(Chapter 8) Find Love To Find Life (F.L.T.F.L)

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-img1397901424739.jpg

wpid-1424598564576.jpg

Title : Find Love to Find Life Chapter 8

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, Fantasy

Cast :

* Jung Hyunji (OC)

* Min Yoongi / Suga (BTS)

* Seok Jin Ah / Jin (BTS)

* Jung Ho Seok / J-Hope (BTS)

* Yoon Bo Mi / Bomi (A Pink)

* Son Naeun (A Pink)

* Park Ji Min (BTS)

* Oh Hayoung (A Pink)

* Jeon Jeong Guk / Jungkook (BTS)

* Kim Tae Hyung (BTS)

* Kim Nam Joon (BTS)

* Kim Sunkyung as Queen Soye

* Son Naeun / Han Yeonmi (A-Pink)

* Cho Seongha as King Jeongjo

Annyeong readersdeul…….

Akhirnya tinggal 1 part lagi ff ibi berakhir. Untuk episode terakhir author akan membuat dua versi yaitu Clear version (Non NC) dan dirty version (NC)ditunggu ya…..

Gomawo readersdeul yang sudah setia mengikuti ff ini.

Tolong komennya ya!!!!!

Happy reading >_<

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

Naeun duduk di depan cermin. Kedua tangannya menyisiri rambutnya yang panjang tergerai. Meskipun tangannya terus menyisir rambut tapi mata Naeun terlihat sedang melamun tak menatap kearah bayangan dirinya di cermin.

“Apa Suga menyukai gadis itu?” Gumam Naeun.

Bayangan Suga yang tak melepaskan tatapannya dari Hyunji sangat mengganggu Naeun. Ingatan Naeun sudah kembali dan perasaannya pada Sugapun kembali. Naeun menatap wajahnya di cermin. Wajahnya tidak berubah masih sama seperti dulu. Masih sama dengan pengantin Suga.

“Apakah perasaanmu padaku sudah hilang Suga?” Sedih Naeun.

Gadis itu menghela nafas. Memikirkan Suga sudah melupakannya membuat hati Naeun terasa sakit. Naeun tidak rela jika Suga menyukai gadis lain selain dirinya. Perasaan menyesal merasuki hati Naeun. Gadis itu menyesal tidak kembali lebih cepat agar Suga tidak bertemu dengan Hyunji.

“Apa yang sedang kaupikirkan Naeun-ah?”

Naeun mendongak dan melihat J-hope berdiri di belakangnya.

“Tidak ada Oppa.” Naeun berkata seraya tersenyum tipis.

J-hope menunduk dan mengecup puncak kepala Naeun.

“Apa yang membuat Oppa menyusulku ke istana ini?”

J-hope tersenyum dan melihat wajah Naeun di cermin.

“Aku ingin melihatmu. Kudengar Jin ikut kemari, apa kau tidak mau menemuinya.”

“Tidak. Suga akan curiga jika aku bertemu dengn Jin Oppa.”

“Sebentar lagi dia akan kemari. Kau tak perlu cemas Jin akan melindungimu seperti aku juga akan melindungimu.”

J-hope menyentuh kedua bahu Naeun dan meremasnya lembut.

“Aku akan pergi.”

Naeun menahan kedua tangan J-hope.

“Ada apa Naeun-ah?”

Naeun menarik tangan J-hope dan menempelkannya di pipi. Matanya terpejam merasakan kehangatan di tangan J-hope.

“Aku hanya merindukanmu Oppa.”

J-hope tersenyum senang.

“Tidak biasanya kau bersikap manja seperti ini Naeun-ah.”

Naeun hanya tersenyum menanggapi ucapan J-hope. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat. Naeunpun melepaskan tangan J-hope.

“Aku harus pergi.”

“Ne.”

Dengan cepat J-hope menghilang dari balik jendela. Tak berselang lama pintupun terbuka. Wajah Naeun tampak terkejut melihat dari cermin Jin memasuki kamarnya. Naeunpun berdiri lalu berbalik menghadap Jin yang masih mematung di tempat.

“Jin Oppa?” Panggil Naeun tak percaya.

