(Chapter 6) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 6)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Guest :

* Lee Hoya as Lee Howon (INFINITE)

* Park Geun Hyung as Kim Geun Hyung

* Ok Taecyeon (2PM)

Annyeong….. Author balik lagi nih dengan ff INFINITE.

Readersdeul gak bosen kan? Ada guest baru di chapter ini. Jangan lupa tinggalkan jejak.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

6

I Like You

 

Sunggyu berlari dijalanan yang sepi. Matanya mengarah ke kanan dan kiri mencari alamat. Sunggyupun teringat percakapannya dengan Hyerim.

~~~FLASHBACK~~~

“Dia bukan Yena ahjuma. Dimana dia sekarang? Katakan padaku sebelum putramu membunuhnya.” Ucap Sunggyu putus asa.

Hyerim masih terdiam membaca kartu identitas Jiyeon. Didalam tertulis Park Jiyeon bukan bernama Lee Yena putrinya. Hyerimpun teringat dirinya menangis di rumah sakit saat Yena menghembuskan nafas terakhir. Selama ini Hyerim mengira itu adalah mimpi buruk dan Jiyeon adalah putrinya. Namun melihat kartu identitas itu bukan milik putrinya, wanita itu tersadar. Sunggyu berlutut di hadapan Hyerim dan menggenggam tangan wanita itu. Hyerim menatap Sunggyu yang terlihat putus asa.

“Ahjuma. Aku harus menyelamatkannya. Aku mohon. Gadis itu sangat penting untukku.” Ucap Sunggyu memohon.

Hyerimpun berdiri dan menghampiri meja tak jauh dari ranjangnya. Wanita itu mengambil pulpen dan menulis di atas kertas kosong. Sunggyu masih mengamati Hyerim tanpa berkata apapun. Hyerimpun meletakkan pulpen dan mengambil kertas itu. Dia berbalik dan menyerahkan kertas itu pada Sunggyu.

“Howon adalah satu-satunya yang kumiliki saat ini. Kumohon jangan sakiti dia. Dia juga sangat penting untukku.”

Sunggyu mengambil kertas itu lalu mengangguk.

~~~FLASHBACK END~~~

Sunggyu terus berlari seraya mencari alamat yang sudah dihafal di otaknya. Langkahnya terhenti saat terdengar ponselnya berdering. Sunggyu mengambil ponsel itu dan mengangkatnya tanpa menghentikan pencariannya.

“Oppa. Apa kau sudah menemukan Tae hwajangnim?” Tanya Jiyeon panik.

“Belum. Aku masih mencari alamat rumah itu.”

“Dimana kau sekarang Oppa? Aku dan nam biseonim akan ikut memcarinya.”

“Aku berada di perumahan daerah Yongjang.”

“Baiklah kami akan segera kesana.”

Sunggyu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku setelah telpon itu terputus. Diapun kembali mencari alamat rumah Howon.

“AAAHHHH…”

Langkah Sunggyu terhenti mendengar teriakan Minhee. Dia segera berlari mencari asal suara Minhee.

*   *   *   *   *

“Terlambat karena kau sudah melihat semuanya jadi aku tidak akan membiarkanmu keluar dalam keadaan hidup.”

Minhee merinding mendengar ucapan Howon yang menakutkan. Mata Minhee menangkap benda berkilau di tangannya. Sebilah pisau tampak digenggaman tangan Howon.

“Hentikan Howon-ah. Jika kau melakukannya kau hanya akan membuat eommamu menderita.”

Howon tersenyum sinis mendengar ucapan Minhee.

“Aku tidak perlu nasehatmu Jiyeon-ssi.”

“Membalas dendam tidak akan membuatmu tenang Howon-ah. Aku tahu Tae hwajangnim melakukan kesalahan padamu. Tapi semua bisa diperbaiki jika dibicarakan baik-baik bukan?”

