[ Freelance Oneshot ] Wedding Proposal 2nd

Photo_Lab

Author: Ghina

Cast: Park Jungsoo  Lee Young

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG-15

Sudah pernah di post di beberapa blog dan blog pribadi saya, specialoves.wordpress.com dan dapat pula di akses di fanpage khusus karya-karya saya, facebook.com/sunghye.palace

.

.

.

Sebuah pesan singkat yang dikirimkan gadis itu beberapa detik lalu membuat Jungsoo panik setengah mati. Jungsoo melompat dari ranjangnya dan segera berlari menuju kamar mandi. Jungsoo menyambar arm sling yang ia letakkan diatas wastafel lalu memakainya dengan cepat. Setelah merasa pas, Jungsoo membalikkan tubuhnya menghadap cermin, mulai mengamati. Wajahnya cukup pucat dengan rambut yang sangat berantakan. Ditambah dengan lingkaran hitam yang menghiasi bagian bawah matanya, Jungsoo yakin penampilannya sudah sangat sempurna.

Aku datang.

Jungsoo yang masih sibuk mengatur ekspresi wajahnya menjadi kelimpungan. Lelaki itu mencampakkan barang-barangnya yang berserakan ke dalam lemari handuk lalu segera beranjak dari tempatnya, berniat menghampiri seseorang yang menunggunya di ruang makan saat pergelangan kaki kanannya tanpa sengaja menabrak daun pintu. Refleks, Jungsoo berteriak kesakitan.

YoungLee Young, yang mendengar teriakan kekasihnya, langsung berlari menuju sumber suara. Tidak berapa lama kemudian, Young menemukan Jungsoo sedang berjongkok di depan kamar mandi dengan salah satu tangan memegang kakinya. Wajahnya meringis menahan sakit, membuat Young khawatir. Young mendekati Jungsoo dan membantu pria itu beristirahat pada sofa empuk di sudut ruangan. Gadis itu mengambil beberapa bantal dan meletakkannya di belakang kepala Jungsoo, menjadikannya penyangga.

Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?

Kepanikan yang disiratkan Young, membuat Jungsoo merasa senang. Pria itu melupakan rasa sakitnya dan tersenyum kecil.  Bukan hal besar, ujar Jungsoo sembari mengedikkan dagunya pada kaki kanannya yang bermasalah.

Setelah tangan, lalu kaki? Bagus sekali, Park Jungsoo, sindir Young terangan-terangan, membuahkan tawa sumbang dari Jungsoo. Young melirik kaki Jungsoo yang mulai lebam lalu meringis setelahnya. Gadis itu bangkit berdiri dan mendorong bahu Jungsoo menjauh, memaksa pria itu rebahan. Tunggu disini, aku akan menyiapkan air hangat.

Lalu kaki kecilnya membawa Young ke dapur. Gadis itu mengambil baskom dan mengisinya dengan air panas. Young menambahkan air dingin secukupnya, menarik sebuah kain polos lalu sedikit terburu menemui Jungsoo di dalam kamar. Gadis itu duduk di lantai dan mulai melakukan tugasnyamengompres kaki Jungsoo.

Young terlalu serius dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak menyadari kalau Jungsoo sedang memerhatikannya, menatapnya lekat seolah-olah Young adalah gadis terakhir yang tersisa di muka bumi. Dan memang begitulah yang Jungsoo rasakan. Jungsoo menarik napas perlahanmenguatkan niatnyalalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya.

Youngi-ya panggil Jungsoo lembut.

Young mendongak dan menyentakkan kepalanya ke belakang di detik berikutnya. Sebuah benda berbentuk kucing berada tepat di depan wajahnya dan nyaris membuat matanya tertusuk. Young memiringkan kepalanya sedikit agar dapat menatap langsung ke mata Jungsoo. Gadis itu hendak bertanya ketika Jungsoo memilih untuk bersuara terlebih dahulu.

Menikahlah denganku, Lee Young.

Dan benda itupun terbuka, menunjukkan sebuah cincin sederhana yang nampak sangat indah. Young berdiam di tempatnya, mendadak tidak bisa bergerak sedikit pun. Gadis itu menatap benda yang berkilau tersebut dengan pandangan kosong, menyebabkan Jungsoo yang melihatnya berinisiatif turun dari sofa dan duduk dihadapan gadis itu.

