Blossom Tears

image

Title : Blossom Tears
Author : Chunniest
Genre : Romance
Lenght : Oneshoot
Cast :
* Leo as Jung Taekwoon (VIXX)
* Baby Soul as Lee Soo Jung (Lovelyz)
* Yoo Ji Ae (Lovelyz)

Annyeong readersdeul…. mianhae author belum bisa kirim FLTFL chapter 5 soalnya notebook author belum sembuh. Jadi author buat ini dulu ya semoga readersdeul menyukainya. Happy reading^-^

☆☆☆☆☆

Taekwoon tengah serius menggoreskan pensil di atas kertas putih membentuk gambar leher yang dihiasi kalung dengan bandul berbentuk bintang. Kacamata baca yang bertengger di hidungnya semakin menunjukkan betapa seriusnya laki-laki itu.
Krriingg…. Kriinnggg…..
Sebuah telpon menghentikan kegiatannya. Taekwoon mengangkat telpon di meja kerjanya.
“Ne?”
“Sajangnim ada seorang gadis ingin bertemu dengan anda. Dia bilang dia adalah….”
Dahi Taekwoon berkerut saat mendengar suara sekertarisnya terputus.
“Kekasihmu Oppa.”
Suara riang seorang gadis mampu membuat Taekwoon tersenyum.
“Tidak apa-apa sekertaris Han. Ijinkan dia masuk.”
“Ne sajangnim.”
Taekwoon meletakkan pensilnya dan berdiri menghampiri pintu bersiap-siap menyambut seorang gadis. Entah sejak kapan Taekwoon tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu.
“Woonie Oppa…”
Seorang gadis dengan semangat menghampiri Taekwoon dan memeluknya. Dengan senang Taekwoon membalas pelukan gadis itu dan mengelus rambut hitam panjang gadis itu.
“Jangan memanggilku seperti itu. Bagaimana jika sekertaris Han mendengarnya?”
Gadis itu melepaskan pelukannya dan tersenyum penuh arti.
“Oppa tenang saja saat ini sekertaris Han sedang asyik menonton dramanya Kim Soohyun.”
“Aiisshhh…. Bagaimana bisa sekertarisku bekerja jika kau memberikan dia tontonan seperti itu Jiae-ah.”
“Bukankah ini jam istirahat? Tentu tidak masalah bukan? Oh ya aku membuatkan makan siang untuk kita berdua. Ayo kita makan Oppa.”
Jiae menarik tangan Taekwoon menuju sofa lalu mempersiapkan bekal yang di bawanya. Taekwoon terkejut melihat banyak makanan dihadapannya.
“Benarkah kau yang membuat semua ini?”
“Tentu saja, aku kan koki Jiae.”
Taekwoon mengacak puncak kepala Jiae lalu mengambil sumpit dan mulai makan.

☆☆☆☆☆

“Jadi bagaimana? Enak bukan?” Tanya Jiae selesai makan.
“Ne. Kau membuat perutku sangat penuh.”
Jiae tertawa melihat Taekwoon kekeknyangan.
“Baguslah. Dengan begitu Oppa tidak akan sangat kurus lagi.” Ucap Jiae membereskan kotak bekalnya.
Tak ada balasan Jiae menoleh dan melihat Taekwoon terdiam bahkan matanya tidak fokus tampak sedang melamun.
“Oppa kau tidak apa-apa?”Tanya Jiae menyadarkan Jiae.
“Ne.”
Jiae berdiri dan melihat ruangan kantor Taekwoon.
“Suda sebulan kita berpacaran tapi Oppa tak pernah mengajakku kemari.”
“Ini kantor Jiae-ya. Tak mungkin aku mengajakmu kemari.”
Langkah Jiae terhenti saat melihat gambar diatas meja Taekwoon. Dia mengambilmya dan terpesona melihat kalung itu.
“Indah sekali.” Gumam Jiae.
Taekwoon terkejut melihat Jiae melihat gambarnya. Dia segera berlari menghampiri Jiae hendak merebut gambarnya kembali.
“Kembalikan Jiae-ya.”
Bukannya mengembalikan Jiae justru berlari menghindari Taekwoon.
“Sebentar Oppa aku ingin melihatnya.”
“Andwae.”
“Kalung ini indah seali Oppa. Apa kau membuatnya untukku?”
Jiae menoleh dan terkejut Taekwoon sudah dekat dengannya. Dengan kasar Taekwoon mengambil kertas itu dan tak sengaja menyenggol Jiae hingga terjatuh.
“Ini bukan untukmu dan jangan pernah menyentuhnya. Karena aku tidak akan memaafkanmu jika kau merusaknya.” Bentak Taekwoon.
Melihat Jiae tersungkur di lantai membuat Taekwoon tersadar apa yang sudah di lakukannya. Wajah Taekwoon yang marah berubah menjadi panik. Diapun berjongkok di dekat Jiae.
“Mii… Mianhae Jiae- ah… Aku…”
Taekwoon tergagap bingung bagaimana harus meminta maaf pada Jiae.
“Gwaenchana Oppa. Tidak seharusnya aku mengganggu pekerjaanmu.” Jiae berdiri tanpa memandang Taekwoon.
“Aku pergi dulu.”
Jiae membungkuk sekilas sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan Taekwoon. Taekwoon menutup mata dan menghela nafas berat menyesali apa yang dilakukannya pada Jiae. Diapun melihat bekal makanan Jiae yang tertinggal lalu tatapannya beralih pada gambar di tangannya.
“Mianhae Jiae-ah.”