Seketika Howon tertawa pahit.

“Diperbaiki? Kau pikir dengan hal itu bisa mengembalikan Yena?”

Minhee tampak bingung dengan pertanyaan Howon.

“Apa maksudmu Howon-ssi?”

Howon menghampiri Minhee yang juga melangkah mundur.

“Karena Minhee memecatku, aku tidak bisa membiayai operasi Yena. Aku sudah menjual segalanya tapi hal itu tidak cukup. Aku memggunakan telpon kantor karena ingin mengetahui keadaan Yena. Aku hanya sekali itu melakukam kesalahan tapi Minhee dengan sombongnya memecatku. Kaupikir hal itu bisa dibicarakan baik-baik HUH?”

Minhee terkejut mendengar penjelasan Howon. Gadis itu tak menyangka sikapnya yang sombong sudah keterlalun.

“Tapi Howon-ah. Jika kau membunuhku ataupun Tae hwajangnim kau akan dipenjara. Lee ahjuma akan bertambah kesepian jika kehilangan anaknya lagi.”

“Aku tidak perduli. Sudah cukup pembicaraan ini Jiyeon-ssi. Kau membuatku muak.”

“AAAHHHH….” Jiyeon menghindar saat Howon menghunuskan pisaunya.

Andwae Howon-ssi. Hentikan.”

Minhee melihat Howon kembali mendekat. Untuk pertama kalinya Minhee merasakan ketakutan yang teramat sangat. Howon begitu berbeda hari ini. Aura kekejaman muncul dari tubuhnya.

“Tugasmu sudah cukup sampai di sini Jiyeon-ssi.”

Minhee yang sudah terpojok diantara tembok hanya bisa menutup mata tak ingin melihat pisau itu menusuk tubuhnya.

“Aaahh…”

Minhee membuka matanya mendengar rintihan sakit. Matanya terbelalak melihat Sunggyu melindunginya sehingga bahunya tertusuk pisau Howon.

“Su-Sunggyu-ssi.”

Minhee begitu ketakutan saat melihat darah keluar dari tusukan pisau itu. Minhee bisa melihat Sunggyu menyunggingkan senyuman lemah.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sunggyu lirih.

“Tidak apa-apa Sunggyu-ssi. Tapi bahumu….”

Minhee menunjuk bahu Sunggyu yang tertancap pisau. Sunggyu mengambil pisau itu seraya menahan sakit dibahunya. Tampak darah menyelimuti pisau itu. Sunggyu berbalik dan menatap Howon yang masih mematung di tempat.

“Aku tidak akan melawanmu Howon-ssi. Lee ahjuma mengatakan padaku untuk tidak menyakitimu. Hentikanlah Howon-ssi. Balas dendam tidak akan mendatangkan kebaikan. Jika kau ingin membunuhnya. Aku akan menggantikannya tapi berjanjilah untuk melepaskannya.”

Sunggyu menyerahkan pisau itu pada Howon.

Andwae Sunggyu-ssi. Apa yang kau katakan? Apa kau gila? Kenapa kau ingin melakukannya?” Minhee menarik Sunggyu mundur membuat pisau di tangan Sunggyu terjatuh ke lantai.

Sunggyu tersenyum lemah pada Minhee. Tangannya menangkup kedua pipi Minhee membuat pipi putih gadis itu terkena noda darah.

“Jika hal ini bisa menyelamatkanmu, aku akan melakukannya. Karena kau penting bagiku.”

Tubuh Minhee membeku mendengar ucapan Sunggyu. Gadis itu bahkan tak bisa berkata apapun untuk membalas ucapan Sunggyu. Howon mengambil pisau yang terjatuh lalu menatap Sunggyu dan Minhee. Laki-laki itupun melihat pisau ditangannya yang sudah terkena darah Sunggyu. Mata Howon membesar melihat sebuah tangan yang transparan memegang pergelangan tangannya. Howon mendongak dan nafasnya tercekat.