“Kau mengingatku?”

Naeun mengangguk menjawab pertanyaan Jin. Dengan langkah cepat Jin meraih Naeun ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk erat gadis itu seakan tak ingin melepaskannya.

“Aku senang melihat kau kembali Naeun-ah. Kau terlihat sangat sehat. Apa J-hope merawatmu dengan baik?” Jin melepaskan pelukannya dan melihat tubuh Naeun.

“Ne. J-hope Oppa merawatku dengan baik.”

Tangan Jin menyentuh pipi Naeun dan wajahnyapun berubah sedih.

“Maafkan aku tak bisa menolongmu dari Jungkook.”

“Tak perlu menyesal seperti itu Oppa. Hal itu sudah berlalu.”

“Kau benar. Kau sudah bertemu tuan Suga, apa kau akan benar-benar kembali padanya?”

Tubuh Naeun mematung mendengar pertanyaan itu. Gadis itu tak dapat memungkiri jika dia masih menyukai Suga tapi setelah apa yang dilakukan J-hope padanya dan semua perhatian yang diberikan padanya hati Naeun pun semakin lama semakin menyukai laki-laki itu.

“Entahlah Oppa.”

Jin memicingkan mata melihat adiknya.

“Ada apa Naeun-ah? Bukankah kau sangat menyukai tuan Suga? Apakah kau menyukai J-hope? Apa karena itu kau jadi bingung?”

Naeun terkejut menatap kakaknya yang mengetahui perasaanya.

“Jadi benar kau menyukai J-hope?”

Naeun pun mengangguk lemah.

“Perasaanku pada Suga tidak hilang Oppa, hanya saja entah bagaimana J-hope Oppa berhasil mengisi hatiku. Tapi melihat Suga sekarang dia sudah berubah Oppa, dia…. Dia tidak mencintaiku lagi.”

“Apa maksudmu Naeun-ah. Tuan Suga tentu saja masih mencintaimu.”

“Tapi gadis itu sudah merebut tempatku Oppa?”

“Gadis itu? Maksudmu Hyunji?”

“Ne.”

Jin menghela nafas dan memegang kedua bahu adiknya.

“Tuan Suga tidak akan mudah melupakanmu Naeun-ah. Tapi apapun pilihanmu pikirkanlah baik-baik Oppa berjanji akan selalu melindungimu.

Naeun tersenyum dan kembali mengangguk. Jin membalas senyuman Naeun dan mengelus rambut Naeun yang tergerai indah.

“Oppa. Bagaimana kau bisa tahu J-hope Oppa menolongku?”

“Ingatlah kita kembar Naeun-ah. Tentu saja aku merasakan dimana kau berada. Istirahatlah. Aku akan kembali ke kamarku.”

“Ne. Gomawo Oppa.”

Naeun menatap Jin yang berjalan keluar dari kamarnya. Sampai di pintu Jinpun menoleh dan tersenyum pada adiknya sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu.

 

*   *   *   *   *

 

Seungjo berjalan melewati lorong sebuah isatana. Langkahnya yang cepat membawanya hingga menuruni tangga menuju ke bawah. Langkahnya terhenti sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti penjara.

“Tuan Jinpyeong.” Seungjo menunduk memberi hormat pada laki-laki yang sedang bermeditasi.

Rambut hitamnya memanjang dan janggutnya yang tanpa sengaja dipelihara sudah memanjang. Jinpyeong membuka matanya dan tersenyum melihat Seungjo. Diapun berdiri dan menghampiri pintu.

“Apa kau sudah menyampaikan pesan itu pada Jeongjo?”

“Benar tuan, saya sudah memberitahunya dan raja Jeongjo percaya dengan yang kukatakan. Tuan tenang saja saya tidak memberitahu pengaruh gerhana itu pada mantra di sini.”

Jinpyeong tersenyum puas mendengar ucapan Seungjo.

“Kenapa kau ingin membantuku Seungjo-ya? Sekarang ini aku bukan lagi menjadi raja.”

“Tapi bagiku andalah raja yang tepat tuan. Raja Jeongjo sangat kejam dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sudah banyak dewa yang mati karena menentangnya. Karena itu aku akan melakukan segala cara untuk membantu anda yang mulia.”

