[Freelance Twoshot] REGRET – 2nd~ end

Regrets2

Title : Regrets (Part 2)

Lenght : Twoshoot

Rating : PG-15

Genre : AU, Family, Romance, Angst, Yaoi

Author : blingsugar

Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Support Cast : Kim Junmyeon (Suho)

Note : Ide cerita adalah murni milik author sendiri, jika ada kesamaan atau kemiripan maka itu tidak disengaja. Repost dengan seizin author. Terima kasih

***

Why you leave me alone baby?

Why are you leaving me behind when I only had you?

I’m still, still loving you.

I wanna hold you tight, make you mine, never leave me alone.

I only want you. That’s enough for me.

******

Nothing has ever broken me like you did.No one I ever wanted more than you.Nobody else can make a man so weak. Make him fall in love so deep, baby.

No one has ever known me like you did.There’s just no other girl to see me through.And every single memory I know,Reminds me that I’m all alone, all alone.

If I could just get over you, I would.Don’t wanna love you anymore.And missing you is like fight a war. It’s a battle I’m losing,And I’d give up girl if I could.If I could walk away as easily as you… I Would…

Thought I’ve seen enough to know it all,But not enough to know how it feels to fall.But the kind of pain you left me with,It never seems to heal…And it never lets me go.

If I could just get over you, I would.Don’t wanna love you anymore.And missing you is like fight a war. It’s a battle I’m losing,And I’d give up girl if I could.If I could walk away as easily as you… I Would…

Tell me how do I live with tainted love?Tell me how can I feel no feelings?Is there a way to leave it all behind?

If I could just get over you, I would.Don’t wanna love you anymore.And missing you is like fight a war.It’s a battle I’m losing,And I’d give up girl if I could.

Just tell me how to walk away,Away from loving you… and I Would…

******

Luhan duduk bersandar di ranjang rumah sakit, di kamar rawat VVIP. Ia duduk disana dengan headset yang terpasang sepanjang hari di telinganya untuk mendengarkan lagu favoritnya kini. Lagu itu terus terputar di MP3 milik Luhan seolah ia tidak pernah bosan mendengarnya. Lagu dari Henry dengan judul ‘I Would’ tersebut seakan menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaan Luhan saat ini.

Dan dengan jarum infus yang masih menusuk di punggung tangannya, Luhan memegang sebuah buku novel tebal, novel Harry Potter yang sudah lama ia beli tapi belum sempat dibacanya. Walaupun begitu, tatapan Luhan kosong tidak berfokus pada buku yang dipegangnya. Pikiran Luhan berkeliaran ke berbagai arah kenangan yang dimilikinya, tetapi tetap saja pusat dari pikirannya itu adalah Oh Sehun. Luhan sebenarnya sudah dibolehkan pulang oleh dokter tetapi Luhan malah memilih untuk tinggal disana. Lagipula, Luhan tidak perlu membayar uang sewa untuk kamar VVIP yang nyaman ini karena rumah sakit yang di tempatinya kini pun adalah miliknya sendiri.

Nyawa Luhan terselamatkan pada malam dengan hujan deras waktu itu. Karena seseorang mengalami kecelakaan di dekat lokasinya tergeletak pingsan, perawat yang ada di ambulan tersebut melihat kondisi Luhan, dan akhirnya turut membawa Luhan ke rumah sakit. Tapi, Luhan membenci perawat-perawat menyebalkan yang telah menyelamatkan dirinya dan juga hidupnya. Mengapa mereka tidak membiarkan saja Luhan tewas pada malam itu? Hidup pun tak ada artinya lagi bagi Luhan. Ia yatim piatu, dan sekarang ia harus kehilangan semangat hidupnya, Oh Sehun. Demi Neptunus, jika disuruh memilih maka Luhan akan memilih untuk mati saja menyusul kedua orang tuanya daripada hidup bagai raga tanpa nyawa.

Luhan sudah tidak tahu lagi untuk apa hidupnya sekarang. Membuka mata pada pagi hari, bernafas, bergerak, untuk apa semua itu ia lakukan? Untuk siapa? Untuk dirinya sendiri? Bahkan Luhan pun akan lebih memilih untuk bunuh diri jika saja ia tidak teringat akan dosa. Hanya tertinggal kekuatan Luhan saja yang kini tersisa, semangat dan senyumannya telah pergi. Bisa apa ia dengan kekuatan tanpa semangat? Tersenyum saja rasanya sangat sakit bagi Luhan sekarang. Sehun… Oh Sehun lah yang membuat Luhan menjadi begini. Membuat Luhan menjadi sangat dingin. Membuat Luhan menjadi seorang monster yang akan mengamuk dan marah jika diganggu sedikit saja. Bahkan Suho tidak mengerti dengan perubahan drastis Luhan.

