(Chapter 3) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 3)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

Mianhae agak lama. Kemarin dah nulis tapi malah hilang. Jadi akhirnya buat lagi deh.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

 

3

An Inconventient Thruth

 

Kaki Minhee yang dibalut dengan sepatu high heels berwarna coklat muda menggiring gadis itu menuju tempat kerja Jiyeon. Dengan teramat lelah akibat mendaki tangga, gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

“Tak kusangka sangat melelahkan menjadi karyawan biasa. Kenapa harus menaiki tangga.” Kesal Minhee.

“Bukankah kau sendiri yang membuat peraturan itu? Karena itulah Tuhan ingin kau merasakan peraturan yang kau buat sendiri.”

Minhee mendengus kesal mendengar ocehan Sungjong. Sebuah suara tertangkap telinga Minhee yang tajam.

“Jadi bagaimana…”

“Sssttt…” Minhee menghentikan ucapan Sungjong.

“YA!! Aku belum menyelesaikan….”

“SSSTTT…. Apa kau tak mendengar suara itu?” Minhee mencoba kembali mendengar suara yang tertangkap oleh telinganya.

“Suara apa?”

Gemericik air terdengar dari arah ruangan Sunggyu. Dahi Minheepun berkerut.

“Apa Sunggyu sudah datang?” Tanya Minhee.

Gadis itupun berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruangan Sunggyu. Perlahan Minhee menjulurkan kepalanya untuk melihat situasi dalam ruangan. Namun Minhee tak menemukan sosok Sunggyu yang biasanya duduk di kursi kebesarannya. Diapun masuk dan tatapannya tertuju pada pakaian yang tersampir di sofa. Langkahnya menghampiri kursi itu dan tangannya mengambil kemeja dan jas hitam itu.

“Bukankah ini pakaian yang dikenakan Sunggyu semalam?” Gumam Minhee.

“Apa dia tidak pulang? Apa yang dilakukannya hingga bermalam di sini?” Heran Minhee.

Pintu terbuka membuat Minhee menoleh. Mata Minhee membulat melihat pemandangan yang seharusnya tak dilihatnya. Sunggyu yang selesai mandi keluar dengan hanya mengenakan celana hitam panjang dan tengah mengeringkan rambut dengan menggunakan handuk. Dengan susah payah Minhee menelan ludahnya sendiri saat melihat dada Sunggyu yang telanjang dan rambut coklat gelapnya yang basah terlihat begitu menawan di mata Minhee. Sadar dengan apa yang dipikirkannya Minheepun membalikkan tubuhnya. Sunggyu yang menyadari kehadiran orang lain terkejut saat melihat Minhee memunggunginya.

“Park biseonim? Kau sudah datang?” Tanya Sunggyu.

“N-Ne.” Jawab Minhee tergagap.

“A-apa kau tidak pulang semalam Iseonim?” Tanya Minhee yang masih memunggungi Sungyyu.

“Ne. Ada yang harus kukerjakan.”

Tubuh Minhee menegang mendengar derap langkah kaki Sunggyu mendekatinya. Bahkan tangan Minhee terus meremas-remas kemeja Sunggyu yang masih di pegangnya. Minhee biaa merasakan langkah Sunggyu terhenti tepat di belakangnya. Tangan Sunggyu terulur menepuk bahu Minhee.

“Park biseonim?” Panggil Sunggyu membuat Minhee semakin gugup.

N-Nde I-Iseonim?”

“Bisakah kau mengembalikan kemejaku? Kau tidak akan setega itu membiarkan aku seharian tanpa kemeja bukan?”

Minhee menunduk lalu merutuki dirinya sendiri saat sadar dirinya masih memegang kemeja Sunggyu. Tanpa menoleh Minhee mengulurkan kemeja dan jas itu pada Sunggyu. Melihat tingkah Minhee membuat Sunggyu tak tahan menggoda gadis itu. Sunggyu mengambi kemeja itu dan mendekati Minhee.

“Apa kau sengaja mengulur waktu untuk mengintip tubuhku Park biseonim?”

Minhee melotot kaget mendengar ucapan Sunggyu. Diapun berbalik dan menggelengkan kepalanya keras.

A-Aniyo. Mana mungkin aku berpikiran seperti itu.”

Minhee segera menunduk mendapati Sunggyu belum mengenakan kemejanya. Sunggyu tersenyum geli lalu mengacak lembut kepala Minhee dan menyatukan kepala mereka.

“Aku tahu adikku tak mungkin berpikir yang aneh pada kakaknya.”

Nafas Minhee tercekat merasakan perilaku Sunggyu yang memperlakukannya seperti adiknya. Sejak lama Minhee memimpikan memiliki seorang kakak. Sunggyu melepaskan kontak itu dan segera mengenakan kemeja dan jasnya.

“Aku sudah menemukan ide untuk pengganti presentasi minggu lalu.” Ucap Sunggyu seraya mengenakan pakaian.

“Kau memikirkannya sendirian? Kau tak menyuruh karyawan lain?” Tanya Minhee

Sunggyu menatap Minhee bingung karena pertanyaan gadis itu.

“Bukankah kau tahu aku lebih suka mengerjakannya sendiri Park biseonim? Apa kau lupa?”

Seketika Minhee gugup karena Sunggyu merasa curiga pada Minhee.

