu dulu.”

“Janji?”

“Bukankah kau memintaku berjanji untuk menolong Suga jika dia mengalami kesulitan?”

Bomi terdiam mengingat kejadian masa lalu saat dirinya masih bermain bersama V. Gadis itu memang meminta V untuk berjanji menolong Suga sebagai balasan karena Suga sudah menolongnya.

“Terimakasih kau sudah memenuhi janjimu V. Aku harus pergi.” Bomi berbalik pergi meninggalkan V.

V menghela nafas kecewa melihat teman yang dulu senang bermain dengannya saat ini justru menjauhinya.

Seperti rencana semula Bomi berjalan menuju ruangan Jungkook. Namun langkahmya kembali terhenti saat melihat Yoon menghalangi jalannya. Yoon menatap Bomi dengan tatapan yang jauh dari kata ramah.

“Kupikir kau mengerti pembicaraan kita tempo hari Bomi.” Ucap Yoon dingin.

“Apa maksudmu Yoon?”

“Aku selalu berpikir kau teman yang baik dan selalu membantuku Bomi, tapi kau sudah melakukan cara kotor untuk melenyapkan Hyunji. Untuk kali ini aku akan memaafkanmu Bomi. Tapi tidak untuk lain kali. Bahkan aku akan mengusirmu dari sini jika kau menyakiti Hyunji.” Yoon berkata dingin dan meninggalkan Bomi.

Bomi mengepalkan tangannya dan menutup matanya menahan air mata yang ingin keluar. Hatinya terasa sakit melihat Yoon sangat membencinya.

“Kenapa kau tidak membela diri Bomi?” Bomi membuka matanya dan melihat Jungkook keluar dari ruangannya.

“Tidak ada gunanya membela diri tanpa ada bukti. Suga tidak akan percaya.”

“Pemikiran yang bagus.”

“Jadi apa maksudmu ingin melenyapkan Hyunji, jungkook-ah?”

“Kenapa kau berpikir aku yang melakukannya Bomi?”

“Mengubah alur ke kerajaan air, aku pernah melihat kau mempelajarinya Jungkook-ah. Dan aku sangat yakin buku itu pasti masih ada di ruanganmu.”

Terdengar tawa Jungkook mendengar analisis Bomi.

“Kau memang pintar Bomi. Tapi kau tidak bisa membuktikan hal itu pada Suga.”

“Aku memang tidak ingin membuktikan hal itu pada Suga. Aku punya tujuan lain.”

Jungkook tersenyum mengetahui apa yang ingin dilakukan Bomi.

*   *   *   *   *

Hyunji meregangkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil mengucek matanya, gadis itu bangun dari tempat tidurnya. Ada perasaan senang melingkupi hati Hyunji saat mendapati gadis itu berada di kamar yang besar itu di kerajaan air. Hyunji berjalan menyentuh kursi dan meja yang pernah di duduki Suga. Mengingat Suga gadis itu jadi bertanya-tanya apakah Suga sudah tahu kedatangannya.

Hyunji kembali berjalan keluar dari kamarnya. Udara hangat menerpa gadis itu. Hyunji menutup pintu kembali dan berjalan menjauhi kamarnya. Istana terlihat sangat sepi tak satupun orang yang ditemuinya. Kaki gadis itu terus melangkah hingga terhenti saat gadis itu melihat sebuah sungai. Ingatan saat Yoon mengirimnya pergi dari kerajaan air merasuki pikiran Hyunji. Hyunji masih ingat ucapan terakhir Yoon.

“Lebih baik Kau pulang Hyunji-ah. Selamat tinggal.”

Jika Yoon mengusirku kenapa dia membawaku kembali. Apa alasan Yoon membawaku kembali?

“Terkadang kau terlihat memberikan harapan tapi terkadang kau menutup diri. Kau membuatku bingung Yoon.” Hyunji menghela nafasnya.

“Nona Hyunji.” Hyunji menoleh dan tersenyum melihat Jin berjalan mendekatinya.

“Jin.”

Jin mengulurkan tangannya membelai rambut Hyunji yang tergerai.

“Nona tidak apa-apa?”

Ada perasaan senang dalam hati Hyunji melihat Jin begitu mengkhawatirkannya. Hyunji menahan bibirnya yang sangat ingin menyunggingkan senyumnya.

“Aku tidak apa-apa Jin-ah.”

Hyunji begitu terkejut saat Jin memeluknya. Tubuh Jin yang hangat terasa nyaman bagi Hyunji. Jin hanya terdiam tak mengatakan sepatah katapun namun Hyunji juga tak ingin merusak suasana yang terasa nyaman itu. Hyunji menyandarkan kepalanya di dada Jin berusaha melupakan pikiran tentang Yoon yang sangat menyakitkan untuknya.