Luhan yang tadinya adalah seorang anak manis yang periang, selalu tersenyum bahkan ketika berada di masa tersulit bagi seorang anak – kehilangan orang tuanya pada saat bersamaan – masih tetap tersenyum tegar, anak yang selalu peduli dengan sesamanya, kini telah hilang. Luhan yang manis telah pergi entah kemana bersama hujan malam itu, digantikan oleh Luhan yang lebih dingin dari es. Bahkan, dengan tatapannya, kini Luhan dapat membuat takut semua orang. Tidak ada lagi tatapan teduh penuh kehangatan serta senyuman ceria dari seorang Xi Luhan, semuanya telah lenyap. Yang tersisa kini hanyalah tatapan tajam dan dingin yang menusuk hati. Suho saja tidak berkutik sekarang jika ditatap tajam oleh manik indah milik Luhan. Ekspresi Luhan? Tidak usah ditanya lagi. Tidak ada sedikit pun senyuman terukir di wajah menawannya, sekalipun senyum simpul. Wajah Luhan kini begitu datar, tanpa ekspresi, membuatnya terlihat semakin dingin.

***

Luhan yang dulu setiap harinya sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan di perusahaannya dan selalu terlihat rapi, kini tidak pernah lagi terlihat di perusahaan megah tersebut dan juga pakaiannya… sangat berantakan. Luhan hanya akan berada seharian di kamarnya yang terlihat sudah seperti bangkai kapal yang karam di tengah laut. Hanya 3x dalam sehari, itu pun hanya beberapa menit, Luhan akan keluar kamarnya untuk makan lalu kembali lagi ke ruangan dengan cat dan dekorasi berwarna putih itu. Luhan tidak mengijinkan siapa pun membersihkan ataupun memasuki kamarnya, kecuali Suho yang memang memiliki urusan penting untuk menemuinya.

Bagaimana nasib perusahaan milik Luhan? Tentu saja, Suho yang menjalankannya dan Suho lah yang menggantikan posisi Luhan disetiap rapat yang diadakan kini. Luhan hanya menandatangani berkas-berkas penting yang dibawa Suho pulang, berkas-berkas perjanjian antar perusahaan besar yang membutuhkan tanda tangan sang direktur utama.

Kini, Luhan hidup seperti mati karena separuh nyawanya telah hilang bersama Sehun. Mengapa Sehun tega sekali membuat Luhan menjadi layaknya zombie? Zombie, raga hidup dengan tanpa nyawa yang akan menyerang siapa saja untuk menyebarkan virusnya, sekalipun orang itu adalah keluarganya sendiri sebelum ia terinfeksi oleh virus tersebut. Luhan yang tadinya sangat takut terhadap zombie, kini telah berubah menjadi zombie itu sendiri.

Luhan sudah tidak perduli lagi dengan janji-janjinya kepada orang tuanya sekarang. Janji Luhan yang  akan membuat orangtuanya bangga memiliki Luhan sebagai putra mereka, akan menjadi anak manis, lelaki yang kuat, tidak akan cengeng, dan pasti menjadi anak yang baik. Luhan tidak perduli walaupun ia telah mengingkari janjinya sendiri. Sehun lah yang ‘mengajari’ Luhan caranya untuk mengingkari janji. Luhan berpikir bahwa perkataan Sehun benar juga. Memang apa hebatnya sebuah janji?

Tangan Luhan yang dulunya mulus, kini telah dipenuhi bekas-bekas luka sayatan oleh cutter tajam miliknya sendiri. Beberapa bercak tetesan darah Luhan yang sudah mengering terlihat di atas selimut tebal dan seprai putih miliknya, beberapa bercak darah juga terlihat di atas karpet berwarna putih-biru berbulu lembut dengan motif awan itu. Bukan tanpa alasan Luhan menyayat tangannya, Luhan hanya ingin mengalihkan rasa sakit di hatinya yang tidak kunjung hilang walaupun waktu terus berjalan. Luhan sangat ingin melupakan sosok Sehun yang terus muncul di kepalanya. Tetapi masalahnya adalah, semua hal yang dilakukan Luhan selama ini adalah untuk dan karena Sehun, Sehun, dan Sehun. Bahkan sayatan di tangan itu adalah karena Sehun. Sehun tetap saja menjadi pusat permasalahannya!

***

Hari ini, langit terlihat menyedihkan dengan awan kelabu yang menutupinya. Banyak orang yang berjalan dengan menenteng payung yang belum terbuka, berjaga-jaga kalau saja hujan turun sebelum waktu yang diperkirakan ramalan cuaca pada program berita tadi pagi. Luhan sedang terduduk di atas tempat tidurnya, menatap kosong kepada beberapa foto dirinya bersama Sehun yang masih terpajang rapi di dinding luas kamar Luhan, mereka terlihat sangat bahagia disana dengan senyum mengembang di wajah keduanya.

