TEL HIM 3

TellHim2

Title ||  TELL  HIM

Maincast ||  Park Jiyeon feat Lee Joon

Support Cast || MIr, Park Sanghyun, Eunjung, Hyomin, Nam Wooyun

Genre ||  Romance / Drama

Length || Multichapter

Rated || PG-15

Discalimer ||  I own nothing but the story

Poster ||  Arin Yessy @ Poster Channel

 

 

>>>> TEL HIM <<<<

 

 

Joon menarik nafasnya kesal. Situasi seperti ini sungguh tidak dia harapkan. Benar-benar diluar perkiraan. Kalau sudah begini, bagaimana dia akan melanjutkan projectnya. Joon menghela nafasnya lagi.

 

“Ayo kita kembali ke Seoul!”  ajak Eunjung tiba-tiba.

 

 

>>>TEL HIM <<<<

 

 

Joon menatap Eunjung marah. Dia sudah memperkirakan sikap Eunjung akan seperti ini.  

 

“Apa kau bertanggung jawab jika aku gagal dalam ujian akhirku ini ?” 

 

“Joon Oppa!”  Eunjung masih merengek. 

 

“Kau lebih baik pulang ke Seoul. Aku akan tetap bertahan di sini paling tidak satu minggu lagi.”

 

Eunjung sepertinya merasa ketakutan dengan emosi Joon. Dia merangkul lengan Joon manja.

 

“Baiklah Oppa, aku tidak akan cerewet. Kau boleh di sini selama satu minggu. Dan malam ini biarlah aku menginap di sini. “

 

Joon tidak menanggapi ucapan Eunjung. Dia hanya melirik gadis itu dengan berbagai macam pikiran. 

 

“Aku mau mandi dulu.”  Joon berdiri dan meninggalkan Eunjung yang masih terduduk di pinggiran teras. 

 

 

Ketika Joon selesai mandi, dia tidak mendapati Eunjung di teras atau dihalaman didepan paviliunnya. Apa mungkin dia ke bangunan utama. Joon bergeas ke sana setelah mengenakan pakaian yang pantas. Dia takut kalau-kalau Eunjung bericara dengan Jiyeon.

 

“Eunjung !” panggil Joon ketika dia melihat gadis itu duduk bersama dengan Ny. Park. Wanita paruh baya itu sedang membicarakan tentang musim kepada Eunjung. Biasanya kalau musim bercocok tanam tiba, maka di daerah pegunungan sini akan banyak capung. Eunjung melirik Joon ketika kekasihnya itu menyeruak.

 

“Jangan berisik Oppa!”  Ujarnya.

 

Ny. Park tertawa. Dia melihat ke arah Joon. 

 

“Kekasihmu cantik dan ramah.”  ujar Ny. Park.  Joon hanya tersenyum. Laki-laki itu memberi isyarat agar Eunjung mengikutinya. Joon berjalan ke depan. Ke arah Lobby. Dia mengajak Eunjung duduk di sana.

 

“Ku harap kau menjaga perasaan Ny. Park. Jangan mengatakan hal-hal konyol tentang gaya hidupmu di Seoul. Penduduk di sini sangat sederhana. Mereka tidak seperti kita .”  Ujar Joon menjelaskan.

 

“Aku tidak bicara apa-apa. Kenapa kau begitu khawatir.”

 

“Kapan kau akan kembali ke Seoul ?”

 

“Besok pagi.” jawab Eunjung. 

 

“Aku akan mengatakan pada Ny. Park untuk menyiapkan kamar untukmu.”

 

“Oppa, kita kan bisa satu kamar.”

 

“Sudah ku katakan kita tidak berada di Seoul. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi bahan omongan di sini.”

 

“Tapi Oppa…”

 

“Kalau kau tidak mau, lebih baik kau kembali ke Seoul malam ini juga!” ancam Joon tegas.

 

Lalu Jiyeon datang memasuki ruangan Lobby. Dia bersama dengan Mir.  Joon tersenyum pada Mir.

 

“Hi Joon !” sapa Mir ramah.

 

“Kalian dari mana ?”

 

“Tadi, mengantar Jiyeon ke toko buku.”

 

“Ya, aku membeli buku khusus untukku. ” Jiyeon berjalan menuju ke meja reseptionist. 

