(Chapter 6) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-1424598564576.jpg

Title  : Find Love to Find Life Chapter 6

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Son Naeun (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

* Son Naeun / Han Yeonmi (A-Pink)

* Cho Seongha as King Jeongjo

Karena kemarin author lama ga memposting FF ini jadi author posting satu lagi nih untuk memusakan readersdeul.

Author gak akan bosa-bosannya mengatakan pada readersdeul untuk mennggalkan komentar di ff ini ya!!!!

Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

 

“Apa yang akan kau tulis?” Tanya Suga pada Yeonmi yang duduk di sampingnya.

“Entahlah aku sedang memikirkannya.” Wajah Yeonmi tampak serius memikirkan apa yang hendak gadis itu tulis.

Suga menghela nafas. “Bagaimana kalau kau menulis (水)shui?”

Seketika tubuh Suga mematung saat mengingat Hyunjilah yang berada di sampingnya tempo hari.

Shui? Itu kata yang mudah. Baiklah aku akan menulisnya.”

Suga terus mengamati wajah Naeun yang tampak serius membuat huruf air. Tanpa gadis itu sadari, saat menggesekkan pipinya dengan punggung tangannya membuat garis hitam di pipi gadis itu. Tingkah Yeonmi benar-benar mengingatkan Suga pada Naeun. Suga mengambil sebuah handuk kecil yang dibasahi dengan air lalu Suga menarik dagu Yeonmi dan membersihkan pipi Yeonmi dengan handuk itu.

Yeonmi tampak terkejut dengan perlakuan Suga namun gadis itu tetap terdiam dan tatapan merekapun bertemu. Dengan lembut Suga menghilangkan tinta di pipi Yeonmi. Gerakan tangannya melambat saat menatap Yeonmi.

“Naeun.” Nafas Yeonmi tercekat mendengar panggilan Suga yang lembut.

Kilasan masa lalu berkelebat di pikiran gadis itu. Yeonmi bisa mengingat saat dirinya berlari dan tertawa senang bersama Yoon di belakangnya. Yoon menarik perut Yeonmi saat menangkap gadis itu. Ingatan itu di gantikan saat mereka bermain di kolam lumpur. Seperti halnya saat ini, Yoon membersihkan pipi Yeonmi dari lumpur yang melekat di pipinya.

Ada perasaan senang saat Yeonmi mengingat peristiwa itu. Tanpa Yeonmi sadari Suga menarik dagu Gadis itu hingga mendekat. Laki-laki itu tak melepaskan tatapan dari mata Yeonmi. Mereka terus bergerak hingga memperkecil jarak di antara mereka.

“Naeun.” Gumam Suga sebelum akhirnya bibir keduanya di pertemukan.

Yeonmi begitu terkejut merasakan bibir lembut Suga menempel di bibirnya. Ingatan di masa lalu kembali memenuhi pikiran Yeonmi. Ciuman itu mengingatkan Yeonmi pada masa lalunya.

Suga melepaskan ciumannya dan membelai pipi Yeonmi.

“Kau mengingatkanku pada Naeun.”

Aku memang Naeun, Suga. Ucap Yeonmi dalam hati. Ingatan yang hilang gadis itu sudah kembali tanpa diketahui orang lain.

*   *   *   *   *

Seorang laki-laki dengan mengenakan jubah berwarna kuning emas baru saja meletakkan cangkir gelasnya. Begitupula yang di lakukan J-hope yang duduk di hadapan laki-laki itu.

“Tidak biasa yang mulia mengundang orang lain di istana ini?” Heran J-hope menatap laki-laki dengan mahkota di kepalanya.

“Kau bukan orang lain J-hope. Dan kau tahu betul itu.”

Tawa J-hope pecah mendengar perkataan raja Jeongjo.

“Aku memang bukan orang asing yang mulia, aku adalah perantaramu untuk mencapai keinginanmu.”

“Kau benar. Kudengar kau sudah mengeluarkan senjata utamamu J-hope.” Ucap raja Jeongjo.

“Benar yang mulia, aku sudah mengeluarkannya. Tinggal masalah waktu saja sampai senjataku mendapatkan apa yang kita inginkan.”

Kali ini terdengar suara tawa raja Jeongjo yang begitu berwibawa.

“Tapi yang mulia kau tidak akan melupakan kesepakatan yang kita buat bukan?” Tawa raja Jeongjo terhenti.

“Kau memiliki pasukan lebih banyak yang siap menghancurkan istanaku. Apa kau masih berpikir aku akan mengingkari kesepakatan kita?”

“Baguslah jika yang mulia menyadarinya. Aku akan benar-benar akan menghancurkan istana yang indah ini jika hal itu terjadi.”

