PINK FAIRY : 2 – The Broken Wings

PINK FAIRY NEW

1st

PINK FAIRY

THE BROKEN WINGS

2nd series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance

© Risuki-san

.

‘Maaf, aku harus melakukannya…untuk menyelamatkanmu’

-Chase Lee-

.

Halaman Sebelumnya

Memeluk tubuh itu begitu erat, tersenyum hingga mata sabit miliknya tenggelam. Jinki, ia terlalu bahagia saat ini. Mendapati bahwa Jieun, ia baik-baik saja, ia masih bernafas.

Memastikan apa yang ada otaknya bahwa gadis itu masih hidup, meraba lengan Jieun, meraba dadanya, daerah antara hidung dan mukanya. Dan hasilnya…

NIHIL

Tak ada yang berbeda. Gadis itu tersenyum manis, tapi…detak jantungnya? denyut nadinya? Jieun, ia juga tak bernafas.

Halaman 2

Hanya menatap langit-langit kamar, pikirannya kacau. Jinki, ia tak tau tengah tinggal satu atap dengan makhluk apa. Menatap tangan besar miliknya yang beberapa jam lalu tak dapat merasakan jejak manusia pada diri gadis itu, gadis yang ia bawa ke apartemen mewah miliknya tanpa tau identitasnya.

Menatap sebuah jam di sisi ranjang lalu mendengus kesal karena…

06.00 KST

Sebuah situasi dimana ia dipaksa untuk bangun dan segera bersiap untuk berangkat bekerja. Memutuskan untuk melangkah menuruni ranjang, langkah kaki itu menuju sebuah pintu. Dengan ragu membukanya dan…

Tak ada satu orang pun disana, mengelus dada bidangnya karena merasakan kelegaan yang luar biasa. Memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dan lagi dengan perasaan ragu membuka pintu dihadapannya.

CEKLEK

Perasaan ini…apakah yang akan seseorang rasakan saat melihat hantu? Jantung lelaki itu…masih berada di tempat yang seharusnya kan?

“Tuan muda, kau sudah bangun?”

Suara yang menurutnya begitu merdu tapi…Jinki, kini ia takut mendengarnya. Jieun itu…benar bukan manusia?

Tak mampu bergerak sedikitpun, ingin pergi saat ini juga tapi…lihatlah ekspresi polos itu, senyum yang manis itu lalu tangan putih yang kini tengah menyodorkan sikat gigi padanya lalu berkata…

“Tuan muda, ini sikat gigimu, aku sudah memberinya pasta gigi”

Jika seperti ini, kau mampu menolak, Lee Jinki?

Dengan tangan yang bergetar, Jinki, ia memilih untuk meraihnya. Dengan kikuk, Jinki mencoba tersenyum. Kenapa begitu takut? Jieun, ia takkan melukaimu!

.

.

.

Menghabiskan roti yang kini ada dihadapannya dengan secepat kilat. Tak dapat sarapan dengan ayam favoritnya, tapi tak masalah, karena yang terpenting adalah Jinki, ia harus segera keluar dari sana!

Melangkah cepat menuju sebuah pintu, pintu yang menyelamatkannya dari sosok gadis yang kini masih terlihat fokus dengan makanannya.

Namun…

“Tuan muda, kau akan kemana?” berbicara dengan menggenggam tangan besar Jinki.

“A..aku..tentu saja bekerja!”

“Tapi ini hari minggu”

Jadi…hari ini adalah hari terakhir Jinki dapat melihat dunia? Bukankah sebagai anak yang berbakti setidaknya ia harus menemui orang tuanya untuk terakhir kali?

“Tuan muda?” memanggil lelaki dihadapannya yang entah kenapa tiba-tiba berkeringat dingin.

“Tuan muda?” lagi, memanggil lelaki itu dan sukses membuatnya sadar bahwa…setidaknya Jinki, ia harus mencoba menyelamatkan hidupnya!

“Aku harus menemui seseorang” berbohong tentu akan menyelamatkannya.

“Benarkah?” berucap dengan nada yang kecewa, lalu ekspresi sedih itu…Jieun, apa kau sedih karena harus kehilangan mangsamu?

“Aku pergi sek-“ tak mampu melanjutkan kalimatnya kala bibir mungil dihadapannya berucap…

“Tak bisakah ditunda? Setidaknya temani aku menyelesaikan sarapanku” dengan nada suara dan ekspresi memohon itu…benarkah ia hantu?

Jinki, bukankah ia rangking kedua di seluruh sekolah saat masa dulu? Tapi kenapa otaknya jadi sebodoh ini sekarang?

