Tell Him 5th

TellHim2

Title ||  Tell Him  ( part 5 )

Author ||  Alana

Main Cast ||  Park Jiyeon | Lee Joon | Nam Woohyun

Support Cast ||  Lee Minhyuk | Ham Eunjung | Par Sun Young a-ka Hyomin

Genre || Romance 

Length || Chaptered

Rated ||  M

 

Disclaimer || I Own Nothing but the Story

 Poster by Arin Yessy @IFA and Poster Channel and everywhere.

.

.

 

>>> TELL HIM <<<

 

 

“Aku akan menghubungimu lagi. ”  Aku berdiri. Meraih ponsel dan tas tanganku. Berjalan ke arah pintu dan melewatinya. namun tangannya menarik lenganku.

 

“Siapa dirimu sebenarnya Nam Jiyeon ?” 

 

Tatap matanya menghujam tepat di jantungku. Siapa aku ? 

 

“Entahlah Tuan…? Seberapa jauh kau ingin mengetahui tentang aku ?”  sahutku  menantang. 

 

.

 

 

>>> Tell Him <<<

 

 

 

Minhyuk melirikku ketika aku melaluinya.’Dia kemudian melirik ke arah Joon ganti setelah dia melihat laki.laki di belakangku menatapku dengan berbagai macam tanda tanya besar di atas kepalanya.

 

“Minhyuk, tolong atur jadwal dengan Tn. Lee Joon untuk pertemuan berikutnya. Kau tahu jadwalku padat. Dan aku tidak mau janjiku dengan yang lainnya berbenturan.” 

 

Ponselku berbunyi. Dia berteriak-teriak menggema menarik perhatian Joon dan Minhyuk. Aku melangkah agak menjauh dari mereka. Woohyun meneleponku. Dia mungkin membutuhkanku saat ini. 

 

“Ya, Tn.Nam..!”  aku masih memanggilnya sesuai dengan apa yang dia inginkan, meski saat ini hubungan kami entah sampai di mana. Laki-laki berwajah dingin itu sangat senang mempermainkan emosiku. 

 

“Jiyeon jemput aku di bandara.” ujarnya

 

“Kau sudah tiba?”

 

“Baru saja.”

 

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”  

 

Aku melirik Joon yang masih menekuniku. Dia sepertinya masih curiga padaku. Jantungku berdegub menemui senyum sinisnya yang dia tujukan padaku. 

 

hh..apa maksudnya ?

 

Kumasukkan ponselku lagi ke dalam tasku. Berjalan mendekati Minhyuk dan menitipkan sebuah kunci.

 

“Apa ini ? Kunci apartementmu ?” Minhyuk mengerling.

 

“Kau jangan kurang ajar padaku !”  ujarku sambil melemparkan senyumku. 

 

“Kunci locker .” lanjutku. Milik Woohyun.

 

Minhyuk menelitinya.

 

“Simpan saja. Itu milik seseorang. ” ujarku sambil menyembunyikan identitas Woohyun dari perhatian Joon. Kenapa dia masih berdiri di situ.

 

“Ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, Joon. Boleh kan aku memanggilmu begitu?”

 

“Hh..terserah ! “

 

Aku tersenyum sambil mengenakan kembali kacamata hitamku.

 

“Joon ssi, aku ada keperluan lain. “

 

“Aku harap kau memenuhi janjimu. Aku sangat menginginkan lukisan itu kembali.”  ujarnya dengan wajah kaku. Matanya benar-benar menaruh harapan. 

 

Aku heran, seberapa penting lukisan wajahku itu baginya. 

 

“Baiklah. Besok aku akan membawanya.”  ujarku sambil melangkah menjauh. 

 

Namun langkahnya kudengar mengejarku. Dia menjejeriku. Tinggi badannya menutupi cahaya matahari dari arah luar. Aku menunduk dalam senyum yang tidak kumengerti. 

 

Scent of his body , confussed me. God…aku sedikit terpesona oleh hal itu. Aroma yang memikat. 