 

“Dia buta ?”  tiba-tiba Eunjung berbicara. Dan Jiyeon mengangkat wajahnya mencari arah suara.

 

“Siapa ?”

 

“Dia Eunjung. Kekasihku, Jiyeon.”  Joon lalu menatap geram ke arah Eunjung. Dia marah pada ketidak sopanan Eunjung berkata-kata. .

 

“Oh begitu!” Jiyeon tersenyum. Namun ada sesuatu di hatinya yang sepertinya sedang meredam rasa perih. Ya, perasaan itu masih samar, namun kenapa begitu nyata.

 

“Jiyeon. Aku pulang dulu. Ada yang harus kukerjakan. Biasa nilai murid-muridku!”  seru Mir sambil undur diri. 

 

“Baiklah Oppa. Terima kasih sudah mengantarku!” 

 

“Ya. Sampai ketemu besok!” 

 

 

Jiyeon membuka-buka laci untuk mencari kesibukan. Dia merasa sedikit canggung dengan kehadiran Eunjung. Tangannya mencari sesuatu yang mungkin bisa mengalihkan perhatiannya. Dia menemukan sebuah sakuhachi. Dia mengambilnya dan meraba setiap lubangnya dengan teliti. Semua masih utuh dan sempurna. Tidak tahu dengan suaranya. 

 

“JIyeon !”  Panggil Joon.

 

“Ya ?” 

 

“Kau sedang apa ?”

 

“Aku menemukan sebuah sakuhachi.”

 

“Apa kau bisa memainkannya ?”  tanya Joon lembut. Eunjung mencubit lengan Joon. Dia tidak suka kekasihnya itu terlihat akrab dengan Jiyeon.

 

“Sebaiknya aku ke kamarku. Sepertinya aku lelah.” 

 

“O baiklah! padahal aku ingin mendengar kau memainkannya.”  Joon sedikit kecewa. Dia hanya melihat Jiyeon melangkah meninggalkan Lobby.

 

“Kenapa dengan dirimu ?” tanya Joon pada Eunjung. 

 

“Aku cemburu.”

 

“Kenapa kau bisa cemburu padanya ?” Joon benar-benar tak mengerti.

 

“Oppa! aku tahu sifat laki-laki. Dia senang bermain-main dengan perasaan wanita. Apa kau sedang menarik perhatiannya ?”

 

“Eunjung, dia hanya gadis buta. Kenapa kau harus cemburu padanya. Apa yang membuatmu cemburu. kau jauh lebih sempurna sebagai wanita. Au heran dengan sifat cemburumu itu !”  Joon berdiri dan berjalan meninggalkannya. 

 

“Oppa! ” panggil Eunjung sambil mengikuti langkahnJoon.

 

 

Jiyeon hanya mendengar mereka bertengkar. Samar-samar suara mereka masih terdengar. Dan Jiyeon merasa sedih. Hanya karena dirinya, mereka bertengkar. 

 

Di sana di jembatan itu Jiyeon masih mendengar Eunjung berbicara sedikit kasar pada Joon.

 

“Kaupun dulu selalu mengatakan aku gadis manja, tapi nyatanya kau menjadikanku kekasihmu. Lalu sekarang kau mengatakan dia hanya gadis buta.  Sepertinya aku tahu kemana arah hatimu !”

 

 

JIyeon menunduk. Hanya gadis buta. Kata-kata itu benar-benar memukul hatinya. Kenapa Joon berkata seperti itu. Sepertinya oerkataan itu begitu menusuk persaannya. Gadis buta. Jiueon hanya gadis buta, tidak berdaya dan lemah. 

 

 

Malam berangsur larut. Dan Jiyeon tertidur dengan bening di sudut mata. Dia merasa ada sesuatu yang harus diperbaiki dari dirinya. Akankah dia menjadi seperti ini selamanya.  

 

 

.

.

.

 

 

Keesokkan paginya Joon dan Eunjung meninggalkan Hotel. Joon memutuskan untuk segera pergi karena kemungkinan Eunjung akan membuat banyak masalah di hotel sederhana ini, walau sebenarnya Joon masih begitu menikmati suasana yang tenang ini.

 

“Ny Park, sampaikan salamku pada Jiyi. Apakah dia sudah bangun ?” tanya Joon sesaat sebelum memasuki mobil Eunjung. Ny. Park tersenyum. 