A-Aniyo. Aku hanya terkejut saja. Aku akan kembali ke meja kerjaku jika kau membutuhkanku Iseonim.”

Minhee segera keluar sebelum Sunggyu semakin curiga padanya. Ucapan Minhee dulupun terngiang dikepalanya.

Aku membayarmu dengan gaji tinggi untuk bekerja yang baik tapi tenyata gaji itu tidak sepadan dengan hasil kerjamu Sunggyu-ssi.

Sepertinya ucapanku keterlaluan, Batin Minhee.

“Jadi kau sudah menyesali ucapanmu?”

Minhee menoleh dan mendapati Sungjong tengah duduk di kursinya.

“Kau membaca pikiranku lagi?”

Dengan wajah polosnya Sungjong mengangguk.

“YA!! Berhentilah membaca pikiranku seperti itu.”

“Bagaimana aku bisa berhenti kalau pikiranmu itu bisa terdengar keras di telingaku.”

“Aaaiishhh… Kenapa kau tidak menghilang saja?”

“Tidak bisa karena aku harus mengawasimu agar tidak kembali pada sifatmu yang sangat berdosa itu.”

Minhee memutar bola matanya males tak ingin beradu mulut dengan malaikat itu.

“Jadi kau sudah mengerti bukan?”

Minhee menatap Sungjong bingung.

“Mengerti apa?”

“Apa yang terjadi tidak semuanya seperti yang kaupikirkan. Jadi janganlah mengecam seseorang tanpa mengetahui kebenarannya.”

“Ne… Ne…. Malaikat yang suci.”

Sungjong tersenyum puas karena sedikit demi sedikit Minhee mulai berubah dan mengetahui kesalahannya.

*   *   *   *   *

Jemari lentik Jiyeon mengetuk-ngetukan meja menimbulkan bunyi yang berirama. Sedangkan wajah Jiyeon tak memperdulikan musik yang diciptakan jemarinya itu. Wajahnya terlihat sedang gelisah. Bahkan dia tak memperdulikan dokumen yang berada dihadapannya.

“Ada apa dengan Myungsoo? Apa dia sakit?” Pikir gadis yang saat ini mengenakan setelan berwarna ungu muda.

Jiyeon mengingat kembali wajah Myungsoo saat menjemputnya tadi.

~~~FLASHBACK~~~

Jiyeon mengamati Myungsoo yang sedang menyetir. Kali ini bukan tatapan kekaguman yang tampak di manik mata Jiyeon melainkan kekhawatiran. Wajah Myungsoo terlihat pucat dan memerah. Keringatpun keluar dari pelipisnya. Padahal saat ini udara sangat dingin.

“Oppa. Kau tidak apa-apa?”

Bibir putih pucat itu melengkung membentuk senyuman yang lemah.

“Aku tidak apa-apa Minhee-ya.” Myungsoo kembali fokus pada jalanan.

Meskipun Myungsoo mengatakan tidak apa-apa tapi tubuh Myungsoo terlihat sangat apa-apa.

“Tapi Oppa, sepertinya kau sakit. Kau yakin tidak apa-apa Oppa?”

“Ne. Aku benar-benar tidak apa-apa Minhee-ya.”

Jiyeon benar-benar sangat khawatir dengan Myungsoo. Tapi Jiyeon tak bisa membuat Myungsoo curiga dengan perhatian berlebihan yang diberikannya. Mengingat sikap Minhee yang dingin pada Myungsoo sangatlah aneh jika Jiyeon saat ini memperhatikan Myungsoo.

~~~FLASHBACK END~~~~

 

Jiyeon menghela nafas bingung harus bagaimana menghentikan hatinya yang berkecamuk.

“Apa aku harus menelpon kantornya?” Pikir Jiyeon.

Segera gadis itu mengambil gagang telpon dan menekan nomor yang tertuju pada Woohyun.

Nde Hwajangnim?” Terdengar suara Woohyun saat telpon diangkat.

“Nam biseonim. Tolong sambungkan aku dengan kantor Myungsoo.”

“Baik hwajangnim.”

Jiyeon mendengar suara Woohyun menghilang. Dan sesaat kemudian terdengar nada tunggu.

“Hallo?” Terdengar suara Seungyeol mengangkat telpon.

“Lee biseonim, ini aku Minhee. Aku ingin tahu apakah Myungsoo sudah datang?”

“Bukankah Kim Hwajangnim tengah mengantarkan anda?”

“Ne. Dia memang mengantarku tadi tapi sepertinya dia sedang sakit. Wajahnya sangat pucat.”

“Benarkah? Tapi Kim Hwajangnim belum datang sampai sekarang. Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Aku akan menghubunginya.”

“Ne. Gamsahamnida Lee biseonim.”

“Ne hwajangnim.”

Jiyeon meletakan gagang telpon itu dan menghela nafas.

“Jadi dia belum kembali? Tapi dia sudah pergi setengah jam yang lalu.”

Jiyeon mengambil ponselnya dan segera menghubungi Myungsoo. Hanya terdengar nada tunggu terus hingga operator yang mengatakan pemilik nomor itu tidak menjawab. Jiyeon semakin khawatir. Diapun berjalan keluar untuk mencari Myungsoo.

*   *   *   *   *

Minhee berjalan dengan kesal setelah mengambil data yang diminta Sunggyu di ruang data. Wajahnya tampak cemberut karena lelah harus naik turun 5 lantai. Gadis itupun tak henti-hentinya menggerutu.

