[Oneshoot] I Love You

I Love You

Cr. Poster by flamintskle @ ArtZone

Title/Judul : I Love You || Author : Yuna Lazuardi Lockhart || Cast : Oh Sehun (EXO), Shin Ji Hoon, Kwon Sohyun (4Minute) || Genre : Sad Romance, Friendship, Thriller. || Disclaimer : This FF is mine. Don’t claim or plagiat this FF. || Rating : PG – 17

 

Hello, my name is Yuna Lazuardi, aku author baru disini^^

Aku bukan fandom EXO atau 4Minute, tapi aku suka Shin Ji Hoon. FF ini akan bercerita tentang seputar kehidupan Sehun dan Shin Ji Hoon yang keduanya adalah sahabat baik. Sehun adalah pemuda yang frustasi setelah ditinggal mati pacarnya. Sementara Ji Hoon berperan sebagai sahabat yang jatuh cinta pada Sehun.

Bisa kalian lihat, disini aku pairing Sehun X Sohyun dan Sehun X Shin Ji Hoon. Please, jangan tanya alasannya karena aku sendiri juga nggak tau apa alasannya. Aku bahkan nggak tau mereka punya moment atau nggak. Tapi aku merasa mereka ini cocok. Untuk masalah pairing aku nggak menerima bashing yaa…

Aku nggak menuntut komen, cuma berharap kalau kalian menyukai FF-ku. Tapi jika kalian meninggalkan jejak, tentu itu akan menjadi sangat berarti^^

Well, happy reading!

***

 

Kau memberinya kesempatan untuk mengisi hari-harimu,

Tapi kau tidak pernah memberiku kesempatan itu.

 

Kau selalu mengatakan kalau dia adalah anugerah terindah yang kau miliki,

Tapi kau hanya mengatakan kalau kau beruntung bisa mengenalku.

 

Kau terus saja menunggunya datang,

Tapi jika yang aku datang, kau memintaku pergi.

 

Kau bahkan membiarkan dia mengetahui rahasia terkelam hidupmu,

Tapi kau selalu menghindar ketika aku mencoba mengenalmu lebih dalam.

 

Kau juga mengizinkannya mencintaimu,

Tapi kau mengatakan padaku kalau kita hanya teman.

 

Sebenarnya apa aku ini ?

Mengapa aku selalu menjadi yang kedua ?

Apa di dalam hatimu sudah tak ada lagi celah untuk ku ?

Lalu, bagaimana aku harus menghadapi diriku sendiri nanti ?

 

Katakan padaku,

Bagaimana caranya agar aku dapat melupakan cintaku padamu…

 ***

 

“Sehun!”

“Oh Sehun!!”

Panggil seorang gadis bertubuh mungil dari depan rumahnya. Senyumnya yang lebar dan tangannya yang melambai-lambai itu menyapa seorang pemuda bertubuh tinggi yang lewat di depan rumahnya.

 

Lelaki itu menoleh, menampilkan wajah lugu yang sudah menjadi daya tariknya. “Kau memanggilku ?”

“Memangnya ada siapa lagi ?”

“Kali ini apa ?” pemuda itu tampak menghela nafas.

“Ayo jalan-jalan…” Usul gadis mungil itu.

Kali ini pemuda bernama Sehun itu berdecak, “Ck, apa tidak ada orang yang mau jalan-jalan denganmu ?”

“Katanya kau temanku…”

“Iya, tapi aku sibuk.”

“Haiishh… Ini kan’ akhir pekan.”

 

Pemuda itu termenung, tampak memikirkan sesuatu.

“Sehuuuunnnn!” panggil gadis itu lagi.

“Aku mau ke makam Sohyun.” Ucapnya tiba-tiba.

 

Kali ini gadis itu yang diam. Entah mengapa mood-nya langsung hilang begitu pemuda dihadapannya itu menyebutkan nama Sohyun.

“Ji Hoon ?” panggil Sehun kemudian.

Gadis itu menoleh, “Hmm…”

“Bagaimana ? Kita pergi ke makam Sohyun saja, ya ?” tawar Sehun.

“Apa tidak ada tempat lain ? Minggu kemarin dan kemarin dan kemarinnya lagi kau juga mengajak ku ke makam Sohyun. Sepertinya makam Sohyun itu lebih menyenangkan dari pada Lotte World.” Keluh gadis itu.

“Jadi kau tidak mau ?”

 

Gadis itu lagi-lagi terdiam. Sebenarnya ia malas kalau harus menemani Sehun ke makam itu. Ya Tuhan, Sehun… Dia itu sudah tiada. Apa kau akan terus membiarkan aku cemburu pada orang yang sudah mati ? Tak bisakah kau lupakan dia untuk ku ? Anggap saja kalau kau membahagiakan orang yang mencintaimu.

