(Chapter 5) Find Love To Fond Life ( F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

Title  : Find Love to Find Life Chapter 5

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Son Naeun (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

* Son Naeun / Han Yeonmi (A-Pink)

* Cho Seongha as King Jeongjo

Mianhae readersdeul karena lama sekali belum posting ff ini. Karena banyak readersdeul yang menanyakan ff ini akhirnya author pinjem laptop temen dulu.

Mianhae jika banyak typo karena ini harus diedit kilat.

Jangan lupa meninggalkan komentar ya!!!!!

Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

 

Jungkook memandang tak percaya gadis yang terbaring di tempat tidur. Wajah Jungkook semakin pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya.

Tidak mungkin…. Tidak mungkin dia masih hidup… Aku sudah membunuhnya. Teriak Jungkook dalam hatinya.

Wajah gadis itu begitu mirip dengan Naeun bahkan tak ada satupun perbedaan di wajah mereka.

“Bagaimana Jungkook-ah?” Tanya Yoon namun Jungkook tak bereaksi sedikitpun.

Yoon menepuk bahu Jungkook.

“Jungkook-ah.” Panggil Yoon kembali hingga Jungkook tersadar.

“Dia… Dia hanya pingsan saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Ucap Jungkook tanpa berani memandang Yoon.

Jungkook membereskan peralatannya dan berdiri meninggalkan gadis itu. Jungkook bisa melihat Yoon tak kunjung melepaskan tatapannya dari gadis itu. Jungkook tahu apa yang laki-laki itu pikirkan.

“Apakah kau berpikir dia adalah Naeun?” Tanya Jungkook.

“Entahlah. Tapi wajahnya mirip sekali dengan Naeun. Bagaimana denganmu?” Tanya Yoon menatap Jungkook.

“Aku rasa gadis itu bukanlah Naeun. Hanya wajahnya saja yang kebetulan mirip. Jangan mudah percaya pada siapapun Yoon, siapapun bisa saja menjadi pedang yang bisa menusukmu kapan saja.” Jungkook berkata lalu beranjak pergi meninggalkan kamar itu.

Yoon mendekati gadis yang belum sadarkan diri itu. Yoon duduk disamping gadis itu. Matanya tak lepas menatap gadis itu. Tangan Yoon terulur membelai pipi gadis itu yang terasa lembut meskipun masih dingin.

“Apakah kau Naeun?” Gumam Yoon Terus menatap gadis itu.

Tokk… Took…. Tokk…

Terdengar ketukan pintu diikuti suara pintu terbuka. Yoon menoleh dan melihat Hyunji berjalan masuk. Melihat Hyunji, Yoon teringat apa yang hendak dia katakana sebelum akhirnya menolong gadis bernama Naeun. Bukanlah saat yang tepat jika Yoon harus mengatakannya sekarang. Gadis yang ditolongnya membuat perasaan Yoon kembali ke masa lalu dimana dia sangat mencintai Naeun.

“Ba-bagaimana keadaannya?” Tanya Hyunji ragu-ragu.

“Dia hanya pingsan.” Ucap Yoon kembali menatap gadis yang tak sadarkan diri.

Ada perasaan sakit menusuk hati Hyunji saat melihat Yoon tak henti-hentinya menatap gadis yang mirip dengan Naeun itu. Diikuti perasaan menyesal karena dirinya sudah membuat Yoon menolong gadis yang mirip dengan kekasihnya dulu.

“Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam Yoon.” Hyunji semakin sedih saat Yoon tak memperhatikannya.

Dengan lesu Hyunji berjalan dengan tatapan kosong. Gadis itu merasa menyesal karena sudah berbuat baik membiarkan Yoon menolong gadis itu. Semuanya menjadi rumit bagi Hyunji. Disaat hatinya terbuka untuk Yoon tapi sekarang justru Yoon yang menutup diri karena gadis itu. Hyunji menghela nafas dan mulai memperhatikan jalanan. Langkahnya terhenti saat melihat Bomi berjalan dengan ekspresi marah. Matanya yang tajam seakan siap membunuh Hyunji.

PLAAKKK…..

Hyunji merasakan pipinya berdenyut panas merasakan tamparan yang keras dari Bomi.

“Apa kau bodoh sampai mau menolong gadis itu HUH? Kau lihat gara-gara kau ingin berbuat baik, masalah jadi semakin runyam.” Marah Bomi.

