[ Freelance Twoshot ] REGRETS – 1st

IMG_20150203_145134

Title : Regrets (Part 1)

Lenght : Twoshoot

Rating : PG-13

Genre : AU, Family, Romance, Angst, Yaoi

Author : blingsugar

Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Support Cast : Kim Junmyeon (Suho)

Note : Ide cerita adalah murni milik author sendiri, jika ada kesamaan atau kemiripan maka itu tidak disengaja. Repost dengan seizin author. Terima kasih

 ***

The first moment I saw you, my eyes flashed, mind stopped. When I think I caught you, the sharp scales of chromium cut me into pieces.

You’re already the center of the whole world, my focus. You’re my miracle. If I can just have you, I don’t need anything else.

Something has been wrong, you’ve been weird. The people I knew left my side, one by one. All I have is you.

My heart screams in front of this goodbye. Do you hear that?

When it’s about time for me to pass out, you comes to me like an angel, saying “I love you”.

***

Hari ini hujan turun cukup deras membasahi kota Seoul dan seisinya. Seorang lelaki manis terlihat berlari menembus hujan, hal yang paling dibenci dan ditakutinya. Rambut hitam lurus yang tadinya tertata rapi dan kering, kini telah basah oleh tetesan demi tetesan air hujan yang seolah membuat langit turut bersedih bersamanya. Luhan, Xi Luhan, begitulah orang-orang memanggil sosoknya. Lelaki manis itu berhenti dari larinya. Ia terduduk di pinggir jalan kota Seoul itu, terlihat menangis terisak di tengah hujan yang mengguyurnya. Tidak diperdulikannya lagi orang-orang yang lewat dan menatapnya dengan tatapan aneh. Ia tidak kuat lagi menahan air matanya. Mengapa rumah sakit yang bahkan bisa terlihat dari pagar rumahnya terasa sangat jauh. Bahkan Luhan masih tidak percaya dengan berita yang didengarnya dari telepon barusan. Kedua orangtuanya telah tiada. Nyawa kedua orang tuanya telah dirampas oleh kecelakaan mengenaskan yang terjadi beberapa jam lalu.

Seorang lelaki berpakaian rapi menghampiri Luhan yang masih terduduk menangis di tengah hujan sambil memegang payung di tangan kanannya dan sebuah pakaian hangat yang tebal di tangan lainnya. Ia berjongkok di dekat Luhan dan memakaikan Luhan pakaian hangat yang dibawanya karena sudah dapat dipastikan Luhan sangatlah kedinginan sekarang dengan pakaian yang telah basah oleh tetesan awan yang kini berubah wujud menjadi air kembali ketika menghampiri permukaan bumi. Seolah menjelma dari sesuatu yang sangat lembut hingga membuat setiap orang ingin menyentuhnya, menjadi air-air yang sangatlah dingin menusuk tulang dan menyebabkan rasa nyeri di sekitar persendian siapa saja yang terkena tetesannya. Dari air dan kembali lagi menjadi air, dari debu dan kemudian berubah lagi menjadi debu, menyatu dengan tanah. Begitulah takdir. Lelaki tersebut lalu membantu Luhan berdiri, mengajak Luhan untuk masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan disebelahnya. Luhan hanya menurutinya tanpa banyak protes. Orang itu adalah Suho, perawat, supir, sekaligus bodyguard pribadi Luhan yang sudah dianggap sebagai hyungnya sendiri oleh Luhan dan sudah menemani Luhan sejak dirinya kecil dulu. 

Karena kedua orang tuanya sibuk, maka mereka membayar seseorang untuk menemani dan menjaga Luhan. Awalnya Luhan menolak karena ia tidak ingin kedua orang tuanya semakin tidak memperhatikannya setelah ada Suho yang merawat dan memperhatikannya, bahkan Luhan kecil membuat janji-janji – yang masih diingatnya sampai sekarang – agar kedua orang tuanya tidak memperkerjakan Suho. Luhan juga sempat membenci kedua orang tuanya karena ketika teman-temannya merayakan indahnya kasih natal bersama kedua orang tua dan keluarga mereka, Luhan hanya akan merayakannya dengan Suho dan pembantu-pembantu yang ada di rumah mewahnya. Dan juga, jangan lupakan teman-teman sekelasnya yang menjauhi dan juga mencibirnya setiap hari karena ia tidak pernah menghadirkan kedua orang tuanya ketika ada pentas seni ataupun pada saat pengambilan rapornya. Selalu, selalu saja Suho yang datang menghadiri acara-acara dan memenuhi undangan-undangan dari sekolahnya, membuat Luhan kecil mendapat predikat ‘anak terlantar’, ‘anak yang tidak dianggap’, ‘anak pembantu’, dan yang lebih kasar adalah ‘anak pungut’ dari teman-temannya.

Bahkan masih tergambar dengan jelas di dalam pikiran Luhan kata-kata kasar teman-temannya itu, misalnya “Lagi-lagi orang itu yang datang. Mana orang tuamu yang kaya raya itu? Menelantarkanmu ya? Atau bahkan membuangmu karena kau jelek? Tentu saja, mana ada orang kaya yang menginginkan anak yang jelek. Hahaha!!”, dan masih banyak lagi kata-kata menyakitkan yang diucapkan mereka, bagaikan sosok setan yang amat menyeramkan dan selalu mengganggunya pada saat tidur malamnya, Luhan tidak akan melupakan kata-kata tersebut. Hingga akhirnya Luhan merasa tidak sanggup lagi lalu memutuskan untuk pindah sekolah. Walaupun hanya cibiran, kata-kata itu sangatlah dalam menusuk ke ulu hatinya, membuat Luhan kecil merasakan sakit, sesak sekaligus perih di bagian dalam tubuhnya dan membenci sepasang sejoli yang membuatnya merasakan sakit tersebut.