☆☆☆☆☆

“Masuk saja kau tahu kata sandinya bukan?” Ucap Taekwoon di earphonenya seraya menyetir mobilnya.
“Apakah tidak apa-apa?” Tanya Jiae dengan nada takut.
Taekwoonpun memakluminya karena kejadian tempo hari membuat Jiae menjaga jarak dengannya.
“Gwaenchana. Soal kejadian tempo hari, maaf kan aku. Aku tidak sengaja melakukannya.”
“Tidak apa-apa Oppa. Aku juga yang salah karena mengganggu pekerjaanmu.”
“Kau tidak mengganggu Jiae-ah.”
“Baiklah aku akan menunggumu di apartemenmu Oppa.”
“Ne.”
Jiae memasukkan  ponselmya ke dalam tas. Dia menatap pintu dihadapannya lalu memasukkan beberapa angka sebagai kata sandinya hingga pintupun terbuka. Jiae menyalakan lampu dan membuat apartemen itu terang benderang. Jiae melepaskan sepatunya dan mengganti sandal rumah yamg dia hadiahkan pada Taekwoon. Dia meletakkan tas di sofa lalu melihat sekelilingnya.
Apartement dengan dinding bercat putih itu tampak bersih dan rapi. Terasa sangat nyaman berada di dalamnya. Langkah Jiae terhenti saat melihat sebuah foto Taekwoon bersama seorang gadis yang belum pernah Jiae lihat. Entah mengapa Jiae merasa iri melihat Taekwoon tersenyum begitu bahagia bersama gadis itu.
Jiae melanjutkan langkahnya hingga dia sampai di depan sebuah pintu. Jiae membuka pintu itu. Melihat ada meja besar komputer dan tumpukan dokumen membuat Jiae yakin itu adalah tempat kerja Taekwoon. Jiae hendak menutup pintu itu kembali namun tangan gadis itu terhenti saat melihat sebuah kotak putih kecil dengan pita biru diatasnya. Jiae tidak ingin masuk keruang kerja Taekwoon mengingat kejadian tempo hari saat untuk pertama kalinya Taekwoon marah padanya. Namun rasa ingin tahunya sangat besar melihat kotak kecil yang begitu cantik itu.
Akhirnya Jiae memutuskan masuk ke dalam ruangan itu. Dia menghampiri kotak itu dengan jantung yang berdebar seakan kotak itu berisi bom. Perlahan Jiae mengulurkan tangannya membuka kotak itu. Sebuah kalung perak dengan bandul bintang tertata rapi di dalam kotak itu. Jiaepun teringat gambar yang dilihatnya tempo hari. Kalung itu sama persia seperti yang digambar Taekwoon. Tatapan Jiae tertarik melihat secarik surat di tengahnya. Jiae mengambil surat itu, membukanya lalu membaca surat itu.  

Meskipun sudah lama berlalu tapi aku tetap tak bisa melupakanmu Soojung-ah. Apa yang harus kulakukan tanpamu. Aku masih ingat permintaanmu. Kau ingin sebuah kalung dengan bentuk bintang sebagai bandulnya. Aku sudah membuatkannya, bisakah kau kembali padaku?

