PINK FAIRY : 5 – ANOTHER STAR

PINK FAIRY NEW

1st 2nd 3rd 4th

PINK FAIRY

5th series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance

© Risuki-san

.

‘Chef Cho keren, lalu aku apa?’

-Lee Jinki-

 .

Halaman Sebelumnya

Ini…hanya beberapa butir kancing, kenapa terasa begitu banyak? Sampai kapan ia harus melakukannya? Kenapa begitu lama?

Mengaitkannya dengan tergesa hingga satu kancing terlepas dan…

CEKLEK

Pintu itu terbuka, menampakkan satu ekspresi terkejut dari…

Halaman 5

Another Star

Hanya mampu menatap bingung pada sosok wanita paruh baya disana, ia tak mengerti dengan situasi ini.

Mereka tak melakukannya tapi kenapa situasi ini membuatnya seolah telah melakukan hal terlarang dengan gadis itu?

Mereka tak melakukannya tapi kenapa mereka tertangkap basah?

Ada perasaan takut menyelimutinya, ia terlihat seperti anak kurang ajar, anak paling berdosa di dunia. Jadi dengan skenario seperti ini Tuhan akan menuliskan kata ‘selesai’ dalam hidupnya?

.

.

.

Ada perasaan tak dapat menerima di lubuk hatinya, ia terluka, tubuhnya terluka untuk sesuatu yang tak pernah ia lakukan.

Hanya mampu menahannya, tak mungkin membalas tiap sakit yang ia terima dari tangan renta itu.

Hanya mampu mengeluarkan jutaan kata pembelaan yang tak berguna, menahan tangan renta Nyonya Lee.

“Ibu, dengarkan aku dulu! Kami tak melakukannya!”

Ya, tak berguna karena kata ‘Tidak’ yang terucap bukanlah seratus persen sebuah kebenaran, perlu bukti dan Jinki, apa ia memilikinya?

.

.

.

Menatap tajam pada sosok gadis itu, menatap begitu menusuk pada Jieun yang kini menatap ibu Jinki dengan ekspresi…baiklah tanpa dosa?

Ia terlihat polos tapi ia melakukannya? Tanpa sebuah ikatan pernikahan?

Jadi gadis seperti ini yang akan memberinya suara tangis bayi?

“Namamu?”

“Namanya Jieun”

“Apa pekerjaanmu?”

“Itu..ibu ha-“

“Aku sedang bertanya pada Jieun!”

Tidak, ini tidak seperti yang ibunya bayangkan. Jinki, ia memilih untuk menarik tangan putih itu, tak ingin jika gadis itu mendengar teriakan ibu Jinki yang bahkan dapat merobohkan Namsan Tower.

“APA YANG KAU LAKUKAN??!! IBU BE-“

“Ini tidak seperti yang ibu bayangkan, kami tidak melakukannya”

Berbicara dengan memasang ekspresi seserius mungkin, menatap dalam mata ibunya, menyampaikan kejujurannya.

“Kau menyukainya?”

“Eh?”

“Ibu merestui kalian”

“Aku..aku tidak menyukainya!”

Kenapa jadi seperti ini?

Tak ada lagi kobaran api disana, tak ada amarah yang meluap-luap, ini menenangkan tapi ini…bukanlah situasi yang nyaman bagi Jinki.

Menyukainya? Gadis itu? Gadis anta berantah itu?

Kepalanya pening, ini terlalu membingungkan, seperti mengurai benang kusut, sangat rumit dan Jinki malas memikirkannya.

 “Bu, pulanglah”

“Kau mengusir ibumu?”

“Komohon, Bu”

“Baiklah, kalau begitu lanjutkan aktivitas kalian”

“BU!”

“Maaf mengganggu kalian~”

Hanya mampu menghela nafas, itu tadi benar ibunya?

Kenapa harus merasa heran jika Nyonya Lee memang selalu seperti itu?

.

.

.

Hanya tidur malas di sofa, tak ingin berangkat bekerja karena mood yang sedang buruk. Membolos untuk satu hari?

Hanya satu hari, takkan masalah, ia bahkan sering menghilang berbulan-bulan hanya untuk liburan, tidak bekerja, tidak menghasilkan uang. Itu bukan masalah, bukan masalah jika Jinki sang pewaris tunggal Lee corp yang melakukannya.

Hanya menekan tombol remote secara asal, sesekali mencuri pandang pada Jieun yang melangkah kesana kemari tidak jelas.

Dengan dress pink selutut, dress favorit Jinki, gadis itu melangkah cepat. Tak ada sedikitpun kata ‘Anggun’ yang pantas ia terima.