“Shin Ji Hoon…” panggil Sehun lagi.

Gadis yang dipanggil Shin Ji Hoon itu menghela nafas, “Baiklah.”

“Nah, itu baru temanku.” Sehun memeluk erat gadis didepannya.

“Sehun…”

“Ya ?”

“Aku tidak bisa bernafas.”

Sehun melepaskan pelukannya, “Maaf.”

***

 

Sore itu pemakaman tampak sepi. Hanya terlihat dua orang wanita paruh baya yang tengah meletakan bunga di depan batu nisan. Sehun sendiri hanya berdiri sambil menatap makam di depannya. Semilir angin musim dingin yang bertiup tak dipedulikannya. Padahal Ji Hoon yang berdiri disampingnya sudah merapatkan mantelnya. Kemudian Sehun berlutut. Menatap batu nisan yang bertuliskan nama Kwon Sohyun,kekasihnya.

 

“Sehun…” panggil Ji Hoon pelan.

Pemuda itu tak menoleh, masih termenung disana.

“Sehun, sudah satu jam kita disini. Aku hampir mati kedinginan…” ucap Ji Hoon.

 

Kali ini tangan pemuda itu tergerak, meletakan seikat bunga tulip kuning yang dibawanya sejak tadi.

 

“Sohyun-ah…” Ia mulai berbicara.

“Maafkan aku karena tidak bisa menjengukmu setiap hari…” lanjutnya.

Ji Hoon menghela nafas, “Sehuuuuuunnnn…”

“Hari ini aku bawa tulip kuning. Kesukaanmu kan’ ?” Sehun tersenyum tipis, masih mengabaikan Shin Ji Hoon dibelakangnya.

 

Ji Hoon menarik nafas panjang. Rasanya sudah bosan ia diabaikan. Setiap kali selalu begini. Setiap minggu juga selalu datang kemari. Memangnya aku ini patung ? Sehun, sampai kapan kau akan begini ? Kenapa kau tidak bisa menerima kenyataan kalau Sohyun sudah tidak ada ?

 

“Se–”

“Lima menit lagi.” Potongnya.

 

Untuk kesekian kalinya gadis itu menghela nafas frustasi. Ini sudah yang kesekian kalinya ia berdiri berjam-jam di depan makam hanya untuk menunggu Oh Sehun menyelesaikan ‘ziarah cinta’-nya.

 

“Ini sudah lewat lima menit.” ucap Ji Hoon lagi.

Sehun menoleh, “Kau ini kenapa ? Bukankah tadi kau sendiri yang mau ikut ?”

 

Shin Ji Hoon membulatkan matanya. Ia hampir saja tidak percaya kalau Sehun baru saja mengucapkan kata-kata seperti itu. Apa-apaan dia ? Memang aku menyetujui usulnya untuk datang kesini. Tapi…

 

“Kenapa kau diam saja ? Karena kau sudah datang, sapalah Sohyun juga…” ucap Sehun tiba-tiba, membuyarkan lamunan Ji Hoon.

“Huh ?”

“Sapa Sohyun sana….” Kali ini pemuda itu mendorong tubuh mungil Jin Hoon ke depan makam.

Ji Hoon berbalik, “Aku sudah menyapanya minggu lalu. Kenapa sekarang lagi ?”

“Kau ini kenapa ? Setidaknya berilah salam padanya. Dia kan’ pacarku.” Sahut Sehun lagi.

Ji Hoon menghela nafas, “Sadarlah, Sehun… Sampai kapan kau mau begini ?”

“Begini bagaimana ?” pemuda itu balik bertanya.

“Kwon Sohyun sudah meninggal.” Tegas Shin Ji Hoon.

 

Tiba-tiba saja Sehun menegang, rahangnya juga mengeras. Ia menatap tajam pada gadis bertubuh mungil di depannya. Apa begitu terlihat kalau aku belum bisa menerima kepergian Sohyun ?

 

“Kau harus belajar untuk melupakannya…” sahut Ji Hoon sakartis.

Ujung bibir Sehun tertarik, membentuk senyuman sinis. “Sebenarnya ada apa denganmu ? Kenapa kau sangat aneh hari ini ?”

“Aku yakin Sohyun baru akan tenang kalau–”

“Biasanya kau tidak menyebalkan seperti ini. Ada apa, huh ?” potong Sehun cepat, mengalihkan pembicaraan.

Shin Ji Hoon memijat keningnya, “Kwon Sohyun sudah meninggal.”

“Kalau dia sudah meninggal, lalu kenapa ?!” Sehun berteriak.

