LOVE AGAIN

image

Title : Love Again
Author : Chunniest
Genre : Romance, Songfiction
Cast :
* Jung Yunho (TVXQ)
* Seo Eunseung

Untuk ff FLTFL chapter 5 tolong readersdeul sabar menunggu ya soalnya lqptop author gi masuk rumah sakit jadi ga sa publish. Jadinya author kasih ff yang ada di data hp author ja ya. Ini lagunya bagus banget lho coba saja readersdeul dengar pasti langsung suka. Dengaerin lagu sambil baca ini ff tapi nanti jangan lupa komennya ya…. Happy Reading ^-^

*   *   *   *   *

Di sebuah Cafe dengan nuansa kayu yang mendominasi dekorasinya dan terdengar musik yang mengalun lembut membuat semua pengunjung merasa tenang.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Eunseung. Dia tampak gelisah seraya menatap laki-laki yang duduk di depannya dan sibuk dengan laptopnya. Sudah satu jam mereka berada di cafe itu namun Eunseung hanya menjadi patung yang mengamati laki-laki yang terus saja mengotik-atik laptopnya dan terkadang dia harus menerima telpon-telpon dari para kliennya. Eunseung hanya menghela nafas karena hal ini bukan pertama kalinya terjadi.
“Oppa.” Panggil Eunseung namun laki-laki yang biasa dipanggil ‘Jung Sajangnim’ tak menghiraukan panggilannya, dia terus mengoceh dengan ponsel menempel di telinganya.
Eunseung mengulurkan tangan menyentuh tangan Yunho yang berada di atas meja. Akhirnya Yunhopun menyadari keberadaan gadis itu.
“Maafkan saya tuan Lee, nanti saya akan menelpon anda lagi.” Yunho meletakan ponselnya di meja dan mencurahkan perhatiannya pada Eunseung.
“Ada apa chagi?” Eunseung menarik nafas dan menatap kekasihnya.
“Lebih baik kita akhiri semua ini Oppa.” Yunho tampak terkejut mendengar ucapan Eunseung yang begitu tiba-tiba.
“Apa yang kau bicarakan chagi? Kau pasti tidak serius kan?”
“Aku sudah memikirkannya sejak kemarin Oppa, bukan, lebih tepatnya sejak sebulan yang lalu. Rasanya berat mengambil keputusan ini Oppa, tapi aku rasa keputusan ini yang terbaik untuk kita berdua. Terimakasih untuk segalanya,  Selamat tinggal Oppa.”
Eunseung bangkit berdiri dan meninggalkan Yunho yang masih terpaku di tempatmya. Langkah Eunseung terasa berat meninggalkan cafe itu. Sulit sekali bagi Eunseung mengambil keputusan itu, membutuhkan keberanian besar mengingat hubungan mereka sudah berjalan selama 2 tahun.
Eunseung menutup matanya membuat air mata jatuh membasahi pipinya. Eunseung merasakan angin dingin menerpa wajahnya namun gadis itu tetap terdiam. Dia membuka matanya dan merapatkan mantel musim dinginnya. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa benar-benar kesepian. “Mianhae Oppa.” Ucap Eunseung sebelum akhirnya air mata mengalir deras dari matanya.  

