With me

seokjinwithyou

Starring : Kim SeokJin [BTS] & OC | Rating : PG-13 | Genre : Fluff, Family, Romance, Comfort | Length : Vignette

Bahagia itu sederhana —aku dan kalian— selama itu ada, aku bahagia

Chuu~~~~

Sebuah kecupan mendarat di dahi Yein, dia yang tertidurpun akhirnya bangun dan langsung menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat apa yang ada dihadapannya. “Memang, putri tidur harus di kecup terlebih dahulu agar dia bangun, bangunlah hari sudah mulai siang.” Ucap Seokjin menyapa pagi Yein. Yein yang masih berbaring di kasur hanya mengulat dan menarik selimutnya kembali bermaksud untuk melanjutkan tidurnya.

Seokjin yang melihat sang istri mulai bermalas-malasan itu menarik tangan Yein untuk bangkit dari tidurnya. “Bangun Yein.” Bukannya malah menuruti perkataan suaminya tersebut, Yein malah bersandaran di bahu Seokjin untuk melanjutkan tidurnya yang terputus, mulai geram dengan tingkah istrinya itu Seokjin akhirnya menggendong sang istri dan membawanya keluar dari kamar tidur.

“Ayah, El ingin makan.”

Baru saja Seokjin keluar dari kamar menggendong Yein dia sudah dihadapkan pada realita anaknya belum sarapan, padahal jam sudah mulai menunjukkan pukul delapan pagi. “Jangan bemalas-malasan Yein, bangunlah.” Seokjin masih berusaha menahan emosi kepada sikap Yein yang sama sekali tidak disukainya.

“El mau makan apa? Ayo kita masak!” ucap Seokjin sembari menggendong anak pertamanya yang mulai tumbuh besar itu ke dapur. “Kaktugi!” El mengucapkan Manu sarapan yang ia inginkan.

“Kaktugi? Bagaimana kalau omurice saja?” seokjin sedang melakukan penawaran menu sarapan kepada anaknya, karena Kaktugi bagi Seokjin adalah menu sarapan yang kurang cocok bagi anak kecil. “Omurice?” El menimang-nimang tawaran dari ayahnya itu dan selang beberapa sekon diapun menganggukan kepalanya seraya menyetujui tawaran Seokjin.

Sesampainya didapur Seokjin mendudukkan El di meja dan setelahnya diapun mulai memasak untuk sarapan El dan tentu saja untuk seluruh keluarganya. Dari ruang keluarga Yein yang masih sedikit merasa ngantuk itu menyunggingkan senyuman melihat betapa Seokjin sangat merawat dan menyayangi anggota keluarganya itu.

Bermaksud untuk kekamar mandi untuk membasuh muka, Yein mendengar suara tangisan Leo, anak kedua Seokjin. Sontak dia mengurungkat niatnya kekamar mandi dan menghampiri anaknya yang masih berumur enam bulan tersebut.

Leo ini memang mirip dengan Seokjin, selalu membuat Yein tersenyum tanpa sebab. Dia menggendong anaknya itu untuk menenangkannya, sesaat setelah dia mendekap permata kecilnya itu, dia mencium bau wangi dari anaknya itu, “Seokjin memandikan Leo?” gumam Yein lirih, “Tumben dia mau memandikan balita,” lanjutnya.

 

Ternyata tak memerlukan waktu lama bagi Seokjin untuk membuat omurice, El yang terlalu semangat itupun langsung menyambar omurice yang dibawa oleh sang ayah, tetapi hal tersebut langsung di cegah Seokjin dengan menggenggam tangan El, El hanya bisa mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan maksud ayahnya. “Cuci tangan dahulu.” Tanpa menunggu komando yang kedua, El-pun langsung meluncur ke wastafel untuk mencuci tangannya.

“Wah Ayah memasak omurice.” Yein menghampiri Seokjin dan El di dapur sembari menimang Leo, Seokjin yang melihat kedatangan Yein dan Leo langsung menghampirinya, seperti biasanya dia langsung menyuruh Yein makan dan mengambil alih komando menimang Leo dari dekapan Yein.

“kau sendiri?”

“Aku menyusul, temani El sarapan, biar Leo denganku duhulu.”

Mau diapa lagi, memang itulah Seokjin, selalu mengutamakan anggota keluarganya dan menduakan urusan pribadinya, hal tersebutlah yang membuat Yein kini merasa malu akibat sikapnya tadi pagi yang sedikit bermalas-malasan tersebut. Seokjin selalu bersemangat jika bermain dengan anak-anaknya, hal tersebut terlihat ketika dia dan Leo sedang bersenda-gurau, tak ada rasa letih maupun mengeluh yang Yein dengar dari mulut Seokjin, yang ada hanyalah sebuah ungkapan-ungkapan rasa syukurnya telah di anugerahi keluarga yang damai.

 

“Makanlah!” Yein menyodorkan sesendok omurice ke hadapan Seokjin, dan Seokjin-pun tak mengacuhkannya, dia menyambar suapan demi suapan yang di berikan Yein, tatapannya selalu menatap Leo tanpa henti. “Bukankah Leo tampan seperti ayahnya?” sebuah pertanyaan terkuak dari bibir Seokjin kepada Yein.