 

“Dia masih tidur. Baiklah, nanti aku akan sampaikan padanya. Berhati-hatilah di jalan saat menyupir !”

.

.

.

 

# Lima tahun memudian,

 

 

 

Sebuah mobil memasuki sebuah halaman Galery Nam Art. Saat ini adalah musim panas, dan suasana yang hangat begitu menenangkan di pagi ini. Semua terlihat rindang dengan pepohonan yang rimbun disekitar gedung Galery. Sebagian besar cahaya matahari menerobos bangunan gedung yang berjendela kaca lebar. 

 

Joon memasuki sebuah galery lukisan. Galery ini adalah galery lukisan yang sudah lama berdiri, dan Joon sudah beberapa kali memasang lukisan di sini. Ada kurator seni , Juan Alex. Dia yang memintanya untuk menampilkan karya Joon di galery berkelas elite ini. Namun mwnurut rumor yang beredar, beberapa bulan twrakhir ini semenjak Joon melakukan perjalanan ke Australia, berkenaan dengan kegiatan mengajarnya, dia jarang berkunjung lagi ke Galery yang katanya sudah berpindah tangan kepemilikan.

 

Juan Alex , yang selama ini menjadi pemilik tunggal harus kembali ke Spanyol karena alasan prbadi. Dan Joon juga baru saja kembali dari Australia. Dia menyempatkan datang untuk mempertanyakan beberapa lukisannya yang menurut temannya, si oemilik baru ini telah menyingkirkan lukisannya. Dalam arti, lukisannya sudah masuk daftar gudang. Dan tidak layak berada di dalam Galery.

 

Langkahnya semakin gusar setiap kali sia mendapati beberapa lukisan tidak bermutu terpampang di setiap dinding yang dilewatinya. Apa maksudnya oemilik baru itu menyingkirkan lukisan berharganya, yang dia lukis dengan sepenuh jiwa. Joon menggeram. Dia merasa tidak terima dengan sikap sepihak yang di ambil oleh pemilik galery ini. 

 

“Permisi! apa kau pegawai di sini ?” tanya Joon pada salah seorang laki-laki yang sedang memeriksa beberapa bingkai lukisan di dinding.

 

Laki-laki itu menoleh. Menampakkan kesan curiga pada kehadiran Joon yang memasang raut emosi.

 

“Benar. Saya bekerja di sini. Apa Tuan ingin membeli lukisan ?” tanya laki.laki yang mungkin usianya masih sekitar duapuluh kima tahun. Dia tampan dengan wajah putih dan manis. Posturnya hampir menyamai Joon.

 

“Ani, aku ingin bertemu dengan pemiliknya. Siapa dia ?” tanya Joon langsung

 

“Pemilik galery ini masih berada di Busan. Dia masih sibuk dengan event yang diadakan di sana.Mungkin saya bisa membantu.” 

 

“Kenalkan, saya Sanghyun. Park Sanghyun.”

 

“Namaku Joon. Lee Joon. Aku hanya ingin bertemu dengannya untuk menanyakan beberapa lukisanku .” ujar Joon sambil bertolak pinggang. Laki-laki lawan bicaranya setengah merengut. Dia berpikir sedikit mengenai Joon. Dia pernah melihat Joon, beberapa waktu dulu.

 

“Apa Anda memamerkan lukisan Anda di sini ?” 

 

“Ya, dulu sewaktu Juan Alex masih menjadi pemiliknya.” 

 

“Oh begitu.” 

 

“Siapa pemilik Galery ini sekarang ?” 

 

“Anda tidak tahu ?”

 

“Aku baru saja kembali dari Australia. Aku sama sekali tidak tahu. Ada yang mengatakan kalau lukisanku dianggab tidak berharga dan disingkirkan.”

 

Joon menatap dengan tajam. Dia kesal, marah dan putus asa, karena dia tidak bisa menemui langsung pemiliknya dan menanyakan perihal lukisannya.

 

“Saya tidak tahu mengenai hal itu. Tapi saya bisa mengantarkan Anda pada putrinya. Dia sering datang ke sini. Mungkin dia tahu.” 

 

“Putrinya ?”

 

“Ya, Nona Nam .” Dia menyukai lukisan. Dia yang terkadang membuat salinan mengenai lukisan yang dipamerkan di sini, dan mengisi banyak cerita di setiap lukisan yang terpajang di dalam gakery ini.”  ujar Namja itu dengan detail.