Saat mulai menapaki sekolah barunya, disitulah Luhan menemukan sosok yang bagaikan malaikat tanpa sayapnya, tepat disaat hari pertamanya sekolah. Pertemuan yang tidak disengaja bagaikan adegan dalam drama percintaan, sosok itulah yang kemudian membuat Luhan melupakan kebencian mendalam yang terpendam di hati dan juga pikirannya. Dan juga, semakin bertambahnya usia Luhan, membantunya secara perlahan mencoba untuk mengerti kesibukan kedua orang tuanya itu. Walaupun Luhan hanya dapat melihat orang tuanya beberapa hari dalam satu tahun, ia tetap mencintai mereka dengan sepenuh hatinya sekarang. Luhan seperti diatur oleh hukum alam yang mengatakan bahwa setiap anak haruslah mencintai kedua orang tuanya, sosok malaikat dan pahlawan yang nyata dalam hidup ini. Dan berita yang didengar oleh Luhan barusan seperti menghentikan kerja otaknya sehingga membuatnya tidak dapat berpikir lagi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kehilangan malaikat dan pahlawan nyata miliknya itu akan lebih menyakitkan dari cibiran teman-teman kecilnya dulu.

“Hyung, berita i.. itu tidak.. tidak benar k.. kan?” Isak Luhan di dalam mobil. “Berita itu tidak salah, Lu.” Ucap Suho pelan. Terdengar nada kesedihan tersirat di dalamnya. “Tidak! Kau tidak boleh berkata begitu! Kau bahkan belum melihat dengan matamu sendiri, kan? Kita haruslah memastikannya dulu. Aku yakin itu bukan mereka. Itu pastilah orang lain. Dokter-dokter itu hanya salah mengira bahwa itu mereka. Iya kan, hyung? Hahaha. Aku pasti akan memecat para dokter sialan itu setelah ini, percayalah.” Luhan berkata dengan nada yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, mencoba menguatkan dirinya sendiri dalam garis takdir yang kejam ini. Dan tawanya itu, bahkan dapat menyakitkan hati orang-orang yang mendengarnya. “Lu, aku sudah memastikan bahwa itu adalah mereka. Maafkan aku, Lu. Kau harus kuat, ne?” Ucap Suho lagi menenangkan Luhan yang duduk di bangku belakang sedangkan ia mengendarai mobil mewah berwarna hitam metalik itu menuju ke rumah sakit yang dituju oleh Luhan tadi.

Isakan Luhan kembali terdengar. Luhan sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis dan menjadi cengeng seperti sekarang, tetapi ternyata ia tidak cukup kuat merasakan pahitnya hidup. Baru saja. Baru saja Luhan merasakan indahnya hidup tanpa kebencian terpendam, sekarang Luhan harus kehilangan orang yang amat dicintainya, orang yang dulu juga amat dibencinya. Jika tahu akan begini jadinya, lebih baik Luhan membenci mereka seumur hidup sehingga Luhan tidak akan menangis seperti sekarang mengetahui bahwa dirinya telah kehilangan sosok-sosok itu untuk selamanya. Sangatlah menyakitkan rasanya dipermainkan oleh waktu yang bahkan tidak dapat dilihat wujudnya sekalipun dengan alat super canggih penemuan terbaru. Bagi Luhan, hidup dan takdir sangatlah penuh dengan misteri-misteri menyakitkannya.

Mobil mewah Luhan kini sudah tiba di depan rumah sakit itu. Luhan dan Suho segera turun. Suho memberikan kuncinya kepada seseorang yang sedang menunduk hormat didekat pintu masuk otomatis itu untuk memarkirkan mobilnya, sedangkan Luhan segera menuju ke kamar jenazah di rumah sakit yang sebenarnya adalah milik kedua orang tuanya. Suho segera berjalan menyusul Luhan, yang terlihat sangat lemah dan rapuh sekarang. Sanggupkah Luhan untuk melihat kedua orang tercintanya terbaring kaku di dalam dinginnya ruang jenazah itu?

Para pekerja di rumah sakit itu telah berbaris dengan rapi, menyambut kedatangan Luhan disana. Beberapa ada yang terlihat menangis, entahlah mungkin mereka kenal dekat dengan orang tua Luhan.

*** Luhan P.O.V

Aku masih berjalan menuju kamar jenazah, dimana kedua orang tuaku tertidur dalam tenangnya. Ruangan itu ada di depan mataku sekarang. Semakin aku berjalan kearahnya, sepertinya kakiku ini semakin lemas dan tidak sanggup untuk berjalan. Kau pasti kuat Xi Luhan! Kau adalah seorang lelaki, ingat janjimu kepada mereka. Aku harus kuat. Kupegang knop pintu jati dihadapanku ini setelah berhasil menguatkan diriku sendiri. Sekali lagi, aku menarik nafas dan mempersiapkan diriku untuk melihat mereka. Aku melihat ke arah Suho hyung yang ada di sebelahku, memegangi kedua sisi bahuku untuk memberikan kekuatan disana. Suho hyung terlihat menganggukan kecil kepalanya. Sedetik kemudian, aku kembali berfokus kepada pintu yang ada di depanku. Kubuka dengan perlahan pintu ini.