“Dia bekerja bahkan disaat aku di rumah?”

Ucapnya pelan, tak ingin jika gadis itu mendengarnya karena…bukankah itu terdengar seperti Jinki sedang menahannya?

Dalam hati ia memanjatkan doa, semoga Jieun tidak bekerja, apapun di dunia ini yang dapat menahan gadis itu tolong munculah dan…

“Tuan muda, aku berangkat”

Memilih untuk membuang bantal diatasnya secara brutal, ada perasaan kesal merambatinya. Memilih untuk melangkah cepat, mengejarnya, memperhatikan punggung Jieun yang semakin lama semakin kecil dan menghilang bersamaan dengan raut kesal yang semakin menjadi.

.

.

.

Bermalas-malasan di rumah, dulu ia senang melakukannya.

Tapi ini…ada apa dengannya?

Dengan kacamata, topi dan mantel tebal berwarna hitam. Penampilan serba hitam membuatnya terlihat mencurigakan tapi…ini sempurna, penampilan sempurna untuk menyamar.

“Jinki, kau mau pesan apa?”

EHH

Menoleh cepat, menatap sosok Jonghyun yang tengah duduk di depannya, ada perasaan tak percaya.

“Maaf, aku tak mengenalmu”

Memilih untuk bersikeras melanjutkan penyamarannya.

“Jinki, kau berusaha menipuku? Bodoh!”

Jinki menggeleng kuat, tidak mungkin, mereka berteman sudah berapa tahun dan ia baru tahu jika Jonghyun memiliki indera keenam?

“Setidaknya gunakan kumis diwajahmu”

“Haruskah?”

“Mana ada orang menyamar dengan pakaian seperti itu, masih terlihat tampan bahkan saat menyamar? Kau melanggar undang-undang”

Tampan? Bahkan kaum adam pun mengakuinya?

Tak ada senyum kebanggaan yang ia ukir, ia sudah menerima terlalu banyak pujian, sudah kebal.

Mengarahkan kepalanya ke seluru penjuru kafe, memasang radar sebanyak mungkin, mencari gadis itu dan nihil.

“Kau mencari Jieun? kau takkan menemukannya disini”

“Kenapa?”

“Dia bilang ingin menjadi Chef karena itu aku jadikan dia asisten dapur”

Ia tak pernah mengatakannya pada Jinki! Jadi Jonghyun lebih panting dari Jinki?

“Dia bilang Chef Cho sangat keren, ia jadi i-“

“APA??”

Tak bisa diterima, Jieun mengatakan hal semacam itu? Bahkan setelah semua hal yang ia lakukan,  gadis itu tak pernah memujinya keren!

Jinki yang terbaik dalam memperlakukannya, tapi kenapa gadis itu memuji orang lain?

“Jjong, dimana dapurmu?”

.

.

.

“Tuan muda?”

Dapur yang sibuk dan semakin sibuk dengan kehadiran Jinki. Menarik satu-satunya asisten dapur disana. Bahkan jutaan umpatan Jonghyun tak di dengarnya, menulikan telinganya, lebih memilih untuk menyeret gadis itu.

Pemberontakan yang dilakukan Jieun tak ada artinya, semakin keras ia berontak maka semakin kuat pula tangan Jinki menariknya.

“TUAN MUDA!”

Jieun membentaknya?

“Aku bilang berhenti!”

Memilih untuk melepasnya, menatap gadis itu, celemek dan rambut yang dikuncir seadanya, lalu keringat dan raut lelah, Jinki tak tahan melihatnya.

“Tuan muda, aku harus bekerja”

“Kenapa?”

Kenapa?

Ia melihatnya, mata sabit itu melihatnya, Jieun yang dibentak, dipukul dengan stik drum yang entah kenapa ada di dapur.

Chef yang ia katakan keren menyiksanya, ia menyiksanya dan itu keren, begitu?

Pasti ada yang salah dengan otaknya!

“Karena aku suka melakukannya”

Tak dapat dipercaya, Jieun benar-benar membutuhkan pemeriksaan.

“Dia membentakmu, memukulmu, dia-“

“Lalu apa aku terluka?”

Tidak, tak ada jejak-jejak luka yang ia temukan tapi…ia membentak, memberinya jutaan umpatan, bukankah itu penyerangan psikis?

“Aku baik-baik saja”

“Aku-“

“Chef Cho sangat baik, dia hanya tegas, galak, suka membentakku hingga rasanya jantungku hampir copot, tapi ia mengajariku banyak hal, aku ingin menjadi chef dan dia bersedia mengajariku dan ya…dengan caranya sendiri. Tapi dia baik, hatinya sangat baik, sungguh”

Ya, dan Jieun pun mengajarinya.

