Miss Room

Missroom

Miss Room

Cast : Choi Seung Hyeon – Park Bom || Genre : Surealism – Angst || Duration : Ficlet || Rating : PG-15 || Scripwriter : Bayu Navanto

 

When we,,,,

You and i are in a place where that can not express in word just for you and me.

**

 

Angin berhembus menyegarkan badan yang terpapar pancaran sinar matahari di siang hari. Choi Seung Hyeon berjalan tanpa arah dengan tatapan hampa menyusuri tumbuhan alang-alang yang tumbuh liar dengan tinggi hampir menutupi setengah badannya, tak perduli betapa panasnya siang itu, dia tetap terus berjalan tanpa arah.

 

Matahari memang adil dia tak pilah – pilih untuk memancarkan sinarnya yang terang ke penjuru dunia tak terkecuali gurun pasir yang gersang. Park Bom berjalan dengan putus asa melewati senti demi senti gurun pasir yang kini sedang ia pijak, mata lebam tatapan lesu dan hanya mengenakan dress pendek berwana putih, itulah gambaran untuk Park Bom kini.

 

Memang hidup tidak selalu seperti yang diharapkan, kita manusia hanya bisa merencanakan saja, sedangkan hasilnya Tuhanlah yang memutuskan.

Dengan tatapan yang masih kosong Seung Hyeon mendongak keatas dan menghela nafas.

Park Bom yang tampak lesu itu mencoba mentatih kakinya langkah demi langkah walaupun dia berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan. Dia berhenti sejenak dan menghela nafas yang kini terasa begitu berat, lalu setelahnya dia mendongak keatas menatap matahari yang begitu riangnya memancarkan sinarnya yang terasa amat begitu panas.

 

Baik Choi Seung Hyeon maupun Park Bom, secara bersamaan mereka menurunkan palingannya kebawah, seketika itu pula mereka berdua saling bertatap muka, saling memandang di ruang yang mereka tidak ketahui apa itu, dan hanya ada satu lampu yang menyinari ruangan gelap itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Bom

Seung Hyeon hanya menjewab dengan tatapan sendu

“Apa kau sudah makan” tanya Bom lagi

Seung Hyeon tak membalas dengan kata-kata

“Jalanilah hidupmu dengan damai, jangan kau berbuat sia-sia” lanjut Bom

Choi Seung Hyeon masih terdiam dengan tatapan sendunya

“Kau tak begitu tampan jika kau seperti itu, tersenyumlah, aku rindu senyummu”

Seung Hyeon masih tak berkata, kini dari sepasang matanya mulai meneteskan air mata

“Tersenyumlah, karena aku merindukan senyumanmu”

“Kembalilah” kini giliran Seung Hyeon angkat bicara

“Aku sangat rindu kepadamu, apa kau tidak merindukanku?” ungkap Seung Hyeon dengan meneteskan air mata dari sepasang matanya

“Tak ada daya aku untuk kembali”

“Kenapa?”

“Kau tahu? Sekarang kita sudah tidak bisa bersama, jangan tangisi ini semua, tersenyumlah, buat orang-orang yang kamu cintai tersenyum bahagia karena senyumanmu itu”

“Bagaimana bisa aku tersenyum? Sedangkan orang yang aku cintai tak bisa tersenyum” ujar Seung Hyeon

Park Bom yang mendengarnya memandang Seung Hyeon dengan riang

“Jika sumber dari orang yang mencintai tidak bisa tersenyum, bagaimana bisa orang yang dicintainya tersenyum” ucap Bom

Choi Seung Hyeon semakin tak bisa menahan tangisnya, perlahan – lahan Seung Hyeon mendekati Park Bom yang berjarak sekitar 5 meter di depannya.

Kini mereka benar-benar dekat, seperti tidak ada jarak yang memisahkan. Choi Seung Hyeon dengan muka sendunya dan masih mengeluarkan air mata, mengembangkan senyumnya yang begitu tulis untuk orang yang ada di depannya, Park Bom yang melihatnya membalas senyum Choi Seung Hyeon. Dengan tulus dan ikhlas keduanya saling menautkan bibir mereka masing – masing kepada orang yang ada di depannya, Park Bom merasakan cinta tulus dari pria yang dia sukai, mereka berdua menutup mata merasakan detik demi detik balasan ciuman yang mereka terima, air mata kini tak terbendungkan lagi hingga menetes dari kedua mata mereka.

 

Choi Seung Hyeon membuka matanya, air mata masih mengucur dari matanya. Dia bangkit dari duduknya dan menatap batu nisan yang ada di depannya itu.

“Kau datang dan pergi begitu saja, tak pernah kuragu dan selalu kuingat kerlingan matamu dan sentuhan hangat”

Dengan berat hati perlahan dia meninggalkan kompleks pemakaman tersebut dengan selaput mata yang lebam karena matanya terus mengeluarkan air mata.

 

*#*END*#*

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s