[Feeelance Songfic] Paradise

fanfic

Title

PARADISE (SONGFIC)

Length

2600 WORDS

Ratting

GENERAL

Genre

SAD, ROMANCE, ANGST

Author

RISMALIEN

Main Cast

KIM SUNGGYU (INFINITE) AND PARK JIYEON (T-ARA)

Desclaimer

Songfict ini dibuat berdasarkan imajinasi saya dari lagunya Infinite dengan judul yang sama. Setelah melihat MVnya saya jadi berpikir untuk membuat versi berbeda tanpa merubah makna lagunya. Semoga readernim suka dengan songfict bikinan saya hehe. Entah kenapa walaupun saya Myungyeon shipper, saya malah memilih Leader Gyu sebagai main castnya. Saya lebih bisa membayangkan Sunggyu yang memainkan peran itu dari pada L hehe. Over all, semoga suka, dan selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak. *90 degree bow.

.

.

KIM SUNGGYU POV

Masih sangat jelas diingatanku kejadian dua tahun lalu, ketika aku masih bisa memeluk gadis itu dengan erat. Hari ini adalah hariku yang pertama menghirup udara Seoul, setelah dua tahun lamanya aku berada di balik jeruji besi kepolisian Seoul. Bagi gadis itu dan orang disekitarku aku adalah seorang yang buruk. Penjahat.

Aku dijebloskan ke penjara oleh orang tua gadis itu, setelah aku terbukti melakukan tindakan penganiayaan padanya. Entahlah, saat itu apa yang sedang kupikirkan sampai aku setega itu menganiaya gadisku. Gadis yang kucintai dan mencintaiku dengan tulus.

Dua tahun lalu aku tinggal bersamanya di rumah ini meski kami tidak menikah. Aku memintanya menemaniku setiap hari, berparodi seolah kami sudah menikah. Tapi entahlah, apa yang membuatku melakukan penganiayaan itu, aku seperti bukan diriku sendiri.

Rumah ini tidak banyak berubah setelah dua tahun lalu aku meninggalkannya. Tapi aku kehilangan sesuatu. Dirinya. Gadis itu kini tidak tinggal disini. Dia kembali ke rumah orang tuanya.

Because my heart is a broken heart

I can’t let you go like this, what now?

Aku menatap halaman belakang yang terlihat hijau itu, seperti menemukan sosoknya di ayunan yang kini catnya sedikit mengelupas. Aku tersenyum, tapi di sudut mataku sudah ada air yang menggenang. Aku merasa sangat kehilangan dia. Bahkan akulah yang menyebabkan dia meninggalkanku seperti ini. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, aku tidak akan membiarkan dia pergi. Sungguh, aku merasa gila.

Pandanganku beralih pada pintu yang terbuka, menampilkan seorang gadis yang berdiri menegang dengan menatapku terkejut.

Even if I look shaky and dangerous

I can only hold you in, what now?

Dia membisu, matanya berkaca-kaca. Kemudian dia menutup lagi pintunya dengan tergesa. Terdengar suara kaki yang melangkah cepat semakin jauh. Aku mengejarnya, mengejar gadisku. Satu-satunya orang yang kupercayai, yang kupunyai, setelah aku memutuskan pergi dari kehidupan mewah keluarga Kim.

“Jiyeon-ah,”

Aku berteriak memanggil namanya, dia berhenti. Masih dengan membelakangiku, aku melihat bahunya bergetar. Aku mendekatinya, membalikkan tubuhnya agar menghadapku. Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menangis.

“Kajima,” aku memohon padanya.

Gadis itu menatapku taku-takut. Melepaskan tanganku yang memegangi bahunya lalu menunduk lagi.

“Gyu, aku…” dia membuka suaranya, suara lembut yang terdengar bergetar takut ditelingaku.

“Kau takut padaku?” aku bertanya dengan pelan dan meraih tangannya yang mengepal ketakutan.

Dia tidak menjawab, dia justru menangis lebih keras. Aku memeluk tubuh tinggi yang hampir menyamai tinggi tubuhku itu. Aku merindukan bau tubuhnya yang khas. Merindukan rasa hangat dari tubuhnya yang nyaman.

“Lepaskan aku Gyu,” aku mendengar suara lirihnya yang terdengar sangat memohon.

Dengan enggan aku melepas pelukanku padanya. Lalu menatap gadis yang masih berdiri gemetaran di depanku.

