PINK FAIRY : 7 – THE MISSING ONE

PINK FAIRY NEW

1st2nd3rd4th5th 6th

PINK FAIRY

5th series

by Risuki-san

SHINee’s Onew as Lee Jinki & IU as Lee Jieun

Chaptered | PG-15 | Fantasy, Romance, Drama

© 2015 Risuki-san

.

‘Bukan karena Chef Cho tapi seseorang yang lain, seseorang yang aku tak ingin lebih jauh darinya’

-Lee Jieun-

.

Halaman Sebelumnya

Persimpangan itu tidak lagi membingungkan, Jinki mengerti, kemana ia harus melangkah, kemana arah yang ia tuju.

“Mulai besok kau tinggal dengan ibuku, kau menyukainya?”

Jieun menatapnya, ada sebuah tanya yang ia perlihatkan, tak mengucapkannya, tapi Jinki mengerti.

“Kau tak nyaman?”

“Bukan begitu ak-“

“Aku akan bertunangan”

Hanya diam, sesuatu tak kasat mata menghisapnya, ia merasa hampa, ada yang hilang tapi ia tersenyum, Jieun bahagia untuknya, harus.

Halaman 7

Malam yang gelap, hanya sinar redup bulan sebagai penerangan, seredup hatinya, mungkin.

Jinki membawanya, tas yang tak begitu besar, tas milik Jieun. Melepasnya, melepas gadis itu, entah sampai kapan.

“Tuan muda tidak masuk?”

Hanya mengeleng pelan, mengantarnya tepat di depan pintu, tak ingin masuk, bercengkrama lebih lama, mengucapkan selamat tinggal, tidak, tolong jangan memaksanya.

“Tak ingin bertemu ibumu?”

Hanya mendorong bahu itu pelan, memaksa gadis itu masuk, meninggalkannya.

Hanya menurutinya, Jieun tak pernah membantah, takkan pernah. Hanya memperhatikan punggung tegap itu, sebuah kaca transparan menghalanginya, ingin menahannya, menarik punggung Jinki yang akan menghilang, tidak, tolong jangan seperti ini…jangan pergi…

.

.

.

Bukan mendung yang memburamkan hatinya. Tapi Jinki, Jinki yang secara mendadak hilang, tidak berada pada jarak pandangnya.

Jieun hanya berdiri, tak dapat melangkah lebih jauh. Hanya menatap sebuah gedung tinggi, sangat tinggi hingga mungkin hamparan salju dapat berada pada lantai teratasnya.

“Tuan muda…”

Memanggil seseorang yang ia tak berani meski hanya menyebut namanya.

Ia ingin pergi, tapi tubuhnya kaku. Tak menuruti perintahnya, ia berkata pergi tapi tubuh itu menahannya.

Terus diam, bahkan saat tetesan air membasahinya.

Berteduh…otaknya mengirim sinyal untuk berteduh tapi ia tak melakukannya.

“Tuan muda, aku ingin melihatmu”

Mengucapkannya, apa yang ia inginkan dan jutaan titik air yang menghujamnya…sebagai jawaban.

.

.

.

Derap langkah yang cepat, peluh yang membanjiri kening dan membasahkan pakaian. Rambut hitam yang tidak lagi rapi, berantakan dan diikat seadanya.

Menjadi Jieun yang bukan biasanya karena…

“YAKK! KAU GILA?? MENUMPAHKAN KALDU DISAAT SEPERTI INI??”

Tak berani memandang seseorang disana. Meski tidak berguna tapi kata maaf yang tulus, ia tetap mengucapkannya.

“Maaf, maaf..”

Terus mengucapkannya.

Dapur yang super sibuk saat jam makan siang dan Jieun menghancurkannya.

Chef Cho perlahan melangkah, menjauhi singgasana kebanggaannya dan mendekat padanya. Memukul dahi Jieun dengan stik drum.

“kau gila?? kau ingin dipecat??”

“…”

“Sudahlah, pulang ke rumah saja!”

Jieun menatapnya terkejut, mencari maksud dari kalimat yang ia dengar sebelumnya. Pulang? apa artinya ia di pecat?

Jieun mengakuinya, ia melakukan banyak kesalahan hari ini tapi tak bisakah Chef Cho mengerti?

Tak bisakah Chef Cho melunak dan memaafkannya?

“Tolong beri aku kesempatan”

“Untuk menghancurkan dapurku?”

Jieun tergagap, tidak, bukan itu maksudnya.

