PINK FAIRY : 6 – INTERSECTION

PINK FAIRY NEW

1st2nd3rd4th5th

PINK FAIRY

5th series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance, Drama

© Risuki-san

.

Bintang yang terbesar dan paling terang bahkan tak mampu menandinginya, ia menarikku dan memaksaku jatuh padanya, pada hatinya.

Melemaskan persendianku, membuatku berlutut, bertekuk lutut terhadapnya.

Ia kejam, menyiksaku, membuatku menyimpan rasa padanya namun selalu seperti ini, menggantungku antara hidup dan mati.

Menerimaku yang tulus terhadapnya atau menolakku yang selalu tak berdaya.

-seseorang-

.

Halaman Sebelumnya

Bukan dia, bukan sosok itu yang ada dipikirannya…

Bukan petugas laundry yang selalu datang sepagi ini tiap hari minggu, bukan dia dan Jinki…ia tak mengerti. Haruskah ia kecewa atau…bahagia?

“Jinki! Aku pulang!”

Sebuah suara dengan nada riang disana, lalu senyum dan kedua tangan yang terulur untuk memeluknya.

Halaman 6

Intersection

Nyanyian burung menjadi latar canggung diantara keduanya, tak ada satupun yang membuka suara, mengetuk-ngetukkan kaki diatas aspal, tak mengerti harus memulai darimana.

“Ada apa?” suara dingin Jinki menjadi kebisingan lain diantara suara lembut makhluk dengan sayap diudara.

“Aku-“

“Pergilah, jangan pernah-“

“Jinki aku sakit”

Mendengar omong kosong lain, Jinki hanya menatap gadis itu malas, hampir saja ia beranjak tapi rangkaian kata yang ia dengar seolah menahannya, menariknya kembali terduduk.

“Aku menjalani kemoterapi di Amerika dan sekarang aku sembuh”

“…”

“Jinki, kumohon kembalilah”

Ia mengingatnya, Hyeri pergi, meninggalkannya, menggantungnya pada ketidakpastian. Bukan waktu yang singkat, tapi tiga tahun. Jinki menunggu, mungkin gadisnya memiliki alasan, ia akan mengerti segera setelah Hyeri bicara.

.

.

.

Kabut asap kendaraan, hal yang sangat ia benci, kini Jinki mengabaikannya. Berjalan dengan lesu pada tepi trotoar. Ia tak mengerti, haruskah ia kembali?

Mengenalnya terlalu lama, memahami Hyeri lebih dari siapapun, Jinki, ya, dia Jinki, hanya Jinki.

Ia sakit, gadis itu sakit, tapi memilih untuk menahannya sendiri. Tak ingin membaginya, membiarkan kesalahpahaman diantara keduanya, membuatnya terlihat buruk, semua untuk Jinki.

“Ya? Baiklah”

Dan menyentuh lambang merah pada layar ponselnya, memutus sambungan yang sempat ia lakukan sebelumnya.

.

.

.

Suara acak hanya masuk dan keluar diantara lubang telinganya, tak ada satupun kalimat yang berhasil ia pahami, hanya diam, tak memberikan respon yang Jieun inginkan.

“Tuan muda? Kau sakit?”

Menyentuh dahinya, merasakan suhu manusia normal, menyadarkan Jinki yang terlalu lama tenggelam dalam lamunan.

 “Tuan muda, kenapa tadi pagi tiba-tiba menghilang? Apa terjadi sesuatu?”

Tak mengerti harus memberi jawaban seperti apa, menemui Hyeri, apa itu benar, apa itu akan menyakitinya atau justru sebaliknya?

Jieun mungkin biasa saja, tidak marah ataupun kecewa, tak memiliki ekspresi selain bahagia karena Jieun memang seperti itu, selalu.

“Aku…aku ada sedikit urusan, aku hanya pergi sebentar, kau merindukanku?”

Bersikap normal, seolah tak pernah menemui mantan kekasih yang berkata ‘kembalilah’ sebelumnya.