“Terimakasih Seungjo-ya. Dengan memundurkan hari gerhana matahari membuat Jeongjo tidak bisa mempersiapkan apapun.”

“Tapi setelah bebas anda harus segera ke istana matahari tuan karena tuan Suga berada di sana.”

“Suga?”

“Ne dan raja Jeongjo berencana ingin membunuhnya.”

Tangan Jinpyeong terkepal mendengar ucapan Seungjo.

“Jangan biarkan Jeongjo menyakitinya Seungjo-ya.”

“Ne tuan. Ratu Soyepun juga akan melindunginya.”

“Aku akan merebut kembali apa yang dia rebut dariku.” Ucap Jinpyeong penuh dengan ambisi.

 

*   *   *   *   *

 

“Ini yang mulia.” Ucap seorang laki-laki menyerahkan sebuah guci kecil pada raja Jeongjo.

Raja Jengjo mengambil guci itu dan tersenyum puas.

“Apa racun ini akan bekerja?”

“Benar yang mulia. Saya sudah mencobanya dan racun itu bisa bekerja.”

Raja Jeongjo tertawa puas mendengarnya.

“Kerja bagus. Suga tidak akan bisa mengendalikan racun ini.”

“Suga. Maksud anda racun ini untuk tuan Suga sang dewa air?”

Raja Jeongjo menatap laki-laki itu dengan tatapan curiga.

“Kenapa? Apa kau tak menyukainya?”

Laki-laki itupun menunduk ketakutan.

“Ti-tidak yang mulia.”

“Ingat hukumannya jika kau mengkhianatiku. Kau mengerti?”

“Baik yang mulia.” Laki-laki itupun menunduk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan raja Jeongjo.

Raja Jeongjo menatap guci putih itu.

“Sudah saatnya mengalahkanmu Suga.” Ucap raja Jeongjo tersenyum penuh arti.

 

*   *   *   *   *

 

Langkah-langkah kecil Hyunji membawa gadis itu menyusuri istana matahari. Karena gadis itu tak menemukan Jungkook, diapun memutuskan berjalan sendiri. Hyunji mengedarkan pandangannya menikmati pemandangan istana. Entah mengapa Hyunji merasakan pernah melewati istana yang lebih indah dari istana ini. Istana itu penuh dengan rerumputan hijau dan dihiasi bunga-bunga dengan berbagai warna. Berbeda sekali dengan istana matahari yang begitu tandus.

Langkah Hyunji terhenti saat melihat sebuah pintu terbuka. Gadis itupun mendekati pintu itu dan melengok ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu penuh dengan rak buku yang terjejer rapi. Dengan ragu Hyunjipun melangkah masuk. Dia mengelilingi rak demi rak. Tak jarang gadis itu mengambil satu buku dan membuka-bukanya.

“Hyunji-ya.” Sebuah panggilan mengagetkan Hyunji membuat gadis itu hampir saja menjatuhkan buku yang di pegangnya.

Hyunji melihat seorang anak kecil yang dilihatnya saat makan bersama. Hyunji ingat Jungkook menyebutnya ‘Suga’ sang dewa air. Gadis itupun juga ingat janjinya pada Jungkook untuk tidak mendekatinya. Hyunji melangkah mundur membuat Suga bingung.

“Kenapa kau takut padaku Hyunji? Ini aku Suga.” Ucap Suga mendekati Hyunji.

“Jangan mendekat.”

“Ada apa Hyunji-ah? Apa kau melupakanku? Ini aku Suga dan kau adalah calon pengantinku.”

“Pembohong.” Mata Suga melebar mendengar Hyunji tak mempercayainya.

“Aku tahu siapa kau. Jadi jangan mendekatiku lagi. Jungkook Oppa sudah mengatakan semuanya.”

“Jungkook?”

“Ne. Aku bukanlah calon pengantinmu, tapi aku calon pengantin Jungkook Oppa.”