“Hyunji.” Hyunji dan Jin langsung melepaskan pelukan mereka ketika mendengar teriakan Hayoung.

Dengan wajah ceria Hayoung berlari dan langsung memeluk Hyunji. Di belakang gadis itu terlihat Jimin yang begitu kelelahan mengejar Hayoung.

“Senang… Melihatmu… Kembali…. Hyunji…” Ucap Jimin terengah-engah.

“Senang juga melihatmu lagi Jimin.”

Hayoung melepaskan pelukannya dan cemberut. “Kau tidak senang melihatku?”

Hyunji tertawa melihat wajah Hayoung terlihat lucu.

“Tentu saja aku senang melihatmu Hayoung.” wajah Hayoung berubah ceria dan gadis itu kembali memeluk Hyunji.

Melihat kedekatan Hyunji dan Hayoung membuat Jin tersenyum. Mereka terlihat seperti sudah lama saling mengenal.

“Kau terlihat bahagia sekali Jin. Apa karena Hyunji kembali?” Goda Jimin yang melihat perubahan raut wajah Jin.

“Bukankah kau juga bahagia, Jimin-ah? Dengan kembalinya Hyunji kau tak tidak akan lelah lagi mendengar keluhan Hayoung bukan?”

Ekspresi jahil Jimin menghilang mendengar pembalasan Jin. Dengan ketakutan Jimin menoleh ke arah Hayoung. Sesuai dugaan lelaki itu, saat ini wajah Hayoung terlihat seperti Singa betina yang sedang marah. Wajahnya sedikit memerah, hidungnya kembang kempis dan tatapan tajamnya mengarah ke arah Jimin yang sudah merinding ketakutan.

“Jadi Oppa tidak mau mendengar keluhanku? Baik. Jangan berbicara lagi denganku.” Hayoung berbalik dan beranjak pergi. Langkah kakinya yang menghentak keras menunjukkan betapa emosi gadis itu. Angin kencangpun melewati Hyunji, Jin dan Jimin. Jin menarik Hyunji ke dalam pelukannya melindungi gadis itu dari angin itu. Angin itu berlalu mengikuti Hayoung.

“Aiishh…. Kau menang Jin-ah. Hayoung-ah tunggu.” Jimin berkata dan berlari mengejar Hayoung.

Hyunji masih terdiam dalam pelukan Jin. Jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Hyunji memegang dadanya berusaha menahan suara detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Jin.

“Terimakasih Jin.” Ucap Hyunji melepaskan pelukan Jin.

“Tak perlu berterimakasih nona, sudah tugasku melindungi nona.”

Tangan Jin terulur membersihkan debu di rambut Hyunji. Tangannya terhenti saat tatapan mereka bertemu. Hyunji bisa melihat manik mata hitam Jin menatap lurus ke arahnya. Tangan Jin yang berada di puncak kepala Hyunji sekarang turun hingga pipi Hyunji merasakan hangatnya tangan lelaki itu. Jin menyunggingkan senyumannya.

“Hayoung selalu membawa angin besar jika sedang marah, jadi jangan sampai kau membuatnya marah atau kau akan melihat istana ini hancur berantakan.” Hyunji tertawa mendengar candaan Jin.

“Terimakasih sarannya Jin.”

*   *   *   *   *

Di jalan setapak dalam istana, Suga berjalan diikuti Kimbum yang setia berada di belakangnya dan Jungkook yang terlihat santai mengikuti Suga menuju ruangannya. Dari arah berlawanan Bomi berjalan dengan wajah yang terlihat sedih. Langkah gadis itu terhenti saat matanya menangkap sosok Suga.

Jungkook melihat Bomi dan tahu apa yang gadis itu pikirkan. Suga terus berjalan tanpa sedikitpun menatap Bomi. Bomi menunduk sedih dengan sikap dingin Suga. Jungkook melihat Suga terus berjalan dengan eskpresi dingin seperti biasanya.

“Kau begitu dingin dengan Bomi. Apa terjadi sesuatu?” Tanya Jungkook pura-pura tidak tahu.

“Bomi pantas mendapatkannya karena sudah membuatku marah. Tapi karena hal itu juga yang membuatku bisa mengambil keputusan.” Jawab Suga tanpa menghentikan langkahnya.

“Keputusan? Keputusan apa?”

Suga berhenti melangkah dan berbalik.

