Paint My Heart

IMG_20150205_175121

 Judul ||  Paint My Heart

Main Cast ||  Lee Jieun and Lee Jinki

Support Cast || Ga ada, dunia milik berdua

Genre || Romance /Fluff

Length || Ficlet

Rated || M

 

Disclaimer ||  I Own Nothing But The Story!  

.

.

 

 

 IU POV,

 

Aku berlari-lari di sepanjang jalan setapak menuju gedung kampusku. Sudah sangat terlambat. Aku menggerutu sebisaku meski itu tak berguna. Argumentasiku terpatahkan oleh kelalaianku sendiri, kenapa aku harus memilih berjalan kaki sementara Jinki menawarkan aku untuk membonceng motornya. Aku tidak mau dia merasa aku memanfaatkannya. Meskipun aku tahu dia baik, dan sudah lama kami berteman. Ya, memang bukan teman dekat. Hanya mengenalnya dari temannya, dan temannya adalah temanku. Secara otomatis kita berteman. 

 

Jinki adalah mahasiswa seni musik modern, sementara diriku berkecimpung dengan dunia seni lukis. Aku senang melukis. Dan saat ini aku benar-benar ingin melukisnya. Laki-laki itu, Lee Jinki. Tidak tahu kenapa. Wajahnya sangat memukauku. Dia sosok seorang laki-laki dengan aura yang mempesona. Kulitnya juga begitu eksotis. Memanjakan indra pengelihatanku. Menggoda hasratku untuk memindahkan keajaiban itu dalam kanvasku. Sesuatu dalam tubuhku berdesir membayangkan lekuk-lekuk ototnya yang akan menjadi konsumsi public. 

 

Agh, tapi itu baru sebuah cita-cita. Aku belum menanyakannya. Dan belum tentu dia bersedia. Sebuah bayangan menyeruak dari balik pohon. Aku hampir terpental jatuh di jalan sepi berbatu . Namun sosok itu justru menertawaiku. Jinki. Aku menatapnya horor. Kesal. Aku bersungut-sungut. 

 

“Sudah tidak usah masuk kelas saja!” tawarnya. 

 

Dia menggandeng tanganku untuk duduk pada bangku di sisi teduh. 

 

“Aku tidak berniat masuk. Aku hanya ingin tahu apa dosennya hadir atau tidak.” ujarku dalam keraguan. 

 

“Mr. Kim? Kurasa dia hadir. Belum lama dia lewat sini.” 

 

“Aku bisa kena SP!” “Tidak masalah.”  sahutnya tanpa dosa. 

 

“Kenapa kamu tidak masuk kelas juga?”. Aku berusaha untuk menutupi rasa gugubku.

 

Dia, Jinki selalu tersenyum ke arahku. Sepertinya dia sedang senang hari ini. 

 

“Aku menunggumu.” Percaya atau tidak aku tetap terkejut. Dia menungguku? Apa tidak salah dengar. 

 

“Kau menjatuhkan kuasmu tadi. Apa kau tidak sadar ada benda yang jatuh dari tasmu?” 

 

Satu kantung berisi kuas diserahkan padaku. Benar, itu milikku. Tapi kenapa bisa terjatuh? Agh, dasar ceroboh! 

 

“Terimakasih!” ujarku malu-malu. 

 

“Sekarang kau bisa masuk ke kelasmu!”.  Ucapku antara mengusir dan menganjurkannya untuk segera masuk mengikuti jadwal kuliahnya.

 

“Sudah terlambat. Kita di sini saja sampai mata kuliah berikutnya, oke! Kamu tidak keberatan kan?”  Tanyanya menawarkan. 

 

“Tidak.” jawabku singkat. Aku sibuk merapikan kuas-kuas itu. 

 

“Kenapa? Ada yang hilang?” 

 

“Tidak.” jawabku singkat. Lalu aku diam. Memikirkan rencanaku yang sesaat tadi menari-nari di kepalaku. Tapi ketika aku menatapnya, Jinki. Dia tengah memperhatikan langit. Kepalanya tengadah dan matanya menyipit, melindungi pupilnya dari hantaman sinar mentari. 

 

“Kau lihat apa?” tanyaku ingin tahu. Tak sadar ikut menatap langit. Menggangu aksimu yang serius . 