“Soojung?”
Jiaepun teringat foto yang dilihatnya sebelum datang ke ruangan ini. Foto Taekwoon bersama seorang gadis.
“Apa gadis itu adalah Soojung?”
Jiae menatap kalung itu dengan tatapan iri. Ingin sekali Jiae membuang kalung itu. Dia tidak ingin Taekwoon menjadi milik orang lain. Namun kalung itu begitu indah membuat Jiae juga ingin memilikinya.
“Kenapa kau tak membuatkan kalung ini untukku Oppa?” Jiae menatap kalung itu kesal.

☆☆☆☆☆

Taekwoon melihat bingung Jiae yang hanya melamun dan memainkan mie ramen di depannya. Gadis itu terus memutar-mutar mienya tanpa berniat memakannya.
“Ada apa Jiae-ya? Apa kau masih marah soal tempo hari?” Tanya Taekwoon menyadarkan Jiae.
Jiae menggeleng lemah.
“Tidak Oppa. Tidak apa-apa.”
Jiae memaksakan senyum tipisnya.
“Benarkah?”
Jiae mengangguk. “Ne.”
“Oppa, bolehkah aku bertanya?”
“Ne. Tanyakan saja.”
“Siapa gadis yang di foto itu?”
Jiae menunjuk ke foto yang di lihatnya tadi. Taekwoon tampak terkejut mendengar pertanyaan Jiae. Dia melihat foto dirinya bersama Soojung.
“Apa dia kekasihmu?” Tanya Jiae kembali.
“Jangan salah paham dulu Jiae-ya. Kau benar dia memang kekasihku tapi itu dulu.”
“Kenapa?”
“Nde?”
“Kenapa kau berpisah dengannya?”
Taekwoon menunduk menatap mienya. Membicarakan Soojung mengurangi selera makannya.
“Soojung mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu. Dia tak dapat bertahan.”
Dibawah meja Jiae mengepalkan tangannya. Akan lebih mudah bagi Jiae untuk membenci gadis itu jika mengetahui Soojung masih hidup lalu meninggalkan Taekwoon namun laki-laki itu masih terus mengharapkannya. Mendengar Soojung sudah meninggal dan Taekwoon masih mengharapkan gadis itu membuat amarah Jiae tak dapat keluar.
“Apa Oppa masih menyukainya?” Taekwoon mendongak menatap Jiae. Laki-laki itu memaksakan senyuman dan menggeleng.
“Tidak. Aku… Aku sudah melupakannya.”
“Benarkah? Lalu kenapa kau membuatkan dia kalung bintang itu?”
Mata Taekwoon melebar mendengar Jiae mengetahui kalung bintang itu.
“Aku… Kalung itu….”
Sebuah senyuman tipis menghentikan ucapan Taekwoon yang tergagap.
“Aku sudah menduganya Oppa sangat menyukai gadis itu hingga masih mengingatnya.”
“Jiae-ya.”
“Mianhae Oppa….. Tapi aku sudah membuang kalung itu keluar jendela.”
“MWO?”
Wajah Taekwoon tampak marah.
BRRRAKKK….
Dengan keras Taekwoon menggebrak meja membuat Jiae terlonjak kaget. Wajah Jiae begitu ketakutan melihat kemarahan Taekwoon.
“APA KAU GILA HUH? Jika sampai kalung itu hilang aku tidak akan memaafkanmu.” Ucap Taekwoon berlari keluar apartement meninggalkan Jiae yang mulai menangis.

☆☆☆☆☆

Taekwoon berlari menuruni tangga seperti orang gila hingga akhirnya laki-laki itu sampai di lantai satu. Dia keluar gedung apartement tak memperdulikan angin dingin yang menerpa kemeja tipisnya itu. Dia mencari jalanan sekitar gedung apartementnya mencari kalung itu. Semua orang yang melewatinya selalu melayangkan tatapan aneh pada Taekwoon. Laki-laki itu tak memperdulikan dan terus mencari kalung itu.
“Dimana kalung itu.”
Taekwoon mengacak rambutnya frustasi tak kunjung menemukan kalung itu. Tiba-tiba ponsel Taekwoon berbunyi, diapun mengambil ponsel itu dan langsung mengangkatnya tanpa melihat nama sang penelpon.
“Ne?”
Hening sesaat tak terdengar suara apapun.
“Aku… Berbohong Oppa.”
Taekwoon terdiam mendengar suara Jiae bergetar.
“Aku tidak membuang kalung itu. Aku hanya ingin melihat reaksimu Oppa. Ternyata gadis itu lebih berharga dariku. Selama ini aku senang kita bisa bersama Oppa. Kupikir jika aku selalu berada di dekat Oppa, kau akan menyukaiku tapi ternyata dugaanku salah. Aku terlalu naif. Aku sadar aku bukanlah seseorang sepesial untukmu Oppa. Soojung….”
Terdengar Jiae berusaha menguatkan diri.
“Gadis itu pasti sangat bahagia bisa memiliki seseorang yang sangat mencintainya sepertimu Oppa. Selamat tinggal.”
“Jiae-ya.” Panggil Taekwoon namun gadis itu sudah memutuskan telpon itu.
Taekwoon berlari kembali ke dalam apartementnya. Butuh beberapa menit bagi Taekwoon menaiki tangga hingga lantai 10. Dia segera berlari ke arah apartementnya. Dia membuka pintu namun Taekwoon tak melihat Jiae berada di meja makan. Tatapannyapun beralih pada kotak putih yang berada di atas meja makan. Taekwoon membuka kotak itu dan kalung bintang itu masih tetap ada di tempatnya. Dia mengambil surat di tengah katlung itu.

