White Secrets Little Scandal [Chapter 1]

Author : morschek96

Tittle : White “secrets” Little Scandal

Genre : Drama, Life, General, Psychology

Cast:

Han Sora, Kim Jong In, Oh Sehun

Others.

 

[hello my new world]

***

Awan mendung masih tampak diujung sana, gelap pekat. Seakan cahaya yang turun ke bumi tak mampu menembus gumpalan kapas hitam yang berarak mengisi cakrawala. Apalagi semilir angin yang lewat mampu membuat siapa saja menggigil, dingin. Dengan perlahan meniup surai coklatnya menjadi tak beraturan.

Kini tetes demi tetes air turun dengan khidmatnya, membasahi kedua telapak tangannya yang dengan sengaja ia tengadahkan ke atas. Ikut merasakan getaran aneh saat air itu kian membasahi kulitnya.

Pandangannya tertoreh keatas, terlihat sedikit sayu. Juga bibir cherrynya yang kini lebih pucat. Apakah ia… sakit? Jawabannya tidak.

Tidak secara fisik tepatnya. Hanya saja ia tak begitu menikmati kehidupan barunya yang akan ia mulai kini. Dua minggu lalu ia telah kehilangan sosok terhebatnya. Meninggalkannya sendiri dengan berlinang air mata kesedihan. Sang ibu tewas mengerikan ditempat bekerjanya. Tak ada bukti yg ditemukan juga saksi yang melihat. Kejahatan yang sangat rapi membuat polisi-polisi kalang kabut menyelidiki kaus pembunuhan isteri Presiden Direktur Han’s Company tersebut.

Dan sekarang disinilah dia, kembali ke Negara asalnya Seoul, Korea Selatan. Sang ayah memberitahu bahwa Canada sedang tidak aman untuknya, ia takut jika puterinya akan menjadi korban selanjutnya setelah sang isteri.

Tak jauh dibelakang dari sosok ia berdiri nampak bangunan berwarna putih dengan sedikit goresan abu-abu pada catnya, juga pagar baja dengan kunci keamanan intercorm. Sebuah rumah mewah yang akan ia tempati selama tinggal disini.

“Han Sora, mari masuk.” sebuah suara berat memecah lamunannya, tentu ia tidak akan tinggal seorang diri disini. Tuan Han tidak akan kehilangan akal untuk menyuruh anak buahnya menjaga sang puteri ketika berada jauh darinya.

“Ne oppa.” ia berjalan kedalam rumah ketika hujan semakin deras mengguyur kota. Keadaan rumah barunya tak jauh berbeda dengan rumahnya di Canada, hanya saja rumah ini lebih ketat penjagaan dengan tidak adanya kolam renang seperti sebelumnya.

Ia mendudukkan dirinya disebuah sofa yang terdapat diruang tengah, menghidupkan tv untuk mengurangi kebosanan. Namun nyatanya ia salah, hampir 10menit ia mengganti-ganti channel, tak ada satu tayangan pun yang menarik baginya. Pukul 17.42, sebentar lagi akan petang.

“Sora.. apa kau lapar?”

“Tidak oppa, kita sudah makan di bandara tadi. Apa kau lupa?” dengan segera ia menoleh kearah lelaki tinggi berdarah China-Canada yang duduk disebelahnya itu dengan senyum yg mengembang. Selalu seperti itu, seorang Han Sora akan tetap bersikap tenang meskipun hatinya teriris pilu. Tapi apa guna perasaan? Ia hanyalah seorang manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa berubah-ubah emosi bukan?

“Haha.. Oppa hanya tidak ingin kau mati kelaparan.” lalu ia memberikan sebuah map kertas yang sedari tadi digenggamnya kepada Sora. “Ini adalah sekolah barumu,setidaknya ini masih tahun awal,jadi kau tidak terlalu jauh tertinggal pelajaran.”

Dengan perlahan Sora mengambil map tersebut lalu membuka isinya, tertulis dibagian atas dokumen Kyunghee International High School .

“Beristirahatlah, besok akan oppa siapkan segala keperluanmu.”

“Jadi besok Kris oppa akan keluar berbelanja keperluanku?”

“Tentu saja, besok masih hari minggu.”

“Apa aku boleh ik—”

“Andwe.” Kris menjawab cepat. Terlihat sorot mata Sora juga kian meredup. “Ini baru hari pertamamu di Seoul, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa atau ayahmu akan langsung membunuhku.”