*   *   *   *   *

“Untuk meningkatkan target, kita akan bekerja sama denga perusahan periklanan AKTF. Bagaimana menurutmu hyung?” Tanya Yoochun setelah menjelaskan presentasinya.
Dahi lebar lelaki itu berkerut saat melihat Yunho melamun tak mendengarkan penjelasannya.
“Hyung.” Panggil Yoochun sekali lagi seraya melambai-lambaikan tangan di depan wajah direktur Jung itu.
“HYUNG!!!” Teriak Yoochun akhirnya berhasil menyadarkan Yunho.
“Oohh… Ne… Bagaimana penjelasanmu tadi Yoochun-ah?”
“Aiggoo… Hyung, ada apa denganmu? Hari ini kau aneh hyung, kudengar kau salah menandatangani beberapa dokumen. Apa kau sakit hyung?” Yunho menggeleng
“Tidak. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja Yoochun-ah. Kau bisa jelaskan kembali presentasimu tadi.”
Shirreo. Percuma saja hyung aku jelaskan jika pikiran hyung sedang tidak ada di sini. Jadi apa yang terjadi denganmu hyung?”
“Aku tidak apa-apa Yoochun-ah.” Yoochun menghela nafas kesal lalu menjatuhkan dirinya di kursi di depan Yunho.
“Sebaiknya kau ceritakan sekarang hyung, karena aku tidak akan berhenti memaksamu.” Yunho masih terdiam membuat Yoochun semakin geram.
“Apa ada masalah dengan keluargamu hyung?” Tebak Yoochun dan dibalas gelengan kepala Yunho.
“Atau ada masalah dengan Eunseung?”
Tubuh Yunho membeku mendengar nama ‘Eunseung’.
“Jadi benar keanehanmu karena Eunseung? Ada apa dengan kalian? Apa kalian sedang bertengkar?”
Yunho menghela nafas dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Lebih parah dari itu Yoochun-ah.”
“Nde?”
“Eunseung memutuskanku.”
“MWO?”
Tawa Yoochun meledak namun Yunho terlihat kesal.
“Itu bukanlah hal yang pantas di tertawakan Yoochun-ah.”
“Aigoo… Bagaimana bisa kau diputuskan olehnya?”
“Aku sudah menjadi namja yang jahat untuknya Yoochun-ah.”
“Apa maksudmu hyung?”
“Ini hukumanku karena sudah mengabaikannya Yoochun-ah. Kupikir aku akan baik-baik saja tapi ternyata lebih rumit dari dugaanku.”
“Mudah saja kan hyung, minta saja dia kembali padamu.”
“Tidak semudah itu Yoochun-ah. Aku tidak yakin Eunseung akan semudah itu menerimanya.”
“Aisshh… Hyung kau selalu saja membuat masalahmu menjadi berat. Paling tidak cobalah hyung, bukankaah kau masih mencintainya hyung.” Yunho terdiam memikirkan ucapan Yoochun.