Hyunji memegang pipinya yang masih berdenyut kesakitan. Hyunji menatap Bomi dengan tatapan kosong.

“Jika aku tahu akan seperti ini aku tidak akan menolongnya.”

Bomi menatap Hyunji penuh kebencian.

“Kau tahu aku semakin membencimu.”

Melihat Bomi melayangkan tangannya, Hyunji menutup mata siap menerima tamparan yang keras.

“Hentikan Bomi.” Hyunji membuka matanya saat mendengar suara seseorang.

Hyunji melihat Jungkook menahan tangan Bomi yang siap menampar Hyunji. Bomi melayangkan tatapan kesal pada Jungkook.

“Ini bukan kesalahan Hyunji jadi jangan menyakitinya.”

Dengan kasar Bomi menepis tangan Jungkook.

“Jadi sekarang kau berpihak padanya?” Bomi mendengus tak percaya.

Dia kembali menatap Hyunji kesal lalu beranjak pergi. Mata Hyunji mengikuti kepergian Bomi lalu tatapannya beralih pada Jungkook. Jungkook tersenyum pada Hyunji dan megulurkan tangannya membelai bekas kemerahan di pipi Hyunji akibat tamparan Bomi.

“Bomi bisa mengerikan jika sedang marah. Apa kau tidak apa-apa?”

Hyunji menggeleng seraya melepaskan tangan Jungkook di pipinya.

“Aku tidak apa-apa. Terimakasih Jungkook-ah.” Jawab Hyunji lemah.

“Bolehkah aku mengantarmu sampai di kamarmu?” Tanya Jungkook dan dijawab anggukan lemah Hyunji.

Merekapun berjalan berdampingan menyusuri jalanan istana yang di terangi lilin-lilin. Tanpa Hyunji sadari gadis itu terbawa pikirannya yang masih memikirkan perubahan sikap Yoon. Gadis itu ingin mengulangi waktu dan tak mengijinkan Yoon menolong gadis itu.

“Kau gadis yang baik Hyunji.” Ucap Jungkook menyadarkan Hyunji.

“Nde?” Hyunji terlihat bingung karena tak mendengarkan ucapan Jungkook dengan jelas.

“Kau gadis yang baik karena sudah menolong gadis yang akan menjadi sainganmu.”

Hyunji tersenyum pahit mendengar ucapan Jungkook.

“Aku tidak sebaik itu Jungkook-ah. Bahkan saat ini aku sudah menyesal karena menolong gadis itu.”

“Apa kau menyukai Yoon?” Hyunji terkejut mendengar pertanyaan Jungkook.

“Nde? A-Aniyo.. Aku.. Aku..”

Hyunji kembali terkejut saat Jungkook menariknya ke dalam pelukannya.

“Aku terlalu pintar untuk kau bohongi Hyunji. Aku tahu kau menyukai Yoon.”

Hyunji begitu terkejut mengetahui perasaannya begitu transparan hingga Jungkook mengetahuinya. Hyunji melepaskan pelukan Jungkook dan tersenyum tipis.

“Apa kau berpikir gadis itu adalah Naeun Jungkook-ah? Bukankah kau sudah lama berada di sini kau pasti mengenal Naeun.”

Wajah Jungkook terlihat pucat saat Hyunji menyebutkan nama Naeun. Lidah Jungkook seakan kelu menjawab pertanyaan Hyunji. Pembicaraan soal Naeun seakan tabu bagi laki-laki itu.

“Jungkook-ah… Kau tidak apa-apa?” Cemas Hyunji.

“Ne.. Aku .. Aku tidak apa-apa. Soal gadis itu… Aku tidak yakin dia adalah Naeun. Sudah jangan dipikirkan. Istiahatlah hari sudah malam. Aku harus kembali ke kamarku.”

“Ne. Terimakasih Jungkook-ah.”

Jungkook tersenyum sebelum meninggalkan gadis itu.

*   *   *   *   *

Namjoon mengetuk pintu ruangan J-hope lalu membuka pintu itu. Terlihat J-hope sedang memainkan pedang koleksinya.

“Apa tugasmu berhasil?” Tanya J-hope tanpa menatap Namjoon.

“Benar yang mulia, sesuai perintah anda aku sudah mengirim gadis itu menuju kerajaan air dan sekarang gadis itu sudah berada di sana.”

