(Chapter 2) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

Title : Love & Revenge (Chapter 2)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

Di Chapter ini Minhee dan Jiyeon rohnya tertukar jadi jangan bingung jika sikap mereka berbeda.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *


 

2

GOODNESS

 

Minhee meraba wajahnya yang berubah menjadi Jiyeon. Dia menekan-nekan pipinya lalu mencubit hidungnya berharap ini tidak nyata bagi Minhee.

“A-apa yang terjadi? Ba-Bagaimana bisa aku menjadi Park biseonim? Apakah ini semua mimpi?” Heran Minhee.

“Ini bukan mimpi.”

Minhee berbalik saat mendengar suara seseorang. Gadis itu terkejut dan terjatuh saat melihat seorang laki-laki yang seakan-akan keluar dari sinar yang mengkilaukan. Minhee berusaha melindungi mata Minhee dari sinar itu hingga sinar itu hilang. Dia menurunkan tangannya dan mendapati seorang laki-laki berwajah manis tengah menyunggingkan senyuman diwajahnya.

“Si-siapa kau ?” Tanya Minhee.

Laki-laki itu mendekati Minhee dan berjongkok melihat wajah gadis itu.

Annyeong Minhee-ah.” Sapa laki-laki itu ceria.

“Ba-bagaimana bisa kau tahu namaku?”

“Tuhan yang mengutusku?”

NDE?”

Seketika Minhee tertawa mendengar ucapan laki-laki itu.

“Lalu kau siapanya Tuhan hingga mengutusmu? Malaikat?”

“Ne. Aku memang malaikat.”

Minhee terdiam menatap laki-laki itu dan seketika tertawa.

“Aiggoo…. Kau benar-benar memiliki selera humor yang tinggi. Jika kau malaikat maka aku juga adalah malaikat.”

“Jadi kau tidak percaya jika aku malaikat?”

“Jika ini dalam abad yang modern ini ya aku tidak percaya.”

“Baiklah aku akan membuktikannya padamu.”

Laki-laki itu berjalan mundur lalu menghela nafas. Minhee terus mengamati laki-laki tu. Dan sepasang sayap putih dan berkilau tampak keluar dari punggungnya. Nafas Minhee tercekat melihat hal yang diluar perkiraan manusia.

“K-Kau…. Benar-benar malaikat?”

“Itulah yang sejak tadi kukatakan padamu.”

Minhee menghampiri laki-laki itu dan mengamati sayap itu dengan penuh kagum. Minhee mengulurkan tangan dan mengelus sayap itu. Sangat lembut jauh melebihi kemeja sutra yang dimilikinya.

“Apa ini asli?”

Minhee mencabut satu bulu dari sayap itu.

“YA!! Hentikan sebelum kau menghabiskan semua bulunya.” Kesal malaikat itu.

“Jadi apa kau bisa menjelaskan yang terjadi padaku?”

“Aisshhh…. Sangat tidak sopan. Tidak bisakah kau menanyakan namaku dulu?”

“Bukankah kau malaikat?”

“Malaikat tentu saja memiliki nama.”

Minhee menghela nafas tidak sabar.

“Nee… Ne… Jadi siapa namamu?”

Laki-laki itu memasang wajah imutnya.

tumblr_m1w5jjc0N51qcprxro1_1280_large

“Aku Lee Sungjong.”

“Jadi Sungjong-ssi. Bisa kau jelaskan apa yang terjadi denganku?”

“Baiklah non tidak sabaran. Tuhan mengirimku untuk membawakan pesannya. Mengingat dengan sikapmu yang dingin, tak berperasaan, sombong dan tak punya hati sehingga banyak sekali orang yang membencimu.”

“Memang apa salahnya bersikap seperti itu.”

“Tentu saja salah dan kau sangat berdosa besar. Aisshhh…. Bagaimana bisa manusia tidak punya hati sepertimu bisa hidup di dunia ini.”

Minheepun terdiam tak ingin bertengkar dengan malaikat itu.

“Sebelum Tuhan menghukum berat maka Tuhan memberimu kesempatan.”

“Kesempatan?”

“Ne kesempatanmu untuk berubah.”

Sungjong memutar tangannya dan seketika di tangan Minhee melingkar sebuah  gelang mutiara berwarna putih.

wpid-image02-1000x1000.jpeg

“Apa ini?” Tanya Minhee mengagumi gelang itu.

“Itu disebut gelang kebaikan. Jika kau ingin kembali ke tubuhmu kau harus membuat 7 butir mutiara putih itu menjadi berwarna biru.”

“Berwarna biru? Bagaimana caranya? Apa aku harus nengecatnya?”

TUUUKKK…..

Jitakan mendarat di kepala Minhee.

“Tentu saja tidak pabo!!! Sesuai dengan namanya kau harus melakukan kebaikan dari hatimu. Lebih mudahnya kau harus melakukan kebaikan dengan tulus baru gelang itu akan berubah menjadi biru.”

“Kebaikan? Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya.”

Sungjong menghela nafas. “Karena itu Tuhan memindahkan tubuhmu ke dalam tubuh Jiyeon.”

“Kenapa harus Jiyeon?”

“Karena Jiyeon adalah gadis yang baik jadi kau harus belajar darinya. Aiissshhh…. Dari tadi kau tak berhenti bertanya. Masih banyak yang harus kukerjakan. Bye….”

Tiba-tiba Sungjong menghilang.

“YA!!! Tunggu…..”

Seperti halnya menghilang Sungjongpun bisa muncul mendadak dibelakang Minhee.

“Ada apa lagi.?”

Minheepun terlonjak kaget hingga terjatuh.

“YA!! Kau mengagetkanku.”

“Ada apa lagi?”

“Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?”

“Maka gelang itu akan berwarna hitam  dan Tuhan akan menguncimu ke dalam tempat penyiksaan. Jadilah anak yang manis Tae Minhee.” Sungjongpun kembali menghilang meninggalkan Minhee yang melihat ke arah gelangnya.