“Kenapa aku haru melakukan pekerjaan yang selalu dikerjakan Nam biseonim? Menyebalkan.” Gerutu Minhee kesekian kalinya.

“YA!! Berhentilah menggerutu kau membuat telingaku panas.”

“Kalau begitu berhentilah mengikutiku dan menghilang saja.”

Sungjong mendaratkan jitakan dikepala Minhee.

“Apa kau pikun nenek tua? Bukankah aku sudah bilang jika aku tak bisa meninggalkanmu? Aku harus terus mengawasimu.” Sungjong menunjukkan matanya yang terus mengawasi gerak-gerik Minhee.

“Nenek tua kau bilang?” Geram Minheepun menjitak balik kepala Sungjong.

“Aku bukan nenek tua tahu. Aku Tae Hwajangnim.” Minhee kembali berjalan setelah sempat terhambat karena malaikat Sungjong.

Langkah Minhee terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya. Sungjong yang menyusul Minheepun terhenti dan melihat apa yang Minhee lihat. Di sudut ruangan tampak Myungsoo bertumpu pada tangannya yang menempel tembok dan satu tangan lagi memegang kepalanya yang terasa sakit.

“Bukankah itu tunanganmu?” Tanya Sungjong.

“Ne.”

“Kenapa dia?”

“Entahlah.”

Kaki Myungsoo tak mampu menahan beban tubuhnya hingga laki-laki itu terduduk di lantai lalu bersandar pada tembok. Minhee bisa melihat wajah Myungsoo yang tampak pucat bahkan keringat keluar membasahi wajahnya.

“Kamu tidak menolongnya?” Tanya Sungjong menyadarkan gadis itu.

Minhee menggeleng.

“Tidak. Masih banyak yang harus kukerjakan.” Minhee berlalu pergi.

Langkah Minhee terhenti saat merasakan tangannya ditahan.

“Bukankah dia tunanganmu? Kenapa kau tidak mau menolongnya?” Wajah Sungjong berubah serius tidak seperti tadi.

“Kami memang bertunangan tapi bukan karena cinta. Hanya karena perusahaannya membutuhkan bantuan perusahaanku. Jadi untuk apa aku memperdulikannya?”

“Apa hatimu terbuat dari batu HUH?” Untuk pertama kalinya Minhee melihat Sungjong marah.

“Meskipun kau tidak menyukainya tapi tidak bisakah kau menunjukkan belas kasihanmu HUH?”

Minhee tersenyum sinis.

“Belas kasihan? Jika aku menunjukkan belas kasihanku pada semua orang, mereka pasti akan memanfaatkanku.”

“Jadi inikah yang diajarkan appamu.”

Minhee melayangkan tatapan tajam kearah Sungjong saat mendengar kata ‘Appa’.

“Baiklah terserah kau jika ingin dihukum seperti appamu.”

Tiba-tiba Sungjong menghilang sedangkan Minhee masih terdiam di tempat. Minhee menoleh kearah Myungsoo yang masih berada ditempatnya semula. Gadis itu memilih berbalik dan hendak meninggalkan Myungsoo.

“Minhee-ya.”

Langkah Minhee terhenti mendengar namanya dipanggil. Gadis itu berbalik dan kembali mengamati Myungsoo yang saat ini matanya terpejam.

“Minhee-ya.” Panggilan itu keluar dari mulut Myungsoo yang putih pucat.

“Disaat seperti ini kenapa dia justru menyebut namaku?” Heran Minhee.

Gadis itu memutuskan mendekati Myungsoo. Sampai di samping laku-laki itu, Minhee berjongkok dan mengamati Myungsoo. Tangan Minhee terulur menyentuh dahi Myungsoo. Seketika Minhee melepaskan tangannya saat merasakan panas di dahi Myungsoo.

“Tubuhnya panas sekali.”Gumam Minhee.

Gadis itu kembali menatap Myungsoo dan mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambilnya.

*   *   *   *   *

Jiyeon berjalan menuju ruang kesehatan setelah mendapat informasi jika Myungsoo dibawa kesana karena pingsan. Dengan langkah terburu-buru Jiyeon menyusuri lorong.

“Minhee-ya.” Langkah Jiyeon terhenti mendengar nama Minhee.

Gadis itu menoleh ke pintu di sampingnya. Kakinya melangkah mendekati pintu yang terbuka sedikit itu. Perlahan Jiyeon mengintip dari sela pintu itu. Gadis itu terkejut melihat Minhee dalam tubuhnya tengah duduk di samping ranjang dimana Myungsoo berbaring. Jiyeon tak dapat melihat wajah Minhee karena gadis itu membelakanginya.

“Minhee-ya.” Myungsoo kembali mengigau menyebeut nama Minhee.

Jiyeon melihat Minhee menyentuh tangan Myungsoo dan menggenggamnya.

korean-guy-drama

“Aku disini Myungsoo-ssi.” Ucap Minhee.

Jiyeon berbalik dan merasakan hatinya terasa sesak melihat pemandangan yang tak ingin dilihatnya. Gadis itu memaksa kakinya untuk berjalan menjauh.