Tawa senang J-hope terdengar memenuhi ruangan itu sedangkan Namjoon tetap diam di tempatnya.

“Kerja bagus, kali ini kau tak mengecewakanku Namjoon. Dan sekarang tugasmu adalah mengawasi Naeun terus. Jangan biarkan seseorang menyakitinya.”

“Baik yang mulia.”

“Baguslah. Kerjakan tugasmu sekarang jangan membuatku kecewa.” Namjoon membungkuk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan J-hope.

J-hope meletakkan pedangnya. Dengan kedua tangan yang bertaut J-hope menyandarkan kepalanya. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang mengerikan.

“Kau akan menjadi milikku Suga.” Ucapnya dengan penuh kepuasan.

*   *   *   *   *

“Ngghhh….” Lenguh seorang gadis yang mulai terbangun.

“Kau sudah sadar?” Tanya Suga yang berdiri di samping tempat tidur gadis itu.

Gadis itu menoleh dan melayangkan senyuman yang membuat tubuh Suga mematung. Senyuman itu begitu mirip dengan Naeun.

tumblr_mtgmig8aLQ1qkgv6do1_500

“Apa kau dewa air?” Tanya gadis itu seraya bangkit dari tidurnya.

“Ne. Aku Suga sang dewa air. Siapa namamu?”

“Han Yeonmi.”

“Yeonmi?” Suga terlihat kaget mendengar gadis itu bukan Naeun.

“Apa ada yang salah dengan namaku?” Bingung Yeonmi.

“Tidak. Tidak ada. Apa kau kemari diutus desamu agar aku menurunkan hujan di desamu?”

Yeonmi mengangguk. “Benar yang mulia. Jika yang mulia berkenan tolong turunkan hujan di desa saya. Desa Danchon sudah mengalami kekeringan selama berbulan-bulan. Hamba mohon yang mulia.” Ucap Yeonmi berlutut di hadapan Suga.

“Berdirlah Yeonmi. Kau tenang saja aku akan menurunkan hujan di desamu.”

Yeonmi berdiri dan tersenyum senang.

“Terimakasih yang mulia. Anda sangat baik.”

“Ne. Berhentilah memanggilku yang mulia. Panggil saja aku Suga.”

“Ne Suga.”

“Aku akan kembali ke ruanganku jika kau membutuhkanku.”

“Ne. Terimakasih Suga.”

Yeonmi melihat Suga berjalan keluar ruangan. Pintu tertutup membuat Yeonmi tak lagi bisa melihat Suga.

“Apa kau berhasil mengkelabuhinya?” Tanya suara yang di kenal Yeonmi.

Yeonmi bisa merasakan orang itu berdiri di samping tempat tidur Yeonmi.

“Ne. Suga percaya aku adalah Yeonmi. Apa J yang mengirimmu kemari?”

“Ne. Yang mulia yang mengirimku ke mari. Kau tak perlu takut karena aku akan mengawasimu. Yang mulia tak akan membiarkan kau dilukai kembali.”

“Terimakasih Namjoon.” Yeonmi bisa merasakan Namjoon menghilang dari kamarnya.

*   *   *   *   *

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan berkeliling istana? Sudah lama aku tidak berkeliling istana ini?” Usul Hayoung yang berjalan bersama Jimin dan Hyunji.

“Ide bagus Hayoung-ah. Bagaimana menurutmu Hyunji?” Tanya Jimin namun tak ada jawaban dari Hyunji.

Jimin meyikut Hayoung dan menunjuk ke arah Hyunji yang berjalan sambil melamun. Wajah Hyunji terlihat sedih membuat Hayoung dan Jimin khawatir. Langkah Hayoung terhenti saat melihat Suga berjalan bersama gadis yang mirip dengan Naeun.

“Suga?” Guman Hayoung sukses mencuri perhatian Hyunji.

Hyunji yang hendak tersenyum pada Suga mengurungkan niatnya saat melihat gadis yang ditolong Yoon berjalan di samping Suga. Suga terus berjalan melewati Hyunji tanpa menoleh pada gadis itu. Hyunji menunduk sedih mendapati sikap Suga sama dinginnya dengan Yoon. Merasakan tatapan tajam mengarah padanya, Hyunji segera berbalik. Hyunji bisa melihat gadis yang mirip dengan Naeun itu menatapnya tajam sebelum akhirnya berjalan mengikuti Suga kembali.