Mianhae Oppa aku sudah membohongimu. Melihat reaksimu aku jadi iri pada gadis bernama Soojung itu. Oppa bahkan membuat benda yang indah ini untuknya. Aku jadi berpikir apakah Oppa mencintaiku? Selama ini aku tak pernah mendengar kata itu dari mulutmu Oppa. Aku selalu berharap Oppa akan mengatakannya. Tapi sekarang aku mengerti sejak awal Oppa hanya mengikuti kemauanku bukan kemauan hati Oppa. Sekarang aku tidak akan memaksamu lagi Oppa. Selamat tinggal.

Yoo Jiae

Taekwoon meletakkan kotak itu ke meja dengan asal lalu segera berlari keluar.

☆☆☆☆☆

Jiae duduk di halte yang sepi. Baru saja bus berhenti dan semua penumpang naik namun Jiae tak ada niat untuk pergi kemanapun. Kepalanya tertunduk tak lagi menangis. Air matanya seakan sudah habis dikeluarkannya. Dia hanya menatap sepatunya dan berpikir betapa bodohnya dia selama ini.

Tiba-tiba ponselnya bergetar dan Jiaepun mengeluarkannya dari dalam tas. Dilihatnya nama Taekwoon muncul di layar ponselnya dengan nama “My Woonie”. Jiae terus menatap ponsel itu tanpa mengangkatnya. Dia tidak ingin mendengar suara Taekwoon lagi karena dia tak ingin hatinya goyah dan kembali bersikap naif dan egois ingin memiliki Taekwoon. Jiaepun teringat saat dirinya meminta Taekwoon menjadi kekasihnya.

~~~FLASHBACK~~~

“Kau harus jadi kekasihku Oppa.” Pinta Jiae dengan manja.
“Shirreo.” Ucap Taekwoon tanpa mengalihkan pekerjaannya.
“Wae? Apa aku kurang cantik? Baiklah aku akan melakukan operasi plastik untuk mempercantik diriku.”
Taekwoon mendongak dan menghela nafas karena harus kembali menghadapi si manja Jiae.
“Tidak perlu bagiku kau sudah cantik.”
Kedua pipi Jiae merona merah mendengar pujian Taekwoon.
“Benarkah?”
“Ne.”
“Tapi kenapa Oppa tak mau menjadi kekasihku?”
“Jiae-ya. Aku memilih kekasih bukan dari cantik atau tidaknya. Tapi itu masalah perasaan menyukai atau tidak. Aku sudah menganggapmu seperti adikku. Sangat sulit melihatmu sebagai wanita.”
“Beri aku kesempatan Oppa. Aku pasti akan membuat Oppa melihatku menjadi wanita dan membuat Oppa menyukaiku.”
Taekwoon menghela nafas melihat Jiae seakan tak mengerti ucapannya.
“Ayolah Oppa. Kalau Oppa tidak mau, aku pasti akan menangis dihadapan appa.”
Seketika mata Taekwoon melebar mendengat ucapan Jiae. Taekwoon kenal betul siapa ayah Jiae. Dia bukanlah orang biasa, ayah Jiae adalah pemegang saham tertinggi di perusahaannya. Jika Jiae mengadu pada ayahnya, dengan mudah ayah Jiae mencabut sahamnya dan membuat perusahaannya menjadi rugi besar.
“YA!!! Apa kau mengancamku?”
Jiae hanya menyeringai tanpa dosa. Diapun mengedip-ngedipkan matanya seakan mengatakan pada Taekwoon  untuk mempertimbangkan permintaannya.
“Aaiishhh … Baiklah. Aku akan menjadi kekasihmu tuan putri.” Dengan senang Jiae langsung memeluk Taekwoon.  