I love you (I’m sure you do too)

I want do it, I’m only gonna look at you

“Saranghae…” sebuah kata yang sudah dua tahun tidak kuucapkan pada gadis di depanku.

Jiyeon mendongak, menatapku dengan matanya yang basah. Wajahnya makin cantik, pipinya semakin tirus. Dia terlihat lebih dewasa sekarang.

“Jangan berkata kamu mencintaiku jika nyatanya tidak begitu…” kata-katanya terdengar dingin.

Setelah itu dia memalingkan wajah dan berbalik. Gadis itu pergi meninggalkan aku yang hanya bisa mematung menatapnya. Hatiku sakit sekali, aku tidak pernah sedetikpun berpaling darinya. Sungguh, aku mencintainya. Park Jiyeon, bolehkah aku merasa jika tatapanmu padaku masih sama? Dan juga cintamu padaku tidak berubah. Benar kan?

Aku berlari mengejar gadis itu. Kemudian aku berhenti, ketika melihatnya menangis di halte depan rumahku. Dia memukul-mukul dadanya. Seperti ingin menghilangkan rasa sakit di dalam sana. Aku menatapnya sendu, apakah sebegitu sakitnya penderitaan yang dia alami karenaku?

Aku memberanikan diri mendekati gadis itu, membuatnya terkejut dan menggeser sedikit tubuhnya karena kaget.

Please stay here, I’m asking you a favor

I’ll treat you better, I can’t let you go yet

“Jiyeon-ah, bisakah kamu memberiku kesempatan kedua?”

Gadis itu menatapku lurus, pandangannya terlihat sedang menerka-nerka apa yang sedang ada dipikiranku. Dia berdiri dan dengan kasar mengusap air matanya. Menatapku dengan tubuh yang agak gemetaran.

“Kesempatan untuk apa?” tanyanya lirih.

“Untuk kembali seperti dulu, tinggalah disini…” aku memohon padanya.

Dia tersenyum meremehkan, lalu kembali menatapku dengan pandangan asing yang tidak bisa kutebak.

“Setelah apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya menahan emosi.

Aku menunduk, merasa malu menampakkan wajahku pada gadis di depanku. Benar, aku terlalu tidak tahu diri untuk memintanya tetap tinggal.

“Kau tidak mendengarku?” dia bertanya pelan, tapi cukup tegas terdengar ditelingaku. Dia meminta jawaban. Jawaban yang mungkin akan merubah segalanya setelah ini.

Aku menatapnya ragu dengan sekali tarikan nafas panjang aku mencoba memintanya tetap tinggal.

“Aku minta maaf, sungguh minta maaf atas segalanya. Aku menyesal, aku seperti kehilangan diriku sendiri jika kamu tidak disampingku.”

Dia bergeming, menggigit bibirnya yang merah muda itu. aku tahu dia sedang menahan tangis.

“Aku akan memperlakukanmu dengan baik, kumohon kembalilah…”

Setetes air matanya jatuh. Gadis itu menangis lagi.

“Biarkan aku pergi, Gyu…” dia berkata sangat pelan, kata-katanya bukan jawaban dari permintaanku.

“Aku tidak akan membiarkamu pergi seperti ini Ji, aku merasa sangat berdosa padamu. Tidak bisakah kau membiarkanku menebus dosaku padamu?”  aku memohon padanya setulus hatiku.

“Gyu, aku sudah memaafkanmu. Tidak ada yang perlu kau tebus…”

Tidak. Aku tahu dia berbohong. Aku tahu dia ingin tinggal. Aku tahu dia peduli padaku. Aku tahu dia mencintaiku. Park Jiyeon, aku mohon. Aku hanya menatapnya penuh harap, berkomunikasi lewat tatapan mata yang dulu sering kami lakukan.

I must live, I must survive

Cause I will stop some day

Dia tersenyum, mengusap lenganku perlahan kemudian berbalik pergi.

“Aku harus tetap hidup Ji,” kata-kataku membuatnya berhenti.

“Aku harus bertahan.” Lanjutku.

Dia berbalik, menatapku bingung.

“Aku hanya akan hidup jika kau bersamaku.”

Gadis itu menghela nafasnya panjang.

“Jangan bertindak bodoh Gyu, kau bukan orang seperti itu.”

Benar kan? Dia masih tahu persis siapa aku. Dia mempedulikanku lebih dari siapapun.

“Berhentilah berbohong padaku Ji, berhentilah berbohong pada dirimu sendiri.” Aku menatapnya penuh harap.

“Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

This place is a paradise only if you’re here

A paradise that has locked you in against you will

Aku tersenyum dan semakin membuat gadis itu bingung.

“Tempat ini adalah surga ketika kamu ada di sini, aku tahu selama dua tahun ini kamulah yang membuat tempat ini tetap hidup. Aku tahu jika kamu mencintai tempat ini seperti kamu mencintaiku. Aku tahu kamu tidak pernah ingin melupakan kenanganmu di tempat ini.”

Dia tampak terkejut dengan kata-kataku. Sebutir air matanya jatuh lagi. Membuat hatiku semakin perih, bagaimana aku bisa membayar air matanya hari ini? Dia menunduk, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

“Apa kau berpikiran seperti itu?” tanyanya pelan sambil mendongakkan wajahnya.

Aku tersentak, bagaimana bisa dia masih bertahan dengan keyakinannya? Padahal sudah terlihat jelas melalui matanya jika semua yang kukatakan tidak salah.

A sad paradise that you want go if you’re awake

A paradise that we can be together forever

Aku mengepalkan tanganku, mencoba bersikap tetap tenang. Setelah sekali menarik nafas, aku menatap gadis itu yakin.

“Kau akan membiarkan surga kehilangan kebahagiannya?”

Dia menatapku bingung.

“Surga yang menyedihkan,” lanjutku nelangsa.

Dia menggigit bagian bawah bibirnya. Mungkin dia sedang memilih kata kata yang tepat untuk diucapkan padaku.

“Tempat ini, hanya akan menjadi surga saat kau dan aku bahagia di dalamnya.” Aku masih melanjutkan kalimatku.

“Gyu, berhentilah berbicara omong kosong.” Dia menatapku lurus, tajam. Nadanya terdengar marah.

“Aku bicara kenyataan Ji, bagaimana rasanya merawat rumah kita sendirian? Apa kau merasa bahagia? Bahkan kau tidak bisa pergi dari sana karena kau mencintaiku!” aku meninggikan suaraku juga, berharap kata-kataku dapat menyadarkannya.

I can only watch you while holding my breath

I can only do so cause it might break

“Tidak! Aku bisa pergi, aku akan pergi.” Dia berbicara lebih tenang sekarang.

“Jiyeon-ah…”

Dia melangkah pergi, berjalan menjauhiku yang sudah tidak berani berkata apapun. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah kami akan benar-benar berpisah seperti ini? Aku tidak tahu.

———————

You look at me (you probably will)

You don’t look (you will)

You look at me and it hurts

Every night, I filled me with you

Aku menatap langit-langit kamarku yang putih. Merindukan tempat ini dan segala tentangnya termasuk gadis yang biasanya tidur di sampingku dengan manis. Sangat kuingat pertama kali dia datang ke sini, dia menatapku hangat dengan senyum cantik yang terkembang di bibirnya. Berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan hari ini, dia menatapku takut, nanar, dan kesakitan.

Aku mengusap wajahku, membiarkannya tenggelam di tangan yang dulu pernah membuat gadisku terluka. Yang membawaku pada ruangan dingin yang memisahkanku darinya. Setiap malam aku tidak pernah melupakannya, bahkan setiap saat, setiap detik aku memikirkannya. Tidak terkecuali malam ini, aku masih memberikan pikiranku untuknya.

Yeah, now I have to fill it with alcohol time

The arm that wrapped, the panting night

The best paradise

Without you it’s a hopeless world

Aku bangkit dari kasurku dan beranjak keluar dari kamar. Aku butuh penenang. Kulangkahkan kakiku menuju supermarket dekat rumahku, aku butuh beberapa soju untuk membuatku lebih tenang.

Ketika aku membayar minuman yang kubeli, si kasir Kang Minhyuk tampak kaget.

“Oh, orlenmaniya Hyung.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku hanya menatapnya dan menyunggingkan senyum sekilas. Setelah itu dia dengan cekatan  memasukkan botol-botol soju yang kubeli pada kantong plastik berlabel nama supermarket itu.

“Semuanya 12.000 won,” ucapnya sambil memberikan kantong itu padaku.

Aku menerimanya dan memberikan kartu kreditku. Entahlah, apakah kartu pemberian ayahku itu masih bisa dipakai atau tidak setelah dua tahun.

“Gomapseumnida, hyung.” Ucapnya setelah selesai menggesek kartu itu pada ‘alat penyedot uang’ dan menyerahkannya kembali padaku.

