Dear Crush [Part 1]

DEAR CRUSH - Mark,Mijoo,Seunghoon

Dear Crush

By Joonisa

STARRING:

LOVELYZ Mijoo

GOT7 Mark

WINNER Seunghoon

And other support casts…..

Romance, Friendship, AU | Twoshots |PG-15

Disclaimer: I just own the plot and the idea, not the character except Mark *haha*

Mark memegang erat tali tas ranselnya yang terayun kesana kemari. Sepatu kets branded kesayangannya semakin keras beradu dengan lantai marmer milik lorong kampus. Sembari mengatur nafasnya, tubuh Mark meliuk dengan gesit agar tidak menabrak mahasiswa lain. Kata ‘permisi’ dan ‘maaf’ berulang kali diucapkan Mark agar para mahasiswa yang berada di lorong itu memberikannya jalan.

“Mijoo!!!” tanpa sadar Mark berteriak begitu sepasang manik matanya menemukan sosok yang dicarinya. Belasan pasang mata langsung menatap tajam ke arah Mark, bahkan beberapa ada yang berdecak dan menempelkan jari telunjuk ke depan bibir.

Namun Mark seolah tak peduli. Ia masuk ke perpustakaan, mendatangi Mijoo dan langsung menarik pergelangan tangannya tanpa memberi Mijoo kesempatan untuk bertanya. Mijoo hanya bisa pasrah mengekor di belakang Mark.

“Mijoo, Seunghoon dalam bahaya!” ucap Mark saat mereka sudah berada di luar perpustakaan. Mijoo mendengus kesal saat Mark menyeretnya sambil berlari.

“Ada apa lagi?”

“Kang Haneul – kakaknya Seulgi, mendatangi Seunghoon di taman belakang kampus.”

Mijoo menyentak tangan Mark, membuat Mark menghentikan langkahnya, “Lalu di mana letak bahayanya?”

Mark menghembuskan nafasnya kuat-kuat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Mijoo yang membuat mata Mijoo hamper keluar dari tempatnya.

“Seulgi… katanya dia hamil.”

Tanpa basa-basi Mijoo langsung menjitaki kepala Mark tanpa ampun.

“Astaga Lee Mijoo – aduh SAKIT! Hentikan perbuatanmu dasar nenek sihir!” Tangan Mark berusaha menangkap tangan Mijoo yang semakin ganas memangsa kepalanya. Mijoo akhirnya berhenti memangsa kepala Mark saat Mark memiting lehernya.

“Kenapa kau harus buang-buang waktu untuk mencariku di perpustakaan? Kau ‘kan bisa menelponku!”

“Lebih baik kita cari Seunghoon sekarang daripada kita bertengkar di sini!”

“AYO!”

Mijoo langsung berlari menuju ke taman belakang kampus, meninggalkan debat kusir serta Mark yang memasang tampang cengo melihat kecepatan berlari Mijoo.

“Mijoo! Tunggu aku!”

 

*** Dear Crush***

 

Suasana klinik kampus begitu sepi. Hanya ada empat orang di sana – satu orang perawat yang sedang piket jaga dan tiga orang mahasiswa yang kemana-mana selalu bertiga bagaikan the three idiots di kampus. Oke ralat, bukan the three idiots, tapi Geng Harry Potter – karena satu dari tiga orang itu adalah seorang wanita.

“Awh! Mijoo, bisa lembut sedikit tidak? Aku ini sedang terluka!” Seunghoon merintih dengan suara manja yang dibuat-buat. Alih-alih menurutinya, Mijoo sengaja menekan lebih kuat luka yang ada di tulang pipi Seunghoon.

“Mana mungkin nenek sihir ini bersikap lembut padamu setelah kau dikabarkan menghamili Seulgi.” Ucap Mark santai, mengabaikan tatapan sadis Mijoo. “Perasaan kau baru seminggu berkencan dengannya, kenapa dia bisa langsung hamil?”

“Dia itu tidak hamil, Mark! Dia hanya kesal padaku setelah kencan kami minggu lalu gagal, itu saja.” Sungut Seunghoon. Ia melirik Mijoo dari ujung matanya untuk melihat ekspresi gadis itu. Alis Mijoo bertaut dan bibirnya melengkung ke bawah. Mark yang berada di sebelah Seunghoon ikut-ikutan mengamati Mijoo. Ia tahu betul, kalau wajah Mijoo sudah seperti itu, beberapa menit kemudian pasti dia akan menangis.

Sejenak suasana menjadi hening. Hanya ada suara rintihan kecil yang keluar dari bibir Seunghoon saat lukanya menyerap cairan antiseptik yang dioleskan oleh Mijoo. Baik Mark maupun Seunghoon sama-sama tidak ada yang berani buka suara, takut kalau Mijoo menangis akibat kesalahan kata yang lolos dari bibir mereka.