*   *   *   *   *

Yunho keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya Yunho selalu membuat kopi untuk dirinya sendiri.
“Jahatnya, kau hanya membuat untuk dirimu sendiri Oppa?”
Tubuh Yunho membeku mendengar suara Eunseung. Yunho menoleh namun tak mendapati Eunseung tersenyum manis padanya. Laki-laki itu sadar dirinya hanya sendirian pagi ini. Dia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kegiatan membuat kopi.
Secangkir kopi yang mengepulpun akhirnya jadi. Yunho membawanya menuju meja makan. Setelah meletakkan kopi itu di meja, Yunho mengambil koran dan mulai membacanya.
“Bisakah kau meletakkan koran itu dan makan rotimu sajangnim?”
Yunho menurunkan korannya dan lagi-lagi dia tidak mendapati Eunseung di hadapannya. Yunho menutup matanya mencoba meredamkan hatinya yang sedang merindukan gadisnya.

~~~FLASHBACK~~~

Yunho mengaduk kopinya yang panas. Terdengar suara dentingan sendok membentur cangkir keramik itu. Aroma kopi menguar begitu harum.
“Jahatnya, kau hanya membuat untuk dirimu sendiri Oppa?”
Yunho menoleh dan melihat Eunseung melipat tangan di dada dan menggembungkan pipinya.
“Apa kau juga menginginkannya chagi?”
“Tentu saja Oppa.”
“Tapi sepertinya itu tidak gratis.” Goda Yunho.
“Aisshh….”
Eunseung mendengus sebelum akhirnya menghampiri Yunho. Senyum jahil mengembang di bibir Yunho. Eunseung memegang bahu Yunho dan berjinjit mendekati pipi Yunho yang jauh lebih tinggi darinya. Eunseung menghentikan gerakannya saat bibirnya hanya berjarak beberapa centi dari pipi Yunho.
“Akan kubuatkan roti untukmu Oppa.”
Eunseung berbalik dan gadis itu terkekeh geli membayangkan wajah ketidak puasan Yunho. Sesuai bayangan Eunseung, Yunho memdengus kesal karena tak mendapat ciuman dari gadis itu.
Beberapa menit kemudian, sepasang kekasih itu sudah duduk di meja makan. Yunho mengambil korannya dan mulai membacanya. Wajah Eunseung tampak kesal melihat kebiasaan Yunho yang lebih mementingkan berita daripada perutnya.
“Bisakah kau meletakkan koran itu dan makan rotimu sajangnim?”
Yunho menurunkan korannya dan tertawa melihat wajah Eunseung yang sedang cemberut.
“Bagaimana bisa kau memanggilku ‘sajangnim’ di saat kita sedang berada di rumah eoh?”
“Melihatmu membaca koran lebih terlihat sebagai sajangnim dibandingkan kekasihku.”
Yunho melipat korannya dan meletakkannya di meja lalu memberikan perhatian penuh pada gadis di hadapannya.
“Jadi nona Seo, memang seperti apa kekasihmu?” Eunseung memegang dagunya seakan sedang berpikir keras.
“Kekasihku adalah laki-laki yang sangat tidak pintar membuat lelucon. Dia juga atasan yang pintar, tegas, dan bijaksana. Terkadang dia berpikiran yadong namun terkadang dia bisa manja hingga membuatku gemas.”
“Benarkah? Sepertinya itu semua adalah sifatku.”
“Aishh…. Percaya diri sekali kau, aku bahkan tidak mengenalmu.”
“Baiklah akan kutunjukan padamu.” Eunseung menahan senyumnya tak sabar melihat apa yang akan di tunjukkan laki-laki itu.
“Chagi, bisakah kau menyuapiku? Aaakkkkk…”
Yunho membuka mulutnya meminta Eunseung menyuapinya. Bukannya menyuapi roti selai coklat itu, Eunseung justru tertawa seraya menahan perutnya yang sakit.
“Kau tidak cocok melakukannya Oppa.” Ucap Eunseung tertawa lagi.
Yunho mendengus kesal lalu menggigit roti itu dengan rakusnya. Tawa Eunseung semakin memudar, gadis itu terus melihat Yunho.
“Oppa.”
“Hmm?”
“Apa kita bisa seperti ini selamanya? Aku ingin waktu berhenti agar kita bisa terus bersama.”
Yunho menatap Eunseung yang tersenyum manis padanya. Tangannya terulur menggenggam tangan gadis itu.
“Tanpa waktu berhentipun, aku akan selalu bersamamu Eunseung-ah.”
Yunhopun membalas senyuman Eunseung terlihat jelas betapa bahagianya laki-laki itu.

~~~FLASHBACK END~~~~

Yunho menatap kosong di hadapannya. Tak ada lagi Eunseung yang tersenyum padanya. Tangan Yunho terulur namun lelaki itu tak dapat menyentuh tangan Eunseung kembali. Tanpa Yunho inginkan air matapun jatuh.
“Aku merindukanmu Eunseung-ah. Kembalilah, kumohon.”
Yunho menggebrak mejanya merasa kesal pada dirinya yang tak bisa membawa gadis itu kembali. Kesal pada dirinya yang tak bisa mencegah Eunseung saat mereka di cafe. Kesal pada dirinya yang begitu bodoh membiarkan Eunseung pergi.
Yunho menutup matanya dan berharap ini hanya ilusi kesedihannya saja. Dan berharap saat membuka matanya dia bisa melihat kembali wajah kekasihnya. Perlahan Yunho membuka matanya. Dia begitu terkejut saat melihat Eunseung memiringkan kepalanya dan tersenyum seraya melambaikan tangannya.
“Yunho Oppa.” Panggil Eunseung dengan nada manja.
Yunho segera berdiri dan memeluk gadis itu namun sayang Yunho sadar tak ada seorangpun dalam pelukannya. Yunhopun terhuyung ke belakang dan terjatuh ke lantai.
“Apa yang harus kulakukan tanpamu Eunseung-ah? Kembalilah, kumohon.”
Yunho menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dan bahunya berguncang karena menangis. Hanya suara tangisan Yunho yang terdengar dalam apartement itu.