Luhan kesal menatap wajah tersenyumnya sendiri bersama Sehun. Luhan marah melihat foto-foto itu. Dengan langkah perlahan, Luhan menghampiri salah satu sisi dinding kamarnya dimana tergantung foto-foto mesra dirinya dan Sehun. Luhan mengambil salah satu foto tersebut, dan kemudian melemparkan foto itu dengan kasar ke sisi dinding lainnya. Bingkai foto itu pun hancur dan kacanya terpecah belah. Luhan melakukan hal yang sama kepada foto-foto lainnya yang masih menggantung. Suara pecahan kaca terdengar sangat memilukan dari kamar Luhan, membuat orang-orang lain yang mendengarnya merasakan pilu yang sama seperti yang dirasakan Luhan. Entah apa yang dilakukan Luhan di dalam, para pekerja di rumahnya tidak berani mengganggu ataupun mengusik sama sekali. Karena mengusik Luhan sekarang sama saja dengan membangunkan monster yang sedang beristirahat.

Kini tidak ada satupun foto Luhan dan Sehun yang tersisa di dinding itu, semuanya telah hancur oleh Luhan. Luhan kemudian mengalihkan pandangannya kepada luka-luka sayatan yang ada di tangannya. Sepertinya kini Luhan telah kehilangan akal sehatnya. Bahkan Luhan sendiri berani memvonis dirinya gila karena Sehun. Hasrat itu kembali muncul, hasrat untuk menyakiti dirinya sendiri demi mengalihkan rasa sakit yang ada dihatinya. Luhan memungut salah satu pecahan kaca dari bingkai foto yang sudah hancur di lantai. Pelan tapi pasti, Luhan menggesekkan lempengan kaca tajam itu secara horizontal di tangannya. Satu luka sayatan yang cukup dalam dan panjang terbentuk, tapi Luhan masih merasakan sakit di hatinya. Sekali lagi, Luhan melakukan kegiatan yang sama seperti yang dilakukannya barusan. Dua luka telah terbentuk, darah kental terus merembes keluar melalui permukaan kulit yang terbuka itu, menetes mengotori lantai kamar Luhan.

Luhan sedikit meringis merasakan perih yang mulai menjalar melalui luka-luka yang dibuatnya sendiri, tapi hatinya masih terasa lebih perih. Baru saja Luhan akan membuat luka ketiganya, seseorang mengetuk pintu kamar Luhan membuat Luhan sedikit kaget dan menghentikan kegiatannya. Dengan acuh Luhan memakai sebuah baju berlengan panjang, hanya untuk menutupi sayatan luka di tangannya lalu berjalan menuju pintu yang juga bercat putih. ‘Mengapa Suho hyung pulang secepat ini?’ Batin Luhan, hanya menebak saja siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Suho? Setelah Luhan berubah menjadi dingin, memang hanya Suho lah yang masih berani menemui ataupun mengganggu seorang Xi Luhan di dalam kerajaannya – re: kamar Luhan.

Luhan tercengang melihat siapa tamunya kali ini. Oh Sehun kini berada di hadapan Luhan dengan setelan t-shirt putih polos, celana jeans biru gelap, dan sneakers berwarna merah, sangat tampan. Oh ya, jangan lupakan seyum simpul yang dibentuk oleh bibir tipis seorang Oh Sehun dan kristal-kristal air di pelupuk matanya yang nampak setelah melihat sosok Luhan – yang berantakan – berdiri di depannya. Air mata kembali meronta untuk mengaliri kedua belah pipi Luhan. Tahan Xi Luhan! Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang yang telah menyia-nyiakanmu.

“Lu…” Suara Sehun terdengar, pelan dan sangat lembut.

“Mengapa?” Dengan tatapan dingin dan wajah tanpa ekspresinya, Luhan menatap tajam mengarah ke kedua bola mata Sehun. Sebenarnya Luhan juga sedikit heran mengapa Sehun bisa tahu kalau dirinya kini berada di rumah bukannya di kantor. Apalagi ini masih jam kerja. Tapi siapa lagi kalau bukan Suho yang memberitahunya?

“Kenapa kau datang lagi kemari? Untuk apa?” Luhan berucap dengan sangat dingin, membuat Sehun sedikit terkejut karena perubahan sikap Luhan. Tenang saja, bukan hanya kau yang terkejut, Hun.

“A… Aku…” Cara berbicara serta sikap Luhan sepertinya telah melenyapkan keberanian dan juga kata-kata yang ingin diucapkan oleh Sehun, hal yang sudah disiapkan oleh Sehun sedari dulu. Bahkan Sehun berlatih hampir ratusan kali di rumahnya sebelum ia memiliki keberanian untuk menemui Luhan lagi.

“Apa gadismu itu sudah bosan dengan dirimu lalu pergi meninggalkanmu? Iya kan, Oh Sehun? Dan sekarang kau datang lagi padaku, berharap aku akan menerimamu kembali. Jangan berharap terlalu tinggi, tuan Oh. Cih, kau pikir siapa dirimu? Membuang dan menyia-nyiakanku layaknya sampah lalu kemudian datang lagi sesuka jidatmu? Pulanglah!” Luhan menarik sebelah bibirnya, tersenyum hambar setelah menyelesaikan ucapannya lalu kembali masuk ke kamarnya. Luhan akan menutup pintu kamar itu kembali rapat-rapat jika saja kata-kata Sehun tidak menghentikannya.