Ji Hoon menatap tajam pemuda di depannya, “Jelas kau harus melupakannya!”

“Apa kau tidak tahu, kalau orang yang hidup tetap harus hidup walaupun ditinggal mati ?” lanjut gadis itu.

 

Sehun menarik nafas, mencoba menenangkan diri. Kemudian mereka berdua diam. Tak ada yang berniat bicara lagi. Rasanya seperti topik pembicaraannya adalah tentang hal-hal yang menyeramkan seperti pembajakan pesawat atau rencana pembunuhan presiden. Padahal keduanya tahu, kalau Shin Ji Hoon hanya berusaha menyadarkan Sehun kalau kekasihnya, Kwon Sohyun, sudah tiada.

 

“Sudahlah. Ayo pulang…” ucap Sehun sambil menarik tangan Ji Hoon.

Ji Hoon menghempaskan tangan pemuda itu, “Ayo kita selesaikan ini.”

“Ini sudah hampir malam. Sebaiknya kita cepat pulang.” Untuk kedua kalinya Sehun menggandeng tangan Ji Hoon.

 

Ji Hoon mematung disana. Tak peduli seberapa keras Sehun menariknya, ia tak bergeming.

 

“Mengapa kau masih belum melupakannya ?”

“Disini semakin dingin. Ayo pulang…” Sehun sekali lagi menarik Ji Hoon. Kali ini lebih lembut. Ku mohon, Ji Hoon. Ku mohon. Jangan mengungkit masalah Sohyun sekarang.

Dan untuk kedua kalinya juga Ji Hoon menghempaskan tangan Sehun, “Mengapa kau hanya bisa mengabaikan aku ?”

“Shin Ji–”

“Apa wajahku ini terlihat seperti lembaran buku diary-mu yang bisa di isi ketika kau butuh, dan di simpan ketika kau senang ?”

“Ji Hoon, aku–”

“Atau kau bahkan tidak menganggapku teman lagi, huh ?”

“Shin Ji Hoon!” seru Sehun tiba-tiba, menghentikan ocehan Ji Hoon.

“Aku mohon, berhenti membahas ini. Oke ?” lanjutnya parau.

 

Ji Hoon menatap Sehun dengan tatapan mata sendu. Kenapa ? Kenapa kau lakukan ini, Sehun ? Kenapa kau selalu menghindari topik pembicaraan ini ?Apa dimatamu aku tak pantas untuk menggantikan posisi Sohyun ?

 

“Apa kau takut kalau aku tahu bahwa kau masih mencintai Sohyun ? Atau kenyataan kalau kau belum siap menerima kepergiannya ?”

 

Lagi-lagi Sehun menegang. Sepertinya ucapan Ji Hoon memang tepat. Dari mimik wajahnya, pemuda itu terlihat seperti seorang anak kecil yang terkejut karena ketahuan berbohong.

 

“Hentikan. Aku tidak mau membahas hal ini.” Sehun menglaihkan pandangannya.

Ji Hoon mnarik nafas, “Lalu mau sampai kapan kita menghabiskan akhir pekan di pemakaman ?”

“Kenapa kau jadi seperti ini ? Tidak bisakah kau jadi Shin Ji Hoon yang biasa ? Shin Ji Hoon yang tidak pernah mempertanyakan alasan dari semua tindakanku. Shin Ji Hoon yang akan menemaniku mengunjungi makam Sohyun. Shin Ji Hoon yang selalu mengerti aku. Bisakah hari ini aku melihat Shin Ji Hoon yang seperti itu saja?”

 

Sehun tampak frustasi. Pemuda itu bahkan sudah berulang kali memijat tengkuknya untuk melemaskan otot lehernya yang tegang. Aku mohon. Aku tidak ingin menyakitimu, Ji Hoon.

 

“Aku lelah.” Ji Hoon menatap Sehun dengan wajah datar.

“Huh ?”

“Aku lelah, Sehun… Aku lelah menjadi Shin Ji Hoon yang tidak banyak menuntut, padahal aku selalu ingin menuntut segala hal darimu. Aku lelah menjadi Shin Ji Hoon yang dengan senang hati menemanimu ke sini, meskipun pada kenyataannya aku tidak suka pemakaman dan Sohyun. Aku juga lelah selalu menjadi orang yang mengerti dirimu, disaat aku sendiri ingin dimengerti olehmu.”

 

Shin Ji Hoon melangkahkan kakinya pelan menyusuri jalan setapak yang mengarah pada jalan keluar pemakaman. Baiklah, kalau kau memang tidak ingin aku mencampuri urusanmu, lebih baik aku pergi. Mungkin besok perasaanku akan membaik…

 

“Maafkan aku!” seru Sehun.