“Yena-ya.” Panggil Howon tak percaya.

Yena yang sudah menjadi malaikat tersenyum pada kakaknya.

“Hentikan Oppa. Aku tidak ingin Oppa melakukan kejahatan. Dendam tidak akan mengubah apapun Oppa. Kematianku bukanlah salah siapapun tapi Tuhan yang sudah mengaturnya.”

“Tapi Yena….”

“Orang dihadapanku bukanlah Howon Oppaku. Yang aku tahu Howon Oppa adalah laki-laki yang baik dan ramah. Dia selalu membantu orang lain tanpa meminta imbalan apapun. Sedangkan dihadapanku tidak seperti Howon Oppa yang ku kenal.”

Howon menjatuhkan pisaunya mendengar ucapan adiknya.

Mianhae Yena-ya…. Mianhae.…” Howonpun menangis membuat Sunggyu dan Minhee bingung melihatnya.

“Aku sangat menyayangimu Oppa dan juga eomma. Tapi aku sudah tenang berada di surga jadi relakan aku pergi, itu akan membuatku bahagia Oppa.”

Sambil menangis Howonpun mengangguk menjawab pertanyaan adiknya. Kakinya tak dapat menahan tubuhnya diapun hanya bisa menangis dan meminta maaf pada adiknya.

“Susah sekali membawa gadis itu.”

Minhee menoleh dan melihat Sungjoong tengah menatap adegan dramatis kakak san adik itu.

“Siapa maksudmu Sungjong-ah?” Bingung Minhee.

“Lee Yena.”

Sungjong melihat Minhee lalu beralih kepada Sunggyu yang saat ini tampak pucat.

Mianhae aku terlambat.” Sesal Sungjae.

Gwaenchana. Gomawo sudah membantu kami.” Minhee tersenyum pada malaikat itu.

Tiba-tiba terdengar beberapa langkah kaki masuk ke dalam rumah. Para anggota kepolisian langsung membekuk Howon yang terdiam tak melawan.

Hwajangnim... Kau tidak apa-apa?”

Minhee menoleh dan melihat Jiyeon bersama Woohyun.

Ani. Tapi kita harus membawa Sunggyu ke rumah sakit.”

Minhee melihat wajah Sunggyu yang semakin pucat membuat gadis itu khawatir.

“Di depan sudah ada ambulans, hwajangnim. Aku akan menuntunnya.”

Woohyun mengambil alih Sunggyu dari Minhee lalu membawa Sunggyu keluar. Minhee dan Jiyeon segera menyusul Woohyun dan Sunggyu. Benar saja diluar rumah keluarga Lee,dua orang perawat menghampiri Sunggyu dan Woohyun. Mereka meletakkan tubuh Sunggyu yang lemah diatas ranjang dan langsung mendorongnya ke dalam ambulans.

“Jiyeon-ah.”

Jiyeon yang berdiri di samping Minhee langsung menoleh.

“Ne, hwajangnim?”

“Aku akan ikut ambulans itu, jadi bisakah kau melakukan satu hal untukku?”

Jiyeon mengangguk.

“Ne tentu saja hwajangnim.”

Minhee membisikkan sesuatu di telinga Jiyeon. Sedangkan Jiyeon mengangguk menanggapi ucapan Minhee.

*   *   *   *   *

TTOOOKK… TOOKK…. TOOKKK….

“Ne masuklah.” Ucap seorang laki-laki tua yang sedang menyeruput teh hijaunya.

Taecyeon masuk lalu membungkuk pada Geunhyung.

“Apa ada informasi di mana Sunggyu berada?” Tanya Geunhyung tanpa menatap orang kepercayaannya itu.

“Ne. Tuan Sunggyu saat ini berada di Rumah Sakit Seoul.”

Geunhyung menoleh dan menatap Taecyeon meminta penjelasan yang lebih lengkap.