Tubuh Suga membeku mendengar Hyunji lebih memilih percaya pada Jungkook daripada dirinya. Hyunji segera berlari menjauhi Suga sedangkan laki-laki itupun hanya bisa menghela nafas karena tahu itu bukanlah Hyunjinya.

Tiba-tiba terdengar suara tawa. Sugapun menoleh dan mendapati V tertawa terpingkal-pingkal.

“Apa yang kau tertawakan huh?” Kesal Suga.

“Baru kali ini aku melihatmu ditolak calon pengantinmu.”

“Itu karena dia bukanlah Hyunjiku.”

Tawa V terhenti lalu diapun mendekati Suga yang berjalan meninggalkannya.

“Apa maksudmu dia bukan Hyunji? Jelas-jelas aku melihat dia benar-benar Hyunji. Kaupikir aku buta eoh?”

Langkah Suga terhenti dan tampak kesal mendengat ocehan V.

“Tubuhnya memang tubuh Hyunji tapi jiwanya bukan. Seseorang sudah memberinya ramuan penakluk yang membuat Hyunji melupakanku.”

“Seseorang? Siapa?”

“Jungkook.”

“Maksudmu tabib istanamu itu?”

Suga mengangguk.”Ne. Karena itulah Hyunji tak mengingatku.”

“Sepertinya kau terkena balasan Suga.”

“Balasan? Apa maksudmu.”

“Akhirnya kau merasakan apa yang Bomi rasakan.”

Suga memandang V debgan tatapan tak mengerti.

“Kau pasti tahu Bomi sangat menyukaimu. Dan sekarang kau tahu bagaimana rasanya orang yang kau suka tidak memiliki perasaan seperrtimu. Itulah yang dirasakan Bomi selama ini.”

Suga terdiam mengingat Bomi. Dewi petir sangatlah baik meskipun bagi orang yang baru mengenalnya dia terlihat jahat tapi sebenarnya Bomi memiliki hati yang baik. Dia selalu menolong Suga saat dia membutuhkannya tapi Suga tak pernah sedikitpun memandang Bomi sebagai seorang wanita yang bisa saja dia cintai.

“Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini karena Bomi melarangku.” Ucap V menyadarkan Suga.

“Sebenarnya orang yang membuat Hyunji dibakar oleh orang desa dan yang sudah mengubah jalur pulang kalian hingga ke daerahku itu bukanlah Bomi pelakunya.”

Suga tampak terkejut mendengar ucapan V.

“Jika bukan Bomi yang melakukannya? Lalu siapa?”

“Jungkooklah yang melakukannya.”

Suga semakin terkejut mendengar nama Jungkook kembali yang mengkhianatinya. Selama ini Suga selalu mempercayai Jungkook tapi ternyata Tabib istananya itu tidaklah sebaik yang dipikirkannya.

“Sepertinya kau berhutang maaf pada Bomi.” Ucap V kembali.

“Kenapa Bomi tidak menyangkalnya.”

“Karena apapun yang Bomi katakan, kau tidak akan mempercayainya. Karena itulah dia membiarkanmu mengetahuinya sendiri.”

Suga ingat betapa dinginnya dia pada Bomi setelah menyalahkan gadis itu. Diapun juga ingat wajah sedih Bomi setelah menerima sikapnya. Perasaan bersalahpun menelusup ke hati Suga. Diapun bertekad akan meminta maaf setelah kembali ke istana air.

“Kau ingat ramuan yang diberikan Bomi sebelum kau kemari?”

“Ne.”

“Bawalah kemanapun kau pergi. Raja Jeongjo sedang merencanakan ingin membunuhmu karena itu ratu Soye meminta Bomi membuat ramuan penawar itu.”

“Raja Jeongjo ingin membunuhku? Tapi mengapa dia ingin melakukannya?”

“Entahlah Suga aku juga tidak tahu. Tapi aku akan melindungimu demi Bomi. Aku harus sembunyi sebelum raja Jeongjo mengetahui keberadaanku.”

V seketika menghilang meninggalkan Suga yang penuh kebingungan.

