(Chapter 4) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 4)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

Guest :

* Lee Hoya as Lee Howon (INFINITE)

Gak nyangka banyak banget yang komen. Ini dia lanjutannya semoga suka.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

4

Voice of My Heart

 

Minhee tampak gelisah mondar-mandir di depan mejanya. Seringkali gadis itu melihat kearah lift berharap orang yang ditunggunya cepat datang. Minhee berhenti melangkah dah menelpon Sunggyu. Lama sekali gadis itu tak kunjung mendengar suara Sunggyu yang khas. Minhee kembali mondar mandir membuat Sungjong geram melihatnya.

“YA!! Berhentilah menyapu jalan seperti itu. Membuatku pusing melihatnya.” Gerutu Sungjong duduk di kursi Minhee.

“Aiissshhh…. Aku sedang khawatir tahu.” Minhee mengirimkan peaan kepada Sunggyu untuk menghubunginya namun tak kunjung mendapatkan respon.

Sungjong yang sejak tadi memainkan kursi putar Minhee langsung terhenti dan menatap gadis itu.

“Sejak kapan seorang Tae Minhee mencemaskan seseorang?”

Langkah Minhee terhenti dan menyadari tingkahnya yang tidak biasa. Untuk orang sedingin Minhee, sangatlah tidak mungkin untuk mengkhawatirkan seseorang bahkan tunangannya sendiri. Dan kali ini untuk pertama kalinya Mimhee mengkhawatirkan seseorang. Gadis itupun juga bingung dengan dirinya sendiri.

Sungjong berdiri dan menghampiri Minhee. Malaikat itu menatap Minhee penuh selidik.

“YA!! Kenapa kau menatapku seperti itu?” Curiga Minhee.

“Apa kau menyukainya?”

“Siapa?” Bingung Minhee.

Sungjong menyunggingkan senyum misteriusnya.

“Kim Iseonim.”

TTUUKKK….

Minhee mendaratkan jitakan kekepala malaikat itu.

“Aiishh… Mana mungkin aku menyukainya.”

“Kenapa tidak mungkin.”

Minheepun bingung untuk memberi alasan yang tepat.

“Aku… Aku….”

Minhee tertolong dengan deringan ponselnya. Gadis itu menatap layar ponselnya yang tertulis nama Sunggyu.

“Sunggyu-ssi?” Panggil Minhee menerima telpon itu.

Tak terdengar suara apapun hanya desiran angin yang bisa di dengar Minhee.

“Sunggyu-ssi.” Panggil Minhee kembali.

Mianhae…” Hanya satu kata itu yang bisa Minhee dengar.

Suara Sunggyu berbeda dari biasanya. Suaranya terdengar bergetar seperti sedang menangis.

“Sunggyu-ssi.. Kau menangis?” Tanya Minhee berhati-hati.

Mianhae….” Sunggyu hanya mengucapkan hal itu.

“Sumggyu-ssi di mana kau?” Minhee semakin khawatir mengetahui Sunggyu menangis.

Tak terdengar jawaban dari Sunggyu.

“Sunggyu-ssi. Dimana kau sekarang?” Tanya Minhee kembali.

“Aku sedang melihat wanita yang paling kusayangi Minhee-ah.”

“Apa maksudmu Sunggyu-ssi.”

Bukannya menjawab Sunggyu justru menutup telponnya. Minhee menatap telponnya kesal.

“Aaaiishhhh… Kenapa dia menutup telponnya.”

Minhee teringat ucapan Sunggyu.

“Melihat wanita yang paling disayanginya?” Minhee menebak-nebak dimana saat ini Sunggyu berada.

Minheepun teringat saat Sunggyu menceritakan ayah dan ibunya.

“Jadi kau sudah tahu di mana Kim iseonim berada Minhee-ya?” Tanya Sungjong mengoda gadis itu.

“Eommanya.” Gumam Minhee tak mendengarkan ucapan sungjong.

“Nde?”

“Dia pasti mengunjungi pemakaman eommanya. Tapi di mana pemakaman itu?”

Minhee melihat ke arah Sungjong dan tersenyum penuh arti. Mengetahui maksud gadis itu Sungjongpun menggeleng.

Shirreo.” Tolak Sungjong.

Minhee menahan lengan Sungjong.

“Ayolah Sungjong yang imut kasih tahu aku dimana Sunggyu berada.”

Andwae. Aku dilarang menggunakan pengetahuan malaikat untuk membantu manusia. Tuhan akan menghukumku.”

Minhee menghela nafas kecewa. Diapun berpikir dimana dia bisa menemukan Sunggyu.