 

Ji Hoon menoleh, lalu melanjutkan langkahnya lagi.

 

“Maafkan aku, Shin Ji Hoon…!!” pemuda itu berteriak.

 

Kali ini Shin Ji Hoon sama sekali tidak menoleh.

 

Sehun bergegas meninggalkan makam Sohyun untuk mengejar Ji Hoon yang semakin menjauh. Lalu saat punggung gadis itu menghilang di gerbang pemakaman, Sehun mempercepat langkahnya. Tidak. Ia bahkan berlari untuk mengejar sahabatnya itu.

 

“Ji Hoon!” Lelaki itu menahan tangan Shin Ji Hoon lagi.

“Maafkan aku.” Lanjutnya terengah-engah.

Ji Hoon berhenti meskipun tidak menoleh, “Kenapa minta maaf ?”

“Kenapa kau pergi ?” Sehun balik bertanya.

“Bukankah kau bilang menginginkan Shin Ji Hoon yang seperti biasanya ?” tanya Ji Hoon lagi.

“Iya. Lalu kenapa ?”

“Kalau begitu maaf. Karena aku tidak bisa lagi menjadi Shin Ji Hoon yang biasa.” Lanjutnya dingin.

 

Sehun membalik tubuh Ji Hoon lalu memeluknya erat. Seperti yang biasa dilakukannya jika perasaannya gundah.

 

“Tapi… Kenapa ?”

Ji Hoon menghela nafas, “Mengapa kau suka sekali bertanya dengan awalan kenapa ?”

“Karena kau sahabatku. Aku ingin tahu semua tentangmu. Apa yang kau sukai, apa yang tidak kau sukai, siapa pacarmu atau siapa orang yang kau sukai. Itulah alasannya.” Sehun mempererat pelukannya.

“Kalau kau masih menganggapku sahabatmu, lalu kenapa kau tidak pernah mengikuti nasihatku ? Kenapa juga kau selalu menyembunyikan rahasiamu dariku ? Kau anggap apa aku ?”

“Maaf.”

“Aku mencintaimu. Aku ingin tahu semua tentangmu selain Kwon Sohyun. Tapi kau selalu menyembunyikan semuanya dariku. Kau tidak pernah menceritakan apapun padaku selain tentang Sohyun walaupun kau tahu kalau aku tidak menyukainya.”

“Tapi–”

“Aku tahu kalau kau mengetahui perasaanku. Tapi bagaimana bisa kau masih membuatku cemburu pada orang yang sudah mati, Sehun ? Tidak kah kau sadar kalau kau sudah berulang kali menyakiti aku ?”

“Aku mencintai Sohyun.”

 

Ji Hoon mendorong kuat-kuat tubuh Sehun begitu ia menyelesaikan kalimat terakhirnya. Gadis itu kemudian menatap tajam tepat pada manik mata Sehun.

 

“Kalau kau begitu mencintai Kwon Sohyun…” Ji Hoon terhenti.

“Mengapa… Kau tidak mati saja ?” lanjutnya.

 

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Ji Hoon melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Kali ini tidak ada lagi teriakan Sehun atau permintaan maaf dari lelaki itu untuk menghentikannya.

***

 

Hari demi hari berlalu, begitu pula minggu demi minggu. Bulan- bulan juga berjalan dengan cepat. Tak terasa musim bahkan telah berganti. Dari musim dingin, ke musim panas. Kalau kemarin orang-orang masih mengenakan mantel hangat yang super tebal, maka hari ini mereka mengenakan kaos dan celana pendek lalu pergi kepantai.

 

Sehun melewati koridor sekolah, saat Ji Hoon juga sedang berada disana. ini sudah bulan ke enam sejak mereka tidak saling berbicara satu sama lain. Setiap kali berpapasan yang terjadi hanyalah saling menatap atau acuh sama sekali.

 

“Ji Hoon…” panggil Sehun untuk kesekian kalinya, setelah berbulan-bulan di abaikan gadis itu.

“Ji Hoon…” ulangnya entah untuk yang keberapa kali.

 

Dan untuk pertama kalinya setelah enam bulan, Ji Hoon menoleh. Menatap Sehun yang memanggilnya.

 

“Sampai kapan kita akan begini ?”

“……” masih tak ada jawaban dari Ji Hoon.

“Shin Ji Hoon… Apa kau masih marah padaku ?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa ?”

 

Ji Hoon tersentak. Lagi-lagi ia mengingat kejadian berbulan-bulan lalu, saat ia bertanya pada Sehun mengapa lelaki itu sangat sering menggunakan kata tanya kenapa.