“Aku akan menikahi Hyunji. Itulah keputusanku.” Suga kembali berbalik meninggalkan Jungkook yang masih terdiam di tempat. Lelaki itu masih memandangi Suga berjalan menjauhinya dengan Kimbum di belakangnya. Kedua sudut bibir Jungkook melengkung membentuk senyuman.

“Sesuai tebakanku kau akan menikahinya Suga.”

Jungkook merasakan bayangan hitam berlari dengan cepat dan muncul di belakangnya. Tanpa menoleh Jungkook tahu siapa pelakunya.

Jungkook berbalik dan membungkuk memberi hormat. “Apa kabar yang mulia?”

“Kau tahu sekali bagaimana keadaanku Jungkook. Apa kau sudah mendapatkannya?”

“Sebentar lagi aku akan mendapatkannya yang mulia. Semuanya berjalan sesuai rencanaku. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja yang mulia.”

“Baguslah. Jangan mencoba melanggar perjanjian kita Jungkook atau kau akan tahu akibatnya.”

“Iya yang mulia. Saya mengerti.” Bayangan hitam itu kembali terbang dan bersembunyi di bayangan-bayangan lainnya.

*   *   *   *   *

Tookk…. Tookk… Tookk…

“Masuk.” Ucap Suga tanpa berhenti menggoreskan kuas membentuk tulisan-tulisan yang indah.

Pintu ruangan Suga terbuka. Terlihat Hyunji melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu. Mata gadis itu menatap gerak-gerik Suga waspada. Hyunji mendekat dan kagum melihat kaligrafi yang Suga buat. Goresan-goresan yang di buat Suga terlihat tegas dan indah di waktu yang sama.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Suga menyadarkan Hyunji.

Hyunji terdiam, dia terlihat bingung harus bagaimana bertanya pada Suga. Suga mendongak ketika tak mendengar jawaban Hyunji.

“Katakan saja.” Ucap Suga.

“Hmm… Apa kau tidak akan mengusirku Suga? Bukankah aku sudah pergi dari kerajaan air dan sekarang muncul kembali seenaknya?”

“Untuk apa aku mengusirmu jika aku ingin kau tetap berada di sini?” Hyunji tersenyum mendengar  jawaban Suga.

Hyunji melihat Suga mencelupkan kuas ke dalam tinta lalu kembali membuat kaligrafi lainnya. Gadis itu begitu tertarik dengan kegiatan Suga.

“Bolehkah aku mencobanya?” Tanya Hyunji mengalihkan perhatian Suga.

Tanpa menjawab Suga menganbil gulungan kertas dan meyerahkannya pada Hyunji. Hyunji membuka gulungan kertas itu dan mengambil kuas lalu mencelupkannya ke dalam tinta. Hyunji terdiam bingung ingin menulis apa.

“Apa yang harus aku tulis?” Lagi-lagi Suga harus menghentikkan kegiatannya.

“Tulis saja 水 shui (air) Kata itu paling mudah.”

“Hhmm… Kau benar.”

Suga kembali melanjutkan kaligrafinya sedangkan Hyunji mulai menggoreskan kuasnya dan goresan hitampun muncul di atas kertas. Gadis itu terlihat serius saat membuat kata air. Bahkan gadis itu menggigit bibir bawahnya memperlihatkan betapa seriusnya dia. Namun sayang goresan-goresan yang di buat Hyunji tidaklah sebagus milik Suga. Hyunji mendengus kesal dan bibirnya mengerucut tidak puas dengan hasil karyanya.

Hyunji mendongak dan melihat Suga sangat serius membuat kaligrafi. Hyunji terus menatap wajah Suga yang begitu menarik. Terlintas sebuah ide di pikiran gadis itu. Hyunji tak lagi membuat kaligrafi. Hyunji menggunakan kuas dan tinta hitam itu membuat sebuah lingkaran. Hyunji kembali mendongak mempelajari wajah Suga dengan seksama lalu Hyunji melukis rambut pendek Suga. Garis-garis hitam menutupi dahi Suga terlihat sama dengan aslinya.

Selesai dengan rambut Suga, Hyunjipun menggambar semua indera yang ada di wajah Suga. Hyunji terkekeh sendiri melihat hasil gambarnya. Terganggu dengan suara Hyunji, Suga menoleh.

“YA! Apa yang kau gambar huh?” Teriak Suga mengagetkan Hyunji.

“Sulit sekali membuat kaligrafi, lebih mudah menggambarmu saja.”

Suga mendengus kesal terganggu dengan gambaran Hyunji yang lebih mirip seorang badut dibandingkan dirinya.