~~~FLASHBACK END~~~

Getaran ponsel menyadarkan Jiae. Dia kembali melihat nama Taekwoon di layar ponselnya. Jiaepun langsung mematikan ponsel tak ingin Taekwoon kembali menghubunginya. Saat Jiae kembali menatap sepatunya dia melihat sepasang kaki dengan sepatu hitam berhenti tepat disamping Jiae.
“Akhirnya aku menemukanmu.”
Jiae mendongak dan mendapati Taekwooon berdiri di hadapannya.
“Oppa… ”
Jiae berdiri dan menatap Taekwoon tak percaya melihat laki-laki itu mencarinya.
“Oppa mencariku?”
“Tentu saja aku mencarimu. Jangan pergi Jiae-ah. Aku akan melupakan Soojung dan kita bisa memulai lembaran baru. Aku akan memperbaiki kesalahan. Jadi maukah kau tetap berada disampingku?”
Jiae sangat senang mendengar ucapan Taekwoon tapi gadis itupun teringat alasan laki-laki itu menerima dirinya sebagai kekasih.
“Jika Oppa melakukan semua ini karena ancamanku, tidak perlu khawatir Oppa, aku tidak akan mengatakannya pada appa. Jadi aku tidak akan mengganggu Oppa. Selamat tinggal.”
Jiae melepaskan genggaman Tarkwoon dan meninggalkan Taekwoon. Sedangkan Taekwoon masih berdiam diri di tempat mencerna ucapan Jiae. Diapun teringat pertama kali mereka menjadi sepasang kekasih. Dan Taekwoonpun teringat ancaman yang dimaksud Jiae. Taekwoon berbalik dan melihat Jiae menyebrang jalan.
“Jiae-ah.” Panggil Taekwoon menghentikan langkah gadis itu.
Jiae berbalik menatap Taekwoon. Tanpa gadis itu sadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Taekwoon melihat mobil itu dan segera berlari ke arah Jiae. Melihat lampu mobil yang terang menyadarkan Jiae. Kaki Jiae seakan tak bisa bergerak melihat mobil itu akan menbaraknya.
“Jiae-ya…” Panggil Taekwoon.
BBRRAAKKK…..
Suara tabrakan keras menarik perhatian semua orang. Taekwoon yang terlambat menolong Jiae mematung di tempat melihat Jiae yang tergeletak di jalan tak sadarkan diri. Darah mengalir dari kepala dan kakinya membuat jalanan menjadi merah. Dengan langkah berat Taewoon menghampiri Jiae. Kejadian ini sama dengan kejadian masa lalu yang menimpa Soojung. Laki-laki itu seakan dibawa ke masa lalu saat melihat Soojung tergeletak tak sadarkan diri seperti Jiae.
Taekwoon berlutut di samping Jiae. Dia mengangkat kepala Jiae yang tidak sadarkan diri.
“Jiae-ah” Panggil Taekwoon lirih namun Jiae tak merespon.
Taekwoon mengguncangkan tubuh Jiae dan kembali memanggil nama Jiae namun gadis itu tak kunjung bangun dan menyapa Taekwoon dengan ceria seperti biasanya. Airmata Taekwoonpun terjatuh. Laki-laki itu begitu menyesal dengan apa yang dia perbuat. Dia tak ingin Jiae meninggalkannya seperti Soojung.
“Bangun Jiae-ah… Jangan tinggalkan aku…. Bangunlah.. Buka matamu. Ini aku Jiae-ah…” Taekwoon terus berbicara pada Jiae berusaha membangunkan gadis itu.

