(Chapter 1) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

Poster by flamintskle  @ posterfanfictiondesign.wordpress.com

Title : Love & Revenge (Chapter 1)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

Mianhae untuk Teaser yang gagal kemarin. Author sudah berusaha membuatnya tapi gagal terus. Tapi akhirnya author menemukan ide yang bagus. Semoga readersdeul menyukainya.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

 

Suara ketukan hak dari sepatu berwarna hitam terdengar nyaring di lobi gedung Taeyang Group. Sang pemilik sepatu itu dengan langkah cepat berjalan menuju lift. Celana panjang dan blazer berwarna coklat melekat pas ditubuh gadis itu membentuk lekukan tubuhnya yang indah.

Seo-Eun-Gi-Nice-Guy-fashion-1

Di belakangnya tampak seorang laki-laki mengikutinya. Laki-laki itu mengenakan setelan abu-abu dengan dasi merah. Mereka berhenti tepat di pintu lift dan laki-laki itu menekan tombol lift.

“Apa jadwalku hari ini Nam biseonim?” Tanya gadis bernama Tae Minhee.

“Hari ini anda akan menghadiri meeting  untuk membahas produk kosmetik terbaru Taeyang Group. Lalu nanti siang akan ada makan siang bersama Lee Hwajangnin untuk membahas kerjasama.” Woohyun membacakan jadwal Minhee yang sudah diketik di ponselnya.

“Lee Hwajangnim dari BTD Group?”

Ne Hwajangnim.”

Pintu lift terbuka dan tampak seorang gadis berseragam pink membungkuk dan tersenyum.

“Selamat datang hwajangnim.” Sapa gadis itu ramah.

Namun Minhee tak menoleh sedikitpun kearah gadis itu dan langsung masuk diikuti Woohyun. Gadis penjaga lift itu menutup pintu lift dan menekan angka 15 yang merupakan ruangan Minhee berada.

“Lalu apa ada lagi?” Tanya Minhee seraya menatap gadis yang menunduk ketakutan merasakan sorot tajam mata Minhee.

“Masih ada satu lagi anda akan kedatangan tamu dari Jepang, tuan Akihiko.”

Gamsahamnida Nam biseonim.”

Minhee menghampiri penjaga lift itu.

“Apa kau sengaja ingin menggoda tamu yang masuk ke dalam lift ini?”

Seketika gadis itu mendongak.

A-aniyo Hwajangnim.”

Minhee tersenyum sinis.

“Benarkah? Lalu pakaian apa ini?”

Minhee menunjuk pakaian yang dikenakan penjaga lift itu. Seragam berwarna pink dengan rok diatas lutut lalu belahan dada yang terlalu turun hingga siapapun bisa melihat belahan dada gadis itu. Minhee menunduk dan menatap tajam membuat gadis itu ketakutan merasakan tatapan yang sangat mengintimidasi dari Minhee.

“Aku membayarmu bukan untuk menggoda tamu dan karyawan yang datang, tapi untuk membantu mereka memilih lantai yang hendak mereka tuju. Dengan pakaian seperti ini kau sudah terlihat seperti seorang pelacur. Jika kau tidak ingin kupecat sebaiknya kau ganti pakaian menjijikanmu ini. Kau mengerti?”

N-Ne Hwajangnim.”

Pintu lift terbuka dan Minheepun berjalan keluar masih diikuti Woohyun  yang menghela nafas melihat sikap Minhee. Sebagai presiden direktur, Tae Minhee memang terkenaldingin,  sombong dan bermulut pedas. Tak jarang banyak karyawan yang memilih keluar karena tidak tahan dengan sikap Minhee.

Hwajangnim….”

Langkah Minhee terhenti mendengar panggilan Woohyun.

“Jangan menceramahiku Nam biseonim. Aku melakukannya karena tidak ingin mendapat pandangan yang buruk pada perusahanku.”

Minhee berjalan kembali menuju ruangannya. Sedangkan Woohyun hanya bisa menghela nafas tak mampu berbuat apapun untuk merubah sikap Minhee.

*   *   *   *   *

Seorang gadis tersenyum menatap bayangan wajahnya yang sudah dipoles riasan yang tidak terlaku mencolok sehingga membuatnya terlihat natural. Gadis itu tersenyum puas lalu mengambil tas kerjanya dan keluar kamar.

“Eomma aku berangkat kerja dulu ne?” Setu gadis itu keluar rumah.