 

“Berapa lama kau tinggal di Seoul Nona Nam ?” tanyanya ketika dia mulai memasukan tangan kakannya ke dalam saku jasnya. Aku menarik nafasku. Seperti yang sudah kuduga, dia memang ingin menyelidikiku.

 

Aku tidak akan semudah itu, Joon-ssi.

 

“Sejak kecil.” jawabku singkat

 

Lalu tidak berapa lama aku berada di luar gedung. Dan mataku menyapu setiap sudut halaman yang terlihat begitu tenang. beberapa mobil terparkir di sana. Termasuk mobilku. Dan entah yang mana milik Joon.

 

“Oke, aku buru.buru, Joon…!”  aku melangkah cepat menuju ke mobilku.

 

“Jiyi !” panggilnya. Dan aku tercekat begitu saja. Hampir saja aku berhenti melangkah. Apa yang ada dipikirannya? Kenapa tiba-tiba dia memanggilku dengan sebutan itu.  Jantungku bergemuruh. 

 

Kubuka pintu mobilku. Sebentar aku menoleh ke arahnya. Aku melihatnya putus asa.

 

” Selamat siang Joon-ssi !”  dan aku berlalu darinya.  Hanya sedikit melirik tanpa memberi kesan ramah. Aku membiarkannya frustasi. Wajah tampnnya mengukir banyak kesan di hatiku. 

 

Dulu aku menyentuh wajah itu, ketika akumash belum bisa melihat. Namun sekarang saat aku sudah bisa melihatnya, kenapa terasa begitu jauh kesan itu dariku. 

 

Hatiku menukik pada rasa perih. Apakah ini alasanku untuk mengoprasi mataku. 

 

Hanya karena ingin melihatnya.

 

Menatap wajah Joon .

 

Seorang  Lee Joon.

 

Fiuuh…kenapa aku merasa begitu tegang. Seharusnya aku senang dia masih mengingat nama panggilan kecilku.  

 

 

# Jiyeon Pov end

 

 

 

.

.

.

 

 

 

Joon merasa letih dengan pemikirannya sendiri.  Dia hampir tersesat tadi ketika tanpa sengaja memanggil nona Nam dengan sebutan Jiyi. Dia berharap wanita cantik itu akan menoleh dan tersenyum. Ternyata tidak. Dia bukan Jiyi. Bukan seorang Park Jiyeon. Benar dia adalah Nam Jiyeon.

 

Akhirnya Joon melarikan mobilnya di jalanan siang yang sibuk. 

 

Hyomin. 

 

Dia melupakan bahwa putrinya membutuhkannya saat ini. 

 

Baru beberapa menit dia menyetir, ponselnya berbunyi. Ya, siapa lagi kalau bukan Eunjung. Dia selalu meneleponnya di saat yang tidak tepat.

 

“Aku sudah menuju ke sana Eunjung !”  Joon langsung menjawabnya.

 

“Kau terlambat, Joon.”  balas Eunjung.

 

“Jadi aku tidak perlu ke sekolah saat ini ?”  Entah kenapa Joon merasa sedikit lega karena tidak harus menghadiri pertemuan orang tua murid itu.

 

“Hyomin sudah ada di rumah. Tadi aku menjemputnya karena pihak security menghubungiku. Kau kemana saja ? Aku bahkan membatalkan janji dengan seorang client. Sebenarnya apa kau bisa kuandalkan Joon ? ”  Dia sepertinya dalam kondisi tinggi. Sikap protesnya selalu ditunjukkan dengan nada suara melengking dan memburu.

 

“Sudah kukatakan ada hal yang harus aku selesaikan. Kenapa kau tidak menyuruh seseorang untuk menjemputnya. Jika kau selalu sibuk, dan mengandalkan aku setiap saat, lalu bagaimana aku bisa mengurusi pekerjaanku. Eunjung, aku seorang dosen. Aku pun sibuk.”  ujarku dengan emosi.  