 

“Aku lihat langit.” jawabmu ringan. Agh, iya. Tentu saja. Langit. Aku tergelak lucu. Kau ikut tertawa. 

 

“Langitnya lucu.” ujarmu. Aku menepuk bahunya. Ternyata dia seseorang yang menyenangkan. Aku terus memperhatikannya. Dan mencoba menyimpan wajahnya dalam benakku. Aku benar-benar ingin melukisnya. 

 

“Aku sering melihatmu duduk di sini?” katamu sedikit menyelidiki. 

 

“Siapa? Aku?”

 

deg

 

deg

 

“Ya. ” jawabmu

 

“Kapan?”  tanyaku was-was.

 

“Hampir setiap hari. Menunggu seseorang atau mencari inspirasi?” Dia melirikku.

 

Apa aku harus menjawabnya. Ini sungguh hal yang sangat memalukan. Mana mungkin aku menagatakan kalau aku hanya ingin melihatnya ketika aku duduk di bangku yang sekarang kami duduki ini. 

 

“Apa kau sering melihatku di sini? Dan apa kau memperhatikanku separah itu?” tanyaku.

 

“Kau tidak sedang memata-mataiku kan?” balasnya kemudian. 

 

Lalu kami tercekat dengan emosi kami masing-masing. Mungkin, karena aku melihat raut wajahnya begitu serius. Menatapku dengan sudut yang tajam. Namun senyum itu tak pernah hilang dari bibirnya. Aku terpojok. Aku memang selalu memperhatikannya. Ya, aku mungkin menyukainya. Sudah lama. Dua tahun. Hh…aku mendesah. Selama itu. Dan sekarang aku harus berhadapan dengan pertanyaan itu. Apa jawabku? 

 

“Aku ingin melukismu, Jinki!” ujarku dengan nada serius. Bahasa tubuhku begitu lesu. Dia menepuk pundakku. Membuatku duduk dengan tegak lagi. 

 

” Kalau begitu, kenapa tidak?”

 

 “Benarkah kau mau?”. Aku bersorak girang. 

 

“Ya.” 

 

“Tapi aku ingin menegaskan sekali lagi, aku ingin melukismu telanjang Jinki!” 

 

Dia hanya tersenyum. Memperhatikan raut merah wajahku. Malu. Tapi dalam dunia seni, melukis tubuh adalah hal yang sangat dilegalkan. Karena masuk dalam kurikulum kuliah. Itu seni. Walau buat sebagian orang itu pornoaksi. Masa bodoh! 

 

“Kau Nakal !!”  seru Jinki sambil menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya. Aku tergelak geli. Itu ungkapan malu, atau hanya sekedar mencandaiku.

 

“Oke, Aku mau. Hanya untukmu.” lanjutnya .Entah kenapa aku tersipu. Bukan malu, tapi senang. Dia menepuk pipiku.

 

“Kapan?” tanyanya 

 

“Secepatnya jika kau punya waktu.”  kataku.

 

“Sekarang?” 

 

“Terlalu sempit.” jawabku

 

“Kita membolos!” ajaknya nakal. Dan aku seperti sekongkolnya.

 

“Setuju.” jawabku. Kita berjalan semakin menjauhi kampus, menuju apartementnya. Entah dimana itu. Sepertinya aku memang tidak pernah membuntutinya sampai sejauh itu. 

 

“Apa kau serius aku harus telanjang?”  pertanyaan itu membelai-belai sukmaku. Apa memang harus telanjang? Batinku pun menanyakan. Tapi semuanya hanya seperti nyanyian sumbang.

 

“Kau tidak harus sepenuhnya telanjang. Kau bisa memakai kain atau penutup semacamnya untuk bagian pentingmu”  aku memberikan jalan keluar. 

 

“Bagian penting ?”  Dia tersenyum.

 

“Jangan memprovokasiku!”. Ancamku serius. Sebentar aku telah mempersipkan alat-alat melukisku.