Kedua mayat kaku yang begitu familiar terlihat dihadapanku. Lagi, kakiku melemas sehingga aku jatuh terduduk. Aku berusaha untuk meredam tangisku, tetapi tidak bisa! Sial. Aku benci menangis seperti ini di depan umum. Aku tidak ingin terlihat lemah dan tidak berdaya di depan mereka semua, termasuk orang tuaku yang aku yakin bahwa mereka masih disini, melihatku menangis terisak-isak di depan tubuh tak berpenghuni mereka. Tetapi apa boleh buat, aku tidak bisa menghentikan aliran air dari pelupuk mataku ini. Bagaikan sebuah pipa yang bocor, air terus mengalir dari kedua mata – yang menurut Sehun – indah milikku ini.

Mengapa mereka pergi secepat ini meninggalkanku? Aku bahkan belum sempat meminta maaf kepada mereka atas semua kesalahanku, menyuapi mereka makanan favoritku, mencium pipi mereka, merasakan nyamannya pelukan mereka, merayakan malam natal bersama, melihat mereka tersenyum atas prestasi yang kuraih dengan kerja kerasku sendiri, membahagiakan mereka, membuat mereka bangga memiliki diriku sebagai putranya.

Banyak sekali hal yang belum aku lakukan untuk dan bersama mereka karena diriku yang terlalu sibuk untuk membenci mereka, sehingga aku tidak mendapatkan waktu bahkan untuk mengatakan bahwa sebenarnya aku mencintai mereka, sangat mencintai mereka. Sungguh aku membenci perbuatan bodohku itu. Mereka telah pergi sekarang. Apa yang harus kulakukan? Mengapa hidup ini begitu kejam terhadapku. Sedikit, berikan aku sedikit saja waktu untuk bersama mereka lebih lama agar aku dapat merasakan bahwa mereka juga mencintaiku, merasakan hangatnya sebuah keluarga kandung yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Apakah sebuah keluarga akan lebih manis dari secangkir coklat hangat kesukaanku?

Aku mencoba berdiri dengan sekuat tenagaku. Aku menghampiri dua buah tubuh dingin itu dan menciumi kening mereka satu per satu, untuk pertama dan terakhir kalinya. Wajah mereka terlihat sangat tenang dengan bibir yang menyunggingkan senyum kecil walaupun dengan kulit yang sudah putih pucat. Damai sekali. Membuat hatiku menjadi sedikit tenang setelah melihat wajah yang penuh dengan kedamaian itu walaupun aku tahu wajah itu tidak akan aku lihat lagi setelah ini. Dan untuk selamanya.

“Tidurlah eomma, appa. Beristirahatlah di sisi-Nya. Walaupun Luhan tidak mempunyai banyak waktu untuk bersama-sama dengan kalian, tetapi Luhan bahagia memiliki kalian dalam hidup Luhan. Entah akan jadi apa jika Luhan tidak pernah memiliki kalian dalam dunia yang penuh dengan kebohongan ini. ‘Luhan berjanji akan membuat kalian bangga memiliki Luhan sebagai putra kalian, Luhan akan menjadi anak manis, tidak akan terjebak di dalam dunia orang dewasa yang salah, Luhan adalah anak lelaki yang kuat, Luhan tidak akan cengeng dan pasti menjadi anak yang baik.’ Ini adalah janji Luhan dulu kepada kalian, kalian ingat kan? Luhan akan memegang janji itu seumur hidup Luhan karena Luhan mencintai kalian dan Luhan tidak ingin ingkar janji. Jadi, kalian tenanglah disana, jangan khawatirkan Luhan. Luhan baik-baik saja bersama Suho hyung disini. Dan terimakasih juga untuk memberikan Luhan pengganti kalian yang sangat baik, walaupun ia tidak akan bisa menggantikan posisi kalian di dalam hati Luhan, tapi Luhan menyayangi Suho hyung sama halnya seperti Luhan menyayangi kalian.” Ucapku pelan kepada tubuh-tubuh tak berpenghuni ini walaupun aku tahu tidak akan ada jawaban yang aku dengar dari mereka. Air mataku juga turut mengalir tanpa suara, seperti menambah ketenangan yang ada di ruangan ini sekarang.

Lalu, aku menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada dan memejamkan kedua mataku, memulai doa. “Tuhan, Luhan tahu bahwa Luhan bukanlah anak baik, selama ini Luhan membenci mereka. Memang patut sekali bahwa Tuhan mengambil mereka dari sisi Luhan sekarang karena Luhan sendiri tidak pernah bersyukur telah memiliki mereka. Luhan selalu saja menyalahkan mereka atas hal-hal buruk yang terjadi pada Luhan tanpa memikirkan betapa sakitnya hati mereka. Maafkanlah kelakuan buruk Luhan selama ini, Tuhan. Kedua orang tua Luhan adalah orang baik, Luhan sangat mencintai mereka. Jadi, jagalah mereka berdua untuk Luhan. Luhan mohon, tolong tempatkanlah mereka di tempat terbaik di surga sana. Luhan akan sangat bahagia jika mereka juga bahagia berada disisi-Mu, Tuhan. Inilah doa Luhan, semoga Tuhan mendengarkan doa Luhan ini. Terima kasih Tuhan. Amin.”