“Seseorang menusuk bahu tuan Sunggyu. Dari informasi yang kudapatkan, seorang laki-laki bernama Howon hendak membunuh sekertaris tuan Sunggyu. Itulah penyebab tuan Sunggyu saat ini dirawat di rumah sakit.”

Tuan besar Kim meletakkan cangkirnya lalu berdiri.

“Antarkan aku ke sana.”

“Baik tuan besar.”

*   *   *   *   *

Minhee duduk di hadapan Hyerim. Wanita itu terdiam mengamati seragam yang di kenakan Minhee tampak berantakan dan ada bercak darah di seragam itu.

“Kau tidak apa-apa Jiyeon-ssi.”

Minhee terkejut mendengar Hyerim memanggilnya Jiyeon.

“Eomma sudah tahu aku bukan Yena?”

Hyerim mengangguk lalu meletakkan tanda pengenal Jieyeon di meja. Minhee mengambil tanda pengenal itu lalu menatap Hyerim.

“Seorang laki-laki datang padaku menanyakan keberadaanmu. Dia terlihat panik tapi aku tidak ingin memberitahu keberadaanmu. Aku takut jika dia akan mengambilmu. Lalu laki-laki itu menunjukkan kartu itu padaku dan meyakinkanku jika kau bukanlah putriku. Lalu dia berkata ‘Ahjuma. Aku harus menyelamatkannya. Aku mohon. Gadis itu sangat penting untukku‘.”

Mendengar penjelasan Hyerim membuat Minhee teringat ucapan Sunggyu saat menyelamatkan dirinya.

Jika hal ini bisa menyelamatkanmu, aku akan melakukannya. Karena kau penting bagiku.

Untuk pertama kalinya Minhee merasa ketulusan dari seseorang yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan gadis itu. Ada perasaan aneh dalam hati Minhee

“Jiyeon-ssi…. Jiyeon-ssi…” Panggil Hyerim menyadarkan Minhee.

“Oh.. Ne ahjuma?”

“Aku bertanya apa dia baik-baik saja? Kenapa ada darah di seragam ini?”

Minhee terdiam, diapun bingung harus menjelaskan bagaimana karena gadis itu takut jika penyakit Hyerim semakin parah. Hyerim menggenggam tangan Minhee dan mengangguk seakan mengatakan ‘tidak apa-apa’.

“Sunggyu…. Dia sedang dirawat di rumah sakit ini.”

Hyerim tampak terkejut mendengar ucapan Minhee.

“Dia terluka karena melindungiku.”

“Apakah Howon yang melakukannya?”

Minhee mengangguk menjawab pertanyan Hyerim.

“Maafkanlah Howon. Putraku sebenarnya tidak sejahat itu.”

“Ne eomma.”

Hyerima tersenyum mendengar Minhee memanggilnya eomma.

“Kau tak perlu memanggilku seperti itu lagi. Kau bukan Yena.”

Minhee tersenyum.

Gwaenchana. Aku suka dengan panggilan itu. Bolehkah aku tetap memanggil eomma?”

“Tentu saja boleh.”

Minheepun teringat sesuatu saat berada di rumah keluarga Lee.

“Eomma, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

“Saat aku berada di rumah, aku melihat foto Howon, Yena dan seorang laki-laki. Apakah laki-laki itu putra eomma?”

Hyerim terdiam berusaha mengingat foto yang Minhee maksud. Wanita itupun mengerti foto yang dimaksud Minhee.

“Ooohhh… Laki-laki itu. Dia bukan putraku.”

Minhee menatap Hyerim bingung.

“Jika bukan putra eomma. Lalu siapa dia?”

“Dia adalah teman Howon. Namanya Lee Sungjong.”

Mata Minhee melotot kaget mendengar nama malaikat yang selalu mengikuti Minhee.

“Su-Sungjong?”

Hyerim mengangguk.

