HELLO TO MY SELF

An Oneshoot

by Risuki-san

Cast : Lee Jinki (SHINee’s Onew) & Lee Jieun (IU) | Rating : Teenager | Genre : Romance | Disclaimer : FF abal ini asli buatan author | [A/N] : Ini oneshot tapi pendek hehehh Semoga suka XD

.

‘…I want to be loved…’

-Lee Jieun-

.

Hello To My Self

Menatap pantulan bayangannya di cermin, ada perasaan ragu merambatinya.

Ini…

Ini bukan dirinya…

Menyentuh surai rambutnya, tak ada warna hitam disana, ia telah menghapusnya, Jieun yang dulu, ia telah menghapusnya.

Itu keputusan yang benar, ia takkan menyesalinya, iya kan?

.

.

.

Hanya melangkah pelan, tak ingin memperhatikan jalan karena…itu…

Genggaman tangan itu…terlihat lebih menarik.

Rasanya tak bisa berhenti tersenyum, lekukan senyum di bibirnya, Jieun tak bisa menahannya…

“Kau ingin makan apa?”

Menoleh cepat pada sumber suara, menatap lelaki itu dan…

Dunianya hancur…

Tak mampu berkata-kata, terlalu sulit bahkan untuk sekedar bernafas, ia bahagia, terlalu bahagia hingga rasanya ingin meledak.

“Jieun?”

“Oppa…”

“Jieun?”

“Aku ingin…bersamamu selamanya”

.

.

.

Menyentuh dahi putihnya pelan, ada sedikit kemerahan disana, tak sesakit saat Jinki baru saja melakukannya, juga tak ada bekas luka yang akan membuatnya malu tapi…haruskah lelaki itu melakukannya?

“Hanya sebuah ttakbam, haruskah kau menangis?”

Jieun ingin berhenti tapi ia tak tahu cara melakukannya, menghentikan aliran air bening di sudut mata kecilnya, ia tak mengerti bagaimana caranya.

“Hyeri tidak cengeng sepertimu”

Menghapus aliran bening itu kasar, mengusap mukanya yang basah dengan sapu tangan, menatap lekat lelaki di depannya.

“Aku tidak menangis, kenapa aku harus menangis?”

Mengucapkannya dengan tegas, ia tidak menangis, tidak akan.

.

.

.

Melahap makanan favoritnya dengan cara yang tidak manusiawi, mengabaikan tatapan laser yang kini tertuju padanya, lelehan es krim memenuhi muka imutnya dan Jinki, ia membencinya, seorang gadis makan dengan cara yang tidak elegan, ia membencinya.

“Jieun! makanlah dengan cara yang benar!”

Ia menoleh cepat, merasakan sedikit aura tak baik disana, mood Jinki hancur dan gadis itu pelakunya.

.

.

.

Tak ada lelehan lengket es krim lagi, Jieun sudah menghapusnya, muka putihnya kembali licin, lalu apa yang salah?

“Hyeri tidak bicara saat makan”

Ia diam, gadis itu diam, tak tahu harus menjawab apa tapi…bukankah diam adalah yang Jinki inginkan saat ini?

Memilih untuk kembali bergumul dengan makanannya, berusaha menikmatinya tapi…ini hambar, tak ada rasa lain yang ia rasakan, tak ada rasa gurih yang ia rasakan kala makanan itu menyentuh indra pengecapnya.

.

.

.

“Kau suka Lotte World?”

Hanya sebuah anggukan pelan sebagai jawaban, tersenyum kecil kala tangan besar itu menariknya, ia bahagia, Jinki yang menggenggam tangannya, ia bahagia.

Mengabaikan fakta jika ini…wahana misteri?

Anggota geraknya terdiam, tak dapat melangkah lebih jauh, hatinya menolak karena ini…ini bukan wahana yang ia sukai, ia bahkan membencinya.

