(Chapter 5) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 5)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

Guest :

* Lee Hoya as Lee Howon (INFINITE)

* Jang Dongwoo (INFINITE)

* Lee Minho

 Mianhae lama soalnya author bikin request dulu. Karena dah banyak yang menagih ff ini jadi ini kupersembahkan Chapter ke 5.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

5

Destiny

 

Minhee menyelimuti tubuh Hyerim yang tersenyum melihatnya. Diapun duduk dan menatap Hyerim seraya menyunggingkan senyuman.

“Tidurlah eomma.” Ucap Minhee.

Hyerim menyentuh tangan Minhee dan menggenggamnya erat seakan tak ingin melepaskan tangan yang dianggap putrinya itu.

“Kau tidak akan pergi kan Yena-ya?” Tanya Hyerim penuh harap.

Minhee menggeleng menggenggam tangan Hyerim.

Aniyo  eomma. Aku akan di sini menemani eomma.”

Hyerimpun tersenyum bahagia sebelum akhirnya bersiap menutup matanya. Minhee menepuk-nepuk pelan tangan Hyerim hingga wanita tua itu terlelap. Terdengar helaan nafas dari bibir  Minhee. Dengan sangat hati-hati Minhee melepaskan tangan Hyerim. Melihat Hyerim yang sudah beralih ke dalam alam mimpi, Mimheepun berjalan keluar. Sebelum membuka pintu Minhee menoleh melihat keadaan Hyerim sebelum meninggalkannya. Dengan hati-hati Minhee menutup pintu kamar rawat rumah sakit.

“Kau terlihat cocok dengan seragam itu.”

Minhee terlonjak kaget mendengar suara Sunggyu yang tiba-tiba. Minhee mengelus dadanya yang menjadi berdetak lebih cepat.

Mianhae aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Sesal Sunggyu.

Minheepun jadi teringat Sungjong yang biasanya mengagetkannya. Sudah tiga hari Minhee tak menemukan malaikat cerewet itu. Meskipun Minhee merasa terbebas dari ocehan Sungjong tapi tetap saja Minhee memikirkan malaikat itu.

“Minhee-ssi. Kau tidak apa-apa?” Sunggyu melambaikan kedua tangannya menyadarkan Minhee.

Nde? Kau berkata apa tadi Sunggyu-ssi?”

“Aku berkata, kau sangat cocok dengan seragam itu.” Ucap Sunggyu kembali.

Mimhee menunduk dan melihat seragam biru milik Yena.

jiyoun-0421-1

“Itu pujian atau hinaa Sunggyu-ssi?”

Minhee melihat kesal seragam SMA yang dikenakannya. Karena harus menjadi Yena, Minhee terpaksa mengenakan seragam gadis itu.

“Tentu saja itu pujian Minhee-ssi.”

Minhee mendengus tak percaya.

“Aku bahkan tidak tahan mengenakan ini. Aku harus segera menggantinya.”

Sunggyu tertawa melihat Minhee terlihat tidak nyaman mengenakan seragam itu.

“Ne. Aku akan menunggumu di mobil.” Ucap Sunggyu berbalik pergi.

Langkah Minhee terhenti saat mengingat hal yang aneh.

“Oh ya Sunggyu-ssi.”

Sunggyu berbalik dan menatap Minhee bingung.

Nde?”

“Sedari tadi aku tidak melihat Howon. Di mana dia?” Minhee bertanya.

“Howon bilang ada urusan sebentar dan akan segera kembali.”

Minhee mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Sunggyu.

“Baiklah. Aku mengganti bajuku dulu.”

Minheepun berbalik menuju kamar mandi. Sedangkan Sunggyu menyungingkan senyuman melihat Minhee. Diapun berbalik dan berjalan keluar rumah sakit. Dengan santai laki-laki itu berjalan seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Langkah kaki Sunggyu terhemti saat melihat seseorang yang dikenalnya. Namun Sunggyu merasa aneh melihat Howon hanya mengenakan kaos merah di udara dingin seperti ini.

“Howon-ssi?”

Laki-laki itu mendongak dan Sunggyupun bisa melihat wajah Howon dengan jelas. Meskipun sekilas Sunggyu bisa melihat ketakutan diwajah Howon.

“Ohh… Sunggyu-ssi. Apa nona Park sudah selesai?” Tanya Howon memaksakan sebuah senyuman.

“Ne. Jiyeon sedang berganti pakaian sekarang.”

Gamsahamnida Sunggyu-ssi.”

“Jangan berterimakasih padaku karena bukan aku yang menolongmu tapi Jiyeon.”

“Ne kau benar. Aku akan mengucapkannya pada nona Park.”

“Hmm… Howon-ssi. Apa kau tidak merasa dingin hanya mengenakan pakaian itu?”

Howonpun menunduk dan melihat kaos merah yang dikenakannya. Jujur tubuh Howon saat ini sudah membeku tapi dia hanya tersenyum tipis pada Sunggyu.

“Memang udara sangat dingin. Tapi mau bagaimana lagi aku lupa membawa jaketku.”

Sunggyu hanya tertawa mendengar kelalaian Howon.

“Lain kali jangan sampai lupa Howon-ah. Jangan biarkan tubuhmu sakit. Jika kamu sakit siapa yang akan menjaga eommamu.”

“Ne gamsahamnida Sunggyu-ssi. Kalau begitu aku akan masuk dulu melihat eommaku.”

“Ne.”

Sunggyupun memgamati Howon yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia hanya menggelengkan kepalanya merasakan keanehan pada Howon. Namun Sunggyupun mengangkat bahunya tak perduli dan berjalan menuju mobilnya.

*   *   *   *   *

Setelah meletakkan tas di kursi, Jiyeon menghampiri Myungsoo yang berada di dapur. Gadis itu tersenyum geli melihat Myungsoo mengenakan apron berwarna biru tua kotak-kotak.

3d79f68d7c550b86955f0baa9be7a6e6

Biasanya dia hanya melihat Myungsoo mengenakan setelan kantor yang membuatnya sangat tampan, tapi anehnya sekarang Myungsoo masih tetap mempesona dengan apron itu.

“Jadi tuan Kim apa yang hendak kau masak?” Tanya Jiyeon.

Myungsoo memegang dagunya berpikir.

“Bagaimana dengan spaghetti?”

“Hhmm…. Sepertinya sangat lezat. Aku akan membantumu Oppa.”

Jiyeon mengambil apron berwarna pink lalu mengenakannya. Dirasakannya Myungsoo berdiri di belakangnya menarik tali apronnya dan mengikatnya. Myungsoo tersenyum melihat Jiyeon begitu manis dengan apron yang dikenakannya.

“Jadi apa yang bisa kubantu?” Tanya Jiyeon setelah selesai memasang apronnya.

“Apa kau yakin ingin membantuku Minhee-ya?”

“Apa Oppa meremehkan kemampuanku?”

Aniyo. Aku hanya merasa terkejut melihat seorang Tae Minhee berada di dapur.”

Tubuh Jiyeon membeku. Dia lupa jika saat ini dia berada di dalam tubuh Minhee.

“Minhee-ya… Minhee-ya… Kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo menyadarkan Jiyeon.

“Aku tidak apa-apa Oppa. Meskipun tidak pernah memasak tapi aku ingin membantumu Oppa.”