Bukankah ini untuk kebaikannya sendiri? Kris hanya menjalankan perintah kan.

“Pasti akan membosankan jika seharian dirumah oppa…” rengeknya dengan memasang muka melas, namun yang menjadi lawan bicara hanya memasang muka datar seolah tak peduli.

“Sudahlah.. Aku tidak akan tertipu dengan rengekanmu anak nakal.”

“Ya! Oppa aku tidak nakal”

“Tentu saja tidak, tapi kau cerewet.”

“Oppaaa…” dengan gemas Sora menggelitiki bagian perut dan leher Kris. Lalu disusul dengan ledakan tawa kegeliannya. Tak berangsur lama hingga Kris berdiri dan berlari mengelilingi ruangan, Sora yang berusaha kuat tapi tentu tak bisa menyusul langkah lebar Kris dengan kaki panjangnya.

Namun dengan sengaja Kris menghentikan langkahnya mendadak dan membuat Sora yang berada dibelakangnya membentur punggungnya.

“oppa,ada apa?” Sora bertanya dengan tangan kanannya memegangi kening.

Dengan perlahan Kris membalikkan badannya menghadap Sora dan . . membalas menggelitiki gadis tersebut.

Hingga keduanya kelelahan lalu memutuskan untuk istirahat di kamar masing-masing.

Malam kembali terasa dingin tanpa adanya kebisingan dan tawa dari mereka. Hujan juga tak kunjung reda, setidaknya tidak ada petir yang menyelingi hujan tersebut karena sosok gadis yang tenggelam bersama selimutnya disana sangatlah takut pada petir. Petir membawa kesan buruk baginya.

Dimulai pada saat ia berusia 6 tahun. Malam itu orang tuanya berangkat pergi mengurus bisnis yang akan kembali besok pagi, namun melihat keadaan sang anak yang tertidur pulas sejak sore, keduanya memutuskan untuk tidak membangunkannya. Membiarkan sang anak tertidur dengan pulas dalam mimpinya.

Namun ketika malam mulai larut, Sora kecil malah terbangun dari tidurnya, ini yang disebut insomnia.

Dilihat pada jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan angka 11.17

Dengan keadaan rumah yang dingin mengingat derasnya hujan diluar sana, Sora kecil sangatlah kedinginan. Ia lebih menguatkan pelukannya pada guling tidurnya dan bersembunyi dibalik selimutnya. Namun tidak dengan kilat yang mencelut juga petir-petir yang kian bergemuruh.

Sora kecil sangat ketakutan. Berkali-kali ia meneriakkan “eomma” dan “appa” namun tak ada satu orangpun yang membalas teriakannya.

Hingga suaranya terdengar parau, tak mampu lagi bersuara apalagi berteriak. Air matanya mulai menggenangi kelopak mata lalu dengan perlahan keluar membasahi kulit putihnya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, Sora kecil turun dari ranjangnya lalu dengan perlahan merangkak masuk kedalam lemari pakaian yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Setidaknya itu yang terlintas diotaknya dan dapat ia lakukan. Bersembunyi disana setidaknya mengurangi kerasnya suara petir-petir yang mengerikan menguasai gendang telinga.

Keesokan harinya ia ditemukan masih tertidur didalam lemari dengan keadaan suhu tubuh yang lumayan panas. Sejak saat itu Sora sangatlah takut dengan petir.

.

.

.

.***

Kaki jenjangnya keluar dari mobil Masserati hitam yang baru saja ia tumpangi. Membuat seantero siswa yang berlalu-lalang di depan gerbang sekolah menoleh kearah Sora.

Mereka merasa tidak pernah melihat mobil mewah tersebut, apalagi gadis yang keluar dari dalamnya.

Mata coklatnya memperhatikan gedung yang akan menjadi sekolah barunya tersebut. Oh, apakah ini akan mudah untuk ia lalui? Menjadi murid baru tidaklah pernah ia bayangkan. Demi mr.bean dengan segala aksi bodohnya, ini akan sulit.

“Akan oppa jemput saat pulang, jam 4 sore kan?”

“Ne oppa.” lalu ia lambaikan tangannya pada Kris yang telah pergi dari tempat tersebut. Dan well, tinggallah ia seorang diri.

Ia langkahkan kakinya menyusuri koridor-koridor panjang mencari letak ruang guru untuk menyerahkan surat-surat kepindahan. Tak jarang ia mendapat berbagai tatapan dari murid lain yang entah apa maksud dari tatapannya itu. Namun apa yang bisa ia lakukan? Ia masih baru disini? Setidaknya Sora tak mau mendapat masalah dihari pertamanya.