“Selalu menarik membuat kesepakatan denganmu J-hope.”

*   *   *   *   *

Hari sudah mulai gelap saat burung Jujak mendarat di taman kerajaan air. Jin memandang gadis yang tidur di dadanya. Wajah Hyunji terlihat lelah setelah terbang seharian dengan menaikki burung Jujak. Jin mengulurkan tangannya merapikan anak rambut yang menutupi wajah Hyunji.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat membuat Jin mendongak. Terlihat Yoon berjalan dengan ekspresi datar membuat Jin tak bisa menduga apa yang akan dilakukan Yoon. Jin mendengar suara air dan tiba-tiba tubuh Hyunji melayang turun. Kumpulan air yang dikendalikan Yoon membawa tubuh Hyunji hingga dalam gendongan laki-laki itu. Tanpa berkata apapun Yoon berbalik meninggalkan Jin. Jin yang tak ingin Hyunji pergi dibawa Yoon meloncat turun dari punggung Jujak dan menyusul Yoon.

“Lepaskan Hyunji, tuan Yoon. Naeun sudah kembali, tuan hanya akan menyakiti Hyunji jika tuan tak melepaskannya.” Langkah Yoon terhenti mendengar ucapan Jin.

“Apa kau menyukainya Jin?” Tanya Yoon tanpa menoleh.

Jin terdiam mendengar pertanyaan Yoon. Namun dengan yakin Jin menganggukan kepalanya.

“Ya, aku menyukainya tuan.”

Yoon berbalik hingga bisa menatap Jin yang terlihat sangat berani menatap Yoon.

“Tapi kau tidak bisa memilikinya Jin. Hyunji adalah milikku. Dan aku tak akan melepaskannya.” Ucap Yoon sebelum akhirnya berbalik dan kembali melangkah.

“Kau hanya akan membuatnya menderita tuan Yoon.”

Langkah Yoon terhenti mendengar ucapan Jin. Mata Yoon menatap wajah Hyunji yang terlelap dalam gendongannya. Tanpa membalas ucapan Jin, Yoon kembali melangkah. Ucapan Jin terus melayang dalam pikiran Yoon. Hati Yoon membenarkan ucapan Jin, Naeun memang seakan kembali tapi cinta pertamanya tidak kembali. Pikiran untuk melepaskan Hyunji menimbulkan perasaan tidak rela di hatinya. Namun Yoon juga tak bisa melepaskan gadis yang mirip dengan Naeun itu.

Dengan kekuatan airnya Yoon membuka pintu kamar Hyunji lalu melangkah masuk. Dengan perlahan Yoon meletakkan tubuh Hyunji di ranjangnya. Yoon duduk di pinggir ranjang itu dan terus mengamati wajah Hyunji. Yoon terkejut meihat dahi Hyunji berkerut. Lalu terdengar suara Hyunji memanggil nama Yoon membuat nafas laki-laki itu tercekat. Air matapun mengalir dari sudut mata gadis itu.

Yoon mengulurkan tangannya membelai kerutan di dahi Hyunji hingga gadis itu merasa tenang kembali. Tangan Yoon beralih menghapus jejak air mata di pipi Hyunji. Yoon menunduk membuat wajah mereka semakin dekat. Yoon mengamati wajah Hyunji yang kembali tenang.

“Apakah cinta yang baru saja terjadi ini adalah kesalahanku? Mungkin Jin benar aku akan membuatmu menderita karena keegoisanku. Aku bahkan tak bisa membahagiakanmu. Apa yang harus kulakukan untukmu agar kau tetap disisiku Hyunji?” Tanya Yoon pada Hyunji yang masih tertidur.

Tangan Yoon menyentuh pipi Hyunji yang terasa lembut di tangannya. Tangan Yoon menangkup pipi Hyunji.

“Apapun yang terjadi, percayalah padaku Hyunji dan tetaplah di sisiku.” Ucap Yoon sebelum akhirnya mencium kening Hyunji.

wpid-ec98a4ec9e91eab590-ed9895eca09ceb93a4-e58-end-120219-hdtv-xvid-hanrel03195110-53-44.jpeg

*   *   *   *   *

Dari dahan pohon V tak henti-henti memandang jendela kamar Bomi yang terbuka. Kamar Bomi tampak terang dan V berpikir Bomi ada di kamarnya. V menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia berharap Bomi akan menghalanginya pergi namun kenyataannya Bomi tak melakukannya.

V meloncat turun dan dahan pohon hingga kakinya menyentuh tanah. Untuk terakhir kalinya V memandang jendela kamar Bomi sebelum akhirnya berbalik pergi.

“Selamat tinggal Bomi.” gumam V berjalan meninggalkan tempat itu.