“Myungsoo hanya mencintai Minhee, Jiyeon-ah? Sadarlah kau hanya menggantikan tempat Minhee untuk sementara waktu.” Rutuk Jiyeon pada dirinya sendiri.

Langkah Jiyeon terhenti dan gadis itu menutup matanya yang memanas. Berusaha menahan air matanya untuk keluar.

“BODOH!! Kau benar-benar bodoh Jiyeon-ah. Myungsoo tak mungkin mencintaimu.”

Jiyeon membuka matanya. Dengan menggunakan jemarinya Jiyeon menghapus titik air mata di sudut mata gadis itu.

“Hapus perasaan itu Jiyeon-ah. Jangan menyakiti dirimu sendiri.” Ucap Jiyeon pada dirinya sendiri.

Diruang kesehatan Minhee menatap Myungsoo yang masih tertidur. Minhee sudah meletakan kompres di dahi Myungsoo sehingga panasnya sudah sedikit menurun. Tatapan Minhee beralih kearah tangannya yang menggenggam tangan Myungsoo.

“Apa kau benar-benar menyukaiku Myungsoo-ssi? Bahkan dalam keadaan sakit seperti ini kau menyebut namaku.”

Minhee mengeratkan genggamannya.

“Mianhae jika selama ini aku berlaku tidak baik padamu. Aku akan berusaha merubah sikapku Myungsoo-ssi.”

Untuk pertama kalinya Minhee menyunggingkan senyuman untuk Myungsoo. Di pergelangan tangan Minhee satu butir mutiara putihnya dengan ajaib berubah menjadi warna biru muda seperti warna langit yang cerah.

Ponsel Minhee berdering dan gadis itu langsung mengambilnya dari saku roknya. Nama ‘Sunggyu’ terpampang di layar ponselnya.

“Park biseonim? Kau tidak apa-apa?” Tanya Sunggyu setelah Mimhee mengangkatnya.

“Ne. Aku tidak apa-apa. Kenapa Iseonim menanyakan hal itu?”

“Kau pergi lama sekali. Aku jadi khawatir terjadi apa-apa padamu.”

Minheepun teringat tugas yang diperintahkan Sunggyu. Gadis itu melihat dokumen yang dicarinya di ruang dokumen tergeletak di atas lantai.

Joseonghamnida, Iseonim. Aku ada sedikit masalah jadi akan kembali terlambat.”

“Tidak masalah. Yang penting tidak terjadi hal buruk padamu. Lagipula dokumen itu belum terlalu kubutuhkan. Jadi selesaikan dulu urusanmu.”

“Ne. Gamsahamnida Iseonim.

Benda mungil yang tertempel ditelinga Mimheepun kembali masuk ke dalam sakunya setelah Sunggyu menutup telponnya. Sebuah erangan terdengar membuat Minhee menoleh. Perlahan Myungsoo mulai membuka matanya.

“Kau tidak apa-apa Myungsoo-ssi?”

Seketika Myungsoo menoleh mendengar pertanyaan Minhee. Dahi Myungsoo berkerut berusaha mengenali wajah Minhee yang berbentuk Jiyeon. Myungsoo mengambil handuk di dahinya lalu berusaha untuk duduk dibantu oleh Minhee.

“Kau siapa?”Tanya Myungsoo.

Tubuh Minhee membeku menyadari dirinya tidak berada dalam tubuhnya. Gadis itupun memutar otak mencari alasan yang tepat agar Myungsoo tidak curiga jika dirinya adalah Minhee.

“Namaku Park Jiyeon. Tadi aku melihatmu pingsan di dekat lift jadi aku membawamu kemari.”

Myungsoo menatap handuk ditangannya.

“Karena panasmu tinggi, jadi aku mengompresnya dengan handuk itu.”

Myungsoo menoleh dan tersenyum lemah pada Minhee.

Gamsahamnida sudah menolong dan merawatku Jiyeon-ssi.”

“Ne.”

“Oh ya bukankah kau yang membantu persalinan istri Minwoo ahjushi bukan?”

Minhee terkejut Myungsoo akan membahas peristiwa persalinan yang dibantunya tempo hari.

“Ne.”

“Kau benar-benar yeoja yang baik Jiyeon-ssi. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

Nde?”

“Saat istri Minwoo ahjushi menanyakan namamu, kenapa kau menyebut nama Tae Minhee?”

Minhee merutuki dirinya sendiri karena harus menyebutkan namanya sendiri saat menanyakan namanya.

Bagaimana aku harus menjawabnya? Bingung Minhee.

“Katakan kau hanya keceplosan saja.” Sungjong tiba-tiba muncul di samping ranjang.

“Saat itu aku hanya keceplosan saat melihat Tae hwajangnim dari jendela.”

Minhee berharap-harap cemas akankah Myungsoo mempercayai ucapannya. Myungsoo tertawa membuat Minhee bingung melihat laki-laki itu.

“Kau benar-benar lucu Jiyeon-ssi. Gamsahamnida sudah menolong Kim ahjuma dan menolongku.”

“Ne. Myungsoo-ssi. Apa kau yakin sudah tidak apa-apa?”

“Ne. Karena kau sudah merawatku dengan baik, tubuhku jadi semakin membaik. Aku akan kembali, sekertarisku saat ini pasti sedang panik mencariku.”

Myungsoo menurunkan kakinya dan mulai berdiri. Sesaat tubuhnya terhuyung karena kepalanya masih terasa pusing. Minhee menahantubuh Myungsoo yang hampir terjatuh.