“Bagaimana aku bisa melakukannya?” Ucap Minhee menghela nafas.

*   *   *   *   *

Jiyeon mengambil pigura foto Minhee. Dalam foto itu tampak seorang gadis kecil memeluk boneka barbie seraya duduk di pangkuan ayahnya.

“Apa ini adalah Tae hwajangnim saat kecil?” Gumam Jiyeon.

“Cantik sekali. Tapi hwajangnim pasti marah mendapati kita bertukar tubuh.” Jiyeon menghela nafas.

Deringan telpon mengagetkan Jiyeon. Tatapan gadis itu tertuju pada ponsel Minhee yang tergeletak di meja. Jiyeon menghampiri ponsel itu dan mengambilnya. Ketakutan menjalari tubuh Jiyeon saat mengenali nomornya muncul  ponsel Minhee. Gadis itupun menarik nafas sebelum mendengar omelan Minhee.

Ne hwa-hwajangnim.”

“Jadi kau tahu aku menjadi dirimu?”

“Aku hanya berpikir seperti itu. Joseonghamnida hwajangnim. Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Aku benar-benar berkata jujur hwajangnim.”

Terdengar hening membuat jantung Jiyeon berdebar cepat.

“Aku tahu kau tidak melakukan apapun. Jadi kau tak perlu merasa bersalah padaku. Nanti saat jam makan siang aku akan menemuimu. Untuk sementara kita akan bertukar posisi tapi jangan ada siapapun yang tahu soal ini. Kau mengerti?”

Jiyeon terpana tak mendengar omelan Minhee seperti dugaannya.

“Apa kau mendengarku Park biseonim?”

N-Ne hwajangnim.”

“Satu hal lagi. Jangan memanggilku seperti itu. Nanti akan ada yang curiga.”

“Ne.”

Jiyeonpun meletakkan ponselnya setelah Minhee menutup telpon itu. Diapun terduduk dan bernafas lega tak mendengar omelan Minhee.

“Kenapa Tae hwajangnim tidak marah? Apa dia benar-benar tahu apa yang terjadi dengan kami?”

Belum Jiyeon selesai menenangkan hatinya ponsel Minhee kembali bergetar. Kali ini terlihat nama ‘Kim Myungsoo’ di layar ponselnya. Wajah Jiyeon seketika ceria membayangkan Myungsoo menelponnya.

“Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika dia sadar aku bukanlah Tae hwajangnim?” Panik Jiyeon.

Namun diapun tak ingin membuat Myungsoo menunggu lama jadi dia segera mengangkatnya.

Yeo-yeoboseyo?” Sapa Jiyeon gugup.

“Minhee-ah… Kau sudah merasa baikan?”

Nde?” Bingung Jiyeon.

“Semalam kau terlihat lelah sekali. Apa kau sudah merasa baikan sekarang?” Jiyeon tersenyum senang bisa mendengar suara Myungsoo yang begitu lembut.

“Ne. Aku sudah merasa baikan Oppa.”

“Oppa?” Terdengar Myungsoo terkejut.

“Apa ada yang salah?”

“Aniya. Aku selalu menyukai panggilan itu. Oh ya karena kemarin aku tidak mengantarmu pulang. Bagaimana jika hari ini aku mengantarmu ke kantor?”

“Mengantarku?”

“Ne. Apa kau tidak mau?”

“Aniyo Oppa. Baiklah jika Oppa ingin mengantarku.”

“Baiklah. Aku akan berangkat sekarang. Sampai bertemu nanti.”

“Ne Oppa.”

Jiyeon mematap layar ponselnya yang sudah mati. Terlihat jelas matanya menunjukkan tatapan tak percaya.

“Kim hwajangnim akan mengantarku??” Ucap Jiyeon yang masih tak percaya.

“Ini benar-benar terasa seperti mimpi.”

Jiyeon naik ke ranjang Minhee dan meloncat-loncat senang.

“Yyyee……” Serunya dengan asyik memantul-matul di ranjang Minhee.

Gadis itupun terhenti saat menyadari sesuatu.

Aku akan berangkat sekarang. Sampai bertemu nanti.

Jiyeon teringat ucapan Myungsoo sebelum akhirnya menutup telponnya.

“Aku harus cepat-cepat bersiap.”

Jiyeon turun dari ranjang Minhee dan mencari lemari di sekitar kamar. Jiyeon tampak bingung karena tak menemukan kotak lemari di kamar  itu.

“Dimana lemarinya? Aku tidak mungkin ke kantor dengan piyama seperti ini kan?”

Jiyeon melihat piyama sutra berwarna pink mudanya. Tatapan Jiyeonpun beralih ke sebuah pintu berwarna putih. Penasaran gadis itupun menghampiri pintu itu dan membukanya.

dressing-room-grand-decor-ideas-for-dressing-room-closets-how-to-create-the-great-dressing-room

“Uuuwwahhhh….. Banyak sekali.” Kagum Jiyeon melihat banyak sekali pakaian lengkap dengan segala accessoriesnya

Jiyeon berjalan masuk dan menyentuh blazer berwana abu-abu. Kain blazer itu lebih lembut dan nyaman dibandingkan miliknya. Jiyeonpun memegang semua baju yang tergantung di sana. Gadis itu beralih ke rak sepatu yang tertata rapi. Dia mengambil sepatu hitam berkilau dengan pita diatasnya.

“Cantik sekali.”

Jiyeonpun semakin kagum melihat kalung, anting, gelang dan cincin terbuat dari emas dengan bertahtakan berlian. Benar-benar benda yang diidamkan semua wanita.

“Aku harus segera bersiap-siap.” Ucap Jiyeon dengan senang.

Di tempat lain Myungsoo menyunggingkan senyumam senang setelah menutup ponselnya.