“Apa yang kau lakukan? Ayo masuk…”

Ia menggeleng kuat, menatap lelaki sabit di depannya, tanpa ia sadari kedua kakinya melangkah mundur.

“YAK!!”

Menoleh cepat, Jieun menyadarinya, Jieun menginjak kaki perempuan itu. Membungkuk cepat, mengucap maaf sebanyak yang ia bisa.

Memutuskan untuk keluar dari antrian namun sebuah tangan menahannya, Jinki tak menginjinkannya. Menarik tangan kecil itu lebih kuat dari sebelumnya, mengabaikan Jieun yang terseret di belakang.

Gadis itu ingin berontak, ia tak ingin melakukannya tapi…

“Hyeri tidak pernah takut, ini bahkan wahana favoritnya”

Ia ingin mundur tapi…hatinya berkata sebaliknya. Meyakinkan dirinya, bukankah ini hanya sebuah permainan? Takkan ada hantu sungguhan, semuanya palsu, kenapa ia harus takut?

.

.

.

Mengabaikan Jinki yang berada jauh di depan, ingin mengejarnya tapi ia tak bisa dan itu…sangat menyakitkan.

Memilih untuk melepas high heels-nya, ingin membuangnya karena kesal. Benda itu sangat tidak nyaman di kakinya, benda itu bahkan melukai kakinya.

‘Hyeri selalu memakai high heels, itu sepatu favoritnya’

Ia ingin menangis, setelah menderita seharian karena memakai benda itu dan berakhir dengan Jinki yang tetap meninggalkannya?

.

.

.

Hanya mendudukkan diri di sebuah bangku, menyentuh kakinya yang lecet, meringis sakit karena menahan perih.

Menghela nafas pelan, mencari sosok Jinki yang entahlah, ia tak dapat menemukannya.

Dengan jutaan umpatan kesal ia memakai benda itu lagi, sekuat tenaga mencoba berdiri, ini hanya luka kecil, menahannya sebentar terasa lebih baik daripada harus pulang dengan kaki telanjang, iya kan?

“Aku bukan anak kecil, tak masalah jika harus pulang sendiri”

Mengucapkannya pelan, membisikkan pada dirinya, ya, tak apa. Pulang sendirian bukanlah sebuah masalah.

Dengan kaki yang terseok ia berjalan dan…

“Kau kemana saja? Kenapa suka sekali menghilang!”

“…”

 “Ambillah”

Seperti makhluk paling bodoh di dunia, Jieun bahkan sulit memahaminya, ia sulit memahami situasi ini. Situasi dimana Jinki dengan dua cup es krim di tangannya, lalu bibir mungilnya yang terkena lelehan es krim akibat ulah lelaki itu.

Terlebih saat…

Merasakan sapuan hangat pada permukaan bibirnya, lalu tawa renyah itu, mata sabit yang berakhir segaris, Jinki, ia sedang bahagia?

Melupakan kakinya yang lecet, lebih memilih untuk menyentuh bibirnya, tersenyum kecil kala mengingatnya.

Hanya beberapa detik, ia bahkan tak sempat merasakannya karena terlalu singkat, memutuskan untuk meraih cup es krim di depannya lalu menghabiskannya.

Jinki bahagia, kini ia pun tengah bahagia, bukankah ini adil?

.

.

.

Sekuat tenaga berusaha mengendalikannya, menarik nafas lalu membuangnya perlahan, begitu seterusnya dan…tak ada yang berubah.

Jantungnya tetap memompa darah dengan cara yang tidak wajar, jantungnya berdetak terlalu cepat dan bukankah itu tidak sehat?

“Kau sangat gugup ya?”

EHHH

Apa Jinki bisa mendengarnya?

Mungkin, ya, hal itu mungkin karena dengan jarak yang sedekat ini, Jieun bahkan dapat mendengar deru nafas Jinki yang memburu.

Merasakan telapak kakinya menyentuh tanah, kembali menopang tubuhnya dengan kedua kaki miliknya.