“Apakah kau masih ingat dengan ‘hal penting’ yang akan kukatakan padamu pada saat orang tuamu meninggal waktu itu?” Luhan kembali membuka pintu kamarnya yang sudah tertutup setengah, menatap Sehun seakan meminta penjelasan. Ya, memang Luhan masih memikirkan hal itu. Karena jika Sehun mengatakan penting, maka hal itu sangatlah penting.

“Lu! Tanganmu… apa yang terjadi?” Sehun segera meraih salah satu lengan Luhan yang masih tertutupi pakaian lengan panjangnya yang kini telah basah dan berubah warna menjadi merah akibat darah, ditambah lagi darah kental yang mengalir dan terus menetes melalui ujung jari-jari lentik Luhan membuat Sehun semakin bingung. Luhan sedikit mendesis merasakan perih saat Sehun menyentuh tangannya.

“Jangan sentuh aku dengan tanganmu itu! Aku tidak sudi.” Dengan kasar, Luhan menepis tangan Sehun yang masih memegangi lengannya. Mata Sehun menyiratkan kekhawatiran dan kesedihan yang sangat mendalam. “Cepatlah katakan, tidak usah berbasa basi.” Sambung Luhan masih dengan nada datar dan dinginnya.

“Kau… m… mobil… liburan…” Sehun mengutuki dirinya sendiri. Mengapa ia jadi segugup ini? Bukankah ia membuat Luhan membenci dirinya agar ia dapat lebih mudah mengatakan hal ini kepada Luhan? Tapi tetap saja, rasa cinta masih ada di dalam hati Sehun, dan rasa cinta itu jugalah yang membuat lidahnya pilu serta tenggorokannya tercekat ketika ingin mengatakan sesuatu itu kepada Luhan sekarang.

“Oh Sehun!”

“Baiklah… Baiklah… Tapi bisakah kita berbicara di ruang tamumu saja? Karena sepertinya ceritaku akan panjang.” Sehun menatap dalam mata Luhan yang kini masih berdiri di depannya.

*** Flashback

Seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas mahal kini sedang duduk bersama Sehun di sebuah meja yang ada di restoran berbintang lima itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu dan sepertinya itu sangat penting sehingga mereka berbicara dengan sedikit berbisik-bisik.

“Ini foto mereka. Mereka akan menuju ke daerah Gwangju untuk bisnis mereka besok sekitar jam 4 sore. Mereka tidak pernah menggunakan supir dan pasti selalu pergi berdua. Aku ingin kau menghabisi mereka dan buat mereka seperti mengalami kecelakaan normal yang wajar saja terjadi. Untuk bayaran, kau tidak usah khawatir. Kau lihat koper disana? Itu penuh dengan uang dan semuanya akan menjadi milikmu jika kau berhasil ‘meniadakan’ mereka.” Lelaki paruh baya itu mengeluarkan sebuah foto dan kemudian menunjuk ke sebuah koper yang sedang dipegang oleh orang suruhan di belakangnya. Mata Sehun hanya mengikuti kemana arah tangan lelaki paruh baya itu mengarah.

“Baiklah. Kau tahu aku ini profesional kan? Sekali aku mendapatkan sasaran maka mereka tidak akan lepas. Setelah aku berhasil, jangan cari aku lagi karena aku tidak akan melakukan hal semacam ini lagi. Ini merupakan yang terakhir kalinya.” Sehun mengambil foto yang ada di meja, mengamatinya dengan seksama sambil mengingat-ingat wajah sepasang suami istri yang ada di lembaran foto itu. Setelah mengingatnya dengan jelas, Sehun meletakkan kembali foto tersebut lalu melangkah keluar restoran. Entah mengapa, Sehun merasa wajah mereka mirip sekali dengan Luhan. Tapi mana mungkin?

***

“Lu, besok aku akan berlibur lagi bersama keluargaku seharian. Seperti biasa, hanya akan ke pinggiran kota Seoul untuk menikmati suasana disana dan tidak akan sampai menginap. Kau mau kubawakan oleh-oleh apa, hm?” Sehun kini sedang duduk bersama Luhan di taman yang ada di belakang rumahnya. Sebelah tangan Sehun yang merangkul pundak Luhan dan juga kepala Luhan yang bersandar pada bahu Sehun dengan beratapkan langit malam berbintang dan pencahayaan dari bulan purnama, membuat sepasang kekasih itu terlihat begitu mesra dan sangat cocok satu sama lain.

Luhan menggeleng pelan. “Kau pulang dengan selamat saja sudah cukup bagiku, Hun. Ngomong-ngomong, apa aku masih belum boleh ikut bersama keluargamu?” Luhan sedikit mengerucutkan bibirnya kesal. Sudah hampir 9 tahun ia berpacaran dengan Sehun, tapi Sehun masih belum mengenalkannya kepada keluarga Sehun. Ketika Sehun liburan bersama keluarganya pun, Luhan tidak pernah ikut dan selalu tidak diperbolehkan untuk ikut oleh Sehun.