“Jika aku memaafkanmu, kau akan melakukan apapun untukku bukan?” Langkah V terhenti mendengar suara Bomi. V berbalik dan menatap tak percaya pada Bomi yang berjalan menghampirinya.

“Bomi?” Panggil V tak percaya.

“Maukah kau berteman denganku monster Baekho.” Bomi mengulurkan tangannya membuat V seakan bermimpi mendengar Bomi ingin berteman dengannya.

“Apa kau hanya akan diam dan terus membuat tanganku lelah huh?” Gerutu Bomi.

V tersenyum melihat Bominya kembali. Laki-laki itu menyambut uluran tangan Bomi.

“Tentu saja monster Baekho ini mau berteman dengan dewi petir.”

Saking senangnya V memeluk Bomi membuat gadis itu terkejut.

“YA!! Lepaskan, atau aku akan menyambarmu dengan petirku.”

V melepaskan pelukanya dan menampilkan senyum bodohnya.

wpid-tumblr_n502oq6vib1tw2446o1_500.gif

“Berhentilah tersenyum bodoh seperti itu V. Kau membuat perutku mual.”

V tertawa melihat Bomi memegangi perutnya seakan terasa sakit. Bomi hanya tersenyum senang bisa bersahabat dengan V kembali.

“V maukah kau membantuku?”

Tawa v terhenti dan menatap Bomi penuh tanya.

“Tentu saja, aku kan temanmu Bomi. Apa ini mengenai Suga?”

“Ne. Suga dalam bahaya V, dan Yang Mulia Ratu Soye meminta bantuan padaku. Tapi aku tak bisa melakukannya sendiri.”

V terdiam mendengar penjelasan Bomi. Laki-laki itu begitu iri pada Suga karena Bomi selalu mengkhawatirkannya.

“Tenang saja. Kau bisa mengandalkanku Bomi.”

“Terimakasih V dan beginilah rencanaku.” Bomi membisikkan rencananya pada V.

*   *   *   *   *

Yeonmi duduk di kamarnya dan teringat kejadian sore tadi. Ingatan-ingatan masa lalu begitu jelas di pikiran Yeonmi. Gadis itu bisa mengingat semua masa lalunya yang selama ini hilang. Yeonmi juga mengingat bagaimana perasaannya pada Suga. Perasaan rindu merasuk dalam hati Yeonmi sebagai Naeun. Ingin sekali Yeonmi kembali pada Suga tapi gadis itu masih ingat tujuan dia dikirim di sini.

“Apa yang kau pikirkan Naeun. Kau terlihat sangat serius?” Yeonmi merasakan J-hope memeluknya dari belakang.

Yeonmi sedikit terkejut dengan kedatangan J-hope, namun dia segera menyembunyikannya dan bersikap seperti biasa.

“Aku hanya sedang memikirkan cara menjalankan tugasku.”

“Apa kau membutuhkan bantuanku? Aku bisa membantumu.”

“Aku rasa tidak Oppa.”

J-hope mengeluarkan sebuah guci kecil berwarna putih dan meletakkannya di meja. Yeonmi memandang guci dengan gambar bunga teratai di tengah guci itu.

“Apa ini Oppa?”

“Ini adalah ramuan penakluk. Jika seseorang meminumnya, dia akan menuruti perintah dari orang yang pertama kali dilihatnya.”

Yeonmi mendorong guci itu. “Aku tak membutuhkannya Oppa, aku bisa melakukannya sendiri. Apa kau tidak mempercayaiku?”

J-hope tersenyum puas mendengar ucapan Yeonmi.

“Aku mempercayaimu Naeun. Simpanlah ini dan pakailah jika situasi sudah mendesakmu. Aku harus pergi.”

J-hope mencium puncak kepala Yeonmi dan pergi melewati jendela. Yeonmi menggenggam guci itu dan terus menatapnya.

“Sudah kuduga kau adalah Naeun.” Tubuh Yeonmi membeku mendengar suara orang yang paling tidak ingin Yeonmi temui.

“Apa kau masih ingat padaku Naeun-ah.” Jungkook masuk ke dalam kamar Yeonmi.

Yeonmi menatap gerak-gerik Jungkook hingga berdiri di depan jendela. Yeonmi mengambil poci teh dan menuangkan teh ke dalam cangkir dengan tenangnya.

“Mana mungkin aku melupakan orang yang sudah hampir membunuhku.” Jawab Yeonmi tanpa menunjukkan rasa takut.

Jungkook tersenyum sinis mendekati Yeonmi. Tangannya melingkar di leher Yeonmi dengan pisau yang siap menggores leher Yeonmi. Ketakutan tak terlihat di wajah Yeonmi, gadis itu begitu tenang tak terpengaruh dengan pisau yang setiap saat bisa membunuhnya.