“Seperti tubuhmu masih lemah Myungsoo-ssi.”

“Aku sudah tidak apa-apa. Aku harus pergi. Gamsahamnida Jiyeon-ssi.”

Minhee mengamati Myungsoo yang berjalan meninggalkannya.

“Jadi kau memutuskan menolongnya?” Tanya Sungjong.

Minhee mengambil dokumen yang dibawanya tadi lalu berjalan pergi tanpa menjawab pertanyaan sungjong.

“YA!! Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?” geram Sungjong mengikuti Minhee.

“Aku sedang tak ingin berbicara apapun. Aku harus kembali bekerja.”

Sungjong berhenti melangkah dan mengamati Minhee berjalan menuju tangga darurat. Bibir mungil Sungjong melengkung membentuk senyuman.

“Dia pasti sedang merasa bersalah pada Myungsoo.” Gumam Sungjong sebelum akhirnya menghilang.

*   *   *   *   *

Mata Jiyeon menerawang ke depan. Gadis itu masih memikirkan kejadian diruang kesehatan tadi. Jiyeon tak henti-hentinya memikirkan bagaimana Minhee menggenggam tangan Myungsoo. Hati Jiyeon terasa sesak jika mengingat hal itu.

“Kau tidak berhak memiliki perasaan ini Jiyeon-ah. Minheelah yang berhak memiliki perasaan itu. Sadarlah Jiyeon-ah.” Jiyeon memukul kepalanya sendiri untuk menyadarkan gadis itu.

Ponsel Minhee berdering mengagetkan gadis itu. Melihat nama ‘Myungsoo’ terpampang dilayar ponsel membuat Jiyepn bimbang untuk mengangkatnya.

“Ne, Oppa?” Tanya Jiyeon mengangkat telpon itu.

“Lee biseonim bilang kau menelponku?” Suara Myungsoo terdengar lemah ditelinga jiyeon.

“Ne. Aku khawatir melihat wajahmu yang pucat tadi Oppa.”

“Kau sepertinya benar Minhee-ya.”

Jiyeon menelengkan kepalanya.

“Benar tentang apa Oppa?”

“Aku memang sakit saat ini.”

Jiyeon bingung harus bagaimana meresponnya. Sebagai Jiyeon, gadis itu akan bawel memberitahu Myungsoo untuk beristirahat. Tapi sebagai Minhee yang dingin, dia tak mungkin memberikan perhatian lebih pada Myungsoo.

Aiisshh…. Masa bodoh.

“Saat ini Oppa berada dimana?”

“Di kantor”

MWO? Oppa sedang sakit dan masih berada di kantor? Sebaiknya Oppa meninggalkan kantor atau aku akan datang dan menyeret Oppa untuk pulang.” Omel Jiyeon.

Myungsoo yang sedang duduk diruangannya hanya tersenyum geli mendengar omelan Jiyeon yang mengingatkan pada ibunya.

“Ne eomma. Aku akan pulang sekarang.”

“Eomma?” Bingung Jiyeon.

“Saat ini kau terdengar seperti eomma yang sedang memarahi anaknya.”

Jiyeon tersenyum baru menyadari dirinya seperti yang dikatakan Myungsoo.

Mianhae.”

“Untuk apa kau minta maaf. Aku senang mendengarnya Minhee-ya. Baiklah aku akan pulang dan beristirahat eomma. Sampai jumpa nanti.”

“Ne Oppa.”

Senyuman masih menghiasi wajah Myungsoo. Tapi senyuman itu memudar saat mengingat sesuatu.

Myungsoo-ssi. Apa kau yakin sudah tidak apa-apa?

Myungsoo teringat pada gadis yang menolongnya tadi. Mendengar gadis itu memanggilnya ‘Myungsoo-ssi’ mengingatkan Myungsoo pada sosok Minhee yang dingin. Myungsoo mulai merasakan keanehan pada sosok Minhee yang sekarang.

*   *   *   *   *

Minhee berdiri di depan meja Sunggyu setelah menyerahkan dokumen yang dibawanya tadi.

“Jadi urusanmu sudah selesai?” Tanya Sunggyu.

Nde?”

Sunggyu mendongak menatap Minhee.

“Bukankah tadi kau mengatakan ada sedikit urusan.”

Minheepun ber-o ria setelah mengerti apa yang dimaksud Sunggyu.

“Ne. Aku sudah menyelesaikannya Iseonim. Apa masih ada yang anda butuhkan Iseonim?”

“Sepertinya tidak ada. Kau bisa kembali Park biseonim.”

“Ne Iseonim.”

Minhee membungkuk sekilas sebelum akhirnya keluar. Setelah menutup pintu Minhee bisa bernafas lega karena tidak lagi berpura-pura menjadi Jiyeon.

“Kau tidak memeriksa gelangmu?”

Minhee tersentak kaget saat Sungjomg muncul mendadak di sampingnya. Minhee mengelus dadanya yang berdetak kencang akibat Sungjong.

“YA!! Sudah kubilang jangan muncul tiba-tiba seperti itu. Mengagetkanku saja.” Marah Minhee.

Mianhae. Aku tidak tahu jika kau akan terkejut.” Ucap Sungjong dengan senyuman polosnya.