“Jiyeon-ah tunggu….”

Langkah gadis bernama Jiyeon itu terhenti saat ibunya memanggil. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar membawa kotak bekal yang langsung diserahkan pada Jiyeon.

“Ini bekal untukmu. Mianhae eomma hanya bisa membuat kimbab saja.”

Jiyeon tersenyum lebar.

“Tidak masalah eomma. Masakan yang eomma buat selalu enak untukku. Gomawo eomma Jiyeon berangkat dulu ne?”

“Hati-hati dijalan ne?”

“Ne eomma.”

Jiyeon melambai ke arah ibunya sebelum akhirnya keluar dari rumahnya yang sederhana. Gadis itu berjalan menyusuri jalan menuju jalan besar. Sinar matahari yang menyengat tak mengurangi semangat gadis bernama lengkap Park Jiyeon itu. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di halte bus. Di halte itu terlihat sudah banyak orang tengah menunggu bus datang.

Jiyeon melihat jam ditangannya. Kegelisahan mulai terlihat saat mendapati dirinya akan terlambat kerja. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna perak berhenti tepat di depan Jiyeon. Gadis itu menatap bingung kearah mobil itu. Tapi saat kaca pintu terbuka, bibir Jiyeonpun menyunggingkan sebuah senyuman tatkala melihat orang yang dikenalnya.

Iseonim?” Panggil Jiyeon setaya membungkuk memberi salam pada Sunggyu.

“Masuklah Park biseonim.” Ajak Sunggyu seraya tersenyum pada sekretarisnya itu.

“Tapi Iseonim…..”

“Jangan kebanyakan alasan. Kau bisa terlambat bukan?”

“Baiklah.”

Akhirnya Jiyeonpun duduk di samping Sunggyu. Tak memunggu lama mobil Sunggyu sudah berada di jalanan Seoul.

Gamsahamnida Iseonim.” Ucap Jiyeon.

“Sama-sama. Bisakah kita bicara formal saja. Ini belum di kantor.”

“Ne Oppa. Oh ya apa Oppa sudah siap dengan presentasi produk baru nanti?”

“Ne. Tapi aku sedikit gugup jika Tae Hwajangnim tidak akan puas.”

Jiyeon menepuk bahu Sunggyu.

“Oppa tenang saja. Aku sudah membaca presentasimu Oppa dan aku yakin Hwajangnim pasti menyukainya.”

Sunggyu menoleh dan tersenyum pada Jiyeon.

Gomawo Jiyeon-ah aku jadi lebih tenang.”

Sunggyu melirik ke arah bekal yang ada dipangkuan Jiyeon.

“Apa kau selalu membawa bekal Jiyeon-ah?”

Jiyeon melihat kearah bekal yang dibicarakan Sunggyu.

“Ne. Eomma selalu membawakanku bekal. Apa Oppa mau mencobanya? Masakan eomma sangat enak.”

“Benarkah? Tapi itu kan bekalmu.”

“Tidak apa-apa Oppa. Lagipula eomma selalu membawakanku dengan porsi lebih membuatku tak bisa menghabiskan semuanya.”

“Baiklah kalau begitu aku akan membantumu menghabiskannya.”

Jiyeon mengangguk dan membalas senyuman Sunggyu.

*   *   *   *   *

Minhee tengah menandatangani dokumen saat terdengar ketukan dipintu ruangannya.

“Ne, masuk.”

Pintu terbuka dan Woohyunpun masuk keruang Minhee. Sekertaris itu membungkuk sekilas.

Meeting akan segera dimulai hwajangnim.”

“Ne.”

Minhee meletakkan penanya dan menutup dokumen yang belum selesai di bacanya. Diapun berjalan keluar ruangan diikuti Woohyun. Seperti biasa Woohyun menekan tombol liftnya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Minhee dan Woohyunpun masuk ke dalam lift. Tak butuh waktu lama untuk turun tiga lantai. Setelah pintu terbuka Minhee dan Woohyun pun keluar lift dan berjalan menuju ruang meeting. Tepat di depan pintu Minhee dan Woohyun bertemu dengam Sunggyu dan Jiyeon. Merekapun membungkuk sekilas ke arah Minhee.

“Kuharap presentasimu tidak mengecewakanku Sunggyu-ssi.” Ucap Minhee membuka pembicaraan.

“Ne Hwajangnim.”