 

“Nam ?” Joon menghela nafas.

 

“Nam Jiyeon.” 

 

Dan Joon tertegun. Sepertinya dia pernah lekat dengan nama itu. Tapi saat itu, bukanlah Nam, melainkan Park. Ya, berbeda. Park Jiyeon adalah gadis buta. Dia tidak mungkin mnjadi kurator lukisan. Dia hanya gadis biasa , sederhana dan idak mempunyai hasrat apapun tentang hidup selain selalu berada di desanya. Mungkin saat ini dia sudah menikahi guru itu dan mempunyai keluarga yang bahagia. Joon mendesah berat.  Ada bagian yang membuatnya merasa sesak ketika dia mengingat ada sesuatu yang dia rasakan tentang kelembutan Park Jiyeon saat itu. 

 

Ternyata waktu lima tahun itu berlalu begitu cepat. Namun Joon tidak melupakan sosok lembut yang telah membuatnya terpesona itu, dan karena sosok Park Jiyeon lah dia berhasil lulus dengan nilai yang baik. Lukisannya tentang gadis buta itu mendapat pujian dari dosennya. Apakah Joon terkesan memanfaat keadaan Jiyeon.

 

“Tuan! Nona Nam mungkin nanti siang akan ke sini, hari ini dia ada janji bertemu dengan seorang pelukis. Mungkin dia bersedia untuk bertemu dengan Anda.”

 

Kenapa bisa begitu? apakah nama Joon selama ini tidak diperhitungkan sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karya sungguh bagus, dan bernilai ratusan juta won. Kenapa Si Nam ini tidak mengenalnya, dan menjadikannya seolah-olah pelukis amatiran. 

 

Joon meninggalkan Galery dengan hati kesal. Dia haus bertemu dengan Nam Jiyeon. Ya, harus. Dia akan menumpahkan uneg-unegnya pada putri pemilik galery ini.

 

Ponselnya berbunyi.

 

“Hallo, Eunjung !” Joon membuka pintu mobilnya.

 

“Kau sudah menemui wali kelas putri kita, Hyomin ?” tanya Eunjung.

 

“Belum. Aku mampir ke Galery dulu.” 

 

“Cepatlah. Mungkin pertemuan orang tua murid sudah dimulai.”  gerutu Eunjung

 

“Lalu kau kenapa? Apa saja kerjaanmu sampai tidak sempat datang ke pertemuan orang tua murid. Biasanya yang datang kan para eomma. “

 

“Sudahlah jangan banyak protes.Aku sedang sibuk di kantor. Appa menyuruhku menemui client hari ini’!”  Eunjung langsung menutup ponselnya. Sementara Joon hanya mendengus. Dia berpikir tentang putri mereka Hyomin. Usianya masih empat tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak. Pernikahannya dengan Eunjung ternyata sudah berlangsung lima tahun. Sungguh waktu yang singkat. Dan sekarang dia sudah menjadi seorang Ayah dari seorang putri yang cantik. Lee Hyomin. Joon tersenyum.

 

Lalu ponselnya berbunyi lagi. Untung saja dia belum berada di jalan raya. Baru saja akan keluar dari gerbang gedung galery.

 

“Hallo, Tuan Lee !”  tanya suara yang menyapanya

 

“Ya. “

 

“Tuan saya yang tadi berbicara dengan Anda di Gedung. Sanghyun. “

 

“Ya, Sanghyun ada apa ?” 

 

“Begini Tuan Lee, katanya Nona Nam bersedia bertemu dengan Anda nanti jam dua siang di gedung ini. Setelah makan siang.”

 

“Oh baiklah. Aku akan datang nanti . ” jawab Joon. 

 

“Oke, maaf Tuan , saya sudah merepotkan.” ujar namja tersebut.

 

“Tidak apa-apa!”  Joon menutup ponselnya dan berkonsentrasi lagi di jalan.

 

 

 

 

///

 

 

 

Nam Jiyeon. Atau Park Jiyeon. Sama saja . Dia sedang berdandan di sebuah salon ternama di kawasan elite. Potongan rambutnya pendek dan indah. Perawatan yang dijalaninya selama ini membuahkan hasil yang sungguh memuaskan. 