“Belum waktunya, Lu. Lagipula, kau juga belum mengenalkanku kepada orangtuamu kan? Apakah kau hanya akan mengenalkan Suho hyung padaku?” Sehun terkekeh pelan menggoda Luhan yang masih dalam dekapannya dan sekarang terlihat semakin kesal.

“Kau kan tahu kalau mereka sibuk? Aku saja hanya bertemu mereka beberapa hari dalam setahun. Suho hyung kan juga sudah seperti keluarga bagiku?” Sehun tertawa mendengarkan protes Luhan kepada dirinya.

“Aigoo, baby Lu-ku sepertinya bertambah cerewet saja belakangan ini.” Sehun tertawa lagi dan akhirnya sukses mendapatkan hadiah cubitan di kedua pipinya dari Luhan.

“Sudahlah aku pulang saja. Lagipula ini sudah malam, kasihan Suho hyung lama menunggu di depan sana.” Luhan ngambek. Ia langsung berdiri dan melangkah menuju keluar rumah Sehun. Sehun masih saja tertawa melihat sikap Luhan.

“Hati-hati baby!” Teriak Sehun kemudian setelah ia berhasil meredakan tawanya kepada punggung Luhan yang terlihat semakin menjauh. Mengambek kepada Sehun adalah aktifitas sehari-hari Luhan. Sikap Sehun yang selalu bercanda dan tidak pernah serius selalu membuat Luhan merasa kesal karena ia selalu saja tidak bisa berbicara serius kepada Sehun. Walaupun Sehun tidak meminta maaf kepadanya, Luhan akan kembali seperti biasanya lagi kepada Sehun keesokan harinya. Begitulah rutinitas pasangan ini, diawali dengan kemesraan dan diakhiri dengan ngambeknya Luhan.

***

Matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar Sehun, membuat Sehun sedikit mengerutkan dahinya karena silau. Sehun bangun lalu melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya, sudah jam 9 rupanya. Sehun segera bangkit menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Setelah siap dan selesai dengan sarapannya, Sehun menuju ke ruang rahasia di dalam rumahnya. Ruangan yang tidak boleh dimasuki siapa pun, termasuk Luhan. Di ruangan itu terlihat banyak sekali senjata api serta alat-alat canggih yang tersusun rapi di setiap sisinya. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar, dari yang sangat mematikan sampai yang hanya akan menyebabkan luka ringan saja, semuanya terdapat disana. Lengkap sekali. Sehun mengambil beberapa benda dari sana, memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas ke tempat dimana mangsanya berada.

Mobil Sehun berhenti di sebuah restoran sederhana, tidak terlalu besar dan mewah. Setelah beberapa saat, Sehun keluar dari dalam restoran sambil membawa sebuah kantong berisi makanan di dalamnya. Setibanya di dalam mobil, Sehun membuka kantong serta kotak berisi makanan yang dibawanya tadi. Sehun mengeluarkan sebuah botol yang sangat kecil dan juga jarum suntik dari tas yang berisi beberapa alat canggih dan senjata miliknya itu. Lalu, Sehun mengisi jarum suntik itu dengan cairan yang ada di dalam botol kecil tersebut. Sedetik kemudian, cairan itu berpindah lagi ke dalam kotak makanan yang dibawa Sehun tadi. Sehun hanya memasukkannya setetes ke dalam tiap kotak makan yang nantinya akan dia beri kepada mangsanya. Setelah selesai, Sehun merapikan kembali semuanya lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah gedung perusahaan yang sangat megah.

Sehun kini telah sampai di tempat parkir gedung tersebut. Sehun memarkirkan mobilnya di lantai 7 tempat parkir, pada baris ke 5, tepat di sebelah mobil mangsanya. Semua kamera CCTV di lantai 7 tempat parkir itu, entah bagaimana caranya telah mati dibuat oleh Sehun sehingga para penjaga keamanan disana tidak dapat melihat apa yang terjadi dan dirinya yang sedang berbuat sesuatu pada mobil mangsanya itu tidak akan terekam oleh CCTV. Sehun memiliki waktu sekitar 10 menit sekarang sebelum para penjaga keamanan itu sampai di tempatnya berada.

Segera Sehun mengeluarkan beberapa alat dari dalam tasnya lalu sesaat kemudian pintu mobil mangsanya telah terbuka dengan aman tanpa lecet sedikit pun. Sehun mengeluarkan lagi 2 buah benda berbentuk lempengan persegi empat yang sangat kecil dan berwarna sama dengan bangku penumpang dalam mobil itu, lalu menempelkan benda itu pada bangku pengemudi dan bangku penumpang yang ada di sebelah pengemudi. Untuk sentuhan terakhir, Sehun mengeluarkan benda yang sangat kecil berbentuk seperti chip yang kemudian diketahui adalah bom yang dapat meledak dengan dahsyat, dan kembali menempelkannya kali ini ke bagian bawah mobil mangsa malangnya.

