ANOTHER BETWEEN

 Photo_Lab_1

 

 Main cast ||  Park Jiyeon feat Choi Minho

Support Cast || Ga ada/dunia milik berdua

Genre || Sureallism/Romance/hurt

Length|| Ficlet

Rating || G

Disclaimer || The Story is mine, Cast belongs to Unknown…??? /Sebelumnya FF ini dengan main cast DaeJae. 

 

 

Sepertinya aku mememukanmu di sisi kerinduanku

Beranjak pada batas-batas malam yang semakin menghilang

Sepiku kini menjadi penyiksaan 

Dan hari-hari yang teramat panjang,

 Menjadi penantian akan sisa kehidupan…………

 

.



 

Pagi,

 

Ini adalah pagi yang ke sekian kalinya dalam jurnal harianmu.  Teramat panjang, seperti tanpa batas.  Hari ini dan hari-hari yang membuatmu tertegun pada waktu. Aku begitu terharu dalam benakku.  Sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu.

 

Seperti biasanya, aku selalu menemukanmu di pantry. Kau terbiasa untuk menentukan menu sarapan untukku. Tidak ada yang menyuruhmu untuk melakukan hal itu. Dan akupun tidak pernah melarangmu.  Itu adalah hal yang paling aku sukai darimu.  Kau menyayangiku.

 

Namun pada akhirnya, aku merasakan kerinduanmu. Langkahmu yang gontai berjalan pada lantai-lantai dingin. Jelas tanpa celah bahagia di antara bias mentari yang menerpa wajahmu. Kau sendu. sungguh, ini masih teramat pagi untuk itu, Younjae. Bisikku.

 

“Hmm!”  Gumammu.

 

Langkahmu terhenti pada sisi jendela. Mencoba menyapa pagi dengan senyummu. Aku tahu, aku begitu rindu untuk menikmati pagi lagi bersamamu. Tak urung memelukmu. Merasakan tubuh hangatmu dalam balutan hitam yang sama sepertiku. Ini indah, Sayang.

 

Kau gundah. Matamu mulai berkilau, dan telaga itu seperti lautan kesedihan yang tak terbendung. 

 

“I miss you !” Pada angin dan kesibukan ranting.ranting di pepohonan.

 

“I miss you too  ! ” jawabku.

 

Dan ritual pagi ini berakhir. Langkahmu tertuju pada setumpuk kesibukkan di pantry.

 

“Kau ingin makan apa untuk sarapan pagi ini, Sayang?” Tanyamu sambil melintas..

 

“Apa saja.” Jawabku.

 

“Bagaimana kalau soup  dan pasta ayam?” Ujarmu menawarkan.

 

“Hm, itu terdengar enak!” Jawabku lagi.

 

“Lalu truffle untuk cuci mulutnya.”  Lanjutmu dengan semangat.

 

“Itu terlalu banyak. Aku takut kau lelah.”

 

“Aku tidak ingin kau kelaparan!”

 

“Aku tidak akan kelaparan.” Bantahku cepat.

 

Hm, kebiasaan yang sama. Pertengkaran kecil yang membuat manis hubungan kita . Ini lucu, meskipun aku marah dan selalu membuatmu kesal, namun kau tidak pernah membantahku.  Tapi tidak kali ini.

 

“Kau tenang saja, kau pasti suka dengan menu pagi ini.”

 

“Ya. ”  aku bisa menerimanya kali ini.

 

Lalu kau mulai sibuk dengan sayur-sayuran itu. Tanganmu sungguh cekatan dengan pisau. Lincah saat memotong wortel, dan kentang dan beberapa bawang.  Kau terlihat sangat seksi. Aku menunduk dan tersenyum. Selama ini aku tidak pernah menyadari hal itu. Hatiku tiba-tiba tercabik.

 

Terduduk pada sisi jendela. Menanti hingga waktu makan. Hanya menatapmu.  Sangat menjemukan. Bahkan aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Aku sangat khawatir kau akan lelah.

 

“Sayang, tidak apa-apa kan jika aku tambahkan sedikit bubuk cabe ke dalam soupmu?” Tanyamu padaku.

 

“Tidak apa-apa. Aku suka masakan pedas. “

 

“Aku pikir juga tidak akan jadi masalah.”

 

“Tentu.”

 

Tidak ada yang istimewa dengan meja makan kita.  Ini sangat sederhana.  Dan hanya kita saja yang bisa merasakan betapa, pagi ini kita sangat berbesa. Tentu saja. Kau memindahkan posisinya dekat dengan jendela, sehingga selera makan kita menjadi luar biasa.

 

“Aku lupa sesuatu!” Ujarmu tercekat.

 

“Apa?” Tanyaku bingung.

 

“Aku lupa membeli bunga!” Katamu panik.

 

“Itu tidak perlu.”

 

“Kau ingin bunga apa untuk hari ini, Oppa?”

 

“Sudah aku bilang, aku tidak butuh bunga. Jangan membuatku kesal dengan urusan tidak berguna seperti itu, Jiyeon!” Hardikku keras.