“Kau tidak akan membunuhku Jungkook.” Ucap Yeonmi lalu meminum tehnya.

Tawa Jungkook pecah mendengar keyakinan Yeonmi.

“Kau yakin sekali aku tak akan membunuhmu Naeun-ah. Aku sudah pernah hampir membunuhmu kenapa kau berpikir aku tidak akan membunuhmu sekarang?”

Tiba-tiba Jungkook merasakan benda tajam menyentuh punggungnya.

“Karena aku akan membunhmu terlebih dulu, Jungkook.”

Jungkook kembali tertawa. “Akhirnya kau keluar juga Namjoon. Rencanaku berhasil juga.”

“Apa yang kau rencanakan Jungkook?”

“Aku hanya memancingmu keluar.”

Jungkook melepaskan leher Yeonmi dan dengan gesitnya Jungkook melepaskan diri dari todongan pisau Namjoon.

“Aku tidak akan membunuhmu sekarang Naeun, karena aku masih membutuhkanmu.”

“Membutuhkanku?” Kaget Yeonmi.

“Ne. Aku membutuhkanmu dalam rencanaku. Selamat malam Naeun-ah. Oh satu hal lagi pakailah ramuan penakluk itu. Ramuan itu akan membantumu.” Ucap Jungkook sebelum akhirnya keluar dari kamar Yeonmi.

“Apa aku perlu menghabisinya?” Tanya Namjoon.

“Tidak. Tidak perlu. Aku ingin tahu apa yang sedang di rencanakannya.”

“Baiklah jika itu maumu.”

Namjoon menghilang dan kembali di tempat persembunyiannya. Yeonmi masih duduk seraya meminum tehnya. Ingatan Yeonmi beralih pada saat terakhir kalinya Yeonmi berada di kerajaan air.

~~~FLASHBACK~~~

Dengan senyum senangnya Naeun berjalan menuju ruangan Suga. Di tangan gadis itu membawa baki yang berisi mkanan yang sudah gadis itu buat. Dengan hati-hati Naeun berjalan agar tak menumpahkan baki itu. Langkah Naeun terhenti saat mendengar suara yang dikenalnya.

“Cckk…ckk… Ambisius sekali kau Bomi.” Naeun mendengar suara Jungkook.

“Tak perlu memujiku Jungkook. Aku kemari untuk memberimu perintah bukan untuk mendengar pujianmu.”

“Apa kau tidak takut Suga mengetahuinya Bomi? Aku yakin dia tidak memaafkanmu jika mengetahui hal ini.”

Awalnya Naeun tak ingin menguping pembicaraan Jungkook dan Bomi namun mendengar nama Suga membuat gadis itu penasaran.

“Suga tidak akan tahu jika kau melenyapkan gadis sialan itu sebersih mungkin.”

Nafas Naeun tercekat mengetahui objek yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya.

“Bagaimana jika aku menolaknya?”

Naeun bisa mendengar Bomi tertawa sinis.

“Aku akan membunuhmu.”

Seketika suasana menjadi hening dan Naeun tak bisa mendengar apapun.

“Baiklah, aku akan membunuh gadis itu.”

Ketakutan seketika merasuki hati Naeun sehingga baki di tangannya sedikit bergetar. Naeun hendak kabur dari sana. Namun sayang kaki gadis itu tersandung sebuah batu membuatnya terjatuh begitu pula baki di tangannya. Terdengar langkah kaki keluar dan Naeun begitu takut melihat Jungkook dan Bomi.

“Inilah waktunya Jungkook, lenyapkan dia.” Perintah Suga.

Dengan wajah tanpa ekspresi Jungkook menarik paksa kerah hanbok Naeun. Bomi hanya melihat dan tersenyum penuh kemenangan.

“Jungkook-ah lepaskan aku. Kau tidak mungkin mengkhianati Suga bukan? Suga sangat mempercayaimu Jungkook.” Naeun berusaha meyakinkan Jungkook untuk melepaskannya namun Jungkook masih terdiam dan terus menarik gadis itu menuju hutan.

Naeun meronta berusaha membebaskan diri namun cengkraman Jungkook begitu kuat membuat Naeun kesulitan.

“Aaahh…” Teriak Jungkook merasakan tangannya di gigit.

Terbebas Naeun berlari keluar hutan. Pikirannya terus teringat pada Suga. Gadis itu tidak ingin berpisah dengan Suga. Namun saat nyaris keluar hutan Jungkook berhasil menarik rambut Naeun dengan kasar.

“Jangan membuat tugasku semakin sulit Naeun.”

Jungkook menyeret tubuh Naeun kembali masuk dalam hutan. Naeun terus berteriak dan memukuli tangan Jungkook namun laki-laki itu tak kunjung melepaskannya. Naeun merasakan punggungnya terasa sakit karena terbentur bebatuan dan dahan-dahan yang tajam hingga menggores baju dan kulit Naeun. Air mata terus keluar dari sudut mata Naeun.

“Lepaskan aku Jungkook-ah, Suga tidak akan memaafkanmu jika mengetahui hal ini.” Ucap Naeun putus asa.

Jungkook menyeret mereka semakin dalam kehutan hingga terdengar suara air mengalir deras. Naeun memutar otak berusaha melarikan diri. Tangan Naeun menangkap dahan pohon membuat langkah Jungkook terhenti. Laki-laki itu menghampiri dahan itu hendak melepaskan tangan Naeun.

Naeun memanfaatkan kesempatan ini menendang perut Jungkook hingga laki-laki itu terjatuh ke belakang. Naeun segera berdiri dan melarikan diri. Naeun tak tahu ke mana langkah kaki gadis itu membawanya pergi. Naeun tak pernah tahu hutan ini karena Suga selalu melarangnya masuk. Naeun menoleh ke belakang dan melihat Jungkook mengejarnya. Naeun mempercepat larinya. Malang bagi gadis itu, Jungkook berhasil menangkap pergelangan tangannya. Naeun begitu takut melihat mata Jungkook menatapnya dengan penuh amarah.

“Kau mulai membuatku kesal Naeun-ah.”

Jungkook kembali menarik tangan Naeun dengan kasar. Naeun terlihat sangat berantakan dengan luka lecet di mana-mana. Wajah Naeun begitu ketakutan saat mendekati jurang. Jungkook menariknya tepat di bibir jurang. Naeun melihat ke belakang terlihat jurang yang dalam dengan dasar sungai yang deras. Ketakutan Naeun semakin menjadi.

“Aku mohon Jungkook-ah, jangan lakukan ini.” Pinta Naeun dengan nada putus asa.

“Maafkan aku Naeun, aku harus melakukannya.”

Tubuh Naeun kaku saat sebuah pedang menghunus perutnya. Jungkook menarik pedangnya dan terlihat noda darah Naeun menempel di pedang itu.

“Selamat tinggal Naeun.”

Jungkook melepaskan tangan Naeun dan membiarkan tubuh gadis itu jatuh ke dalam jurang. Jungkook mengintip dalam jurang itu dan tak lagi melihat tubuh Naeun. Jungkook tersenyum puas lalu melemparkan pedangnya sama seperti korbannya pedang itu langsung menghilang di telan sungai.