 

“Ji Hoon-ah…”

 

Lagi-lagi Ji Hoon tersentak. Sejak kapan Sehun memanggilnya dengan Ji Hoon-ah ?

 

“Aku ingin melupakanmu.” Jawab Ji Hoon pada akhirnya.

Mata Sehun membulat, “Lalu… Bagaimana dengan persahabatan kita ?”

“Bukankah itu juga sudah berakhir ?” Ji Hoon menatap pemuda di depannya dengan wajah datar.

“Ya Tuhan! Kapan ?”

“Saat kau bilang kalau kau menginginkan Shin Ji Hoon yang biasa. Karena Shin Jin Hoon ini sudah lelah menjadi Shin Ji Hoon yang biasa. Dan karena Shin Ji Hoon yang sekarang tidak ingin kau menyakitinya lagi.” Jawab Ji Hoon cepat.

“Shin Ji Hoon!”

“Apa ?”

“Kau… Bukan Shin Ji Hoon yang aku kenal.” Tukas Sehun kemudian.

Ji Hoon tersenyum, “Memang bukan. Shin Ji Hoon yang kau kenal sudah mati. Bersamaan dengan rasa cintanya padamu enam bulan lalu.”

“Kalau aku bilang, aku mencintaimu, apa kau akan kembali seperti dulu ?” Kali ini Sehun menatap dalam-dalam mata Ji Hoon.

 

Ji Hoon tersentak. Lagi-lagi ia mendapatkan kejutan kecil dari Sehun.

 

“Huh ?”

“Aku bilang, aku mencintaimu.” Ulang Sehun.

Ji Hoon mengangkat sebelah alisnya, “Benarkah ? Bukankah yang kau cintai hanya Kwon Sohyun ?”

 

Sehun menghela nafas panjang. Rasanya pembahasan tentang masalah ini tidak akan pernah selesai.

 

“Aku memang masih mencintai Sohyun. Tapi aku kehilanganmu saat kita tidak bersama. Aku juga merindukanmu saat aku melihatmu, tapi tak bisa bicara denganmu. Bukankah itu adalah bukti yang cukup untuk membuatku sadar kalau aku mulai jatuh cinta padamu ?”

 

Ji Hoon termenung, masih meresapi kata-kata Sehun.

 

“Aku tidak tahu apakah ini nyata, atau hanya akal-akalanmu saja.” Ucapnya dingin.

Sehun mengacak rambutnya frustasi, “Ya Tuhan, Shin Ji Hoon! Apalagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya padaku ? Tidak kau mengenalku ? Sudah bertahun-tahun kita saling mengenal, tapi kenapa kau masih tidak bisa melihat kesungguhanku ?”

“Bertahun-tahun mengenal seseorang pun belum tentu bisa mengetahui seluk beluk dirinya, apalagi isi hatinya.” Balasnya.

“Bukankah kau mengenalku bahkan melebihi diriku sendiri ? Bukankah kau yang paling mengerti aku ? Jadi kenapa kau bersikap seperti ini ?” Sehun mengalihkan pandangannya.

“Hati manusia itu lebih luas dari samudra dan lebih dalam dari lautan. Seberapa lama pun aku mengenalmu, aku tetap tidak tahu isi hatimu…” Ji Hoon terhenti.

“Dan soal aku yang paling mengerti dirimu itu… Sejujurnya aku sudah lama kehilangan kemampuanku untuk mengerti dirimu.” Lanjutnya.

“Hanya dalam waktu enam bulan kau bisa melupakanku ?”

“Dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menjadi rumah untukmu. Kemanapun kau pergi, siapapun yang kau temui, selama apapun dan sejauh apapun perjalananmu, kau akan kemali ke rumah. Tapi, sebuah rumah jika ditinggalkan terlalu lama akan menjadi gubuk yang bahkan tidak layak untuk menjadi tempat berteduh…” jawab Ji Hoon

“Jadi kau mau aku bagaimana ?!” sehun berteriak, membuar siswa dan siswi disekitar menoleh kearah mereka berdua.

Ji Hoon menatap sinis lelaki di depannya, “Kenapa kau tidak mati saja agar bisa bertemu Kwon Sohyun ?!”

***

 

“Hei, kau lihat kan’ ? Dia yang kemarin menyuruh Oh Sehun untuk mati.”

“Apa benar ? Ya Tuhan, dia pikir siapa dia ?”

“Kau tahu tidak, mereka bertengkar kemarin. Lalu Shin Ji Hoon meminta Oh Sehun untuk mati. Mengerikan, ya….”

“Gadis itu kejam sekali… Bisa-bisanya dia membunuh orang dengan cara begitu.”