Mencari seribu satu alasan dan Jieun tak mampu menemukannya. Ini lebih sulit dari memecahkan soal teka-teki silang.

“Pulanglah! Tidur di rumah!”

Tidak, meski sepanjang satu nanometer, meski hembusan angin sangat kuat menerbangkan tubuhnya, Jieun akan bertahan.

“Maaf Chef, aku harus melanjutkan pekerjaanku”

Mengucapkannya lalu berlalu pergi, menebalkan kulit mukanya sebanyak mungkin. Mengabaikan suara Chef Cho yang lebih menjulang dari Namsan Tower.

.

.

.

Hanya bisikan angin malam yang menyapa telinga, partikel angin saling bertumbukan, menggesek kulitnya yang selembut sutera, menerbangkan rambut hitamnya, menggelitik kening sang pemilik.

“Hey, gadis bebal!”

Suara itu, tidak, kenapa Chef Cho harus muncul di saat seperti ini?

Hanya mampu tersenyum hambar, menatap Chef Cho yang kini menatapnya, menghujamnya dengan tatapan menuntut.

“Satu kesalahan lagi”

“Ya?”

“Satu kesalahan lagi, aku akan benar-benar menutupnya”

“Ya?”

Sebenarnya apa yang Chef Cho katakan?

Mengucapkan hal-hal aneh, merangkai kata yang sangat rumit dan Jieun tidak cukup pintar untuk mencernanya.

“Semua pintu masuk menuju dapurku, aku akan menutupnya, aku memperingatkanmu!”

Benang kusut di otaknya tidak lagi membingungkan, terurai sepenuhnya dan memberikan pemahaman yang jernih bagi Jieun.

“Aku akan berusaha lebih baik, lebih keras dari siapapun! Semangat Lee Jieun! Semangat Chef Cho!”

Mengucapkannya, tekad yang lebih kuat dari struktur kristal yang sangat teratur, kokoh dan tak bisa hancur.

Jieun menarik sebuah senyum, lebih indah dari pelangi setelah hujan. Tersenyum tulus meski dalam hati merasakan kekosongan.

.

.

.

Mata kecil disana hanya menatap hambar, kamar ini lebih luas dan lebih indah, tapi sayangnya tidak lebih nyaman.

Bukan ranjang keras yang membuat sakit punggung, ini bahkan memberikan kehangatan yang sangat ia sukai.

“Jieun, kau suka kamarnya?”

Menoleh cepat pada sumber suara, menatap Nyonya Lee, mengingatkannya pada seseorang.

“Ranjangnya sangat hangat” mengucapkannya lalu tersenyum malu-malu.

Ya, sangat hangat, hanya hangat dan Jieun membutuhkan lebih dari hangat.

“Jieun”

Memanggil nama itu, nama yang menurut ibu Jinki sangat indah, seindah paras pemiliknya. Menggenggam telapak Jieun, merasakan betapa halus permukaannya, tanpa celah dan cacat yang bisa ia  cela dari gadis itu.

“Ibu dengar kau ingin jadi Chef, apa itu benar?”

Memperlakukannya seperti Jieun adalah anaknya, seandainya itu benar, seandainya itu terjadi.

“Kau ingin sekolah ke Perancis?”

“Ya?”

“Ibu memiliki seorang kenalan disana, kau bisa belajar dari Chef terhebat di dunia, ibu bisa mengirimmu kesana, kau mau?”

Otaknya bekerja sangat lambat, sel-sel disana bekerja dengan tidak normal. Iya atau tidak, hanya dua pilihan dan Jieun tak mampu memutuskan.

Menjadi Chef, Jieun ingin melakukannya tapi…

“Aku tak ingin pergi”

“…”

“Aku tak ingin pergi, Chef Cho juga hebat, aku ingin belajar darinya”

Tidak, bukan karena itu, tapi…

 “Baiklah, cepat turun, kita harus makan malam”

Hanya mengangguk patuh, menatap punggung renta itu mengecil dan menghilang di balik pintu.

Jieun menggeleng pelan, mata yang bening dan mengeluarkan semburat merah. Hanya menunduk, menutupi sesuatu yang turun di balik kelopaknya.

Bukan karena Chef Cho tapi seseorang yang lain, seseorang yang Jieun tak ingin lebih jauh darinya.

“Tuan muda, aku merindukanmu”

.

.

.

