PINK FAIRY : 4 – THE BUTTONS

PINK FAIRY NEW

1st2nd – 3rd

PINK FAIRY

4th series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance

© Risuki-san

.

Halaman Sebelumnya

Jinki memilih untuk menatap Jieun yang kini tersenyum jahil, ingin membalasnya tapi…bibir itu. Bibir mungil yang beberapa jam lalu menyapanya.

Dengan sedikit madu di permukaannya, membuat sesuatu berwarna pink itu sedikit mengkilat.

Memilih untuk mendekat, semakin dekat, menyapa bibir mungil itu, merasakan madu yang ada disana, rasanya manis, terlalu manis hanya untuk sebuah madu.

Memejamkan mata sabitnya, tak menyadari Jieun yang kini berkeringat dingin, mata kecilnya membuka lebar.

Ini sama…

Mata yang sama, hidung yang sama, hanya rambut. Rambut yang membedakan Jinki dengan…Jieun, ia tak mampu mengingatnya, dan lagi…hanya sebuah kalimat yang dapat ia ingat sebelum tubuh mungil itu tumbang…untuk kedua kalinya.

‘Lee Jieun, aku mencintaimu’

Halaman 4

Memilih untuk tetap disana, memilih untuk berdiri bahkan saat ada puluhan kursi disekitarnya, tak ingin beranjak dari sana meski jarum jam sudah menunjukkan pukul…

07.00 KST

Tak ingin berangkat bekerja, untuk hari ini saja tapi…

“Tuan muda, kau belum pergi?”

Menatap pemilik suara lembut disana, memilih untuk menatap gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Tersenyum kecil meski, Jinki, ia lebih suka dress, dress dengan warna lembut yang melekat pada tubuh gadis itu tapi pakaian itu…pakaian khas pelayan kafe…nyatanya tak terlalu buruk.

“Kau sudah siap?”

Mengabaikan pertanyaan gadis itu, lebih memilih untuk melayangkan sebuah pertanyaan, pertanyaan basa-basi karena Jinki, ia sungguh tak ingin berangkat kerja hari ini.

 “Tuan muda, pergilah, kau bisa terlambat”

Hanya diam, otak miliknya bekerja keras mencari alasan, ingin menemani gadis itu seharian di kafe, hanya untuk hari ini, setidaknya untuk hari pertama gadis itu bekerja disini. Jinki, ia hanya ingin memastikan jika Jieun, ia akan baik-baik saja.

“Tuan muda?”

Hanya mampu menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal, memilih untuk mendekat setelah memastikan tak ada satu orang pun disekitar mereka.

Menyentuh muka putih gadis itu, merasakan lembutnya permukaan kulit disana, terlalu lembut hingga mengingatkannya pada kulit bayi.

 “Kau yakin ingin bekerja? Jika ingin berhenti, katakan saja padaku, mengerti?” memilih untuk bertanya dengan menatap dalam gadis itu.

Otak miliknya tak dapat berhenti mengingatnya, mengingat disaat tubuh mungil itu tumbang beberapa kali. Membuat lelaki itu merasa ragu, haruskah ia melepasnya seperti ini?

Bagaimana jika gadis itu pingsan? Bagaimana jika semua orang tahu tentang identitas Jieun yang nyatanya bukanlah manusia?

“Aku akan melakukannya dengan baik, aku berjanji”

Tersenyum kecil kala Jieun, ia memaksa untuk mengaitkan jari mungil miliknya dengan milik Jinki.

Memilih untuk melakukannya, mengaitkan jari-jari besar miliknya lalu…

Meraih tubuh mungil itu, mendekapnya erat, tak ingin melepasnya karena Jinki…ia ingin terus melakukannya, melindungi tubuh mungil yang begitu rapuh di matanya.

“Tuan muda, kau bisa terlam-“

Suasana romantis seperti ini, haruskah kau merusaknya, Lee Jieun?

“Iya aku tahu!” berucap dengan sedikit berteriak, mendengus sebal karena…Jieun yang terus mengusirnya, bukankah itu keterlaluan?

Memilih untuk melepasnya, menatap sebal pada gadis itu lalu..

DUKK

Membenturkan dahi miliknya pada dahi Jieun lalu dengan ekspresi yang super kesal, Jinki…ia mengomel seperti biasa.

“Bekerja dengan baik, jangan merepotkan Jonghyun, jaga kesehatanmu, jangan sampai melewatkan makan siang, jangan sampai pingsan lagi…”

Dan berlanjut hingga terbentuk satu buku berisi nasihat oleh Jinki untuk gadis itu, memilih untuk menarik nafas setelah tak melakukannya selama beberapa menit lalu…memutuskan untuk mengucapkannya, mengucapkan satu kalimat, satu kalimat yang bahkan sudah cukup untuk mewakili seluruh petuah yang sebelumnya ia utarakan, sebuah kalimat sederhana yang mewakili perasaannya…

“…Jangan membuatku khawatir”

.