 

Klik

 

Joon menutup ponselnya dan mematikannya. Dia tidak mau semakin bertambah emosi ditengah jalan raya seperti ini. 

 

 

 

 

# Joon Pov

 

 

Kami selalu bertengkar. Dan pertengkaran kami hanya karena masalah sepele. Menurutnya sepele, tapi selalu melibatkan waktuku yang terbatas. Akupun terikat jam kerja sama sepertinya. 

 

Waktu mengajarku di hari biasa berkisar diantara jam sepuluh pagi dan pukul tiga sore. Lalu setelah itu aku akan memberikan kuliah tambahan untuk mahasiswa seni yang mengambil satu jam selepas pukul enam untuk memperdalam pengetahuannya tentang melukis. Hanya sekitar lima belas orang dan itu sungguh menyibukkan tapi buatku cukup menyenangkan.

 

Waktu.

 

Ya tentu saja,

 

Antara aku dan Eunjung tidak mempunyai banyak waktu untuk menyatukan visi dan misi dari pernikahan yang sudah berlangsung lima tahun ini. 

 

Seperti yang bisa dilihat, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. 

 

Wajar. 

 

Aku seorang laki-laki. Aku mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluargaku. Dan harga diriku terletak di situ. 

 

Pekerjaan. 

 

Meskipun aku hanya seorang dosen, namun itulah duniaku. Mata pencaharianku dan jiwaku. Seharusnya Eunjung bisa membagi waktunya untuk putri kami. Tapi dia selalu sibuk dengan urusan kantor. Memang betul Ayahnya mewariskan perusahaan yang harus di urusnya. Tapi apakah itu sebuah alasan untuk menelantarkan Hyomin.

 

 

Tanpa sadar aku melajukan kendaraanku ke area peristirahatan di sebuah Pombensin di kanan jalan. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memasuki tempat ini. Pikiranku sedang buntu.

 

Dan aku memikirkan Nona Nam. Memikirkan tatapan matanya yang lembut di baik sikap dinginnya. 

 

Nam Jiyeon…whatever ! dia membuatku semakin oenasaran. Kenapa dia menurunkan lukisanku, dan menyimpannya di rumahnya.

 

Aneh.

 

Jantungku berdebar hebat ketika melihat langkah kehadirannya sesaat lalu. Dia sangat anggun dan percaya diri. Berbeda dengan Jiyi.

 

Ugh, Stop!  dia memang bukan Jiyi. Dia Nam Jiyeon.

 

 

 

# Joon Pov end.

 

.

.

.

.

 

# Jiyeon Pov,

 

 

 

Aku mencari bayangan Woohyun di antara sekian ribu orang yang memenuhi Incheon. Tapi Woohyun selalu mempunyai cara untuk menemukan aku. Dia sangat percaya diri dan karismatik. 

 

Sementara aku sibuk melihat ke seluruh penjuru arah dengan menempelkan ponsel di telingaku, aku sedang berbicara dengannya. Woohyun. Namun bahuku sudah di sentuh oleh sebuah jari. Hanya satu jari tanpa tekanan yang berarti, namun aku sudah mengira kalau Woohyun menemukanku lebih dulu.  

 

Aku menoleh dan mendapati …. wajah kakunya. Juga sorot matanya yang tersembunyi di balik kaca mata hitamnya .  Seperti biasa.

 

 

“Apa aku terlalu lama ?”  tanyaku.

 

Woohyun menggeleng. Dia menatapku. Aku tahu, dia sedang menatapku di balik kaca mata hitamnya itu. Rasanya aku ingin sekali mengambilnya dari sana, supaya aku bisa tahu, bagaimana dia menyikapi perasaan rindunya.  Padaku.

 

Rindu ?

 

Kenapa aku bisa begitu yakin kalau dia merindukan aku.

 

Dan apakah aku berharap dia merindukan aku ?

 

“Ayo! ” ajaknya sambil berjalan lebih dulu. 

 

Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Sementara aku sibuk mendorong troly yang berisi beberapa barang bawaannya.  