Setelah berdoa, aku menutupi kedua wajah tenang itu dengan kain putih yang juga digunakan untuk menyelimuti tubuh dingin mereka. Kuhapus air mataku yang sedari tadi membasahi pipiku dan segera menghampiri Suho hyung yang masih menungguku di sudut ruangan sana. “Ayo hyung, kita pulang. Mereka sudah tenang bersama Tuhan disana.” Ucapku dengan senyum mengembang kepada Suho hyung, menandakan bahwa aku memang sudah merelakan mereka untuk pergi dari hidupku, selamanya. Walaupun sangatlah berat, tapi aku bisa apa? Aku juga hanyalah manusia biasa yang akan sangat tidak berdaya dibuat oleh garis takdirku sendiri. Mereka tidak akan bangun sekalipun aku menangis dan menunggui mereka semalaman suntuk disini. Lebih baik jika aku merelakan kepergian mereka. Menurut kepercayaan yang datang dari hatiku sendiri, dengan merelakan kepergiannya maka aku sama saja meringankan langkah mereka untuk pergi menuju ke surga sana. “Dan juga baju basah ini membuat tubuhku terasa lembab hyung, aku membencinya, membuatku sangat merasa tidak nyaman dengan pakaian ini. Rambutku juga sangat berantakan, ugh.” Sambungku dengan wajah kesal, membuat Suho hyung tersenyum merasakan ketegaran hatiku.

Suho hyung mengusap pelan kepalaku, “Kau anak yang sangat baik dan kuat. Kedua orang tuamu pasti bangga melihatmu sekarang, Lu. Kajja, kita pulang dan mengganti pakaianmu. Aku sudah tahu kalau kau pasti merasa tidak nyaman dengan pakaian lembabmu itu dan kau pasti kedinginan. Kau tahu? Aku sampai tercengang melihatmu menembus hujan tadi, kau terlihat sangat keren.” Ucap Suho hyung tertawa pelan seraya menyenggol kecil lenganku, aku hanya terkekeh mendengarnya. Apakah aku terlihat sekeren itu? Sedetik kemudian, Suho hyung merangkul bahuku lagi untuk pergi meninggalkan ruangan dingin ini.

***

“Lu, kau kemana saja mengapa tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesanku sedari tadi? Aku sangat mengkhawatirkanmu dan juga aku punya sesuatu yang penting yang ingin kukatakan padamu.” Omel Sehun panjang lebar di seberang sana setelah aku mengangkat teleponnya.

“Maafkan aku, Hun. Aku mendapat berita duka hari ini, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku buru-buru untuk pergi ke rumah sakit dan tidak membawa ponselku.” Jawabku dengan air mata yang hampir menetes lagi. Tidak, aku tidak boleh menangis. Bukankah aku telah berjanji tadi?

“Apa? Kau tidak bercanda kan? Kedua orangtuamu meninggal? Aku.. aku tidak tahu harus bagaimana, tetapi aku turut berduka dari hatiku yang paling dalam, Lu. Kau harus kuat, baby. Apa kau ingin aku temani di rumahmu malam ini?”

“Anniyo, gwaenchana Hun. Aku baik-baik saja. Aku sudah merelakan kepergian mereka. Apa hal penting yang kau ingin katakan kepadaku tadi?” Tanyaku penasaran.

“Tidak, bukan apa-apa. Lupakanlah, Lu. Kapan orang tuamu akan dimakamkan?”

“Tapi tadi kau bilang itu hal penting? Mereka akan dimakamkan besok, Hun. Kau akan datang kan? Aku sangat berharap kau datang, karena aku akan sangat-sangat membutuhkanmu disisiku besok, Hun. Walaupun aku telah merelakan mereka tapi aku tidak yakin bahwa aku akan kuat untuk tidak menangis. Jadilah kekuatanku besok, Hun.”

“Itu sudah tidak penting lagi, Lu. Lebih baik kau beristirahat sekarang, aku tahu kau pasti lelah sekali hari ini. Tanpa kau memintaku pun aku akan datang besok, baby. Kau tidak usah takut, aku akan berada di sisimu selamanya sampai tubuhku sudah tidak sanggup lagi untuk menghirup nafas dan waktu tidak lagi berputar untukku, Lu. Aku akan menjadi kekuatanmu besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sampai kapan pun aku akan menjadi kekuatanmu, Lu. Tersenyumlah, karena senyummu juga akan menjadi kekuatanku.” Ucap Sehun di seberang sana, membuatku menyunggingkan senyum di sudut bibirku. Betapa beruntungnya aku masih memiliki Sehun dan juga Suho hyung. Tuhan memang baik. Dia mengambil dua orang berhargaku, tetapi Dia tidak mengambil semangat, kekuatan, dan juga senyumku.

“Kau menggombal lagi, Hun.” Aku tertawa pelan. “Terima kasih, karena ada disana ketika aku sangat membutuhkan dukunganmu. Saranghae, jeongmal saranghae. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku, Hun.”

“Um, aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu, baby. Nado, nado saranghae Xi Luhan.”

“Kau beristirahatlah sekarang, Hun. Tidakkah kau merasa lelah sepulang dari liburan dan melalui perjalanan yang panjang untuk kembali lagi ke Seoul?”