“Aku tahu siapa yang bisa memberitahuku keberadaan Sunggyu.” Ucap Minhee meninggalkan Sungjong.

*   *   *   *   *

Jiyeon membuka pintu ruangan Minhee. Seperti yang baru saja diberitahukan Woohyun, jika ada sebuah paket untuknya. Jiyeon bisa melihat diatas meja ada sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink dengan corak hati lalu dihiasi dengan pita berwarna merah.

Jiyeon menghampiri meja dan memeriksa kotak itu untuk mengetahui siapa pengirimnya. Namun tak ada nama yang tertetera di kotak itu. Jiyeon membuka kota itu.

“KKKYYAA…..” Jiyeon seketika membuang kotak itu.

Mendengar teriakan Jiyeon, Woohyunpun segera masuk ke dalam ruangannya.

“Ada apa Hwajangnim?” Tanya Woohyun.

Wajah Jiyeon tampak pucat. Diapun menunjuk ke arah kotak yang tergeletak di lantai. Woohyun menghampiri kotak itu dan menengok ke dalamnya. Woohyun juga terkejut melihat seekor tikus mati di tusuk dengan pisau belati. Jelas-jelas ini adalah teror yang ditujukan untuk Minhee. Mata Woohyun menangkap secarik kertas disamping tikus itu. Diapun mengambilnya dan membacanya.

“Siapa yang mengirimkan benda menjijikan itu?” Tanya Jiyeon.

Woohyun mendongak dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada nama yang tercantum di sini.”

Woohyun memberikan surat itu kepada Jiyeon. Gadis itupun mulai membacanya.

Tak lama lagi tubuhmu akan seperti tikus itu Tae Minhee.

Pesan singkat itu mampu membuat Jiyeon merinding ketakutan. Untuk pertama kalinya Jiyeon merasa sangat sulit menjalani kehidupan menjadi seorang Minhee.

Hwajangnim.” Panggil Woihyun menyadarkannya.

“Aku sudah memanggil petugas kebersihan untuk membereskan hal itu. Dan aku juga akan memeriksa pelaku pengirim ini. Jadi Hwajangnim tenang saja.” Jelas Woohyun.

Jiyeon menatap Woohyun yang berdiri di hadapannya.

Gamsahamnida Nam biseonim.”

Dengan lemah Jiyeon duduk di kursi Minhee. Dia meletakan memo ancaman di meja. Jiyeon sulit membayangkan jika dirinya yang mendapat surat ancaman itu. Pertanyaan seberapa banyak Minhee mendapat teror seperti ini memenuhi kepala Jiyeon.

Gadis kelas bawah sepertimu tidak akan mengerti bagaimana menjalankan perusahaan ini

 

Ucapan Minhee beberapa hari yang lalu terngiang di kepala Jiyeon.

“Ternyata menjalankan perusahaan besar seperti ini tidak mudah. Apalagi dengan kenyataan banyak orang yang tidak menyukai Tae Hwajangnim pasti menjadi beban berat baginya.” Gumam Jiyeon.

*   *   *   *   *

Telpon di meja Myungsoo berdering. Myungsoo yang sedang mempelajari dokumen-dokumen mengangkatnya tanpa mengalihkan matanya dari deretan huruf yang terjajar rapi.

Nde?”

Hwajangnim ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”

“Siapa?” Bingung Myungsoo.

“Dia berkata namanya Park Jiyeon.”

“Park Jiyeon.” Myungsoo memutar otaknya mengingat nama itu.

Myungsoopun teringat gadis yang sudah menolongnya tempo hari.

“Ohh… Aku mengenalnya. Persilahkan dia masuk Lee biseonim.”

Tak lama kemudian pintu ruangan Myungsoo terbuka. Minhee dengan mantap berjalan menghampiri meja Myungsoo. Melihat kehadiran Minhee, Myungsoopun berdiri dan menyunggingkan senyumannya.

“Selamat datang Jiyeon-ssi. Apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya Myungsoo setelah mempersilahkan Minhee duduk.

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu.”

“Menanyakan apa? Jika bisa aku akan membantumu.”

“Sebenarnya aku adalah sekertaris Kim Sunggyu.”

“Maksudmu Sunggyu hyung?”

Minhee mengangguk.

“Ne.”

“Apakah pertanyaanmu ini berhubungan dengan Sunggyu hyung?”

Minhee kembali mengangguk.

“Ne. Apakah kau tahu dimana makam eommanya Kim iseonim?”