 

“Sebaiknya aku membeli bunga dulu!” Kau tidak mendengarkanku.

 

Kau langsung melangkah pergi. Meninggalkanku di meja makan sendiri. Tidak lama aku melihatmu berjalan di trotoar dari balik jendela ini. Keras kepala!

 

Setidaknya aku melihatmu  tersenyum. Meskipun pada sinar matamu, kau menyembumyikan kerlip kesedihan itu. Senyummu rancu ditingkah kesepian hati. Sejenak seperti ingin berpegang. JIYEOOOON! Jerit batinku mengais tangis.  Terduduk di emperan jalan. Termenung menatap tanpa arah. Ini kesekian kalinya kau merasa hilang.

 

“Minho Oppa…!” Panggilmu lagi dengan suara parau.

 

“Kau kenapa lagi ?” Tanyaku saat menyandinginya.

 

“Aku rasa white Lily sangat senada untuk kesan hari ini.”

 

“Jadi kau masih memikirkan masalah bunga.”

 

“Hm…Ya. White Lily.”

 

Kembali menekuni trotoar yang teduh oleh pohon-pohon. Dan sinar mentari menciptakan bayang-bayang ranting dan daun yang bercengkrama.  Silir-silir angin menemanimu langkahmu yang tak selunglai tadi. Kenapa hanya karena masalah bunga, kau sampai segila ini. Kemarin, adalah hari untuk bunga anyelir. Kemarinnya lagi adalah untuk bunga mawar kuning. Lalu besok dan besoknya lagi.

 

Siang.

 

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk memasak, kini kau lebih memilih untuk diam di sofa. Membaca sebuah buku yang sebelumnya pernah kau baca. Buku setebal itu, sungguh sangat membosankan. Aku selalu mengeluh jika kau memutuskan untuk mengacuhkanku dengan kegiatanmu itu. Dan aku selalu menggangumu tanpa ampun.

 

.

 

.

 

.

 

Flash back.

 

.

 

.

 

“Jiyeon!”

 

“Ya!” Jawabmu, sambil terus membaca buku.

 

“Dia mana kau simpan kaos kaki bergambar Mario Brosku?” Teriakku dari dalam kamar.

 

“Huh! Selalu saja..! Di laci lemari!” Balasmu tak kalah keras.

 

“Tidak ada!”

 

“Cari dengan teliti!”

 

“Sudah. Tidak bisakah kau ke sini? “

 

“Oppa, aku capek! “

 

“Please, aku buru-buru, Sayang!”

 

Hhh, dengan embel-embel ‘Sayang” tentu saja kau pasti meninggalkan buku itu dan datang menghampiriku di kamar. Ini sunguh menyenangkan .

 

“Kau kenapa selalu cari gara-gara denganku!” Kau datang dengan marah-marah. Tapi tak urung membuka pintu lemari untuk mencarikan kaos kaki untukku. Aku tersenyum geli.

 

“Kau bahkan tidak berusaha sedikitpun, Minho Oppa! Kau selalu merepotkan aku!” Kau terus menggerutu sambil melemparkan kaos kaki ke atas kasur. Matamu seperti berapi-api. 

 

“Apa kau marah  ?” Tanyaku sambil menarik tangannya dan menggenggamnya. Kulemparkan senyuman semanis mungkin hingga kau tersipu.

 

“Sedikit!” Jawabmu sambil menepiskan tanganku.  Tapi aku mengambilnya lagi, lalu kau tepiskan lagi. Begitu seterusnya hingga kau tertawa.  Dan aku berhasil membuatmu melupakan buku itu.  Berkali-kali kau selalu protes tentang waktu pribadimu dengan buku-buku itu padaku.

 

“Tidak bisakah aku menikmati waktuku dengan bukuku, Oppa?”

 

“Bisa. Tapi jika tidak ada diriku. ” jawabku tegas.

 

Kau menyandarkan kepalamu di dadaku. Sambil menikmati acara tv yang tak terlalu penting, karena kenyataannya kita tidak pernah menonton tv sampai akhir. Kesibukan kita jauh di atas segala-galanya. Aku sangat suka jika kau menjadi manja. Terlihat sangat girly, dan menggemaskan. Wajahmu yang putih dan lembut, juga bibirmu yang selalu menyunggingkan senyum sungguh meracuniku. Terkadang keromantisan berlanjut hingga di atas ranjang. 

 

.

 

.

 

Flashback end.

 

.

 

.

 

Matamu begitu lelah dan aku tidak melihat kau berpindah halaman sejak tadi. Diammu sungguh memilukan hatiku.

 

“Minho Oppa  !” Bisikmu lagi.

 

“Ada apa?” Tanyaku cepat.

 

“Kenapa kau tidak menggangguku kali ini  ?”

 

“Katamu kau butuh waktu bersama bukumu.”

 

“Aku ingin kau berteriak-teriak memanggilku. Menyuruhku ini itu sepuasmu!”

 

“Tapi ….”

 

“Minho Oppa” Panggilmu keras. Aku tercekat.