☆☆☆☆☆

Taekwoon meletakkan sebuket bunga diatas kuburan. Dia tersenyum melihat sebuah foto gadis yang tersenyum manis di tengah nisan. Taekwoon mengulurkan tangan menyentuh foto itu.
“Hai… Sojung-ah. Bagaimana kabarmu? Kau pasti sudah tenang bukan? Aku kemari ingin mengucapkan selamat tinggal yang belum pernah aku ucapkan padamu. Ini terakhir kali aku akan menjengukmu. Aku akan memulai hidup baru bersama Jiae. Jadi kuharap kau tenang disana.”
Taekwoon meletakan sebuah kotak disamping buket bunga.
“Ini adalah hadiah terakhir untukmu. Aku tak pernah menyesal mengenalmu Soojung-ah. Selamat tinggal Soojung-ah.”
Taekwoon berdiri dan membungkuk di depan makam itu lalu melangkah pergi. Laki-laki itu terus melangkah hingga terhenti saat melihat seorang gadis menunggunya di bawah pohon. Gadis itu duduk di kursi roda dan tampak jelas gadis itu sedang merasa bosan. Kecelakaan satu bulan yang lalu menyebabkan kaki Jiae lumpuh. Awalnya Jiae sangat terpukul mendengar dirinya tak bisa berjalan kembali. Namun hal itu tak membuat Taekwoon meninggalkan gadis itu karena sejak saat itu Jiae sudah merebut hati Taekwoon dan laki-laki itupun berjanji akan menjaga Jiae selamanya.
“Apa kau sudah lama menunggu tuan putri?”
Jiae mendongak dan tersenyum manis melihat Taekwoon sudah berada di sampingnya.
“Ne. Kenapa Oppa tak mengijinkanku ikut menemui makam Soojung?”
Taekwoon mendorong kursi roda Jiae menuju mobil.
“Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan jadi kupikir kau tak perlu mendengarnya.”
“Wae? Apa Oppa mengtakan hal yang tidak-tidak di makam Soojung?” Tawa Taekwoonpun pecah mendengar Jiae terlihat cemburu.
“Tentu saja tidak. Oh ya.” Taekwoon menghentikan langkahnya begitu pula kursi roda Jiae.
“Ada apa Oppa?”
“Aku punya sesuatu untukmu.”
Taekwoon mengeluarkan sebuah benda dari sakunya lalu memasangkan kalung itu di leher Jiae. Melihat kalung putih dengan bandul bulan yang tampak berkilau membuat Jiae senang.
“Bulan?” Tanya Jiae.
Taekwoon berjalan menghadap Jiae dan berlutut di depan gadis itu.
“Aku memilih bulan karena bulan bisa memancarkan cahayanya sendiri. Seperti kau yang sudah memancar cahayamu sendiri dan menerangi hatiku.”
Mulut Jiae terbuka terpana mendengar ucapan Taekwoon.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Taekwoon tersenyum geli melihat ekspresi Jiae.
“Ini pertama kalinya Oppa mengatakan hal-hal yang manis padaku. Gomawo Oppa.”
Jiae memeluk Taekwoon dan laki-laki itupun membalas pelukan gadis itu.
“Saranghae.” Ucap Taekwoon lirih.
Jiae melepaskan pelukannya dan menatap Taekwoon tak percaya.
“Oppa mengatakan apa tadi?”
Terlihat rona merah menghiasi pipi Taekwoon membuat Jiae tersenyum geli.
“Tidak aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Aiishhh… Oppa bohong, tadi aku mendengarnya.”
“Mungkin hanya angin. Ayo kita segera pulang sebelum kita terpanggang di sini.”
Taekwoon segera berlari kebelakang Jiae dan mendorong kursi roda Jiae berusaha nenghindari pertanyaan gadis itu.
“Aaiishhh.. Oppa coba kalatakan lagi aku ingin mendengarnya dengan jelas.”
“Aaaiishh… Dasar keras kepala. Sudah kubilang aku tidak mengatakan apapun.” Jiae tampak cemberut sedangkan Taekwoon tersenyum geli melihat kekasihnya tampak lucu.
Tanpa mereka sadari Soojung melihat mereka dari balik pohon. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman senang melihat Taekwoon tampak bahagia. Tubuhnya yang transparan semakin lama semakin menghilang terbawa angin.

☆☆☆☆☆

I loved you, I cared for you, that’s it (Don’t say that)
I loved you but now
I hate you, that’s the one reason
You think I don’t know you?
You’re lying right now
You still love me, you’re still the same
I was lonely every day
From protecting you
I’m sorry for the painful times
I won’t lose you again
Come into my arms now
I love you, I love you, that’s it
Even if my blackened and burned a heart explodes
I’ll stay here now
Because I have so much to do for you
Because there’s so much
I owe you
Because
I’m so thankful Let’s not grow apart

~~~THE END~~~

4 thoughts on “Blossom Tears

  1. hoho a nice fict ! Jiae were so cute to be his girlfriend…XD

    eumm… thor, kapan ff FLTFLnya dilanjutin yah ? rindu sama tuh ff…

    keep writing !
    fighting !

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s