Setelah lama mencari dan menoleh kanan-kiri, kini tibalah ia ditempat yang ia tuju.

“Kau Han Sora?” seorang wanita paruh baya berbicara padanya yang masih berdiri di pintu masuk. Dengan kikuk Sora melangkah kedalam dan berdiri didepan wanita tersebut yang dari name tag-nya tertuliskan Shin Hera.

 

“Ne saem.” lalu dengan segera Sora memberikan surat-surat kepindahannya yang telah ia masukkan kedalam map. Yah, setidaknya kalau boleh jujur Kris oppa lah yang menyiapkan, bukan dirinya. Lalu ia mengikuti guru Shin dan duduk berhadapan didepan meja kerja.

“Kebetulan, aku adalah wali kelasmu. Panggil saja guru Shin, kalau ada keperluan kau tidak perlu sungkan untuk memberitahukannya padaku, ne?”

“Iya guru Shin.”

“Nah, mari ikut saya. Kita akan langsung mulai pelajaran.”

Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju ruang kelas. Guru yang sangat menyenangkan mengingat selama perjalanan guru Shin banyak mengoceh dan bertanya pada Sora tentang hal ini dan itu. Tak jarang juga membuat Sora harus sedikit menahan ledakkan tawanya.

Hingga tibalah mereka didepan ruangan bertuliskan 11-D yang berarti adalah kelas barunya. Ia mengikuti guru Shin masuk kedalam dan membuat keadaan kelas yang semula gaduh menjadi   sepi dengan semua sorot pasang mata menuju kearahnya.

“Anak-anak mulai hari ini kelas kita akan bertambah satu siswa lagi. Nah, perkenalkan dirimu”

“Annyeong hasseo. Han Sora imnida” ujarnya dengan sedikit membungkukkan dirinya. Well, ini adat Korea kan? Setidaknya ia masih ingat akan hal itu setelah kurang lebih 4 tahun tinggal di Canada.

“Sebelum Sora duduk, apakah ada pertanyaan?”guru Shin sedikit menambahi setelah melihat para siswa lelaki yang tak sekalipun berkedip melihat sosok Sora.

“Ne saem.” seorang lelaki berperawakan mungil dengan senyum yang mengembang mulai angkat bicara “E-ee Han Sora-ssi, kau pindahan dari mana?”

“Saya pindahan dari Toronto, Canada.” tak lama kemudian terdengar bisikan-bisikan para siswa yang mulai berbicara sana sini dengan sesama temannya.

“Eee.. ada lagi,” lelaki tersebut membuka suara kembali “apakah kau sudah punya kekasih?”

Woooooooooooooooooooooo

Suara dari siswa lain menginterupsi kalimat lelaki mungil ber-eyeliner tersebut. Tunggu, ber-eyeliner? Sora pun tadi sedikit harus menajamkan pengelihatannya untuk lebih meyakinkan, dan memang benar, lelaki ini memakai eyeliner hahaha.

“Diamlah kau byun cabe.. Apa kau tidak ingat skandalmu tahun lalu yang menjalin hubungan dengan wanita yang umurnya jauh lebih tua darimu?”

Hahahaha..

Pernyataan lelaki jangkung yang berada disebelahnya membuat seisi kelas kembali riuh dengan tawa yang ditujukan untuk temannya yang ia sebut byun cabe tadi.

“Haiishh.. sudah sudah, Baekhyun, Chanyeol, kalian ini selalu saja membuat ribut. Sora, kau duduk bersama Yerim yang berada di bangku nomor dua dari belakang sana.”

Sora mengikuti arah tunjuk guru Shin dan mengangguk mengerti. Ia berjalan menuju tempat duduknya yang bersebelahan dengan Yerim. Tidak susah untuk menemukannya karena siswa yang bernama Yerim telah melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk Sora.

“Perkenalkan namaku Jung Yerim, panggil saja aku Yerim,” ucap gadis berambut hitam sedada itu dengan senyum manisnya. “mulai sekarang kau adalah sahabatku.”

Mungkin tidak sesulit itu jika sudah dijalani, dan menurut Sora ia tidak akan membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi disekolah barunya.

“Ne, aku Han Sora panggil aku Sora.” balas Sora dengan senyum yang tak kalah lemmbutnya.