“Ne. Karena ingin bersekolah kedokteran di Seoul, jadi eomma menawarkan tempat tinggal padanya. Sungjong adalah anak yang baik dia selalu membantu eomma membersihkan rumah dan membantu eomma memasak. Tapi….”

“Tapi kenapa?”

Hyerim menatap Minhee dengan sedihnya.

“Dia meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan.”

Minhee ikut sedih mendengar penjelasan Hyerim.

“Lalu dimana orangtuanya?”

“Orangtua Sungjong tinggal di Wonju.”

“Wo-Wonju?” Untuk kesekian kalinya Minhee terkejut.

“Ne. Waeyo?”

“Eehh… Ada seseorang yang kukenal tingal di sana.”

“Eomma…..”

Minhee dan Hyerim menoleh mendengar suara seseorang. Hyerim berdiri dan tampak terkejut melihat Howon membuka pintu.

“Eomma…..”

Howon berlari dan memeluk ibunya. Minhee berdiri dan tersenyum melihat pemandangan yang begitu menyentuh.

“Howon-ah…. Kenapa kau begitu bodoh melakukan hal seperti itu HUH?” Marah Hyerim.

Mianhae eomma.” Ucap Howon menunduk.

“Tidak seharusnya kau meminta maaf pada eomma. Seharusnya kau minta maaf pada Jiyeon dan Sunggyu.”

Howon terkejut mendengar ibunya sudah mengetahui jika Minhee bukanlah putrinya. Sebelum bertanya Howon melihat ibunya menunjuk Minhee yang berdiri tak jauh dari mereka. Howonpun mendekati Minhee.

Mi-Mianhae Jiyeon-ssi. Dan Sunggyu aku juga sangat menyesal sudah melukainya.”

“Ne Gwaenchana. Kalau begitu aku harus pergi melihat keadaan Sunggyu.”

Howonpun mengangguk mendengar ucapan Minhee. Gadis itu menghampiri Hyerim.

“Eomma aku pergi dulu ne. Aku berjanji akan sering menjengukmu.”

Gomawo Jiyeon-ssi.”

Minheepun berjalan keluar kamar itu. Di depan kamar Hyerim tampak Jiyeon dan Woohyun menunggunya.

“Sesuai perintah anda, saya sudah membebaskan Lee Howon hwajangnim.” Ucap Woihyun.

“Ne. Gamsahamnida Nam Biseonim.

“Tapi hwajangnim,apa kau yakin membebaskan laki-lali itu? Diakan hampir saja membunuh kau dan Sunggyu Oppa?” Tanya Jiyeon.

Gwaenchana. Aku tahu Howon tidak akan melakukannya lagi.”

Minheepun melihat ke arah Woohyun dan menghampirinya.

“Jadi kau sudah tahu tentang kami Nam biseonim?” Tanya Minhee.

“Ne hwajangnim.”

Mianhae hwajangnim. Tapi jika tanpa bantuan Nam biseonim, aku tidak tahu bagaimana menyelamatkanmu dan Sunggyu Oppa.” Ucap Jiyeon.

Gwaenchana. Aku percaya pada Nam biseonim. Aku pergi dulu, aku ingin melihat keadaan Sunggyu. Kalian berdua pulanglah.” Ucap Minhee meninggalkan mereka.

Hwajangnim.” Panggil Jiyeon menghentikan langkah Minhee.

“Bagaimana dengan uang itu?” Tanya Jiyeon mengingatkan Minhee.

“Aiggoo…. Aku sampai lupa hal itu.”

Minhee mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Jikyeong.

“Ne Jiyeon-ah?” Sapa Jikyeong.

“Eomma, apakah penagih hutang itu sudah datang?”

“Ani. Mereka belum datang.”

“Benarkah?”

“Ne. Sedari tadi eomma tidak ke mana-mana jadi jika mereka datang eomma pasti tahu.”