 

*   *   *   *   *

 

Hyunji duduk di tengah taman istana. Tatapannya yang kosong menunjukan gadis itu tengah melamun. Hyunji mengingat pertemuannya dengan Suga saat dewa air itu datang pertama kali di istana matahari. Hyunji ingat laki-laki itu terus menatapnya membuat gadis itu salah tingkah. Hyunji merasakan perasaan yang kuat pada laki-laki itu namun dia tidak ingat siapa Suga.

 

Suga lebih memilih gadis yang berada disampingnya dan menyingkirkanmu.

 

Hyunji ingat gadis cantik yang duduk di samping Suga. Hyunji merasa tidak menyukai gadis itu. Benarkah alasannya karena Suga lebih memilihnya. Tapi Hyunji tidak ingat kejahatan yang dilakukan Suga. Jika benar Suga menyingkirkannya seharusnya Hyunji memiliki rasa benci pada laki-laki itu. Tapi entah mengapa Hyunji tidak membencinya tapi gadis itu sebenarnya ingin berada di dekatnya.

Hyunji memukul-mukulkan kepalanya penuh frustasi karena tak bisa mengingat apapun.

“Suga… Yoon…. Suga…. Yoon…” Hyunji terus mengulang nama Suga dan Yoon berharap dengan menyebut namanya dia bisa ingat apa yang terjadi.

“Suga….” Saat menyebut nama Suga tiba-tiba sebuah bayangan melintas di pikirannya.

 

Sebuah tangan melepaskan cengkraman laki-laki itu. Hyunji menoleh dan terkejut melihat Yoon berdiri di sampingnya lalu menarik tubuh Hyunji ke dalam dekapannya.
“Berani sekali kau menyentuh calon istriku?” Ucap Yoon menatap tajam laki-laki itu.

 

“Yoon?” Ucap Hyunji mengingat bayangan itu. Lalu bayangan lain kembali merasuki pikiran Hyunji.

 

Hyunji terkekeh sendiri melihat hasil gambarnya. Terganggu dengan suara Hyunji, Suga menoleh.

“YA! Apa yang kau gambar huh?” Teriak Suga mengagetkan Hyunji.

“Sulit sekali membuat kaligrafi, lebih mudah menggambarmu saja.”

Suga mendengus kesal terganggu dengan gambaran Hyunji yang lebih mirip seorang badut dibandingkan dirinya.

“Jelek.” Suga mencoret-coret gambar Hyunji hingga menjadi bulatan hitam.

“YA!! Itu gambaranku.”

“Sangat jelek.”

Hyunji mendengus kesal. Gadis itu mencelupkan kembali kuasnya dan membuat bulatan hitam yang sama di tulisan Suga.

“Tulisanmu juga jelek. Weeekk..” Hyunji menjulurkan lidahnya.

Suga terkejut melihat tulisan indahnya sekarang menjadi bulatan hitam besar yang acak-acakan.

“Jadi kau ingin balas dendam ne? Rasakan ini.” Suga mencoretkan kuasnya di pipi Hyunji.

“Lihatlah wajahmu sekarang.” Suga tertawa melihat wajah Hyunji dengan coreng hitam di pipinya.

Tawa Suga terhenti saat merasakan goresan di pipinya.

“Rasakan itu.”

Akhirnya timbulah perang tinta yang membuat wajah dan pakaian mereka berwarna hitam. Mereka tertawa saat saling melihat wajah mereka yang terkena tinta hitam.

 

Hyunji terus berjalan menyusuri jalanan istana hingga akhirnya langkahnya terhenti saat melihat Yoon menunggunya di jembatan. Posisi Yoon yang membelakangi membuat lelaki itu tak menyadari kedatangan Hyunji. Yoon menoleh mendengar suara langkah kaki mendekat. Kedua sudut bibirnya melengkuk membentuk senyuman saat tatapannya bertemu dengan Hyunji.

“Yoon? Apa yang kaulakukan di sini?”

“Menunggumu.”

“Menungguku?”

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Hyunji terdiam mengamati wajah Yoon berusaha mencari tahu apa yang ingin laki-laki itu katakan.

 

Bayangan masa lalu Hyunjipun mulai terkuak. Gadis itupun mulai mengingat siapa Yoon ataupun Suga. Hyunji ingat terakhir kali dia bersama Jungkook dan gadis itu yakin Jungkook sudah memberikannya ramuan yang membuatnya melupakan Suga.