“Ah, aku sampai melupakan rasa lelahku setelah mendengar suaramu, Lu. Haha, baiklah aku akan beristirahat sekarang. Joheun bam chagiya.”

Pip. Sambungan telepon itu terputus. Aku merasakan ada sesuatu yang salah dengan Sehun. Entahlah apa itu, aku juga tidak mengetahuinya. Walaupun dia berusaha berbicara dengan nada senormal mungkin, tetapi aku dapat merasakan ketakutan di dalam suaranya. Dan apa hal yang penting yang ingin dikatakannya tadi? Mengapa tidak jadi menceritakannya? Ah aku sungguh penasaran dibuat oleh Oh Sehun, kekasih, malaikat tanpa sayapku, semangat, dan juga senyumku. Meskipun begitu, aku mencoba untuk tidak berpikir macam-macam tentangnya. Lebih baik aku tidur sekarang.

*** Author P.O.V

Beberapa minggu telah berlalu pasca kepergian kedua orang tua Luhan. Luhan telah bisa menjalani hari-harinya dengan biasa lagi sekarang berkat semangat yang didapatnya dari Sehun meskipun kadang ia masih merindukan kehadiran orang tuanya dalam hidupnya itu. Menjadi anak tunggal bukanlah hal yang mudah bagi Luhan, kini ia harus meneruskan bekerja menjadi seorang pimpinan di perusahaan besar yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya. Hal ini juga membuat Luhan sedikit kesusahan untuk bertemu dengan Sehun, kekasihnya. Bukan karena Sehun tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan Luhan, hanya saja jadwal Luhan yang padat itu sangat menyita waktu Luhan. Walaupun Luhan mengosongkan jadwalnya pada hari minggu untuk menemui dan bersama dengan Sehun, tetapi satu minggu itu bukanlah waktu yang sebentar. Terkadang juga, Sehun mendatangi kantor Luhan hanya untuk melihatnya dan sedikit mengobrol melepas rindu sebelum akhirnya Luhan harus menjalani rapat lagi.

Seseorang mengetuk pintu ruangan Luhan, membuat Luhan memindahkan fokusnya dari berkas-berkas yang ada di hadapannya menjadi ke pintu yang diketuk tadi. “Masuklah.” Ucap Luhan kembali berkutat dengan komputernya dan berkas-berkas itu. Beberapa detik kemudian terlihat orang yang sangat familiar bagi Luhan masuk ke dalam ruangannya, “ah, hyung. Kau sudah mendapatkan informasinya?” Luhan dengan segera mengambil amplop coklat yang baru saja diletakkan Suho di mejanya dan membukanya, membaca isinya dengan seksama. “Aku harap kau tidak akan terkejut melihatnya, Lu.” Bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Suho, mata Luhan membesar membaca tulisan yang tersusun rapi dalam lembaran kertas HVS yang didapatnya dari amplop coklat tadi.

Luhan diam seribu kata, pandangannya kosong, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. ‘Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin. Mengapa begini? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Bagaimana sekarang?’ Kata-kata itu terus terulang seperti video yang terus-menerus diputar ulang lagi dan lagi di dalam otaknya. “Lu? Lu?” Panggil Suho seraya melambaikan tangannya di depan wajah Luhan, menyadarkan Luhan dari lamunannya. “Ya, hyung? Apa yang kau katakan?” Jawab Luhan setelah akhirnya lepas dari lamunan kosongnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Tanya Suho. “Tutup saja kasusnya, hyung. Jangan pernah mengijinkan siapapun mencari ataupun mendapatkan informasi tentang hal ini. Dia bisa dalam bahaya jika polisi sampai mengetahuinya.” Jawab Luhan kemudian yang membuat Suho terkejut untuk satu per-sekian detik dan kemudian dia hanya mengangguk menuruti permintaan Luhan.

***

Tidak dapat dipungkiri lagi, posisi Luhan sebagai pimpinan perusahaan besar sekarang membuatnya sangat amat sibuk. Luhan tidak lagi bisa mengosongkan jadwalnya pada hari minggu karena perusahaan yang bergerak dalam bidang medis itu nampaknya mengalami perkembangan yang pesat dibawah pimpinan Luhan. Sehun pun sudah jarang mendatangi kantor Luhan sekarang. Kedua sejoli itu hanya bertemu beberapa jam dalam satu bulan, itu pun jika Luhan memiliki senggang waktu di hari-hari sibuknya. Hubungan keduanya merenggang.

***

Hari ini, Luhan berjalan dengan baju hangatnya dan juga senyum yang terus mengembang melalui bibir pucatnya. Langit memang sedang mendung dan siap untuk membasahi Seoul kapan saja, kesehatan Luhan juga sedang menurun. Tetapi, hatinya sangatlah cerah hari ini. Luhan sangat berterima kasih karena ia sakit hari ini, ia mendapatkan hari libur untuk dapat menemui Sehun, sosok yang sudah sangat lama tidak ia temui dan sangat dirindukannya. Bahkan Luhan menolak tawaran Suho untuk mengantarkannya dengan alasan bahwa ia ingin menjadi orang biasa saja hari ini di mata Sehun, tanpa harta yang berlimpah, seperti kebanyakan pasangan-pasangan lainnya yang saling mencintai tanpa memandang kekayaan yang dimiliki satu sama lain.