Myungsoo tersenyum mendengar ucapan yang tulus dari Jiyeon.

“Baiklah. Kalau begitu bagaimana jika kau mencuci mie itu?” Ucap Myungsoo menunjuk mie spaghetti yang ada di mangkuk besar.

“Baiklah.”

Jiyeon mengambil mangkuk itu dan dan mencuci mie spaghetti itu.

TINGG… TOONGGG….

Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu.

“Biar aku saja yang membuka pintu.” Ucap Myungsoo melepaskan apron dan berjalan cepat menuju pintu.

Saat pintu terbuka Myungsoo bisa melihat seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dengan membawa sebuah kotak yang dibungkus kertas kado berwarna merah polos.

“Saya ingin mengantarkan paket ini tuan.” Ucap laki-laki itu menyerahkan kotak itu.

“Untuk siapa paket ini?” Myungsoo mengamati kotak itu bingung.

“Untuk nona Minhee.”

“Tapi bagaiamana kau tahu….” Ucapan Myungsoo terputus saat tak lagi melihat laki-laki tadi.

“Siapa Oppa?” Tanya Jiyeon keluar dari dapur dan menghampiri Myungsoo.

“Ada seseorang mengantarkan paket ini untukmu.” Myungsoo menyerahkan kotak itu pada Jiyeon.

“Untukku?” Bingung Jiyeon.

“Ne.”

“Tapi bagaimana bisa dia tahu aku ada di apartementmu Oppa?”

Myungsoo mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya tidak tahu menahu masalah itu. Jiyeon memgamati kotak berwarna merah itu bingung lalu tangannya terulur membuka kotak itu.

“KKKYYYAAA……” Teriak Jiyeon menjatuhkan kotak itu.

Kotakpun terbuka dan terlihat darah merah kental berada di dalam kotak. Percikan darahpun membasahi lantai karena Jiyeon menjatuhkannya begitu saja. Bau amispun menusuk hidung Jiyeon dan Myungsoo.

Mengetahui itu adalah sebuah teror yang sengaja ditujukkan pada Minhee, segera Myungsoo berlari keluar hendak mencari laki-laki pengirim paket tadi. Dengan cepat Myungsoo menuruni tangga hingga dari lantai 8 hingga lantai 10. Kaki Myungsoo dengan lincah menuruni beberapa anak tangga sekaligus. Tanpa lelah Myungsoo terus berlari hingga sampai di lantai 1. Dia segera membuka pintu dan berlari menuju lobi.

Lari Myungsoo terhenti dan laki-laki itu mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki tadi. Tak menemukannya, Myungsoo berlari keluar. Udara dinginpun langsung menutupi kulit Myungsoo yang hanya mengenakan kemeja tanpa baju hangat. Myungsoo melihat sekelilingnya namun tak kunjung menemukan laki-laki pengirim paket itu.

“Anda mencari siapa tuan Kim?” Tanya seorang penjaga yang menghampiri Myungsoo.

“Apa anda melihat seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dan topi hitam keluar dari gedung ini?”

Penjaga itupun menggeleng menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Tidak tuan Kim. Saya tidak melihatnya. Apa terjadi masalah?”

“Ne. Orang itu sudah meneror tunangan saya dengan mengirim sekotak darah.”

“Saya akan segera menyelidikinya tuan Kim.”

“Ne. Kalau begitu kirimkan petugas kebersihan ke apartementku.”

“Ne tuan kim.” Penjaga itu membungkuk sebelum Myungsoo pergi.

Myungsoopun kembali masuk ke dalam gedung dan memilih naik lift untuk naik ke lantai 10. Tak lama kemudian dia sampai kembali di apartementnya yang berbau darah yang sangat menyengat. Myungsoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan menutup hidungnya.

“Minhee-ya… Minhee-ya…” Panggil Myungsoo mencari keberadaan Jiyeon.

Myungsoo mendapati Jiyeon berada di dapur tepat saat gadis itu selesai menelpon.

“Kau tidak apa-apa?” Cemas Myungsoo.

Dengan paksa Jiyeon menyunggingkan senyumnya.

“Ne. Aku tidak apa-apa Oppa. Aku sudah menelpon Nam biseonim untuk memeriksa paket yang datang lagi.”

“Lagi?” Bingung Myungsoo.

“Ne. Dua hari yang lalu aku mendapatkan paket tikus mati. Dan aku yakin orang yang mengirim paket ini sama dengan paket pertama.” Jelas Jiyeon.

Jiyeon menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Mata Myungsoo bisa melihat tangan Jiyeon bergetar karena ketakutan. Myungsoopun melangkah menghampiri Jiyeon dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dengan lembut Myungsoo mengelus punggung gadis itu meredam ketakutannya.

“Jangan takut Minhee-ya. Tak akan kubiarkan orang itu menyentuhmu.”

Ucapan Myungsoo terdengar seperti janji dan hal itu membuat Jiyeon merasa lebih tenang. Tubuhnya yang bergetarpun mulai membaik merasakan dalam pelukan Myungsoo yang terasa nyaman.

*   *   *   *   *

Mobil Sunggyu berhenti tepat di depan rumah Jiyeon. Saat hendak mengucapkan terimakasih pada Sunggyu, mata Minhee  menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut. Meja dan kursi dalam restoran kecil milik Jikyeong berserakan di lantai. Tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang tengah menarik rambut Jikyeong.

“Apa yang terjadi?” Tanya Sunggyu yang sama kagetnya dengan Minhee.

“Entahlah tapi aku akan mencari tahu.” Minhee segera melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil Sunggyu.

“Kapan kau akan membayar ahjuma?” Tanya laki-laki yang mengenakan jaket kulit merah.

“Besok tuan Hwang.” Jawab Jikyeong seraya menahan sakit di kepalanya.

Laki-laki bermarga  Hwang itu berjongkok di hadapan Jikyeong dan menarik rambut Jikyeong lebih kuat lagi.

“Aku sudah muak dengan janjimu itu Jikyeong-ah.” Marah Hwang.

“YA!!! lepaskan eommaku.” Seru Minhee.

Hwang menoleh mendengar suara Minhee. Laki-laki itu melepaskan rambut Jikyeong dan berdiri. Senyuman yang sangat tidak ramah muncul di wajah garangnya.

“Gadis manis berani sekali kau membentak ahjushi eoh?” Ucap Hwang mendekati Minhee.

Minhee perlahan melangkah mumdur dan memasang sikap waspada.

“Kenapa kau menyakiti eomma?” Tanya Minhee.

Laki-laki itu tersenyum sinis mendengar pertanyaan Minhee.

“Karena eommamu berbohong padaku.”

“Berbohong?” Bingung Minhee.

“Eommamu mengatakan hari ini dia membayar hutangnya tapi ternyata dia tak bisa membayarnya.”

Laki-laki itu melihat tubuh Minhee yang mengenakan setelan berwarna hitam dengan rok diatas lutut. Tatapan penuh nafsupun terlihat dimata laki-laki itu. Minhee segera menutup arah pandang laki-laki itu.. Tangannya terulur menyentuh pipi Minhee.

“Bagaiamana jika kau membayar hutang eommamu dengan tubuhmu nona?” Tawar Hwang.