Wajah Myungsoo yang tadinya dihiasi senyuman,sekarang berubah diam.

“Untuk apa kau menanyakannya?” Suara Myungsoo berubah dingin tak lagi seramah tadi.

“Sejak tadi pagi Kim iseonim belum juga datang. Aku sangat mengkhawatirkannya. Saat aku menelpon dia mengatakan dia sedang melihat wanita yang disayanginya. Jadi aku berpikir dia sedang berada di makam eommanya. Tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Apa kau tahu Myungsoo-ssi?”

Myungsoo tak bernafas lega membuat Minhee bingung melihat tingkah Myungsoo.

“Ne. Aku tahu. Pemakaman itu berada di daerah Junggu.”

Minhee menyunggingkan senyumannya.

Gamsahamnida Myungsoo-ssi. Aku akan mencari Kim Iseonim dulu. Sampai jumpa .”

“Ne sampai jumpa Jiyeon-ssi.”

Minhee membungkuk sekilas sebelum akhirnya keluar dari ruangan Myungsoo.

“Jadi kau sudah tahu dimana pujaan hatimu?”

Minhee sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran Sungjong yang tiba-tiba.

“Sudah kubilang dia bukan pujaan hatiku.”

“Baiklah-baiklah. Jadi kau sudah tahu dimana dia?”

“Ne. Tapi ada yang aneh.”

Sungjong menatap bingung Minhee yang masih berjalan.

“Apa yang aneh?”

“Ekspresi Myungsoo terlihat aneh saat aku bertanya dimana makam eomma Sunggyu.” Ucap Minhee mengingat ekspresi Myungsoo tadi.

“Aiisshh… Sudahlah. Aku harus mencari Sunggyu.”

Minhee meninggalkan Sungjong yang masih terdiam.

*   *   *   *   *

Sunggyu berdiri di hadapan makam ibunya. Mata Sunggyu tertuju pada nisan yang tertulis nama ‘Kim Yoohee’.

“Aku akan kembali eomma. Sebenarnya ini bukanlah tujuan awalku tapi aku pasti akan mencari orang yang berusaha memisahkan eomma dan appa.”

Aura Sunggyu berbeda dari biasanya. Sangat terasa aura hitam di seluruh tubuh laki-laki itu.

“Sunggyu-ssi.”

Sunggyu menoleh dan mendapati Minhee menghampirinya. Sunggyu menyunggingkan senyuman melihat Minhee.

“Minhee-ssi. Kau menemukanku?” Tanya Sunggyu saat Minhee berhenti tepat dihadapannya.

“Ne. Setelah menemukan bantuan, akhirnya aku bisa kemari.”

“Bantuan.”

“Ne. Sebaiknya kita cepat kembali Sunggyu-ssi. Bukankah kau tak ingin prestasimu yang rajin hancur?”

“Ne. Baiklah. Bisakah kau memberiku waktu sebentar?”

Minhee menatap kuburan ibunya Sunggyu dan mengerti apa yang ingin dilakukan laki-laki itu.

“Ne. Aku akan menunggumu diluar.”

Minheepun berjalan menjauh dari Sunggyu. Langkah gadis itu terhenti saat nerasakan sesuatu yang janggal. Diapun berbalik dan benar saja dia melihat Sungjong terdiam tak mengikutinya..

“Sungjong-ah.” Panggil Minhee menyadarkan malaikat itu.

Sungjongpun segera menghampiri Minhee dan berjalan keluar area pemakaman.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Minhee.

“Aku merasa ada yang aneh dengan pujaan hatimu.”

“YA!! Sudah kubilang dia bukan pujaan hatiku.”

Sungjong menutup telinganya mendengar teriakan Minhee yang kesal.

“Ne… Nee… Aku merasa ada yang aneh dengan Kim Iseonim.” Sungjong memperbaiki kalimatnya.

“Aneh apanya? Kulihat Sunggyu masih tetap sama.”

“Aku merasa ada aura hitam dari dalam tubuhnya.”

“Aura hitam?”

“Ne. Yang bisa mengeluarkan aura hitam itu adalah iblis.”

“Maksudmu dalam tubuh Sunggyu ada iblisnya?”

Sungjong mengangguk.

PLETAK…..

Kepala Sungjong sukses mendapat jitakan dari Minhee.

tumblr_lpqc3hOaqk1r0d56eo1_500

“YA!! Kenapa kau menjitakku?” Kesal Sungjong.

“Laki-laki baik seperti Sunggyu mana mungkin memiliki iblis di dalam tubuhnya.”

“Aaiisshhh…. Tapi itu yang kurasakan.”