Aneh. Bukankah penagih hutang itu mengatakan hari ini akan mengambil uangnya? Batin Minhee bingung.

“Jiyeon-ah? Bukankah ini sudah larut malam? Kenapa belum pulang?” Tanya Jikyeong menyadarkan minhee.

“Oohh… Mianhae eomma. Ada sesuatu yang terjadi dengan pekerjaanku jadi aku harus mengurusnya sekarang. Eomma tak perlu menungguku pulang ne?”

“Kau yakin tidak apa-apa Jiyeon-ah?”

“Tenang saja eomma. Tidak akan terjadi apapun padaku.”

Terdengar suara Jikyeong menghela nafas.

“Baiklah. Jangan terlalu lelah ne?”

“Ne eomma.”

Minhee memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.

“Bagaimana hwajangnim?” Tanya Jiyeon.

“Kau bawalah dulu. Penagih hutang itu tidak datang hari ini.”

“Benarkah?”

Minhee mengangguk.

“Tapi Kenapa mereka tidak datang? Mereka tidak pernah telat menagih hutang.” Heran Jiyeon.

“Mungkin terjadi sesuatu dengan mereka. Sudahlah kalian pulanglah. Kalian pasti lelah.”

“Ne hwajangnim.” Jawab Jiyeon dan Woohyun bersamaan.

Merekapun berjalan meninggalkan Minhee. Sedangkan Minhee berjalan menuju ruangan menunggu Sunggyu namun belum satupun orang keluar dari ruangan itu. Minhee memghempaskan tubuhnya di kursi tunggu.

“Kau mengambil keputusan yang tepat membebaskan Howon.” Ucap Sungjong duduk disamping Minhee.

“Ne.”Jawab Minhee tanpa semangat.

“Apa kau tidak ingin melihat gelangmu?”

Dengan malas Minhee mengangkat tangannya. Matanya seketika membesar melihat mutiara birunya menjadi 4.

“4? Bukankah kemarin masih dua?”

Minhee menatap Sungjong bingung.

“Sebenarmya saat kau menolong eomma Howon mencari putranya, kau sudah melakukan satu kebaikan sehingga mutiara birumu bertambah menjadi 3. Lalu kau juga membebaskan Howon. Sudah kubilang bukan itu keputusan yang tepat sehingga Tuhan memberimu mutiara biru lagi.”

Minhee tersenyum senang karena tinggal 3 mutiara lagi yang harus diubahnya menjadi biru. Senyum Minhee memudar mengingat pembicaraannya dengan Hyerim.

“Sungjong-ah.” Panggil Minhee.

“Aku tahu kau sudah mengetahui tentang diriku.”

Minhee mendengus kesal.

“Aaaishhh… Kau membaca pikiranku lagi?”

“Aiggoo… Minhee-ah bukankah sudah kukatakan bukannya aku membaca pikiranmu tapi pikiranmu sendiri yang keluar sehingga terdengar telingaku.”

Minhee hanya bisa memutar bola matanya malas.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Ne aku memang tinggal di Wonju.”

“YA!!! Aku bahkan belum mengatakannya.” Kesal Minhee.

Mianhae… Mianhae…. Memang kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Aku… Aku…. Ani tidak jadi.” Minhee mengurungkan niat bertanya pada Sungjong.

“YA!! Memang apa yang ingin kau tanyakan?”

“Tidak jadi.”

“YA!! Cepat katakan aku tak bisa mendengar apa yang kaupikirkan.” Rengek Sungjong.

Shirreo.

“Aaiishhh… Cepat katakan.” Rengek Sungjong.

“Baiklah. Aku hanya ingin bertanya apakah kau mengenal eomma ku. Namanya Tae Minjung.”

Sungjong tak menjawab, dia hanya diam dan matanya tampak menerawang. Minhee menoleh bingung melihat reaksi Sungjong. Dia menepuk bahu malaikat itu untuk menyadarkannya.