Minhee dan Woohyunpun masuk ruang meeting diikuti dengan Sunggyu dan Jiyeon.

*   *   *   *   *

Dalam ruang meeting semua mata tertuju pada Sunggyu yang tengah menjelaskan produk baru yang direncanakannya. Semua lampu dimatikan sehingga memudahkan semua orang melihat ke layar proyektor.

“Selain berguna sebagai pelembab BB Cream ini bisa juga menjaga kulit sehingga tetap lembut. Cream ini sudah diuji coba. Dan hasilnya …”

Stop….”

Penjelasan Sunggyu terhenti seketika saat mendengar suara Minhee.

“Tahun lalu Diamond Group mengeluarkan produk yang sama dengan yang kau jelaskan. Dan bulan lalu I&F Group juga mengeluarkan produk yang sama namun berbeda merk. Taeyang group adalah perusahaan yang selalu mengeluarkan produk baru sebagai terobosan baru perusahaan lain. Dan sekarang apa kau ingin menjatuhkan Perusahaan Taeyang dengan produk tiruan yang kau jelaskan itu?”

Sunggyu menunduk.

Animida hwajangnim.”

“Aku membayarmu dengan gaji tinggi untuk bekerja yang baik tapi tenyata gaji itu tidak sepadan dengan hasil kerjamu Sunggyu-ssi.”

Di pinggir ruangan Jiyeon tampak kesal tidak terima dengan penghinaan Minhee pada Sunggyu. Jiyeon tahu betul, Sunggyulah yang selama ini bekerja sangat keras untuk membuat produk baru tapi Minhee dengan seenaknya menghinanya.

“Kau harus memperbaiki ini secepat mungkin Sunggyu-ssi. Jika dalam sebulan kau tak sanggup sebaiknya persiapkan surat pengunduruan dirimu Sunggyu-ssi. Meeting selesai.”

Minhee berdiri dan seketika semua orang dalam ruangan itu berdiri dan menunduk ke arah Minhee. Minheepun akhirnya keluar ruangan dan seperti biasa diikuti oleh Woohyun. Sebelum sampai lift langkah Minhee terhenti.

“Kau duluan saja Nam biseonim, aku akan segera menyusulmu.”

Ne hwajangnim.”

Woohyunpun berjalan menuju lift meninggalkan Minhee. Setelah melihat Woohyun masuk lift, Minhee berjalan menuju toilet tak jauh dari ruang meeting. Kamar mandi yang di design bebatuan tampak terasa alami. Minhee memasuki salah satu pintu dan hanya duduk menenangkan dirinya. Minhee teringat ucapan ayahnya saat dirinya masih kecil.

~~~FLASHBACK~~~

Seorang laki-laki paruh baya berlutut di hadapan gadis yang tengah duduk memeluk bonekanya. Laki-laki itu mengelus rambut Minhee kecil.

“Minhee-ah” Panggil Jungwoo membuat gadis kecil itu menoleh dan tersenyum manis pada ayahnya.

“Kau adalah satu-satunya pewaris perusahaan appa. Jangan pernah sekalipun menggunakan perasaanmu saat menduduki posisi appa.”

“Kenapa appa?”

“Semua orang akan mengincar posisi itu tanpa memikirkan perasaanmu Minhee-ah. Jadi jangan terpengaruh pada mereka. Kau adalah harapan appa satu-satunya jadi berjanjilah pada appa jangan pernah menggunakan perasaanmu ne?”

Minhee kecil mengangguk membuat kucirannya ikut bergerak.

“Ne, Minhee berjanji appa.”

~~~FLASHBACK END~~~

“Kau sudah melakukan hal yang benar Minhee-ah.” Ucap Minhee meyakinkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Minhee masih berdiam diri memutuskan menunggu orang itu keluar sebelum akhirnya dirinya keluar.

“Menghina tanpa mengetahui kinerja yang sebenarnya. Cihh… Menyebalkan.”

Minhee bisa mendengar suara Jiyeon dari dalam bilik kamar mandi.

“Mentang-mentang pemilik perusahaan hanya bisa marah-marah dibalik mejanya tanpa tahu apa-apa. Wanita dingin, arogan, sombong dan menyebalkan. Dasar nenek sihir.” Gerutu Jiyeon kembali.

“Nenek sihir?” Minhee mengulangi sebutan Jiyeon.

Minhee keluar dari tempat persembunyiannya. Seketika wajah Jiyeon memucat melihat Minhee. Diapun segera menbungkuk untuk memberi salam.

