Like Petrichor Chapter 2

11219560_995263270505683_2746744773496623344_o

Judul: Like Petrichor (Chapter2)

Author: Kim Jaemi (@iimwae)
Cast: Bts&Exo
*Kim Tae Hyung ooc (Bts)
*Jeon Jung Kook ooc (Bts)
* Im Jaemi or You
* Min Wang Zi (Author chingu)
Support Cast: Finded when you read it!!
Genre: Teen, Friendship, Romance, and School Life
Length: Chaptered
Disclaimer: No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before
“Ku dengar Chunji adalah anak orang kaya kedua di korea, banyak yeoja yang ingin menjadi pacarnya, banyak juga yang pada akhirnya dicampakan olehnya.” tambah Tae hyung.
“Jeongmalo? Sejak kapan kau tau hal-hal seperti itu? Arraso… naega arra, sekaya apapun dan setampan apapun dia, jika dia meminta hal itu aku akan meninggalkannya tanpa rasa penyesalan.” Jaemi berkata sambil menunjuk-nunjuk kedua namja tersebut dengan sumpit ramyunnya. “Dan jika itu terjadi, ya Min Wang zi? Kau boleh mengambil alih Chunji.” tambahnya sembari tersenyum menang.
“Naega? Naega wae? Kau keterlaluan Jaemi-a, tak sekalipun aku menang taruhan denganmu bahkan untuk yang satu ini kau juga yang menang.” Ungkap Wang zi kesal.
“Aaah… mianhe uri chingu? Geunde kapan kau mengajak taruhan untuk mendapatkan namja itu?” sembari memeluk Wang zi dan menepuk-nepuk bahunya. “Kaukan sudah punya Sehun, haruskah aku menggodanya juga?” Jaemi sedikit menggoda sahabatnya yang saat ini bertambah kesal.
“Coba saja jika kau berani? Maka detik itu juga aku akan membunuhmu.” Wang zi semakin kesal kemudian melepas kasar pelukan Jaemi. Mereka pun tertawa.
Like Petrichor Chapter 2

—SI DINGIN ITU BERTINGKAH BODOH—

#Author *Pov*
Keesokan hari, kebiasaan lama jika mereka mabuk-mabukan di kedai ahjumma pasti mereka bolos sekolah, bahkan guru pun sudah hafal dengan tingkah laku keempat murid kelas dua di Sopa ini. Jika salah satu dari mereka tidak masuk pasti ketiga temannya juga tidak akan masuk, tapi ini tidak berlaku jika Jung kook yang tidak masuk. Ketiga sahabatnya akan tetap masuk karena memang dialah yang sering bolos sekolah.
“Mereka bolos lagi?” Jin seonsaengnim datang sembari meletakan buku-bukunya di atas meja, sedangkan anak-anak hanya terdiam tak berani menjawab.
@Rumah Atap
“Aaaah.” Jaemi bangun dan memegang leher belakangnya, ia merasa sedikit pusing.
“Oh my god, sudah jam sepuluh, yaa Wang zi-ya ireonna?” Jaemi keluar dari tempat tidurnya, ia juga membuka jendela ruangan kecil miliknya. Wang zi merasa terganggu dengan cahaya matahari yang menyilaukannya.
“Ya nappeun yeoja!? Kau menggangu tidurku, tutup jendelanya?” teriaknya sembari menarik selimutnya. “Dimana si golden magnae dan Tae hyung?” tambah Wang zi bermalas-malasan.
“Aku mengantarkan mereka pulang, kalian benar-benar mabuk kemaren.” jawab Jaemi dengan meminum air dingin yang baru ia ambil dari lemari pendingin. Selepas itu, Jaemi mengambil handuk kemudian keluar dari ruangan kecilnya, ia menuju kamar mandi yang berada di luar ruangan kecilnya. Selesainya mandi dan memakai baju serta dandan ia bergegas keluar meninggalkan Wang zi yang masih bermalas-malasan. “Ya nappeune!? Aku pergi dulu, jika kau ingin pulang minta jemput Jung kook atau Tae hyung dan jangan lupa mengunci pintu?” perintah Jaemi sembari menutup pintu. Mendengar sahabatnya menutup pintu Wang zi bergegas bangun dan loncat dari tempat tidur, ia berlari membuka pintu.