“Kau mengatakan apa tadi?”

“Kau tidak memeriksa gelangmu?”

“Gelang? Memang ada apa dengan gelangnya?”

Minhee mengangkat tangannya dan betapa terkejutnya gadis itu saat melihat mutiara berwarna birunya bertambah satu lagi. Minhee menatap Sungjong tak percaya.

“Mutiaranya berubah lagi?” Ucap Minhee yang masih terkejut.

Sungjongpun mengangguk.

“Tentu saja karena kau sudah menolong tunanganmu sendiri.”

“Jadi tinggal lima mutiara lagi agar aku bisa kembali menjadi Tae Minhee.” Senang Minhee.

Berbeda dengan Sungjong hanya menepuk gadis itu.

Wae?” Tanya Minhee.

Sungjong menunjuk kearah belakang Minhee. Gadis itu berbalik dan wajahnya seketika membeku mendapati Sunggyu sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah yang sama terkejutnya.

“Su-Sunggyu-ssi?” Minhee terbata-bata menyebut nama laki-laki yang saat ini berjalan mendekatinya.

Langkah Sunggyu terhenti tepat dihadapan Minhee.

“Jadi kau adalah Tae hwajangnim?” Akhirnya Sunggyu mengeluarkan suaranya yang khas.

“Itu… Aku bisa menjelaskannya Iseonim. Tapi tidak di sini.”

Sunggyu melihat kesekelilingnya dimana banyak orang berlalu lalang. Sunggyupun menarik tangan Minhee masuk ke dalam ruangannya. Di ruangan Sunggyu, Minhee duduk dihadapan laki-laki yang menatap menuntut penjelasan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucap Sunggyu mengingatkan.

Minhee menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Sunggyu.

“Ne. Aku adalah Tae Hwajangnim.”

Meskipun tadi Sunggyu sudah terkejut namun mendengar Minhee mengakuinya sendiri masih juga membuat laki-laki itu terkejut.

“Tapi bukankah tubuhmu Jiyeon? Bagaimana bisa?” Heran sunggyu.

“Kau pasti akan mengira aku gila jika mendengarnya.”

Sunggyu masih menatap Minhee lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Jadi jelaskan padaku sekarang.”

“Baiklah.”

Minheepun menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya dan Jiyeon termasuk malaikat Sungjong.

“Malaikat?” Tanya Sunggyu tak percaya.

“Ne. Dia sekarang berada di sampingmu.”

Sunggyu melihat ke arah samping namun tak menemukan tanda kehidupan sama sekali.

“Kau memang tak bisa melihatnya. Hanya aku yang bisa. Namanya Lee Sungjong.”

“Lee Sungjong? Kenapa nama itu tidak asing untukku?”

“Apa kau mengenalnya?”

Sunggyu mengangkat kedua bahunya.

“Entahlah. Tapi telingaku seakan pernah mendengar nama itu. Jadi hwajangnim akan kembali ke tubuhmu setelah melakukan 7 kebaikan?”

“Ne. Jika aku bisa melakukannya maka mutiara-mutiara di gelang ini akan berubah menjadi biru dan aku bisa kembali ke tubuhku. Setidaknya itulah yang dikatakan malaikat bawel itu.”

Sungjong melayangkan tatapan tajamnya namun Minhee tidak mempan dengan tatapan itu.

“Apakah sebawel itu?” Geli Sunggyu mendengarnya.

“Ne. Super duper bawel.”

Merekapun tertawa membuat Sungjong cemberut kesal. Deringan ponsel menghentikan pembicaraan mereka. Sunggyu mengambil ponsel yang diletakkannya di meja. Sunggyu memberi isyarat pada Minhee untuk menunggu sebentar.

“Ne harabeoji?”

Minhee mengamati Sunggyu yang sedang menerima telpon.

“Apa harus sekarang harabeoji?”

Wajah Sunggyu berubah serius membuat Minhee penasaran.

“Baiklah aku akan segera ke sana.”

Sunggyu meletakkan ponselnya dan menghampiri Minhee kembali.

Josseonghamnida hwajangnim aku harus pergi sekarang.” Ucap Sunggyu mengenakan jasnya.

Minhee menahan tangan Sunggyu yang hendak pergi.

“Tolong jangan beritahu siapapun tentang hal ini Sunggyu-ssi. Dengan sifatku yang menyebalkan pasti banyak yang ingin membalasku. Dan mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan ini.”

Sunggyu tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah.”

“Satu hal lagi. Karena saat ini aku menjadi Jiyeon jadi perlakukanlah aku seperti Jiyeon.”

“Jika kau ingin aku memperlakukanmu seperti Jiyeon panggil saja aku Oppa karena Jiyeon tak pernah memanggilku ‘Sunggyu-ssi’.”

“O-Oppa?” Minhee terdengar kikuk mengucapkan sebutan itu.

Waeyo?”

“Tidak apa-apa hanya saja aku tak pernah menyebut panggilan itu saja.”

“Benarkah? Apa kau tak pernah memanggil Myungsoo dengan sebutan ‘Oppa’?”

Minhee menggeleng membuat Sunggyu tersenyum.

“Tapi kau harus membiasakannya jika ingin memjadi Jiyeon. Aku harus pergi. Sampai jumpa nanti Jiyeon-ah.”

“Ne Oppa.”