Hwajangnim.”

“Nenek sihir? Jadi itu sebutan untukku?”

Jiyeon segera menggeleng.

Animida Hwajangnim.”

Minhee tersenyum sinis mendekati Jiyeon.

“Munafik.”

Jiyeon mendongak. “Nde?”

“Dihadapanku kau tersenyum dan membungkuk tapi di belakangku kau menghinaku. Aku muak melihatnya. Gadis kelas bawah sepertimu tidak akan mengerti bagaimana menjalankan perusahaan ini.”

“Gadis kelas bawah?” Jiyeon tampak tersinggung mendemgar hinaan Minhee.

“Ne. Kenapa? Kau tidak terima dengan ucapanku? Atau kau sadar dimana posisimu berada Park Biseonim? Karena sampai kapanpun kau tidak akan bisa menjadi diriku.” Minhee tersenyum sinis ke arah Jiyeon sebelum akhirnya meninggalkan Jiyeon.

“Aku memang gadis kelas bawah Hwajangnim.”

Langkah Minhee terhenti mendengar ucapan Jiyeon. Diapun berbalik dan sudah mendapati Jiyeon berada di hadapannya.

“Tapi aku masih memiliki hati untuk tidak melukai perasaan orang lain. Apa kau tahu mengapa semua orang disekelilingmu bersikap munafik hwajangnim?”

Minhee terdiam tak membalas ucapan jiyeon.

“Karena sikapmu yang tak memikirkan perasaan orang lainlah yang membuat semua orang bersikap munafik padamu Hwajangnim. Tak akan akan ada orang yang tulus berlaku baik terhadapmu Hwajangnim.”

Jiyeon meninggalkan Minhee yang terdiam mematung.

*   *   *   *   *

“Wwaahhh…. Tampak sangat lezat. Mari makan.” Dengan semangat Sunggyu mencomot kimbap dan memakannya.

Jiyeon mengamati wajah Sunggyu yang begitu menikmati kimbab buatan sendiri yang begitu lezat.

“Oppa.”

“Hhmm…”

Sunggyu mendongak dengan mulut penuh.

“Hmm…”

“Apa kau tidak apa-apa?”

Sunggyu menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan Jiyeon.

“Tentu saja aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit apapun.”

“Bukan itu Oppa. Soal meeting tadi.”

Sunggyu yang hendak mengarahkan sumpitnya kembali ke kimbab terhenti mendengar ucapan Jiyeon.

“Ucapan Tae hwajangnim benar-benar kejam. Padahal kan Oppa sendiri yang bekerja keras merencanakan produk baru itu. Aishhh…. Jika saja bisa aku ingin menonjok wajahnya.”

Jiyeon mengepalkan tangan seakan ingin meninju Minhee. Sunggyu yang melihat kekesalan Jiyeon hanya tertawa.

“Jangan membencinya seperti itu Jiyeon-ah. Tae hwajangnim berkata seperti itu karena ingin yang terbaik untuk Taeyang group.”

“Aiishhh…. Kenapa Oppa jadi membelanya setelah dihina sekejam itu? Atau jangan-jangan……”

Sunggyu menatap Jiyeon bingung.

“Jangan-jangan apa?”

“Jangan-jangan Oppa menyukai Tae Hwajangnim.”

MWO?” Seketika Sunggyu melotot kaget dengan kesimpulan yang dibuat Jiyeon.

“Aku tidak menyukainya. Aku hanya mengaguminya.” Jelas sunggyu.

“Benarkah?”

“Ne. Aku sudah bekerja di sini sebelum Minhee menggantikan mendiang Tuan Jungwoo. Pertama kali melihatnya Minhee berbeda sekali dengan sekarang. Dia gadis yang tak akan kau duga menjabat menjadi Hwajangnim di sini. Minhee dididik dengan keras oleh tuan Jungwoo untuk menjadi penerusnya. Meskipun terkadang aku melihatnya menangis tapi dia tak pernah mengeluh dan pantang menyerah. Karena itulah aku mengaguminya.”

Jiyeon menatap Sunggyu dengan senyuman penuh arti.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Sepertinya Oppa tidak hanya mengangguminya tapi sangat menyukainya.”

“Aiishhh…. Bukankah aku sudah bilang ….”

Ne… Ne… Arrasseo. Oppa hanya mengaguminya saja.”