“Kudengar, dia juga yang menolak Oh Sehun… Memangnya dia secantik apa sampai berani melakukan hal itu ?”

 

Shin Ji Hoon memasuki area sekolah dengan keadaan kurang mengenakan pagi ini. Sepanjang koridor dilihatnya gerombolan siswa-siswi yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Ada apa ini ? Kenapa semua orang mentapku dengan tatapan mengerikan begitu ?

 

“Apa namamu Shin Ji Hoon ?” seorang gadis cantik bertubuh tinggi menghampiri Ji Hoon.

“I… Iya. Ada apa ?”

“Ada apa ?” ulang gadis itu.

“A.. Apa aku membuat kesalahan ?”

“Lihat ini.”

 

Gadis itu kemudian menyerahkan selembar kertas yang diketahui Ji Hoon berasal dari Mading. Detik berikutnya Shin Ji Hoon membulatkan matanya ketika membaca headline yang terpampang jelas disana : OH SEHUN, SISWA TAMPAN PALING BERPRESTASI DITEMUKAN MATI BUNUH DIRI DIKAMARNYA.

 

“Sehun… Apa… Ini…?”

 

Shin Ji Hoon tidak bisa mengucapkan apapun lagi. Lidahnya terasa kelu, matanya memanas. Ada banyak lelehan air mata disana yang bersiap meluncur dari pelupuk matanya. Lutunya terasa lemas, dan kakinya gemetar.

 

“Sehun, apa yang kau lakukan ?”

 

Ji Hoon duduk ditengah koridor. Air matanya sudah meleleh tak terbendung. Banyak siswa-siswi lain yang melihatnya, tapi ia tak peduli. Mendapati kabar kematian Sehun lebih menyakitkan ketimbang dibaikan oleh pemuda itu atau digunjing warga sekolah. Pada kenyataannya, Shin Ji Hoon masih mencintai Sehun.

 

“Apa kau Shin Ji Hoon ?”

 

Untuk kedua kalinya pagi ini seseorang menanyakan hal yang sama, di tempat yang sama. Kalau tadi seorang gadis cantik, maka kali ini seorang pemuda tampan yang memiliki sorot mata tajam seperti Sehun.

 

“I… Iya ?”

Pemuda itu tersenyum, “Aku memiliki hadiah untukmu. Dari Sehun.”

“A.. Apa… Se… Sehun…?”

 

Sebenarnya Ji Hoon ingin sekali memastikan kabar buruk itu. Tapi lagi-lagi lidahnya kelu.

 

“Kami akan memakamkannya nanti siang.” Kali ini pemuda itu menyodorkan sebuah kotak berwarna emas dengan pita merah.

“Jadi…”

“Ya. Itu benar. Tadi pagi kami menemukannya tewas dikamarnya. Adik ku itu memang tipe orang yang berlebihan…” pemuda itu mencoba tersenyum.

 

Lagi-lagi bulir bening mulai menyeruak dari mata Ji Hoon. Sekali lagi ia menangis. Menangisi kepergian Sehun karena dirinya.

 

“Kuharap kau datang. Karena Sehun juga pasti berharap kau datang.”ucapnya lagi.

 

Ji Hoon mengangguk. Gadis itu kemudian menarik pita merah di kotak emas yang diberikan Sehun untuknya. Tapi tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh pemuda didepannya.

 

“Bukalah dirumah, saat kau sendirian. Aku yakin kau tidak mau orang lain melihat itu.” Sahutnya.

“Kau tidak marah padaku ?” Tanya Ji Hoon kemudian.

Pemuda itu menatap Ji Hoon lekat-lekat, “Kenapa aku harus marah ?”

“Sehun mati karena aku, kan’ ?” Ji Hoon terisak lagi.

“Kemarin aku yang menyuruhnya untuk mati. Dan sekarang dia benar-benar mati. Apa yang harus kulakukan ?!” lanjutnya histeris.

“Kau mau melihatnya ?”

“Bolehkah ?”

“Tentu saja.”

 

Setelah mendapat izin, Ji Hoon pergi kerumah Sehun bersama kakaknya. Setibanya disana Ji Hoon lagi-lagi tidak bisa membendung air matanya. Untuk kesekian kalinya pagi ini, Ji Hoon menangis. Sehun, kenapa kau pergi ? Kenapa kau melakukan apa yang aku katakan ? Kau mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi mengapa kau menyusul Sohyun ?Maafkan aku.

 

“Sehun…” panggil Ji Hoon pelan.