 

“Bagaimana keadaan galery ?”  Dia bertanya tanpa menoleh. Aish,manusia macam apa dia ? apa dia sedang berbicara dengan mesin.

 

“Baik.”  jawabku singkat.

 

Haruskah aku mengatakan perihal lukisan Joon. Aku meliriknya. Dia terlihat lelah. Mungkin juga mengantuk.

 

“Tentang lukisan.” ujarku ragu. 

 

“Lukisan apa?” 

 

“Lukisan yang waktu itu kau bawa pulang, karena itu adalah lukisan diriku.” 

 

Ya, dan waktu itu kita sedikit berdebat mengenai lukisan yang dilukis oleh Joon saat dia berada di desa, di penginapan orang tuaku.

 

“Ada apa dengan lukisan itu ?”

 

“Pemiliknya menuntut dikembalikan.” jawabku.

 

“Siapa ?” 

 

“Joon.” 

 

“Joon ?”  tanyanya. Kali ini dia menoleh.

 

“Lee Joon.” tegasku.

 

“Lukisan itu untukmu. Aku akan membayarnya. Kapan dia akan datang lagi ?”  dahinya berkerut ketika menatapku.

 

Aish, apa yang ada di dalam otakmu Tuan Nam ?

 

“Besok. Aku berjanji akan menyerahkan lukisan itu padanya. Tapi dia tidak berniat menjualnya.”

 

“Aku akan membayarnya dengan harga tinggi.”  Woohyun menaiki mobil dan memasang wajah dingin. Menggigit bibir dan mendengus.

 

“Kau jangan menemui dia lagi.”  ujanya tiba-tiba ketika aku duduk di sisinya.

 

Aku sedikit tertegun. 

 

Why ?

 

pertanyaan itu pasti tidak akan dijawabnya. sehingga aku tidak perlu repot-repot menanyakannya. 

 

Apakah dia sedang menunjukkan sikap cemburunya.

 

Aku menunduk. Dan merasakan mobil sudah berjalan meninggalkan Incheon. Aku sedikit merasa sesak. 

 

“Kalian tadi bertemu ?”  tanyanya lagi.

 

“Ya. “

 

“Lalu ?”

 

Aku menoleh.

 

“Tn. Nam, apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku ?” 

 

Woohyun menelan salivanya ketika dia berdehem. Gerakan tangannya ketika menyetir terlihat sedikit tegang.

 

“Aku ingin bertemu dengannya.”

 

 

Akhirnya aku hanya bisa menghela nafasku. Laki-laki di sebelahku tidak bisa di ajak kompromi. Sikap dingin dan acuhnya kelewat batas. Tidak bisakah dia berbicara dari hati ke hati.

 

“Aku akan menyuruh Minhyuk membuatkan janji untuk kalian.”

 

 

“Berikan aku nomor ponselnya. Aku akan menghubunginya sendiri !” ujarnya. Dia menyerahkan ponselnya padaku.

 

Dan aku mencatatkan nomernya langsung.

 

“Nanti malam kau temani aku makan malam.”  ujarnya ketika menerima ponselnya kembali.

 

“Baik.”  jawabku. Lalu mengedarkan pandanganku keluar, melewati jendela mobil dan melamun.

 

Aku mengabdi pada laki-laki di sebelahku. Menuruti semua keinginannya tanpa bertanya apa-apa. 

 

Patuh.

 

Sangat patuh. 

 

Ini adalah bayaran untuk semua yang kumiliki saat ini. Tidak akan sulit.

 

Ya, seandainya aku tidak beremu dengan Joon, tentu semua ini tidak akan terlalu sulit. Aku akan menikahi laki-laki ini, Woohyun dan menjadi istrinya karena aku adalah miliknya. 

 

“Kau sudah makan siang ?” tanya Woohyun.

 

“Hm, sudah.”  aku tidak ingat. Sudahkah ?

 

“Jam berapa sekarang ? “

 

Woohyun menekan jam digital di atas dasbord. Angkanya menunjukkan pukul tiga sore. 