*   *   *   *   *

Yunho melangkah menuju ruangannya. Laki-laki itu menghela nafas saat mendapati dirinya masih memikirkan Eunseung. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat dari kejauhan sosok yang dirindukannya tengah mengobrol dengan laki-laki lain. Tangan Yunho terkepal ketika Eunseung tertawa bersama orang lain.
“Apa kau sudah melupakanku Eunseung-ah?” Gumam Yunho.
Yunho kembali melangkah tanpa mengalihkan tatapannya dari Eunseung. Dari sisi lain Eunseungpun berjalan ke arah Yunho. Langkah gadis itu terhenti saat tatapan keduanya bertemu. Namun Eunseung mengalihkan tatapannya dan melanjutkan langkahnya. Tepat saat mereka berpapasan, Yunho menahan lengan Eunseung membuat langkah gadis itu terhenti. Eunseung terdiam, gadis itu tak menyangka Yunho akan menahannya. Gadis itu menarik nafas sebelum akhirnya berbalik dan memberikan senyum sopannya pada Yunho.
“Ada yang bisa saya bantu sajangnim?”
Yunho mengepalkan tangannya tidak suka dengan panggilan ‘sajangnim’ karena panggilan itu membuat Yunho merasa jauh dari gadis itu. Bahkan Yunho juga merindukan panggilan ‘Oppa’ keluar dari bibir gadis itu.
“Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan bisakah anda melepaskan tangan saya? Banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Terdengar nada dingin dari ucapan Eunseung.
Yunho terus saja menatap gadis itu tanpa berkedip. Bahkan lelaki itu merasa takut gadis itu akan menghilang jika dia berkedip. Banyak sekali yang ingin Yunho katakan namun melihat mata Eunseung yang sedingin es membuat kata-kata itu sulit untuk keluar. Cengkraman Yunho mengendur, Eunseungpun segera membebaskan tangannya dan segera meninggalkan Yunho. Yunho masih terdiam di tempatnya mengamati kepergian gadis itu.