Aku berjalan seperti biasa menuju rumah. Setelah itu aku begitu kesetanan menghabiskan cairan cairan dalam botol itu sambil menangis. Menangisi kehidupanku tanpa gadis itu. di sela sela tangisku aku masih sempat menertawakan nasibku sendiri seperti orang gila.

Pada botol ke lima akuu merasa sangat mual, kepalaku sakit, badanku meriang. Aku mendengar suara pintu yang terbuka, aku menoleh cepat dan pandanganku memudar ketika seorang gadis tengah berada di ambang pintu rumahku dengan nafas terengah-engah. Setelah itu duniaku gelap.

——————

JIYEON POV

“Noona, yeoboseyo?” sebuah suara yang kukenal menerobos telingaku dengan ganas ketika aku menekan tombol hijau pada ponselku.

“Kang Minhyuk, wae?” tanyaku tenang.

“Noona, eodiya?”

“Aku baru saja sampai rumah.” Jawabku pada namja yang baru saja menggantikan shiftku di supermarket tempatku bekerja.

“Sunggyu hyung,” dia menggantungkan kalimatnya.

“Ada apa?” tanyaku mulai panik. Otakku sudah melayang pada rumah itu, pada seorang namja yang tadi menahanku untuk tinggal di sana.

“Dia baru saja membeli berbotol-botol soju, aku khawatir dia akan meminum semuanya Noona, tolong lihatlah dia.” Minhyuk mengucapkan kalimat itu dengan sangat cepat.

Aku tersentak, pikiranku melayang pada namja nekat itu. namja yang kubenci tapi tidak pernah berhasil.

“Gomawo, Minhyuk-ah.” Aku menutup sambungan telepon dengan Minhyuk.

Segera kusambar mantel coklat tebal yang tergantung pada dinding kamarku. Aku berlari keluar rumah, ingin segera sampai ke rumah itu. Butuh waktu hampir dua puluh menit untuk sampai di sana dengan mobil, untungnya hari sudah malam sehingga jalanan sudah sepi. Pikiranku melayang pada namja itu, namja yang tadi mengatakan tidak bisa hidup tanpaku. Ah tidak, mungkin dia hanya merindukan kenangan kami.

Ketika aku sampai di depan rumah itu, aku segera berlari masuk ke sana. Kulihat namja itu tengah terduduk lemas di samping sofa hitam ruang tengah rumah itu. Dia memegangi perutnya dan badannya tampak menggigil. Ketika dia menyadari kedatangannku, tubuhnya malah ambruk. Namja itu tidak sadarkan diri.

Aku berlari ke arahnya.

“Gyu… Gyu… Jongsichareyo!” aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Jantungku berdetak sangat cepat, mataku memanas menahan tangis.

Astaga tubuhnya sangat panas. Dengan rasa panik yang luar biasa, aku memapah tubuh itu untuk dibaringkan di sofa. Kulepaskan jaket yang dikenakannya, aku membuka sepatunya. Tanpa sadar air mataku mengalir. Aku begitu takut orang dihadapanku ini tidak akan bangun lagi.

Aku mengambil air dingin untuk mengompresnya, setelah itu aku mulai menempelkan kain basah itu pada keningnya. Bau alcohol darinya sangat kuat, bahkan aku sendiri merasa mual. Nafas namja itu tampak lebih teratur sekarang, membuatku perasaanku lebih tenang. Aku mengganti kompresannya dengan sabar sambil memandangi wajahnya yang kini tampak bersih, matanya masih sipit dan bibirnya masih sama hanya saja wajahnya terlihat tertekan saat ini.

Aku merasa sangat lelah dan tanpa terasa aku tertidur di lengannya.

———————

Kim Sunggyu POV

 

I’m gonna hold you in a little longer

I’m gonna look at you a little more

Until my heart cools off a little more

I must live even

Without you

But right now, I need you

 Aku membuka mataku enggan, kepalaku sangat sakit sekarang. Aku merasa ada yang membebani lenganku. Astaga, Jiyeon. Gadis itu sedang tertidur di lenganku. Wajahnya terlihat sangat lelah. Aku tidak berani membuat gerakan yang akan membangunkan gadis itu. masih dalam posisi yang sama aku hanya bisa memandang puncak kepalanya lalu mengelusnya pelan, gadis di lenganku ini memang istimewa. Tuhan, aku ingin dia tetap bersamaku sampai aku tidak bisa membuka mataku lagi. Aku membutuhkannya.