 

“Apa kau ada janji ?”  tanyaku sambil mengambil cermin dalam tasku. Memperbaiki pulasan mataku dan menjumpai lirikan Woohyun tertambat begitu saja ke arahku.

 

“Kau memotong rambutmu lagi ? Sepertinya berkurang satu centi satu dari sebelumnya.”

 

“Ya. Aku memotongnya.”  kenapa dia selalu tahu apa yangbterjadi dengan perubahan fisikku.

 

Aku ke salon sebelum aku menemui Joon. Aku ingin terlihat cantik di depannya. Tapi tentu saja aku menyimpan penjelasan panjang lebar ini hanya di hatiku saja. 

 

Mobil berhenti di depan sebuah minimarket.

 

“Ada yang ingin kubeli.”  ujarnya sambil turun. Aku hanya memperhatikannya dari tempatku duduk. Dia berjalan tanpa menoleh. 

 

Namun dia sudah melepas kaca mata hitamnya dan kelopak matanya mengernyit karena sedikit menyesuaikan dengan cahaya.  

 

Apa yang ingin di belinya.

 

Sedikit agak lama aku menunggu. Lima belas menit. Namun dia belum terlihat keluar. Apa yang dilakukannya.

 

 

Memancingku untuk keluar dari dalam mobil.  Menekur sambil menatap ke dalam mini market. Di mana Wooyun.  

 

Ponselku berbunyi.

 

Joon ?

 

Kuterima.

 

Jantungku berdegub kencang.

 

“Nona Nam , apa yang kau lakukan di situ ?” 

 

“Hah ?”  aku mencari sosok Joon disekitarku.

 

Asumsiku dia sedang memperhatikan aku. Dia pasti berada di dekat sini. But where is he ?  aku bersemangat ingin segera melihat sosoknya.  

 

Pemikiran seronok. Aku mengutuki diriku sendiri.

 

“Aku di sini, di dalam mini market.”

 

Deg.

 

Kutekuni bayangan diriku yg terpampang di kaca etalase mini market di depanku. Joon di dalam sana.

 

Mereka berdua berada di dalam sana.

 

Kebetulan ?

 

Kututup ponsel, dan langsung berjalan memasuki mini market dengan perasaan tak karuan. Semoga saja Woohyun tidak menyadari kalau Joon berada di dalam.

 

Lima belas menit ! 

 

Huh! 

 

 

Itu sungguh lama.

 

 

Kudorong pintu kacanya. Dan hawa dingin langsung menerpa wajahku. Aku langsung meliirik ke sebelah kanan, pada sosok tinggi jangkung itu lagi.

 

Kenapa dia di sini. Namun aku senang.

 

Apakah dunia ini begitu sempit.

 

“Nona Nam !” sapanya.

 

Aku tidak membalas. Meneliti setiap sudut ruagan hanya untuk mencari Woohyun. Kamuflase cerdik. 

 

“Kenapa kau menyusulku !” akhirnya selalu dia yang menemukan aku terlebih dulu.

 

Aku menoleh dan menjumpai sorot matanya.

 

Curiga.

 

“Apa aku terlalu lama ?” tanyanya. Dia menggandeng lenganku ketika melewati Joon. 

 

Hm, dia tidak harus mengenal Joon secepat ini. Pikirku. Jadi aku membiarkan Joon berdiri dengan tatapan hampa melihatku berlalu dalam genggaman tangan seorang namja berperilaku dingin.

 

Dia berjalan keluar. Aku mengekori dari sudut mataku, tanpa sepengetahuan Woohyun.

 

“Apa yang kau beli ?”  tanyaku cepat. 

 

“Hanya beberapa makanan kecil. ”  Woohyun memperlihatkan padaku barang belanjaannya.

 

Memang itu hanya makanan kecil. Kenapa harus sebanyak itu.

 

Semoga saja itu bukan karena dia sedang berusaha menghindari percakapan mengenai Joon di dalam mobil tadi. Ataukah dia nervous dengan perasaan cemburunya.