Jiyeon dan Sunggyupun kembali melanjutkan makan siangnya.

*   *   *   *   *

Hari mulai gelap namun Minhee tak ada niat sedikitpun meninggalkan kursi kerjanya. Dia terus menatap layar komputernya seraya jemarinya dengan cepat menari diatas keyboard. Suara ketikan keyboard terdengar keras mengalahkan detikan jam.

“Apa kau berniat semalaman di sini?”

Minhee menoleh saat mendengar suara seseorang. Laki-laki tampan bersandar dipintu seraya menampilkan senyuman manisnya. Setelan hitam yang dikenakan terlihat pas ditubuh laki-laki itu membuatnya terlihat menawan.

INFINITE-L_1393381118_af_org

“Myungsoo-ssi. Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Minhee tanpa ekspresi sedikitpun.

Myungsoo menghampiri Minhee. Langkahnya terhenti tepat di depan meja Minhee. Kedua tangannya sengaja dimasukkan ke dalam saku celananya.

“Tentu saja menjemput tunanganku. Apa kau tidak lelah seharian bekerja?”

“Tidak. Aku menyukainya.”

“Aigoo…. Ternyata calon istriku penggila kerja. Karena sekarang aku sudah berada di sini, maukah kau meninggalkan pacarmu itu?” Myungsoo menunjuk ke arah komputer Minhee yang disebutnya ‘Pacar’.

“Baiklah.”

Minhee menyimpan data yang belum selesai diketiknya lalu mematikannya. Myungsoo terus mengamati gerak-gerik Minhee seakan gerakan gadis itu begitu menarik untuknya. Minhee mengambil tasnya sebelum menghampiri Minhee. Merekapun keluar dari ruangan Minhee.

*   *   *   *   *

Jiyeon berjalan di lobi perusahaan menuju pintu keluar. Langkahnya terhenti saat melihat Myungsoo tengah membukakan pintu mobil untuk Minhee. Tatapan iri terlihat dimata Jiyeon. Tatapan Jiyeon tak lepas dari Myungsoo yang berjalan ke kursi kemudi.

“Beruntungnya Tae hwajangnim bisa memiliki tunangan setampan dan sebaik Kim Hwajangnim.”

Jiyeon melihat mobil Myungsoo melaju menjauhinya. Diapun menghela nafas dan melanjutkan perjalanannya.

“Jika saja aku menjadi Tae hwajangnim, aku pasti akan menjadi yeoja paling bahagia di dunia ini.”

Jiyeonpun teringat ekspresi wajah Minhee saat duduk di dalam mobil Myungsoo. Wajah Minhee tampak tidak sesenang yang jiyeon bayangkan. Bahkan wajah Minhee terlihat dingin dan tak memperhatikan Myungsoo.

“Apa Tae hwajangnim tak menyukai Kim hwajangnim? Tapi kenapa? Bukankah Kim hwajangnim adalah namja yang baik dan romantis. Dia juga selalu mendatangi Tae hwajangnim hanya untuk memperhatikannya. Lalu kenapa Tae hwajangnim seperti tidak menyukainya?”

Langkah Jiyeon terhenti di halte bus untuk menunggu busnya datang. Diapun duduk dan menanti.

“Jika saja aku bisa menjadi Tae hwajangnim.” Harap Jiyeon.

*   *   *   *   *

Myungsoo mengamati Minhee yang hanya memainkan steaknya tanpa berniat memakannya. Matanya tampak sedang melamun. Myungsoo mengulurkan tangannya menyentuh tangan Minhee.

“Kau tak menyukainya? Aku akan memesankan yang lain jika kau tidak menyukainya.”

“Tidak perlu Myungsoo-ssi.”

Minhee mulai memakan steak membuat Myungsoo juga kembali makan.

“Jadi kapan kau pulang Myungsoo-ssi?” Tanya Minhee.

“Satu jam yang lalu. Karena aku ingin segera bertemu denganmu jadi aku langsung ke kantormu.”

Minhee terdiam tak merespon ucapan Myungsoo.

“Kau tampak lelah apa ada masalah?” Tanya Myungsoo cemas.

Minhee menatap Myungsoo yang tak henti tersenyum padanya.

“Apa karena aku adalah Presiden direktur Taeyang Group?”

Senyum Myungsoo memudar mendengar pertanyaan Minhee.

“Nde?”