Luhan sedikit mengeratkan pakaian hangatnya ketika ia merasakan angin dingin menabrak tubuh lemahnya kini, entah sudah yang keberapa kalinya, membuatnya sedikit menggigil kedinginan dan merasa pusing. Luhan mempercepat langkahnya menuju rumah Sehun, berharap secepatnya untuk sampai disana karena sepertinya Luhan tidak kuat lagi menahan hembusan-hembusan angin dingin Seoul yang terus saja menghempas tubuhnya sedari tadi.

Luhan tersenyum sedetik kemudian ketika ia melihat rumah dengan pagar tinggi milik Sehun sudah tinggal beberapa langkah lagi. Sedikit berlari kecil kemudian untuk segera sampai ke tempat tujuannya sedari tadi. Luhan memencet bel itu beberapa kali dengan senyum yang masih melekat di wajahnya, dan tampaknya senyum itu semakin lebar saja ketika ia mendengar langkah kaki Sehun di dalam sana sedang menuju ke pintu dimana terdapat Luhan dibaliknya. “Annyeong, Hun…” Sapa Luhan dengan senyumnya sesaat setelah Sehun membukakannya pintu, dan kemudian Luhan jatuh pingsan membuat Sehun sangat terkejut dengan semuanya.

Luhan membuka matanya saat ia merasakan dingin di bagian keningnya akibat kompres yang ditaruh Sehun. Dirasakannya ia terbaring di atas kasur empuk nan hangat dan ada bau harum tubuh Sehun setiap kali ia menarik nafasnya, membuatnya sangat merasa tenang dan aman. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, masih merasakan pusing sedikit sebelum akhirnya ia mendapati dirinya sedang berada di kamar Sehun, tetapi ia tidak menemukan sosok Sehun dimanapun. “Hun?” Panggil suara serak Luhan mencari dimana keberadaan Sehun.

Seseorang memasuki kamar Sehun, ya tentu saja itu Sehun sendiri, sang empunya kamar memasuki kamarnya sambil membawa nampan yang terdapat semangkuk bubur hangat dan segelas air diatasnya, tidak lupa mug berisi coklat hangat minuman favorit Luhan. Sehun tersenyum saat melihat Luhan sedang terduduk di atas tempat tidurnya sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan memandangnya dengan senyuman yang sangat dirindukan oleh Sehun. “Kau sudah bangun?” Sapa Sehun dan Luhan hanya mengangguk pelan, masih dengan senyumnya.

Sehun kemudian meletakkan nampan yang dibawanya di meja kecil yang ada di sebelah tempat tidurnya, mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur miliknya sendiri, disebelah kaki Luhan. Sehun merebut kembali mug berisi coklat hangat di dalamnya yang entah sejak kapan sudah berpindah dari atas nampan menjadi di tangan Luhan. Luhan hanya mengerucutkan bibirnya kesal karena ia belum sempat mencicipi coklat hangat itu. “Makan dulu baru kuijinkan kau meminumnya.” Ucap Sehun kemudian sambil mengambil semangkuk bubur yang dibawanya tadi, menyuapkan bubur itu ke mulut Luhan. Luhan hanya mengangguk dan membuka mulutnya mempersilahkan sendok berisi bubur di tangan Sehun masuk ke dalam mulutnya, begitu menurut dan terlihat sangat polos seperti seorang anak kecil.

Sehun hanya tertegun melihat Luhan dengan tingkah polosnya itu, memandangi pahatan indah maha karya dari Yang Kuasa. Luhan memajukan sedikit badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, kemudian “Hun?” panggilnya, membuat Sehun tersentak terkejut dari lamunannya tentang wajah indah nan polos Luhan tadi. “Kau kenapa?” Tanya Luhan lagi dengan wajah innocentnya, membuat Sehun bersumpah bahwa ia akan mengutuk siapapun yang merusak kepolosan wajah kekasihnya ini. Sehun menggeleng pelan menjawab pertanyaan Luhan tadi sambil kembali menyuapi bubur itu.

“Aku tadi tidak melihat mobilmu ataupun Suho hyung di depan, kau berjalan kaki kerumahku?” Tanya Sehun sambil tetap menyuapi Luhan dengan bubur di tangannya. Lagi, Luhan mengangguk polos. “Bodoh. Mengapa kau berjalan disaat sakit begini? Untung saja kau pingsan saat kau sampai, bagaimana kalau kau pingsan ditengah jalan, hm?” Omel Sehun, omelan yang sangat dirindukan Luhan karena sudah lama ia tidak mendengarnya. Luhan menjawab pertanyaan Sehun dengan kata-kata yang sama persis dengan yang diberikannya kepada Suho saat ia menolak tawaran Suho tadi, membuat Sehun menepuk jidadnya sendiri keras-keras mendengar jawaban Luhan. “Apa nyawamu itu kau anggap mainan, hm? Atau mungkin kau menganggap nyawamu ada 9?” Tanya Sehun kesal, menyentil pelan kening Luhan.

Luhan memegangi bagian keningnya yang terasa sakit dan sedikit pusing akibat disentil Sehun barusan, Luhan menggembungkan pipinya agar Sehun tahu ia marah dengan Sehun sekarang, namun itu malah terlihat sangat lucu di mata Sehun. “Sakit, Hun! Tentu saja tidak, kau kira aku kucing?” Kali ini Sehun mengutuk kepolosan Luhan yang membuatnya menjadi gila seperti sekarang, gila karena cintanya kepada Luhan. “Hah baiklah, maafkan aku.” Sehun menyingkirkan tangan Luhan yang masih memegangi keningnya sendiri kemudian mengecup kening Luhan yang disentilnya tadi, lalu ia memeluk Luhan. “Mianhae, bogoshippeo.” Bisik Sehun pelan, tanpa disadarinya air matanya mengalir, namun segera dihapusnya air mata itu sebelum Luhan menyadari bahwa ia menangis. “Nado, Hun-ah.” Luhan balas memeluk erat Sehun sambil tersenyum.