Setelah merasa selesai dengan ‘settingan’nya, Sehun mengambil sebuah topi dan makanan tadi dari mobilnya. Sehun berjalan masuk ke gedung megah itu dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya dan kantong berisi makanan di tangan kanannya, berlagak seperti seorang kurir pesan antar. Dengan seringaian kecil, Sehun melewati para petugas keamanan yang masih menuju ke lantai 7 tempat parkir dan melewati Sehun tanpa rasa curiga sedikitpun.

Sesampainya di lobi yang berada di lantai 1, Sehun memberikan makanan itu kepada pegawai yang ada disana, memintanya untuk memberikan makanan itu kepada direktur serta wakilnya dan mengatakan bahwa itu adalah makanan yang dipesankan anaknya untuk mereka. Pegawai itu hanya menurut saja, dan kini makanan tersebut sudah sampai dengan aman kepada kedua mangsanya.

***

Setelah memastikan makanan itu dimakan dengan lahapnya oleh kedua mangsanya, Sehun menunggu di pinggir jalan yang terdapat di seberang gedung mewah itu dengan mobil sedan mewahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Mengingat kalau perjalanan dari Seoul menuju Gwangju memakan waktu sekitar satu jam (anggap aja), itu berarti mangsanya akan keluar sebentar lagi. Benar saja, mobil yang beberapa waktu lalu sudah di setting oleh Sehun keluar. Dengan segera, Sehun mengikuti mobil mangsanya dari jarak yang sedikit jauh agar tidak dicurigai.

Setelah sampai di jalanan yang cukup sepi dan hanya ada kendaraan mereka disana, Sehun mengambil sebuah benda yang berbentuk seperti remote control. Sebuah tombol besar berwarna merah serta tombol-tombol kecil lainnya terdapat di remote control itu. Sehun menekan tombol merah disana sambil terus melajukan mobilnya dan memperhatikan mobil mangsanya. Kemudian Sehun melanjutkan dengan menekan tombol berbentuk panah yang mengarah ke sebelah kanan beberapa kali hingga mobil mangsanya terlihat kehilangan kendali. Mobil itu mengarah ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya menerobos pembatas jalan, berguling beberapa kali sampai ke dasar jurang yang lumayan dalam.

Sehun tersenyum puas dengan hasil yang di dapatkannya. Ia yakin bahwa kedua orang yang ada di dalam mobil tersebut sudah tidak lagi bernyawa. Sebagai finishing, Sehun mengambil remote control yang lainnya dan menekan tombol yang ada disana. Sedetik kemudian ledakan besar terdengar dari mobil yang kini berada di dalam jurang itu. Sialnya hujan deras segera turun membuat api yang berasal dari ledakan tersebut tidak bertahan lama sebelum akhirnya benar-benar padam.

“Sial, bagaimana ini? Bakteri itu tidak akan mati jika mereka tidak terbakar dan pasti akan ketahuan jika di otopsi.” Sehun mengumpat kesal karena pekerjaan terakhirnya tidak berjalan terlalu mulus. Bakteri yang dimaksud oleh Sehun adalah bakteri yang berasal dari cairan yang dimasukkan oleh Sehun ke dalam makanan yang diberinya kepada mangsa terakhirnya tadi. Bakteri-bakteri itu akan aktif jika mendapat aliran listrik, lalu mengambil alih semua syaraf di dalam tubuh, membuat sang pemilik tubuh kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Aliran listrik yang bertindak sebagai aktivator bakteri-bakteri itu sendiri berasal dari benda kecil berbentuk persegi yang ditempelkan Sehun pada tempat duduk mobil itu. Bakteri-bakteri itu akan musnah tanpa bekas jika tubuh korbannya terbakar, tapi sialnya hujan turun dan membuat api dari bom Sehun padam sebelum sempat melahap tubuh dua orang itu.

Sehun masih berusaha untuk menyalakan api dan membakar kedua tubuh tersebut dengan berbagai cara dan alat yang ia bawa, tapi tentu saja gagal karena tetesan demi tetesan air hujan yang turun terus menerus. Sehun akhirnya menyerah dan kembali pulang sebelum ada orang yang melihatnya. Walaupun sebenarnya Sehun masih sedikit khawatir dia akan tertangkap oleh pihak kepolisian, tapi ia berusaha untuk tidak perduli. Meskipun bakteri-bakteri itu tidak mati dan kasus ini diketahui sebagai kasus pembunuhan, tetap saja tidak akan mudah untuk menemukan pembunuhnya bukan?

Saat masih dalam perjalanan pulang, Sehun terus mencoba menelepon kekasihnya tetapi tak kunjung ada jawaban dari seberang sana. Kemana sebenarnya Luhan pergi? Kalaupun Luhan melupakan ponselnya, pasti akan ada jawaban dari Suho. Karena jika Luhan meninggalkan ponselnya, Suho lah yang akan mengambil serta membawakan ponsel Luhan itu. Tapi kali ini, tidak ada jawaban sama sekali baik dari Suho maupun Luhan.