“Kau tidak bermaksud meninggalkan kantor bukan hwajangnim?” Tanya Seungyeol yang mendengar percakapan Myungsoo di ruangannya.

Myungsoo memyunggingkan senyum penuh arti pada sekertarisnya itu.

“Batalkan kegiatanku pagi ini Seungyeol-ah. Aku harus menjemput tuan putriku.” Ucap Myungsoo dengan nada memohon.

“Tapi Hwajangnim….”

“Ayolah Lee biseonim. Ini pertama kalinya Minhee mengijinkanku mengantarmya ke kantor jadi aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula apa kau tidak dengar sepertinya suasana hati Minhee sedang baik hingga memanggilku Oppa. Kau tidak akan mematahkan harapanku kan Lee biseonim?” Ucap Myungsoo dengan aegyonya.

Seungyeol menghela nafas. “Baiklah. Tapi cepatlah kembali hwajangnim maaih banyak pekerjaan yang menunggumu.”

Myungsoo berdiri dan langsung menyerbu Seungyeol dengan pelukannya.

Gomawo Lee biseonim.” Ucap Myungsoo sebelum meninggalkan ruangannya.

Seungyeol hanya menggelengkan kepalanya melihat tingka Presdirnya itu.

“Dia memang sudah tergila-gila demgan Tae hwajangnim.” Gumam Seungyeol.

*   *   *   *   *

Minhee berjalan keluar dengan wajah tidak puas karena mengenakan pakaian yang tak pernah disukainya yaitu ‘rok’. Gadis itu sangat membenci pakaian itu karena membuatnya selalu tidak nyaman dan tak bisa bergerak bebas. Hal itulah yang menjelaskan mengapa seorang Tae Hwajangnim tak pernah mengenakan pakaian itu.

Minhee menghela nafas sebelum melangkah keluar. Namun sebelum kakinya menginjak keluar rumah, Jikyeong memanggilnya menghentikan langkah gadis itu. Jikyeong menghampiri Minhee dan menyerahkan kotak bekal pada Minhee.

“Apa ini?” Tanya Minhee menatap kotak itu aneh.

“Itu bekal untukmu. Semoga kau menyukainya.”

Minhee hendak membuka kotak itu namun Jikyeong menghentikannya.

“Bukankah kau akan terlambat. Cepatlah berangkat.”

“Ne.”

Minhee pergi tanpa mengucapkan terimakasih. Sungjong yang melihat dari balik tembok hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Minhee yang sangat tidak sopan.

Minhee berjalan tanpa tahu harus ke mana.

“Aku harus naik apa? Biasanya sopir Jang akan selalu mengantarku.”

Minhee mengeluarkan ponselnya.

“Aku harus bertanya pada Jiyeon.”

Minhee menghubungi nomornya sendiri. Diapun menunggu saat terdengar nada tunggu. Hingga nada tunggu itupun habis Minhee tak kunjung mendengar suara Jiyeon.

“Aaaiisshhh…. Kemana dia?”

Minhee kembali menghubungi Jiyeon. Namun hasilnya sama saja membuat Minhee mendengus kesal.

“Aaiishhhh…… Awas saja gadis itu.” Kesal Minhee.

Di sisi lain Jiyeon tampak gugup duduk dalam mobil di samping Myungsoo. Padahal baru kemarin Jiyeon berkata sangat ingin seperti Minhee yang dekat dengan Myungsoo tapi sekarang harapannya terkabul. Jiyeon mencuri-curi pandang ke arah myungsoo yang terlihat sangat keren baginya.

“Apa kau baik-baik saja Minhee-ya?” Tanya Myungsoo memecahkan keheningan.

“Ti-tidak aku tidak apa-apa Oppa.”

“Sepertinya perasaanmu lebih baik dibandingkan semalam. Apa ada yang terjadi?”

Terjadi perubahan besar Oppa, jawab Jiyeon dalam hati.

“Tidak terjadi apa-apa Oppa.”

Myungsoo menyunggingkan senyumannya membuat hati Jiyeon bergetar terpesona dengan ketampanan Myungsoo.

“Kenapa memandangku seperti itu?”

Seketika Jiyeon langsung membuang muka karena ketahuan tengah menatap Myungsoo. Wajahnya mulai merona merah karena malu.

“A-aku tidak melakukannya.” Ucap Jiyeon berusaha sedingin Minhre.

Melihat Jiyeon yang tak mau mengakui sudah menatapnya membuat Myungsoo tersenyum geli. Dia tak ingin bersuara hingga membuat orang yang dikiranya Minhee itu malu karena membuat mereka sedikat ini sangatlah langka bagi Myungsoo.

*   *   *   *   *

Minhee berhenti berlari setelah sampai di depan gedung kantor Taeyang group. Gara-gara salah bus alhasil Minhee harus berlari sejauh 3 kilometer. Gadis itu terengah-engah sambil menatap gedung perusahaan miliknya. Tangannya terulur dan memperlihatkan jam berwarna coklat tua yang sangat sederhana.

“Aku sudah terlambat satu jam dan ini semua ulah Park Jiyeon. Awas saja kau Park biseonim.” Kesal.

“Bukankah kau tidak boleh dendam?”

Minhee terlonjak kaget saat mendapati Sungjong sudah berdiri di sampingnya.

“YA!! Apa yang kaulakukan di sini?”

Sungjong menggeleng menatap Minhee.

“Ternyata sulit sekali membuatmu berubah.” Heran Sungjong.

“Apa maksudmu?”

“Mendengar ucapanmu tadi kau terlihat jelas marah dan ingin melampiaskannya pada Jiyeon bukan?”

Minhee terdiam tak mampu membantah karena memang ucapan Sungjong benar. Malaikat itu mengangkat tangan Minhee dan menunjuk gelang di pergelangan tangan Minhee.

“Ingat misimu Minhee-ya. Atau kau tak akan bisa kembali ketubuhmu lagi.” Ucap Sungjong menakut-nakuti Minhee.