Sehun melepas pelukannya lalu memberikan mug berisi coklat hangat itu kepada Luhan, sesuai dengan janjinya tadi. Luhan tersenyum menerima mug itu, menyesap isinya pelan. “Minumlah, lalu setelah itu pulanglah.” Ucap Sehun seraya berjalan menuju pintu yang membuat Luhan menghentikan aktifitas meminum coklat hangatnya tadi. “Pulang?” Tanya Luhan heran. Sekian lama mereka tidak bertemu, sekarang baru bertemu sebentar, dan Sehun menyuruh Luhan untuk pulang? Sungguh Luhan tidak mengerti. Terlihat Sehun hanya mengangguk tanpa menoleh kepada Luhan sedikitpun.

“Kau tidak merindukanku?” Sambung Luhan lagi, tetapi Sehun hanya tetap berjalan dan keluar kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Luhan. Luhan terduduk diam di tempat tidur Sehun, tidak ada niat lagi dengan coklat hangat yang masih ada di genggamannya sekarang. Ia sangat merindukan sosok itu, Oh Sehun, ia merindukannya. Tetapi mengapa dengan teganya Sehun menyuruhnya pulang, padahal diluar sedang hujan deras? Dan sialnya, ia tidak membawa telepon genggamnya lagi. Selalu saja, Luhan melupakan benda penting itu disaat sangat dibutuhkannya benda elektronik itu.

Luhan kemudian berjalan keluar kamar Sehun, menuruni tangga untuk meminjam telepon kepada Sehun yang sedang membaca buku di lantai bawah, ruang keluarganya. “Hun?” Panggil Luhan dari sisi belakang Sehun yang masih tidak mengalihkan fokusnya dari buku sastra yang dibacanya. “Hm?” Jawab singkat Sehun tanpa menoleh, membuat hati Luhan membeku seketika. Sehun tidak pernah menjawab panggilan hangat dari Luhan dengan singkat dan sedingin ini sebelumnya. “Mm.. bolehkah aku meminjam teleponmu sebentar? Aku ingin menelepon Suho hyung agar menjemputku sekarang.” Tanya Luhan lagi ragu, sepertinya Sehun sedang dalam mood yang tidak baik? Tapi Sehun sangat baik sebelumnya. Apakah mood Sehun memang selalu berubah secepat ini? Lagi, Sehun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Luhan.

Melihat jawaban Sehun, Luhan lalu menghampiri telepon yang terletak di meja kecil di sebelah sofa tempat Sehun duduk sekarang dengan buku sastranya. Luhan memegang gagang telepon itu, bersiap untuk memencet tombolnya. Tapi lagi-lagi sialnya, Luhan lupa dengan nomor telepon Suho yang padahal sudah dihafalnya diluar kepala sejak dia kecil. Mungkin kesibukannya belakangan ini menghilangkan beberapa folder memori di dalam kepalanya.

“01-832-… Lalu berapa ya?” Gumam Luhan pelan membuat Sehun sedikit melirik ke arahnya sebelum akhirnya melanjutkan aktifitas membacanya kembali. Luhan terlihat masih mengira-ngira berapa angka selanjutnya. Setelah cukup lama mengingat-ingat, sepertinya Luhan tidak kunjung ingat dengan nomor telepon Suho. Luhan menaruh kembali gagang telepon yang masih dipegangnya sedari tadi, kalau saja Sehun mengijinkannya untuk menginap hari ini karena Luhan benar-benar tidak ingat nomor telepon Suho.

“Hun… aku lupa nomor telepon Suho hyung. Bolehkah aku menginap, hanya untuk hari ini saja?” Tanya Luhan pelan, hampir tidak terdengar karena berisiknya suara gemuruh hujan diluar sana. “Kau bisa datang sendiri, mengapa tidak bisa pulang sendiri?” Jawab Sehun kembali bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sastra yang nampaknya hanya tersisa halaman terakhirnya. “Diluar sedang hujan deras, Hun. Kau tau kan aku benci dan takut dengan hujan? Lagipula, tadi kau memarahiku karena aku berjalan kaki kerumahmu, mengapa kau sekarang malah menyuruhku pulang menembus hujan deras?” Luhan benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Sehun yang sangat drastis itu. Baru saja beberapa waktu yang lalu Sehun sangat hangat kepadanya dan sekarang Sehun menjadi sedingin es.