Merasa tidak nyaman dengan suasana yang tercipta, tiba-tiba muncul sebuah ide di otak Mark. Mark mengeluarkan ponsel dari kantongnya dan memasang wajah panik.

“Astaga aku sampai lupa! Ada janji mau menelpon Ayah! Aku pergi duluan ya, bye.”

Mark bergegas meninggalkan klinik setelah melambai sekilas pada Mijoo dan Seunghoon. Sesampainya di luar klinik, Mark menghentikan langkahnya lalu menempelkan telinganya di dinding. Sebuah senyum tersungging di bibirnya, membuat wajahnya yang tampan menguarkan rona bahagia.

“Semoga saja ada yang mengutarakan perasaannya. Happy ending, YEAH!

 

*** Dear Crush***

 

Di dalam klinik…

Seunghoon mendadak bingung dengan kepergian Mark yang tiba-tiba. Setahunya, Mark hanya melepon ayahnya pada malam hari. Seunghoon berniat bertanya pada Mijoo untuk menanyakan apakah ada yang disembunyikan oleh Mark. Begitu ia menoleh ke arah Mijoo, ia menemukan Mijoo sedang mengusap pipinya yang basah akibat jejak air mata.

“Mijoo, kau kenapa?” Seunghoon mendekatkan wajahnya pada Mijoo , “Kau sedih karena Mark pergi?”

PLAK!!!

Belum lagi luka akibat pukulan dari Kang Haneul sembuh, kali ini pipinya Seunghoon mendapat tamparan dari Mijoo. Seunghoon memegangi pipinya yang terasa berdenyut. Sakitnya memang tidak seberapa, tapi karena orang yang menamparnya adalah Lee Mijoo, rasa sakitnya jadi berkali-kali lipat bahkan sampai ke hati.

“Kau… bisa tidak kau gunakan otak dan perasaanmu secara sinkron? Mana mungkin aku menangisi kepergian Mark!”

“Lalu?”

Mijoo mengembuskan nafas. Baginya ini adalah nafas terberat karena sebuah rasa yang membuat paru-parunya terasa sesak, sehingga kapanpun ia menghela nafas, rusuknya sampai terasa sakit.

Rasa itu bernama cemburu.

Ya, dia begitu cemburu saat mendengar Seunghoon berhasil mengajak kencan salah satu gadis terkenal di kampus bernama Kang Seulgi. Setiap saat Seunghoon selalu membicarakan Seulgi – memuji kecantikannya, rambut panjangnya yang indah, tubuhnya yang ideal, cara berjalan yang anggun, dan hal lainnya. Seunghoon terlihat sangat memuja gadis itu dan tentu saja Mijoo tidak suka. Sayangnya, Mijoo terlampau menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita. Dia tidak sanggup mengatakan secara blak-blakan kalau dia cemburu.

“Pikir saja sendiri!”

Mijoo menarik kasar tasnya yang ada di kasur klinik yang lain lalu pergi meninggalkan Seunghoon. Air matanya sudah tak dapat ditahan lagi. Mijoo menangis sejadi-jadinya sambil berjalan menunduk, menyembunyikannya dari tatapan orang-orang.

“Seunghoon bodoh bodoh bodoh!!! Kenapa aku menyukai pria bodoh sepertimu? Kenapa harus Seung – YA!”

Seseorang menarik tangan Mijoo, membuat Mijoo terperanjat dan spontan berteriak. Namun saat Mijoo melihat siapa yang menariknya, alisnya bertaut.

“Mark? Bukannya tadi kau – “

“Ssssttt!” Mark menempelkan telunjuk ke depan bibirnya, memotong pertanyaan Mijoo. Ia lalu mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Mijoo. Mijoo menerimanya dengan tatapan bertanya.

“Baru saja dicuci. Pakai saja, wajahmu jadi jelek kalau basah apalagi ditambah ingus.”

Dengan alis berkerut Mijoo menggunakan saputangan itu untuk mengelap air matanya, kemudian membersihkan ingus dari hidungnya. Alis Mark sampai berjengit saat melihat apa yang dilakukan oleh Mijoo.

“Dasar Seunghoon bodoh!” gerutu Mijoo. Meskipun pelan, Mark masih dapat mendengarnya dengan jelas.

“Seunghoon itu bukannya bodoh, dia hanya kurang peka,” Mark mengalungkan lengannya ke leher Mijoo tapi dengan sigap Mijoo menepisnya

“Jelas saja kau membela sahabatmu!” tuding Mijoo sambil berjalan, meninggalkan Mark semakin jauh di belakangnya.