Menuruni anak tangga secara perlahan, memperhatikan tiap detail di sekitarnya, rekaman masa lalu yang terpajang rapi pada tiap sudut ruangan.

Jinki saat itu…

Perut tambun dan pipi gembul, mata sabit yang masih sama hingga kini.

Terus melangkah, menyentuh sebuah bingkai klasik di atas meja.

“Itu Jinki saat baru bisa duduk pertama kali”

Nyonya Lee mengucapkannya, mengundang selukis senyum saat Jieun mengingatnya, Jinki yang tenggelam dalam dunia yang berbeda saat lelaki itu tersenyum.

“Matanya menghilang, Jieun, kau melihatnya kan?”

Mengangguk setuju, mengangguk penuh antusias, tersenyum kecil kala ingatan di dalam otaknya berputar, berotasi pada masa dimana Jieun akan menemukan Jinki segera setelah membuka mata.

“Jieun, kau tahu, dulu saat Jin-”

Jieun mendengarkan dengan baik, cerita masa kecil Jinki yang pasti menyenangkan. Tapi tidak, Nyonya Lee sedang tidak bisa bercerita sekarang.

“HUWA!! PANAAAAS!!”

Jieun terlonjak kaget, memilih untuk mendekat, mengambil alih penggorengan yang memercikan minyak panas dengan cara yang tidak manusiawi.

“Ibu duduk saja, biar aku yang melakukannya”

“Tapi…”

“Aku pandai melakukannya, meragukanku?”

Mengucapkannya lalu mengerucutkan bibir, menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa di saat bersamaan, namun tertarik kembali segera setelah jemari renta Nyonya Lee melakukan serangan yang tak terduga.

 “Baiklah gadis manis”

Menarik pipi Jieun yang sedikit chubby dengan sangat keras, perlu ditekankan, sangat keras!

“Saat kecil Jinki sangat cengeng, ia menangis hanya karena melihat orang lain menangis, dia penakut, tak bisa minum susu jika bukan dari botol….”

Jinki ini…Jinki itu…dan bla…bla…bla….

Nyonya Lee melanjutkannya, rangkaian cerita yang takkan habis meski satu malam tanpa istirahat.

“Meski sangat menyukai ayam, tapi Jinki paling suka salad ubur-ubur”

Jieun hanya mengernyit dahi, salad ubur-ubur, ia sama sekali tak mengerti. Ingin bertanya tapi ragu karena takut jika itu akan terdengar aneh.

Jieun bukan seseorang yang normal, hanya Jinki di dunia ini yang tahu.

“Jika ibu memasaknya dulu, Jinki akan menghabiskan semuanya sendirian”

“Benarkah?”

Jieun mengerti, Jika manusia memakannya maka itu adalah sebuah jenis makanan. Seketika menjadi antusias, Jieun tersenyum dengan banyak arti.

Memasak salad ubur-ubur, terdengar seperti sebuah ide yang menurutnya cemerlang.

“Ibu, bisa berikan aku resepnya? Aku akan memasak lalu mengantarnya kesana, Tuan muda-“

“…”

“-maksudku…Jin-ki Op-pa…pasti akan sangat senang”

Mengucap dengan terbata pada kata-kata tertentu. Terasa canggung dan aneh saat Jieun harus memanggil Jinki dengan sebutan lain.

“Jieun…”

Menunggu dengan mata kecil yang berbinar, bukan penolakan yang akan gadis itu terima, iya kan?

.

.

.

Duduk menyendiri diantara deretan bangku kosong, tatapan itu mengarah pada sesuatu, sesuatu yang membawanya terbang pada masa lalu.

‘Jieun, kau suka sepatunya?’

Surai coklat yang ia tangkap kala itu, helaian rambut yang hampir ia sentuh jika saja Jinki tak segera berbalik lalu menatapnya dan tersenyum.

Bangun dari posisi berjongkok setelah memakaian Jieun sepasang sepatu.

‘Kakimu terlihat cocok dengan warna pink’

Mengucapkannya dan diikuti lekukan pada bibir apel yang kala itu melenyapkan sekejap dunianya, Jinki tersenyum dan memaksa dirinya sendiri untuk terpejam.

“Hhhh…”

Jieun membuang nafasnya, terlihat beban transparan yang ia tanggung, sendirian.

‘Jieun…’

Mengingatnya, suara Ibu Jinki kala itu…

Angin malam yang menyentuhnya, terasa dingin hingga membuatnya sedikit menggigil. Tak ingin beranjak meski tusukan tajam partikel angin sedang menyiksanya.