“Hyunji-ah.”

Hyunji menoleh dan melihat Jungkook menghampirinya. Hyunji menatap Jungkook penuh kebencian.

“Jangan mendekat!” Hyunji berdiri dan bersikap waspada membuat Jungkook berhenti melangkah dan menatap Hyunji bingung.

“Ada apa Hyunji-ah.”

“Berhentilah memanggilku seperti itu Jungkook-ssi.”

Bibir Jungkook menyunggingkan senyuman sinis membuat Hyunji semakin waspada.

“Jadi kau sudah sadar?”

Hyunji berjalan mundur saat Jungkook mulai mendekatinya.

“Tapi aku tidak akan semudah itu melepaskanmu Hyunji.”

Jungkook menarik tangan Hyunji menahan gadis itu.

“Apa kau tahu, aku sangat menikmati kebersamaan kita, bagaimana jika kau mengikutiku? Suga sudah memilih Naeun, dan kau tidak akan memiliki tempat di hati Suga.”

“Naeun?”

“Ya. Gadis bernama Yeonmi itu adalah Naeun.”

“Tapi bukankah dia….”

“J-hope menyelamatkannya lalu J-hope menggunakan Naeun untuk menghancurkan Suga. Jadi ikutlah denganku.”

Hyunji menatap Jungkook yang tengah tersenyum berusaha merayu Hyunji.

“Shirreo. Aku menyukai Suga. Aku tidak akan meninggalkannya.”

Hyunji berusaha menepis tangan Jungkook namun sayang genggaman laki-laki itu terlalu kuat.

“Jika kau tidak mau. Aku akan memaksamu. Karena kau adalah umpanku.”

“Umpan?”

“Lepaskan dia Jungkook-ah.” Terdengar sebuah suara yang mengalihkan perhatian mereka.

“Suga.” Panggil Hyunji melihat Suga berdiri tak jauh dari mereka dengan Jin yang berdiri di belakangnya.

“Sudah kuduga kau akan menyelamatkannya.”

Hyunji menatap Jungkook bingung.

“Kau adalah umpan yang tepat untuk membuat Suga datang padaku Hyunji-ah.”

Jungkook menoleh dan tersenyum pada Suga.

“Tapi tidak semudah itu aku akan melepaskannya Suga.”

Jungkook menarik Hyunji kedalam dekapannya dan menodongkan pisau belati di leher gadis itu. Suga mengepalkan tangannya melihat Jungkook menahan Hyunji.

“Tak akan kubiarkan kau menyakitnya.”

Terdengar tawa Jungkook meledak mendengar ucapan Suga.

“Ommo… Kau pikir aku akan takut? Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh mungilmu Suga. Kau bahkan tak bisa melindungi Naeun, dan sekarang kau juga tak akan bisa melindungi Hyunji. Kau tak memiliki kekuatan yang bisa menandingiku Suga.”

Hyunji menatap Suga dan tersenyum padanya berusaha mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.

“Aaahhh…” Teriak Jungkook saat sebuah panah mengenai tangannya membuat pisau ditangannya terjatuh.

Suga memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Hyunji menjauh dari Jungkook. Melihat umpannya terlepas Jungkook mengerang kesal. Diapun mencabut panah yang menancap di tangannya dan menatap Jin yang memegang busur panah. Suga menyerahkan Hyunji pada Jin.

“Bawa Hyunji kembali ke istana air.” Perintah Suga pada Jin.

“Tapi tuan…. Ini siang hari, tuan akan kalah menghadapinya.” Cemas Jin.

“Tidak akan. Ingat aku juga ahli pedang. Tanpa kekuatan air, aku bisa bertahan dengan pedangku.” Ucap Suga menunjukkan pedangnya.

Jin mengangguk menerima perintah.

“Suga….” Panggil Hyunji berat seakan tak ingin meninggalkannya.

“Ikutlah Jin, dia akan membawamu ke tempat yang aman.”

“Tapi aku ingin bersamamu.”