~~~FLASHBACK END~~~

Tangan Yeonmi menggenggam erat guci hingga jemarinya memutih. Matanya yang hitam semakin kelam mengeluarkan kebencian.

“Apa yang kau rencanakan Jungkook-ah?”

Yeonmi menatap guci di tangannya dan teringat ucapan Jungkook tadi. Yeonmi menyunggingkan senyum penuh misteriusnya.

*   *   *   *   *

Perlahan Hyunji membuka matanya. Gadis itu tersenyum mengingat mimpi yang dialaminya semalam. Dalam mimpinya Yoon menggenggam tangannya dan mengatakan pada Hyunji untuk tetap berada di sampingnya. Hyunji begitu bahagia meskipun itu hanyalah mimpi.

“Hyunji-ah…. Hyunji-ahh…”

Terdengar suara Hayoung memasuki kamarnya. Setelah masuk kamar Hyunji, gadis itu menghampiri sang pemilik kamar.

“Ada apa Hayoung-ah?”

“Apa kau sudah dengar Raja Jeongjo mengundang Suga ke istana?”

“Raja Jeongjo?”

“Ne raja Jeongjo adalah Dewa matahari, pemimpin para dewa. Aku yakin Suga pasti akan mengajakmu?”

“Benarkah?”

“Tentu saja, kau kan calon istrinya.” Hyunji tersenyum senang mendengar ucapan Hayoung.

“Suga tidak akan mengajaknya.”

Hayoung dan Hyunji menoleh mendengar suara seseorang. Mereka tampak terkejut melihat Bomi berdiri di depan pintu.

“Suga lebih memilih cinta pertamanya.” Ucap Bomi berlalu pergi.

“Jangan dengarkan dia Hyunji-ah. Kau tahu kan bagaimana Bomi.”

“Ne. Gomawo Hayoung-ah.”

Hyunji tersenyum meskipun dalam hatinya berkecamuk memikirkan ucapan Bomi. Gadis itu ingin membuang jauh pemikiran itu namun tetap saja ucapan itu mengganjal di hatinya.