“Ya nappeun yeoja!? Kau mau kemana?” Teriaknya dari atas.
“Berisik, berhenti berteriak-teriak?” Jaemi tetap menuruni anak tangga tanpa melihat kearah sahabatnya. “Nanti akan aku hubungi, sekarang aku benar-benar harus pergi.” Kini ia membuka pintu mobilnya. Melihat Jaemi pergi Wang zi kesal, ia menghubungi Tae hyung untuk menjemputnya.
@Incheon House
“Eomma, aku datang?” Jaemi membuka sepatu yang ia kenakan. Nyonya Im memeluk Jaemi anak kesayangannya yang ia rindukan, begitupun anaknya yang juga melakukan hal yang sama. Ia menyiapkan makanan kesukaan anak perempuan satu-satunya. “Tteokkbeokki” alias kue beras pedas kesukaan Jaemi.
“Apa kau nanti tidur di rumah Jaemi-a?” wanita cantik itu masih memandangi Jaemi dengan rasa tidak percaya. Terang saja nyonya Im terkejut melihat anak kesayangannya pulang, setelah sekian lama anaknya tidak pulang ke rumah. Biasanya ketika nyonya im menelpon menyuruh anaknya pulang, pasti Jaemi tidak mau pulang. Jaemi lebih memilih berbohong kepada ibunya, berasalan bahwa di sekolah banyak tugas yang harus ia kerjakan.
“Aku rasa tidak eomma.” jawab Jaemi sembari menyantap tteokbeokki kesukaannya.
“Iya, gadis kecil eomma ini sudah dewasa sekarang.” masih tetap dengan memandangi Jaemi yang asyik makan tteokkbeokki.
“Eomma akan menelpon die appa.” Nyonya Im berdiri menuju telpon rumah, sedangkan Jaemi hanya menganggukan kepala.
Sekitar pukul empat sore ayah Jaemi pulang dari perusahaan, saat itu juga ia pamit untuk kembali ke Seoul. Tuan Im tidak mengijinkannya dikarenakan hari sudah sore.
“Appa baru saja pulang, tapi kau malah mau pergi.” ucap tuan Im sambil meletakan tasnya di tangan istrinya.
“Juisonghabnida appa, aku harus kembali ke Seoul.” Jaemi memeluk ayahnya, namun tetap saja ayahnya tidak mengijinkannya kembali ke Seoul. Meskipun ia beralasan akan ada ulangan di kelas, bahkan ia juga mengatakan bahwa ia sudah bolos sekolah tanpa memberi tahu gurunya terlebih dahulu. Tuan Im malah menawarkan diri untuk mengantarkannya besok, yaah… kali ini Jaemi bisa berkata apa, ia lebih memilih mengiyakan ayahnya ini.
Di sisi lain seorang namja tengah berjalan seorang diri melewati jalanan setapak, ia menatap tajam beberapa namja yang berada di depannya.
“Kau masih ingat kami bocah?” Tanya salah satu dari namja-namja yang tengah berdiri sembari menyilakan kedua tangannya.
“Aaah… ahjushi waktu itu?”
#Tao *Pov*
Aku tersenyum kecut pada beberapa namja yang tengah menatapku dengan sinis. Perlahan mereka mendekat kearahku, ketika mereka semakin mendekat aku membuang puntung rokok kearah mereka. Kami berkelahi dengan tidak imbang, untuk sesaat aku berhasil menghajar mereka. Namun semua ini tak bertahan lama karena aku kalah jumlah, mereka terlalu banyak untuk kukalahkan seorang diri. Kini mereka benar-benar memukuliku sampai aku terjatuh di jalan, mereka juga menginjak-injak tubuhku.