.

.

Terus melamun selama seharian, tak melakukan pekerjaan apapun, seluruh tanggung jawabnya terbengkalai, tapi Jinki…ia tak peduli.

Karena setiap kalimat Jinki…adalah perintah. Saat kalimat itu berasal dari mulut seorang putra tunggal pewaris Lee Corp, bukankah itu sebuah harga mutlak bagi tiap karyawan?

Memilih untuk menatap layar ponsel miliknya, tak ada kedipan atau pun suara dering disana, membuat lelaki itu berpikir, apa ia baik-baik saja? Kenapa tak menghubunginya?

“Manajer Lee”

Manager ??

Jinki, ia sudah cukup tangguh untuk mengelola sebuah perusahaan, tapi…posisi manajer untuk seorang pewaris tunggal? Bahkan disaat usianya sudah menginjak dua puluh enam tahun? terdengar aneh? Keterlaluan?

TIDAK

Karena Jinki…ia menikmatinya.

Karena…posisi Manager, General Manager, Direktur, Presiden Direktur, tak ada bedanya bagi Jinki.

Karena intinya sama…sekarang ataupun nanti, bekerja dengan giat atau pun tidak, Lee Corp akan baik-baik saja dan…hanya berakhir menjadi miliknya.

.

.

.

Membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan sedang, ingin menginjak gas lebih dalam karena terlalu…merindukannya?

Lee Jinki, apa yang kau pikirkan?

Otaknya lelah, terlalu lelah dengan satu masalah yang terus menghantuinya.

Berniat untuk menekan tombol disana, setidaknya sebuah lagu yang menenangkan dapat membantunya?

Tapi…

Ponsel miliknya berdering dan…Boleh Jinki pura-pura tak mendengarnya?

HOME CALLING

“LEE JINKI!! KAU TAK MENEMUINYA??!!”

Jika boleh jujur, Jinki, suaranya sangat lembut tapi ini…ibu Jinki…Kenapa memiliki suara yang senyaring itu?

Memilih untuk menjauhkan telinganya karena…ia masih ingin mendengarkan suara lembut penyanyi favoritnya.

“Tolong berhenti mengatur kencan buta untukku, bu”

“Karena itu, cepat berikan ibu cucu”

Ia masih ingin menikmati masa mudanya tapi ini, kenapa ibunya selalu seperti ini?

“Aku bahkan masih 26 tahun!”

Bukanlah sebuah usia remaja dimana ia masih bisa bermain-main, tapi juga terlalu awal jika ia harus menikah, iya kan?

Karena…Jinki…ia laki-laki, kenapa ia harus menikah secepat itu?

.

.

.

Hanya menatap langit Seoul yang gelap, tak ada satu pun bintang disana, tapi…Jieun, ia tetap menyukainya. Karena…ada ataupun tidaknya bintang, langit Seoul akan selalu terlihat menakjubkan.

Memilih untuk mendudukkan tubuhnya pada sebuah bangku di halte…ingin menaiki bis yang kini berhenti tepat di depannya tapi…ia mengingatnya.

‘Lee Jieun, aku akan menjemputmu, tunggu aku’

Menghela nafas berat karena Jieun, ia merasa…kenapa ia seperti ini? Kenapa ia selalu bergantung pada Jinki?

Memilih untuk menatap tanah di bawahnya, mengetuk-ngetukkan sepatu flat pemberian Jinki, memainkan renda dress milik…

Menatap semuanya, pakaian, sepatu, tas, semua yang melekat padanya, semua Jinki yang membelinya.

Menghela nafas berat, Lee Jieun, dengan apa kau akan membalas semua kebaikan lelaki itu? Mengganti semua uang yang Jinki keluarkan untukmu? Tidak, itu bahkan tidak cukup…karena Jinki, ia memberikan semuanya. Semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Makanan, pakaian, teman-teman yang membantunya, bahkan…perhatian.

“Kau menyukainya?”

Suara itu…

“Kau terus memainkannya, kau suka bajunya?”

Menatap mata sabit itu, mata sabit yang akan tenggelam seiring dengan senyum hangat yang menyapanya.

“Ayo pulang”

.

.

.

Hanya saling diam, tak ada pembicaan diantara keduanya. Jinki, ada apa dengannya? Kenapa diam? Bukankah Jinki selalu banyak bicara?

Tanpa sengaja memukul kemudi di depannya, Jinki, apa ia sedang marah?

Memilih untuk menepikan mobil sport miliknya, melepas sabuk pengaman lalu keluar…

Mata sabit itu begitu berbinar, ini…ayam dan Bir, saat ini, ia sangat membutuhkannya.

Memilih untuk menarik tangan putih gadis itu, menuntunnya pada sebuah bangku lalu, mendudukkan diri tepat disampingnya.