Kesal Minhee menepis tangan Sungjong.

“Ne… Ne.. Arrasseo. Jadi berhentilah mengikutiku.” Omel Minhee namun gadis itu tak lagi mendapati Sungjong.

“Aaiishhh… Seenaknya datang tapi juga seenaknya pergi.” Gerutu Minhee.

Minheepun masuk ke gedung Taeyang group dan langsung menuju lift. Saat hendak melangkah masuk seorang gadis penjaga lift mendorongnya hingga hampir terjatuh.

“YA!! Karyawan biasa tidak boleh naik lift ini.” Larang gadis penjaga lift yang kemarin Minhee marahin.

Tidak terima dengan perlakuan gadis itu, Minheepun menjadi kesal.

“Karyawan biasa? Kau pikir aku siapa huh?”

“Kau hanyalah sekertaris Park biseonim. Memang kau pikir kau siapa huh?”

Minheepun tersadar saat ini dia terperangkap dalam tubuh Jiyeon. Tak mampu berbuat apa-apa, Minheepun berbalik dan berjalan menuju tangga darurat yang sering dipakai karyawan.

“Dasar penjaga lift menyebalkan.” Kesal Minhee menghentak-hentakan kakinya menaikki tangga.

“Kau marah lagi?”

Langkah Minhee terhenti seketika dan hampir saja terjatuh jika bukan Sungjong yang menarik tangannya untuk menahan tubuh gadis itu.

“YA!! Berhentilah mengagetkanku. Hampir saja aku terjatuh.” Omel Minhee.

“Itu kan salahmu sendiri yang ceroboh.”

“Aisshh…. Kau yang salah malah menyalahkanku. Aishh… Sudahlah berdebat denganmu membuatku semakin terlambat.” Ucap Minhee meninggalkan Sungjong.

“Kumohon berubahlah Minhee-ya.”

Langkah Minhee terhenti mendengar nada suara Sungjong yang berbeda. Dia berbalik dan mendapati Sungjong tampak sedih dan memohon pada Minhee. Entah mengapa melihat Sungjong seperti itu muncul rasa kasihan yang baru pertama kali Minhee rasakan.

Sungjong menaiki tangga menghampiri Minhee. Tangannya terulur menyentuh pipi Minhee. Entah bagainana tubuh Minhee tak bisa bergerak. Minhee melihat tatapan Sungjong tertuju padanya.

“Aku hanya ingin kau berubah Minhee-ya. Aku akan selalu membantumu.” Ucap Sungjong tersenyum pada Minhee dan langsung menghilang.

Seketika Minhee bisa menggerakan tubuhnya kembali.

“Ada apa dengan malaikat itu? Sangat aneh.” Gumam Minhee.

Tubuh Minhee menegakkan tubuhnya saat menyadari sesuatu.

“Sunggyu bisa memarahiku.”

Minhee langsung berlari sekuat tenaga hingga menuju lantai tujuh. Dengan lunglai Minhee membuka pintu dan menghampiri meja Jiyeon yang tak jauh dari pintu darurat. Dengan tubuh yang sudah sangat letih, Minhee menghempaskan tubuhnya ke kursi dan menghirup udara.

Tiba-tiba pintu terbuka dan mengagetkan Minhee. Tampak Sunggyu keluar dari ruangannya dan menghampiri Minhee. Mengetahui Sunggyu akan marah minheepun menunduk.

“kau tidak apa-apa? Kau tidak kecelakaan bukan?”

Minhee mendongak terkejut dengan pertanyaan Sunggyu. Bukannya memarahinya Sunggyu justru mengkhawatirkannya.

“Kau tidak memarahiku?” Bingung Minhee.

“Bagaimana aku bisa memarahimu jika aku sangat mengkhawatirkanmu dari tadi.”

Joseonghamida. Tadi aku salah naik bus jadi terlambat.”

Gwaenchana. Aku lega jika kau tidak apa-apa.”

“Ne.”

Minhee tersenyum karena Sunggyu sudah baik padanya.

Baik? Apa ini yang dinamakan kebaikan? Tanya Minhee dalam hati.

*   *   *   *   *

Woohyun membungkuk saat Jiyeon hendak masuk ke ruangan Minhee.

“Selamat pagi Nam biseonim.”

Woohyun terkejut dengan sapaan yang tak pernah Minhee ucapkan.

“Sepertinya suasana hati anda sudah membaik hwajangnim.”

“Ah… N-Ne. Gamsahamnida Nam biseonim.”

Jiyeon segera masuk sebelum Woohyun curiga dia bukanlah Minhee. Sedangkan Woohyun masih mengamati pintu ruangan Minhee yang tertutup.

“Kenapa aku merasa Tae hwajangnim berbeda?” Gumam Woohyun.

*   *   *   *   *

“Jadi kemana saja kau dari tadi huh? Aku sudah menghubungimu dari tadi.” Tanya Minhee setelah berada di kantornya dengan menatap Jiyeon dalam tubuhnya.

Mianhae tadi ponselku di dalam tas jadi aku tidak mendengarnya.”

“Aiishhh…. Gara-gara kau aku jadi terlambat satu jam. Untung saja Sunggyu tidak memarahiku.”

“Tentu saja karena Sunggyu Oppa sangat baik.”

“Baik?”

“Ne.” Ucap Jiyeon senang.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Nde?”

“Menurutmu, apa itu kebaikan?”

“Kebaikan? Kalau menurutku kebaikan itu hal yang dilakukan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Memang ada apa hwajangnim menanyakan hal itu?”

“Tidak.. Tidak apa-apa.”

Jiyeon menyerahkan dokumen ke hadapan Minhee.

“Apa ini?”

“Dokumen yang harus anda tanda tangani hwajangnim.”

“Baiklah.”