“Gadis itu mirip sekali dengan Naeun.” Gumam Hayoung.

“Tapi dia bukan Naeun. Dari kabar yang kudengar nama gadis itu Yeonmi. Dia sama dengan Hyunji, dipersembahkan pada Suga untuk menyelamatkan desanya.” Jelas Jimin.

Hayoung melirik ke arah Hyunji yang tengah menunduk sedih.

“Hyunji-ah?” Hayoung menepuk bahu Hyunji pelan.

Hyunji mendongak dan memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

“Aku akan berjalan-jalan sebentar Hayoung-ah.”

“Apa perlu kutemani?”

Hyunji menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku hanya ingin sendiri.”

Hyunji berbalik meninggalkan Hayoung dan Jimin.

“Kasihan Hyunji. Kenapa Suga bersikap dingin pada Hyunji? Padahalkan Hyunji yang menolong gadis itu.” Kesal Hayoung.

Hayoung merasakan tangan Jimin merangkul bahunya. Mereka sama-sama melihat ke arah Hyunji yang pergi menjauh.

“Kita tidak bisa mencampuri urusan mereka Hayoung-ah, kita hanya bisa menjadi penonton.”

“Kau benar Oppa.”

“Bagaimana kalau kita kembali ke taman?”

Hayoung mengangguk dan mengikuti Jimin.

Hyunji yang sudah berjalan jauh tak menyadari ke mana langkah kakinya membawa dirinya. Pikiran gadis itu penuh dengan ingatan tentang Yoon dan Suga. Namun ingatan itu dirusak oleh kehadiran seorang gadis. Tangan Hyunji terkepal saat gadis menyesali keputusannya.

BRUUKK….

Tubuh Hyunji terhuyung ke belakang saat menabrak seseorang. Hyunji merasakan seseorang menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh. Hyunji terkejut melihat wajah Jin begitu dekat dengannya.

“Jin.” Kaget Hyunji.

Jin membantu Hyunji berdiri kembali.

“Sangat berbahaya berjalan tanpa melihat jalan nona.”

“Terimakasih.” Hyunji tersenyum tipis lalu kembali berjalan meninggalkan Jin. Langkah Hyunji tertahan saat merasakan lengannya ditarik oleh Jin.

“Apa kau baik-baik saja nona Hyunji?”

“Ne. Aku baik-baik saja Jin.”

“Tapi wajahmu menunjukkan kau sedang tidak baik nona. Apa karena gadis yang baru datang itu?”

Hyunji menggeleng. “Aku tidak apa-apa Jin.”

“Ikutlah denganku nona aku ingin menunjukkan sesuatu pada nona.”

Hyunjipun mengikuti Jin saat laki-laki itu menariknya. Mereka berjalan melewati padang rumput hijau. Mata Hyunji melotot kaget saat melihat seekor burung raksasa berdiri di tengah padang rumput. Bulu-bulu yang berwarna orange kemerahan terang tampak begitu indah.

wwa

“Cantik sekali.” Gumam Hyunji tanpa sadar.

Jin tersenyum melihat Hyunji begitu kagum dengan hewan miliknya.

“Ini adalah Jujak, dia tidak berbahaya, apa nona mau menyentuhnya?” Tanya Jin dan Hyunji mengangguk penuh semangat.

Jin menuntun tangan Hyunji menyentuh bulu Jujak. Hyunji tersenyum saat merasakan bulu-bulu halus di telapak tangannya. Namun moment itu terganggu saat kepala Jujak itu mendekati Hyunji membuat gadis itu terlonjak kaget.

“Tidak apa-apa dia hanya ingin nona menyentuh kepalanya. Cobalah.” Jin bisa melihat ketakutan di wajah gadis itu.

“Percayalah padaku. Bukankah aku akan selalu melindungi nona?” Ucap Jin meyakinkan gadis itu.

Hyunji mulai mengulurkan tangannya takut-takut. Kepala Jujak itu semakin mendekati tangan Hyunji seakan tak sabar. Tangan Hyunji mulai menyentuh kepala Jujak yang juga terasa lembut di telapak tangan Hyunji. Gadis itu semakin berani tatkala melihat Jujak menutup matanya menikmati belaian Hyunji.

“Apa nona mau menaikinya?” Hyunji tampak terkejut dengan pertanyaan Jin.