“Aku tahu kita bertunangan untuk menguntungkan perusahan kita. Jadi berhentilah berpura-pura perhatian padaku. Karena aku membencinya.”

Myungsoo tampak tak percaya mendengar Minhee berkata seperti itu. Minhee meletakan kain dipangkuannya lalu berdiri.

“Terimakasih untuk makan malamnya Myungsoo-ssi.” Ucap Minhee meninggalkan Myungsoo.

Laki-laki itu masih menatap kursi yang Minhee duduki tadi seakan gadis itu masih duduk di kursi itu.

“Jika saja kau tahu aku tidak berpura-pura Minhee-ah. Aku benar-benar menyukaimu.” Ucap Myungsoo menghela nafas.

Diluar Minhee mengambil ponsel ditasnya. Diapun memanggil seseorang.

“Ne Hwajangnim?” Terdengar suara Woohyun dari ujung telpon.

“Nam biseonim, tolong jemput aku di restoran La Categorie.”

“Ne Hwajangnim.” Tanpa bertanya Woohyunpun segera menutup telpon.

Minhee menunggu di depan restoran. Tak lama kemudian mobil Woohyun berhenti tepat dihadapan gadis itu. Minhee masuk di kursi penumpang di samping Woohyun kemudian mobil itupun melaju pergi. Woohyun yang sedang menyetir tampak melirik ke arah Minhee yang sedang menatap keluar jendela.

“Jika aku bukan Presiden Direktur Taeyang Group apa semua orang akan memperlakukanku berbeda Nam Biseonim?”

“Nde?” Woohyun tampak tak mengerti apa yang Minhee maksud.

“Mereka hanya bisa tersenyum dan berlaku manis padaku padahal tujuan mereka hanya ingin mengambil keuntungan dari Taeyang Group. Aku muak melihat mereka. Jika saja aku terlahir menjadi orang lain.”

“Padahal semua wanita ingin menjadi anda Hwajangnim. Wanita yang kaya, cantik, pintar dan memiliki tunangan yang tampan, aku yakin banyak gadis rela menukar apapun untuk menduduki posisi anda hwajangnim.”

Minhee tersenyum tak percaya. “Mereka tidak mengerti dalam hidupku hanya dikelilingi orang-orang yang berakting dihadapanku. Aku berharap bisa menjadi gadis biasa.” Ucap Minhee menatap keluar jendela.

*   *   *   *   *

Jiyeon berjalan menuju rumahnya. Dia mengeratkan jaketnya saat merasakan udara yang semakin dingin.

Hanya tinggal satu tikungan akhirnya aku sampai, Pikir Jiyeon.

Gadis itupun berbeluk dan bisa melihat restoran kecil yang ada diujung jalan. Langkah Jiyeon terhenti saat melihat meja dan kursi tergeletak kacau di lantai. Sendok dan sumpitpun berserakan diatas lantai. Jiyeon bisa melihat ibunya tengah memunguti sumpit dan sendok di lantai. Gadis itupun segera berlari menghampiri ibunya.

“Eomma.” Wanita paruh baya itu mendongak dan tersenyum pada Jiyeon.

Wanita itu berdiri dan tersenyum pada putrinya.

“Apa mereka datang lagi?” Tanya Jiyeon yang langsung dijawab anggukan kepala oleh ibunya.

Seketika kaki Jiyeon melemah membuat tubuhnya jatuh ke lantai.

“Jiyeon-ah.” Jikyeong berlutut di hadapan putrinya.

Jiyeon menatap ibunya sedih.

“Mianhae eomma. Jiyeon tak bisa membantu eomma melunasi hutang itu. Mianhae.” Ucap Jiyeon menangis.

Jiyeon memeluk putrinya. Dan mengelus punggumg putrinya itu.

“Jangan berkata seperti itu Jiyeon-ah. Kau sudah membantu eomma jadi jangan merasa bersalah seperti itu ne?”

Jiyeon mengangguk dan membalas pelukan ibunya. Mereka terus berpelukan hingga Jiyeon melepaskannya.

“Aku akan membantu eomma membersihkannya.”

Jiyeon berdiri diikuti Jikyeong. Mereka berdua mulai membereskan kekacauan. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk mengembalikan restoran kecil itu seperti semula. Jiyeon dan Jikyeong menghela nafas setelah berhasil membereskan kekacauan itu.

“Apa kau lapar?”

Jiyeon mengangguk penuh semangat ke arah ibunya.