 

Kenapa aku selau mengira dia cemburu?

 

Joon. 

 

Apakah dia sudah pergi.

 

Melirik ke arah luar. Dan mencoba mencari bayangan Joon di area parkir. Dia sudah pergi.

 

Wajahku tertegun begitu saja.  

 

Kehilangan ?

 

 

.

.

.

.

 

 

Tepat pukul tujuh .

 

Rasanya begitu lelah ketika melihat wajahku terlihat tidak segar di depan cermin. Kantung mataku terukir nyata, lengkap dengan bayangan hitam yang melingkari kelopak mataku. Tapi aku harus menemani Woohyun pergi ke perjamuan makan malam dengan seorang koleganya.

 

 

Membosankan.

 

“Apa kau sudah siap ?”  

 

Woohyun masuk ke dalam kamarku. Aku merasa hal itu sudah biasa. Dia memiliki rumah ini, terlebih diriku. Hanya saja dia belum pernah menyentuhku, bahkan untuk sebuah kecupan sekalipun.

 

Apakah aku menginginkan bibirnya berada di tubuhku ?

 

Matanya jeli melihat lekuk wajahku.

 

“Apa kau lelah ?” tanyanya. 

 

Aku hanya tersenyum dan memulaskan lipstickku. Dia mengangkat daguku. Melihat semua yang terpampang di wajahku.

 

Jantungku berdegub kencang melihat reaksinya.

 

“Aku tidak memaksamu. Aku akan pergi sendiri . “

 

“Tn. Nam, aku tidak apa-apa.”  jawabku

 

“Dengan bulatan hitam itu ?  Lupakan!  Aku akan pergi sendiri saja.”  

 

“Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu, asal nanti kau tidak berlama-lama dengan temanmu.”  Aku mencoba untuk membuat hatinya tenang. Aku tidak tega membiarkan dia sendirian. 

 

Dia terkenal dengan julukan manusia dingin. Walaupun dia baik dan tidak terlalu rumit, namun kesan di wajahnya menunjukkan kalau dia laki-laki yang sulit mendapatkan ….pasangan.  

 

Aku tidak menghinanya atau meremehkan. Kenyataannya, selama dia berada bersamaku, belum pernah dia terlihat dengan wanita manapun atau bersikap sekedar ramah pada wanita lain. 

 

“Baiklah.”  Dia menyibakkan rambutku. Meneliti bahuku yang terbuka karena model gaun yang kukenakan terlalu terbuka.

 

“Kenapa ?” tanyaku

 

Aku tahu dia keberatan. Sehingga aku berjalan ke arah lemari, dan membukanya. Lalu memilih gaun yang sedikit tertutup. Dan menunjukkan ke arahnya. 

 

Sebuah gaun berwarna merah hati sederhana dan sopan.

 

“Apa kau suka yang ini.”  Aku memamerkan ke arahnya. Ayolah tersenyum. Pintaku.

 

Dia mengangguk.

 

Kenapa sulit baginya untuk tersenyum.

Woohyun keluar ruangan dan meninggalkan aku sendirian.

 

 

Beberapa menit kemudian, aku sudah melangkah di sisinya. Dia sangat …. menawan dengan gaya berpakaiannya yang elegant. Rambut hitamnya tersisir rapi dan terlihat mengkilat. 

 

Sepanjang perjalanan dia tidak banyak bicara, hanya saja dia sibuk memeriksa beberapa pesan dari ponselnya. Mungkin dia memang sedang sibuk. 

 

“Aku berjanji tidak akan lama.”   Woohyun mengeluh.

 

“Oke !”  ujarku menyetujui keputusannya.

 

“Akupun lelah. Aku hanya ingin hubungan pertemanan ini tidak rusak, aku memenuhi undangan dari Tn. Ham. Dia sebenarnya sudah pensiun dari perusahaannya, dan putrinya yang meneruskan. Dia mengundangku karena sudah lama aku tidak mengunjunginya. Dia sudah kuanggab sebagai sesepuh. Pengalamannya luar biasa dalam membangun bisnisnya. ‘

 

Aku menyimak bicaranya yang sepertinya begitu mengagumi sosok seorang pengusaha bermarga Ham itu. 