 

“Minho Oppa !” Sekali lagi. Lalu kau berdiri. Melemparkan bukumu di atas sofa, dan berjalan ke kamar. Aku mengikutimu setengah berlari. Jiyeon!

 

Kau membuka lemari dan mengambil sesuatu di sana.

 

“Ini t-shirt mu yang baru kau beli ! Ini kemeja jeans kesayanganmu, aku sudah menyetrikanya untukmu. Ini kaos kakimu yang bergambar Mario Bros berwarna abu-abu, juga ini yang berwarna biru. MINHO OPPAAAA…!”

 

“Jiyeon!” Aku tak sanggup berkata-kata. Ini sangat membuatku ketakutan. Kenapa kau menjadi seperti ini?

 

“Hentikan Jiyeon!”  Teriakku keras. Aku berharap dia mendengar. Perlahan kau duduk lemas, bersimpu pada lutut.

 

“Minho Oppa….!”  bisikmu lagi.

 

“Agh, ….” Aku tidak sanggup melihatmu berurai air mata.

 

.

 

.

 

.

 

Malam.

 

.

 

Ternyata larut telah merampas cahaya di matamu. Kini kau tergeletak tidur pada pembaringan itu sendiri. Sesaat tadi, sempat bergumam.

 

“Minho Oppa, kau tidur di sebelah kiriku malam ini. ” aku mengecup keningmu. Ini adalah hari yang teramat panjang untukmu.  Tanpa melakukan apapun dan hanya mengenang kisah kita di setiap sudut ruangan. Semakin membuatmu berat melepasku. Seharusnya kau pergi dari rumah ini, sehingga kau bisa terbebas dari neraka ini selamanya. Mengenangku hanyalah sebuah tragedi. Kisahmu tidak akan berlanjut jika kau terus memikirkan diriku.

 

“Jiyeon…” Bisikku di telingamu

 

“Hum…!” Sepertinya kau mendengarku, jauh di bawah sadarmu.

 

“Apa aku sudah pernah mengatakan sesuatu padamu?”

 

“Apa   ?”

 

“Terima kasih karena sudah mencintaiku…” Ujarku lembut.

 

Membelai rambutmu yang tergerai indah. Kilau-kilaunya membuat debaran di jantungku, melupakan sejenak kalau aku sudah begitu jauh darimu. Terpisah oleh dimensi yang tak sama. Jika kau begitu merindukan diriku, jangan menangis untukku. Tersenyumlah, karena aku sangat menyukai senyummu.

 

Menatap sekali pada kelembutanmu. Masih ada beban, masih menyimpan duka. Dan setitik bening di ujung matamu itu menjadi jawaban atas kesedihanmu.

 

Aku tak bisa berada di sini lagi.

 

End.

14 thoughts on “ANOTHER BETWEEN

  1. jadi…minho itu udah meninggal ya? aduhh awalnya aku bingung ini pov siapa jd ini pov nya minho yg ngeliat jiyeon semacam depresi gitu ya krn minho meninggal. iya bukan?? ahh bagus banget bahasanyaa kayak baca puisi. serius dehh XD suka bangeeeet pairingnya juga aku suka .-. pokoknya aku suka sama cara kmu menyampaikan setiap scene disini, bahasanya indah :3 ahh pengen deh bisa nulis sebagus ini :3

    • Yak Minho itu hantu…hiiiii…dia gentayangan di kehidupan Jiyeon. Masih belum 40 hari katanya jadi masih di dekat-dekat orang tercintanya, tapi setelah 40 hr dia pergi. Makasih ya,…

  2. Minho nya udh meninggal ya??
    Jd seolah2 jiyeon itu kyk masih menganggap minho masih hidup ya??
    Hiksss koq tiba2 menyesakkan ya
    Sedihhh 😭😭😭

  3. Saeng eon samoe nangis bcx sumpaj ini sedih hikzz.. ksian minjimm jiyi msh mengenang ninho banget smo frustasi.. minho jg gt slalu di smpg jiyi liat tingkah jiyi sehari2.. aigo demi apa sesek kno mrk gabbs bahagia bareng.. saeng jgn bkn yg hakau2 dong awal thn.. kwkwkwkw plak..

    • Eoni, makasih. Haha..jadi ga enak bikin sedih! Haha..cuma ff eoni! Abis lagi pengen yg angst, yg happy banyak. Nanti aq bakalan bikin minji lagi yg happy.

  4. aaaa ternyata minho udah gaada ‘-‘ terus jiyeon hidup sama angan angannya minho aja…. duh poor jiyeon u.u dia frustasi banget ditinggal minho disini :””

  5. jadi ceritanya Minho sdh meninggal dan Jiyeon merasa frustasi karena hal itu?
    awalnya bingung jg, tp akhirnya menger…
    kisah yg mengharuhkan.

    • Hi maaf baru sempat review. Iya, di sini Minho memang sudah ga ada. Ceritanya begitu, dan dia masih berada di dekat Jiyeon. Tau kan istilah 40 hari arwah masih ada di sekitar orang yg dicintainya. Seperti itulah kisah ini. Btw, makasih ya sudah membaca ff q dan berkomentar.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s