Menatap lelaki sabit itu, memperhatikannya, ada sedikit buliran keringat disana. Apa begitu lelah? Apa tubuh mungilnya begitu berat?

Menyekanya pelan, merasakan basah kala telapak mungilnya menyentuh dahi lelaki itu, ada perasaan tak nyaman merambatinya.

“Maaf, aku sangat berat ya? Seharusnya Jinki oppa tak perlu melakukannya”

“Lalu aku akan di bunuh kakek Lee karena menyakiti cucunya?”

Tersenyum kecil kala mendengarnya, Jieun ingin tertawa sekeras mungkin, ya, kakeknya sangat galak dan Jinki sangat takut padanya, membanggakan bukan?

“Kau bisa jalan sendiri kan? Masuklah”

Mengangguk pelan lalu membalik tubuhnya, hampir satu langkah ia tempuh namun sebuah tangan besar menahannya.

Menatap Jinki yang terlihat…bingung?

Bibir mungilnya hampir terbuka hingga…

BUGH…

Punggung miliknya menyentuh pelan dinding disana, lalu kepala Jinki yang terus mendekat, apa ia akan melakukannya?

Jantungnya berdetak semakin tak teratur, kenapa mereka terus berdetak secepat ini? Haruskah Jieun pergi ke dokter?

Memejamkan mata kala sebuah sapuan hangat menyapa bibir mungilnya, lagi? Untuk hari ini Jinki melakukannya sebanyak dua kali?

Merasakan jutaan kupu-kupu memenuhinya, ada perasaan bahagia yang terlalu melimpah hingga Jieun ingin meluapkannya.

.

.

.

Menatap pantulan dirinya di cermin, memutar tubuhnya beberapa kali untuk memastikan, apa ia terlihat cantik?

Tersenyum penuh arti, memuji dirinya sendiri…

“Gadis secantik ini milik siapa?”

Mengucapkannya lalu tersenyum manis, meraih lipbalm lalu mengoleskannya, merapatkan bibir mungilnya dan…

CHUU

Meninggalkan jejak merah jambu di kaca, tak dapat mengendalikan diri, tak dapat berhenti tersenyum, bertingkah aneh saat sendirian.

“Tentu saja milik Jinki oppa!”

Mengucapkannya dengan nada yang riang lalu melangkah keluar, bersenandung kecil, terlampau bahagia kala ia mengingatnya.

‘Hari ini adalah hari spesial, ayo pergi bersama’

Hari yang spesial?

Apapun itu, bukankah hari yang spesial selalu dinanti?

Hari yang spesial itu…akan menyenangkan, iya kan?

.

.

.

Jika yang disebut spesial adalah seperti ini, maka Jieun…ia tak akan menantinya, ia akan menghindarinya.

Ingin meloncati hari ini, tak ingin mengalami hari buruk seperti hari ini, tak bisakah?

.

.

.

“Eoh, Jieun disini?”

Hanya diam.

Gadis itu, dia…Shim Hyeri.

Bukankah ia melanjutkan studi ke Amerika? Lalu kenapa ia kembali?

“Aku takkan lama disini, mungkin hanya satu minggu”

Satu minggu itu sangat lama karena selama satu minggu itu pula, Jinki akan mengabaikannya. Pasti.

Jieun marah, Jieun kecewa, jadi ini yang di sebut hari spesial?

Ini sama sekali tidak spesial!

Ini lebih buruk dari kembali ke Jepang, Ia ingin terus disini, di Korea bersama Jinki. Bahkan disaat kedua orang tuanya berada di Jepang, Jieun tak ingin kembali karena lelaki itu disini, tapi sekarang…

Hanya makan dalam diam setelah menjemput gadis itu di bandara. Jinki benar, Hyeri tidak bicara saat makan.

Ia anggun, terlihat pintar, tidak seperti dirinya, dan kau bermimpi untuk menjadi dirinya? Bangunlah Lee Jieun!