“Gaja? Itulah akibatnya jika kau bermain-main denganku bocah kecil.” Ungkap seorang namja bermata sipit dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju rumah Kai, mana mungkin aku pulang ke rumahku di saat seperti ini. Apa kata orang tuaku jika tau aku berkelahi lagi? Mereka pasti akan memarahiku dan mungkin semua fasilitas yang diberikan padaku akan dicabut oleh mereka.
“Keluarlah aku berada di depan rumahmu?” Aku menghubungi sahabat terbaikku, mungkin saja anak ini terbangun karena panggilan teleponku, terdengar dari suaranya.
#Jaemi *Pov*
Makan malam di rumah Incheon disertai obrolan dan candaan kecilku beserta kedua orang tuaku. Sebenarnya aku merindukan hari-hari seperti ini, mengingat sudah satu tahun setengah aku berada di Seoul, bahkan ketika liburan sekolah pun aku lebih memilih berlibur dengan ketiga sahabatku.
-Drrt… drrt… drtt-
Aku mendengar ponselku bergetar, bergegas aku mengangkat panggilan telepon dari salah satu sahabatku.
“Eo… jungseyo Wang zi-ya?”
“Eodi e?”
Yaah… seperti itulah teman-temanku berisik, mereka berebut ponsel yang sedari tadi dipegang Wang zi. Aku sedikit menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Hey gadis jalang, kau kemana saja?”
“Berani sekali kau memanggilku gadis jalang brengsek?”
Aku tahu Jung kook hanya bercanda, sebenarnya dia mengawatirkanku. Dari kejauhan terdengar suara eomma memanggilku dan memintaku manghabiskan makananku terlebih dahulu, aku hanya mengiyakannya dengan singkat.
“Yaa! Sebenarnya kau dimana? Aku di kedai ahjumma cepatlah kesini nappeun yeoja?” Pasti itu Wang zi, hanya dia yang memanggilku dengan sebutan nappeun yeoja.
“Aku di Incheon house…”
Belum sempat melanjutkan, Wang zi sudah marah-marah padaku. Terang saja dia marah padaku pasalnya aku telah berjanji untuk mengajak ketiga sahabatku ke rumahku yang berada di Incheon.
“Yaa sikero..?”
“Jaemi-a selesaikan makanmu dulu sayang.”
Mungkin sudah terlalu lama aku mendengarkan ocehan dari Wang zi. Sampai-sampai aku melupakan pesan dari eomma, kini uri appa sudah berdiri di belakangku.
“Arraso appa, sebentar lagi aku akan ke meja makan.”
“Yaa…!? Kalian pulanglah dari kedai ahjumma jika tidak kalian besok akan kena masalah di sekolah?” perintahku pada ketiga sahabatku.
“Apa kau besok masuk?”
“Of crouse, nan kenheo.”
-PLIP-
Aku menutup panggilan telepon yang membuat telingaku panas kemudian segera menuju meja makan yang sedari tadi aku tinggalkan. Sembari duduk aku tersenyum manis pada kedua orang tuaku yang tengah memandangiku.
“Kau masih sering ke klub malam?” pertanyaan appa menghentikan makanku, dengan perlahan aku melihat kearahnya.
“Benarkah kau masih sering ke klub malam sayang?” Tanya eomma yang mengaharapkan aku menjawab “Tidak”. Orang tuaku tahu bahwa aku sering ke bar, bahkan sejak aku duduk di bangku tiga smp aku sudah mengenal dunia malam, dunia yang seharusnya tidak kukenal. Terkadang eomma merasa cemas dengan kebiasaanku ini, mengingat aku adalah anak gadis satu-satunya yang ia miliki. Aku hanya terdiam, berharap appa tidak marah padaku.
“Appa tidak melarangmu melakukan hal-hal yang kau sukai Jaemi, tapi kau harus ingat untuk menjaga dirimu sendiri.” Mendengar pernyataan appa aku sangat lega, tentu saja appa tidak akan marah padaku karena appa percaya bahwa aku tidak akan melakukan hal-hal yang akan mempermalukannya.