Minhee tersenyum sinis lalu dengan kasar gadis itu menepis tangan laki-laki itu.

“Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu.” Jawab Minhee dingin.

“Ciihh… Gadis miskin sepertimu berani menghinaku HUH?” Marah laki-laki itu.

Minhee mulai geram dengan tingkah laki-laki itu.

“Kau bahkan tidak bisa membayar hutang ibumu tapi masih juga jual mahal eoh?” Hina Hwang.

“Berapa?”

MWO?” Bingung laki-laki itu.

“Berapa hutang itu?”

“5 juta won. Bukankah uang itu sangat banyak bagi gadis miskin sepertimu bukan?”

“Aku akan membayarnya.”

Ucapan Minhee membuat Hwang terdiam. Namun sedetik kemudian laki-laki itu tertawa diikuti anak buahnya.

“Aiiggooo… Apa  kau sedang mabuk gadis manis? Bagaimana bisa kau memiliki uang sebanyak itu?” Ucap laki-laki itu meremehkan.

Amarah Minhee memuncak. Dia menginjak kaki laki-laki itu menghentikan tawanya dan digantikan ringisan kesakitan.

“YA!! Anak sialan berani sekali kau menginjakku HUH?”

Dengan kasar Hwang hendak melayangkan tangannya kearah Minhee. Namun sebuah tangan menahan laki-laki itu. Minhee menoleh dan melihat pemilik tangan itu tak lain dan tak bukan adalah Sunggyu.

“Sunggyu-ssi.” Kaget Minhee.

Ada yang berbeda dengan Sunggyu yang Minhee lihat saat ini. Aurabyang dikelarkan laki-laki itu begitu gelap dan menyeramkan. Bahkan Minhee bisa tatapan yang haus membunuh di mata Sunggyu.

infinite_back_sunggyu_1

Sebuah senyuman sinis keluar dari bibir Sunggyu. Bukan senyuman ramah dan menenangkan yang biasa Minhee lihat tapi kali ini lebih terlihat senyuman evil yang menakutkan.

“Berani sekali kau memukul seorang gadis HUH?” Bentak Sunggyu langsung meninju perut laki-laki itu hingga terhuyung ke belakang.

Melihat leader mereka diserang dua orang anak buah Hwang maju hendak melawan Sunggyu.

“Jadi kalian juga ingin melawanku eoh?”

Minhee merasa merinding mendengar nada suara Sunggyu layaknya predator yang hendak menyerang mangsanya. Dua orang laki-laki mendekati Sunggyu.

“Baiklah akan kulayani.”

Salah satu dari orang itu berlari dan dengan cepat Sunggyu menahan kerah jaketnya dan melayangkan pukulan-pukulan hingga Sunggyu melepaskan genggamannya. Tidak terima melihat temannyan dengan mudah kalah laki-laki lain mengambil kursi lalu memukul kepala Sunggyu. Minhee terkejut dengan  kejadian itu bahkan gadis itu sampai menutup mulutnya tak percaya.

Sunggyu yang awalnya terdiam langsung menoleh. Tatapan tajam Sungggyu terarah pada pemuda yang mengenakan kaos merah yang sudah memukul kepalanya dengan kursi. Tangan Sunggyu menyentuh darah yang mengalir di pelipisnya. Bibir Sunggyu tersenyum bak seorang vampir yang mencium darah.

“Apa hanya ini kemampuanmu?” Remeh Sunggyu.

Dengan sekali pukulan di perut mampu membuat pemuda itu terjatuh.

“Ada yang masih ingin melawanku?” Tawar Sunggyu.

Ketiga laki-laki itu seketika mundur ketakutan.

“Besok aku pasti akan kembali menangih uang yang kau janjikan gadis sialan.” Teriak Hwang berlari pergi diikuti kedua anak buahnya.

Terpana Minhee menghampiri Sunggyu yang masih terdiam mengamati kepergian ketiga penagih hutang itu. Tangannya menyentuh bahu Sunggyu yang seketika tersadar. Diapun meringis kesakitan saat merasakan sakit di kepalanya. Sunggyu menoleh menatap Minhee bingung. Kali ini wajah Sunggyu sudah kembali normal.

“Apa yang terjadi?” Bingung Sunggyu.

“Kau…. Kau tidak sadar dengan yang kau lakukan?”

Sunggyu menggeleng. Minheepun bisa melihat darah masih mengalir di puncak kepala Sunggyu.

“Ayo aku akan mengobatimu terlebih dulu.” Ucap Minhee menarik Sunggyu masuk.

*   *   *   *   *

Jiyeon masih terdiam dalam mobil Myungsoo. Bayangan sekotak darah masih lekat di pikiran Jiyeon.

Pertama tikus mati, kedua darah, lalu ketiga akankah orang itu membunuhku? Tanya Jiyeon dalam hati.

Pemikiran dirinya akan dibunuh membuat Jiyeon merinding ketakutan. Dia menggenggam kedua tangannya erat. Dari ujung matanya Myungsoo bisa melihat ketakutan Jiyeon.

Mobil Myungsoo berhenti tepat di depan rumah Minhee. Myungsoo menoleh dan mengulurkan tangan menggenggam tangan Jiyeon. Tersadar dari lamunannya, Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo mencemaskan Gadis itu.

Jiyeon menyunggingkan senyuman tipisnya.

“Aku… Aku tidak apa-apa Oppa.”

“Apa aku orang asing untukmu Minhee-ya?”

Aniyo Oppa. Kenapa kau menanyakan hal itu?” Jiyeon menatap Myungsoo bingung.

“Karena kau tak pernah menunjukkan apa yang kau rasakan. Tidak bisakah kau membiarkanku mengetahui perasaanmu?”

Jiyeon terdiam tak tahu harus menjawab apa.

“Kau tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa padahal dalam hatimu kau sangat ketakutan.”

Terdengar helaan nafas Myungsoo diiringi tangannya yang berpindah ke pipi Jiyeon.

“Aku mohon berbagilah perasaanmu padaku, aku juga ingin merasakan apa yang kau rasakan Minhee-ya.”

Jiyeon tersentuh mendengar ucapan Myungsoo yang menunjukkan betapa laki-laki itu mencintai Minhee.

Took… Tookk.. Took….

Sebuah ketukan menyadarkan keduanya menuju dunia nyata. Jiyeon menoleh dan melihat Woohyun berdiri di depan pintu mobil. Myungsoo menjauhkan tangannya saat moment mereka terganggu. Tangan Jiyeon menekan tombol umtuk membuka kaca jendela.

“Ada apa Nam biseonim?”

Joseonghamnida mengganggu hwajangnim. Tapi ada yang ingin saya bicarakan dengan anda.”

“Baiklah. Masuklah dulu. Aku segera menyusulmu.”

“Ne Hwajangnim.”

Woohyun mengangguk pada Jiyeon dan Myungsoo sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah Minhee. Jiyeon menoleh kembali pada Myungsoo.

Gomawo sudah mengantarku Oppa. Aku harus masuk. Sampai jumpa besok.”

Jiyeon melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu hendak keluar. Namun tangan Myungsoo dengan cepat menahan gadis itu. Jiyeon menoleh dan nafasnya tercekat mendapati wajah mereka sangat dekat. Myungsoo mengecup sekilas bibir Jiyeon yang membeku ditempat.