.

.

.

Ia tidak sendirian tapi ia merasa sendiri, ia ada tapi seperti tak ada, seperti barang halus, kenapa mereka bersikap seolah hanya mereka berdua di dunia?

Saling melempar senyum dan candaan, tak melibatkan Jieun yang duduk di jok belakang. Demi apapun Jieun ingin pulang.

.

.

.

Hanya sebuah bayangan yang tak berarti, itulah dirimu, kau menyadarinya sekarang?

Di matanya, di mata sabitnya, kau…hanya bayangan Shim Hyeri.

Jinki tak mengenal Lee Jieun, ia hanya mengenal Shim Hyeri.

Matanya memanas, ia ingin menangis tapi…

‘Hyeri tidak cengeng sepertimu’

‘Saat terluka Hyeri tidak menangis sepertimu’

Tapi…

Air bening itu jatuh begitu saja, ia telah menahannya tapi itu sangat sulit. Ia berusaha menahannya, ya, setidaknya ia berusaha, iya kan?

“Jieun? kakimu…”

Merasakan sebuah sentuhan lembut pada kakinya, dengan cekatan tangan putih itu mengobatinya.

Gadis itu sempurna…ia pintar, pandai memasak, pandai bermain musik, ia terlihat mewah tapi juga memiliki sisi kemanusiaan.

Hyeri mengobatinya, lukanya, luka yang dibuat Jinki.

“Jangan memakai high heels jika kau tak merasa nyaman”

Gadis itu bahkan tahu segalanya, dengan apa Tuhan menciptakannya?

.

.

.

Ubah aku jadi Hyeri’

‘Apa?’

‘Aku bisa bermain piano, aku bisa bernyanyi, aku juga mau berubah’

‘Kau…’

‘Katakan saja oppa, apa yang Hyeri bisa tapi aku tak bisa? aku akan belajar’

‘Dia sempurna’

‘…’

‘Dia pintar di sekolah, dia pandai memasak, dia pandai bermain alat musik, dia tidak cengeng, dia anggun, dia bisa menjadi dewasa dan cute disaat bersamaan. Dia sempurna’

.

.

.

Tak mengerti bagaimana cara menempatkan diri, ia harus bahagia atau sedih?

Merasakan betapa kuat tangan itu mendorongnya, menghalanginya meraih kebutuhan pokok sebagai manusia.

Ia ingin bernafas, tapi juga tak ingin ini berakhir.

Jinki yang menginginkannya, terus mendorongnya mendekat, menyapa bibir mungilnya dengan cara yang lebih menuntut, membuatnya kesulitan bernafas.

Sangat sesak terlebih saat Jinki mengucapkannya.

‘Aku mencintaimu…Hyeri’

Dia Jieun, kau sedang bersama Jieun tapi kenapa memanggil gadis lain?

.

.

.

Hanya menatap hamparan air di depannya, merasakan geli kala surai coklatnya diterbangkan angin, menggelitiknya…

Tak ingin mendengar perdebatan dua sosok disampingnya, ia ingin tuli, ia tak ingin mendengarnya.

Jinki yang menahan gadis lain, Jinki yang marah karena gadis itu meninggalkannya, Jinki dengan ekspresi sedihnya. Jieun, ia tak ingin peduli, ia tak ingin mendengar, melihat ataupun memahaminya.

Ia ingin pulang.

Hyeri pergi, lebih memilih bersama teman-temannya ketimbang bersamanya dan Jinki marah, ia kecewa, ia merajuk dan Jieun muak akan hal itu.

.

.

.

“Baiklah, kau ingin kemana?”

Bertanya tanpa menatap lawan bicaranya, ada nada dingin disana.

Memutuskan untuk berdiri, tak tahan jika harus berada disini, disini dingin dan Jinki tak peduli padanya.