“Tentu appa.” Aku menyelesaikan makan malamku.
#Author *Pov*
@Sopa School
“Jeon jung kook, Kim tae hyung, Min wang zi dan Im jaemi, dimana Jaemi?” Tanya seonsaengnim ketika melihat tempat duduk Jaemi kosong tak berpenghuni. “Kalian bertiga pergilah keruang tatib?” printahnya lagi. Kali ini mereka tidak akan selamat dari guru tatib yang selalu mengincar mereka berempat.
“Wang zi-ya… dimana Jaemi? Kita akan mati kalau tidak ada dia.” Tanya Jung kook khawatir kalau-kalau sahabatnya tidak datang lagi sedangkan Tae hyung berjalan dengan tenang dan santai.
“Dia bilang masih di perjalanan.” Jawab Wang zi sembari mengecek ponselnya. Sesampai mereka di ruang tatib Jung kook sangat ketakutan, berbeda dengan Tae hyung yang berdiri dengan santai. Sedangkan Wang zi terus melihat kearah jendela berharap melihat mobil Jaemi terparkir di halaman. Jung kook terus membisiki Wang zi dan bertanya dimana Jaemi, membuatnya kesal saja. Guru tatib menanya-nanyai perihal ketidakhadiran mereka kemaren.
Ketika Tae hyung hendak membantah, pintu telah terbuka sosok Jaemi masuk kemudian membungkukan tubuh pada guru tatib.
“Juisonghabnida seonsaengnim.” Ungkap Jaemi dengan nafas terengah-engah.
Jaemi menjelaskan kenapa ia tidak masuk kemaren, ia mengatakan bahwa orang tuanya menyuruhnya pulang ke rumah. Awalnya seonsaengnim tidak percaya dengan alasannya, seonsaengnim meyakini bahwa mereka bolos bersama.
#Jaemi *Pov*
Aku keluar dari mobil uri appa dan berlari menuju kelas, sesampainya aku di kelas salah satu temanku mengatakan bahwa sahabat-sahabatku tengah berada di ruang tatib. Aku sudah mengira ini pasti akan terjadi mengingat kemaren aku dan teman-temanku tidak masuk bersama-sama.
“Aaaa… ini pasti akan jadi hari yang menyebalkan.” Ucapku dalam hati sambil berlari. “Juisonghabnida seonsaengnim.” Nafasku terengah-engah setelah berlari-lari menuju ruang tatib. Aku menjelaskan kenapa aku telat dan kenapa aku tidak masuk kemaren. Seakan tak mau kalah denganku Jung kook dan Wang zi juga berasalan mengenai ketidakhadiran mereka kemaren. Aku dan kedua temanku bersiap-siap menahan tawa, seolah-olah kami telah mengetaui bahwa Tae hyung akan berasalan yang tidak masuk akal. Di antara kami berempat Tae hyung lah yang paling bodoh dalam hal mencari alasan dan diantara kami berempat tentu akulah yang paling jago dalam berasalan. Bahkan aku adalah inspirasi pencari alasan bagi teman-temanku, karena alasan yang tidak masuk akal Tae hyung, dia harus terkena hukuman berupa berjemur di tengah lapangan. Cuaca saat ini panas sekali, aku dan kedua sahabatku melihatnya dari tempat duduk yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Yaa sekiya! Lebih baik kalian masuk.” teriak Tae hyung menahan malu.
Teng-teng bel tanda istirahat berbunyi, jam pelajaran pertama telah usai. Aku dan teman-temanku bolos jam pertama, pelajaran jam pertama adalah matematika, dari pada aku harus maju mengerjakan soal-soal yang tidak aku pahami lebih baik aku menemani Tae hyung.
“Hey lihatlah Tae hyung eoppa berada di lapangan.” Ungkap salah satu yeoja yang baru saja keluar dari kelas. Aku dan teman-temanku mendekati Tae hyung untuk memberi minuman padanya.