“Jelek.” Suga mencoret-coret gambar Hyunji hingga menjadi bulatan hitam.

“YA!! Itu gambaranku.”

“Sangat jelek.”

Hyunji mendengus kesal. Gadis itu mencelupkan kembali kuasnya dan membuat bulatan hitam yang sama di tulisan Suga.

“Tulisanmu juga jelek. Weeekk..” Hyunji menjulurkan lidahnya.

Suga terkejut melihat tulisan indahnya sekarang menjadi bulatan hitam besar yang acak-acakan.

“Jadi kau ingin balas dendam ne? Rasakan ini.” Suga mencoretkan kuasnya di pipi Hyunji.

“Lihatlah wajahmu sekarang.” Suga tertawa melihat wajah Hyunji dengan coreng hitam di pipinya.

Tawa Suga terhenti saat merasakan goresan di pipinya.

“Rasakan itu.”

Akhirnya timbulah perang tinta yang membuat wajah dan pakaian mereka berwarna hitam. Mereka tertawa saat saling melihat wajah mereka yang terkena tinta hitam.

Dari kejauhan Bomi mengepalkan kedua tangannya tak menyukai kedekatan Suga dan Hyunji. Tatapan penuh kebencian terlihat di manik mata gadis itu.

“Apa kau masih menyukai Suga?” Tanpa menoleh Bomi bisa tahu itu adalah V.

Bomi terdiam tak mengalihkan pandangannya dari Suga dan Hyunji yang masih asyik bercanda. V menatap Bomi kecewa. Di saat ada Suga, Bomi selalu melupakan segalanya bahkan dirinya. V menggenggam tangan Bomi menyadarkan gadis itu. Tanpa ijin gadis itu, V menarik tangannya.

“Lepaskan. Aku tidak ingin pergi denganmu.” Ketus Bomi.

“Kenapa? Apa kau takut monster ini akan menyakitimu?”

“Ciiihh…. Mana mungkin aku takut padamu V, justru kaulah yang akan berlari ketakutan saat awanku mengejarmu V.”

V tertawa akhirnya bisa menemukan Bominya seperti dulu.

“Kau masih sama saja Bomi.”

V melepaskan tangannya dan tubuh manusia berubah menjadi seekor Kijang. Kijang itu mengendus-endus Bomi menyuruh gadis itu naik ke punggungnya.

“Kau menyuruhku naik ke punggungmu seperti dulu?” Tanya Bomi dan kijang itu mengangguk.

Kijang itu sedikit membungkuk agar mempermudah Bomi untuk naik. Bomi tersenyum tipis mengingat masa lalunya yang selalu bermain di atas punggung kijang itu. Setelah Bomi naik, Kijang itu mulai berjalan pelan lalu semakin lama semakin cepat hingga kaki kijang itu tak menyentuh tanah.

Bomi sangat merindukan sensasi saat tubuhnya jauh di atas tanah. Angin berhembus menerpa wajah gadis itu. Bomi menyunggingkan senyum senangnya. Gadis itu melihat ke bawah, istana kerajaan air terlihat sangat kecil seperti semut.

Kijang itu terus terbang menjauhi kerajaan air. Tangan Bomi terulur menyentuh awan yang di lewatinya. Awan itu terasa lembut di tanganya lalu menghilang. Bomi merasakan tubuh Kijang itu semakin turun menuju hutan yang di penuhi banyak sekali pepohonan. Bomi memegang leher Kijang itu saat mereka mendarat di dalam hutan. Pendaratan berjalan dengan mulus, Bomipun turun setelah Kijang itu berhenti. Lalu kijang itu berubah kembali menjadi V.

“Apa kau ingat tempat ini? Ayo.” V menarik tangan Bomi.

Bomi merasa tempat itu tidak asing baginya. Bomi terus melihat tempat yang di kelilingi pepohonan itu seraya mengingat masa lalunya. Tak jauh dari mereka terlihat sebuah goa. V menariknya menuju gua itu.

“Apa kau masih tidak ingat?” Tanya V saat berhenti di depan gua yang gelap itu.

“Tidak.”

“Akan kutunjukkan sesuatu yang dulu sering kau sukai.”

V mengajak Bomi masuk ke dalam gua yang gelap itu. Mata kijang yang dimiliki V mempermudah lelaki itu melihat dalam kegelapan. Bomi tidak terlihat takut memasuki goa itu. Gadis itu terus mengikuti V yang berjalan di depannya. Langkah V terhenti begitupula Bomi. Bomi merasakan V berpindah di belakangnya.

“Bertepuklah.” Bisik V.