 

Di lihatnya tubuh pucat tak bernyawa Sehun yang terbujur kaku dipeti mati. Dengan rambut cokelat, mata yang tertutup rapih dan seragam sekolah yang dipakaikan Sehun terlihat begitu manis. Untuk Ji Hoon rasanya seperti melihatnya saat sedang tertidur dikelas. Mungkin sekarang Sehun juga sedang tertidur, tapi untuk selamanya.

 

“Kenapa kau begitu bodoh, Oh Sehun ?” Ji Hoon meneteskan air mata lagi.

“Apa kau benar-benar mencintai Sohyun ? Lalu bagaimana dengan ucapanmu kemarin ? Bukankah kau bilang kalau kau mencintai aku ? Kalau kau pergi, bagaimana denganku ?” gadis itu terisak lagi.

“Kenapa kau tidak menjawab ? Jawab aku. Katakan kalau ini hanya lelucon.” Tukas Ji Hoon lagi.

 

Berulang kali diucapkannya pertanyaan dan kata-kata yang sama. Akan tetapi hasilnya tetap sama. Nihil. Tak satupun pertanyaan yang dijawab oleh Sehun. Yang ada pemuda itu hanya diam membisu. Yah, untuk selamanya.

***

 

Ji Hoon duduk termangu didepan jendela kamarnya. Sudah dua hari ini ia kehilangan semangat hidupnya. Tak ada makanan atau apapun yang bisa menyentuhnya. Ia bahkan memiliki kantung mata yang biasanya tak pernah ada. Perlahan-lahan diambilnya kotak berwarna emas yang diterimanya dua hari lalu.

 

Dengan hati-hati Ji Hoon membuka kotaknya. Akan tetapi tercium bau anyir darah ketika kotak itu terbuka setengah. Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika mendapati sebuah jantung manusia bertengger manis didalam kotak, terbungkus rapih oleh kotak kaca.

 

“Ya Tuhan, Sehun!”

 

Ji Hoon refleks menutup mulutnya sendiri dengan tangan, membuat kotak itu terjatuh dan isinya berhamburan. Kemudian dengan cepat gadis itu memunguti isi kotak itu, termasuk jantung yang berada di dalam kotak. Ada selembar surat dan juga dua tangkai bunga lily putih didalamnya.

 

Yang kucintai, Shin Ji Hoon.

Hai…

Bagaimana kabarmu ?

Apa kau baik-baik saja ?

Ku harap kau baik baik saja. Karena aku juga baik-baik saja disini. Dan sepertinya para malaikat menyukaiku. Hahaha…

Ji Hoon lagi-lagi menutup mulutnya. Air mata langsung mengalir begitu ia membaca tiga kalimat pemuka. Bagaimana bisa aku baik-baik saja, Sehun ? Meskipun kau berharap aku baik, tapi pada kenyataannya aku tidak baik. Masih bisakah aku baik setelah kau pergi ?Aku menyesal Sehun. Aku menyesal. Bisakah kau kembaliuntuk ku ?

 

Kau mungkin terkejut mendapatkan surat seperti ini. Dan surat ini akan sampai ketanganmu kalau aku sudah mati. Ini mungkin terkesan klasik dan tidak keren, tapi aku ingin menyampaikan perasaanku dengan cara ini. Semoga kau membacanya sampai habis. Kekeke~

Sejujurnya aku tidak tahu apa yang aku rasakan belakangan ini. Rasanya dalam hatiku tidak selalu ada Sohyun sepenuhnya seperti dulu. Sekarang aku merasa kalau sebagian hatiku sudah ditempati orang lain. Bukan Sohyun, tapi kau Shin Ji Hoon.

Pertemuan terakhir kita di pemakaman waktu itu memang berakhir tidak mengenakan. Tapi dari sanalah aku sadar kalau ternyata aku memiliki perasaan lebih padamu. Perasaan yang bukan hanya sekedar sahabat.

 

Ji Hoon menegakan duduknya, mencoba membaca lebih jelas setiap kalimat yang ditulis Sehun. Kenapa baru sekarang, Sehun ? Kenapa baru sekarang ? Kenapa saat kau mencintaiku, kita harus terpisah ? Apakah ini karma ? Karma karena dulu aku menolak untuk memahami perasaanmu pada Sohyun ? Kuharap bukan.

 

Aku memang mencintai Sohyun. Tapi aku juga mulai merasakan perasaan yang sama terhadapmu. Aku memang tak pantas mengatakannya. Tapi kuharap perasaanmu masih seperti dulu, masih mencintaiku.

Oh! Apa kau sudah melihat hadiahnya ? Maafkan aku. Karena aku tidak bisa meyakinkanmmu. Semoga hadiahku yang satu ini bisa mengubahmu menjadi Shin Ji Hoon ku yang dulu. Aku mencintaimu, makanya aku memberikan seluruh kehidupanku padammu.