Sunggyu tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Minhee sebelum akhirnya pergi. Minhee tersenyum melihat Sunggyu yang pergi dan menghilang dari balik pintu.

“Sampai kapan kau akan terus berada di situ? Dia sudah pergi.”

Minhee menoleh dan mendengus melihat Sungjong duduk di mejanya. Gadis itu menarik kakinya keluar dari ruangan itu.

“YA!! Apa kau mulai menyukainya? Lalu bagaimana dengan tunanganmu.” Tanya Sungjong yang mengikuti Minhee menuju mejanya.

Gadis itu menoleh dan menatap malaikat yang tampak ingin tahu.

“Sejak kapan Malaikat Sungjong berubah menjadi wartawan Sungjong?”

“Sejak saat ini. Jadi cepat katakanlah Minhee-ya.”

Shirreo. Aaiishhh…. Aku tidak tahu kalau malaikat itu kepo sekali.” Ucap Minhee memutar bola matanya malas.

“Apa itu kepo?” Bingung Sungjong.

“Cari tahu sendiri.”

Minhee mengamati Sungjong yang menggerutu kesal. Gadis itu teringat Sungjong menyinggung tentang ayahnya tadi.

“Sungjong-ah?”

Wae?” Tanya Sungjong yang masih kesal.

“Apa appaku memderita di sana?”

Sungjong terdiam mendengar pertanyaan Minhee. Dia menoleh kearah gadis yang menunggu jawaban.

“Aku tidak akan memberitahumu.”

“YA!! Kau balas dendam ne? Cepat beritahu aku sekarang.”

Shirreo. Kau sangat kepo Minhee-ah. Aku tidak akan memberitahumu.”

Minhee mendengus kesal.

“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Aku harus menemui seseorang.” Minhee berkata lalu meninggalkan Sungjong yang masih kebingungan.

*   *   *   *   *

Jiyeon sedang mengisi tenggorokannya dengan air putih ketika Minhee memasuki ruangannya. Seketika Jiyeon terbatuk akibat tersedak.

“Apa aku datang tidak tepat waktu?” Tanya Minhee.

“Tidak apa-apa hwajangnim. Ada apa hwajangnim datang dijam segini?” Tanya Jiyeon seraya membersihkan celananya yang basah akibat tersedak tadi.

“Jiyeon-ah, apa kau bisa membuat bubur?”

Jiyeon mendongak dan heran mendengar pertanyaan Minhee.

“Bubur? Ne aku bisa membuatnya. Memang ada apa hwajangnim menanyakannya?”

“Ajari aku membuatnya.” Untuk pertama kalinya Jiyeon melihat Minhee memohon padanya.

Jiyeon benar-benar heran bagaimana bisa seorang Tae Minhee dengan ego yang tinggi sekarang sedang memohon padanya?

NDE?” Seru Jiyeon tak percaya.

*   *   *   *   *

Tatapan mata Jiyeon tertuju pada kotak bekal di tangannya. Gadis itu teringat beberapa jam yang lalu dia sibuk mengajari Minhee membuat bubur. Gadis itu tak menyangka bubur itu dibuat Minhee untuk Myungsoo. Minhee juga memohon padanya untuk mengunjungi Myungsoo dan memberikan bubur ini. Alhasil di sinilah Jiyeon berada, di depan pintu rumah Myungsoo.

“Kenapa tiba-tiba Tae hwajangnim berubah?”Heran Jiyeon.

Diapun menggelengkan kepalanya.

“Ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan hal itu Jiyeon. Saat ini kau harus memenuhi permintaan Tae Hwajangnim terlebih dulu.”

Helaan nafas keluar dari hidung Jiyeon sebelum akhirnya tangannya menekan bel pintu. Suar bel yang keras menggema di dalam rumah. Jiyeon menunggu sesaat namun pintu belum kunjung dibuka. Jiyeon menekan bel kembali dan kali ini terdengar suara langkah kaki yang diseret. Terdengar suara pintu terbuka memperlihatkan Myungsoo yang tampil berantakan. Berbeda dengan setelan jas yang biasa dikenakannya, kali ini Myungsoo mengenakan kaos hitam dan celana panjang abu-abu yang terlihat lebih santai. Rambut hitam legamnya itu tampak acak-acakan menandakan laki-laki itu baru bangun dari tidurnya.

“Minhee-ya. Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Myungsoo dengan wajah yang memerah.

“Karena kau sakit aku membuatkan bubur ini untukmu.” Jiyeon menunjukkan kotak bekal yang dibawanya.

“Untukku? Benarkah.” Tanya Myungsoo tak percaya

“Ne tentu saja.”

Myungsoo membuka pintunya lebar-lebar.

“Masuklah.” Ajak Myungsoo.

Gadis itupun berjalan masuk mengikuti Myungsoo. Tanpa bertanya terlebih dahulu Jiyeon menuju dapur dan mempersiapkan bubur itu ke dalam mangkuk. Myungsoo yang ingin tahupun menghampiri Jiyeon.

“Apa yang Oppa lakukan di sini?”

“Melihatmu.”

“Tidak boleh. Kau baru sakit Oppa. Jadi sebaiknya Oppa duduk saja.”

Shirreo.” Myungsoo terlihat seperti anak kecil yang tak ingin ditinggal ibunya.