“Jieun, ayo kita rayakan hari pertama kau bekerja!!”

“Eh?”

Hanya mampu terheran kala menatap Jinki yang melahap ayam miliknya terlalu bersemangat.

Tanpa sadar menarik sebuah senyum kecil di sudut bibirnya karena Jinki yang seperti ini…terlalu menggemaskan.

Memilih untuk meraih sebuah botol di depannya, ingin merasakannya…satu tetes saja tapi…

“Tidak, kau minum ini saja”

Lagi, selalu seperti ini. Hanya berakhir menatap lelaki itu menghabiskan ayam dan soju miliknya.

.

.

.

Jika seperti ini rasanya, Jieun seharusnya tak melakukannya, meminum cairan putih bening itu secara diam-diam dan…ini akibatnya.

Berjalan dengan sempoyongan, mulut mungilnya tak berhenti meracau tidak jelas. Jinki, ia pun meminumnya tapi…ia berbeda, ia sudah terbiasa. Beberapa gelas soju takkan membuatnya sepayah gadis itu.

Membopongnya dengan kesadaran yang juga tidak penuh, tangan miliknya tak berhenti memeluk erat tubuh mungil Jieun karena…gadis itu mengeluh kepanasan.

BRAKK

Membuka pintu apartemen miliknya dengan kasar, hanya beberapa langkah, tinggal beberapa langkah maka ia dapat beristirahat dengan tenang.

Menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, mengabaikan Jieun yang…entahlah…mungkin lebih baik jika lelaki itu tak melihatnya.

.

.

.

Kicauan burung mulai menyapa, bias-bias sinar matahari mulai merambati permukaan kulit gadis itu, merasakan sedikit rasa hangat membuat gadis itu terbangun.

Mengerjapkan kedua mata kecilnya, menatap sekeliling…ini…ruang tamu.

Merasakan sesuatu di dalam perutnya lalu naik dan…memilih untuk menahannya, membekap mulut mungilnya dan…

BYURR

Cairan kental yang membuat tenggorokannya tidak nyaman, memilih untuk melangkah ke dapur, meraih segelas air putih dan susu favoritnya tapi…

Itu…kenapa lelaki itu disana?

Memilih untuk menghampirinya, menyentuh tubuh itu pelan, menggoyangnya dengan irama yang teratur, ingin berteriak tapi…pasti akan membuat lelaki itu merasa tidak nyaman.

“Tuan muda” memanggil nama itu sepelan mungkin, memilih untuk membaliknya, menyentuh permukaan kulit Jinki yang terlalu halus.

Jinki, ia terbangun namun masih enggan untuk membuka mata, memilih untuk menggenggam tangan putih itu.

Tersenyum kecil kala dapat ia rasakan lonjakan kecil, jadi gadis itu terkejut?

Memutuskan untuk membuka mata, tak sabar ingin menatap setiap lekuk ekspresi Jieun yang selalu saja membuat lelaki itu tersenyum tanpa alasan.

Membuka mata sabit miliknya perlahan dan…itu Jieun dengan…hanya pakaian dalam? LAGI??

Meraba sekujur tubuhnya yang…juga tak memakai pakaian?

Jadi semalam mereka melakukannya?

Tidak, itu tidak masuk akal, iya kan?

Terlebih dengan celana panjang yang masih setia membungkus kaki tegapnya, menatap gadis di depannya yang dengan nyaman menyeruput susu vanilla favoritnya, dapat ia tangkap kondisi Jieun yang baik-baik saja.

“Jieun, kau..”

“Ya?”

“Kemana bajumu?”

“Entahlah, saat terbangun tadi aku sudah seperti ini”

Fakta jika Jieun bukan manusia, ini adalah bukti nyata. Hanya memakai pakaian dalam dan ia berkeliaran di apartemen milik Jinki, jelas itu tidak dapat di nalar dengan akal sehat manusia.

Mata sabitnya mencari sekeliling, meraih kemeja miliknya yang teronggok mengenaskan di atas lantai, dengan cekatan memakaiannya pada gadis itu.

“Berkeliaran tanpa pakaian seperti ini, kau tak boleh melakukannya, mengerti?” berucap setenang mungkin meski tangannya gemetar kala mengaitkan kancing-kancing di depannya.

Merasakan dada miliknya yang tiba-tiba berdebar begitu kencang, ini tidak normal, sangat tidak normal, mungkinkah ia membutuhkan pemeriksaan laboratorium?

Ini…hanya beberapa butir kancing, kenapa terasa begitu banyak? Sampai kapan ia harus melakukannya? Kenapa begitu lama?

Mengaitkannya dengan tergesa hingga satu kancing terlepas dan…

CEKLEK

Pintu itu terbuka, menampakkan satu ekspresi terkejut dari…

To be continued…

copyright

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s