Dering ponselnya membuatnya terbangun kaget, dia meraba sakunya. Mengangkat telepon dari seseorang entah siapa. Aku berpura-pura belum bangun, masih dengan mata terpejam aku mendengar suaranya menjawab telepon.

“Maafkan aku Myung, aku akan segera pulang…”

Satu kata yang kudengar jelas dari mulutnya, membuat hatiku mencelos. Siapa Myung? Pertanyaan yang saat ini benar-benar ingin aku ajukan pada gadis itu. Jiyeon menatapku sekilas, sesaat kemudian dia menempelkan tangannya di keningku. Dia terlihat masih khawatir, tapi kemudian dia tersenyum.

“Demammu sudah turun Gyu, aku harus kembali.” Ujarnya pelan.

Gadis ini sama sekali tidak berubah.

Dia mengambil mantelnya yang semalam dilemparkannya asal di bawah meja, kemudian memakainya. Apakah dia akan kembali? Tidak, dia justru pergi ke dapur untuk menyiapkan sesuatu. Ketika di ke dapur, aku bangun dan melihat apa yang dia lakukan. Ya Tuhan, gadis itu membuat bubur. Aku menyeka sedikir air yang tergenang di sudut mata sipitku, begitu dia selesai dengan buburnya aku segera berlari ke sofa untuk tiduran lagi. Entah mengapa aku tidak berani menghadapi gadis itu langsung.

Dia kembali dengan senyum tipis diwajahnya dan semangkuk bubur yang masih mengepul. Baunya menggelitik perutku. Aku lapar.

Dia meletakkan mangkuk bubur itu pada meja, kemudian dia bersiap untuk pergi. Ketika dia mengecek keningku lagi, aku menahan tangannya.

“Bisakah kau disini sedikit lebih lama?” tanyaku pelan sambil membuka mataku.

Dia terkejut tapi kemudian dia berjongkok menyamakan tubuhnya padaku yang masih berbaring di sofa. Dia menatapku sambil tersenyum.

“Selamat pagi, Kim Sunggyu.” Dia mengecup pipiku sekilas.

Hatiku terasa sangat hangat, aku yakin pipiku memerah saat ini. Aku tersenyum menatapnya. Gadisku, apakah dia akan tetap disini?

“Berjanjilah padaku Gyu,”

“Berjanji untuk apa?” tanyaku bingung.

“Berjanjilah untuk hidup lebih baik, jangan sia-siakan hidupmu.” Lanjutnya sambil mengangkat jari kelingkingnya di depanku.

Aku merubah posisiku menjadi duduk, lalu menepuk bagian di sampingku agar gadis itu bisa duduk. Tapi dia menggeleng dan menurunkan tangannya.

“Seperti yang kamu bilang, aku memang mencintaimu. Tidak peduli apa yang telah kamu lalukan dulu. Aku mencintai rumah ini seperti aku mencintaimu. Aku mencintai surga kita. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda Gyu, aku akan menikah.”

Aku membulatkan mataku tidak percaya, penuturan lembutnya harus diakhiri pernyataan bahwa dia akan menikah. Dia tersenyum lagi.

“Aku minta maaf baru mengatakannya sekarang, aku begitu takut mengatakannya kemarin karena kau baru kembali.” Dia melanjutkan kata-katanya yang tidak sempat kutanggapi. Aku terlalu terkejut.

“Dengan siapa?” akhirnya aku membuka suaraku tapi aku tidak berani menatap matanya.

Jiyeon menatapku lembut, lagi-lagi dia tersenyum.

“Kim Myungsoo,” jawabnya pelan.

“Aku harap Kim Sunggyu akan berbesar hati melihatku bahagia,” lanjutnya.

Aku menatapnya nanar, gadis itu tampak tulus memintanya dariku. Aku mengerti, aku akan mencoba menerimanya. Aku sadar setelah apa yang kulakukan, gadisku ini berhak bahagia. Entah bagaimana, hatiku rasanya telah membaik dengan sendirinya, aku yakin dengan melihatnya bahagia aku juga akan bahagia.

“Aku akan bahagia,” balasku lembut.

Aku memeluk gadis itu, menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia balas memelukku. Mungkin untuk terakhir kalinya. Aku merasa nyaman, aku merasa tenang. Terimakasih Park Jiyeon. Selamat berbahagia Jiyeon. Selamat Tinggal Paradise.

END.

4 thoughts on “[Feeelance Songfic] Paradise

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s