“Kau tak berpikir akan berpisah tanpa ciuman selamat malam bukan.” Myungsoo tersenyum puas melihat wajah Jiyeon merona.

“Ingat kata-kataku tadi Minhee-ah. Karena aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Sampai jumpa besok.”

“Ne.”

Pintu terbuka dan Jiyeonpun keluar dari mobil Myungsoo. Setelah mobil Myungsoo menghilang dari pandangan, Jiyeonpun melangkah masuk ke dalam rumah. Di dalam Jiyeon melihat Woohyun tengah duduk di ruang tamu menunggunya. Melihat kedatangan Jiyeon, Woohyun berdiri dan membungkuk.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Jiyeon duduk di hadapan Woohyun.

“Ini soal teror tadi hwajangnim.”

Tubuh Jiyeon tak bergerak bagaikan patung mendengar nama ‘teror’ yang sedang berusaha dilupakannya.

“Apa kepolisian sudah menangkap pelakunya?” Tanya Jiyeon.

“Belum hwajangnim. Kepolisian masih menyelidikinya hwajangnim. Berkat CCTV di gedung apartement Kim hwajangnim, kepolisian bisa mendapat sedikit petunjuk. Dan satu lagi.”

Jiyeon mengamati Woohyun memgeluarkan ponselnya.

“Kepolisian menemukan selembar kertas di dalam darah itu.”

Woohyun menyerahkan ponselnya memperlihatkan gambar kertas putih yang terkena darah bertuliskan.

Kau sudah membuatku kehilangan segalanya. Jadi aku akan segera bisa melihat darahmu Tae Minhee.

“Melihat pesan itu aku rasa pelakunya memiliki dendam pada anda hwajangnim. Apa anda ingat pernah membuat seseorang yang kehilang segalanya hwajangnim?”

“Dendam. Aku tidak ingat apakah aku pernah melakukannya tapi aku akan mencoba mengingatnya.”

“Ne hwajangnim. Saya sudah memasang CCTV serta alarm di pintu rumah anda hwajangnim. Berjaga-jaga jika penjahat itu sampai kemari.”

“Ne. Gamsahamnida Nam biseonim.”

Woohyunpun membungkuk sebelum akhirnya pergi. Setelah kepergian Woohyun, Jiyeon meraih ponselnya dan segera menghubungi Minhee. Terdengar suara nada tunggu namun lama sekali telpon itu tidak diangkat. Jiyeon kembali menghubungi Minhee dan hasilnya sama.

“Ke mana kau hwajangnim? Huhhh…..” Jiyeon menghela nafas berat.

“Aku akan menghubunginya lagi setelah membersihkan badanku yang terasa lengket.” Pikir Jiyeon berjalan menuju kamar mandi.

*   *   *   *   *

Jikyeong meletakan air, kapas dan antiseptik di atas meja. Minhee tersenyum pada Jikyeong.

Gomawo eomma.”

“Ne. Eomma akan membereskan di depan dulu.”

“Ne.”

Jikyeongpun pergi meninggalkan Minhee dan Sunggyu. Minhee mengambil kapas dan mencelupkan ke dalam air. Dengan perlahan Minhee membersihkan darah yang hampir kering di kepala Sunggyu. Terdengar ringisan kesakitan dari mulut Sunggyu.

“Aaiishhh…. Tadi saja kau terlihat kuat tapi kenapa sekarang malah meringis kesakitan?” Heran Minhee.

“Minhee-ssi, apa kau yakin benar aku yang melawan tiga laki-laki tadi?”

Minhee menghentikan kegiatannya dan menghadap Sunggyu.

“Tentu saja. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau menghampiri penjahat itu dan meninjunya hingga babak belur.” Cerita Minhee seraya bergaya seperti Sunggyu tadi.

“Tapi aku tak pernah bisa berkelahi sebelumnya. Bukankah sangat aneh?” Heran Sunggyu.

“Aiishhh… Sudahlah yang penting kau berhasil mengusir ketiga laki-laki jahat itu.”

Minhee kembali membersihkan luka Sunggyu dan memberikan antiseptik di lukanya sebelum akhirnya merekatkan dengan plester agar mengehentikan darah yang keluar. Karena tidak pernah mengobati luka, hasil pengobatanpun tidaklah sebagus ahlinya.

“Selesai.” Ucap Minhee puas dengan hasil karyanya.

Gomawo.”

“Ne. Oh ya soal pemindahan kerja itu aku sudah membicarakannya dengan Jiyeon.”

“Lalu apa yang dikatakannya?”

“Dia bilang akan mengikutimu.”

Sunggyu tersenyum senang mendengar ucapan Minhee.

“Benarkah?”

“Ne dia bilang sangat sulit mendapat bos sebaik kamu jadi dia akan ikut denganmu.”

“Syukurlah dia menyetujuinya.”

Minhee menatap Sunggyu penuh selidik.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Bingung Sunggyu.

“Apa kau menyukai Jiyeon?”

MWO?” Kaget Sunggyu.

“YA! Bukankah sudah kubilang aku sudah menganggap Jiyeon seperti adikku mana mungkin aku menyukainya.”

“Ciihh… Pembohong. Bahkan kau tersenyum senang mendengar Jiyeon akan ikut denganmu.”

“Aku berkata benar. Jiyeon sudah seperti adikku sendiri.”

Minheepun terdiam mendengar Sunggyu berkata serius. Entah memgapa ada perasaan senang dalam hati Minhee mengetahui Sunggyu dan Jiyeon tak memiliki hubungan apapun.

“Oh ya tadi kudengar dari penjahat itu kau berjanji membayar hutang itu? Bagaimana caranya?”

Minhee memutar bola matanya malas.

“Sunggyu-ssi, apa kau lupa siapa aku eoh? Aku Tae Minhee, pemilik perusahaan Taeyang tentu saja uang 5 juta won mudah untukku.”

“Tapi untuk seorang Tae Minhee yang dingin dan tak berperasaan, apakah kau rela mengeluarkan uang itu untuk orang lain?”

Minhee terdiam mendengar pertanyaan Sunggyu. Sunggyu benar selama ini Minhee tak pernah memgeluarkan uang untuk hal-hal tidak penting seperti membantu orang lain. Tapi kali ini dengan mudah Minhee akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit dengan cuma-cuma hanya untuk menolong orang lain.

“Aku rela jika itu untuk eommanya Jiyeon.”

Waeyo?”

Minhee menoleh ke arah Sunggyu dan menyunggingkan senyuman yang tulus.

“Eommanya Jiyeon sudah membuatku merasakan bagaimana memiliki eomma. Selama ini aku selalu hidup bersama appa tanpa mengetahui betapa lembut dan sayangnya seorang eomma. Itulah alasanku.” Ucap Minhee tersenyum.

Meskipun gadis itu tersenyum, Sunggyu bisa melihat mata Minhee berkaca. Sunggyu mendekati Minhee dan menarik kepala gadis itu hingga bersandar di bahunya.

“YA!! Apa yang kau lakukan.” Minhee meronta melepaskan tangan Sunggyu.

“Bukankah kau membutuhkan hal ini. Aku tahu seorang Tae Minhee tidak akan  memperlihatkan air matanya kepada orang lain bukan?”

