Tell Him 6th

TELLHIM2

 


Title ||  Tell Him  ( part 6)

Author || Alana

Main Cast ||  Park Jiyeon | Lee Joon | Nam Woohyun

Support Cast ||  Lee Minhyuk | Ham Eunjung | Par Sun Young a-ka Hyomin

Genre || Romance 

Length || Chaptered

Rated ||  M

 

Disclaimer || I Own Nothing but the Story



 

>>> TELL HIM <<<

 

 

 

 

Begitu juga dengan diriku. Aku tidak sanggub menatapnya lagi, ketika aku mliihat wanita itu bergayut mesra di sisinya. Diakah wanita yang dulu menyusul Joon ke pengipan.

 

Eunjung.

 

Ham Eunjung.

 

Demi Tuhan aku merasa kehilangan keseimbangan.

 

Woohyun menghampiriku dan menggandeng tanganku. Dia menarikku supaya mendekat.

 

“Hari ini sepertinya putri Tn. Ham berulang tahun. “

 

Aku menatap wanita di sisi Joon dengan hati miris. Joon sudah memperistrinya. 

 

Kecewakah ? 

 

 

 

>>>TEL HIM <<<

 

 

“Biar kuambilkan minum untukmu !”  Woohyun meninggalkanku untuk mengambilkan segelas air putih yang letaknya entah di mana. Tentu saja aku merasa sangat sesak, meskipun dengan susah payah aku berusaha menutupinya. Sepertiga dari tenagaku masih bisa memantabkan langkah kakiku menuju ke arah jendela, tempat di mana aku tadi bertengger di sana. Lumayan kesejukan udara malam sedikit menghiburku. 

 

Aku melihat ke dalam ruangan yang masih penuh dengan tamu undangan. Mereka semua mengucapkan selamat pada wanita yang terlihat tangguh itu. Eunjung.

 

Kupikir dia pasti akan mengenaliku. Dia pasti menangkap satu moment dimana aku mungkin mirip dengan sosok yang pernah membangunkan arwah nenek sihir di dalam tubuhnya. Ya, biasanya wanita memang mempunyai hati yang tajam , meskipun lama tidak bertemu. Mereka akan menggali kisah yang sempat membuat emosinya melambung. 

 

Oh sadarlahJiyeon, Joon hanya sedikit menaruh perhatian padamu. 

 

Kemudian kupalingkan wajahku ke arah taman di sisi rumah megah ini. Di sana terlihat remang, meskipun tidak sepi. Beberapa tamu bahkan lebih menyukai duduk-duduk di sekitar taman kecil di dekat kolam ikan yang dihiasi beberapa pancuran dan bunga-bunga mawar. 

 

Aku sedikit merasa lepas. Aku tidak perlu berpura-pura bersikap manis di hadapan mereka. 

 

Namun,

 

“Nona Nam !”  sebutan itu cukup membuatku terkejut. Dan karena itulah aku berusaha menguasai diriku. Ini lebih sulit dari yang aku kira. Kenyataannya jantungku berdegub kencang. Aku hafal dengan suara itu, meskipun aku tidak melihat sekalipun.

 

Joon.

 

Semoga dia tidak tersenyum. Tapi sepertinya tidak mungkin. Dia pasti tersenyum.

 

Aku menoleh. Dan ya, dia tersenyum, meskipun tipis dia menyunggingkan senyumnya yang hampir membuatku meneteskan air mata. Kenapa tiba-tiba menjadi melankolis. Ini membuatku merasa sesak kembali. 

 

Sesaat lalu aku terguncang melihatnya bersanding dengan wanita yang ternyata adalah istrinya. Lalu sekarang sepertinya aku lebih memilih untuk menghilang dalam kegelapan dari pada menampakkan wajah anehku di depannya.

 

“Kau datang ?”  pertanyaannya kusambut dengan anggukan. Aku sedikit merapikan rambutku yang terurai sebahu. 

 

“Dengan …” aku berniat untuk mengatakan padanya dengan siapa aku datang ke tempat ini, namun dia sudah memotongnya.