“Cciihh… Aku tidak percaya.”

Sungjong mendengus kesal.

“Terserah kau kalau tidak mau percaya.”

Minhee berhenti berbicara saat melihat Sungggyu berjalan kearahnya.

“Apa kau sedang berbicara dengan malaikat yang kau ceritakan itu?” Tanya Sunggyu.

“Ne. Dia sangat cerewet membuat telingaku panas saja.”

Sungjong menjulurkan lidah kearah Minhee.

“Hhmm… Minhee-ssi. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Wajah Sunggyu berubah serius membuat Minhee penasaran.

“Ada apa Sunggyu-ssi?”

“Aku akan keluar dari perusahaan Taeyang.”

“Nde? Tapi kenapa Sunggyu-ssi?” Kaget Minhee.

“Harabeoji yang memintaku kembali. Karena itu aku juga ingin memintamu untuk ikut denganku.”

Minhee menatap Sunggyu ragu-ragu. Melihat Minhee belum paham dengan kata-katanya, Sunggyupun tersenyum.

“Maksudku. Aku meminta Jiyeon menjadi sekertarisku. Karena kau sedang berada ditubuh Jiyeon jadi tanyakan pada Jiyeon apakah dia ingin ikut bersamaku.”

“Oohh… Ne baiklah.”

“Yena-ya.”

Minhee menoleh saat merasa seseorang menepuk bahunya. Tampak seorang wanita menatap Minhee terpana. Bahkan wanita itu menutup mulut terpana memandang Minhee.

“Ada apa ahjuma?” Tanya Minhee.

Seketika wanita itu memeluk Minhee membuat gadis itu bingung.

“Ahjuma.” panggil Minhee hendak melepaskan pelukan wanita itu.

“Yena-ya…. Eomma sangat merindukanmu.”

“Yena? Tapi aku bukan Yena. Ahjuma salah orang.”

Wanita itu melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Minhee, lebih tepatnya adalah wajah Jiyeon. Wanita itu memggeleng.

“Tidak… Aku tidak salah orang kau adalah Yena. Yenaku.”

Wanita itu kembali memeluk Minhee sangat erat.

“Eomma….”

Seorang laki-laki menghampiri mereka. Nafas Minhee tercekat melihat laki-laki itu. Minhee ingat betul laki-laki itu adalah salah satu karyawan Taeyang group yang dipecat Minhee karena melanggar peraturan dengan menggunakan telpon kantor untuk urusan pribadi.

“Eomma. Hentikan dia bukan Yena.” Ucap laki-laki itu menarik wanita itu.

“Tidak dia adalah Yena Howon-ah. Lihatlah wajahnya dia benar Yena.”

Laki-laki bernama Lee Howon itu melihat kearah Minhee. Seperti halnya ibunya, Howonpun terkejut melihat wajah Jiyeon yang mirip dengan adiknya. Tapi Howon sadar Minhee bukanlah adiknya Yena. Karena adiknya sudah meninggal tak mungkin gadis dihadapannya adalah Yena.

“Eomma. Dia bukan Yena. Yena sudah tidak ada di dunia ini.”

Wanita itu terdiam lalu menatap putranya sendiri.

“Jangan mengatakan hal seperti itu Howon-ah. Lihatlah dia itu Yena.”

Howon menahan kedua bahu ibunya.

“Eomma sadarlah dia bukan Yena. Yena sudah meninggal sebulan yang lalu.”

“CUKUP!!!” Wanita itu berteriak pada putranya.

Namun tiba-tiba wanita itu pingsan. Dengan sigap Howon menangkap tubuh ibunya.

“Kita harus membawanya ke rumah sakit.” Ucap Sunggyu membantu Howon membawa tubuh wanita itu.

Minheepun segera mengikuti mereka.

*   *   *   *   *

Seorang dokter memeriksa ibu Howon yang masih tak sadarkan diri. Laki-laki itu tampak tidak senang mendapati hasil pemeriksaannya. Howon yang berdiri di samping ranjang mengamati dokter itu.

“Bagaimana Uisanim?” Tanya Howon setelah dokter selesai memeriksa ibunya.

“Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk menjaga emosi eommamu Howon-ah. Semenjak kematian Yena kondisi ibumu sangat buruk.”

Mianhae Song Uisanim. Tadi eomma melihat gadis yang sangat mirip dengan Yena. Karena itu eomma pingsan.”

“Lain kali jaga emosi ibumu. Jika terjadi sesuatu lagi, aku tidak yakin kondisi ibumu akan membaik.”