*   *   *   *   *

Dengan langkah cepat Jungkook menuju pintu kerajaan matahari. Dilihatnya dua pengawal menjaga di kedua sisi pintu besar dengan ukiran matahari itu.

“Anda tidak boleh masuk tuan.” Ucap pengawal itu menghalangi langkah Jungkook dengan tombak di tangan mereka.

“Aku ingin bertemu dengan Raja Jeongjo.”

“Orang sembarangan tidak boleh menemui yang mulia Jeongjo.”

Jungkook melayangkan tatapan tajamnya ke arah dua orang pengawal itu. Dengan gerakan cepat Jungkook melumpuhkan titik-titik syaraf kedua pengawal itu hingga tubuh mereka lemas dan tak berdaya.

“HENTIKAN!!!!” Terdengar seruan suara yang menggema.

Tiba-tiba pintu kerajaan terbuka dan memperlihatkan raja Jeongjo diikuti dengan kedua orang kepercayaannya.

“Kembalikan mereka Jungkook-ah.” Perintah raja Jeongjo.

Dengan gerakan tangan yang cepat Jungkook mengembalikan syaraf-syaraf kedua pengawal itu kembali normal.

“Masuklah. Dan jangan membuat kekacauan.” Ucap raja Jeongjo masuk ke dalam istananya.

Jungkookpun berjalan mengikuti raja Jeongjo. Langkahnya terhenti tepat di balik garis sebelum singgasana raja matahari. Raja Jeongjo duduk di kursi kebesaranya lalu kedua dayang di sampingnya langsung mengipasi raja itu.

“Jadi apa yang membuatmu kemari?”

“Apa maksud yang mulia mengundang Suga ke istana ini?”

Raja Jeongjo tertawa mendengar pertanyaan Jungkook.

“Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu. Aku tidak sabar dengan rencanamu Jungkook-ah. Aku punya rencana lain.

“Rencana lain?”

“Ya!! Aku yang akan turun tangan menghadapi Suga.”

“Tapi yang mulia….”

“Tenang saja Jungkook-ah. Aku masih membutuhkanmu.”

Raja Jeongjo memberi isyarat pada sang pelayan untuk memberikan sebuah guci kecil pada Jungkook.

“Bukankah ini adalah….”

“Ya.. Itu adalah ramuan penakluk. Aku ingin kau memberikannya pada calon pengantin Suga bernama Hyunji itu.”

“Hyunji? Tapi untuk apa yang mulia memintaku untuk menaklukkan Hyunji?”

“Aku membutuhkan gadis itu dalam rencanaku. Jadi jangan kecewakan aku Jungkook-ah.”

Jungkook membungkuk. “Baik yang mulia.”

Raja Jeongjo tersenyum melihat kepergian Jungkook.

*   *   *   *   *

Hyunji berjalan tak tentu arah. Gadis itu hanya mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Pikirannya masih dipenuhi dengan sikap Suga dan Yoon yang sama dinginnya terhadapnya.

“Gambarmu jelek sekali Suga, aku tak bisa menebaknya.”

Langkah Hyunji terhenti saat mendengar suara seorang gadis. Mata Hyunji tertuju pada pinggir kolam. Dilihatnya Yeonmi dan Suga duduk bersama seraya melihat gambaran air yang melayang di hadapan mereka.

“Gambarku lebih bagus daripada gambarmu.”

“MWO?”

Suga tertawa melihat wajah kesal Yeonmi. Tubuh Hyunji membeku. Tak pernah Hyunji melihat Suga tertawa lepas seperti itu bahkan saat bersamanya.

“Berhentilah melihat mereka nona.” Hyunji menoleh dan terkejut melihat Jin sudah berdiri di sampingnya.

“Jin?” Jin tersenyum lembut pada Hyunji lalu menggenggam tangan gadis itu.

“Lebih baik kita pergi. Ayo.”

Jin menarik Hyunji pergi dari tempat itu. Tanpa Hyunji sadari Suga melihat ke arahnya namun justru Jinlah yang membalas tatapan Suga tajam.

“Apa yang kau lihat Suga?” Tanya Yeonmi menyadarkan Suga.

“Tidak. Bukan apa-apa. Apa kau sudah bisa menebaknya?”

“Aku masih memikirkannya.”

Suga tersenyum namun dalam hatinya bergemuruh melihat Hyunji pergi bersama Jin. Di sisi lain Jin membawa Hyunji di taman. Hyunji tersenyum melihat Jujak tengah minum air di pinggir danau. Mendengar langkah kaki Jujakpun menoleh. Seakan senang melihat Hyunji, hewan itu dengan semangat menghampiri Hyunji. Tanpa rasa takut, Hyunji langsung mengelus kepala Jujak.

“Sepertinya kau sudah mulai akrab dengannya?” Hyunji tersenyum mendengar ucapan Jin.

