PINK FAIRY : 3 – THE FALLEN ANGEL

PINK FAIRY NEW

1st2nd

PINK FAIRY

3rd series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance

© Risuki-san

.

‘Lee Jieun, aku mencintaimu’

-Chase Lee-

.

Halaman Sebelumnya

“Jieun”

“Ya?”

“Darimana kau mendapat luka ini?” berucap lalu meraih bahu polos Jieun yang tak tertutup kain apapun.

“Ya?”

“Ini”

Membalik tubuh Jieun menghadap ke cermin, hingga dapat gadis itu tangkap bahu polosnya dengan bekas luka yang sepertinya sangat dalam.

Kepala gadis itu mendadak pening, otak miliknya memutar memori kehidupan sebelum ini, kehidupan sebelum ia tersadar di sebuah hutan di Seoul, sebelum ia bertemu Jinki. Memori dimana lelaki itu, lelaki dengan rambut coklat kemerahan berucap dengan setiap tetes bening yang menuruni pipi gembulnya.

‘Maaf, aku harus melakukannya…untuk menyelamatkanmu’

 Lalu…

BRUKKK

Tubuh mungil itu tumbang seiring dengan satu pasang sayap yang jatuh di memorinya.

Halaman 3

Melangkah pelan menyusuri jalanan Seoul, menyeka setiap bulir keringat yang menuruni pelipisnya, matahari yang tak begitu menyengat cukup mengganggunya. Memilih untuk melangkah lebih cepat lalu…

PUKK

Mendudukkan diri di sebuah kursi dihalte, berniat meraih ponsel kesayangannya karena menunggu itu sangat tidak menyenangkan, iya kan?

Namun, Jinki, ia mengurungkan niatnya karena…

“Itu…cantik”

Melangkah begitu saja dan…

TINN TINN TINN

Terkejut, itu yang ia rasakan. Memilih untuk membungkuk berkali-kali meski semakin banyak makian yang ia terima. Dan ya, Jinki, ia tak berhak marah.

Menyeberangi jalan tanpa memandang sekitar, tentu itu salahnya bukan?

Memilih untuk melanjutkan menyeberangi jalan lalu…

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”

Terus melangkah tanpa menghiraukan seorang pelayan yang mengikutinya, mata sabit itu tak dapat berhenti menatap sesuatu di balik etalase toko lalu…

“Ini…tolong berikan satu untukku” berucap singkat lalu menunjuk sebuah dress warna putih tulang.

Lagi-lagi tersenyum tanpa alasan yang jelas, jadi seperti ini rasanya merawat seorang bayi? Hei, tunggu, bayi? Ya, bayi karena ia memang seperti bayi. Bayi yang sangat manis, iya kan Jinki?

.

.

.

Menekan sebuah tombol dihadapannya lalu…

TINGG

Pintu besi itu terbuka, memilih untuk melangkah masuk. Menatap pantulan dirinya pada tiap cermin yang ada di dalam lift. Tak ada satu orang pun di dalam sana, tapi Jinki, kenapa ia tiba-tiba ingin tersenyum? Karena mengingat gadis itu?

Dengan sangat jelas ia mengingat kala tubuh mungil Jieun jatuh dihadapannya, lalu buliran bening di sudut mata kecilnya yang ia tangkap kala gadis itu terlelap tiap malam. Terlihat begitu rapuh, seketika ketakutannya pada gadis itu lenyap, tergantikan dengan perasaan…ingin melindungi?

TINGG

Menghabiskan waktu beberapa detik di dalam lift untuk memikirkan gadis itu, Lee Jinki, kau mulai merasa iba padanya?

Memilih untuk melangkah keluar menuju apartemen miliknya, menekan kombinasi tombol disana dan…

CEKLEK

Melangkah masuk, mencari sosok Jieun yang seharusnya belum tidur mengingat bahwa ia pulang lebih awal hari ini karena Jieun yang memintanya, meski pada kenyataannya yang terjadi adalah…

“Tuan muda, kau sedikit terlambat”

Memilih untuk menatap gadis itu, gadis dengan dress pink selutut, lalu rambut panjang yang juga berwarna merah jambu, lalu kulit putih itu dan senyum yang begitu manis. Lee Jieun itu, ia bukan seseorang yang akan mencelakainya, iya kan?