Minheepun berhenti meronta dan menikmati bahu Sunggyu. Minhee merasa begitu nyaman bersandar di bahu Sunggyu. Tanpa Minhee lihat, senyuman senang menghiasi wajah Sunggyu. Diluar rumah Sungjong melayangkan pukulan pada seseorang yang mengenakan pakain hitam serta memiliki sayap hitam.

“Jadi kau yang ada dalam tubuh Sunggyu?” Ucap Sungjong.

“Aaiiggoo… Sejak kapan seorang malaikat menyambut teman lama dengan sebuah pukulan?”

“Kau bukan teman lamaku Dongwoo-ya.”

Seketika tawa membahana Dongwoopun terdengar.

“Aaiiggoo…. Kau masih saja tidak ramah Sungjong-ah.” Ucap Dongwoo menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kau merasuki Sunggyu?”

“Apa kau pikir aku akan menjawab pertanyaanmu?”

“Cepat katakan apa tujuanmu Dongwoo-ya?”

Dongwoo memegang dagunya seakan sedang berpikir.

“Hanya dendam masa lalu.”

“Dendam? Jadi kau dendam pada Sunggyu.”

Ani. Justru tujuan kami sama. Suatu saat kau pasti akan tahu. Aku pergi.”

Dongwoo terbang pergi saat melihat Sunggyu berpamitan pulang. Sungjong menatap kesal Dongwoo yang masuk ke dalam mobil Sunggyu dan melambaikan tangannya ke arahnya hingga Sunggyu melajukan mobilnya pergi. Dari kejauhan Minhee bisa melihat Sungjong yang masih melihat kepergian mobil Sunggyu.

“Eomma. Kau masuklah dulu. Aku ingin berjalan-jalan sebentar.”

“Ne jangan terlalu lama. Sudah malam.”

“Ne eomma.”

Setelah Jikyeong masuk ke dalam rumah, Minheepun berlari menghampiri Sungjong. Sang malaikat itu belum juga menyadari kehadiran Minhee bahkan setelah gadis itu berada di sampingnya.

“Jadi darimana saja kau tuan malaikat meninggalkanku selama 2 hari tanpa mengabariku?”

Kali ini Sungjong yang terkejut dengan kehadiran Minhee. Dia menatap Minhee yang tengah berkacak pinggang memunggu penjelasannya.

“Ada masalah yang tak bisa kuberitahukan padamu.”

“Aaiishhh… Kau  menjadi sok misterius kembali Sungjong-ah.” Ucap Minhee mendengus kesal.

“Jadi kau menolongnya?”

Nde?” Tanya Minhee binging dengan pertanyaan Sungjong.

“Jadi kau menolong ahjuma itu?”

“Ne. Dan itu semua karena Sunggyu yang seenaknya mengambil keputusan.”

Seketika Sungjong tertawa mendengar perkataan Minhee.

“Seperti ada seseorang yang menggantikanku selama aku pergi.” Sungjong tertawa kembali.

Minhee hanya bisa cemberut dan berbalik meninggalkan Sungjong.

*   *   *   *   *

Sunggyu melepaskan kemejanya dan asal melemparkan ke kursinya. Dia menghampiri kaca yang tergantung di dinding. Laki-laki itu tersenyum melihat hasil pengobatan Minhee yang berantakan. Tangan Sumggyu terangkat menyentuh plester itu dan tersenyum mengingat bagaimana susahnya Minhee mengobatinya.

Sunggyupun beralih menuju kamarnya yang bernuansa putih. Di hempasnya pantatnya di ranjang. Tatapan Sunggyu beralih di meja samping ranjangnya. Tangannya terulur membuka laci dan mengeluarkan selembar foto. Itu adalah Foto Minhee saat pertama kali datang di Taeyang group. Sunggyu sengaja mengambil foto itu karena saat itulah pertama kalinya hati Sunggyu tertarik pada Minhee.

“Kau adalah tujuanku bertahan dalam perusahaanmu Minhee-ah. Dan tak ada hal lain yang lebih membahagiakan karena aku bisa dekat denganmu.”

Sunggyu tersenyum pada foto itu seakan dirinya sedang tersenyum pada Minhee.

*   *   *   *   *

Minhee memasukkan barang-barang Jiyeon yang ada di meja kerja kedalam kardus. Sungjong yang baru saja datang terlihat bingung melihat Minhee membersihkan seluruh meja Jiyeon.

“Kenapa kau membereskan benda-benda ini?” Bingung Sungjong.

“Karena aku akan pindah.”

MWO? Pindah ke mana?” Kaget Sungjong.

“Aku akan ikut Sunggyu pindah ke Kim group. Sebenarnya bukan aku sih tapi Jiyeon.” Minhee berkata seraya memasukkan buku-buku Jiyeon.

“Ke Kim group? Tapi bagaimana bisa?”

Minhee menghela nafas dan menghadap Sungjong.

“Kau pergi dua hari jadi kau sudah tertinggal berita Sungjong-ah. Sunggyu keluar dari perusahaan ini dan masuk ke dalam perusahaan kakeknya. Aku juga tidak tahu mengapa tapi karena Jiyeon mengatakan akan ikut Sunggyu jadi mau tak mau aku yang harus pergi. Kau sudah mengerti malaikat?”

Sungjong hanya terdiam mendengar penjelasan Minhee.

“YA!! Sungjong-ah. Kau mendengarku tidak?”

“Ahh… Ehhh… Ne?”

Minhee menatap Sungjong curiga. Sebelum sempat bertanya ponsel Minheepun berdering. Diapun segera mengeluarkannya dan mengangkatnya.

“Ne Jiyeon-ah?”

Hwajangnim sejak semalam aku menghubungimu tapi kenapa anda tak mengangkatnya? Kemana saja anda hwajangnim?”

Mianhae ada sedikit masalah di rumah.”

MWO? Ada masalah apa? Apa eomma baik-baik saja?”

“Kau tenang saja eommamu baik-baik saja. 3 orang penagih hutang datang ke rumahmu dan membuat rumah jadi berantakan.”

“Penagih hutang lagi?”

Terdengar helaan nafas Jiyeon yang berat.

“Kau tenang saja, aku yang akan membayar hutang itu.”

“Tapi hwajangnim…”

“Kau tak perlu membayarnya padaku. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kau sudah bekerja dengan baik selama menjadi diriku. Tapi kau harus mengambil uang itu. Minta Nam biseonim untuk mengurusnya.”

“Ne.gamsahamnida hwajangnim.”

“Tadi kau mengatakan semalam menghubungiku. Apa ada masalah?”

“Ne semalam seseorang mengirim paket berisi darah.”

“Darah?”

“Ne. Polisi sudah menyelidikinya itu hanya darah binatang. Dan saat ini mereka sedang mencari pelakunya melalui CCTV yang terekam. Dan juga di dalam paket itu ada selembar kertas bertuliskan ‘Kau sudah membuatku kehilangan segalanya. Jadi aku akan segera bisa melihat darahmu Tae Minhee‘. Nam biseonim mengatakan kemungkinan pelaku memiliki dendam pada anda hwajangnim. Apa anda ingat kemungkinan siapa pelakunya?”

Minhee menghela nafas mendengar pertanyaan Jiyeon.