Tak mampu berpikir logis, hanya menuruti hati nuraninya untuk duduk dimeja makan…lagi. Mata sabitnya kini menatap lekat pada sosok dihadapannya. Kulit putih pucat dengan rambut merah jambu sepunggung, terlihat menyeramkan? Tidak, hanya saja…membuat gadis itu tidak terlihat seperti manusia pada umumnya.

“Tuan muda, apa ini?” berucap dengan mata yang begitu berbinar terlebih saat menunjuk sesuatu yang menurutnya sangat manis, makanan favoritnya.

“Madu, itu madu” ucap Jinki singkat.

Dengan kedua mata yang berbinar, lalu senyum yang sesekali ia lempar pada lelaki itu, Jinki, kau sungguh takut padanya? Kau sungguh yakin, ia hantu?

“Jieun”

“Ya?”

“Kau..siapa kau sebenarnya?”

.

.

.

Hanya menatap layar LCD dihadapannya dengan tatapan datar, otak miliknya tak dapat berhenti memikirkannya.

Makhluk astral? Makhluk luar angkasa? Makhluk dari dunia fantasi?

Jinki, ia yakin jika gadis itu berada diantaranya tapi…

‘Aku…aku bukankah sama sepertimu?’

 

Meremas rambut itu kasar kala merasakan pusing dikepalanya karena terus memikirkan hal yang sama. Sebenarnya…Jieun itu, ia siapa? makhluk apa? Apa ia berbahaya?

Kenapa Jieun tak mengakuinya dan justru kembali bertanya?

“Hyung, gadis itu masih di tempatmu?” sebuah suara menginterupsi, dan itu bagus, setidaknya konsentrasinya dapat terbagi.

“Eoh?”

“Kenapa kau terlalu baik padanya?”

“Eoh?”

“Dia orang asing hyung”

BETUL!

Jieun itu, ia hanya orang asing! Lalu kenapa kau terus memikirkannya? Kau hanya perlu mengusirnya dan semua selesai. Seharusnya kau memimikirkan ini sejak awal, Lee Jinki!

.

.

.

Melangkah santai di trotoar jalan, memilih menikmati jalanan Seoul di sore hari. Sebuah moment yang sangat langka bagi seorang Lee Jinki, pewaris tunggal Lee Corp. Tersenyum senang hingga mata miliknya tenggelam, terlalu bahagia karena telah menemukan solusi terbaik atas masalah yang mengganggunya beberapa hari ini.

“Mengusirnya dan semua selesai!” ucapnya dengan penuh antusias.

Setelah ini, Jinki, ia akan selamat, iya kan?

.

.

.

Hanya berdiri di depan pintu, pintu yang akan terbuka jika saja jari-jari besar Jinki menekan kombinasi tombol disana. Jantung miliknya mendadak berdetak tak karuan, apa seperti rasanya sakit jantung?

Memutuskan untuk pulang lebih awal karena harus menyelesaikan urusan yang sangat mendesak, ya, Jieun harus diusir saat ini juga!

Merutuki dirinya sendiri kala mengingat beberapa jam lalu ia begitu antusias, tapi sekarang? Nyalinya menciut hingga sebesar biji kacang.

“Hyung, kau tak masuk?” sebuah suara menyapanya. Membuat tubuh tegap itu seolah tersengat listrik jutaan ampere.

“Kibum, kau mengagetkanku!”

Hanya mampu berucap maaf lalu menatap Jinki yang…basah?

“Hyung, kau kenapa? Jangan bilang kau naik tangga dari lantai satu? Ya Tuhan, ini lantai sepuluh…” dan bla bla bla omelan seorang Kim Kibum pun di mulai.

Melihat hantu paling menyeramkan di dunia pun terasa lebih baik ketimbang harus mendengar omelan Kibum yang tanpa ujung. Karena itu…

CEKLEK

Pintu itu terbuka, memasukkan tubuhnya cepat, memilih untuk menghindari Kibum yang selalu saja bicara tanpa akhir.

“Bukankah dia laki-laki? Kenapa cerewet sek-“ kalimat itu terhenti dan…Jinki…boleh ia meminjam mata bulat Choi Minho?

Jinki, ia terkejut karena Jieun, ia tepat di depannya!

“Tuan  muda! Kebetulan sekali!” teriak gadis itu riang, tapi Jinki..tubuhnya kaku.

“…”

“Bajunya habis”

“…”

“Ayo membeli baju”

Jinki, mata miliknya masih segaris tapi demi apapun, percaya atau tidak, Jinki, IA SANGAT TERKEJUT!

Tak mampu menelan ludah karena…Jieun tepat di depannya dan hanya dengan…pakaian dalam!

Mata miliknya berusaha menghindari menatap setiap lekuk tubuh dihadapannya, tapi Jieun, ia terus bicara dan memaksa lelaki itu untuk menatapnya. Lee Jieun itu, ia sungguh bukan manusia!