“Apa tidak masalah jika kita menaikinya?”

“Tentu saja tidak. Aku sering menaikkinya. Apa nona mau mencobanya?” Hyunji mengangguk penuh semangat.

Jin menyuruh Jujak merendahkan tubuhnya. Laki-laki itu membantu Hyunji menaiki pundak Jujak lalu Jin sendiri duduk di belakang Hyunji. Jin bersiul dan terdengar burung Jujak berteriak lalu mengepakan sayapnya. Hyunji begitu takjub merasakan tubuhnya semakin jauh dengan tanah. Dengan cepat Burung Jujak itu terbang meninggalkan istana Air.

*   *   *   *   *

Suga berjalan di samping Yeonmi yang tengah mengagumi istana air. Ekspresi Yeonmi sama persis dengan Naeun saat Naeun pertama kali datang di Kerajaan Air. Suga ingin sekali memperhatikan Yeonmi sepenuhnya namun pikirannya selalu kembali pada wajah sedih Hyunji.

Tatapan kosong dan wajah sedih Hyunji yang tak menunjukkan senyuman sama sekali. Hal itu membuat perasaan Suga bercampur aduk. Ingin sekali Suga bercanda dengan gadis itu seperti yang dilakukannya tempo hari. Namun Suga tidak bias begitu saja melepaskan gadis yang mirip dengan Naeun. Gadis yang menggnggah kenangan masa lalu Suga.

“Suga…” Panggil Yeonmi menyadarkan lamunan Suga.

“Nde?”

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada Yeonmi-ah.”

“Apa kau tidak suka berjalan-jalan denganku?”

“Tidak. Tentu saja aku menikmati suasana ini. Hanya saja hari ini  sangat panas membuat tubuhku merasa lemas.”

“Apa kau mau aku mengantarmu ke kamar Suga?”

“Tidak Yeonmi-ah. Aku akan menemui Jungkook, tabib istana ini. Mianhae aku tidak bisa mengantarmu berjalan-jalan.”

“Tidak apa-apa Suga, kita bisa berjalan-jalan di lain hari.”

Yeonmi menatap Suga yang berjalan pergi. Tatapan Yeonmi tampak sedang kesal.

“Kau terlihat tak senang sama sekali?” Yeonmi mendengar suara Namjoon di belakangnya.

“Bukankah J bilang aku adalah bagian penting dari Suga, tapi laki-laki itu sepertinya sedang memkirkan gadis yang tadi..”

“Kurasa kau tidak pintar dalam hal merayu Naeun-ah.”

Yeonmi berbalik dan melayangkan tatapan tajamnya pada Namjoon yang tersenyum sinis padanya.

“Kau meremehkan kemampuanku?”

Namjoon mengangkat kedua bahunya.

“Berusahalah jika tak ingin mengecewakan Yang mulia.” Ucap Namjoon meninggalkan Yeonmi yang terlihat kesal.

*   *   *   *   *

Petikan harpa terdengar indah dari kamar Bomi. Mata Bomi terpejam merasakan melody merdu yang dihasilkan jemari lentiknya. Tali-tali tipis itu bergetar sesuai keinginan Bomi. Bomi yang memeluk harpa putihnya tengah menghayati melodi yang di mainkannya.

Melodi itu terhenti tepat saat tangan Bomi tak bergerak sama sekali. Mata gadis itu terpejam dan tampak air mata mengumpul di mata gadis itu.

“Melodi yang indah.” Bomi menoleh dan melihat V duduk di jendelanya.

“Untuk apa kau kemari? Bukankah seharusnya kau kembali ke asalmu?” Ketus Bomi mengembalikan harpa itu ke tempatnya.

V mengamati gerak-gerik Bomi dan tersenyum pahit mengetahui kenyataan Bomi tak kunjung memaafkannya.

“Apa melodi itu memperlihatkan perasaanmu? Sedih dan terdengar menyayat hati. Kau tidak berubah Bomi. Aku merindukan Bomi yang selalu menceritakan seluruh perasaannya padaku.”

Bomi menoleh membuat tatapan mereka bertemu. Perasaan Bomi kacau melihat V menatapnya lembut seperti yang dulu laki-laki itu biasa lakukan. Bomi kembali membuang mukanya tak ingin terpengaruh lelaki itu.