 

Apartementnya sungguh rapi. Laki-laki yang sangat berkepribadian. Cerminmu seperti itulah dirimu. Aku mempersiapkan kanvas dan catku. Begitupun dirinya yang mulai melepaskan pakaian.  Sesekali dia melirikku, memastikan kesungguhanku dan kesungguhannya sendiri. Lalu duduk. Aku tak berkomentar meski tanganku gemetar. Tubuhnya begitu indah. Agh! aku berteriak dalam hati.

 

Dia duduk dengan begitu manisnya. Wajahnya tenang menatapku, dan cahaya matahari begitu sempurna menyapa kulitnya dari balik tirai jendela. Dia tersenyum lagi.

 

“Apa kau begitu terpesona oleh tubuhku ?”

 

“A..aa..ani! ”  aku tercekat mendengar tegurannya. 

 

“ani..? Kau tidak menyukai tubuhku ?”  shit! kenapa dia tanyakan itu! brengsek! apa dia mau menjebakku ? tentu saja aku menyukai tubuhnya. Tekstur dan warna kulitnya, pahatan ototnya, juga aroma maskulisnnya, juga keringat yang membayang diantara sinar mentari dan bias warna-warna dinding kamarnya. Jinki, kau seperti berada di bawah pelangi. Aku benar-benar terpukau.

 

“Hei, apa kau akan melukisku atau tidak ? Bagaimana kalau aku nanti masuk angin ? ” gerutunya lagi.

 

“Baiklah!”  lalu aku mulai menggoreskan kuasku . Sedikit demi sedikit. Pertama aku oleskan warna natural. Melukis wajahnya yang begitu lekat dalam hari-hariku beberapa bulan belakangan ini, lalu turun pada lekuk lehernya yang mengundang kecemasan hatiku, dan pada lengan bisep nya yang terukir begitu indah. Sejenak kutarik nafasku dalam-dalam memastikan kondisinya masih setenang tadi.

 

“Apa kau masih bernafas ?”  tanyaku bergurau, mengurai kebisuan kita yang sesaat tadi membuatku berkelana.

 

“Jadi aku boleh bicara ?”  tanyannya

 

“Kenapa tidak. Kau boleh sambil mendongeng, kalau kau mau !”  

 

“Baiklah. Aku akan menceritakan sesuatu.”  

 

“silahkan !”  ujarku sambil menyempurnakan bentuk dadanya yang bidang pada kanvasku. O Tuhan, aku ingin berada di sana, menyandarkan kepalaku diantara degub jantungnya.

 

“Suatu hari, aku sedang berada di dalam kelasku. Waktu itu siang terasa sangat panas sekali. Dan aku sengaja membuka jendela kelasku lebar-lebar sehingga angin yang masuk dari halaman menyerbu mengipasi tubuhku yang indah ini dengan leluasa…”  ujarnya memulai dongengnya. Aku tersenyum. 

 

“Oke, tubuhmu indah. Lalu…”

 

“Lalu aku melihat ke arah luar, ke salah satu tempat di mana pohon-pohon begitu rindang berkumpul. “

 

itu pasti tempat di mana kita bertemu tadi. Hm, apakah dia melihatku?

 

“Ya, dan tiba-tiba aku melihat seseorang duduk di sana, sambil membawa begitu banyak barang. Tasnya selalu penuh, dan wajahnya selalu terlihat cemas. Aku tidak tahu kenapa dia duduk di situ, sambil sebentar-sebentar menengok ke arah kelasku.”  ujar Jinki lagi. 

 

Hatiku mulai dag dig dug cemas. Apa dia sedang membicarakan diriku ?  tanganku masih sibuk memindahkan keindahan tubuhnya yang semakin membuatku merana.

 

“Dia, sangat manis. Matanya begitu bulat dan bercahaya. Rambutnya berkilau diterpa cahaya matahari yang tersendat-sendat menyinarinya diantara ranting-ranting pohon.”

 

“Apakah itu diriku ?”  tanyaku dengan was-was. tapi dia tidak menjawab.

