Back In Time

baekhyun

Tittle : Back In Time

Cast : Byun Baekhyun

Genre : Angst

Length : Ficlet

Rating : G?

Author : Lee Chan

***

Bulan bersinar terang. Namun tak seterang biasanya. Cahanya perlahan meredup ditemani sengau angin malam. Ku tahu, sebentar lagi akan hujan. Dan yang ku takut, kenangan itu akan kembali menghantuiku.

Aku tak bisa tidur, hanya bisa bergelung di bawah selimut tipisku. Kemudian akhirnya menyerah, meringkuk di atas kursi goyang yang biasa kududuki saat menunggu hujan. Dan itu, kini terjadi lagi. Sama seperti sebelumnya.

Menatap nanar rintikan air hujan. Mengamati lembut setiap ketukan ringan rintikannya. Aku tidak benar – benar menutup jendelanya rapat – rapat, kusisakan sedikit celah untuk membiarkan udara dingin itu menyusup perlahan, menusuk ke ujung kulit-kulit pucatku.

Semakin lama semakin deras. Semakin deras itu pula lah aku menangis. Semakin meraung-raung melawan derasnya hujan. Ku tahu bahwa tangisanku tak akan dapat didengar, karena hujan meredamnya. Lalu apakah bila tangisanku tak terdengar oleh Tuhan, Dia tak akan mengabulkan permintaanku?

Kenangan yang kurindukan, ingin kuputar balik namun tak bisa. Saat aku mencoba untuk menghapusnya, ternyata itu lebih sulit dari yang kukira. Aku merindukannya. Aku merindukannya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin memeluknya. Tak bisakah walau ini yang terakhir kalinya?

Tanah terendam. Menimbulkan genangan air berwarna coklat disekitarnya. Membuat tanah yang semula datar tak berbentuk, kini menimbulkan cekungan. Cekungan yang lama – kelamaan akan semakin dalam. Dan pada akhirnya, tanah itu akan kembali seperti sedia kala.

Berbentuk utuh kembali, bahkan lebih bagus dari yang sebelumnya. Tapi yang kutahu, tanah itu tak akan sepolos yang sebelumnya. Saat ia belum dikikis oleh erangan jari – jari basah itu. Meskipun sudah utuh, tapi ia tak akan bisa seperti dulu lagi. Datar dan polos. Seperti tak memiliki penderitaan.

Seiring dengan itulah aku merasakannya. Turut merasakan bagaimana rasanya terkikis oleh hujaman rintikan air itu. Perlahan – lahan cekungan ini semakin dalam, dengan beban yang semakin berat. Air itu sudah meresap hingga ke ujung tanah itu, dan rasanya lebih berat saat ditetesi air. Karena menahan rindu jauh lebih menyiksa ketimbang menahan berbagai penyakit komplikasi.

***

Hujan masih menyisihkan sedikit gerimisnya. Udara lembap juga turut mengisi rongga paru – paru ibukota. Walau trotoar tertera genangan air yang kentara jelas, ibukota tak pernah lelah. Mereka bahkan asyik menikmati rangkaian tatanan ‘jalan-jalan malam’ ala mereka. Seperti yang lain, aku pun turut menikmatinya.

Di bawah lindungan plastik berkubah jernih itu, aku menyusuri jalanan kota Seoul yang masih padat walau lebih lengang. Aku merapatkan jaket rajutan pemberiannya, membiarkan jemariku terbasuh oleh kotornya genangan. Aku tak mempedulikan itu. Karena aku bahagia melakukannya. Ingatanku kembali melayang kepadanya.

Aku tersenyum miris mengingatnya. Mendesah berat sambil menatap kedai tteokboki di seberang jalan. Membayangkan bahwa disanalah diriku, bersamanya. Duduk manis di antara soju dan tteokboki. Makanan favorit semua orang saat hujan sedang turun. Aromanya yang hangat seolah memberi kehangatan yang terselubung indah di dalamnya.

Kami bercanda, tertawa bahagia, saling melontarkan candaan yang terasa konyol. Hingga kami telah larut dalam buaian soju, kami menginap di kedai tteokboki hingga pagi datang. Kami terlalu mabuk saat itu.

Senyumku mengembang namun segera memudar. Sepudar tetesan cair yang hinggap di luar tenda. Aku menangis. Menangis kembali. Tangisan yang penuh kenangan rindu. Kenangan yang membahagiakan sekaligus menyesakkan.

Aku merindukannya. Jauh di dalam hatiku. Tuhan, bisakah aku melihatnya walau sekali saja? Membiarkanku untuk memeluk tubuhnya yang hangat. Melepaskan semua rasa gundah dan rindu, dan hanya rasa cinta yang tersisa. Rasa cinta yang memabukkan.

Aku menginginkannya. Sesuatu yang seharusnya merangkulku dengan lengan besarnya. Menuntunku saat ada genangan air yang menghadang. Memelukku disaat aku kedinginan. Tuhan, aku merindukannya. Tak bisakah kau membiarkanku untuk memeluknya? Seperti sebelumnya, saat kita saling tertawa satu sama lain. Saat sebelum rasa rindu itu menyasar ke hatiku. Jadikanlah hari itu sebagai hari terindah walau itu adalah yang terakhir. Tak apa, Byun Baekhyun akan tetap baik – baik saja.

Terakhir, yang ku ketahui. Genangan air itu makin lama semakin dalam dan semakin berat. Seiring waktu berlalu. Dapatkah aku mengulang waktu itu? Saat aku bisa melindungi tanah itu sebelum terkena pukulan telak Sang Hujan?

-End-

2 thoughts on “Back In Time

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s