Bomi tak bergeming mendengar bisikan V.

“Bukankah dulu kau menyukainya? Lakukanlah?” Bisik V kembali.

Bomi memang merasa pernah kemari sebelumnya namun gadis itu sulit mengingatnya. Bomi mengulurkan kedua tangannya dan menyatukannya menimbulkan suara yang keras. Terdengar bunyi cicitan hewan diikuti suara kepakan sayap. Terlihat cahaya berwarna hijau aquamarine muncul dari hewan-hewan yang berterbangan. Cahaya itu menerangi goa sehingga Bomi bisa melihat sekelilingnya. Hewan-hewan yang berjumlah ratusan itu berterbangan mengelilingi Bomi dan V. Tiba-tiba Bomi teringat kejadian ini di masa lalu.

~~~FLASHBACK~~~

“Hicks…. Hicks…. Hicks….” Terdengar isakan tangis dari Bomi kecil.

Gadis kecil itu terduduk di bawah pohon dengan meeluk lututnya. Kegelapan mulai menyelimuti hutan itu. Hal itu membuat Bomi semakin ketakutan.

“A.. Abeoji…. Eoomma…” Panggil Bomi masih terisak.

SREKK… SRREEKK…

Bomi terdiam mendengar suara tak jauh darinya. Wajah Bomi tampak pucat karena ketakutan. Bomi bangkit berdiri dan menempel di pohon besar tempatnya bersandar. Matanya menjelajahi sekelilingnya dan bersikap waspada.

“Sii… Siapa itu?” Teriak Bomi.

Terdengar suara langkah mendekat membuat Bomi semakin ketakutan. Tanpa gadis itu sadari emosinya menimbulkan kilat di langit. Bahkan langit mulai bergemuruh. Suara langkah itu mendekat, mendekat dan terus mendekat hingga akhirnya Bomi bisa melihat seekor rusa berhenti berlari menatap Bomi. Tanduk besar dan mata merah besar yang dimiliki rusa itu membuat rusa itu terlihat seperti monster. Rusa itu terus menatap lurus ke arah Bomi. Kakinya melangkah dan Bomi terperanjat kaget.

“Ja-Jangan mendekat. Aku tidak takut padamu. Aku akan membuat tubuhmu terbakar dengan petir yang kupunya.” Ancam Bomi diikuti suara petir yang sangat keras.

Rusa itu berhenti melangkah lalu tiba-tiba angin terbang mengelilingi rusa itu dan tubuh rusa itu berubah menjadi seorang anak laki-laki tampan dengan rambut coklatnya. Anak laki-laki itu melayangkan senyuman manisnya.

“Benarkah kau tidak takut padaku?” Bomi terlihat bingung mendengar pertanyaan laki-laki itu.

“Tentu saja. Untuk apa aku takut padamu. Justru kaulah yang akan berlari ketakutan saat awan petirku mengejarmu.” Seketika terdengar tawa renyah dari anak laki-laki itu.

“Jika kau tidak takut padaku, apakah kau mau berteman denganku? Namaku V.” Ucap V mengulurkan tangannya.

Bomi masih terdiam menatap tangan putih V.

“Kenapa kau diam? Bukankah kau bilang tidak takut padaku?” Tanya V kembali.

Bomi merasa tertantang dengan ucapan V. Akhirnya gadis itu mendekati V dan membalas uluran tangan lelaki itu.

“Siapa namamu?” Tanya V tersenyum.

“Bo-Bomi.”

“Bomi-ah apa kau habis menangis?”

Dengan punggung tangannya, Bomi langsung membersihkan jejak air mata di pipinya. Gadis itu tak ingin menunjukkan kelemahannya pada V.

“Aku tidak menangis.”

V tersenyum senang untuk pertama kalinya laki-laki itu bertemu dengan gadis yang pemberani dan kuat seperti Bomi.

“Ikutlah denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

V menarik tangan Bomi namun gadis itu tak bergerak sama sekali. V berbalik dan mendapati Bomi menatapnya penuh waspada.

“Kau tenang saja bukankah kau bilang awan petirmu akan mengejarku jika aku menyakitimu. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu yang akan kau sukai.”

Awalnya Bomi ragu namun akhirnya gadis itu mengikuti V saat lelaki itu menariknya. Mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap. Hanya ada sinar bulan yang mengintip dari celah pepohonan yang menerangi dalam hutan itu. Bomi melihat sekelilingnya merasakan aura buas menghindarinya.

V terus menariknya hingga mereka sampai dalam gua yang gelap. Bomi menelan ludahnya sedikit merinding melihat dalam gua yang lebih gelap. V menariknya masuk dan Bomipun tak bisa melihat sekitarnya.

“Bagaimana bisa kau melihat dalam kegelapan?” Bomipun menyadari sedari tadi mereka tak menyandung apapun dalam kegelapan itu.

“Mata rusaku bisa melihat dalam gelap. Jadi ikuti saja aku.”

Bomi tak bertanya lebih lagi, gadis itu terus mengikuti V sebagai penunjuk jalan. Langkah V berhenti diikuti Bomi juga berhenti di sampingnya.

“Lihatlah kau pasti menyukainya.” Bisik V.

PLOOKKKK….

Terdengar suara tepukan tangan V. Tiba-tiba gua yang tenang itu menjadi berisik oleh suara banyak hewan. Bomi terpana saat melihat cahaya berwarna hijau kebiruan yang terang bergerak-gerak. Bomi baru sadar jika sinar itu berasal dari hewan yang terbang. Hewan-hewan itu terbang membentuk formasi lingkaran mengelilingi Bomi dan V.

“Indah sekali.” Takjub Bomi.

“Betulkan kataku kau pasti menyukainya. Mereka adalah pak-jwi, kelelawar yang bisa bercahaya.”

Pak-jwi? Kenapa aku baru mendengarnya?”

“Karena pak-jwi hanya hidup di hutan Sae ini, dan tidak ada seorangpun yang berani ke hutan Sae karena mereka takut padaku.”

“Takut padamu? Apa kau adalah monster Baekho yang banyak di bicarakan orang-orang itu?”

V menunduk dengan wajah sedihnya mendengar panggilan yang diberikan orang-orang padanya.

“Menurutku kau tidak semenyeramkan seperti yang orang-orang katakan.” Wajah V berubah ceria mendengar ucapan Bomi.

“Apakah kau mau menjadi temanku Bomi-ah?”

“Tentu saja. Lagipula jika kau menyakitiku aku pasti akan menyambarmu dengan petirku.”

Mereka tertawa bersama dan kembali mengagumi pak-jwi.