“Pulanglah.” Sehun akhirnya selesai dengan buku sastra itu, lalu ia bangkit dari tempat duduknya, masih tidak menatap Luhan sama sekali. “Tapi Hun, langit sedang mengamuk dan seperti akan runtuh sebentar lagi, aku sangat takut.” Luhan dengan nada ketakutan, menahan tangan Sehun yang ingin pergi kembali menuju ke kamarnya. “Luhan, usiamu sudah 23 tahun sekarang, mengapa kau masih saja mengucapkan kata-kata fantasi seperti langit yang mengamuk dan sebagainya? Kapan kau akan dewasa, hah?” bentak Sehun pelan kepada Luhan, membuat Luhan tersentak dan melepaskan tangannya yang memegang Sehun. Walaupun pelan, tetap saja itu bentakan kan? Sehun tidak pernah sekalipun membentak Luhan seperti ini. Luhan semakin takut sekarang, selain karena suara petir yang terus bersahutan, juga karena Sehun sekarang. Luhan menunduk takut menatap Sehun yang kini menatapnya dengan tatapan tajam milik Sehun.

“Tapi kenapa, Hun? Apa ada yang salah kulakukan? Maafkan aku kalau begitu. Jangan seperti ini.” Luhan masih menunduk, tidak berani menatap Sehun. “Kau tidak boleh menginap disini. Gadisku akan marah jika ia mengetahuinya. Aku tidak ingin gadisku marah, jadi pulanglah.” Jawab Sehun pelan, menatap teduh ke arah Luhan, bukan tatapan tajam itu tadi. “Gadismu…?” Luhan terlihat bingung dan sedikit mendongakkan kepalanya, sedikit menatap Sehun, takut salah dengan apa yang didengarnya barusan. Lagi, Sehun hanya menggangguk menjawab pertanyaan Luhan.

Mata Luhan berkaca-kaca, membuat pandangannya mengabur. “Tapi ken… –“ Belum selesai Luhan berbicara, Sehun memotongnya. “Aku sudah lelah dengan semua ini, Lu. Aku ingin hidup sebagai lelaki normal sekarang, yang mencintai seorang gadis bukannya seorang pemuda. Mungkin orientasi seksualku sudah berubah menjadi normal sekarang, sejak kau menjadi sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan pentingmu itu dan tidak memiliki banyak waktu bahkan untuk menjaga kesehatanmu.” Air mata Luhan sukses mengalir dipipinya, Luhan menatap kebawah.

“Jika kesibukanku membuatku kehilangan dirimu, maka aku rela melepasnya dem… –“  Lagi, Sehun memotong omongan Luhan yang belum selesai. “Sudahlah Lu, sudah terlambat sekarang. Sekarang kau pulanglah.” Sehun berucap dengan nada yang dingin, sangat dingin menembus ke hati Luhan. “Tapi, kau telah berjanji, Hun. Jangan begini, hm?” Ucap Luhan dengan harapan agar Sehun mengubah ucapannya yang sebelumnya. “Apa hebatnya sebuah janji, Lu? Hatiku telah berubah sekarang. Apa aku harus tetap memaksakan cintaku padamu?” Lagi, ucapan itu membekukan hati Luhan. Apakah benar sebuah janji tidak memiliki kekuatan apa pun?

Luhan tidak dapat berkata-kata lagi sekarang, semua ini adalah salahnya sehingga Sehun jatuh cinta kepada yang lain, adalah salahnya terlalu sibuk dengan dunia barunya sehingga melupakan Sehun yang juga membutuhkan perhatian darinya, semuanya adalah sebab dari dirinya sendiri. Luhan tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sekarang, sambil berjalan bagaikan raga tanpa nyawa keluar rumah Sehun dengan diperhatikan oleh kedua manik tajam Sehun yang masih mengarah kepada dirinya.

Luhan berjalan menembus hujan lagi di malam yang dingin ini. Tidak diperdulikannya lagi kondisi kesehatannya yang masih menurun dan tetesan air yang turun membabi buta membasahi tubuh hangat bersuhu tinggi milik Luhan saat ini. Hujan, Luhan membencinya karena membuat surai berwarna hitam lurus dan halusnya menjadi kusut dan tidak beraturan, membuat tubuhnya menjadi basah dan terasa lembab, membuatnya merasa dingin dan sendiri. Luhan takut dengannya karena ketika hujan turun, langit seperti mengamuk dengan kilatan-kilatan cahaya terangnya dan suara gemuruh yang menakutkan. Tapi, untuk kali kedua ia berjalan menembus tetesan air tanpa batas itu. Untuk kali kedua ia merasakan kepedihan di waktu hujan.

Wajah Luhan terlihat semakin putih pucat dengan bibir yang sudah membiru. Luhan menggiggil merasakan dingin yang menusuk sampai ke tulangnya sambil memeluk sendiri tubuhnya dan terus berjalan sebelum akhirnya Luhan merasakan pusingnya semakin menjadi dan tidak tertahankan lagi. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, menabrak beberapa orang untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tidak diperdulikannya orang-orang yang mengoceh akibat ditabrak oleh dirinya. Pandangan Luhan mengabur, lalu semuanya menjadi gelap bagi Luhan. Luhan tumbang di tengah hujan yang masih mengguyurinya.

Seorang pria bertubuh tegap berlari bermaksud untuk menghampiri tubuh Luhan yang ada di seberang jalan sana, tergeletak di tengah hujan deras. Tapi sungguh disesalkan, lampu rambu lalu lintas itu berubah warna menjadi hijau sebelum pria itu sempat sampai ke seberang jalan, membuat suara klakson mobil dan kemudian suara sirine ambulan memecah suara hujan di malam itu. Genangan air hujan pun berubah warna menjadi merah bercampur dengan darah.

***

To be continued –

Please don’t be a silent reader, thanks! :)

One thought on “[ Freelance Twoshot ] REGRETS – 1st

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s