“Kami saling menyukai tentu saja kami mulai akrab.” Jujak menutup mata begitu menikmati belaian Hyunji.

“Apa kita juga bisa saling menyukai seperti kau dan Jujak?” Gerakan tangan Hyunji terhenti mendengar ucapan Jin. Dengan ragu-ragu gadis itu menoleh dan melihat Jin menatapnya dalam.

“Jin?”

Jin tersenyum senang mendengar Hyunji memanggil namanya. Diapun mendekati Hyunji. Tangannya terulur menyentuh pipi Hyunji.

“Ikutlah denganku nona Hyunji. Suga tidak akan menikahimu. Dia lebih memilih bersama Yeonmi daripada bersamamu. Aku tidak ingin kau bersedih seperti ini. Aku menyukaimu nona Hyunji.”

Tubuh Hyunmi membeku mendengar pengakuan Jin. Hyunji tak tahu harus berkata apa. Jin selalu datang saat dirinya membutuhkan seorang teman tapi Hyunji tak bisa menyukai laki-laki itu. Jin mengulurkan tangannya pada Hyunji.

“Ikutlah denganku. Aku akan membawa nona pergi jauh dari sini.”

Hyunji melihat tangan Jin lalu tatapan beralih ke wajah laki-laki itu. Kata-kata Bomipun tiba-tiba terngiang di kepalanya.

Suga lebih memilih cinta pertamanya.

Benarkah Suga akan memilih gadis yang mirip dengan Naeun itu untuk dinikahinya? Tapi bagaimana dengan Yoon? Setelah memberikan harapan padaku kenapa Yoon juga bersikap dingin padaku?

Hyunjipun teringat mimpinya semalam. Dia ingat kata-kata Yoon.

Apapun yang terjadi, percayalah padaku Hyunji dan tetaplah di sisiku.

Meskipun itu hanya mimpi tapi Hyunji merasa kata-kata itu sangat nyata.

“Nona Hyunji?” Panggil Jin menyadarkan Hyunji.

Hyunji menatap ragu Jin merasa bingung dengan keputusan yang akan diambilnya. Namun ingatan kebersamaan Hyunji bersama Yoon maupun Suga sangat kuat di pikiran gadis itu. Meskipun Hyunji pergi jauh tapi pikirannya tak bisa lepas dari dua laki-laki itu. Hyunji melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Maafkan aku Jin. Aku tak bisa meninggalkan Suga maupun Yoon.”

Hyunji berbalik dan meninggalkan Jin. Jin melihat kepergian Hyunji dengan tatapan kecewa. Tiba-tiba dirasakan Jujak mengendus Jin seakan ingin diperhatikan. Jin mengelus kepala Jujak seperti yang dilakukan Hyunji.

“Aku tak bisa membuat dia ikut denganku Jujak. Apa yang harus kulakukan?”

Jujak mendorong-dorong tangan Jin dan Jin pun tersenyum melihat hewan peliharaannya yang manja.

“Baiklah aku akan bermain denganmu.” Jinpun langsung menaikki punggung Jujak dan burung itu segera terbang.

*   *   *   *   *

V mengobrak-abrik semak-semak dan melihat satu persatu tanaman yang tumbuh dalam hutan itu. Mencari tanaman cordata atau yang biasa di sebut ekor kadal seperti mencari jarum di tumpukkan jerami. Tumbuhan itu begitu langka di hutan ini.

“Apa kau sudah menemukannya V?” Perncarian V terhenti mendengar suara Bomi.

“Belum. Aku belum menemukannya.”

“Kita harus segera menemukannya V.”

V melihat Bomi kembali mencari tanaman Cordata.

“Sebenarnya untuk apa kita mencari tanaman Cordota itu Bomi?”

“Aku akan menggunakannya untuk membuat ramuan penawar racun.”

“Penawar racun?”

Bomi menoleh ke arah V.

“Apa itu untuk Suga?”

Bomi mengangguk.

“Untuk apa Suga membutuhkan penawar racun itu?”

“Ratu Soye yang memintaku. Ratu mengatakan dalam mimpinya dia melihat Suga dalam bahaya karena itu dia membutuhkan penawar racun ini. Kau mau membantuku kan V?”

“Tentu saja.”

“Satu hal lagi V. Kali ini aku akan benar-benar mengandalkanmu V.”

V menatap Bomi yang tampak serius dari biasanya. V menyunggingkan senyumnya dan menepuk bahu gadis itu.

“Kau tenang saja. Kau bisa mengandalkanku.”

Bomi tersenyum meskipun dalam hatinya tidak tenang karena mengetahui sesuatu yang hanya di ketahui olehnya dan ratu Soye.