Titik-titik air mulai berkumpul pada sudut mata kecilnya, hanya pertahanan lemah yang ia miliki, tak bisa menghentikannya, hanya mampu membendung selama mungkin meski sedikit kedipan akan meloloskan mereka, butiran bening yang mereka sebut air mata.

‘Jangan menemui Jinki untuk saat ini…ini yang terbaik untuk kalian. Jieun percaya pada ibu, iya kan?’

Tak ada orang lain selain Jinki yang bisa ia percayai, Jinki meninggalkannya, Ibu Jinki pun memintanya untuk melakukan hal yang sama.

Jieun tak mengerti.

Dan Jieun tak lagi bisa menahannya, mereka terus berdesakan keluar, Jieun menangis, tanpa suara. Hanya jejak-jejak air pada pakaiannya sebagai saksi.

“Jieun?”

Jieun menyekanya cepat, ia tergagap.

Suara itu, Jieun tahu siapa pemiliknya.

“Jieun, kau menangis?”

“Tidak, aku…aku hanya…”

Jieun tak mengerti, ia tak tahu harus dengan kata apa ia melanjutkan kalimatnya.

Hanya menatap permukaan aspal yang ia injak, tak berani menampakkan mata kecil miliknya yang pasti sedang memerah, masih diam dan otaknya tak juga menemukan jawaban yang tepat.

Chef Cho, tolong jangan bertanya.

“Jieun, ayo pulang, aku akan mengantarmu”

“Tidak”

Jieun menjawab cepat, memilih untuk meninggalkannya, Chef Cho yang terdiam melihat tingkahnya yang aneh.

Terus melangkah meski butiran-butiran kecil air tak henti menghujamnya.

Melangkah cepat lalu…Jieun terpaku.

Sepasang kaki yang jelas Jieun tahu siapa itu, mantel hitam yang sangat ia kenal, mantel hitam dengan aroma khas Jinki.

“Jieun, apa yang kau lakukan? Ayo!”

Sebuah tarikan pelan pada lengan kecilnya, Chef Cho menariknya diantara gerimis ringan yang sangat tidak ia sukai.

Jieun membenci dingin tapi ia akan bersedih jika Jinki mengabaikannya.

Tetap berdiri tegak, tidak goyah meski tarikan kuat Chef Cho kian meningkat berbanding lurus dengan waktu yang terus berlalu.

Mata kecil itu terus menatapnya, mata sabit yang juga terarah padanya.

“Jieun, ayo! Kau bisa sakit!”

Chef Cho mengkhawatirkannya tapi gadis itu masih diam, jantung yang bekerja ekstra, Jieun benar-benar takut.

Mata sabit yang jelas melihatnya, namun sama seperti dirinya, hanya diam, tak melangkah.

Tidak…

Tolong jangan mengabaikannya.

“JIEUN!”

Gadis itu terkejut, mata kecilnya teralih pada Chef Cho yang meletup-letup karena amarah. Memilih untuk mengikutinya, telapak Chef Cho yang menggenggamnya hangat.

Melangkah pelan mengikuti langkah lelaki di depannya, hanya menunduk yang bisa ia lakukan. Meloloskan air bening yang masih saja berdesakan.

 ini telah berakhir.

Jieun benar-benar ditinggalkan.

“Jieun akan pulang denganku”

Sebuah suara bass dan gerakan tangan cepat yang memisahkannya, genggaman Chef Cho terlepas dan tergantikan dengan genggaman yang lain, menariknya kuat dan cepat.

Jieun terkejut.

Menatap tak percaya pada tangan besar yang ia rindukan, sejak lama.

Punggung tegap yang hanya berjarak beberapa sentimeter, Jieun tak mengerti, haruskah bahagia atau sebaliknya.

Jinki tidak meninggalkannya tapi ibu Jinki?

Langkah cepat oleh seseorang di belakang, nafas yang jauh memburu karena amarah, Chef Cho berlari lalu melakukan hal yang sama seperti yang Jinki lakukan sebelumnya.

Melepas paksa genggaman yang menurutnya sangat menjijikkan.

“Kau pikir kau siapa!”

Mengatakannya, sebuah kalimat tanya namun ada nada tegas yang ia tekankan. Terus menatap tajam pada Jinki lalu segaris senyum meremehkan yang sukses mendidihkan kepalanya.