Hei, aku serius, Young.

Jungsoo menyentuh dagu Young, meminta gadis itu menatapnya. Dan Young menurut meskipun raut bingung masih tersisa di wajah manisnya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengembalikan penglihatannya yang mendadak bermasalah. Tapi terasa sia-sia saja karena Young merasakan matanya semakin memburam karena air mata yang mulai menumpuk.

Jangan tanyakan mengapa, larang Jungsoo cepat saat dilihatnya Young membuka mulut. Aku menyukai segala hal yang ada pada dirimu. Kecerdasanmu, kepolosanmu, kenaifanmusemuanya. Kekuranganmu memikatku dan kelebihanmu memerangkapku. Aku mencintaimu, Young, sangat. Tidakkah itu cukup? Jungsoo meraih kedua tangan Young dan mendekapnya di depan dadanya. Kumohon, menikahlah denganku, Young.

Young menatap kedua bola mata hitam di depannya, menyelaminya, mencari-cari sebuah keraguan disana. Namun, Young tidak menemukannya. Young malah melihat ketulusan, ketakutan, kecemasan, dan rasa cinta yang begitu besar untuknya. Seketika Young menghamburkan dirinya ke pelukan Jungsoo, membuat pria itu terkejut.

Young, kau

Ya, Jungsoo, ya. Aku mau.

Dan perasaan bahagia itu mengaliri sekujur tubuh Jungsoo. Lelaki itu merasa lega luar biasa. Jungsoo mengeluarkan tangannya dari dalam arm sling dan balas memeluk Young dengan erat. Jungsoo menghirup aroma Young sejenak lalu melepaskan pelukan mereka.

Terima kasih, ujar Jungsoo lembutsangat lembutsembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Young hingga habis tak bersisa. Lantas memajukan wajahnya dan mengecup kening Young penuh kasih sayang. Aku mencintaimu, Young.

Aku juga.

Dan mereka berciuman dengan mesra, mengabaikan angin musim gugur yang menyusup masuk dan menerbangkan gorden putih di belakang mereka. Ciuman itu terlepas saat mereka sama-sama merasa kehabisan napas. Mereka bersitatap lalu terbahak setelahnya, menertawakan sesuatu yang tidak begitu dimengerti.

Jungsoo mengambil cincin dari kotak tersebut dan memakaikannya di jari manis Young. Pria itu mengangkat tangan Young dan membawanya ke bibirnya, mengecupnya lama.

Aku akan membahagiakanmu, Young, ujar Jungsoo serius, sehingga Young lagi-lagi merasa terharu. Gadis itu menghadiahkan sebuah kecupan sayang di pipi Jungsoo dan kembali masuk ke dalam dekapan Jungsoo. Kali ini tidak malu-malu menunjukkan keinginannyaduduk di pangkuan Jungsoo. Cukup lama mereka berada dalam posisi nyaman tersebut sampai Young menyadari ada sesuatu yang salah.

Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jungsoo dan menatap pria ituyang sedang merengut karena posisi kesukaannya terlepas begitu sajadengan tajam. Begitu mengetahui sesuatu-yang-salah itu, Young melipat kedua tangannya di depan dada.

Kau menipuku, ya?

Jungsoo mengerutkan keningnya bingung.

Tanganmu tidak patah, Park Jungsoo.

Pandangan Jungsoo beralih ke tangan kanannya yang sudah tidak berada dalam arm sling. Tatapi, kakiku benar-benar terluka. Seperti anak kecil, Jungsoo menunjukkan kakinya yang memang membiru, mencoba membela diri.

Aku mengatakan tangan, Jungsoo, bukan kaki.

Pria itu hanya menyengir lebar dan menaikkan jari telunjuk serta tengahnya menutupi wajahnya, meminta damai. Dan Young tidak bisa melakukan apapun selain menghela napas.Well, Lee Young dan Park Jungsoo sepertinya memiliki kelemahan yang sama; kelemahan yang berbentuk manusia.

END

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s