“Mana mungkin aku mengingatnya Jiyeon-ah. Kau tahu sendiri bagaimana sifatku dan aku yakin semua orang membenciku bagaimana bisa aku tahu siapa pelakunya.”

“Anda benar hwajangnim. Anda tenang saja saat ini kepolisian sedang menyelidikinya. Apa anda dan Sunggyu Oppa akan pindah hari ini hwajangnim?”

“Ne. Kami akan pindah hari ini jadi bekerjalah menjadi diriku dengan baik. Ingat kau akan menyesal jika membuat kesalahan.” Ancam Minhee.

“YAA!! Tae Minhee bukankah sudah kukatakan jangan mengancam seseorang?” Omel Sungjong.

“Aiishhh… Ne… Nee… Dasar malaikat bawel. Lupakan ucapanku yang terakhir Jiyeon-ah. Sampai jumpa.”

Meskipun Minhee sudah menutup telpon itu namun Jiyeon masih tersenyum mendengar Minhee dalam versi yang berbeda. Sepertinya Jiyeon harus percaya jika ada malaikat yang mengikuti Minhee.

*   *   *   *   *

“Apa mereka sudah sampai?” Tanya Myungsoo pada Sungyeol yang berdiri di depan mejanya.

“Ne. Sesuai perintah kakek anda Sunggyu akan ditempatkan di posisi Iseonim.”

“Jadi harabeoji dalang dibalik semua ini. Aku akan menyambut mereka.”

Myungsoo berjalan keluar ruangan diikuti Sungyeol. Mereka turun menggunakan lift menuju lantai di mana ruangan Sunggyu berada. Lift terbuka dan merekapun berjalan keluar. Myungsoo bisa melihat gadis yang dikenalnya sebagai Jiyeon tengah menata mejanya.

“Jadi kau ikut kemari Jiyeon-ssi?”

Minhee menoleh dan membungkuk pada Myungsoo.

“Ne hwajangnim.”

“Apa Sunggyu hyung di dalam?”

“Ne.”

“Baiklah. Aku akan menemuinya. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu Jiyeon-ssi. Seungyeol akan membantumu.”

Gamsahamnida hwajangnim.”

Myungsoopun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Sunggyu.

“Selamat datang Sunggyu hyung.” Sambut Myungsoo memeluk Sunggyu.

Gomawo Myungsoo-ya. Seharusnya kau tak perlu menyambutku kemari.”

“Aku menginginkannya hyung. Bukankah kita sudah lama tidak bertemu?”

“Kau benar. Gomawo Myungsoo-ah.”

“Kulihat Jiyeon sangat setia hingga mengikutimu hyung.”

“Kau memgenal Jiyeon?” Kaget Sunggyu.

“Ne. Beberapa hari yang lalu dia yang menolongku saat aku pingsan di perusahaan Taeyang. Jadi aku mengenalnya.”

Sunggyu pun teringat Minhee pernah mengatakan ada urusan saat dia menyuruh Minhee mencari dokumen.

Jadi urusannya adalah menolong Myungsoo? Pikir Sunggyu.

“Hyung…” Panggil Myungsoo menyadarkan Sunggyu.

“Ohh… Ne… Kau mengatakan apa Myungsoo-ah?”

“Hari ini hyung santai saja dulu. Besok aku akan mengadakan meeting dan memperkenalkanmu hyung.”

“Ne. Gomawo Myungsoo-ah.”

“Aku harus pergi hyung.”

“Ne.”

Myungsoopun keluar dari ruangan Sunggyu. Tanpa diketahuinya Dongwoo mengamati kepergian Myungsoo dengan tatapan tidak suka.

*   *   *   *   *

“Jadi hwajangnim menolong seseorang?” Kaget Jiyeon saat mendengar Minhee bercerita tengah menolong seorang wanita agar berpura-pura menjadi putrinya yang meninggal.

“Itu semua karena ulah Sunggyu.” Minhee mendengus kesal.

“Sunggyu Oppa? Bagaimana bisa?”

“Dia seenaknya mengambil keputusan yang harus kuambil.”

Tanpa dapat ditahan Jiyeonpun tertawa membayangkan ekspresi Minhee saat Sunggyu melakukannya.

“YA! Kau menertawaiku?” Kesal Minhee.

Mianhae hwajangnim. Mianhae. Tadi anda mengatakan mengenal anak laki-laki wanita itu. Memang siapa dia hwajangnim?”

“Dia adalah Lee Howon. Salah satu karyawan Taeyang group dulu. Namun aku pecat karena menggunakan telpon perusahaan untuk urusan pribadi.”

“Jangan-jangan….”

“Jangan-jangan apa?” Tanya Minhee.

“Apa hwajangnim tidak berpikir jika Howon adalah pelaku teror itu? Bukankah anda memecatnya tentu saja dia marah pada anda.”

“Mana mungkin Jiyeon-ah. Howon adalah laki-laki yang lembut pada ibunya, tak mungkin dia melakukan hal itu Jiyeon-ah.”

“Itu kan hanya dugaan hwajangnim.”

“Ya sudah. Aku harus pergi. Sunggyu sudah keluar. Jika ada perkembangan kasus itu katakan padaku.”

“Ne hwajangnim.”

Minhee memasukkan telponnya ke dalam tas saat melihat Sunggyu menghampirinya.

“Kau sudah siap?” Tanya Sunggyu.

“Ne.”

“Sepertinya pengawalmu bertambah Minhee-ah.” Bisik Sungjong.

“Aiishh… Diam kau.”

Nde?” Bingung Sunggyu.

Ani bukan kau Sunggyu-ssi. Tapi Sungjong yang kusuruh diam.”

“Sungjong? Malaikat itu?”

“Ne?”

“Jadi dia sudah kembali?”

“Ne dia bilang ada masalah yang harus diurusnya jadi dia menghilang. Aiishh… Sudahlah jangan membicarakannya. Ayo kita pergi.” Ucap Minhee menarik Sunggyu pergi.

*   *   *   *   *

TOKK… TOK… TOK….

“Ne. Masuk.” Jiyeon meletakan ponselnya setelah selesai menelpon Minhee.

Woohyun membuka pintu dan menghampiri meja Minhee dengan tergesa-gesa.

“Ada apa Nam biseonim?” Tanya Jiyeon.

Woohyun menyerahkan tas diatas meja.

“Ini adalah uang 5 juta won yang anda minta hwajangnim.”

Gamsahamnida Nam biseoim.”

Woohyun tak kumjung pergi membuat Jiyeon mendongak.

“Apa ada lagi?”

“Ne hwajangnim. Baru saja saya mendapat telpon dari kepolisian yang sudah mengungkap identitas pelaku yang sudah mengirimkan teror itu.”

“Benarkah?” Tanya Jiyeon tak percaya.

“Ne hwajangnim.”

“Kalau begitu ayo kita segera ke sana.”

“Ne hwajangnim.”

Jiyeonpun keluar seaya membawa tas yang berisi uang itu.

*   *   *   *   *

Mobil Sunggyu berhenti tepat di depan rumah sakit Seoul. Tepat saat Sunggyu melepaskan sabuk pengaman ponselnya berdering. Minhee melihat Sunggyu mengangkat telpon itu.

“Ne harabeoji?”

“Sunggyu-ya. Datanglah kemari ada yang ingin kubicarakan.”