“Bomi yang dulu sudah menghilang semenjak kau tak ingin membantuku.”

V terlihat kecewa mendengar ucapan Bomi.

“Jika aku mengatakan akan melakukan apapun untukmu apakah kau akan memaafkanku Bomi?”

Bomi terdiam terkejut V akan berkata seperti itu padanya. Bomi memang ingin memaafkan V karena Bomi selalu merasa nyaman bersamanya namun gadis itu takut membuka hatinya untuk V kembali. Gadis itu takut V tidak lagi mendukungnya.

V tersenyum lalu mendekati Bomi. Tangannya terulur meletakkan sebuah kerang besar di meja Bomi.

DSC_0019

“Aku akan menyerah dan kembali malam ini. Selamat tinggal Bomi.” Ucap V sebelum akhirnya berubah menjadi rusa dan keluar melalui jendela.

Bomi memandang kerang putih yang ditinggalkan V. Dia mengambil kerang itu lalu menempelkan mulut kerang itu di telinganya. Mata Bomi melotot kaget mendengar suara nyanyian peri dari dalam kerang itu. Bomi teringat dulu dia dan V sering mencari kerang ini di sungai di dalam hutan. Bomi menatap jendela tempat V meninggalkan kamarnya.

“Maafkan aku V.” Gumam Bomi.

“Dewi Bomi… Dewi Bomi….” Bomi menoleh mendengar suara dengan volume kecil namun masih bisa terdengar.

Peri kecil tampak lelah seraya terbang menghampiri Bomi. Bomi meletakkan kerang itu dan membuka tangannya agar peri itu bisa duduk di tangannya. Ukuran peri yang kecil terlihat semakin mungil di tangan Bomi.

“Ada apa Rin? Kenapa kau tergesa-gesa?”

Bomi menunggu Rin mengatur nafasnya yang terengah-engah. Merasa kasihan Bomi mengambilkan secangkir air.

“Minumlah.” Perintah Bomi dan Rin segera meneguk air itu.

“Aahhh..” Lega Rin mengelap mulutnya dengan punggung tangannya.

“Terimakasih dewi Bomi.”

“Jadi ada apa kau kemari Rin?”

“Aku membawa pesan dari Ratu Soye.”

“Pesan apa?”

Dengan tangan mungilnya Rin meminta Bomi mendekat padanya agar peri kecil itu bisa membisikkan pesan yang di bawanya. Wajah Bomi tampak serius mendengarkan pesan yang disampaikan oleh Rin. Wajah gadis itu sedikit terkejut namun tak meyela ucapan Rin.

“Apa Ratu Soye yakin hal itu akan terjadi?” Tanya Bomi setelah Rin selesai menyampaikan pesannya.

“Ne. Karena itulah yang mulia meminta bantuan dewi Bomi.”

Bomi terdiam tampak memikirkannya namun tak lama kemudian gadis itu mengangguk.

“Baiklah, aku akan melakukannya.”

“Terimakasih Dewi Bomi. Dan satu hal lagi, yang mulia meminta dewi Bomi untuk berhati-hati pada Jungkook. Dia bisa menjadi teman dan musuh di waktu yang sama.”

“Baiklah. Terimakasih Rin.”

Rin mengangguk senang bisa berhasil menjalankan tugasnya. Lalu peri itu pergi meninggalkan kamar Bomi. Bomi berjalan mendekati jendela kamarnya. Matanya tampak tertarik pada jendela ruangan yang berhadapan langsung pada ruangan Suga. Bomi bisa melihat Suga dengan seriusnya menulis kaligrafi. Tatapan Bomi beralih pada Yeonmi yang mengikuti Suga menulis di sampingnya.

“Aku akan melakukannya demi Suga yang mulia.” Gumam Bomi.

~~~TBC~~~

16 thoughts on “(Chapter 5) Find Love To Fond Life ( F.L.T.F.L)

  1. annyeong.. aku readers baru nih hehe.. aku blm baca ff ini tp coment dulu. karena aku mau menyampaikan sesuatu *apadahbahasanya. AKU SEMANGAT BANGET BUAT BACA KARENA INI FF BTS!!! KYAAAAAA><

  2. Huwaaaa,,,, akhirnya , nih ff muncul juga,,, sekian lama menunggu,,, :v
    Next yaaa,,,, udah kaga sabar buat baca chapter selanjutnya,,,, ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s