 

“Jangan sebutkan, aku sudah tahu. Karena itulah aku memanggilmu Nona Nam.” Joon menyeringai

 

“Hm, kau sudah menikah ?”  Wajahku langsung mengeras. Kenapa aku menanyakan hal itu. Tercetus tanpa rancangan.

 

“Ya. Dia Eunjung. Istriku.” jawabnya sambil melihat ke arah Eunjung yang dikerumuni oleh beberapa tamu. Mereka cukup membuat wanita yang dikatakan Joon sebagai istrinya itu sibuk. Sikap ramah yang memuakkan. Wajar jika aku merasa muak dengan situasi ini, terlebih dengan kenyataan yang kuterima mengenai Joon.

 

“Jiyeon !”  Woohyun muncul dengan segelas air dingin. Aku menerimanya. 

 

“Tn. Nam apa kau mengenalnya ?”  aku sengaja mendahului . Seperti yang sudah disepakati, aku akan selalu memangginya Tn. Nam di depan semua temannya. 

 

Tapi sepertinya Joon akan menjadi musuhnya. Apakah Woohyun mengenalnya.

 

“Siapa? Dia ? Bukankah dia menantu di keluarga Ham?”  cetus Woohyun. Aku memperhatikan ekspresi tunanganku itu ketika dia mengatakan perihal Joon, namun sepertinya dia tidak memperlihatkan sesuatu, ataukah dia memang sedang berpura-pura. 

 

Entahlah. Aku memilih untuk tak menjawab.

 

“Aku Lee Joon. ” Joon memperkenalkan dirinya.

 

“Woohyun. Nam Woohyun.”

 

Mereka saling menatap dan bersalaman. Joon tersenyum, sementara Woohyun menatapnya dengan berbagai pengertian.

 

“Tn. Nam, saya hari ini datang ke Galery Anda untuk menanyakan perihal lukisan saya.”  

 

Woohyun langsung menatapku. Dia seperti sedang mempertanyakan kenapa aku tidak memberitahukan mengenai Joon kepadanya lebih dulu. 

 

“Ya, e-hem ! Dia yang berniat mengambil lukisan itu.”  ujarku. Lalu aku berjalan mundur. Sekedar memberi ruang agar Joon dan Woohyun bisa saling berbicara. 

 

“Aku sudah berbicara dengan Nn. Nam dan dia menyetujui untuk mengembalikannya padaku.”  Joon tidak memperhatikan Woohyun ketika menyampaikan pernyataannya tadi.

 

Wajah Woohyun berubah menjadi sangat kaku dan keras. Alisnya hampir menyatu dengan kerutan didahinya itu. Nafasnya sedikit diaturnya, itu sudah cukup menandakan dia sedang dalam kondisi kritis. Ya, kritis untuk segera meledakkan sesuatu dari dalam dadanya.

 

“Apa maksudmu ?”  Pertanyaan Woohyun membuat Joon melirikku

 

“Jangan libatkan dia !” Woohyun tidak suka Joon memperhatikan diamku.

 

“Maaf, Tn. Nam! Apa saya tidak bis mengambil lukisan saya ?”  Joon kembali berspekulasi.

 

“Berapa kau jual lukisan itu? Aku akan segera membayarnya.”

 

Joon tercengang , dia tersenyum hambar dengan sebuah garis di keningnya. Mereka sama-sama keras kepala. 

 

“Saya tidak berniat menjualnya .”  jawab Joon ringan, namun mengandung makna yang tegas.

 

“Sebutkan saja nominalnya.” ujar Woohyun lagi.

 

“Maafkan saya Tn.Nam, saya tidak berniat menjualnya. Dan saya rasa Anda mengerti tentng hal itu. Seorang pelukis semakin mahal dia ingin menjual karya seninya. maka semakin dia menyayangi hasil karyanya. Terlebih jika tidak ingin menjualnya.”

 

“Itu hanya lukisan seorang gadis buta.”  ujar Woohyun sambil melirikku. 

 

Aku sama sekali tidak terkejut ataupun tersinggung dengan ucapan Woohyun, karena sebenarnya akupun ingin mengetahui lebih dalam kenapa Joon begitu mempertahankan lukisan itu.