 

“Nona Nam, Anda sangat cantik sekali !”  ujar Ailee. Dia yang menjadi kepercayaan Jiyeon selama ini. Ya sejak dia menjadi sosok tranformasi. Park Jiyeon yang dulu telah mati. Dia yang sekarang terlahir menjadi Nam Jiyeon adalah seorang putri dari pengusaha kaya Nam Wooyun. 

 

Lima tahun yang lalu, dia hanya gadis kampung, lemah dan buta. Dia hanya menjadi beban orang tuanya. Tapi sekarang, …

 

Jiyeon tersenyum dengan tatap mata memikat di depan cermin lebar itu. Warna lipstrick juga dandanan di wajahnya yang lembut, semua membuatnya seperti gadis kota dan terpelajar. 

 

“Apakah Anda ingin bertemu dengan seseorang Nona Nam ?” tanya Ailee.

 

“Ya, Ailee. Hari ini aku akan bertemu dengan seseorang. Dia harus melihatku cantik dan berbeda. “

 

“Nona, Anda sungguh sangat cantik.”  puji Ailee.

 

Ya, Jiyeon harus terlihat cantik di depan Joon. Harus. Senyumnya merekah sempurna. Dia ingin terlihat berbeda. Dan semua itu hanya untuk membuat Joon menatap ke arahnya. Apa yang akan Joon pikirkan itu adalah hal yang sungguh menjadi keingintauan Jiyeon saat ini. Apakah Joon akan mengenalinya?  Semoga tidak. Karena saat ini Jiyeon hanya berpikir untuk membuktikan pada laki-laki itu, bahwa dirinya bukan gadis lemah. Dia juga mempunyai gairah hidup untuk maju dan berkembang. 

 

 

 

tbc

 

 

a/n

 

FF ini kesimpen agak lama, aq baru menemukan mood untuk ngelanjutin yg ini. Pasti sudah lupa. Haha..ya sudahlah. ga apa-apa!  Yang masih pengen baca aja silahkan !

 

 

 

17 thoughts on “TEL HIM 3

  1. eits,jangan bilang jiyeon lom menikah,joon aja udah nikah dg eunjung punya anak pula.adakah namja lain buat jiyeon,plgi dah beda banget…

  2. Woah jd crtx udh lwt 5 thn ya.. mampus joon mltx asal ngmg tp kedengaran sm jiyi.m trs tau2 dy udh jd pria yg beristri.. klo itu myung gpp deh dy kejar jiyi lg tp krn joon mending jiyi sm sanghyun aja.. kekwwk plak..

  3. Cekaka~ magnum favoritku yg infinity.. yg belgia ada rasa pahitnya ya. tau ding kak! aku belum merhatiin rasa pahit yg terkandung dalam kepingan coklat belgia. XD hoho pendiskripsianmu ajib! yang lidah >.< *gigit bantal* ini 1 ff lu yang gak banyak kiss scenenya kayak lain. sekalinya ciuman… seluruh kata2 indah dikerahkan! wakakak~ rasanya lain, lebih indah! :D
    chanyeol muncul lagi… aku merinding kalau chanyeol terus muncul, waks~ bikin jiyeon pindah ke seoul aja jeng XD

    • Lol salah kirim komentar! salah copy paste… sorry ya lan… soalnya gua baca malem2 tapi kuotanya adanya jam segini jadi gua simpen dulu komentnya disaku. wakakak!
      ngebek2i koment,

  4. Uhuk! kenapa harus Nam Woohyun yg jadi bapaknya. walau bagaimanapun di dunia nyata aku paling merestui jiyeon dg woohyun kalau di infinite… Cekaka~
    gua mesti apa jeng…. si joon udah lu nikahin ama eunjung. yeee, jangan bilang barusan dia merasa bahagia mnjd seorang ayah. nnt di part2 selanjutnya dia jadiin jiyeon simpanan. Haduh!
    iya kok pas lu bikin scene jiyeon denger joon bilang jiyeon hny gadis buta ya jeng, feelnya kurang nyes gitu deh.. tumben! #peace
    Permainan alurnya bikin gua menantikan ff ini secepatnya :D
    gak sabar flashbacknya~ gak sabar flashbacknya~~ ulalala~~~

    • Yang ini emang kesannya agak kesusu di scene sakit hatinya jiyeon, tapi aq niatin gitu. Soalnya nanti ada flash back yg bikin agak rusuh..hahaha…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s