“Aku akan kembali setelah menyelesaikan masalah di sini.” Suga mengangguk meyakinkan Hyunji.

Akhirnya Hyunjipun mengikuti Jin naik Jujak dan pergi dari istana matahari.

“Sudah cukup drama romantisnya?” Sindir Jungkook.

Suga menatap Jungkook lalu mengeluarkan pedang dari dalam sarungnya.

“Jadi benar kau akan melawanku Suga? Akan kuladeni kau.”

Jungkook menarik pedangnya dan berlari melawan Suga. Dengan tenang Suga menahan semua serangan Jungkook. Suara pedang beradu terdengar begitu keras. Gerakan pedang mereka begitu cepat.

“Kenapa kau melakukannya Jungkook-ah? Aku sudah mempercayaimu tapi kau justru melawanku.” Ucap Suga saat menahan serangan Jungkook.

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak mudah percaya pada orang lain Suga. ” Jungkook mendorong Suga namun dengan luwesnya Suga menahan tubuhnya.

“Aku yakin ada alasan dibalik semua ini bukan?”

Jungkook menatap Suga terkejut karena Suga mengetahui mengapa dia melakukan semua ini.

“Katakan Jungkook-ah, aku akan membantumu. Bukankah kita teman?”

Jungkook yang awalnya terdiam mulai tertawa. Suga menatap Jungkook berharap temannya itu bisa kembali.

“Teman? Tapi aku tak pernah menganggapmu teman.”

Jungkook kembali menyerang. Pedangnya terus menyerang ke arah Suga. Suara dentingan pedang terus terdengar. Suga berusaha menahan serangan-serangan Jungkook. Namun dengan kekuatan manusianya Suga mulai melemah namun dia tetap berusaha fokus untuk menahan.

Hingga akhirnya tangan Jungkook yang mulai mengeluarkan banyak darah akibat pamah Jin mulai kewalahan menghadapi Suga hingga dengan mudah Suga menjatuhkannya dan menahan Jungkook dengan pedangnya. Suga menatap Jungkook yang terengah-engah dan tak berdaya di bawah pedangnya. Suga hanya diam tak segera menghunuskan pedang itu pada leher Jungkook.

“Kenapa? Bunuhlah aku. Kenapa kau hanya diam Suga?” Tantang Jungkook.

Suga masih terdiam menatap Jungkook.

“Aku tidak akan membunuh temanku.” Ucap Suga menjatuhkan pedangnya dari Jungkook dan berbalik.

Jungkook mendengus kesal mendengar alasan Suga tidak membunuhnya.

“Berhentilah memanggilku temanmu.”

Jungkook berdiri mengambil pedang yang jatuh dan melayangkannya pada Suga. Lagi-lagi dengan lihainya Suga menghindari pedang Jungkook. Tangan Suga yang cepat mencengkram tangan Jungkook dan merebut kembali pedangnya dan membalik keadaan. Pedang Suga tepat berada didepan leher Jungkook. Sekali hentakan pedang itu akan memenggal kepala Jungkook. Namun tangan Suga tak bergerak sedikitpun.

“Kenapa berhenti Suga?” Sebuah suara mengalihkan perhatian Suga dan Jungkook.

Raja Jeongjo keluar dari istana diikuti beberapa pengawalnya.

“Yang mulia.” Panggil Jungkook lirih.

“Tak kusangka kau selemah ini Suga. Kupikir kau akan membunuh Jungkook.” Ucap raja Jeongjo menggelengkan kepala.

Tatapan raja Jeongjo beralih pada Jungkook yang menunduk ketakutan.

“Jungkook-ah…. Sudah kuduga kau tidak berguna. Kau pasti tahu resikonya bukan?”

“Jangan Yang mulia.” Ucap Jungkook terdengar memohon.

Suga menatap Jungkook iba lalu tatapannya beralih pada raja Jeongjo. Tampak raja Jeongjo memberi isyarat pada pengawalnya dan dua orang pengawal keluar membawa seorang gadis.

“Jungkook Oppa….” Panggil gadis itu lirih.

Jungkook mendongak dan menatap tak percaya pada gadis itu.

“Eunji-ah.”