Mendudukkan tubuhnya yang entah sejak kapan tiba-tiba terasa ringan, lelah yang ia rasakan setelah bekerja seharian menguap seluruhnya. Mungkinkah…karena melihat gadis itu?

“Tuan muda, aku memasak makanan kesukaanmu” berucap singkat lalu meraih piring milik Jinki, mengisinya dengan semua masakan di meja makan.

Jinki, ia hanya terdiam menatap gadis itu? Jadi seperti ini rasanya memiliki seorang istri?

Hei, tunggu, setelah menganggapnya seorang bayi, sekarang Jinki menganggapnya sebagai istri? Bagaimana tidak, jika Jieun, gadis itu melakukan apa yang para istri lakukan. Membersihkan apartemen, menyiapkan makan malam bahkan Jieun, ia menunggunya pulang tiap malam.

“Selamat makan!”

Jieun ia berucap dengan penuh semangat lalu meraih sehelai roti tawar dan seperti biasa, ia pasti akan mengolesinya dengan madu, madu kesukaannya.

“Jieun, kau tak suka makan nasi?”

“Nasi tidak manis”

“Kau suka makanan manis?”

“Iya”

Jadi itu sebabnya kenapa ia selalu terlihat manis? Karena ia hanya  makan makanan manis?

Jieun, ia terlalu fokus pada rotinya, terlebih saat tak ada satu tetes pun madu yang dapat ia tangkap. Mukanya sedikit cemberut karena…

“Tuan muda, madunya habis”

“Hari ini, cobalah makan ini” berucap singkat lalu meraih piring yang ada di depannya, piring yang sudah dipenuhi makanan oleh Jieun beberapa saat lalu, piring yang seharusnya untuk Jinki. Piring yang kini tepat di depan gadis itu.

“…”

“Besok sepulang kerja, akan aku belikan madu lagi”

“…” Hanya diam karena ini, makanan ini, Jieun tak suka.

Jinki melihatnya, ekspresi Jieun yang tak ingin menyentuh makanannya, memutuskan untuk menyendok satu suap lalu…

“Buka mulutmu”

“Aku tak mau”

“Jieun”

“Aku makan besok saja”

“Kalau begitu, aku tak akan membeli madu”

“Tapi-“

“Buka mulutmu”

Tersenyum kecil karena…Jieun, ia menurutinya. Hei, Lee Jinki, haruskah kau sebahagia ini?

.

.

.

Hanya menatap layar televisi di depannya, sesekali mencuri pandang pada gadis disampingnya yang terlihat begitu serius. Menonton sebuah acara memasak, haruskah ia seserius itu?

“Jieun” memilih untuk memanggil nama gadis itu.

“Ya?”

“Kau selalu melihat acara seperti ini?”

“Iya”

Jinki, ia kehabisan kata-kata. Apa yang harus ia katakan? Kenapa ia jadi secanggung ini? Ia benar-benar bosan saat ini. Menonton acara semacam itu, Jinki, ia tak menyukainya.

“Tuan muda, aku bosan”

Jadi mereka sama? Memilih untuk menatap Jieun yang kini tengah menatapnya.

“Aku ingin bekerja”

“Ya?”

“Iya, aku ingin bekerja”

“kau yakin?”

Membiarkan gadis itu berkeliaran di luar sana tanpa dirinya? Kau yakin, kau yakin melepaskannya, Lee Jinki?

Terlebih dengan status Jieun yang…tidak jelas. Jinki yakin seratus persen jika gadis itu pasti tak memiliki ijazah satupun. Lalu bagaimana ia bisa bekerja?

Tapi, Jieun, ia tidak bodoh. Ia akan melakukan semuanya dengan baik hanya dengan sekali melihat.