“Aku…aku mau ke kamar mandi” ucap Jinki tanpa berani menatap gadis itu.

“Tuan muda, ayo membeli baju, aku kedinginan”

Gadis itu kedinginan? Lee Jinki, kau membiarkannya kedinginan, dimana letak perikemanusiaanmu?

Tapi Jieun…ia juga bukan manusia!

Memilih untuk  mengabaikan gadis itu dan melanjutkan langkah menuju kamar mandi, membersihkan tubuh setelah seharian penuh bekerja juga bukan ide buruk, bukan?

Terlebih dengan pikiran-pikiran kotor yang mendadak melingkupinya, Lee Jinki, kau juga harus membersihkan otakmu!

.

.

.

Melangkah pelan setelah sebelumnya menyelesaikan mandi sore dalam jangka waktu yang tak bisa dikatakan singkat.

Satu jam

Ya, setidaknya satu jam adalah waktu yang cukup singkat jika mengingat ia juga harus membersihkan otaknya yang tiba-tiba kotor.

Mengendap-endap menuju kamar kesayangannya, ingin mengabaikan Jieun yang ia tau tengah tertidur di lantai tapi…

Jinki, ia harus mematikan televisi!

BIP

Mematikannya cepat tapi mata sabitnya…

Menatap sosok Jieun yang tertidur pulas dengan selimut tipis yang membungkus tubuh mungilnya. Terlalu tipis hingga dapat ia tangkap lekuk tubuh Jieun yang hanya terbungkus pakaian dalam.

“Kenapa dia suka sekali tidur di lantai?”

Otak miliknya berpikir keras, haruskah ia memindahkannya?

Tapi…memori otaknya mengingat memori beberapa hari lalu. Sama, keadaannya masih sama, hanya tak ada piyama pink yang membungkus tubuh mungil itu.

Tidur dengan kulit putih pucat di seluruh tubuhnya dan tanpa satupun tanda-tanda kehidupan, tapi Jinki yakin jika gadis itu pasti sedang tidur.

TES

TES

TES

Butiran air bening itu menetes tanpa henti, Jinki, ia bingung. Ada apa? Apa gadis itu tengah bermimpi hal yang menyedihkan?

.

.

.

Matahari bahkan belum menampakkan wujudnya tapi Jinki, Jinki yang akan lebih memilih untuk tertidur di alam mimpi pada jam seperti ini, ia memutuskan untuk berangkat lebih pagi.

Melangkah cepat menuju kamar mandi yang ia yakin pasti tak ada Jieun di dalamnya. Menyikat gigi kelincinya cepat tapi…

“Arghhh!!”

Sesuatu yang berlebihan itu…bukankah memang tidak baik?

“Tuan muda, kau baik-baik saja?”

Suara itu!

“Tuan muda?” bertanya lalu mendekati Jinki yang masih terlihat kesakitan di bagian gusinya.

“Tak apa, hanya terkena sikat gigi” ucap Jinki singkat tanpa berani memandang gadis itu.

Tapi Jieun, ia berjalan semakin dekat, tangan putih miliknya menyentuh pelan muka Jinki seolah berusaha menyembuhkan luka itu.

“Aku akan mengambil obat merah” berucap cepat lalu melangkah cepat mengambil sesuatu yang menurutnya sangat dibutuhkan Jinki saat ini.

Tangan putih itu dengan sabar mengobati luka Jinki, sedikit robek hingga mengeluarkan sedikit banyak darah, membuat gadis itu meringis membayangkan sakitnya.

“Apa sangat sakit?”

Hanya diam, Jinki, ia hanya menatap gadis itu. Luka ini, hanya luka kecil jika dibandingkan dengan luka itu, iya kan?

“Jieun”

“Ya?”

“Darimana kau mendapat luka ini?” berucap lalu meraih bahu polos Jieun yang tak tertutup kain apapun.

“Ya?”

“Ini”

Membalik tubuh Jieun menghadap ke cermin, hingga dapat gadis itu tangkap bahu polosnya dengan bekas luka yang sepertinya sangat dalam.

Kepala gadis itu mendadak pening, otak miliknya memutar memori kehidupan sebelum ini, kehidupan sebelum ia tersadar di sebuah hutan di Seoul, sebelum ia bertemu Jinki. Memori dimana lelaki itu, lelaki dengan rambut coklat kemerahan berucap dengan setiap tetes bening yang menuruni pipi gembulnya.

‘Maaf, aku harus melakukannya…untuk menyelamatkanmu’

 Lalu…

BRUKKK

Tubuh mungil itu tumbang seiring dengan satu pasang sayap yang jatuh di memorinya.

To be continued…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s