“Ohh… Ne harabeoji aku akan segera ke sana.”

Sunggyu memasukkan kembali ponselnya kedalam sakunya lalu menoleh ke arah Minhee yang sudah mengenakan seragam SMA.

“Minhee-ssi kau masuklah dulu aku harus menemui harabeoji. Nanti aku akan menjemputmu.”

Minhee mengangguk.

“Ne.”

Minhee segera keluar dari mobil Sunggyu dan menunggu Sunggyu melesat pergi. Dia menunduk melihat seragam SMA yang sedang dikenakannya tadi. Diapun menghela nafas dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Seperti biasa dia menggunakan lift dan menuju lantai 3 dimana kamar Hyerim dirawat. Sampai di lantai 3 Minhee segera menuju kamar inap Hyerim. Dia membuka pintu dengan nama ‘Lee Hyerim’ tertera di depan pintu.

Annyeong eomma.” Sapa Minhee ceria layaknya anak SMA.

Minhee melihat Hyerim tengah berdiri didepan jendela dan menoleh saat melihat Minhee datang. Hyerim tersenyum senang melihat kehadiran Minhee.

“Apa yang eomma lihat?”Tanya Minhee menghampiri Hyerim setelah meletakkan tasnya di kursi.

“Eomma sedang melihat keramaian kota Seoul.” Ucap Hyerim memandang kembali kota Seoul dari balik jendela.

Minhee melirik ke arah Hyerim yang terlihat sedih tidak seperti biasanya.

“Eomma… Kau terlihat sedih? Ada apa eomma?”

Hyerim menoleh dan tersenyum tipia.Wanita itu lalu menarik tangan Minhee dan menggenggamnya penuh sayang.

“Perasaan eomma sangat tidak enak.”

“Ada apa eomma? Apa eomma sakit lagi?”

Hyerim menggeleng.

“Aniyo. Bukan tubuh eomma tapi Howon.”

“Apa maksud eomma dengan Howon Oppa? Apa dia yang sakit?”

“Entahlah eomma merasa ada yang tidak beres dengan Howon.”

“Tidak beres?”

Hyerim mengangguk menjawab kebingungan Minhee.

“Yena-ya, bisakah eomma meminta tolong padamu Yena-ya?”

“Minta tolong apa eomma?”

“Bisakah kau melihat keadaan Howon? Kumohon. Sejak tadi Howon belum juga kemari.” Pinta Hyerim.

Perasaan iba muncul di hati Minhee melihat Hyerima menatapnya memohon.

“Baiklah eomma aku akan melihat keadaan Howon Oppa.”

Hyerim terswnyum senang dan langsung memeluk Minhee.

Gomawo Yena-ya.”

Minhee melepaskan pelukan Hyerim.

“Ne eomma. Aku pergi dulu.”

Minheepun keluar dari kamar rawat Hyerim.

“Bagus Minhee-ah. Sekarang kau harus mencari tahu rumah Howon bagaimana eoh? Pabo!” Gerutu Minhee.

Pabo!! Kau kan bisa menanyakan di bagian informasi.” Sagut Sungjong.

“Kau benar. Ternyata kau bisa berguna juga Sungjong-ah.”

Sungjong hanya mendengus kesal melihat kepergian Minhee. Namun sedetik kemudian wajah Sungjong menunjukkan kekhawatiran melihat kepergian Minhee.

*   *   *   *   *

Jiyeon dan Woohyun masuk ke dalam kantor polisi. Mereka menuju ruangan dimana Minho sang kepala polisi berada.

“Selamat datang Tae hwajangnim dan Nam biseonim.” Sambut kepala polisi Lee.

Gamsahamnida kepala polisi Lee. Nam biseonim mengatakan padaku jika anda sudah mengungkap identitas pelaku teror itu, benarkah kepala polisi Lee?” Tanya Jiyeon duduk di hadapan Minho.

“Ne hwajangnim setelah mengecek gambar dari CCTV akhirnya kepolisian bisa menemukan siapa pelakunya. Dan ini adalah data pelaku itu. Tercatat di dalam data itu pelaku pernah bekerja di Taeyang group.”

Minho menyerahkan sebuah map pada Jiyeon. Tangan Jiyeon gemetar membuka map itu, dia benar-benar penasaran siapa yang sudah melakukan teror itu pada Minhee. Dia bisa melihat wajah pelaku. Wajahnya tidak terlihat seperti seorang penjahat, justru terlihat seperti anak kecil yang imut. Tatapan Jiyeon turun ke bawah foto itu membaca identitas di bawahnya. Matanya terbelalak membaca nama itu.

“Lee… Lee Howon?” Kaget Jiyeon.

“Ne. Wajahnya sangat cocok dengan gambar di CCTV dan juga ada saksi mata yang melihatnya di sekitar apartement Kim hwajangnim.”

Dia adalah Lee Howon. Salah satu karyawan Taeyang group dulu. Namun aku pecat karena menggunakan telpon perusahaan untuk urusan pribadi.

Jiyeon teringat ucapan Minhee sorebtadi. Jiyeon meletakkan map itu dan berdiri.

“Saya permisi dulu kepala polisi Lee. Gamsahamnida sudah menemukan identitas pelaku itu.” Ucap jiyeon lalu berjalan keluar ruangan.

Mianhamnida kepala polisi Lee saya harus mengejar Tae hwajangnim. Gamsahamnida.” Pamit Woohyun berlari mengejar Jiyeon. Jiyeon segera menghubungi Minhee namun sayang Minhee tak kunjung mengangkatnya. Hal itu membuat Jiyeon semakin khawatir.

Hwajangnim ada apa? Kenapa anda langsung pergi.” Tanya Woohyun pada Jiyeon.

Jiyeon menatap Woohyun dengan tatapan ketakutan dan kecemasan.

“Woohyun-ssi aku tak bisa menghubunginya.” Ucap Jiyeon membuat Woohyun bingung.

“Menghubungi siapa maksud anda hwajangnim.”

“Tae hwajangnim. Aku tak bisa menghubunginya Woohyun-ssi. Otteokke?” Panik Jiyeon.

“Apa maksud anda? Bukankah anda Tae hwajangnim?” Tanya Woohyun bingung.

Jiyeon menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku bukan Tae hwajangnim Woohyun-ssi. Aku Park Jiyeon.”

Nde? Park Jiyeon? Anda pasti bercanda.” Ucap Woohyun tak percaya.

Jiyeon kembali menggelengkan kepalanya. Ekspresi serius Jiyeon membuat Woohyun yakin gadis itu tidak sedang bercanda.

“Tapi bagaimana bisa kau adalah Jiyeon sedangkan tubuhmu adalah Tae hwajangnim.”

“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Woohyun-ssi. Yang pasti saat ini Tae hwajangnim sedang dalam bahaya. Sekarang Tae hwajangnim sedang membantu Howon untuk menolong ibunya. Kita harus segera ke rumah sakit Seoul.”

“Baiklah tunggulah dimobil aku akan memberitahukannya pada kepala polisi Lee.”

Jiyeon mengangguk diapun menuju mobil Woohyun. Karena tak bisa menelpon Minhee, Jiyeonpun memutuskan untuk menghubungi Sunggyu.