“Aku ingin seperti itu!” berucap riang lalu menunjuk layar televisi yang tengah menayangkan sebuah drama dimana aktris utamanya adalah pekerja paruh waktu di sebuah cafe.

“Aku suka bajunya”

Pakaian khas pelayan kafe, sebenarnya apa yang menarik? Apa ada masalah dengan otak gadis itu?

Jinki, ia hanya diam. Otak miliknya berpikir keras hingga hanya satu nama yang dapat ia ingat.

“Aku mohon”

Lihatlah ekspresi memohon itu…kau tahan melihatnya, Lee Jinki?

.

.

.

Mata kecil itu menatap begitu antusias, mulut mungilnya tak dapat berhenti membentuk sebuah huruf ‘O’. Terlalu takjubkah?

“Tuan muda, aku suka bajunya” berucap dengan seulas senyum di muka imutnya.

Jieun, ia terlampau senang karena…pakaian itu, pakaian yang sama persis dengan yang ia lihat di televisi.

“Baiklah, Lee Jieun, mulai besok kau bekerja disini” ucap seseorang disana, seseorang dengan postur tubuh yang tak setinggi Jinki, sosok pemilik kafe minimalis disana.

Jieun, ia tersenyum senang. Memutuskan untuk mengucapkan terima kasih lalu membungkuk sejauh sembilan puluh derajat, setelahnya? Tentu gadis itu kembali sibuk dengan dunianya. Memandang penuh takjub pada setiap bagian kafe itu.

“Jonghyun, kalau begitu kami pergi dulu, sampai jumpa” berucap singkat lalu menarik tangan putih itu, memaksa sang pemilik untuk melangkah.

“Kau menyukainya?”

Jieun, ia ingin menjawabnya, menjawab bahwa ia terlalu senang saat ini, ingin berterima kasih dan berjanji untuk bekerja dengan baik tapi…

DRRTT DRRTT DRRTT

Sebuah panggilan pada ponsel Jinki menginterupsi, memilih untuk menatap lelaki disampingnya yang…tersenyum senang?

“Ada apa?”

“LEE JIEUN, MOBILKU AKHIRNYA KEMBALI!!” berteriak senang lalu memeluk tubuh mungil itu erat, Jinki, ia tak dapat menahan perasaannya yang meluap-luap karena mobil itu, mobil yang beberapa hari lalu harus mendekam disebuah bengkel paling mahal di Seoul, membuat lelaki itu merasa tengah menelantarkannya. Demi apapun, bertahan hidup tanpa sebuah mobil selama lebih dari seminggu, itu sangat menyedihkan!

.

.

.

Mata sabitnya terus menatap dengan teliti setiap benda disana, frustasi, itu yang ia rasakan. Mencari sebotol madu di sebuah supermarket, Jinki, ia tak tahu akan sesulit ini.

Memilih untuk bertanya tapi…

“Itu madunya!” Jieun, ia berhasil menemukannya. Tersenyum riang lalu meraih satu botol madu lalu…

“Tuan muda, ayo pulang” berucap singkat, melangkah menjauh tapi…Jinki, ia menahannya. Memilih untuk meraih lima botol madu, menarik tangan putih gadis itu, bertanya pada seorang karyawan dan…disinilah mereka.

“Jieun, kau harus mencoba masakanku”

Meraih tepung terigu, mentega, telur dan masih banyak lagi. Jinki, ia ingin membuatkan sesuatu untuk gadis itu. Selama beberapa hari hanya mengkonsumsi roti tawar dan madu, melahap sepotong pan cake, Jieun, ia pasti sangat senang.

Tersenyum penuh arti menatap barang belanjaan yang terlihat lebih banyak dari biasanya, tentu saja, kebutuhan untuk dua orang tidaklah sedikit, iya kan?

“Jieun, ayo cepat”

Kedua kaki tegapnya sudah cukup lelah, terlebih dengan barang belanjaan yang tak bisa dikatatakan sedikit. Tapi Jieun, apa yang ia lakukan? Kenapa tiba-tiba berhenti?