Menggoda Jieun, memicu semburat merah jambu pada keningnya.

“Jieun, kau tahu Lotte world? Ingin pergi kesana?”

.

.

.

Seperti menelan sebongkah lemak, melapisi kerongkongannya, menimbulkan mual luar biasa. Mukanya memerah lalu pucat, tetesan air asin di pelipisnya, Jieun tidak sedang baik-baik saja.

Mengeluarkan seluruh isi perutnya, menaiki roller coaster adalah kesalahan, mungkin biang lala lebih sesuai untuknya.

“Jieun, minum ini” menyerahkan sebotol cairan yang ia bawa sebelumnya, hanya air mineral.

Menatap Jieun yang meneguknya cepat, membersihkan saluran cerna atasnya, berkumur lalu menyemburkannya. Jieun bar-bar, dia polos dan bar-bar.

“Lebih baik?”

Anggukan pelan menjawabnya, Jinki tersenyum karena rasa khawatirnya seketika menguap, mengusap surai hitam Jieun kala tubuh mungil itu menumbuknya, bersandar padanya.

“Tuan muda, ayo pulang”

.

.

.

Latar jingga diatas langit, lalu makhluk bersayap yang mengepak cepat menjadi latar diantara keduanya.

Jieun menempel kuat padanya, pada punggungnya, menahan kaki mungilnya, membawa tubuh Jieun, tidak berat tapi juga tidak ringan. Tidak membuatnya mengeluh karena ini cukup menyenangkan.

“Tuan muda, apa aku berat?”

“Setidaknya kau lebih masuk akal dari kapas”

“Aku tak mengerti”

Jinki menggeleng iba pada dirinya, selalu seperti ini, mengatakan hal-hal yang membuat sekelilingnya mengernyit dahi.

Bibir apel itu hampir terbuka, mengeluarkan kalimat yang lebih mudah dicerna tapi sepasang mata membuatnya berhenti.

“Jinki…dia…?”

Hyeri, dengan sorot terluka ia bertanya…

.

.

.

Bukan lagi makhluk bersayap yang memberinya nyanyian, tapi hanya suara jarum jam dan detak jantung disana yang meramaikan.

Langit menggelap seiring dengan sinar bintang redup yang menemani, seiring dengan mendung yang menyelimutinya.

Jinki, ia hanya termenung, memikirkannya, lagi.

‘Dia…dia adikku’

Lalu sorot terluka itu sirna, terganti oleh tatapan tanya dan selekuk senyum segera setelah Jinki membuka suara, suara yang memiliki makna palsu yang mampu meyakinkan gadis di depannya.

‘Dia adikku, adik sepupu’

Lebih sering diam dengan pikiran yang berkelana, menimbulkan tanya pada benak gadis disampingnya.

“Tuan muda?”

Menarik dirinya, memaksanya kembali ke dunia yang sebenarnya, menatap Jieun yang kini menatapnya. Menerima pancaran yang lebih tajam dari petir, melumpuhkannya meski itu hanya sebuah senyum.

“Kau belum tidur?”

“Belum, aku tak bisa tidur”

Meraih tubuh itu, merangkulnya, menyekap gadis itu dalam sebuah dekapan. Membelitnya lebih kuat dari belitan ular namun lebih hangat dan nyaman dari radiasi api diatas perapian.

“Tidurlah”

Lagi, menerima cahaya dengan jumlah yang lebih fantastis dari matahari, menarik paksa energinya, melemaskan seluruh sel tubuhnya.

Pancarannya sirna segera setelah dua kelopak bergerak, menghalangi dua pasang  mata itu bertemu.

Ingin menyusulnya, menemaninya menuju dunia mimpi, tapi tidak setelah ia mendengarnya.

“Tuan muda, kenapa berbohong? Aku bukan adikmu, kenapa berbohong?”

.

.

.