 

Okelah. Aku bisa menerima hal ini. Dia sangat menghormati laki-laki itu. Ya, dari nada bicaranya dia menggambarkan sosok bermarga Ham itu adalah laki.laki yang cukup berumur, buktinya putrinya sudah meneruskan bisnisnya. Pasti dia adalah wanita yang sangat pintar, cerdas dan berkuasa.

 

Mobil berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar yang cukup tinggi. Terlihat sepi. Aku mengikuti Woohyun yang berjalan lebih dulu. Pintu pagarnya terbuka dengan seorang penjaga di sana. Terlihat sekali  kalau Tn. Ham mengundang beberapa orang lainnya. Ada beberapa mobil yang terparkir di antara mobilku.

 

Maksudku mobil milik Woohyun yang selama ini aku pakai.

 

 

Aku sudah belajar untuk menghadapi hal semacam ini. Beramah tamah dengan beberapa teman Woohyun. Aku mungkin sedikit nervous namun aku sudah menghadapi ini sejak dua tahun lalu. Woohyun memberikan aku kebebasan untuk menegur siapapun atau berbicara dengan siapapun di dalam jamuan makan atau pesta yang diadakan teman-temannya.

 

“Paling lama kita akan berada selama satu jam di tempat ini.”  bisiknya. Dan aku mengangguk.

 

Dia tersenyum pada seorang temannya. Tn. Choi Min Young, lalu mendekatinya. Sementara aku tertarik dengan hawa segar di sisi ruangan sebelah kanan. Pintunya terbuka menghadap taman. Aku sedikit merasa aman jika sedikit menjauh dari keramaian. 

 

Entah kenapa aku merasa seperti diperhatikan.  Hatiku mengatakan begitu. Tapi…

 

Kuedarkan pandanganku ke arah ruangan. Hanya Tn. Choi saja yang aku kenal, karena aku pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu, selebihnya masih asing di mataku. 

 

Kulayangkan pandanganku ke lantai dua, di atas tangga yang meliuk seperti ular naga dengan berbagai ornamen mewahnya. Di atas sana aku menemukan sosok yang membuat mataku lekat dan terkunci di sana.

 

Joon.

 

Dia di sini ?

 

Apakah ini rumahnya ?

 

Tapi kemudian….

 

Oh Tuhan,…kenapa aku tidak menyadari sebelumnya kalau….

 

 

Seorang wanita muncul dan mengamit lengannya. Mereka berjalan menuruni tangga dengan lirih. Mata Joon terpaku padaku. Dia melihatku, dia mengamatiku dan dia sangat terkejut dengan kehadiranku. 

 

Begitu juga dengan diriku. Aku tidak sanggub menatapnya lagi, ketika aku mliihat wanita itu bergayut mesra di sisinya. Diakah wanita yang dulu menyusul Joon ke pengipan.

 

Eunjung.

 

Ham Eunjung.

 

Demi Tuhan aku merasa kehilangan keseimbangan.

 

Woohyun menghampiriku dan menggandeng tanganku. Dia menarikku supaya mendekat.

 

“Hari ini sepertinya putri Tn. Ham berulang tahun. “

 

Aku menatap wanita di sisi Joon dengan hati miris. Joon sudah memperistrinya. 

 

Kecewakah ? 

 

 

.

.

.

 

 

 

tbc

 

 

 

a/n

 

No Comment deh ! Sukur kalo ada yang masih mau mbaca! 

11 thoughts on “Tell Him 5th

  1. Jii .kamu jangan jdi perusak rumah tangga orang.walau joon kayanya ga akur ma eunjung.semoga joon ga mencari perhatian pada jiyeon..jiyeon lebih baik tetap bersama wohyun,,

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s