Minhee duduk di kursi dan mulai menandatangani semua dokumen. Jiyeon yang duduk dihadapannya mengamati Minhee.

Hwajangnim, bolehkah aku bertanya?”

“Tanyakan saja.” Jawab Minhee tanpa menoleh.

“Apa hwajangnim tidak menyukai Myungsoo?”

Tangan Minhee terhenti dan diapun menatap Jiyeon tajam. Jiyeon ingin sekali menampar mulutnya karena sudah bertanya hal yang sensitif bagi Minhee.

“Aku tidak membencinya tapi bukan berarti aku menyukainya.”

Nde?” Bingung Minhee.

“Pertunangan kami hanyalah berdasarkan bisnis bukan cinta. Jadi kau mengerti bukan?”

Minhee kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Jiyeon tak lagi bertanya.

*   *   *   *   *

Tokk… Tokk… Tokk…..

Pintu ruangan Myungsoo diketuk.

“Ne masuk.”

Seungyeolpun masuk dan membungkuk terlebih dahulu.

“Seseorang mencari anda hwajangnim.”

Myungsoo mendongak dan menatap sekertarisnya bingung.

“Siapa?”

“Tuan Kim.”

Myungsoo terkejut mendengar ayahnya menemuinya.

“Persilahkan dia masuk.”

Ne hwajangnim.”

Seungyeol keluar ruangan. Dan tak lama kemuadian seorang laki-laki memasuki ruangan Myungsoo. Melihatnya Myungsoopun menghampiri ayahnya dan membungkuk.

“Apa yang membuat abeoji datang kemari?”

Tanya Myungsoo setelah mereka duduk di sofa.

“Kapan kau akan mengajak calon istrimu itu ke rumah dan membicarakan pernikahan?”

Myungsoo tahu ayahnya akan menanyakan hal ini. Tapi melihat Minhee yang keras, Myungsoo tak yakin mampu membujuk gadis itu untuk segera menikah.

“Secepatnya abeoji.”

Ayah Myungsoo tersenyum sinis. “Apa kau berusaha membantahku?”

“Tidak abeoji.”

“Kau harus merebut perusahaan Taeyang. Kau mengerti Myungsoo-ah?”

Myungsoo mengangguk tak ingin membantah ayahnya.

“Ne abeoji.”

“Baguslah. Besok adalah hari ulangtahun harabeoji. Bawa calon istrimu.”

“Ne abeoji. Apa Sunggyu hyung akan datang?”

“Untuk apa kau menanyakannya. Jangan perdulikan dia. Perdulikan saja misimu. Mengerti?”

“Ne abeoji.”

Ayah Myungsoo berdiri dan Myungsoopun ikut berdiri lalu membungkuk mengiringi kepergian ayahnya. Myungsoo memghempaskan tubuhnya ke sofa.

Mianhae Minhee-ya.” Sesal Myungsoo.

*   *   *   *   *

Sunggyu menghela nafas sebelum akhirnya memasuki sebuah pintu dengan design tradisional. Terlihat sudah banyak orang berada dalam rumah. Ingin sekali Sunggyu tidak datang namun karena kakeknya yang sudah memaksanya membuatnya tak mampu menolak. Dengan malas Sunggyu berjalan menuju rumah tradisional itu.

“Sunggyu-ya…..”

Sunggyu membungkuk saat melihat kakeknya menghampirinya. Laki-laki itu menepuk Sunggyu dengan penuh sayang.

“Dari tadi aku menunggumu.”

Kakek itu melepaskan pelukannya dan meminta penjelasan cucunya.

Mianhaeyo harabeoji. Tadi aku ada sedikit urusan.”

Gwaenchana. Ayo kita masuk.”

“Tunggu sebentar harabeoji.”

Langkah kakek itu terhenti dan memandang cucunya. Sunggyu mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan menyerahkan pada sang kakek.

“Apa ini?”

Kakek itu membuka kotak dan melihat sebuah dasi berwarna biru polkadot.

wpid-il_fullxfull.469423791_c0rn.jpeg

“Eomma bilang appa sering memakai dasi itu dulu. Dengan ini kuharap rindu kakek pada appa berkurang.”

Mata sang kakek mulai berair mengingat putranya yang sudah tiada yang ttak lain tak bukan adalah ayah Sunggyu. Laki-laki tua itu ingat betul itu adalah dasi kesayangan putranya. Sang kakek mendongak dan tersenyum pada Sunggyu. Dia menepuk pelan bahu Sunggyu.

“Ini adalah kado yang berharga untuk harabeoji. Apa kau merindukan appamu?”

“Aku tidak hanya merindukannya harabeoji tapi aku juga ingin bertemu dengannya walaupun hanya sekali.”

Sang kakekpun memeluk cucunya kembali.

“Maafkan harabeoji.”

“Tidak perlu meminta maaf harabeoji. Itu bukan kesalahan harabeoji.”

“Ayo kita masuk.”

Kakek itu mengajak Sunggyu masuk ke dalam rumah.

*   *   *   *   *

“Untuk apa kau datang ke pesta ini? Bukankah kau tidak diundang?” Tanya Sungjong mengikuti Minhee yang sedang mencari seseorang.

Minhee menghentikan langkahnya dan menatap kesal Sungjong yang sedari tadi tidak berhenti bertanya.

“Tidak bisakah kau diam?”

“Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

Minhee melihat ke sekelilingnya orang-orang tengah menatapnya aneh. Minhee tahu apa yang mereka pikirkan. Dia jadi terlihat seperti gadis aneh karena berbicara sendiri. Yup!! Mereka tak bisa melihat sang malaikat Sungjong. Minhee berjalan meninggalkan Sungjong tanpa menjawab pertanyaan malaikat itu.

“YA!! Kau mau ke mana?”

“Aku tidak mau dianggap gila karena harus berbicara sendiri.” Ucap Minhee dengan suara pelan.

“Kau tidak akan gila berbicara dengan malaikat.”