Sebuah persimpangan, antara kanan, kiri atau terus maju ke depan. Begitupun Jinki, ia kosong, tak mengerti, tak tahu arah, sama sekali.

Lamunan yang semakin dalam dan jauh, terkadang membawanya tersesat, terus diam dan berpikir keras, berusaha mengurai benang kusut di dalam otaknya, belum selesai dan masih terlalu jauh.

“Tuan muda, makanlah yang banyak”

Menatap Jieun yang semakin terlihat manusiawi, ia idaman, ia impian dan miliknya, hanya miliknya.

“Jieun, kau lelah?” bertanya karena Jieun tidak terlihat sehat, menyentuh dahinya, gadis itu demam.

.

.

.

“Tak apa, aku baik-baik saja”

Mengabaikan Jieun yang bicara, memaksanya berangkat, meninggalkannya sendirian begitu?

“Jieun diam!”

Ia bungkam, suara lembut itu lenyap seutuhnya, hanya suara gesekan lap basah hangat yang dapat mereka dengar.

“Saat demam, kau harus di kompress, mengerti?”

Mengangguk patuh, selalu patuh, tak membantah karena Jinki memang tahu segalanya.

Berusaha menenggelamkan diri, menyusup diantara luasnya dunia mimpi dan tak berhasil, mata kecilnya masih terbuka, ia kesulitan karena merasa tak nyaman.

“Jieun, kau kedinginan?”

Tak menjawab ataupun mengangguk, tapi Jinki mengerti kala getaran tak wajar yang terjadi pada tubuh Jieun, ia menggigil.

.

.

.

Benturan titik air dengan atap, dengan kaca, dengan partikel udara, mereka mendengarnya begitupun kilat dan halilintar yang mengejutkan.

Hanya meringkuk disana, diatas ranjang, diantara tulang-tulang kokoh yang menjaganya, melindunginya dari apapun, siapapun.

Mengusir dingin yang menyapa, menyampaikan kehangatan melalui tiap usapan yang Jinki lakukan untuknya.

“Tuan muda, terima kasih”

“Berhenti memanggilku seperti itu, panggil aku oppa, mengerti?”

Mengukir segaris senyum dan segaris mata sabit, Jinki tersenyum, ia bahagia lebih dari siapapun.

.

.

.

Meninggalkan gelapnya awan dan langit, menyapa mentari di dalam dunia mimpi, menatap lelaki dengan helaian coklat pada rambutnya, mata sabit dan sebuah selempang kehormatan pada tubuhnya yang kokoh.

 ‘Panggil aku Chase’

‘Aku…aku tak berani’

‘Panggil aku Chase, mengerti?’

“…Chase…”

Ingin terus seperti ini, tersenyum tanpa henti ketika jutaan kupu-kupu memenuhinya, membuatnya meledak kapanpun, menyenangkan.

.

.

.

Persimpangan itu tidak lagi membingungkan, Jinki mengerti, kemana ia harus melangkah, kemana arah yang ia tuju.

“Mulai besok kau tinggal dengan ibuku, kau menyukainya?”

Jieun menatapnya, ada sebuah tanya yang ia perlihatkan, tak mengucapkannya, tapi Jinki mengerti.

“Kau tak nyaman?”

“Bukan begitu ak-“

“Aku akan bertunangan”

Hanya diam, sesuatu tak kasat mata menghisapnya, ia merasa hampa, ada yang hilang tapi ia tersenyum, Jieun bahagia untuknya, harus.

.

.

.

Bintang yang terbesar dan paling terang bahkan tak mampu menandinginya, ia menarikku dan memaksaku jatuh padanya, pada hatinya.

Melemaskan persendianku, membuatku berlutut, bertekuk lutut terhadapnya.

Ia kejam, menyiksaku, membuatku menyimpan rasa padanya namun selalu seperti ini, menggantungku antara hidup dan mati.

Menerimaku yang tulus terhadapnya atau menolakku yang selalu tak berdaya.

-Lee Jieun-

To be continued….

copyright

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s