“Ne. Gamsahamnida Uisanim.”

Dokter itupun keluar meninggalkan Howon bersama ibunya. Di ruang tunggu tampak Sunggyu dan Minhee duduk menunggu Howon keluar.

“Kenapa kau menatapku seperti itu Sunggyu-ssi?” Tanya Minhee merasakan Sunggyu yang dari tadi menatapnya.

“Aku tak menyangka wajah Jiyeon benar-benar mirip dengan adik Howon.” Ucap Sunggyu setelah melihat foto Yena yang ditunjukkan Howon saat menuju rumah sakit.

“Aku juga tidak menyangka wajah mereka benar-benar mirip. Apa menurutmu mereka adalah anak kembar Sunggyu-ssi?”

“Tentu saja tidak. Umur mereka saja berbeda jauh. Jiyeon berumur 25 tahun sedangkan Yena masih berumur 16 tahun.”

“Kau benar.”

Minhee mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tunggu.

“Apa yang kau cari?”

“Aneh sekali. Sejak Lee ahjuma menghampiriku, Sungjong menghilang. Padahal dia selalu cerewet di sampingku.”

“Sungjong? Maksudmu malaikat yang kau ceritakan itu?”

Minhee menganggukan kepalanya.

“Ne.”

“Mungkin dia sedang memiliki urusan lain.”

“Entahlah tapi dia jarang sekali meninggalkanku. Biarkanlah paling tidak aku bisa bebas dari omelannya.”

“Apakah sebawel itu?”

“Bukan bawel lagi tapi sangat bawel.”

Sunggyu tertawa melihat Mimhee begitu semangat menceritakan Sungjong.

“Baru kali ini aku melihat kau secerewet ini Minhee-ssi.”

Minhee menoleh mendengar ucapan Sunggyu.

“Biasanya kau akan bersikap dingin dan sedikit berbicara. Tapi sekarang kau terlihat berbeda.” Jelas Sunggyu kembali.

Ucapan Sunggyu benar. Dulu Minhee harus memakai topeng yang dingin dan ditakuti. Tapi sekarang dengan tubuh Jiyeon, Minhee tak perlu lagi mengenakan topeng itu.

“Itu Howon.” Ucapan Sunggyu menyadarkan gadis itu.

Sunggyu dan Minheepun berdiri melihat Howon menghampirinya.

“Apakah Lee ahjuma baik-baik saja Howon-ssi?” Tanya Sunggyu.

Uisanim bilang kondisinya sudah membaik. Ini kedua kalinya eomma mengalami serangan jantung sejak kematian Yena. Maafkan sikap eomma nona Jiyeon.” Ucap Howon.

“Oohh… Ne.” Minhee tampak kikuk menerima permintaan maaf dari Howon.

Sunggyu melihat kegelisahan Howon.

“Ada apa Howon-ah. Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Sunggyu kembali.

Minheepun mengamati Howon yang ingin mengatakan sesuatu.

Uisanim berkata aku harus menjaga emosi eomma sehingga tidak lagi terkena serangan jantung. Karena itu…..” Ucapan Howon menggantung.

Diapun beralih pada Minhee.

“Aku ingin meminta bantuanmu Jiyeon-ssi.”

Minhee melotot mendengar Howon meminta bantuannya.

“Meminta bantuanku?”

“Ne. Bisakah nona Jiyeon menjadi menjadi Yena untuk sementara waktu hingga eomma keluar dari rumah sakit?”

Mwo?” Minhee kaget mendengar bantuan yang sangat tidak masuk akal baginya.

Dirinya sudah berpura-pura menjadi Jiyeon dan sekarang harus berpura-pura lagi menjadi Yena.

Shireo.… Aku..”

“Jiyeon akan membantumu Howon-ssi.”

Sekali lagi mata Minhee melotot tatkala Sunggyu memutuskan ucapannya. Howon yang mendengar ucapan Sunggyu langsung menyunggingkan senyum senang dan lamgsung menjabat tangan Minhee.

Gamsahamnida Jiyeon-ssi. Anda benar-benar baik. Gamsahamnida.” Ucap Howon senang.

Setelah Howon pergi Sunggyu dan Minheepun berjalan keluar dari rumah sakit.

“Sejak kapan kau mengambil keputusan yang harus kuambil Sunggyu-ssi.”

Sunggyu hanya tersenyum mendengar nada kesal dari ucapan Minhee.

“Bukankah kau harus melakukan kebaikan agar bisa kembali ke tubuhmu Minhee-ssi?”

Minhee mendengus kesal karena ucapan Sunggyu benar.