~~~FLASHBACK END~~~

Pak-jwi.” Gumam Bomi membuat V tersenyum.

“Kau sudah mengingatnya?”

“Ne. Aku ingat kau mengajakku kemari saat pertama kali kita bertemu.”

Bomi tersenyum dan masih mengagumi Pak-jwi yang masih terbang dengan cahaya indahnya. Tanpa gadis itu sadari V berjalan ke belakang gadis itu dan memeluknya. Bomi tampak terkejut merasakan kedua tangan V melingkar di perutnya.

“Jika saja aku tak mengucapkannya apakah kita bisa kembali seperti dulu?”

Bomi terdiam tak berniat menjawab pertanyaan V. Hal itu membuat V menghela nafas kecewa. V melepaskan pelukannya dan menarik tangan Bomi.

“Aku akan mengantarmu kembali.” Ucap V tanpa memandang Bomi.

*   *   *   *   *

“Ayolah Hayoung-ah, berhentilah merajuk seperti ini kau membuatku menderita.” Mohon Jimin mengkuti Hayoung yang terus berjalan.

“Hayoung-ah aku mohon maafkan aku.” Haypung berhenti melangkah dan menatap Jimin kesal.

“Tidak.” Ketus Hayoung meninggalkan Jimin.

Jimin menghela nafas dan kembali mengejarnya.

“Ayolah Hayoung, siapa yang akan bermain kejar-kejaran jika kau marah?”

“Kejar-kejaran? Bukankh kau lelah mendengar keluhanku untuk apa kita main kejar-kejaran?”

GREPP…

Jimin memeluk tubuh Hayoung agar berhenti melangkah.

“Lepaskan aku…. YA!! LEPASKAN AKU PARK JIMIN!!!!” Teriak Hayoung dan seketika angin kencang berhembus mengelilingi mereka.

“Tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau memaafkanku.” Ucap Jimin seraya menutup mata untuk melindungi matanya dari debu berterbangan terbawa angin. Hayoung sengaja membuat angin semakin kencang namun Jimin tak kunjung melepaskan pelukannya justru lelaki itu semakin erat memeluk tubuh kekasihnya. Akhirnya anginpun semakin reda dan Jimin mulai membuka matanya. Angin kencang tadi sudah membuat tanah menjadi tak beraturan.

“Baiklah aku akan memaafkanmu jika kau mau melakukan satu syarat dariku Oppa.”

“Apapun akan kulakukan asalkan kau memaafkanku Hayoung-ah.”