 

Joon menyeringai. Dia menarik nafasnya dan menghelanya. Dia melirik istrinya yang masih sibuk denga para tamu undangan. Kemudian kembali menikmati suasana tegang yang menyelimuti kami. 

 

 

“Saya rasa, saya tidak perlu membeberkan alasan pribadi saya mengenai kenapa saya menyayangi lukisan itu.”  jawab Joon kemudian

 

“Apa kau menyukai gadis dalam lukisan itu ?”  Woohyun sedang memancingnya. Dan aku semakin tertarik mendengarnya. 

 

“Gadis dalam lukisan itu sangat istimewa.” jawabnya. Dan aku menunduk untuk menyembunyikan perasaan bahagiaku. Dia mengatakan bahwa aku istimewa.

 

“Aku tidak perduli. Kenyataannya lukisan itu sudah kuhadiahkan sebagai kado pertunanganku dengan Jiyeon.”

 

Joon menggeleng berkali-kali. Dia sungguh tidak mengerti dengan situasi ini. Kenapa harus begitu rumit,padahal dia hanya ingin lukisanya segera dikembalikan. 

 

Apa susahnya?

 

“Siapa nama keluarganya? Kenapa dia memakai namamu di depan namanya ?”  pertanyaan Joon menyimpang dan cukup membuatku tercekat. Dia menayakan tentang nama keluargaku.

 

“Itu sama sekali bukan urusanmu. ” serbu Woohyun yang kemudian menggandeng tanganku untuk berlalu.

 

“Jiyi !” panggilnya padaku. 

 

Aku meliriknya sebentar namun tatapan matanya menghilang di antara para tamu yang sedang menikmati pesta.

 

 

Jantungku bergemuruh. Joon menatapku begitu dalam. Dia seperti sedang melemparkan jangkarnya untuk berhenti di tempat yang tepat. Namun sepertinya aku bukanlah tempat yang tepat. Jangkar itu tidak bisa membuatnya bertahan.

 

.

.

.

 

 

Woohyun mengatubkan rahangnya. Dia melepas dasinya dengan kasar. Aku membantunya sebentar. Dan matanya menatap ke dalam isi hatiku. 

 

“Dia mengenalimu.”  Ujarnya dingin 

 

“Ya, sepertinya begitu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.”  jawabku

 

“Dia akan terus berusaha mengambil lukisan itu dirimu.”

 

“Kenapa tidak kita lepaskan saja.”  Aku memperhatikan keseriusannya.

 

“Aku sudah memberikan itu untukmu.”

 

“Aku tahu, tapi lukisan itu lebih berharga untuknya.”

 

“Dia akan terus menatap dirimu di sana.”

 

“Itu hanya sebuah lukisan.”

 

“Bukan hanya sekedar lukisan. Itu adalah dirimu. Dia menyimpan sesuatu mengenai dirimu.”

 

Woohyun yerlihat gusar. Dia menampakkan kalau dia sedang cemburu.

 

“Dia sudah beristri.” balasku.

 

Lalu dia terdiam, menyibakkan rambut dari pipiku. Aku menunduk karna merasa canggung. Woohyun bersikap sedikit sentimentil saat ini. Dia memberikan sebuah tatapan yang lembut.

 

“Kita percepat hari pernikahan kita.” 

 

Aku langsung mendongak ketika dia mengatakan hal itu. Bibirku membeku. Aku sungguh tidak bisa mengutarakan apapun selain merasakan dadaku begitu sesak menghimpit paru-paruku.

 

“Kita akan segera menikah.”  ulangnya.

 

Woohyun berjalan meninggalkanku sendiri di ruang tamu.’Dan aku merasakan bumi disekitarku berputar mengelilingiku. Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. 

 

 

.

.

.

 

 

Siang ini aku duduk sambil memeriksa daftar inventaris dan penjualan yang di laporkan Minhyuk padaku. Ini sedikit membutku merasa bosan. Dari beberapa lukisan yang sudah terjual, masih ada beberapa lainnya yang pembayarannya masih dalm proses, bahkan pending hingga dua bulan, melebihi tanggal jatuh temponya.