Ia bukan manusia tapi ia bersikap lebih manusiawi dibanding Jinki.

Ini seperti sebuah pukulan telak untuknya, Jieun ingin menjadi chef dan ia bekerja keras untuk itu lalu bagaimana dengan dirinya?

“Chef Cho sangat keren?”

“Ya?”

“Chef Cho sangat keren, lalu aku?”

.

.

.

Hanya menatap langit Seoul dengan lukisan burung-burung yang beterbangan, kicauannya menjadi alunan merdu yang menemaninya menyambut pagi.

Mengukir sedikit senyum namun percayalah, ia sangat bahagia hari ini.

Dahinya mengkerut kala mengingatnya, memilih untuk melangkah menuju dapur, meninggalkan lukisan alam yang menakjubkan.

‘Tuan muda jangan masuk dapur, aku sedang menyiapkan sesuatu yang spesial, mengerti?’

‘Kau meniruku?’

‘Meniru?’

‘Mengerti?’

Lalu senyum itu, tawa renyah yang ia dengar beberapa jam lalu. Memilih untuk menyentuh bibir apelnya.

“Kenapa aku jadi ingin menciumnya?”

Lagi? Untuk pagi ini?

Memutuskan untuk melangkah, mendekati punggung Jieun yang seolah memanggilnya…peluk aku…peluk aku…dan…

“Tuan muda!”

Sekarang kau senang membentakku ya?”

“Aku kan sudah menga-“

Diam, bukankah Jinki telah mengirimkan sinyal untukmu agar diam?

“Apa hanya ini yang dapat membuatmu diam?”

Mengucapkannya lalu menyentuh ‘Ini’ bibir Jieun yang baru saja ia sapa.

Hanya mengedip lucu yang gadis itu lakukan, kenapa Jinki selalu melakukannya? Dan kenapa ia diam hanya jika Jinki melakukannya?

Merutuki dirinya sendiri, mengumpat bodoh pada dirinya.

.

.

.

Hanya menatap sosok Jinki yang makan dengan cara yang tidak manusiawi, hanya mengukir senyum kecil kala butiran-butiran nasi itu menempel dipermukaan muka.

Memilih untuk membersihkannya, mengundang mata sabit itu untuk meninggalkannya, tergantikan dengan dua pasang gigi kelinci disana.

Tersenyum, Jinki tersenyum.

“Bagaimana kau tahu jika aku ulang tahun?”

“Ibu yang mengatakannya”

“IBU??”

Nasi-nasi itu berhamburan keluar, mata sabitnya masih terperangkap di dalam tapi percayalah, Jinki sangat terkejut, Jieun memiliki seorang ibu?

“Ya, ibumu”

“Ehh”

“Nyonya Lee mengatakannya, panggil aku ibu, begitu”

Jadi Nyonya Lee benar-benar menyukai Jieun? Haruskah ia bahagia?

“Ibuku menemuimu?”

“Ya”

“Dia baik?”

“Ya, aku sangat menyukainya”

Menatap betapa mata kecil itu berbinar, lalu senyum tulus yang terukir kala bibir itu mengucapkannya.

“Apa saja yang kalian bicarakan?”

Memintanya bercerita, ya, Jinki tahu. Pasti hal ini akan terjadi, Jieun yang bercerita dengan sangat antusias, dengan jutaan ekspresi bahagia miliknya.

Hanya menatapnya, tak banyak yang ia pahami dari cerita gadis itu, hanya puluhan kata yang ia tangkap secara acak, tak ingin memahaminya, hanya ingin fokus pada satu titik saja.

Ekspresinya…ekspresi bahagianya…

Tidak lama, mungkin hanya beberapa menit hingga suara yang mereka tahu adalah bel apartemen Jinki berbunyi.

“Lanjutkan makanmu, aku akan membukanya”

Mengucapkannya lalu menyentuh ringan hidung mungil Jieun, memutuskan untuk melangkah mendekati pintu, tak ingin melihat layar interkom.

Lebih memilih untuk mengambil cucian kotor yang telah ia kumpulkan sebelumnya, membuka pintu di depannya dan…

Bukan dia, bukan sosok itu yang ada dipikirannya…

Bukan petugas laundry yang selalu datang sepagi ini tiap hari minggu, bukan dia dan Jinki..ia tak mengerti. Haruskah ia kecewa atau…bahagia?

“Jinki! Aku pulang!”

Sebuah suara dengan nada riang disana, lalu senyum dan kedua tangan yang terulur untuk memeluknya.

To be continued….

copyright

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s