***

“Kau suka jus apel?” Tanya Yerim dengan mulutnya yang penuh dengan banana split. Gadis ini makan saja tidak pecus, seperti balita berumur 2 tahun.. err— berantakan.

“Iya, lebih lagi aku suka ice cream seperti yang di banana splitmu itu.”

“Benarkah? Kau boleh minta kalau kau mau.” benar-benar polos sahabat barunya ini.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, di sudut kantin terdapat sepasang mata yang sedari tadi memperthatikan gerak-gerik Sora. Tak jarang tatapan mata mereka pun bertemu, merasa diperhatikan membuat Sora sedikit tidak nyaman. Ayolah.. ia kan murid baru.

Lalu apa-apaan ini? Orang tersebut malah berdiri dan berjalan kearah Sora. Hatinya sudah harap-harap cemas akan apa yang terjadi selanjutnya. Ia tidak melakukan kesalahan kan?
Lelaki tersebut lebih mendekat kearah Sora, dan membuatnya bertingkah gelisah. Dan sepertinya Yerim terlalu nyaman akan makanannya hingga tak memperhatikan gerak-gerik sahabatnya yang jantungnya kian berdetak tak beraturan tersebut.

“Kau..Sora?”

Dua kalimat tersebut membuat Sora menjengit tertahan. Bagaimana lelaki ini mengetahui namanya? Apakah lelaki ini mengenal dirinya?

“S-siapa kau?” hah shit. Keadaan ini berhasil membuatnya terlihat bodoh dihadapan lelaki berkulit seputih susu dihadapannya.

“Ternyata benar itu kau.” lelaki itu tersenyum padanya, sangat hangat. Bagaikan sapaan kawan lama. Namun sungguh Sora tidak mengenalnya, atau tidak mengingatnya.

“Aku Sehun, Oh Sehun. Temanmu sewaktu sekolah dasar.”

Sora masih memperhatikan wajah tampan lelaki dihadapannya ini, sedikit mengingat-ingat wajah yang sekiranya mirip dengan lelak—

“Oh Sehun?! … Ya,aku ingat.” serunya dengan nada kelewat senang. Dengan spontan tangannya memegang bahu lelaki yang tingginya jauh dibandingnya. “Kau sangat berubah eoh? Aku hampir tidak mengenalimu. Sekarang kau lebih tinggi ne?”

Cerocosnya panjang lebar, tak ia sangka teman masa lalunya juga bersekolah ditempat yang sama. Sehun sangatlah berubah banyak, dulu tinggi badannya dengan Sora tidak terlihat beda jauh. Dan sekarang tinggi Sora hanya searah dengan dagu leleki tersebut.

“Tentu saja. Kau yang tinggal di luar negeri tidak membuat tumbuh cukup signifikan. Apakah kau tidak diberi makan selama disana?”

“Tentu saja diberi makan.” Sora meninju bahu Sehun pelan dan membuat keduanya semakin terkekeh. Juga Yerim yang masih menikmati banana splitnya hanya bisa diam melihat kelakuan kedua orang tersebut.

“Kau tinggal dimana?”

“Di Myeongdeong. Kapan-kapan kau harus mampir ne?”

“Baiklah, sepertinya aku harus kembali ke kelas. Anyyeong.” Sehun mengacak pelan puncak kepala Sora sebelum melangkah pergi menjauh.

“Kau mengenal Sehun?” Yerim yang sedari tadi diam kini mulai kembali bersuara. Namun tatapannya menjadi sedikit— heran.

“Iya. Dia temanku waktu masih di sekolah dasar. Kenapa wajahmu begitu?”

“Aku tidak pernah melihatnya berbicara kepada gadis lain setelahh..” oh Yerim hampir saja bercerita tentang hal itu lagi. Apakah Sora harus mengetahuinya?

“Setelah apa?” kini wajah Sora juga mulai terlihat serius.

“S-sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum di sekolah ini. Semua siswa sudah sering membicarakannya namun tidak ada bukti yang pasti. Pihak sekolah juga menyangkal adanya gossip ini.”

“Haishh ayolah… Kau membuatku mati penasaran jika terus seperti ini.”

“Baiklah-baiklah. Kau sungguh tidak sabaran.” Yerim menarik napas sebentar lalu melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan, bisa dibilang berbisik.

“Dulu, tepatnya kurang lebih setahun yang lalu kekasih Sehun pernah ditemukan meninggal di taman belakang, sepertinya ia bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari atas rooftop. Lalu satu hari berselang, So Jisub yang seorang kapten basket juga ditemukan meninggal dengan kronologi dan tempat yang sama.”