Hayoung melepaskan pelukan Jimin lalu berbalik menghadap Jimin dengan senyuman penuh arti.

“Gendong. Aku lelah Oppa. Gara-gara Oppa aku jadi lelah berjalan.”

Ingin sekali saat ini Hayoung tertawa melihat wajah bodoh Jimin namun gadis itu tak ingin merusak suasana.

“Baiklah.”

Hayoung begitu terkejut saat Jimin mengangkat tubuhnya ala bridal.

“Jadi kita mau ke mana Dewi angin?”

“Ke taman Oppa. Ayoo…” Teriak Hayoung memberi perintah.

*   *   *   *   *

Di atas rerumputan V duduk seraya memandang langit yang terlihat sepi oleh bintang-bintang. Wajahnya tak menunjukkan rasa senang sama sekali. Pikirannyapun kembali ke masa lalu saat terakhir kali dia melihat Bomi.

~~~FLASHBACK~~~

V tengah mememetik berbagai bunga dan merangkainya menjadi satu buket bunga yang terlihat cantik. V tersenyum senang melihat betapa indahnya bunga yang dikumpulkannya. V berbalik ketika mendengar suara derap lari seseorang mendekat. Senyuman V semakin melebar melihat seorang gadis berlari mendekatinya. Tapi senyum itu menghilang melihat air mata turun di pipi gadis itu.

“Ada apa Bomi? Kenapa kau menangis?”

Belum menjawab, Bomi menghambur kepelukan V. Laki-laki itu hanya menepuk pelan punggung Bomi menenangkan gadis itu.

“Suga… Suga… Dia akan menikah dengan orang lain.” Ucap Bomi ditengah tangisnya.

V terkejut mendengar ucapan Bomi. Laki-laki itu tahu betul jika Bomi sangat menyukai Suga.

“Aku tidak bisa membuat Suga dimiliki orang lain. Apa yang harus kulakukan V?” Bomi melepaskan pelukannya dan menatap V penuh harap. V begitu kecewa dengan tatapan itu namun lelaki itu berusaha tersenyum dan tangannya terulur menghapus air mata yang masih basah di pipi Bomi.

“Lupakan dia Bomi.”

Bomi terdiam begitu terkejut dengan ucapan V.

“Kenapa kau mengatakan hal bodoh itu V. Bukankah kau temanku, seharusnya kau membantuku V.”

“Suga tak pernah mencintaimu Bomi, sadarlah. Aku hanya tak ingin kau…”

“CUKUP!” Teriak Bomi menghentikan ucapan V.

Tatapan penuh amarah Bomi layangkan pada V.

“Kau bukan Suga, jadi kau tidak tahu apapun tentang perasaan Suga.”

“Tapi Bomi…”

“Cukup V. Aku tak ingin lagi berteman denganmu. Aku membencimu.” Bomi berlari meninggalkan V.

Hati V terasa hancur mendengar gadis yang disukainya malah membenci dirinya sekarang. V menatap sedih melihat Bomi semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.

~~~FLASHBACK END~~~

“Bomi.” Gumam V sedih.

TEKK…

V menoleh saat mendengar suara ranting patah. Tampak Hyunji tersenyum canggung ke arah V.

“Maaf jika aku mengganggumu.” Sesal Hyunji.

“Bukankah kau gadis yang kemarin?”

Hyunji tersenyum mendekati V lalu duduk di samping laki-laki itu.

“Ne. Aku Hyunji. Kau?”

“Panggil saja aku V.”

“Apa yang kaulakukan di malam-malam begini V?”

“Hanya sedang menyesali masa lalu.”  Ucap V memandangi langit malam.

“Menyesali masa lalu? Apa kau melakukan kesalahan di masa lalu?”

“‘Ne. Aku melakukan kesalahan yang membuat seseorang membenciku.”

“Kenapa kau tak meminta maaf saja padanya?”

V menoleh dan tersenyum pada Hyunji.

“Tidak semudah itu Hyunji. Dia tak akan memaafkanku.”

“Kau kan belum mencobanya. Jangan menyerah. Aku yakin orang itu pasti bisa memaafkanmu. Aku harus pergi. Sampai jumpa.” Hyunji berdiri dan berjalan meninggalkan V.

“Hyunji.” Hyunji berbalik menengar V memanggilnya.

Gomawo.”

Hyunji tersenyum senang. “Ne. Semoga berhasil.”

V kembali mendongak dan menyunggingkan senyuman seakan tersenyum pada bintang-bintang.

“Aku tidak akan menyerah Bomi. Karena aku menyukaimu.”