“Hallo?” Sapa Sunggyu setelah terdengar nada tunggu.

“Oppa ini aku Jiyeon.”

“Jiyeon?” Kaget Sunggyu.

“Ne. Oppa saat ini kau di mana? Apa kau bersama Tae hwajangnim?”

Ani. Saat ini aku sedang dalam perjalanan munuju rumah harabeoji. Minhee sedang berada di rumah sakit menjaga ibu Howon.”

“Kau harus kembali Oppa.”

Sunggyu mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jiyeon.

“Apa maksudmu aku harus kembali.”

“Howon. Lee Howon. Dia adalah pelaku teror itu. Jika dia tahu dalam tubuhku adalah Tae hwajangnim, dia pasti akan membunuhnya Oppa.”

Seketika Sunggyu menginjak rem mobilnya memghentikan laju mobil itu. Beruntungnya saat itu jalanan tidak terlalu ramai sehingga tidak terjadi kecelakaan.

“Jadi Howon adalah pelakunya?” Tanya Sunggyu tak percaya.

“Ne Oppa. Saat ini aku dan Nam biseonim akan menuju rumah sakit Seoul. Oppa…. Oppa…” Panggil Jiyeon saat mendengar nada terputus.

Woohyun masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya menuju rumah sakit Seoul. Sunggyu yang mendengar penjelasan Jiyeon langsung memutar mobilnya kembali ke rumah sakit. Dengan kecepatan tinggi dia menembus jalanan kota Seoul. Eskpresi dingin keluar dari wajah Sunggyu. Selama ini dia tak menyangka sudah membuat Minhee terlibat dalam bahaya dengan mengambil keputusan untuk membantu Howon.

Tak butuh waktu lama hingga mobil Sunggyu sampai di depan rumah sakit. Diapun segera keluar dan berlari menuju kamar Hyerim. Sunggyu memilih tangga darurat dan secepat dia menaiki tangga itu hingga lantai tiga. Sampai di lantai 3 Sunggyu langsung membuka pintu kamar Hyerim. Dia melihat Hyerim sedang berdiri di depan jendela seperti saat pertama Minhee masuk. Sunggyu mengedarkan pandangan mencari Minhee. Namun hanya tas Minhee yang berada di kursi yang dilihatnya.

“Dimana Minhee?” Tanya Sunggyu menghampiri Hyerim.

Hyerim menoleh dan menatap bingung Sunggyu.

“Minhee? Siapa Minhee aku tak mengenalnya.”

“Minhee adalah gadis yang berpura-pura menjadi Yena. Dimana dia?”

Tampak keterkejutan di mata Hyerim mendengar kebenaran yang diucapkan Sunggyu.

“Yena? Aku meminta dia untuk melihat keadaan Howon.”

MWO?”

Dengan kasar Sunggyu memegang kedua bahu wanita itu.

“Dimana dia sekarang? Dimana alamat rumahmu?”

Hyerim menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku tidak akan memberitahumu karena kau pasti akan merebut Yenaku.”

“Dengar ahjuma. Jika aku tidak ke rumahmu sekarang aku yakin Howon pasti akan membunuhnya.”

MWO? Howon akan membunuhnya? Tidak… Itu tidak mungkin. Howon tidak akan membunuh adiknya sendiri.” Hyerim menggelemhkan kepalanya kasar.

Kesal Sunggyu mengambil tas Minhee dan mengambil dompetnya. Dia mencari tanda pengenal Jiyeon. Setelah menemukannya dia langsung menyerahlannya pada Hyerim.

“Dia bukan Yena ahjuma. Dimana dia sekarang? Katakan padaku sebelum putramu membunuhnya.”

Hyerim masih terdiam membaca kartu identitas. Didalam tertulis Park Jiyeon bukan bernama Lee Yena putrinya.

*   *   *   *   *

Minhee membaca alamat dikerta yang diberikan oleh salah satu perawat di rumah sakit lalu mencocokkan setiap nomor yang ada di setiap rumah. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah rumah dengan nomor 67.

“Akhirnya ketemu juga.” Gumam Minhee.

Namun Minhee menatap aneh rumah yang tampak gelap gulita. Rumah itu begitu hening membuat Minhee mengerutkan dahinya.

“Apa Howon sedang pergi?” Pikir Minhee.

Kaki Minheepun melangkah menuju rumah itu. Tangannya memgetuk pintu rumah itu.

“Howon-ssi…. Howon-ssi apa kau dirumah?” Panggil Minhee namun tak ada jawaban.

Mimhee kembali mengetuk namun tak ada suara apapun dari dalam rumah. Kemudian Minhee mencoba memutar gagang pintu dan terbuka.

“Pintunya tidak terkunci?” Heran Minhee.

Minheepun melangkah masuk ke dalam rumah. Dia menghidupkan lampu memperjelas ruang tamu yang tertata rapi. Di dinding terpajang foto-foto Hyerim, Howon dan Yena. Minhee tersenyum melihat foto-foto bahagia keluarga Lee. Langkah Minhee terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang menarik. Gadis itu mengambil salah satu pigur foto dan mengamatinya. Nafasnya tercekat saat melihat orang yang dikenalnya berada di dalam foto itu.

“Sungjong?” Panggil Minhee mengenali laki-lali yang berdiri di samping Howon dan Yena.

“Bagaimana bisa Sungjong berada di sini? Berarti Howon pasti mengenalnya.”

Mimheepun kembali mencari keberadaan Howon.

“Howon-ssi….” Panggil Minhee kembali namun tak ada jawaban.

Minhee kembali melangkah dan melihat sebuah pintu. Dia mengetuk pintu itu sebelum akhirnya membuka. Kamar itu begitu gelap hingga Minhee tak dapan melihat apapun. Minhee meraba dinding mencari tombol untuk memghidupkan lampun. Akhirnya jemari Minhee mememukan tombolnya dan seketika lampu pun hidup. Nafas Minhee tercekat melihat pemandangan di dinding kamar Howon. Tampak foto-foto Minhee tertempel dengan asal di dinding. Spidol merah mencoreng foto-foto itu.

Aku pasti membalasmu TAE MINHEE

Minhee membaca kalimat dibawah foto-foto dirinya. Minheepun langsung tahu jika Howonlah yang mengirimkan geror-teror itu.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Minhee terlonjak kaget dan berbalik mendapati Howon menatapnya dingin.

“Ho- Howon-ssi.”

“Aku bertanya apa yang kaulakukan di sini?” Tanya Howon debgan nada dingin.

“Eommamu memintaku kemari karena mengkhawatirkanku.”

“Apa eommamu tak pernah mengajarimu untuk tidak sembarangan memasuki kamar orang?”

Mianhae aku….”

“Terlambat.”

Nde?” Bingung Minhee.

“Terlambat karena kau sudah melihat semuanya jadi aku tidak akan membiarkanmu keluar dalam keadaan hidup.”

Minhee merinding melihat senyuman Howon yang memakutkan.

~~~TBC~~~

6 thoughts on “(Chapter 5) Love & Revenge

  1. Huwaa…. jinjja?? Apa howon sekejam itu eonni?
    ngebacanya bikin deg degan…
    Next ya eon… ceritanya tambah seru + bikin degdegan.
    FIGHTING EONNI!!!!!!!!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s