“Aku akan pulang” mengucapkannya lalu melangkah menjauh, meninggalkan Jinki begitu saja. Tak masalah jika harus pulang sendirian, ini tidak terlalu larut.

Kakinya terluka, hatinya terluka…

Jieun tidak sedang baik-baik saja, ia ingin berlari, ingin cepat sampai di rumah, ingin menangis di dalam kamar sepuasnya.

.

.

.

Mengarahkan langkahnya pada halaman rumah Jinki, sebuah rumah minimalis dengan halaman yang sangat luas.

Meraih sebuah selang disana, menekan sebuah tombol dan…

Ribuan titik air menyembur keluar, menyiram tiap tumbuhan disana, tanpa sadar tersenyum kecil kala mengingatnya…

Setahun yang lalu, saat dengan koper super besar miliknya melewati rumah ini, lalu Jinki yang secara tak sengaja mengguyurnya dengan air.

‘Kenapa kau tak berhati-hati?! Dasar gadis bodoh! Kau tak lihat aku sedang menyiram, kenapa kau justru mendekat?! Kau…’

Berteriak marah, memaki gadis itu seolah Jieun yang salah. Jieun yang basah dan Jinki yang menyiramnya tapi kenapa menyalahkan gadis itu?

Tak dapat marah karena Jinki terus bicara tanpa jeda, tak memberinya kesempatan untuk bicara hingga…

Sebuah tepukan yang sangat keras menyapa kepalanya, tepukan keras dari kakek Jieun.

Gadis itu tertawa renyah, mengingat betapa lucu ekspresi takut Jinki kala itu, Jieun sangat menyukainya.

.

.

.

Hanya menatap gumpalan awan diangkasa, tak ada yang spesial hari ini, tak ada paket ayam spesial yang tengah ia nanti tapi…kenapa ia merasa ada sesuatu yang sangat ia tunggu? Ada yang hilang, ia merasa ada yang hilang.

Memutuskan untuk mengetuk pintu di depannya, menunggu dengan gelisah, perasaan takut merambatinya saat…

“Ada apa?”

Pemilik suara tegas itu…Kakek Lee, kakek Jieun.

Kenapa bukan Jieun yang membukanya saja?

Menggerutu kecil di dalam hati, memasang senyum palsu di muka tampannya, menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Kakek-“

“Panggil aku kapten!”

Baiklah, Jinki bodoh, berapa kali ia mendengarnya?

‘Panggil aku kapten!’

Bukankah kau terus mendengarnya sepanjang waktu? Tapi kenapa kau selalu melupakannya?

Menatap takut pada sosok Kakek Lee dengan pakaian khas tentara, lalu senapan itu…apa itu asli?

.

.

.

Lagi…menatap gumpalan awan di langit. Mereka menghitam, mulai menghitam. Kepalanya pening, ia tak mengerti dengan situasi ini.

‘Jieun pulang ke Jepang’

Pulang?

Bukankah Jieun orang Korea? Kenapa pulang?

Ia sedang liburan dan akan kembali, iya kan?

TES TES TES

Merasakan tetesan bening menyentuh kulit mukanya, memilih untuk menengadah, berharap ribuan titik air menghujamnya.

Langit menghitam, ya, ini pasti hujan, tapi…

Tidak, tak ada satu tetes pun di langit lalu apa, ini apa?

Rasanya hangat, mungkinkah?

Ia pulang, ia pergi meninggalkanmu dan kau menangisinya, Lee Jinki?

END

2 thoughts on “HELLO TO MY SELF

  1. sad ending yaa…
    kasihan Iu. bgaimanapun dibanding”kan dengan mantan itu sangat.
    dan akhirnya Onew ditinggal sendiri, itu pilihan yg bagus

    • iya ini sad ending :( dan btw hyeri itu bukan mantannya onew, onew cuma suka banget sama hyeri. aduhh aku gagal ngejelasinnya dong :'( hikss tapiii makasih sudah meninggalkan jejak XD

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s