“Berpura-pura menjadi Yena untuk membantu Lee ahjuma itu juga merupakan kebaikan Minhee-ssi. Jadi ini kesempatanmu bukan?”

“Ne.. Ne.. Ne… Semakin lama kau jadi terdengar seperti Sungjong, Sunggyu-ssi.”

Sunggyu tertawa melihat Minhee kesal. Suara telpon menghentikan pembicaraan mereka.

“Ne Jiyeon-ssi?” Sapa Minhee menerima telpon itu.

Tak ada suara balasan dari Jiyeon membuat Minhee cemas.

“Jiyeon-ssi?” Panggil Minhee kembali.

Hwa-hwajangnim.” Minhee bisa menangkap nada ketakutan dari suara Jiyeon.

“Jiyeon-ssi, ada apa?”

Hening sejenak sebelum Minhee bisa mendengar suara Jiyeon kembali.

“Ada paket untukmu hwajangnim.”

Minhee terdiam mengetahui paket yang dimaksud Jiyeon. Pantas saja Jiyeon begitu ketakutan membicarakan paket itu.

“Apa paket itu berisi teror?”

“Ne hwajangnim. Tapi bagaimana bisa hwajangnim mengetahuinya?”

“Karena 2 minggu yang lalu aku juga menerima paket yang sama. Apa Nam biseonim sudah menyelidikinya?”

“Ne.”

“Baguslah. Beritahu aku jika ada kabar dari Nam biseonim.”

“Ne Hwajangnim.”

“Dan satu hal lagi Jiyeon-ssi.”

Nde?”

“Berhati-hatilah. Karena sekarang kau dalam tubuhku jadi yang menjadi incaran adalah kamu.”

“Ne. Hwajangnim. Aku akan sangat waspada.”

Minhee memasukkan ponselnya setelah telpon berakhir.

“Teror apa maksudmu?”

Minhee menoleh mendengar pertanyaan Sunggyu.

“Hanya orang yang tidak suka padaku dan mengirim teror untuk kedua kalinya. Karena Jiyeon baru pertama kali mendapat hal seperti itu jadi dia sangat shock.”

“Bagaimana denganmu?”

“Apa maksudmu denganku?”

“Bagaimana perasaanmu mendapat teror seperti tu?”

Minhee membuang mukanya tak ingin Sunggyu melihat kelemahannya. Sebenarnya Minhee juga sangat ketakutan mendapat teror mengerikan seperti itu apalagi ancamannya adalah nyawanya. Namun Minhee tak ingin membiarkan semua orang tahu ketakutannya karena itu akan menunjukkan kelemahannya.

“Aku… Tentu saja aku sudah biasa mendapat teror seperti itu jadi aku tak memperdulikannya.”

Minhee mendengar langkah kaki Sunggyu mendekatinya. Tangan Sunggyu menarik bahu gadis itu hingga masuk ke dalam pelukannya. Nafas Minhee tercekat merasakan pelukan Sunggyu. Untuk pertama kalinya Minhee merasakan pelukan yang hangat dan nyaman. Bahkan ayahnya tak pernah memberikan pelukan seperti itu.

tumblr_mpl87jy4Y11rjedwzo1_500

“Apa yang kaulakukan Sunggyu-ssi?” Tanya Minhee masih dalam pelukan Sunggyu.

“Memberikan apa yang kau butuhkan Minhee-ssi. Aku tahu mendiang tuan besar Tae tak pernah memberikan pelukan seperti ini padamu. Padahal ini adalah satu-satunya yang kaubutuhkan. Aku tahu kau sedang takut Minhee-ssi. Meskipun kau mencoba menutupinya, tapi kau tak bisa membohongiku.”

Minhee terkejut mendengar Sunggyu bisa merasakan ketakutannya. Dan ucapan Sunggyu benar, dia hanya menginginkan sebuah pelukan dari ayahnya namun hal itu tak pernah didapatkannya hingga ayahnya meninggalkannya.

“Kau tenang saja Minhee-ssi. Aku pasti akan menjagamu.”

Ucapan Sunggyu benar-benar bisa membuat hati Minhee tenang. Diapun merasakan kenyamanan dalam pelukan laki-laki itu.

*   *   *   *   *

Dari sudut matanya Myungsoo melirik ke arah Jiyeon yang sedari tadi hanya melamun saja. Meskipun mata Jiyeon menatap lurus ke depan tapi Myungsoo yakin gadis itu sedang memikirkan hal lain. Myungsoo mengulurkan tangan menyentuh tangan gadis itu. Jiyeonpun tersentak kaget merasakan sentuhan Myungsoo.