 

Lalu tiba-tiba Minhyuk masuk lagi dengan beberapa map yang sepertinya akan semakin membuatku penat.

 

“Nona Nam, kau harus makan siang dulu. Aku ingatkan padamu, lambungmu itu hanya satu, kau harus menyanyanginya.”  

 

Namja berwajah bayi itu duduk di depanku. Kuterima map yang dia sodorkan.

 

“Apa ini ?”  tanyaku

 

“Daftar lukisan masuk.”

 

“Jadi, aku harus makan siang dulu ?”  ujarku sambil menghempaskan punggungku di sandaran kursiiku.

 

“Ya.” jawabnya.

 

Kutebarkan pandanganku pada keseluruhan sudut dalam ruangan kerjaku yang sudah menemaniku hampir dua tahun ini. 

 

“Baiklah.’Ayo kita makan siang!”  ajakku pada Minhyuk. Aku mengalah.

 

“Apakah Tn. Nam tidak datang ?”  tanyanya mengikuti ku yang mulai beranjak dari tempatku.

 

“Ada urusan penting lainnya.”  jawabku

 

“Lalu mengenai lukisan Tn. Joon bagaimana ?”

 

“Woohyun akan mengurusnya sendiri. Aku di larang untuk mengambil keputusan mengenai hal itu.”

 

“Nona, gadis di dalam lukisan itu mirip dirimu.”  

 

“Benarkah ?”  Aku hanya menyeringai sambil melanjutkan langkahku.

 

“Ya. Hanya saja di sana wajah gadis itu terlihat begitu polos, dan sepertinya dia sangat menikmati kehidupannya. ”  ungkap Minhyuk dengan sebuah cengiran. Dia tidak sedang menyindirku, kan ?  Agh, kenapa aku menjadi sensitive begini. Apa dia pikir sekarang aku tidak menikmati kehidupanku.

 

Aku menghela nafasku.

 

 

“Dia gadis bodoh.”  ujarku menimpali.

 

Minhyuk terhenyak bingung. Dia seperti sedang mencari kesamaan diriku dengan gadis dalam lukisan Joon.

 

“Percayalah Lee Minhyuk, aku gadis yang sangat cerdas. Aku tidak bodoh.”  ujarku lagi untuk menegaskan. Namun aku tidak yakin kalau dia akan mempercayaiku.

 

Tapi Minhyuk membelalak seketika.

 

“Tn. Lee Joon..”  ujar Minhyuk sambil melihat ke arah pintu masuk.

 

Dia si Tuan berkaki panjang itu sedang melangkah ke arahku, ke arah kami. Dia semakin mempercepat langkahnya dengan tatapan matanya menukik seperti elang. Dia sedang memburuku. 

 

Oh Tuhan! Aku berhenti seketika itu juga. Bagaimana ini ? Apa yang akan dia katakan padaku. Apa yang akan dia tuntut padaku. Bagaimana kalau dia mengenaliku.

 

“Minhyuk, aku harus ke toilet dulu!”  ujarku sambil berjalan menyamping.

 

Minyuk tersenyum ke arahku.

 

“Tenang saja Nn.Nam, aku akan mengurusnya !” ucapan Minhyuk seperti sedang menyindirku. Tapi biarlah, aku harus segera menghindainya.

 

 

.

.

.

 

 

Lima menit sepertinya begitu lama di dalam persembunyian ini. Katakan saja begitu. Aku sedang bersembunyi. Joon ada bersama Minhyuk. Mereka mungkin sedang membicarakanku. Dia akan mencari tahu tentang diriku dari assistentku itu. Semoga Minhyuk tidak terlalu banyak bicara. Akan kupotong gajinya jika dia sampai mengatakan sesuatu mengenai diriku.

 

Sepertinya sudah cukup. Mungkin Joon sudah pergi. 

 

Aku berjalan keluar dari toilet dengan wajah sedikit segar. Aku merapikan make-upku, juga sisiran rambutku. Menyemprotkan pewangi ke leher dan pergelanganan tanganku. Aku berusaha memberikan penampilan terbaikku, seandainya Joon masih bertengger bersama Minhyuk di galeryku.