Dengan meletakkan satu tangan di pinggang dan satu tangan lagi menunjuk kursi disertai tatapan tajam, cukup membuat Kim Myungsoo menurut. Setelah ditinggal sang pasien, Jiyeon segera menyiapkan buburnya lalu membawakannya di hadapan Myungsoo. Dengan mata berbinar, Myungsoo melihat bubur yang tampak lezat itu.

“Makanlah, buburnya masih hangat Oppa.” Ucap Jiyeon.

“Baiklah.”

Tanpa menunggu Myungsoo segera melahap bubur itu. Jiyeon tersenyum melihat Myungsoo tidak terlihat seperti orang sakit. Laki-laki itu begitu bersemangat memakan bubur itu. Dalam waktu sepuluh menit bubur itu sudah habis tak tersisa.

“Jadi dimana obatnya?” Tanya Jiyeon.

“Di kotak obat di dekat dapur sana.”

Jiyeon mencari kotak yang diinstruksikan Myungsoo. Jiyeon melihat kotak yang dimaksud namun kotak itu terlalu tinggi bagi Jiyeon. Dengan berjinjit Jiyeon berusaha mencapai kotak itu namun sayang jaraknya terlalu jauh.

“Sudah kuduga kau tidak sampai.”

Tubuh Jiyeon membeku saat merasakan punggungnya menempel dengan dada Myungsoo yang sedang mengambil obatmya. Jiyeon menyadari satu hal saat mengalami kontak fisik itu. Tangan Jiyeon menahan lengan Myungsoo. Tanpa ijin Jiyeon menaruh punggung tangannya di dahi Myungsoo.

“Kau panas sekali Myungsoo-ah.”

Gwaenchana. Aku akan meminum obat jadi pasti aku akan sembuh.”

Myungsoo melepaskan tangan Jiyeon dan kembali ketempat duduknya. Myungsoo segera meminum obatnya dibantu dengan air putih yang sudah Jiyeon sediakan. Jiyeon menghampiri Myungsoo dengan wajah yang khawatir. Myungsoo berusaha tersenyum.

“Kau tenang saja. Setelah beristirahat panasnya pasti akan turun.”

Myungsoo berdiri namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing membuat keseimbangan laki-laki itu oleng. Dengan cepat Jiyeon menahan laki-laki itu. Namun Jiyeon begitu terkejut saat wajah mereka begitu dekat. Bibir Myungsoo menyunggingkan senyuman melihat wajah tunangannya. Tangannya terulur menyentuh pipi Jiyeon. Tanpa Jiyeon duga Myungsoo menarik wajahnya mendekat hingga bibir mereka bertemu.

tumblr_n48jlbx5sV1sfxjgpo3_400

Tubuh Jiyeon membeku merasakan ciuman Myungsoo yang lembut namun panas. Myungsoo membuka mulutnya melumat bibir Jiyeon. Tak ada perlawanan ataupun balasan dari Jiyeon karena gadis itu masih terlalu kaget. Ciuman itu tak berlangsung lama karena Myungsoo berangsur tak sadarkan diri.

Perlahan Jiyeon membaringkan tubuh Myungsoo ke sofa. Gadis itu berlari kecil menuju dapur untuk mengambil baskom yang diisi dengan air dingin serta handuk kecil. Jiyeon kembali keruang tamu dan segera mengompres dahi Myungsoo. Jiyeon mengamati wajah Myungsoo terutama bibir Myungsoo yang terlihat pucat. Tangan Jiyeon menyentuh bibirnya sendiri mengingat ciuman Myungsoo.

“Myungsoo Oppa menciumku?” Gumam Jiyeon.

Jiyeon menggelengkan kepalanya dengan keras.

“Ani. Myungsoo Oppa bukan menciumku tapi Tae hwajangnim.” Ucap Jiyeon meyakinkan dirinya sendiri.

*   *   *   *   *

Wajah Sunggyu tampak dingin berbeda dengan ekspresi ramah yang biasa ditunjukkannya. Matanya tertuju pada foto ayahnya yang tergeletak di meja. Tangan Sunggyu mengepal menahan amarah yang dipendamnya.

“Karena itu aku mohon kembalilah ke perusahaan Kim, Sunggyu-ah. Hanya kau satu-satunya harapan harabeoji untuk meneruskan Perusahaan Kim.”

Sunggyu mendongak dan melihat kakeknya yang sedang memohon padanya.

“Ini demi appamu Sunggyu-ah. Harabeoji mohon padamu.”

Entah mengapa aura hitam keluar dari tubuh Sunggyu. Salah satu sudut bibir Sunggyu terangkat membentuk senyuman sinis yang menakutkan.

tumblr_inline_nlov67Z2bh1qapj7e

“Aku akan kembali harabeoji. Aku pasti akan membalaskan dendam appa.” Ucap Sunggyu dengan mantap.

~~~TBC~~~

4 thoughts on “(Chapter 3) Love & Revenge

  1. makin seru ceritanya. tapi Sungjoung tuh sebenarnya siapa ? kok mereka kayak kenal tapi lupa ma Sungjoung…

    ditunggu lanjutannya…
    Fighting !

    • Jawabannya masih rahasia. Chapter km pasti akan tahu. Soalnya di chapter selanjutnya Minhee bertemu dengan srseorang yang mengenal Sungjong jadi tunggu saja chapter selanjutnya. Gomawo.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s