Hari ini, setelah kasus terakhirnya selesai, sebenarnya Sehun ingin mengatakan tentang jati dirinya kepada Luhan. Sehun ingin mencoba jujur kepada kekasihnya agar tidak ada lagi rahasia di dalam hubungan mereka. Sehun adalah seorang pembunuh bayaran, dan selama ini ia telah berbohong kepada Luhan karena sebenarnya dia tidak memiliki satupun keluarga yang masih tersisa. Sehun hidup hanya dari uang yang didapatkannya dari hasil membunuh. Sehun juga benci dirinya yang seperti ini, membunuh manusia lain demi uang. Tetapi apa boleh buat? Jika ia tidak membunuh maka ia tidak dapat makan dan hidup. Kau tahu, hidup seorang diri serta mendapatkan uang yang halal di kota berkembang seperti Seoul bukanlah suatu hal yang mudah.

*** Flashback End

“Kau… pembunuh bayaran?” Suara Luhan terdengar pelan dan serak, air matanya mengalir tanpa henti setelah mendengarkan pengakuan dari Sehun. Sehun hanya menatap sendu kepada Luhan yang terisak di hadapannya, lalu menggangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Luhan. Luhan dan Sehun kini sudah ada di ruang tamu rumah Luhan dan duduk saling berhadapan. Hujan telah turun menyapa para penduduk, suara gemuruh hujan terdengar dari luar sana.

“Akulah orang yang telah mencabut nyawa kedua orang tuamu, Lu. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau mereka adalah orang tuamu. Maaf karena telah membuatmu menjadi anak yatim piatu. Dan maaf karena telah membuatmu berjalan menembus hujan saat kau sedang demam tinggi malam itu. Maaf karena aku telah membentakmu.  Maafkan aku telah mengingkari janjiku sendiri. Maaf karena aku tidak bisa menolong dan membawamu ke rumah sakit malam itu ketika kau jatuh pingsan di pinggir jalan. Aku tahu kau pasti telah mendengar tentang kecelakaan di dekat tempatmu pingsan. Korban dari kecelakaan itu adalah aku, Lu. Dan, soal gadisku… aku tidak pernah memiliki orang lain di dalam hatiku. Aku hanya mencintaimu, sampai sekarang pun aku masih mencintaimu. Tapi aku tahu, aku sadar diri, aku tidaklah layak untukmu. Maafkan aku telah membohongimu. Maafkan aku. Aku terus merasa bersalah ketika aku melihat wajahmu, Lu. Aku sangatlah tersiksa ketika melihatmu jatuh sakit karena kau terlalu sibuk bekerja, tetapi kau masih datang dengan senyuman tulus menemuiku. Tapi tidak kusangka, ternyata kehilanganmu lebih menyiksaku. Aku harusnya jujur kepadamu sedari dulu. Maafkan aku. Aku sungguh menyesal, Lu. Ak… aku…” Kata-kata Sehun berhenti karena ia tidak dapat menahan isakannya lagi. Perasaannya sangat campur aduk sekarang, sangat sulit untuk dijelaskan. Ia hanya ingin mengakui semuanya kepada Luhan dan meminta maaf atas semuanya. Sehun tahu ia sudah sangat menyakiti Luhan. Sehun tertunduk lemas dengan kedua tangan menopang dan menutupi wajah menangisnya.

“Tetapi mengapa kau tidak berkata jujur padaku, Hun? Jika kau membutuhkan uang, kau bisa memintanya padaku. Aku memiliki banyak uang, aku bisa memberimu berapapun yang kau minta! Kau tidak perlu sampai berbuat keji seperti itu. Aku sungguh tidak menyangka, orang yang selalu hangat kepadaku ternyata adalah orang yang berdarah dingin. Aku sudah tahu bahwa kau yang membunuh kedua orang tuaku, Hun. Dan kau tahu? Akulah orang yang menutup kasus pembunuhan itu. Aku hanya membutuhkan waktu tidak sampai 10 detik untuk memaafkanmu karena kupikir aku akan baik-baik saja selama kau ada di sisiku, bahkan jika aku yatim piatu. Aku akan sanggup untuk hidup sekalipun aku menjadi orang paling miskin di dunia, selama ada kau disampingku. Karena kau adalah semangat dan juga senyumku, kau adalah hartaku yang paling berharga. Tapi kemudian kau pergi dariku, kau bilang kau sudah memiliki gadis lain dan orientasi seksualmu telah berubah. Tahukah kau bahwa aku sangat hancur? Tahukah kau seberapa aku merasa murah di hadapanmu yang sudah mengacuhkanku, memohon agar kau tidak meninggalkanku? Hidupku tidak ada artinya lagi, tapi untuk mati pun aku terlalu takut, aku terlalu takut memikirkan dunia seperti apa yang akan kumiliki setelah aku menjadi roh. Aku seperti berada di antara hidup dan mati, hidup bagai raga tidak bernyawa. Hatiku hancur lebih dari ratusan keping karena hal itu, Hun. Hidupku hancur. Jiwaku hancur. Kau menghancurkan segalanya yang ada di diriku, tapi aku masih saja mengingatmu setiap hari, berharap kau kembali, merasakan sakit karenamu di hatiku setiap hari. Aku tidak dapat melupakanmu. Saat aku tidur pun aku memimpikanmu. Tidakkah aku bodoh mengharapkan orang yang sudah membuatku menjadi seperti ini sekarang? Apakah kau tahu hidup seperti apa yang kujalani setelah kau pergi dariku? Apakah kau tahu seberapa berantakannya aku dan hidupku sekarang? Apakah kau tahu betapa lelahnya diriku? Aku membencimu setiap hari, dan itu hanya akan membuatku semakin tersiksa karena di waktu yang bersamaan aku juga menginginkanmu.” Luhan berhenti sejenak untuk membuka pakaian yang digunakannya untuk menutupi lengannya, memperlihatkan tangannya yang terdapat luka-luka sayatan yang baru dibuatnya tadi serta bekas-bekas luka sayatan lainnya yang telah sembuh. Sehun membelalak tidak percaya melihat hal itu.