 

Kenapa aku begitu ingin dia melihatku menari. Apa aku sedang mencoba menggodanya. Gila ! Dia sudah mempunyai sitri. Dan istrinya sangat kaya.

 

“Aku menunggumu!”  ujar sebuah suara yang menggema dalam ruangan. Aku langsung menoleh ke sisi kiriku. 

 

Hh…!  Apa tidak salah dia menungguku.

 

“Ada apa Tn. Lee ?”  Aku melanjutkan langkahku. Berusaha untuk setenang mungkin menyikapi bahasa tubuhku yang kurasakan gugub.

 

“Minhyuk mengatakan padaku bahwa kita akan makan siang bersama.”  Ujarnya.

 

Kutahan nafasku sebentar.  Minhyuk, akan kupotong gajimu ! makiku dalam hati.

 

 

“Apa benar begitu ?” aku berpura-pura tenang

 

“Nn. Nam, semalam , apakah dia itu pamanmu ?”

 

“Tunanganku.”

 

“Tapi menurut Minhyuk, dia adalah pamanmu.” 

 

“Minhyuk bicara apa saja ?”  Aku melirik Joon.

 

“Hanya itu saja.” 

 

“Kami akan menikah.” tambahku

 

“Benarkah ?”

 

“Ya. ” jawabku tegas. Kenapa dia terdengar seperti meragukanku. 

 

 

Sebenarnya akupun meragukan diriku sendiri. Kenapa aku mau melakukan hal ini.  Maksudku kenapa aku terlambat menyadari bahwa aku harus menikah denganya. 

 

 

“Nn.Nam,…”  kuangkat tanganku ketika dia ingin bertanya lagi. Sepertinya sudah cukup baginya mengorek sesuatu dari diriku

 

 

“Apa kau ke sini untuk membicarakan mengenai lukisan itu ?” ujarku memotong kalimatnya.

 

“Apakah calon suamimu masih bersikeras untuk membelinya ?”

 

“Dia akan menghubungimu.”  aku menolak untuk membicarakan mengenai lukisan itu, walau sebenarnya ingin sekali memngetahui alasannya.

 

“Kenapa kau tidak bisa berbicara lebih santai sedikit ?”

 

“Aku banyak pekerjaan. Aku harus segera kembali bekerja setelah aku makan siang. “

 

“Kita belum lagi makan siang.” seru Joon sambil memegangi janggutnya yang runcing . Demi Tuhan dia memang tampan. Dia mempunyai type wajah yang unik. Sangat misterius.

 

“Kita ?”  Aku mengernyit. 

 

Joon mencari sosok Minhyuk. 

 

Hh, Minhyuk pasti sudah menaiki jet hingga ke kutub utara. Dia pasti dengan sengaja mencatatkan dirinya dalam daftar karyawan yang akan di sunat gajinya bulan ini. Aku memastikan akhir bulan ini akan memotong sepertiga dari penghasilannya. 

 

“Sepertinya dia pergi.”

 

“Kalau begitu aku tidak jadi. Aku akan memesan makan siangku saja dari kantorku.”  ujarku sambil berbalik ke arah ruanganku.

 

“Tidak bisakah memesan dua porsi sekaligus, supaya kita bisa makan siang bersama.”  

 

“Tn. Lee, perkataanku tadi itu merupakan sebuah ungkapan rasa keberatanku atas kehadiranmu. Apa kau tidak mengerti. Kau laki-laki beristri, dan akupun sebentar lagi akan menikah.”

 

“Jiyeon, kita hanya makan siang bersama, ini bukan sebuah kencan. Kenapa kau harus merasa repot.”  Joon mematung dengan rahang terbuka dan mata yang menatap lucu melihat kegugupanku. 

 

“Ow..!”  aku menggigit bibirku. 

 

“Tapi tetap saja aku tidak akan menyukainya. “

 

“Kau atau calon suamimu?”

 

“Atau istrimu .”  serangku dengan sebuah cengiran.

 

.

.

.

 

 

Perdebatan itu sepertinya menghasilkan jalan buntu. Joon tetap memaksa untuk makan siang bersamaku.  Dia memesan sebuah menu dari restoraurant fast food di dekat sini. 