“Kau tidak apa-apa Minhee-ya?” Cemas Myungsoo.

“Aku tidak apa-apa Oppa.”

“Kau yakin? Tampaknya kau tidak seperti itu.”

“Memang aku seperti apa?”

“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu.”

“Ani Oppa. Aku tidak memikirkan apapun.”

Getaran ponsel Myungsoo mengagetkan laki-laki itu. Diapun mengambil ponsel dalam sakunya lalu melihat satu pesan masuk ke dalam ponselnya.

Pulanglah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sangat penting.

Abeoji.

 

Membaca pesan ayahnya, Myungsoo merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Minhee-ah. Sepertinya aku harus menunda acara makan malam kita. Ada sesuatu hal yang sangat mendesak. Tidak apa-apa jika kita makan malam lain kali?”

Jiyeon memaksakan senyumnya.

Gwaenchana Oppa. Sepertinya aku juga sangat lelah.”

Myungsoopun tersenyum lalu melajukan mobilnya menuju rumah Minhee.

*   *   *   *   *

Minhee dengan pelan menyantap makanannya. Pikirannya masih mengingat pelukan Sunggyu tadi. Senyuman tak henti-hentinya menghiasi wajah Minhee yang mulai memerah. Jikyeong menatap Minhee bingung. Wanita itu mengulurkan tangannya menyentuh dahi putrinya yang langsung tersadar.

“Apa yang eomma lakukan?” Kaget Minhee.

“Aku hanya memeriksa apakah putriku sudah gila atau belum karena sedari tadi kau terus saja tersenyum-senyum sendiri.”

“Aku tidak gila eomma.”

Jikyeong mendekati putrinya.

“Jadi siapa laki-laki itu?”

Minhee menatap Jikyeong bingung.

“Laki-laki siapa maksud eomma?”

“Laki-laki yang sudah membuat putriku jatuh cinta?”

Minhee melotot kaget mendengar ucapan Jikyeong.

“Si-siapa yang jatuh cinta eomma. Ada-ada saja eomma ini.”

“Gadis yang tersenyum-senyum sendiri biasanya tanda-tanda sedang jatuh cinta.”

“A-aku tidak jatuh cinta.”

“Aiishhh… Araseo jika kau tidak mau cerita.”

Merekapun kembali menyantap makan malam mereka. Minhee teringat mulai besok dirinya harus membantu ibunya Howon.

“Eomma.”

“Hmm?” Jawab ibunya yang masih menikmati kimchi buatannya.

“Eomma, mulai besok aku akan pulang terlambat.”

Jikyeong menatap Minhee terkejut.

“Apa maksudmu pulang terlambat? Apa ada lembur dikantormu?”

Minhee menggeleng.

Aniyo eomma. Sebenarnya tadi ada seorang yang memintaku untuk menolong ibunya agar berpura-pura menjadi anaknya yang sudah meninggal. Tapi yang aneh wajah kami benar-benar persis.”

“Benarkah?”

“Ne. Apa aku anak kembar eomma?”

Jikyeong menggeleng. “Aniyo. Eomma hanya melahirkanmu seorang saja.”

“Eomma tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa bagaimana?”

“Tidak apa-apa jika aku menolong ahjuma itu?”

Jikyeong menyunggingkan senyumannya dan menyentuh tangan Minhee.

“Tentu saja tidak apa-apa. Bukankah eomma selalu mengajarkanmu kebaikan?”

Mengajarkanku? Bahkan eommaku tak pernah melakukan itu. Gerutu Minhee dalam hati.

*   *   *   *   *

“Kau tidak apa-apa? Tidak ada hal mencurigakan disekitarmu bukan?”

Jiyeon tersenyum mendengar Minhee mengkhawatirkan dirinya.

“Aku tidak apa-apa hwajangnim. Anda tidak perlu khawatir.”

“Aku mengkhawatirkanmu? Aku rasa kau salah Jiyeon-ssi. Aku hanya mengkhawatirkan tubuhku.”

Jiyeon hanya tersenyum mendengar Minhee terdengar salah tingkah.

Hwajangnim sejak tadi pagi aku tidak melihatmu dan Sunggyu Oppa di kantor. Apa terjadi sesuatu?”

Jelas saja Jiyeon tak bisa melihat dirinya dan Sunggyu karena sejak tadi mereka tidak berada di kantor.

“Tadi ada masalah kecil.”

Hwajangnim dan Sunggyu Oppa?”

Minhee menggeleng mendengar Jiyeon sudah salah paham.