“Yaa namja! Kau minum ini?” Aku melemparkan sebotol minuman padanya.
“Apa perdulimu? Teman apa kalian ini membiarkan aku sendiri disini?” ucap Tae hyung kesal sembari membuka tutup botol dan meminumnya.
“Ho ho lihatlah Tae hyung marah, salah sendiri mana ada bolos sekolah dikarenakan ikan mati. Kau benar-benar payah Tae hyung-a.” ledek Wang zi sembari merangkul lengan sahabatnya ini, Tae hyung mencoba untuk melepaskan rangkulannya. Dari jauh terdengar seorang yeoja berkata “Tae hyung eoppa ini minuman untukmu.” Aku menahan tawa melihat yeoja itu mendekat karena baru saja Jung kook melakukan hal yang bodoh.
“Eoo, gomawo… yaa chingu-ya gaja?” Tae hyung mengajak kami pergi menuju atap gedung. Sesampainya di atap gedung Wang zi mengeluarkan rokok dari dalam tasnya.
“Ya Tae hyung-a? Kau jahat sekali.” kataku sambil mengambil rokok milik Wang zi. Kami biasa merokok di atap gedung, karena jarang sekali ada guru yang kemari.
“Aku tak habis pikir dengan yeoja itu, kenapa dia terus saja menggangguku?” ucap Tae hyung dengan memainkan asap rokok di mulutnya.
“Yaa… yaa… nanti malam kita harus pergi.” Kenapa dengan Wang zi? Apa dia tahu sesuatu? “Jangan dibahas lagi yeoja kelas satu itu.” Tambahnya.
Yeoja itu telah lama menyukai Tae hyung, tapi Tae hyung tak pernah meresponnya. Dibilang cantik, yeoja itu memang cantik, bahkan yeoja itu adalah salah satu siswi terpintar di angkatan kelas satu. Entah apa yang membuat yeoja itu begitu menyukai si pendiam Tae hyung. Bahkan ketika ulang tahun Tae hyung, dia memberi kue ulang tahun untuk sahabat pendiamku ini, tapi Tae hyung malah meninggalkannya di kelas. Aku tak habis pikir dengan Tae hyungku ini jelas-jelas yeoja itu benar-benar menyukainya.
Teng teng bel kembali berbunyi tanda jam kedua akan segera di mulai. Aku dan teman-temanku masih asyik merokok sembari bercanda. Sebenarnya aku malas masuk kelas, jam kedua di hari rabu adalah fisika guru ini selalu menyuruhku mengerjakan soal-soal yang membuat kepalaku ingin pecah.
“Sebelum aku kena hukum lagi, ayo kita kembali ke kelas?” ajak Tae hyung dengan mematikan puntung rokok miliknya. Jung kook dan Wang zi pun mengikutinya tak terkecuali aku, sambil di tarik Wang zi aku berjalan dengan malas. Kami berjalan menuruni tangga dan melewati koridor. Saat ini koridor sangat sepi, terang saja jam kedua sudah dimulai dari lima belas menit yang lalu, tapi aku dan ketiga sahabatku dengan asyiknya menikmati perjalan kami menuju kelas. Sepanjang jalan menuju kelas banyak anak kelas satu yang memanggil-manggil namaku dan teman-temanku. Siapa yang tidak kenal kami berempat, siswa dan siswi ternakal di Sopa. Sesampainya kami di kelas, kami beralasan dari ruang tatib, seonsaengnim pun menyuruh kami untuk duduk.
“Hana, dul, set, net, dasot.” Ketiga temanku menghitung bersama-sama. Saat di hitungan kelima terdengar suara “Im jaemi, maju dan kerjakan soal ini.” Sesuai dengan perkiraanku, seongsaengnim pasti menyuruhku maju. Dengan kesal aku berdiri “Fighting Jaemi-a” Wang zi menyemangatiku dengan suara lirih, aku berjalan menuju white board kemudian mengambil boardmarker, untung saja boardmarker yang aku ambil tintanya sudah mau habis. Hari ini aku terselamatkan, dalam hati aku berkata terima kasih Tuhan.