“Apa?” kalau begitu kenapa ia harus pindah ke sekolah dengan keadaan seperti ini? Kris pasti belum mengetahuinya kan? Oh God. “Apakah ada kaitan dari kedua orang itu?”

“Kurasa tidak ada. Mereka berdua tidak pernah ditemukan sedang bersama sewaktu masih hidup, So jisub adalah senior kita. Dan semenjak kejadian itu Sehun terlihat sangat murung. Kurasa ia sangat kehilangan Jiae,kekasihnya.”

“Apakah ada dalang dari ini semua?” bagus, sekarang Sora sudah benar-benar ketakutan. Katakanlah ia payah, memang benar. Gadis ini sangatlah penakut untuk urusan sesuatu yang horror.

“Ada seseorang yang kami curigai, tapi seperti yang kubilang tadi,tidak ada bukti yang kuat juga pihak sekolah yang menyangkal.”

“S-siapa?”

KRRIIIIIINNNNGGGGGGGGGGGGG!!

Oh bagus. Bell masuk sudah berbunyi.

“Akan ku ceritakan besok ne? Kau merusak selera makanku setelah menceritakan semua ini padamu.”

.

.

.

***

Semilir angin sore membuat bulu kuduknya meremang. Dingin. Awan mendung kembali menampakkan dirinya. Menyapa kota Seoul dengan segala isinya.

Ia dudukkan dirinya di bangku panjang sebuah halte sebelah sekolahnya, dengan sesekali merapikan surainya yang tertiup angin kebelakang telinga.

Hanya mendung, tidak hujan. Itulah harapannya, setidaknya jangan turun hujan sebelum Kris datang menjemputnya. Ia tidaklah seorang diri yang duduk di halte tersebut, terdapat seorang lelaki berambut.. putih?ataukah abu-abu terang? .. entahlah juga duduk disana bersama. Sama-sama membisu dalam pikiran masing-masing.

Sesekali lelaki tersebut melihat kearah jam tangannya, seperti sedang terburu-buru. Sora melihat lelaki tersebut dengan pandangan yang sedikit- aneh. Juga perasaan aneh ketika melihat kearah mata gelap dengan sorot tajam tersebut.

“Aku tidak suka terlalu lama diperhatikan.” dengan masih menatap lurus kedepan ia membuka suara.

A-apa? Dengan siapa lelaki tersebut berbicara.? Sora sedikit mengedarkan pandangannya, namun ia tidak menemukan siapa-siapa. Apakah lelaki ini berbicara dengannya?

“Aku berbicara padamu.” merasa tidak dimengerti akhirnya lelaki tersebut menoleh kepadanya.

“A-aku? Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf.”

Entah perasaan macam apa yang ada di hatinya, namun ia merasa sedikitt- aneh. Tatapan tajam lelaki itu membuatnya merasa ada yang aneh atau janggal dihatinya.

Suasana kembali sepi dan sekarang keadaan menjadi sedikit canggung. Tiidak bisakah kali ini saja waktu berputar lebih cepat dari biasanya?

Setelah kurang lebih 15 menit setelahnya, akhirnya Kris datang menjemputnya dengan masserati hitamnya seperti tadi pagi.

Bagus Kris, kau membuat Sora harus menunggu setengah jam bersama lelaki mengerikan itu tadi.

.

.

-TBC-

NOTE :

FF ini sudah pernah dipublish di KimJongIn Fanfiction, Gallery EXOFF & WP pribadi milik saya sendiri https://morschek96.wordpress.com jadi tidak ada unsur plagiat

Mian ya FF ini ngga saya kasih poster soalnya pas upload gambar ini gagal terus.. :-( Holla.. ini adalah FF pertama yang saya buat. Jadi bisa dibilang ini adalah FF debut pertama saya. J Jangan lupa RCL ya setelah membaca, karena setiap karya memerlukan appresiasi. So, saya harap banget appresiasi reader disini. Ok? See you.. Contact : Twitter (@lovanita_) Line (lovanita)

3 thoughts on “White Secrets Little Scandal [Chapter 1]

  1. kakak, ceritanya bagus kok…terimakasih sudah mengajari saya cara menggunakan kalimat bermajas yang baik, soalnya saya sedikit susah kalau buat keterangan pakai majas gitu atau perumpaan kata, keren kak

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s