Aniyo ini tidak seperti yang kaupikirkan. Kami harus menolong seseorang.”

Jiyeon hanya ber-o ria mendengar penjelasan Minhee.

“Oh ya Jiyeon-ah. Sebenarnya Sunggyu sudah mengetahui pertukaran tubuh kita. Dan tadi dia memintaku untuk mengatakannya padamu.”

“Mengatakan apa?” Bingung Jiyeon.

“Sunggyu akan keluar dari Taeyang Group dan akan kembali ke Kim Group.”

“Kim Group? Maksud hwajangnim perusahaan milik Kim Myungsoo?”

“Ne.”

“Tapi bagaimana bisa Sunggyu Oppa kembali ke Kim group?”

“Sunggyu masih memiliki hubungan dengan keluarga Kim. Karena itu Sunggyu juga memintamu untuk ikut dengannya. Dia menyuruhku untuk mengatakan ini padamu. Jadi apa keputusanmu?”

“Tentu saja aku akan ikut. Karena sangat sulit mendapatkan bos yang sebaik Sunggyu Oppa.” Senang Jiyeon.

“Apa kau sedang menyindirku?”

Aniyo hwajangnim. Sunggyu Oppa memang orang yang baik. Jadi aku sudah merasa nyaman bekerja bersama Sunggyu Oppa.”

Jiyeon benar, Sunggyu memang baik bahkan dia bisa mengetahui perasaanku. Minhee menggelengkan kepalanya saat mengingat pelukan Sunggyu.

Hwajangnim. Kau masih mendengarku?”

“Oh ne. Baiklah jika itu keputusanmu. Aku menjalani sebagai dirimu. Baiklah. Aku menutupnya.”

“Ne. Selamat malam hwajangnim.”

“Ne.”

Minheepun keluar dari kamar mandi menuju kamar. Dia melihat Jikyeong sudah tertidur. Bibir mungil Minhee menyunggingkan senyumannya mengingat keakrabannya dengan Jikyeong. Untuk pertama kalinya Minhee bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.

Minhee melihat ke sekeliling tak mendapati Sungjong.

“Aneh… Kemana malaikat cerewet itu?” Heran Minhee.

Gadis itu mengangkat bahunya tak perduli lalu merebahkan tubuhnya. Tak lama Minhee pun mulai terlelap.

*   *   *   *   *

Myungsoo berjalan di lorong rumah keluarga Kim. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu. Tangannya terulur membuka pintu itu. Kakinya melangkah masuk menghadap ayahnya yang duduk di belakang meja kerjanya.

“Ada apa abeoji memanggilku?”

Tuan Kim mendongak mendengar suara putranya.

“Duduklah.”

Myungsoo duduk di hadapan ayahnya dan tak lupa menyilangkan kakinya seperti kebiasaanya.

“Apakah pembicaraan ini sangat penting hingga abeoji menyuruhku kemari malam-malam?”

“Bisa dikatakan darurat.”

“Jadi hal darurat apa yang ingin abeoji bicarakan?”

“Sunggyu akan kembali ke Kim Group.”

Myungsoo tampak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan ayahnya

“Sunggyu hyung kembali? Tapi bukankah selama ini Sunggyu hyung tidak sudi berada di perusahaan Kim?”

“Ne. Pasti ada sesuatu yang mendorongnya.”

“Siapa?”

“Aku tidak tahu. Tapi kita harus waspada dengan kembalinya si anak haram itu. Jangan biarkan Sunggyu merebut posisimu. Kau mengerti?”

Myungsoo sebenarnya tidak suka dengan kebencian ayahnya pada Sunggyu tapi dia tak bisa membantah perintah ayahnya.

“Ne. Aku mengerti abeoji.”

“Ingat jangan menggunakan perasaanmu di perusahaan Kim Myungsoo.”

“Ne. Abeoji.”

Tuan Kim tersenyum puas mendengar putranya menurutinya.

~~~TBC~~~

Jangan lupa meninggalkan Jejak-Jejak readersdeul. Gomawo!!!!

 

4 thoughts on “(Chapter 4) Love & Revenge

  1. Nih ff alur ceritanya bikin penasaran eon ,,,,,
    Aku suka banget sama nih ff….
    Next ya thor….
    FIGHTING!!!!!!

  2. aduh ~ makin penasaran aja ma si Sungjong … yang selama ini aku tauu cuman si Sungjong itu dokter sebelum jadi malaikat, truss dia itu ada apa2nya sama si Sunggyu …
    ditunggu lanjutannya …
    Fighting !!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s