“Hei, kalian berdua itu sahabatku! Aku tidak berpihak pada siapapun, Mijoo! Hei – Astaga! LEE MI JOO TUNGGU AKU!!!”

Mark berlari menyusul Mijoo. Ia langsung menjitak kepala Mijoo saat berhasil menjajarinya. Mijoo tentu saja tidak tinggal diam, ia langsung membalas jitakan Mark tanpa ampun. Tentu saja, untuk urusan jitak-menjitak, tidak ada yang bisa mengalahkan Mijoo. Tapi Mark sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ia membiarkan Mijoo meluapkan amarahnya karena Seunghoon yang amat tidak peka kalau Mijoo menyukainya.

Seunghoon keluar dari klinik kampus saat Mark meneriakkan nama Mijoo. Ia lalu mellihat Mark menjitak kepala Mijoo, lalu Mijoo membalasnya. Ia juga melihat Mijoo yang akhirnya berhenti menjitaki kepala Mark, lalu mereka tertawa bersama sambil berjalan beriringan hingga menghilang di balik gerbang kampus. Seunghoon melipat tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nah, benar kan’? Mijoo menangis karena Mark pergi. Buktinya, setelah menemukan Mark, mereka pulang bersama. Jadi, di mana letak kesalahanku?”

 

*** Dear Crush***

“Seunghoon.”

Seunghoon yang sedang duduk di kursi yang ada di taman kampus mencabut earphone yang ada di telinga kanannya setelah mendapat sebuah tepukan di pundak. Ia menoleh dan menemukan Mark dengan ekspresi serius di wajahnya.

“Ada apa?”

Mark melirik buku tebal yang ada di depan Seunghoon, “bisa bicara sebentar?”

“Duduklah. Aku hanya latihan listening. Maklum, bahasa Inggrisku pas-pasan.”

Mark tersenyum kecut lalu duduk di sebelah Seunghoon. Seunghoon memang lemah dalam bahasa Inggris dan Mark adalah kebalikan darinya, tapi untuk yang lain, ia sedikit lebih unggul dari Mark.

“Ini… tentang Mijoo.” Mark ragu-ragu membuka percakapan.

“Mijoo?” Seunghoon mengerutkan alis. “Ada apa dengannya?”

“Kau tidak sadar kalau Mijoo menyukaimu?”

Seunghoon menaikkan alisnya, “Mijoo menyukaiku? Mijoo? Lee Mijoo?”

Mark memutar bola matanya, “reaksimu berlebihan, Seunghoon.”

Seunghoon mengusap wajahnya. Ia merasa takjub, bahkan hampir tak percaya dengan perkataan Mark. Tapi jika mengingat sifat Mark yang tidak pandai berbasa-basi dan tidak pandai berdusta, ia memilih untuk memercayainya sekalipun hal itu membuatnya geli.

“Kupikir dia suka padamu, Mark. Karena kalian terlihat – ”

“Tidak, dia suka padamu!” Mark memotong perkataan Seunghoon. “Dan kelakuanmu yang selalu meminta saran padanya saat berkencan dengan gadis yang bergonta-ganti membuatnya frustasi.”

Seunghoon terdiam selama beberapa saat. Ia menatap Mark dalam-dalam, seolah apa yang dikatakan Mark adalah hal paling mustahil di dunia. Melihat wajah Mark yang serius dan sedikit tampak kesal, Seunghoon akhirnya yakin kalau Mark sedang tidak bercanda.

“Mark, ehm… begini,” Seunghoon mengubah posisi duduknya, “Gadis seperti Mijoo tidak masuk dalam hitunganku.”

“Hah?”

“Aku hanya menganggap Mijoo sebagai sahabat. Aku tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita.”

Nafas Mark terasa berat. Ia berkali-kali menghela nafas, tapi tidak lantas membuat paru-parunya merasa lega. Ia lalu menunduk dan memejamkan mata.

“Seunghoon, kalau Mijoo tahu hal ini, dia pasti akan merasa lebih patah hati.”

“Aku tahu, Mark. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang tidak suka padanya, kok. Lebih baik aku jujur daripada harus member harapan kosong, bukan?”

Mark kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu harus merasa sedih atau senang. Kenyataan kalau Seunghoon tidak menyukai Mijoo memiliki arti kalau cinta Mijoo tidak berbalas, Mijoo akan sakit hati dan mungkin akan menangis berhari-hari. Tapi hal itu juga berarti Mark masih memilliki kesempatan.

Ya, karena tanpa siapapun tahu, Mark menyukai Mijoo sejak lama.

To Be Continue

Hola readers FKI lama ga ketemu :D akhirnya update lagi di sini. Seperti biasa, dimohon tinggalkan jejak berupa komen ya setelah baca. Thank You

 

4 thoughts on “Dear Crush [Part 1]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s