Minhee memutar bola matanya malas dan kembali meninggalkan Sungjong. Langkah Minhee terhenti saat melihat orang yang dicarinya. Dilihatnya Jiyeon bersama Myungsoo tengah mengobrol bersama tuan dan nyonya Kim. Jiyeon tersenyum berbeda sekali dengan Minhee yang tak pernah melakukan itu.

Paling tidak dia tidak merusak pesta ini, pikir Minhee.

“Jadi kau kemari ingin memastikan Jiyeon tidak membuat kesalahan?”

Lagi-lagi Sungjong berada di samping Minhee.

“Kau membaca pikiranku?”

Sungjong tersenyum lebar dan mengangguk.

“Itu salah satu keahlianku.”

Minhee menggelengkan kepala melihat tingkah malaikat itu. Tatapan Minhee tertarik pada seseorang. Seorang laki-laki yang berdiri di sudut ruangan dengan tatapan yang bosan.

“Kim Sunggyu?” Gumam Minhee langsung menghampiri laki-laki itu.

“Aiisshhh…. Kau mau kemana lagi?” Gerutu Sungjong mengikuti Minhee.

“Aku baru tahu kau memiliki hubungan dengan keluarga Kim,  Iseonim?”

Sunggyu mendongak dan terkejut melihat Minhee dalam tubuh Jiyeon.

“Ji-Jiyeon?”

“Ne. Ini aku Iseonim. Dan kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku rasa itu bukan pertanyaan Jiyeon-ah.”

“Kau berusaha menghindari pertanyaanku Iseonim?” Tanya Minhee menatap Sunggyu menuntut penjelasan.

“Sepertinya kau tidak akan menyerah sebelum aku menjawabmya ne?” Minhee mengangguk menjawab pertanyaan Sunggyu.

“Baiklah aku akan menjawabnya. Aku memang memiliki hubungungan dengan keluarga Kim. Lalu bagaimana bisa kau kemari Jiyeon-ah?”

Minhee terkekut dengan pertanyaan Sunggyu. Tentu saja laki-laki itu bingung karena ini adalah acara untuk seluruh keluarga Kim sedabgkan Jiyeon tidak ada hubungan apapun dengan keluarga ini.

“Aku diajak seorang teman kemari. Dia bilang tak ingin sendiri jadi aku harus menemaninya.”

“Pembohong.” Sindir Sungjong.

“Diam kau.” Ucap Minhee lirih.

Nde?” Sunggyu yang memdengar suara Minhee terlihat bingung.

“Tidak. Bukan apa-apa.”

“Apa kau menyukai pesta?” Tanya Sunggyu.

“Tidak terlalu.”

“Aku juga. Bagaimana kalau kita keluar?”

“Nde?”

“Hanya berjalan-jalan di sekitar sini.”

“Aku rasa itu lebih baik daripada melihat semua tamu hanya membicarakan bisnis.”

*   *   *   *   *

“Kau terlihat cantik hari ini Minhee-ya.” Puji tuan Kim.

Jiyeon tersenyum pada tuan Kim.

Gamsahamnida abeonim.”

“Minhee-ya…. Jadi kapan kau akan menentukan tanggal pernikahan? Kau tahu harabeoji tidak sabar ingin melihat anak kalian.” Tanya nyonya Kim mengenakan hanbok.

“Pernikahan?” Kaget Jiyeon.

“Ne. Minhee-ya. Karena orangtuamu sudah tiada kau jangan khawatir eomonim akan mengatur semua pernikahan kalian. Jadi kalian tinggal menenentukan tanggal pernikahan kalian.”

Jiyeon berusaha tersenyum meskipun canggung.

“Ne abeonim. Aku akan segera membicarakannya dengan Myungsoo Oppa.”

Hwajangnim pasti akan membunuhku. Ucap Jiyeon dalam hati.

*   *   *   *   *

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Myungsoo?” Tanya Minhee berjalan mengitari kolam ikan bersama Sunggyu.

“Bisakah aku tidak menjawabnya?”

“Wae? Apa ada hal yang ingin kausembunyikan?”

“Tidak. Hanya saja itu bukanlah hal yang patut dibanggakan.”

Langkah Minhee terhenti membuat Sunggyu bingung.

“Ada apa Jiyeon-ah?”

“Dimana toiletnya?”

“Kau tinggal berjalan diujung sana.” Sunggyu menunjuk ruabgan diujung jalan.

“Aku akan segera kembali.”

Minhee berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Sunggyu.

“Apa kau akan mengikutiku hingga ke dalam toilet?” Tanya Minhee pada Sungjong yang masih mengikutinya.

“Tentu saja tidak.”

Dari kejauhan Sunggyu tampak bingung melihat Jiyeon tengah berbicara sendiri. Dalam toilet yang terlihat bersih terlihat ada dua tamu lain tengah membenarkan make up mereka. Minhee masuk ke salah satu bilik kamar mand tanpa memperdilikan kedua wanita itu.

“Apa kau melihat Sunggyu datang?”

Minhee mendengar percakapan dua wanita di luar bilik. Mendengar nama Sunggyu membuat Minhee tertarik.

“Ne. Ciihh…. Anak itu tak tahu malu berani sekali datang kemari.”

“Kau benar. Seharusnya harabeoji tak mengundang anak haram itu.”

“Anak haram?” Gumam Minhee sendiri.

“Aku sudah selesai. Ayo kita kembali.”

Terdengar suara langkah kaki keluar dan Minheepun keluar setelah selesai. Dia menghampiri wastafel dan menatap dirinya sendiri.

“Sunggyu adalah anak haram? Jadi karena itu dia tidak datang saat pertunanganku dengan Myungsoo?” Pikir Minhee.

“Tolong….”

Tubuh Minhee membeku saat mendengar suara minta tolong yang sangat lirih.

“Suara siapa itu?” Bingung Minhee.