*   *   *   *   *

Meskipun hari mulai gelap namun wajah Hyunji tetap terlihat pucat. Setelah dirinya sibuk memikirkan Yoon dan Suga sekarang dirinya harus tambah memikirkan pengakuan Jin. Perasaan bersalah menelusup di hatinya mengingat wajah sedih Jin. Tapi dirinya tak bisa meninggalkan Yoon dan Suga meskipun mereka tak perduli padanya lagi.

Hyunji menghela nafas lalu mendongak. Langkahnya terhenti saat melihat Yoon berjalan ke arahnya. Hyunji tersenyum senang namun wajah Yoon tak ada tanda satupun tampak senang bertemu Hyunji

“Yoon.”Panggil Hyunji namun Yoon terus berjalan melewati gadis itu. Hyunji berbalik, wajah senangnya digantikan dengan wajah yang kecewa.

“Berhentilah mempermainkanku Yoon. Terkadang kau memberiku harapan dan terkadang kau menjauhiku. Berhentilah melakukannya Yoon.”

Langkah Yoon terdiam mendengar ucapan Hyunji. Gadis itu berbalik dan menatap punggung Yoon. Hyunji menunggu bagaimana reaksi Yoon. Gadis itu berharap Yoon akan berbalik dan memeluknya seperti dulu. Namun harapan gadis itu tak terwujud, Yoon justru melanjutkan langkahnya meninggalkannya. Hyunji terus menatap punggung Yoon yang mulai menghilang dari pandangannya.

“Yoon tidak akan memperdulikanmu lagi seperti halnya Suga.”

Hyunji menoleh dan mendapati Yeonmi tersenyum sinis padanya. Yeonmi mendekati Hyunji hingga tepat dihadapan gadis itu.

“Kenapa kau terlihat bingung? Biar kutebak kau pasti belum tahu jika Yoon dan Suga adalah orang yang sama.”

Wajah Hyunji begitu terkejut mendengar ucapan Yeonmi. Melihat hal itu, Yeonmi menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

“Opps… Sepertinya kau memang belum tahu. Tapi hal itu tidak akan membuat perbedaan karena Yoon tetap akan memilihku.” Yeonmipun berjalan meninggalkan Hyunji yang masih terkejut.

“Akhirnya sifat aslinya keluar juga.”

“Jungkook-ah?” Panggil Hyunji melihat Jungkook tiba-tiba muncul.

“Tak perlu memikirkannya. Apa kau mau mampir untuk minum teh?”

Hyunji terdiam seakan memikirkan ajakan Jungkook.

“Apa kau tidak percaya padaku? Mana mungkin aku menyakitimu.”

Hyunji tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah.”

Jungkook dan Hyunji berjalan berdampingan hingga sampai di kamar Jungkook. Merekapun duduk di kursi dan Jungkook mulai menuangkan teh ke dua gelas.

“Jungkook-ah, apa kau tahu jika Suga dan Yoon adalah orang yang sama?”

Tangan Jungkook terhenti mendengar pertanyaan Hyunji.

“Jadi kau sudah tahu? Apa hanya aku yang tidak mengetahuinya?”

Jungkook mengangguk lemah. “Ne.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Jungkook terdiam memikirkan jawaban yang tepat.

“Minumlah, teh hijau ini sangat enak.”

Jungkook menyerahkan cangkir teh pada Hyunji mengalihkan pembicaraannya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan Jungkook-ah. Katakan kenapa kau menyembunyikamnya?” Jungkook menghela nafas.

“Suga yang memerintahkan untuk tidak memberitahumu karena Yoon lebih nyaman bersamamu jika kau tidak tahu dia adalah dewa air.”

Hyunji terdiam ada secercah kebahagian di hati Hyunji mendengar ucapan Jungkook.

“Ini minumlah.”

“Terimakasih Jungkook-ah.” Ucap Hyunji menerima gelas itu.

Hyunji segera meminumnya karena tanpa gadis itu sadari tenggorokkannya sudah sangat kering. Dengan gerakan lambat Jungkook mengaduk tehnya dan pura-pura meminumnya. Setelah menegak habis isinya, Hyunji meletakkan gelas di meja. Tiba-tiba matanya terasa mengantuk hingga gadis itu terlelap di atas meja Jungkook. Melihat hal itu Jungkook tersenyum penuh kepuasan.

“Kau sudah ditanganku Jung Hyunji.”

Hyunji tak dapat mendengar ucapan Jungkook. Dirinya sudah jatuh ke alam mimpi tanpa mengetahui keadaan sekitar yang sangat berbahaya untuknya.

~~~TBC~~

6 thoughts on “(Chapter 6) Find Love to Find Life (F.L.T.F.L)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s