Di sisi lain Hyunji terus berjalan menyusuri jalanan istana hingga akhirnya langkahnya terhenti saat melihat Yoon menunggunya di jembatan. Posisi Yoon yang membelakangi membuat lelaki itu tak menyadari kedatangan Hyunji. Yoon menoleh mendengar suara langkah kaki mendekat. Kedua sudut bibirnya melengkuk membentuk senyuman saat tatapannya bertemu dengan Hyunji.

“Yoon? Apa yang kaulakukan di sini?”

“Menunggumu.”

“Menungguku?”

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Hyunji terdiam mengamati wajah Yoon berusaha mencari tahu apa yang ingin  laki-laki itu katakan.

“YOON!!!” Yoon yang hendak berbicara mengurungkan niatnya saat mendengar teriakan memanggilnya.

Yoon dan Hyunji menoleh dan melihat Jimin berlari dengan Hayoung dalam gendongannya.

“Ada apa kalian sepanik itu?”

“Ada seorang gadis yang dipersembahkan untuk pengantin Suga.” Ucap Hayoung.

Hyunji terpaku mendengar ada gadis lain yang bernasib sama dengannya.

“Bukankah Suga sudah memiliki calon pengantin, jadi dia tak perlu lagi calon pengantin yang lain bukan?”

“Tapi gadis itu bisa mati jika kau tidak segera menolongnya Yoon.” Panik Hayoung.

Hyunji terdiam memikirkan jika gadis lain juga akan menjadi calon pengantin Suga, akankah dia harus berbagi Suga bersama gadis itu? Pikiran itu membuat Hyunji tak nyaman namun Hyunji bukanlah gadis jahat yang tega membiarkan orang lain mati karena keegoisannya.

“Tolonglah dia.” Yoon tampak terkejut mendengar ucapan Hyunji.

“Apa kau yakin dengan ucapanmu Hyunji?”

“Ne.” Hyunji mengangguk.

“Kau tidak akan menyesal?”

Hyunji terdiam sejenak lalu gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Yoon.

“Baiklah aku akan menolongnya.” Yoon berkata lalu menghilang.

“Apa kau yakin menolong gadis lain yang akan menjadi sainganmu Hyunji?” Tanya Jimin.

“Tidak. Aku tidaklah sejahat itu Jimin. Aku tak bisa membiarkan orang lain mati demi keegoisanku.”

“Kau baik sekali Hyunji. Tidak salah aku menyukaimu.” Hayoung melompat dari gendongan Jimin dan memeluk Hyunji.

Hayoung melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada gadis yang sudah di anggapnya sebagai teman.

“Jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuan….” Ucapan Hayoung terhenti dan wajah Hayoung terlihat terkejut.

“Ada apa Hayoung-ah?” khawatir Hyunji.

“Sepertinya Hayoung melihat sesuatu. Apa yang kau lihat Hayoung?”

“Gadis itu…”

“Gadis siapa Hayoung-ah?” Bingung Hyunji.

“Gadis yang tolong Yoon, dia….”

Hyunji dan Jimin terdiam menunggu Hyunji meneruskan ucapannya.

“Wajahnya sangat mirip dengan Naeun.” Ucap Hayoung membuat Hyunji dan Jimin terkejut.

Yoon berhasil menolong gadis itu dan menidurkannya di pinggir kolam. Tangannya terulur menyingkirkan rambut hitam panjang yang menutupi wajah gadis itu. Yoon terperanjat kaget melihat wajah gadis itu yang tak begitu asing baginya. Dengan tatapan tak percaya Yoon menyentuh pipi gadis itu. Kulit putih dan halus itu masih sama seperti dulu. Tangan Yoon beralih ke bibir gadis itu yang pucat. Perasaan Yoon bercampur aduk saat mendapati gadis itu sama persis dengan gadis yang dulu dicintainya.

tumblr_lzckpuudcx1royi3qo1_500

“Naeun?” Gumam Yoon.

~~~TBC~~~

12 thoughts on “(Chapter 4) Find Love To Find Life (F.L.T.F.L)

  1. yosshaaa akhirnya kelar baca chapt 2-4 kkkkkk xD

    dudududuuuu Naeun balik lagiii
    duh makin complicated niih orang-orang di kerajaan air ~~
    pasti ini strateginya Jin Jhope dkk deh hmmm

    well, wait for next chapt ._.

    jyaa nee^^

  2. Uuh akhirnya keluar juga. Chapter ini krg ngena feelnya. Alurnya agak kecepetan thor. Aplgi pas flashback itu kaya terkesan terburu buru nyeritainnya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s