“Leo memang tampan, sama seperti ayah.” El yang telah selesai mencuci tangannya sehabis sarapan yang menjawab pertanyaan sang ayah.

“Siapa El yang tampan? Ayah tidak dengar tadi.”

“AYAH MEMANG TAMPAN!”

Teriak El dan langsung merangkul sang ayah dari belakang, “Itu baru anak ayah.” Sebuah konversasi tersebut membuat decak tawa Yein, “Lalu ibu tidak dianggap?” ucap Yein alih-alih memasang wajah jutek, “Ibu itu cantik apa adanya, cantik cantik cantik.” Ucap Seokjin sembari mencubit pipi kanan Yein.

Ya, Ibu memang cantik, sama seperti El.” El menyambung ucapan Seokjin dan beralih memeluk Yein erat-erat. Semua tindakan Seokjin dan anak tersebut benar-benar membuat pagi Yein ceria.

 

Hari sudah beranjak siang, hari ini kebetulan adalah hari libur bagi Seokjin sehingga dia hanya menghabiskan waktunya bermain dengan kedua anaknya tersebut. Jam kini sudah menunjukan pukul sebelas lebih duapuluh menit, Yein-pun mulai mempersiapkan masakan untuk santap makan siang, ditengah-tengah kegiatan memasaknya Yein dikejutkan oleh tingkah Seokjin, Seokjin memeluk erat Yein dari belakang dan merebahkan kepalanya di bahu kiri Yein seperti sebuah pembalasan atau terdapat niat lain, kini giliran Seokjin yang bermalas-malasan di punggung Yein.

Yein sudah meminta Seokjin menghentikan tingkahnya tetapi sama sekali tidak di gubris. “Aku ingin melihatmu memasak, Yein.” Ucap Seokjin yang semakin mengeratkan pelukannya, “Lepas Seokjin, ini siang anak-anak masih bangun, akupun jadi sulit bergerak.” Ucapan Yein sama sekali tidak digubris oleh Seokjin, sampai pada akhirnya Seokjin terpaksa menghentikan tingkahnya itu karena ia melihat El sedang berlari menuju dapur.

“Ada apa El?” tanya Seokjin menyapa kedatangan El, “Leo menagis yah, tapi El tidak apa-apain Leo yah.” Tukas El sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya tersebut. Seokjin yang mengerti isi hati El bahwa dia takut dimarahi tersebut mengumbarkan senyuman kepada El agar dia bisa tenang.

“Kau lanjut masak saja, biar Leo aku yang urus,” ucap Seokjin memerintah Yein, Yein hanya menganggukkan kepalanya saja, “Ayo kita hampiri Leo,” Seokjin menggendong El dan menuju ruang bermain.

“Ayah, El benar-benar tidak menakali Leo, Leo tiba-tiba saja menangis, Ayah percaya El bukan?” di perjalanan menuju ruang bermain, El terus-terusan mengatakan hal serupa karena dia benar-benar takut kalau-kalau dimarahi.

“Ayah percaya El baik, sudah jangan bersedih, ayah dan ibu tidak akan memarahi El.”

Mendengar perkataan sang Ayah, El langsung-langsung memeluk erat Seokjin. Sesampainya di ruang bermain Seokjin menghampiri Leo, ternyata permasalahannya adalah popok Leo basah sehingga membuat Leo merasa tidak nyaman, dengan sigap Seokjin mengganti popok Leo.

“Leo kenapa?” Yein yang telah selesai memasak menghampiri Seokjin di ruang tamu. Melihat kehadiran Yein, El langsung mengumpat di belakang punggung Seokjin, ternyata dia memang benar-benar takut kalau ibunya akan memarahi El habis-habisan. “El dengarkan ayah, ayah dan ibu tidak akan memarahi El kalau El memang tidak bersalah.” Seokjin berusaha menenangkan El, tetapi tetap saja El terus mengumpat di punggung Seokjin sampai pada akhirnya Yein yang menenangkan El sampai dia merasa sedikit tenang.

Kini semua keluarga Seokjin sudah makan siang dan kedua anaknyapun kini tengah terlelap pulas tidur siang, meninggalkan Seokjin dan Yein saja yang masih terjaga. Yein yang tengah asyik menonton acara televisi kembali dirusuhi oleh Seokjin, secara mendadak Seokjin berbaring di paha Yein dan terus-menerus mengamati Yein lamat-lamat. “Seokjin hentikan!” seperti tadi, celotehan Yein tidak ditanggapi oleh Seokjin, “Kau kelihatan lelah Yein,” ucap Seokjin sembari membelai surai sang istri.

“Aku tidak lelah Seokjin, aku justru malu jika aku mengeluh lelah, karena kamu yang sesungguhnya lebih letihpun tak pernah mengeluh kalau kau merasa letih.” Ucapan Yein tidak direspon dengan kata-kata, Seokjin malah hanya menatap Yein sembari terus membelai surai istrinya.

“Terim………..” ucapan Yein terhenti begitu Seokjin bangkit dan langsung merebahkan Yein.

“Terima kasih Yein, kau telah memberikan banyak cinta untukku, dan kau berikan kebahagiaan untukku tetaplah bersamaku.” Ucapan Seokjin diakhiri oleh sebuah ciuman di bibir Yein.

 

fin.

4 thoughts on “With me

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s