JIJI STORYLINE THE SERIES – ONLY YOU

1st2nd

JIJI STORYLINE

3rd Series

Only You

by Risuki-san

Cast : Lee Jinki (SHINee’s Onew) & Lee Jieun (IU) | Rating : General | Genre : Romance | Disclaimer : FF abal ini asli buatan author | [A/N] : Semoga suka XD semoga yang baca ketularan jadi JiJi Shipper kayak akuuu XD

Gara-gara habis liat emergency couple pas jihyo sakit, jadilah ff ini kekeke XD

.

‘Every single word describes how far I fall for you’

.

‘Bukan gulungan emas atau bongkahan batu mulia, aku hanya ingin kau, kau yang diam di depanku, melihatku, hanya aku’

-Onew Lee-

.

Only You

Partikel udara menumbuk satu sama lain, menggores kulitku yang lebih berharga dari harta karun nasional.

Menarik paksa oksigen dengan cara yang bar-bar, mengabaikan panggilan telpon yang seharusnya kuangkat atau aku akan tahu akibatnya.

Tapi tidak, bahkan satu detik untuk sekedar menyentuh tombol hijau, aku takkan melakukannya.

Meski teriakan sepuluh oktaf akan menghancurkan organ pendengaranku, tapi terlambat sepersekian detik pun, itu akan fatal.

Bukan hanya sistem pendengaran, tapi sistem kehidupanku akan lumpuh, lumpuh olehnya.

“JIEUN, AKU DATANG!!”

Berteriak lebih keras dari siapapun, tersenyum cerah, lebih cerah dari langit saat musim panas.

“Jieun?”

Aku mencarinya, dia yang lembut seperti tahu tapi mematikan lebih dari bisa ular yang beracun.

Hanya kebingungan yang kutemukan, ia tidak disini, tidak di dapur ataupun kamar mandi. Kuputuskan untuk melangkah lebih jauh, menelusup masuk menuju kamarnya.

“Jieun?”

Kini aku melihatnya, ia yang tak berdaya di atas sofa, rambut berantakan dan aku tak percaya. Pakaian yang sama saat aku meningalkannya terlelap semalam, tapi ini, makhluk ini, ia terlihat mengerikan.

Aku meraihnya, pergelangan tangan yang menggantung, ia seperti tak sadarkan diri. Kuputuskan untuk membaliknya, melihatnya lebih dekat dan teliti, merasakan denyut nadinya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

AKU BERTERIAK!

Lebih keras dari guntur saat hujan badai, aku terkejut merasakannya, sebuah pisau tak kasat mata yang menusukku, mengoyak rongga dadaku secara brutal, saat makhluk itu membuka mata.

Ia mengerikan, pandangan mata sayup yang tiba-tiba menghujamku, lingkaran hitam di sekitar mata akibat jejak eyeliner.

“J-j-jieun, k-k-kau?”

Seketika menjadi orang lain, aku tergagap, terlihat bodoh dan ketakutan.

“Oppa…”

Aku mendengarnya, suara yang lembut dan sangat nyaman menyapa telinga. Suara yang teramat lirih, Jieunku terlihat mengenaskan.

Mengusap dadaku yang berdetak tak wajar, menenangkan diri yang seolah baru saja terjatuh dari atap apartemen.

“Masih sakit?”

Aku membantunya bangkit, ia bahkan kesulitan untuk menegakkan tubuh, Jieunku yang malang.

“Oppa, aku lapar…”

Aku tak tahu entah dia atau aku yang tidak sehat tapi ini aneh, ia hanya lapar dan itu sangat menggugah jiwa perikemanusiaanku.

Terlihat lebih mengenaskan dari korban becana alam, aku merasa sangat iba.

.

.

.

Langit musim panas, biru cerah dengan latar burung-burung kecil disekitarnya. Ia tersenyum, lebih menarik dari pelangi setelah hujan.

Ia terlihat lebih baik, hanya serangkaian cuci muka sederhana, Jieunku yang manis segera kembali.

“Oppa, lebih banyak”

Ia lebih cerewet dari ibu-ibu saat menawar barang, ia selalu melakukannya, terlalu banyak protes.

Hanya perlu membuka mulutnya yang kecil, mengunyah sebentar lalu menelannya, aku menyuapinya dengan penuh kasih sayang, tak bisakah hanya diam dan menerimanya dengan baik?

“Oppa, aku bilang lebih banyak!”

Aku menghela nafas yang sangat berat, agar ia mengerti, agar ia tahu jika aku mulai kesal.

“Oppa, kau marah?”

“Tidak”

Dia melihatku, memperhatikanku, bahkan jika debu menelusup masuk ke dalam lubang hidungku, aku yakin ia akan tahu.

“Oppa, aku sangat kelaparan, kenapa kau seperti ini!”

Mukanya memerah, ia sakit dan masih bisa marah padaku.

Anggap saja aku mempermainkannya, ia sakit, tak bisa menggerakkan kedua lengannya. Ia ingin makan tapi tak bisa melakukannya sendiri.

Ia bergantung padaku.

Aku menyuapinya sekecil ujung sendok teh, ia protes dan meminta lebih banyak. Ia bilang ia kelaparan, lalu haruskah aku menurutinya lalu semua akan habis secepatnya begitu?

 “Oppa, ambillah sendok yang lebih besar”

“Tidak perlu”

“Oppa, ada apa denganmu?”

Baiklah, aku salah, aku mengakuinya tapi, tak tahukah ia, kenapa aku melakukan hal sebodoh ini?

“Aku ingin kau makan dengan lambat, seperti ulat”

“…”

“Ulat sangat cute, makan seperti ulat akan membuatmu terlihat cute

Ia hanya menatapku, tak berkedip, aku tahu tatapan apa itu. Setelah aku mengasihaninya, sekarang ia berbalik melempar iba padaku.

“Oppa, kau Onew-“

“Onew condition?”

Ia mengangguk, sangat setuju, aku melihatnya. Dia yang mulai frustasi, menghembuskan nafas yang memburu. Ia kesal dan aku tahu ia berusaha menahannya.

“Aku butuh sesuatu…”

Aku mengatakannya, ia hanya diam tapi aku tahu ia menunggu, dengan sangat tidak sabar.

 “…aku butuh alasan”

Kepulan asap mulai melingkupi tubuhnya, mata kecilnya kembali menghitam bukan akibat lelehan eyeliner tapi amarah yang memuncak dan menguasainya.

“Aku butuh alasan untuk bisa melihatmu lebih lama”

“…”

“Tarikan di sudut bibirmu, lekukan mata kecil yang menatapku, hembusan hangat yang menerpa kulit mukaku, suara manja yang memanggil namaku, aku ingin melihatnya, mendengarnya, merasakannya lebih lama, tak bisa?”

Bukan gulungan emas atau bongkahan batu mulia, aku hanya ingin kau, kau yang diam di depanku, melihatku, hanya aku.

END

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s