Sebenarnya aku cukup terkejut dengan ucapanmu. Ini bukan pertama kalinya kau menyuruhku untuk mati. Saat kita bertengkar di makam Sohyun, kau juga menyuruhku mati. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi sekarang aku megnerti.

 

Kali ini Ji hoon mengerutkan keningnya. Apa yang coba kau mengerti, Sehun ? Aku tidak pernah menyiratkan apapun atas semua ucapanku. Maafkan aku. Aku menyesal mengucapkan kata-kata terkutuk itu.

 

Maafkan aku. Maaf karena aku mengabaikanmu. Maaf karena aku tidak bisa mengerti dirimu. Maaf karena aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Maaf karena aku tidak pernah mendengarkanmu. Dan maaf karena aku egois.

Aku berterimakasih padamu, Ji Hoon. Karena mengikuti nasihat baikmu ini aku bisa mewujudkan dua keinginanku. Yaitu mengikatmu agar kau tidak melupakan aku, dan bertemu Sohyun. Kuharap kau tidak seperti aku.

 

Entah sudah keberapa kali Ji Hoon menghapus air matanya, tapi bulir bening itu terus saja mengalir. Maafkan aku juga karena aku leih egois dan lebih jahat darimu.

 

Apa kau sudah melihat lily putihnya ?

Bukankah itu cantik ?

Ji Hoon, aku punya satu keinginan. Aku tidak tahu apakah kau akan menuruti keinginanku kali ini, mengingat kau tidak suka pemakaman. Yah, tapi aku memaksa. Hahaha…

Aku tidak tahu apalagi yang kau suka selain lily putih. Sebenarnya aku tidak suka bunga itu. Kau pasti tahu kan’ kalau lily putih, selain melambangkan persahabatan dan cinta juga melambangkan kematian ?

Ketika kau selesai membaca surat ini, berjanjilah padaku. Berjanjilah kalau kau akan pergi ke makamku setiap minggu seperti kita pergi ke makam Sohyun setiap minggu. Aku akan selalu menunggu lily putih darimu…

Semoga kau bahagia…

Salam, Sehun.

 

Ji Hoon bangkit dari duduknya dan berlari kelaur kamar. Tak di pedulikannya panggilan ibu atau ayahnya yang khawatir atas keadaannya. Yang dia inginkan hanya satu. Bertemu Sehun. Tanpa alas kaki ia berlari sekuat tenaga menuju ke pemakaman dilereng bukit. Yah, itulah pemakaman terdekat. Dan sehun di makamkan disana.

 

“Sehun tunggu aku.”

 

Nafasnya mulai terengah-engah, tapi enggan rasanya untuk berhenti. Apalagi ketika Ji Hoon menangkap bayangan gerbang pemakaman yang sudah tak jauh lagi. Tapi kemudian…

 

CKIIITTT…!!! BRUUUAAAAKKK!!!

 

Suara benturan keras itu mengguncang jalanan di sekitar pemakaman yang sepi. Orang-orang yang awalnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, kini berkumpul. Mereka mengerumuni seorang gadis kecil yang jatuh bersimbah darah di tengah jalan. Shin Ji Hoon.

 

Rasa sakit di sekujur tubuhnya hampir membuat Ji Hoon menyerah. Tapi bagaimana bisa ia menyerah ? Ia harus ke makam Sehun dan memberikan bunga lily putih yang kini berada ditangannya. Tapi rasanya dada Ji Hoon mulai sesak, pandangan matanya pun sudah kabur.

 

Tuhan, apakah ini akan menjadi akhir dari segalanya ? Aku tidak apa-apa, Tuhan. Tapi mengapa kau memanggilku disaat aku belum memenuhi janjiku pada Sehun ? Seharusnya bunga lily ini sudah kuletakan di makamnya…

 

“Coba kau cek keadaannya. Mungkin dia masih hidup…” ujar seorang pria paruh baya.

 

Sehun, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhi janjiku. Aku tidak bisa memberikan bunga lily ini untukmu. Tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Maafkan aku…

 

“D… Dia… Dia…” seorang pria tampak terkejut ketika memeriksa nadi di tangan Ji Hoon.

 

“Dia sudah mati!” lanjutnya parau.

 

-END-

6 thoughts on “[Oneshoot] I Love You

  1. Huah. Nyesek bgt bacanya. Sampe2 nangis bombay. Authornya sadis euy. Masa semua castnya di matiin dg cara tragis.
    Keren bgt. Feelnya jg doet bgt. Tapi aku berharap sih bkaln happy ending

    Bwt authornya daebak. Keep writing

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s