Jungkook begitu sedih melihat Eunji yang terlihat tidak terurus. Hanbok putih yang dikenakannya berubah menjadi kuning kecoklatan dan sepatu yang dikenakannyapun juga sudah tak berbentuk sedangkan rambutnya terlihat acak-acakan. Tatapan Jungkook beralih pada wajah gadis itu yang tampak pucat dengan bibir yang memutih dan pecah-pecah.

“Eunji-ah.” Panggil Jungkook menahan tangisnya.

“Karena kau sudah gagal membunuh Suga. Jadi aku akan membunuh adikmu.” Raja Jeongjo menggerakan tangannya membentuk bulatan. Dan dalam tangannya muncul bola matahari kecil yang mengikuti gerakan tangannya. Raja Jeongjo melemparkan bola api itu ke arah gadis bernama Eunji.

“ANDWAE EUNJI-AH…..” Teriak Jungkook.

Namun belum sampai bola api itu mengenai Eunji, bola api itupun menghilang tatkala sebuah pedang menghalanginya hingga pedang itu menancap di dinding. Semua orangpun menatap ke arah Suga.

“Bukankah aku yang kau inginkan raja Jeongjo? Jadi lepaskan gadis itu dan aku akan melawanmu.”

Tawa renyah terdengar dari Raja Jeongjo.

“Bagaimana bisa kau melawanku tanpa kekuatanmu dewamu Suga?” Remeh raja Jeongjo.

“Apa kau takut melawanku dengan tubuhku ini raja Jeongjo? Bukankah dari sudut pandang apapun kau lebih unggul dariku saat ini.”

Tawa renyah raja Jeongjo berubah menjadi tawa sinis.

“Takut? Aku tak pernah takut pada siapapun Suga. Lepaskan gadis itu.” Perintah raja Jeongjo dan seketika kedua pengawal itu melepaskan Eunji.

Eunjipun segera berlari ke arah Jungkook dan memeluk kakaknya. Dengan senang Jungkook memeluk adik yang sudah lama tak ditemuinya itu.

“Gomawo Suga.” Jungkook menatap Suga penuh dengan terimakasih.

Suga tersenyum dan mengangguk. Sugapun beralih kearah raja Jeongjo dan bersiap melawannya. Sang Raja mengambil pedang yang diberikan pengawalnya dan mulai bersiap melawan Suga.

“Aku pasti akan mengalahkanmu Suga.” Ucap Raja Jeongjo sebelum akhirnya menyerang Suga.

 

~~~TBC~~~

Pasti pada penasaran ya dengan pertarungan Suga dan raja Jeongjo? Tunggu part terakhir ne?

15 thoughts on “(Chapter 8) Find Love To Find Life (F.L.T.F.L)

  1. haii… aku reader baru hehe salam kenal aja… ^^
    aku barusan baca dari chapter pertama,

    JJANGG!!

    aku syyuugggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama ff nya… baru nemu ff fantasi sehebat ini……. kekeke~ aku bener-bener menikmati alurnya^^ haaah tapi cape sendiri tiap muncul bagian j-hope karena harus nahan diri biar ga ngejerit/?

    dan skrg aku lagi baca yang ini, haha^^
    mian malah bikin keributan di komentar… habis suka sm ff nya hehe yaudah aku baca dulu yaa~ jadi tunggu karena sebentar lagi aku mau meninggalkan comment *mau banget ditungguin?*lupain
    kekekeke~ ^o^

    • heheheeeeeee mian baru komen lg karena kemaren pas baca ditengah tengah PC nya malah eror hhhh -_-

      hu um aku big fan nya (bukan kipas angin gede hehe) dia orang nomor 2 sedunia dihatiku setelah aku sendiri wkwkwk….haah dia bikin aku gila –” kkkkk~

      mian aku malah berisik……….. semangat nulisnya!!! ceritanya makin rame
      ditunggu ya endingnya^^
      suga ganbate (^o^) / !!!

  2. Kyaaaa gak terasa udah mau part terakhir ya :) dari awal aku ngikutin ceritanya gak berhenti dibuat penasaran, huwa semoga happy ending^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s