 

“Aku sengaja selalu duduk di sisi jendela setiap hari. Dan entah kenapa aku pasti melihat dia selalu di sana juga. “

 

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu itu tadi.”  sahutku mencoba untuk menutupi kegugupanku.Jinki

 

“Aku menjadi terbiasa dengan kehadirannya, jika dia tidak ada maka aku akan menjadi bingun. Dan aku mulai cemas, mencari-cari sosoknya diantara mahasiswa yang berlalu lalang di area kampus. “

 

Aku menggigit bibirku. Benarkah ? Aku menunduk

 

“Dan aku mulai mencari tahu tentang dirinya, dari Taemin, temanku yang pernah aku lihat selalu menyapanya setiap kali bertemu dengannya. Dan aku baru mengetahui tentang dia. Seorang mahasiswa seni lukis yang berbakat. Dan Taemin memperkenalkan aku dengannya.”

 

Aku semakin tidak kuasa menahan debar jantungku. Apalagi aku melihat Jinki sudah berdiri dan menghampiriku. tanganku terasa lemas, aku sudah tidak sanggub lagi melanjutkan lukisanku.

 

“Dan aku bahagia, karena sekarang dia berada di sini…”  ujarnya sambil terus mendekatiku. Oh Tuhan!

 

“Jinki..”  bisikku lirih.

 

“Aku beruntung telah mengambil  kantong kuasnya saat dia lengah, jadi aku punya alasan untuk bicara dengannya.”

 

“jadi ini tidak jatuh ?”  Jinki menggeleng menjawabku.

 

“Aku mencurinya.”   

 

“Kau…!”  kalimatku tak sanggub terucap ketika Jinki sudah merapatkan tubuhnya di depanku, dia mengangkat wajahku hingga kami bertatapan, dengan begitu lekat. 

 

“Aku benar-benar ingin mengenalnya lebih dekat . Sangat dekat.

 

“Jinki …! “

 

“Sstt!  aku belum selesai.”  ujarnya dengan menyumbat bibirku dengan telunjuknya.

 

“Apa aku pantas untuk mengenalnya ?”  aku bingung dengan pertanyaannya.

 

“Apa aku boleh memiliki sedikit tempat diantara tempatmu menanti ?”

 

“Jinki, kau membuatku bingung. Tidak bisakah kau bicara langsung saja. Apakah kau menyukaiku ?”  ujarku langsung. Dia tersenyum sambil menjentik dahiku.

 

“Hm, ya !  Apakah kau menyukaiku ?”  tanyanya ganti.

 

“Ya. Aku menyukaimu. ”  Jawabku langsung. Dan dia terperanjat. 

 

“Aku juga menyukaimu.”  balasnya. 

 

Lalu kami saling tersenyum. 

 

 

Aku melirik lukisan yang masih belum jadi di kanvasku diantara kehangatan bibirnya yang terpaut di bibirku. Aku sangat menikmatinya, semua canda jemarinya di tubuhku juga desah nafas yang begitu menyemangati hasratku. Jinki, tubuhmu sepertinya aku tak perlu menambahkan begitu banyak warna pada lukisanku tentang dirimu, karena di sana diantara cahaya mentari, tubuhmu sudah terlihat indah seperti warna pelangi. 

 

 

 

end.

 

 

Buat Rizuki chan ! 

 

 

 

 

2 thoughts on “Paint My Heart

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!
    aku…aku…huwaa!! aku pengen teriak terus XD ya ampun alana baiknyaaaa aku dibikinin jiji couple XD
    hmm…ya ampun akuuu…aduhhh disini jieun suka banget sama jinki ya .-. astagaaa ngebayangin jinki dilukis telanjang?? gak kuat nihh XD
    eaaa si jinki modus banget yaa, masa kuasnya di curi –v
    dan astaga penjelasan ttg badannya jinki itu lohh XD pahatan otot ihiyyy aku jadi ngebayangin yg iya iya nihh XD
    dan akhirnya mereka saling ngaku hehehh dan cuma ada sedikit yg aku bingung nih, soalnya ada kata ganti -mu, nah lohh itu kelewatan diedit ya ?? tp gpp sihh aku masih bisa memahami hehehh dan aku risuki XD bukan rizuki XD aduhh suka dehhh.
    dan makasih banyak banget lohh udah dibikinin ff jiji couple .-. moment langkah hehehh
    ahh pokoknya aku suka sm ff nya apalagi pas pnjelasan fisiknya onew, astagaa bayangin onew dibawah pelangi .-. ayoo bikin lagi dooong *kedip2*
    tengkyuuu XD

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s