Minhee menggelengkan kepalanya.

“Tidak… Tidak mungkin itu hantu.”

“Tolong.. Tolong aku…..”

Terdengar lagi suara wanita dari bilik lainnya. Bilik itu tampak tertutup dan Minheepun berjalan menghampirinya. Gadis itu menghirup nafas sebelum akhirnya membuka pintu itu.

“OMMO….” Seru Minhee melihat dibalik pintu itu.

Sungjong yang mendengar seruan Minhee tanpa ragu langsung masuk ke dalam toilet.

“Ada apa?” Tanya Sungjong melihat wajah Minhee memucat.

Dengan masih terpana Minhee menunjuk ke dalam bilik itu. Terlihat seorang wanita hamil terduduk seraya memegang perutnya dan meminta tolong. Melihat kondisi lantai yang berair jelas sekali ketubannya sudah pecah.

“Aku akan mencari bantuan.” Ucap Minhee.

“Tidak.” Larang Sungjong.

Nde? YA!!! Apa kau gila dia akan segera melahirkan dan kau melarangku memanggil bantuan.”

“Bayinya akan segera keluar. Tak ada waktu untuk memanggil bantuan. Kau harus membantunya.”

“Ya!! Aku bukan dokter. Bagaimana aku bisa membantunya?” Kesal Minhee.

“Aku akan membantumu. Berjongkoklah dan lihat apakah kepala bayi sudah terlihat?”

Minhee berjongkok dan membuka ujung dress ibu itu. Gadis itu terkejut saat melihat puncak kepala bayi dari dalam kewanitaan ibu itu.

“Ne sudah terlihat.”

“Aaggghhhh….. Sakit….” Rintih ibu itu.

“Suruh ibu itu berbaring di lantai dan bantulah dia untuk berusaha nafas teratur.” Perintah sungjong.

Minhee membantu ibu itu berbaring dan menyuruhnya untuk bernafas dari hidung dan keluar dari mulut.

“Bilang padanya jika sudah saatnya dorong perutnya. Dan kau ulurkan tanganmu untuk memegang bayinya.” Ucap Sungjong kembali menginstruksikan pada Minhee.

“Aku?” Kaget Minhee.

“Tentu saja siapa lagi.”

“Nyonya jika sudah saatnya dorong perut anda sekuat tenanga. Aku akan memegang bayimu.”

Wanita itu tampak terengah-engah merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Minheepun mengulurkan tabgannya hendak menerima bayi yang akan keluar. Tak berapa lama wanita itu merasakan kejang diperutnya.

“Waktunya.” Ucap wanita itu seraya mendorobg perutnya sekuat tenaga. Minhee terpana saat melihat kepala bayi mulai keluar.

“Kepalanya sudah terlihat ayo lagi nyonya.” Ucap Minhee.

Wanita itu kembali mendorong sekuatt tenaga hingga akhirnya tubuh bayipun keluar. Minhee tampak canggung menggendong bayi yang berlumuran air ketuban dan darah itu.

“Kau harus membersihkan hidungnya agar bayi itu bisa bernafas.” Ucap Sungjong.

“Kenapa harus aku?”

“Karena hanya kau satu-satunya harapan bayi itu.”

Minheepun menghela nafas lalu mulai membersihkan lendir yang menutupi hidung bayi. Seketika tangis bayipun pecah setelah hidungnya bersih.

“Berikan bayi itu pada ibunya dan kau mulai cari bantuan.” Ucap Sungjong.

Sang ibu itu mulai duduk meskipun badannya lemah. Minhee memberikan bayi itu pada sang ibu.

“Tunggu sebentar aku akan mencari bantuan.”

Minhee hendak pergi namun tangannya tertahan.

“Terimakasih sudah menolongku. Namamu siapa?” Tanya wanita itu.

“Sa-sama-sama. Namaku Tae Minhee.”

“Nama yang cantik. Kalau begitu aku akan menamai bayi ini sesuai namamu Minhee.”

Minhee tersenyum sebelum keluar mencari bantuan.

*   *   *   *   *

Mobil ambulanspun melaju pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim. Sunggyu tersenyum melihat Minhee bernafas lega.

“Kau hebat sekali Jiyeon-ah. Membantu persalinan adalah keputusan yang tepat.” Puji Sunggyu.

“Itu karena aku harus mendengarkan instruksi dari seseorang yang sangat cerewet.”

Minhee melirik ke arah Sungjong yang mendengus kesal.

“Seseorang yang sangat cerewet? Siapa?”

Minhee tersenyum lebar. “Rahasia.”

Sunggyu tertawa melihat tingkah Minhee seperti anak kecil.

“Bagaimana jika aku mengantarmu? Kau tidak akan masuk ke dalam mencari temanmu dengan dress bernoda darah seperti itu bukan?”

Minhee melihat ke arah  dressnya yang tampak berantakan dan banyak noda darah di setiap sudutnya.

“Kau benar. Aku akan terima tawaranmu.”

Minheepun mengikuti Sunggyu keluar dari kediaman keluarga Kim. Tak lama kemudian mereka sudah berada dalam mobil yang membawa mereka melintasi kota Seoul. Minhee melirik ke arah Sunggyu yang sedang menyetir. Minhee seakan ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu untuk mengungkapkannya.

“Apa ada yang ingin kaukatakan?” Tanya Sunggyu melirik Minhee dari sudut matanya.

“Ne.”

“Katakanlah.”

Minhee tampak ragu untuk mengatakannya.

Gwaenchana. Katakanlah.” Ucap sunggyu meyakinkan gadis itu.

“Tadi saat berada di toilet aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang wanita.”

“Pembicaraan? Pembicaraan apa?”

“Mereka membicarakan tentangmu.”

Wajah Sunggyu menjadi dingin mengetahui apa yang didengar Minhee.

“Jadi kau sudah tahu siapa aku dalam keluarga Kim?”

“Ne.”