Memilih untuk menatap sebuah layar besar disana, sebuah layar besar yang menjadi pusat perhatian gadis itu.

Sebuah layar besar yang menayangkan sosok laki-laki yang tengah berjalan mendekat, semakin mendekat pada gadis itu dan…

CHUU

Tidak lama, hanya satu detik lalu berucap…‘Manis, rasanya sangat manis’.

Jieun, ia terlihat bingung, itu tadi…manis? Benarkah?

Memilih untuk menatap Jinki, dekat dan semakin dekat lalu…

.

.

.

Mematikan mesin mobilnya cepat, memilih untuk meninggalkan barang belanjaanya dengan Jieun disana, melangkah menjauh semakin jauh tapi…

“Tuan muda, kau bilang akan memasak untukku”

Jinki, ia merutuki dirinya sendiri karena…demi apapun, ia hanya ingin cepat berada di kamar sekarang. Tapi ini…haruskah ia terjebak bersama gadis itu? sekarang?

Jinki, ia hanya tidak siap jika harus sekarang!

“Besok saja, aku lelah”

“Begitu ya?” berucap singkat dengan ekspresi kecewa, Jieun, tak bisakah kau berhenti memasang ekspresi seperti itu?

Jieun, ia melangkah pelan memasuki halaman apartemen Jinki. Merasa tak sabar untuk merasakan masakan tuan mudanya untuk pertama kali, tapi kini Jieun, sepertinya harus menahan diri tapi…

“Baiklah”

Lee Jinki, kenapa kau selalu tak tahan melihat ekspresi kecewanya?

.

.

.

Menatap dengan antusias setiap gerak tangan Jinki yang tak bisa dikatakan mahir, tersenyum kecil kala menatap ekspresi Jinki yang terlampau serius. Memilih untuk membantunya tapi…

“Tidak perlu, kau duduk saja di ruang tengah”

Bahkan untuk memecah telur saja, Jinki, ia harus berkonsentrasi selama beberapa menit? Memilih untuk mengambil alih telur itu dan…

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Jinki itu, apa ia sedang marah?

“Aku sedang membantu” berucap dengan ekspresi polos, tapi Jinki, ia tak suka!

Pan cake ini, hanya hasil tangannya, tak boleh ada satu pun tangan lain yang ikut campur!

“Jangan membantu, ini pan cake-ku!”

Jieun, ia hanya tersenyum kecil karena Jinki yang seperti ini…terlihat menggemaskan.

Memilih untuk menyeka keringat lelaki itu dengan sebuah serbet…kotor?

“Jieun!” Jinki, ia marah, jadi seperti ini rasanya menjahili seseorang? Kenapa terasa menyenangkan?

Memilih untuk melanjutkan aksinya dan…

Mencolek sedikit adonan yang sudah dibuat oleh Jinki dengan susah payah, membuat lelaki itu marah…lagi. Dan semakin marah kala…

SRETT

Pipi putih miliknya dengan…sedikit adonan?

Memilih untuk menatap Jieun yang kini tersenyum jahil, ingin membalasnya tapi…bibir itu. Bibir mungil yang beberapa jam lalu menyapanya.

Dengan sedikit madu di permukaannya, membuat sesuatu berwarna pink itu sedikit mengkilat.

Memilih untuk mendekat, semakin dekat, menyapa bibir mungil itu, merasakan madu yang ada disana, rasanya manis, terlalu manis hanya untuk sebuah madu.

Memejamkan mata sabitnya, tak menyadari Jieun yang kini berkeringat dingin, mata kecilnya membuka lebar. Ini sama…

Mata yang sama, hidung yang sama, hanya rambut. Rambut yang membedakan Jinki dengan…Jieun, ia tak mampu mengingatnya, dan lagi…hanya sebuah kalimat yang dapat ia ingat sebelum tubuh mungil itu tumbang…untuk kedua kalinya.

‘Lee Jieun, aku mencintaimu’

To be continued…

copyright

2 thoughts on “PINK FAIRY : 3 – THE FALLEN ANGEL

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s