“Apa kau yang bernama Chef Cho Kyuhyun?”

.

.

.

Muka putih dengan ekspresi kosong, bersandar pada punggung seseorang di depannya. Sedikit menggigil saat udara malam menggesek permukaan kulit yang sebenarnya terlapisi mantel tebal.

Jieun mengeratkannya, pelukan yang ia harap dapat menghangatkan Jinki.

Roda berukuran raksasa yang berotasi cepat, sebuah sepeda motor yang menurut Jieun sangat besar.

Memejamkan mata kecilnya, punggung ini, aroma ini, Jieun ingin terus berada di sekitarnya, tak bisakah?

Ingatan itu terulang, dimana Jinki terdiam saat Chef Cho mengatakannya.

‘Kau siapa?’

Memasang ekspresi yang sulit diartikan, Jinki tak bersuara untuk beberapa saat lalu mengucapkannya.

Sesuatu yang lagi-lagi telak menusuk rongga dadanya.

Jieun merasakannya, roda yang tidak lagi berputar, berhenti tepat pada sebuah bangunan yang sangat ia kenal.

“Jieun”

Gadis itu diam, tak menjawab ataupun melepaskan pelukannya. Ia telah mengatakannya, bukan di tempat ini ia ingin pulang.

“Jieun, turunlah”

Namun suara jangkrik sebagai jawaban.

Jinki membuang nafas berat, memutuskan untuk melepas paksa tautan tangan kecil yang melingkari tubuhnya, perlahan turun dari sepeda motor balap, menatap Jieun yang masih setia berada disana, duduk diatas jok dengan posisi yang tidak nyaman.

“Jieun, turun!”

Sebuah bentakan takkan menggoyahkannya, Jieun menggeleng pelan, mengumpulkan keberanian untuk menatap Jinki yang sedang marah.

“Aku bilang aku tak ingin pulang kesini!”

Bukan tempat ini, bukan rumah mewah milik ibu Jinki tapi apartemen minimalis milik Jinki. Hanya untuk malam ini, Jieun berjanji hanya untuk malam ini.

Jieun masih disana, diatas jok kulit yang sangat tinggi, sangat tidak nyaman berada diatasnya tapi ia tak ingin pergi.

Jieun berteriak saat tangan besar Jinki meraihnya, memaksa gadis itu turun.

Gadis itu marah, darah dalam tubuhnya mengalir cepat, ia kesal saat kedua kakinya tepat menginjak tanah.

Meraih tangan besar Jinki yang hampir beranjak namun pada akhirnya terhempas kuat, Jieun menggeleng kuat.

Tidak, jangan pergi lagi.

“Aku merindukanmu!”

Jieun meneriakkannya namun hanya punggung yang kian menjauh yang ia terima. Jinki terus melangkah, mengabaikan Jieun yang ia tahu sedang tidak baik-baik saja.

“AKU BILANG AKU MERINDUKANMU!!”

Lagi, Jieun meneriakkannya tanpa ragu, lebih keras, lebih keras dari suara kereta di dalam stasiun. Ia ingin seluruh dunia tahu, ia merindukannya, ia ingin Jinki agar tidak pergi.

Dan jejak-jejak air yang membasahi jalan, rambut hitam yang terurai ke depan, Jieun menunduk dan tetesan air yang menggenang dan tumpah melalui sudut mata kecilnya.

Nafas yang tercekat saat suara bising sepeda motor milik Jinki kian menjauh lalu hilang dan ingatannya beberapa saat lalu ketika Chef Cho dan Jinki bertemu untuk pertama kali.

‘Dia…adikku’

Jieun tak mampu menahannya, suara nafas yang berat, dada yang sesak dan sakit. Apa ini yang dirasakan manusia saat merasa sedih?

Jinki pergi, lagi.

Akankah ia kembali?

To be continued…

copyright

3 thoughts on “PINK FAIRY : 7 – THE MISSING ONE

  1. Annyeong Chingu….. numpang promote ya… hehehhehe
    Kami dari KFFFiction resmi mengajak kalian untuk ikut berkontribusi di blog yang baru saja dibuka. Berhubung masih baru, , author-author berbakat dan ArtWorkers untuk meramaikan blog ini. terima freelands juga lhoo…… tapi dengan Cast All Fandom… minat bergabung? Klik https://koreanfanbasefanfiction.wordpress.com/
    kami tunggu kedatangan dan partisipasinya :D
    write your imagination!
    Gomawo…. :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s