#Author *Pov*
@kedai kopi
“Eoppa anyeong” sapa Jaemi dari kejahuan. Sepulang sekolah ia langsung menuju kedai kopi yang tak jauh dari sekolahnya.
“Kau sudah datang, anja?” perintah laki-laki tampan yang sedari tadi menunggunya. Laki-laki ini adalah salah satu target Jaemi selanjutnya, mereka masih dalam tahab pendekatan, Chunji eoppa biasa Jaemi memanggilnya.
Sepulang sekolah tae hyung mengangkat panggilan telepon dari teman beda sekolahnya. Temannya mengatakan bahwa salah satu dari teman-temannya sedang babak belur, segera ia menuju ke tempat teman-temannya berada.
“Kenapa dia?” Tanya tae hyung sesampainya di dalam kamar.
“Beberapa minggu yang lalu aku menolong seorang yeoja yang diganggu oleh dua ahjushi, aku berhasil mengalahkan mereka. Aku tidak tahu kalau semalam mereka memanggil teman-temannya untuk memukuliku.” Ungkap namja yang tengah membaringkan diri di ranjang dengan banyak luka memar di wajah dan sekujur tubuhnya.
#Tae hyung *Pov*
Malam ini aku dan banyak teman namjaku termasuk Jung kook pergi untuk menemui orang-orang yang berani mengganggu salah satu dari sahabatku.
“Hoii… ahjushi?” ungkap ketua dari kelompok kami, dia bernama Kim nam joon yang juga menjadi pekerja bartender. “Masih ingat denganku?”
“Aaah… kau anak ingusan dari Incheon yang dulu babak belur oleh kami.” Ledek namja bermata sipit.
Bersambung…
Next Episode
“Bunuh dia?” perintah ahjushi yang seketika banyak namja yang keluar dari gudang. Aku melihat seorang namja hendak menusuk Nam joon hyung,
“Aaah… eotheoke? Jaemi akan mengomel jika tahu kita berkelahi lagi.”
Si sekiya ini adalah namja yang nappeun, setiap kali yeoja yang mendekatinya akan berakhir dengan air mata. Si brengsek satu ini hanya mendekati yeoja-yeoja untuk menemani malamnya, benar-benar namja yang brengsek.
Dia punya tatapan yang killer, pertama kali aku mengenalnya aku kira dia tidak menyukaiku karena tatapannya itu. Dia tidak suka bermain yeoja, aku juga dengar dia tipikal namja yang setia.
“Tidurlah disini? Kau akan dimarahi appamu jika pulang!” aku tak mendengar respon darinya. “Yaa namja!?”
“Yaa Tae hyung-a! Aku sudah mengantuk, aku tidur dulu ya? Jika kau mau tidur pakai kasur lipat dalam lemari.” Aku memang berusaha untuk menghindari namja yang satu ini, saat ini otaknya sedang tidak waras.
“Bicara sekali lagi aku akan membunuhmu?” anacamku.
“Kau tidur dimana malam ini, kau tidak pulang ke rumahkan?”
“Kau bertanya seolah-olah kau ini pacarku, aku tidur bersama yeoja saat ini.”
“Heol… sahabatku ini sudah bertobat, bahkan kau juga trouma dengan malam pertamamu.
“Eoppa gwenchana… aku akan datang nanti malam dan bermalam bersamamu.” mendengar pernyataanku namja di depanku mendadak tersenyum lebar.
Aku melihat namja itu semakin mendekat, dalam hati aku berkata “Oh my god, namja ini tampan sekali.”
“Eoppa, kenapa kau melihatku seperti itu?” ucapku sambil menikmati permainan musik dari DJ.
#FF ini sudah pernah aku upload di idku kalau ingin tahu kelanjutannya silahkan kunjungi idku….

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s