Minhee masih menatap Sunggyu.

“Dan kau ingin tahu bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Minhee mengangguk. “Ya jika kau mengijinkannya.”

Sunggyu menghela nafas.

“Baiklah aku akan menceritakannya. Ayahku adalah kakak ayah Myungsoo. Dia menikah dengan seorang wanita yang dipilihkan harabeoji. Abeoji tak menyukai wanita itu. Hanya satu wanita yang abeoji cintai. Dia adalah eomma.”

Sunggyu tampak sedih mengingat ibunya yang sudah meninggal.

“Namun sayang eomma bukanlah dari kalangan chaebol. Mengetahui hal itu harabeoji marah besar dan mengusir abeoji. Namun sayang abeoji dan eomma tak bisa bersatu karena abeoji mengalami kecelakaan.”

Mianhae seharusnya aku tidak memaksamu untuk bercerita.”

Sunggyu tersenyum tipis.

“Tidak masalah. Kejadian itu sudah sangat lama. Oh ya melihat kejadian penyelamatan tadi, aku baru tahu jika kau mempelajari kedokteran.”

Nde?”

“Tadi seorang suster mengatakan jika orang yang membantu persalinan tadi sudah melakukan dengan sangat baik layaknya seorang dokter.”

“Benarkah?”

“Ne. Jika orang biasa pasti tidak akan tahu bagaimana membuat bayi itu menangis. Itulah yang dikatakan suster itu.”

Minhee melirik ke arah Sungjong yang duduk di belakang. Sungjong tampak tengah menatap keluar jendela tak tertarik dengan pembicaraan Minhee dan Sunggyu.

*   *   *   *   *

Di mobil lain Jiyeon terdiam memandang keluar jendela. Dia masih memikirkan pernikahan yang diinginkan kedua orangtua Myungsoo. Jika saja benar-benar Jiyeon yang menjadi tunangan Myungsoo, dia tidak akan menolaknya.

“Maaf jika kau merasa tertekan dengan pembicaraan pernikahan itu.” Ucap Myungsoo memecahkan keheningan.

Jiyeon menoleh dan tersenyum. “Tidak Oppa. Jangan merasa bersalah seperti itu.”

“Jangan terlalu kau pikirkan ucapan abeoji dan eomma.”

Mianhae Oppa. Saat ini aku tidak bisa memutuskan hal itu.”

Myungsoo menggenggam tangan jiyeon.

“Tidak masalah. Aku tidak ingin menekanmu.”

Mianhae Oppa aku tidak bisa memutuskan karena aku bukanlah Tae hwajangnim. Ucap Jiyeon dalam hati.

“Oh ya apa kau tahu orang yang sudah menolong istri Minwoo ahjushi adalah karyawanmu?”

“Karyawanku?”

“Ne. Namanya Jiyeon. Untung saja ada dia saat itu jika tidak bayi itu tidak akan selamat.”

“Jiyeon? Apa Oppa yakin Jiyeon orangnya?”

“Ne. Memang ada apa?”

“Ani. Aku hanya tak menduga dia yang menyelamatkannya.”

Tae hwajangnim menyelamatkan seseorang? Aku tidak yakin itu adalah Tae hwajangnim. Bingung Jiyeon.

*   *   *   *   *

Minhee menatap tak percaya melihat satu butir mutiara putihnya berubah menjadi biru.

“Lihatlah Sungjong-ah, mutiaranya berwarna biru.” Senang Minhee.

“Tentu saja kau kan sudah membantu proses persalinan tadi.”

Minhee menatap Sungjong yang berdiri di sampingnya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Apa kau dulu seorang dokter?”

Sungjong langsung terdiam mendengar pertanyaan Minhee.

“YA!! Jawab pertanyaanku.”

Sungjong menggeleng.

“Itu rahasia malaikat.”

“Aishhh… Ternyata malaikat juga memiliki rahasia?”

“Memang hanya manusia yang berhak memiliki rahasia?”

Minhee mendengus kesal.

Tokk…. Tokkk… Tokkk….

“Jiyeon-ah, apa kau baik-baik saja? Kau lama sekali berada di dalam kamar mandi?”

Terdengar suara Jikyeong dari luar kamar mandi.

“Aku tidak apa-apa eomma. Sebentar lagi aku akan keluar.”

“Baiklah kalau begitu.”

Terdengar langkah kaki Jikyeong menjauh.

“Tidurlah. Masih ada 6 mutiara yang harus kau ubah.” Ucap Sungjong tiba-tiba menghilang.

“Aaiishhh…. Dasar malaikat itu.” Minhee mendengus kesal.

~~~TBC~~~

Awalnya sempat ragu buat lanjutin tapi berkat chingu yang memberi semangat aku jadi semangat buat lanjutin ff ini. (Gomawo Nurul^-^)

10 thoughts on “(Chapter 2) Love & Revenge

  1. Cheonma eon…
    Gomawo juga ya eon , udh mau ngelanjutin chapternya.
    Chapternya makin seru..
    Apalagi minhee lagi bersush payh buat ngelakuin kebaikan.
    Kesian bangt dah sunggyu..
    FIGHTING!!!! EONNI..
    Next chapter yea eonni… ♡♥ ;)

  2. Eih… ternyata chapter2nya udah ada.
    Oh iya, si Sungjoung tuh suka sama Minhee, yah ? Atau jangan2 si Sungjoungg tuh masa lalu Minhee yang gak keinget ?
    Ditunggu lanjutannya…

    Fighting !

  3. sempet agak bingung sih sebenernya sama peran mereka masing2 gara2 tuker peran, tapi emang pasti susah nulis cerita yg alurnya tuker peran begini.
    jiyi kayaknya bisa ngerubah image minhee nih tp takutnya jiyi keceplosan main terima aja nikah sama myungsoo padahalkan keluarga myungsoo mau ngerebut perusahaan minhee :’)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s