 

Sehingga jadilah kami makan siang di meja kerja Minhyuk. Assistentku itu sungguh mengerjaiku. Dia mengatakan akan mengurus Joon, tapi malah sebaliknya.  

 

Aku terus menggerutu ketika mengunyah acar timun di dalam rongga mulutku. 

 

“Di mana dia ?” tanya Joon

 

“Siapa ?” 

 

“Calon suamimu.”

 

“Bisnis.”

 

“Apa kalian tinggal bersama ?”

 

“Ya.”

 

“Kalian terlihat seperti boss dan sekretaris.”

 

“Dia memang bukan orang yang mudah.”

 

“Aku bisa melihatnya.”

 

“Melihat apa ?”

 

“Nam Woohyun. Dia pecemburu.”

 

“Dia mencintaiku.”

 

“Aku tahu. Itu sebabnya dia tidak mau menyerahkan lukisan dirimu padaku.”

 

“Dia merasa sudah memberikannya untukku sebagai hadiah.”  Uphs, what just I said ? Aku mendongak untuk memeriksa  ekspresinya ketika aku keceplosan kata .

 

Joon tersenyum. Dia telak membuatku lupa mengenai khasus lukisan itu. Kuseka mulutku dengan tissue.

 

“Maaf, aku salah. Itu bukan dirimu. Lukisan gadis itu hanya sebuah lukisan gadis yang kampungan. Aku tidak menganggabnya berarti.”  ujarnya.

 

Aku mengangguk mendengar penuturannya. Ya, gadis di dalam lukisan itu memang kampungan. Aku mengerti. Haruskah aku sakit hati mendengar hal itu. Joon masih tersenyum.

 

“Aku akan memberikan lukisan itu cuma-cuma seandainya kau mengatakan padaku siapa dirimu sebenarnya. Namun jika tidak, maka dengan jalur hukum sekalipun aku akan tetap mengambil lukisan itu darimu.”  ucapannya lebih terdengar seperti ancaman.

 

“Nam Woohyun akan membayarnya dengan harga yang tinggi.” balasku

 

“Aku tidak butuh uang dari kalian.”  ucapan Joon dingin dan tegas.

 

Itu membuatku terdiam agak lama. Dan diapun mengikuti diamku. 

 

Berpikir.

 

Aku sedang mencoba mencari jalan agar masalah ini selesai. Jika Woohyun bersikeras dan Joon tidak mau menerima pembayaran atas lukisan itu, terpaksa aku akan mengembalikannya. Ya, dengan resiko bahwa Woohyun akan marah besar. 

 

Apakah masalah akan selesai jka aku mengembalikan lukisannya.

 

 

“Akan kau pasang di mana lukisan itu jika aku mengembalikannya padamu ?”  Aku memikirkan istrinya.

 

Joon memegangi bibirnya. Dia segaja melakukan itu supaya aku melihat betapa seksi bibirnya itu. Namun aku menunduk. Kenapa aku berpikir kalau dia sengaja menggodaku.

 

“Aku akan meletakkannya di kantorku. ” jawabnya santai. 

 

Ya, tidak mungkin akan kau letakkan di dalam rumah. Lukisan itu hanya akan bertahan lima menit di dinding sebelum di bakar oleh Eunjung. Aku tersenyum miris.

 

“Baiklah. Aku akan membicarakannya dengan Woohyun. Eum, maksudku Tn. Nam.”

 

“Kalian calon suami istri, tapi tidak terlihat mesra. Apa kalian dijodohkan ?”

 

“Bukan urusanmu!” jawabku tanpa ekspresi.

 

“Benar. Buukan urusanku.”  ulangnya.

 

“Tn.Lee..kenapa kau bersikap seperti ini ?”

 

Joon berdiri. Sepertinya dia sudah selesai dengan makan siangnya. Dia menatapku lekat-lekat. 

 

“Aku tidak tahu, Nn. Nam Jiyeon. Tidak tahu. Seandainya aku bisa mengetahuinya.”

 

Aku menunduk. Tak sanggub melihat ke arah matanya lagi.