“Bersihkan tubuhmu. Eomma akan menyiapkan makan malamnya.”

“Ne eomma.” Ucap Jiyeon masuk ke rumahnya.

*   *   *   *   *

Minhee menatap bayangan wajahnya di cermin. Wajahnya sudah dibersihkan dari make up. Tak ada ekspresi apapun diwajah Minhee.

Di sisi lain Jiyeonpun juga tengah menatap wajahnya dicermin yang digantung di dinding. Jiyeon tersenyum lemah pada bayangannya sendiri.

“Jika saja aku bisa menjadi orang lain.” Ucap Minhee dan Jiyeon bersamaan.

Keduanya menghela nafas bersamaan. Minhee berdiri dan berjalan menuju ranjang berukuran Queen sizenya. Gadis itu menyibakkan selimut dan masuk ke dalam ranjang yang sangat nyaman itu. Minhee menoleh ke samping dan melihat fotonya bersama ayahnya. Diapun mengambil pigura itu dan mengelus foto ayahnya. Minheepun teringat ucapan Jiyeon siang tadi.

 

Karena sikapmu yang tak memikirkan perasaan orang lainlah yang membuat semua orang bersikap munafik padamu Hwajangnim. Tak akan akan ada orang yang tulus berlaku baik terhadapmu Hwajangnim.

“Apa dunia appa selalu dipenuhi dengan sandiwara? Aku merindukanmu appa. Kenapa appa tidak mengajakku pergi dari dunia yang jahat ini? Aku lelah appa.” Tetesan air mata keluar dari mata Minhee membasahi pigura itu.

“Ingin sekali rasanya aku menghilang sejenak appa.”

Minhee menutup matanya dan menhirup nafas panjang lalu mengeluarkannya guna menenangkan dirinya. Diapun meletakkan kembali pigura ke meja dan merebahkan dirinya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih.

“Satu hari lagi yang panjang bisa kau lewati Minhee-ya. Besok kita akan mulai lagi.” Ucap Minhee sebelum akhirnya menutup matanya untuk beralih ke dunia mimpi.

Di tempat lain Jiyeonpun masuk ke dalam kasur yang ditata diatas lantai.

ondol-style

Jiyeon melihat kearah Jikyeong yang sudah tertidur. Wanita itu terlihat lelah membuat Jiyeon sedih.

“Aku pasti akan bekerja keras membayar hutang itu eomma. Dan aku akan membuat eomma bahagia.”

Jiyeon menunduk untuk mencium pipi ibunya sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya. Matanya melihat ke langit-langit kamarnya yang berwarna cream kusam.

“Besok aku pasti akan bekerja sangat keras.” Tekad Jiyeon.

Gadis itupun menarik selimutnya dan mulai tertidur.

*   *   *   *   *

Minhee membuka matanya perlahan. Dia mengedip-ngedipkan matanya saat merasa asing melihat langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Seketika rasa kantuk Minhee hilang, diapun segera duduk dan melihat kamar yang begitu asing dimatanya.

“Dimana ini?” Tanya Minhee.

Dia menyibakan selimutnya dan menghampiri meja rias. Minhee melihat barang-barang dikamarnya begitu mewah.

“Apa aku sedang bermimpi?” Tanya Minhee tak percaya.

Diapun duduk dimeja rias dan diapun tampak terkejut melihat wajahnya.

Di tempat lain Jiyeon juga membuka matanya dari tidur nyenyaknya. Gadis itupun menguap dan meregangkan tubuhnya.

“Aiiggoo… Kenapa tubuhku sakit semua?” Keluh Jiyeon.

Diapun menyibakkan selimutnya dan berjalan keluar kamar. Langkahnya terhenti saat merasakan ada yang ganjil. Diapun menoleh dan menghampiri kaca yang menggantung di dinding. Benar saja diapun meraba wajahnya dan tak percaya dengan apa yang dia lihat.

“UUUWWWAHHHHH………” Teriak Minhee dan Jiyeon bersamaan.

~~~TBC~~~

8 thoughts on “(Chapter 1) Love & Revenge

  1. aigooo jadi mereka berdua bertukar jiwa asiiik jiyi bisa deket sama myungsoo dong tapi kasian juga ya myungsoo liatnya minhee bukan jiyi :’)
    pasti malah makin susah deh nanti aaaa kehidupan jiyi jd makin kacau deh :’)
    aku lanjut baca ya^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s