*   *   *   *   *

Sinar matahari pagi merambat masuk mengenai wajah Yunho. Dahi Yunho berkerut sedangkan matanya bergerak terbuka. Matanya menyipit saat melihat sinar matahari yang begitu menyilaukan. Yunho menarik selimutnya menutupi wajahnya.
“Bangum, pemalas.”
Yunho menyibakkan selimutnya saat mendengar suara Eunseung. Tapi Yunho tak menemukan orang lain selain dirinya di kamar. Di menegakkan tubuhnya dan duduk di atas ranjang empuknya.
“Aku bahkan masih bisa mendengar suaramu Eunseung-ah. Apa yang harus kulakukan?”
Yunho menggosok wajahnya frustrasi karena tak bisa mengembalikan Eunseungnya.
“Aku tersadar jika aku memcintaimu Eunseung-ah, kembalilah.” Sedih Yunho.
TING….TONGG….
Yunho mendongak saat mendengar bel pintunya berbunyi. Laki-laki itu melirik ke jam di mejanya menunjukkan jam 7 pagi.
“Siapa yang bertamu sepagi ini?”
Dengan malas Yunho menyibakkan selimut lalu berjalan guntai menuju pintu. Lagi-lagi terdengar bel pintu yang tidak sabaran. Yunho mendengus kesal namun tetap berjalan menuju pintu itu dan membukanya. Tubuh Yunho mematung melihat seorang gadis tengah cemberut seraya membawa kantong belanja.
“Aiisshhh…. Lama sekali Oppa, kau membuat kakiku pegal karena lama menunggu.” Gadis itu langsung menerobos masuk tak memperdulikan Yunho yang masih terbengong.
Eunseung menaruh katong belanja itu di meja dan mulai mengeluarkan semua benda yang di belinya. Yunho menghampiri dapur dan matanya tak lepas dari gadis itu. Yunho seakan berada di alam mimpi saat ini.
“Eunseung-ah?” Panggil Yunho dan Eunseungpun menoleh.
“Nde?” Bahkan suara itu begitu nyata di telinga Yunho.
Tangannya terulur hendak menyentuh pipi Eunseung. Dalam hati Yunho benar-benar ketakutan jika gadis di depannya hanyalah imajinasinya sendiri. Namun saat tangan Yunho menyentuh pipi Eunseung yang begitu lembut di tangannya, bibir Yunhopun menyunggingkan sebuah senyuman. Laki-laki itu langsung memeluk Eunseung begitu erat dan tak ada niat sedikitpun untuk melepaskan gadis itu kembali.
“Mianhae…… Jangan pergi lagi Eunseung-ah, aku  tidak bisa menjalani hidupku jika bukan denganmu. Aku mencintaimu, kumohon kembalilah ke sisiku. Aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku.”
Eunseung begitu bahagia mendengar ucapan Yunho. Gadis itupun membalas pelukan Yunho sama eratnya.
“Aku sudah kembali Oppa, dan aku tidak akan pergi lagi karena aku juga mencintaimu.” Bibir Yunho menyunggingkan senyum bahagianya.
“Apa Oppa tidak menanyakan kenapa aku kembali?”
Yunho melepaskan pelukannya dan manatap gadis itu. Tangan Yunho terulur merapikan anak rambut yang berantakan.
“Aku rasa itu tidak perlu. Aku sudah mendapatkanmu di sini, tak ada hal lain yang kuinginkan.”
“Tapi kau perlu tahu Oppa. Akan kutunjukkan sesuatu.” Eunseung menarik Yunho keluar dari rumah.

*   *   *   *   *

Eunseung mengajak Yunho memasuki sebuah taman. Mereka berjalan bergandengan tangan melewati pengunjung-pengunjung lain.
“Apa Oppa ingat tempat ini?” Tanya Eunseung.
“Ne, tentu saja. Tempat ini adalah tempat penyatuan kita.” Eunseung tersenyum Yunho mengingatnya.
“Aku senang Oppa mengingatnya.”
“Aku tidak akan melupakan apapun tentangmu Eunseung-ah.”
Eunseung menahan senyum bahagianya.
“Benarkah? Tapi kenapa selama ini kau melupakanku Oppa?”
Yunho berhenti melangkah membuat Eunseungpun juga ikut berhenti. Yunho menatap Eunseung dengan tatapan menyesal. Yunho menggenggam kedua tangan Eunseung.
“Mianhae Eunseung-ah. Selama aku selalu mementingkan pekerjaanku sehingga tak memperdulikanmu. Saat kau pergi, aku baru sadar jika kau yang lebih penting dari pekerjaan itu. Aku bahkan tak bisa bekerja dengan baik saat kau pergi dari sisiku. Berikan aku satu kesempatan Eunseung-ah. Aku berjanji akan memperbaikinya.”
Eunseung menatap kedua tangannya yang ada dalam genggaman Yunho. Lalu tatapannya beralih melihat wajah tampan kekasihnya. Eunseung menyunggingkan senyum manis yang dirindukan Yunho.
“Apa Oppa tidak merasa saat ini Oppa seperti saat menyatakan perasaan oppa dua tahun yang lalu?”
Yunhopun tertawa saat menyadari dia melakukan hal yang sama seperti dua tahun lalu saat dirinya memyatakan perasaan cintanya pada Eunseung.
“Kemarin aku kemari Oppa dan akupun teringat saat itu. Setelah kita bosan menonton kita berjalan-jalan di taman. Lalu Oppa dengan gugup mengatakan ‘Aku menyukaimu Eunseung-ah’, dan aku baru sadar betapa egoisnya aku karena hanya mementingkan diriku sendiri. Mianhae Oppa.”
“Kurasa kita sudah menyadari kesalahan kita masing-masing. Kalau begitu kita akan jalan-jalan untuk merayakannya.” Usul Yunho dan Eunseungpun langsung mengangguk penuh semangat.
“Tapi Oppa….”
“Wae?”
“Apa Oppa tidak sadar jika Oppa belum mandi?” Eunseung menahan tawa melihat wajah kaget Yunho.
“Aigoo… Chagi apa kau tidak sadar jika memiliki kekasih yang tampan. Lihatlah meskipun belum mandi aku masih terlihat tampan kan?”
“Cihh… Percaya diri sekali kau Oppa. Aku pikir masih ada yang lebih tampan darimu.”
“MWO? Memang siapa yang lebih tampan dari aku huh?”
“Nae appa.”
Tawa Eunseung pecah melihat Yunho tak bisa melawan ucapannya. Merekapun bergandengan tangan menyusuri taman.