“Luka-luka ini, aku membuatnya untuk mengalihkan rasa perih di hatiku yang tidak kunjung sembuh, Hun. Aku juga menghancurkan kamarku karenamu. Aku sangat ingin melupakan serta merelakanmu, tetapi semuanya selalu mengingatkanku padamu, Hun. Kenangan selama 9 tahun itu selalu muncul ketika aku melakukan apapun. Ketika aku menulis, ketika aku melihat pemandangan, ketika aku makan, ketika aku menangis. Kenangan itu terus menerus muncul satu persatu, membuatku hampir gila karenanya. Aku bahkan membenturkan kepalaku ke dinding, berharap aku lupa ingatan. Tetapi hal itu tidak berhasil, Hun. Sungguh, setelah semua yang kau lakukan padaku, setelah kau menyia-nyiakanku seperti barang tidak berguna, setelah kau menghancurkanku, setelah kau membuatku menjadi seperti ini, sekarang kau datang lagi padaku, mengakui semua kesalahanmu dan meminta maaf. Apakah semudah itu bagimu untuk datang lagi ke hadapanku dan meminta maaf, Oh Sehun?” Sambung Luhan dengan isakannya. Luhan menatap dalam kepada kedua manik berair Sehun yang kini juga menatapnya. Sehun diam seribu kata. Sehun sungguh tidak menyangka bahwa dirinya sendiri telah membuat orang yang dicintainya menjadi sangat hancur.

“Lu…” Sehun mencoba untuk menjawab kata-kata Luhan tadi, tapi sedetik kemudian Sehun terdiam lagi. Sehun sangat bingung apa yang harus dikatakannya kepada Luhan untuk meminta maaf atas segala yang telah diperbuatnya kepada Luhan. Pikiran Sehun sekarang layaknya untaian-untaian benang kusut yang saling melilit satu sama lain, membuatnya tidak dapat berpikir secara benar dan lurus.

“Jika kau takut akan dilaporkan kepada polisi karena telah membunuh kedua orang tuaku, tenang saja, aku tidak akan melaporkanmu, aku sudah memaafkanmu untuk itu. Jadi aku mohon, pulanglah sekarang karena rasanya sangatlah sakit untuk melihat sosok yang sudah menghancurkanmu.” Luhan pergi meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya. Luhan membanting pintu dan segera menguncinya. Oh Sehun sungguh membuatnya menjadi sangat gila.

Kaki Luhan terasa melemas. Luhan terduduk menangis di dalam kamarnya, bersandar pada pintu dan menundukkan kepalanya dalam. “Mengapa kau melakukan ini kepadaku, Hun? Mengapa kau menemuiku lagi dan membuatku merasa lebih hancur? Apa kau tidak merasa puas telah membuatku menjadi begini? Mengapa kau begitu tega? Apa salahku padamu, Oh Sehun? Aku memang masih tidak dapat melupakanmu dan masih menyayangimu, tapi sepertinya otakku tidak lagi sejalan dengan hatiku. Hatiku masih menginginkanmu, tetapi otakku menolak kehadiranmu. Apa yang harus kulakukan sekarang?” Ucap Luhan di tengah isakannya sampai akhirnya Luhan merasakan perih di tangannya. Luhan menatap nanar luka-luka yang ada disana dan tersenyum sinis. “Kau jahat, Hun.”

***

END

Please don’t be a silent reader, thanks! :)

2 thoughts on “[Freelance Twoshot] REGRET – 2nd~ end

  1. menyedihkan sekali, Luhan bisa memaafkan pembunuh orang tuanya segampang itu? Luhan bisa hidup tanpa ortunya tapi tak bisa hidup tanpa Sehun?
    sungguh cinta yg kelewat batas!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s