 

 

.

.

.

 

Aku menjumpai Woohyun duduk di meja kerjanya. Dia sedang meneliti beberapa brosur yang berisikan sebuah paket biaya pernikahan yang sedang dia rencanakan. Kenapa aku tidak terkejut lagi mengenai hal itu. Woohyun sudah dengan begotu ketakutannya menghadapi Joon hingga dia harus mempercepat pernikahan ini.

 

“Maaf aku tadi tidak sempat mampir ke Galery.”  ujarnya sambil menyodorkan satu buah brsour.

 

“Tidak masalah. Apa ini ?”  aku menerimanya dan meneliti isinya.

 

“Mereka menyediakan akomodasi berbulan madu. Apa kau tertarik?”  Ya ini sebuah perencanaan pernikahan, tapi kenapa seperti membicarakan bisnis. Woohyun duduk berseberangan meja denganku. Apakah diantidak bisa bersikap sedikit romantis padaku. Mungkin saja jika dia bisa bersikap lembut dan romantis, maka hatiku akan semakin luluh.

 

Selama ini aku sungguh menyukai sikap dingin dan aristokratnya yang di munjungnya setinggi langit.

 

“Jiyeon, kau kenapa ?”  Woohyun menatapku yang masih tercengang dengan brsour yang kupegang.

 

“Benarkah kita akan menikah ?”  tanyaku.

 

Namja tampan berwajah dingin itu menatapku. Lalu perlahan berdiri. Aku terus mengikuti gerakannya yang semakin mendekat padaku. Dia tiba di depanku, melebarkan kedua kakiku yang tengah duduk bersandar pada kursi. Pahaku terbuka begitu saja. Dan tatap matanya mengurung gerakanku. Diambilnya daguku dengan jemarinya, lalu mendekatkan wajahnya hingga aku hampir memejamkan mataku karena mengira dia akan menciumku.

 

Namun ternyata tidak. Woohyun sempat membuat jantungku hampir terlepas dari tempatnya. 

 

“Apa kau masih mengharapkan Joon ?” 

 

 

.

.

.

 

 

tebece

 

 

a/n

 

Joon mulai sok kenal sok deket. Dan Woohyun menjadi posesive. Sedangkan Jiyeon labil. Hahaha… gimana ya nanti akhirnya. Kebaca ga endingnya? 

 

Joon sudah menikah. Itu masalahnya…dan Jiueonpun belum menentukan hatinya. 

 

16 thoughts on “Tell Him 6th

  1. ish. knp c c wohyun tu g bisa romantisan dikit..m terlalu posesive lagi… joon braninya kau. is kamu tu mao app dari jiyi hmp? kamu dah nikah dah punya anak lagi jangan bikin jiyi hancur tau.. is dasar.. kesel.. next…

  2. Owhhhh
    Jd joon dh tw tu jiyi y,
    Tp dy ky’ na pengen jiyi sndiri yg ungkap kn diri na..
    Woohyun wajar ja cemburu,
    Tp hrs sedikit lebih lembut…
    Jgn terlalu tegas . .
    Q hrp dy nikah na dg woohyun asal kn namja ni bnr2 tulus cintai jiyi…

  3. Hmm meii klo aku ya mending jiyu woohyun krn sbgmn pub cintax joon apapun keadaan yg memaksa dy sdh kalah krn knp hrs nikah sm eunjubg.. sdgkn woohyun sikapx yg kaku tp sbnrx bnr2 cinta sm jiyi.. kekekeke.. wah ngpain tuh paha jiyi d bk.. mdh2an jiyi di cium ya jd jiyi bs cinta deh sm woo krn deg2an lwwlwk plak

  4. Ish.. si joon udh mau jadi Perusak hubungan jiyeon sama woohyun ea???
    Pan elu udh punya istri , joon. Napa masih ngejar2 jiyeon , pan jiyeonnya jadi ragu buat nikah sama woohyun.
    Woohyun romantis dikit napa? Jan dingin kek begitu , kek es di kutub utara aja. #plakk..

    Next ya thor ,,, ff nya bagus bangt…
    FIGHTING AUTHOR!!!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s