*   *   *   *   *

“Mianhae aku tidak tahu film itu sangat membosankan.” Ucap Yunho berjalan menunduk di samping Eunseung.
“Gwaenchana Oppa, kau tak perlu menysal seperti itu.”
“Tapi tetap saja aku mengacaukannya.”
Eunseung tertawa karena baru kali ini gadis itu melihat sisi lain Yunho. Selama ini Eunseung melihat Yunho sebagai atasan yang tegas, dingin, disiplin dan jarang sekali menunjukkan ekspresinya. Ini adalah kesempatan langka gadis itu melihat laki-laki yang sering di panggilnya ‘sajangnim’ mengeluarkan berbagai ekspresi.
“Oppa, bagaimana kalau kita ke taman itu? Ayo.”
Belum mendengar jawaban Yunho, Eunseung sudah menarik Yunho memasuki taman itu. Meskipun hari sudah sore tapi masih banyak orang yang mengunjungi taman itu. Yunho yang mengikuti ke manapun Eunseung menariknya pergi hanya terdiam memandang genggaman Eunseung. Laki-laki itu tak percaya dia bisa menggenggam tangan Eunseung. Padahal sejak tadi Yunho sudah memutar otaknya mencari cara agar bisa menggandeng tangan Eunseung namun hasilnya selalu gagal.
“Oppa, kau tidak apa-apa? Kenapa kau jadi pendiam?” Tanya Eunseung menyadarkan Yunho.
“Aku tidak apa-apa.”
“Oppa bagaimana jika kita mencoba permen kembang gula itu? Kau pasti menyukainya.” Tanya Eunseung penuh semangat.
“Eunseung-ah.” Panggil Yunho menghentikan langkah mereka.
“Nde?” Yunho meraih tangan Eunseung yang lain lalu laki-laki itu menatap gadis di hadapannya.
“Aku… Aku….”
Eunseung tampak bingung menunggu ucapan Yunho.
“A… Aku… Aku menyukaimu Eunseung-ah.”
Eunseung tampak terkejut mendengar pengakuan Yunho. Mata Eunseung berkedip-kedip seakan membuktikan jika dia tidak sedang berhalusinasi.
“Apa kau mau menjadi kekasihku Eunseung-ah?”
Yunho menatap Eunseung penuh harap menunggu jawaban gadis itu. Saat Eunseung menganggukkan kepalanya seketika Yunho tersenyum dan langsung memeluk gadis itu.

♬♪♩♬♪

We will fall, fall in love all over again
As if we never broke up,
fall in love all over again
Come back into my arms,
erase the times without you
Go back to the days we first
fell in love   Your soft hair,
everything about you fits me perfectly
I realize how much I love you and tears fall
I don’t care who you were with after you left me
I don’t care if you don’t tell me why you came back
I just think about one thing,
that you’re by my side,
that you’re by my side right now
Don’t think about anything else

    ~~~THE END~~~          

2 thoughts on “LOVE AGAIN

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s