“Sungjong-ah, kau mendengarku?”

“Eehhh…. Ne aku mendengarmu. Mianhae tapi aku tak bisa menjawabnya karena ini rahasia malaikat.”

MWO? YA!!! Kalau kau tidak mau menjawab kenapa harus memaksaku tadi? Aaaiisshhh…… Kalau saja aku sedang tidak mood aku sudah pasti memukulmu.”

Sungjong mengamati Minhee yang sedang menyilangkan tangan di depan dadanya.

“Ooohhh…. Jadi kau sedang mencemaskan orang yang kau sukai?”

“Orang yang kusukai? Siapa?” Bingung Minhee

Sungjong menunjuk ke kamar dimana Sunggyu sedang diobati dokter.

“Orang yang sudah memyelamatkanmu?”

“Aku menyukai Sunggyu?”

Minhee tidak hanya bertanya pada Sungjong tapi juga pada dirinya sendiri. Minhee tak pernah merasakan dilindungi seperti yang Sunggyu lakukan padanya. Sunggyu memperlakukannnya seakan dirinya sangat berharga baginya.

“Aku…..” Ucapan Minhee terhenti saat tak mendapati Sungjong duduk di dekatnya.

“Aaiishhh….. Kebiasan menghilang.”

Minheepun terdiam dia mengingat ucapan Sunggyu.

Jika hal ini bisa menyelamatkanmu, aku akan melakukannya. Karena kau penting bagiku.

 

Minhee menyentuh dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Benarkah aku menyukainya?” Tanya Minhee kembali.

*   *   *   *   *

Jiyeon menatap keluar jendela saat mobil Woohyun yang melaju menembus jalanan kota Seoul. Jiyeon teringat bagaimana Sunggyu terlihat pucat karena tertusuk melindungi Minhee. Gadis itupun juga teringat bagaimana Myungsoo memeluk dan menenangkan dirinya sebagai Minhee saat ketakutan.

“Tae hwajangnim sangat beruntung.” Gumam Jiyeon.

“Beruntung? Mengapa kau berkata seperti itu Jiyeon-ssi?”

Jiyeon menoleh ke arah Woohyun.

“Sunggyu oppa mengorbankan dirinya untuk melindungi hwajangnim. Myungsoo Oppa juga mencemaskannya. Aku jadi iri.”

Woohyun tersenyum.

“Iri? Jangan berkata seperti itu Jiyeon-ssi. Justru hwajangnim iri bisa hidup sepertimu Jiyeon-ssi?”

Hwajangnim iri padaku?”

Woohyun mengangguk.

“Saat masih kecil hwajangnim ditingal oleh eommannya pergi. Dia hanya tinggal berdua saja dengan appanya. Karena appanya sangat terobsesi agar hwajangnim menggantiknnya, Untuk tujuan itu mendian tuan besar Tae mendidik hwajangnim dengan sangat keras.”

“Jadi karena itu Tae hwajangnim menjadi orang yang sangat dingin?”

Woohyun mengangguk.

“Ne. Meskipun di luar hwajangnim terlihat dingin tapi di dalam hwajangnim benar-benar merasa kesepian. Jadi bersyukurlah kau masih bisa bahagia dengan keluargamu Jiyeon-ssi.”

“Kau benar Woohyun-ah. Aku jadi merasa kasihan dengan hwajangnim.

Ponsel Jiyeon berdering. Diapun mengambil ponselnya dari dalam tas.

“Ne Myungsoo Oppa?” Sapa Jiyeon mengangkat telpon itu.

“Minhee-ya…. Kau tidak apa-apa? Kudengar penjahat yang sudah menerormu tertangkap. Apa kau terluka?” Khawatir Myungsoo.

Minhee baik-baik saja Oppa. Jawab Jiyeon dalam hati.

“Aku tidak apa-apa Oppa.”

“Dimana kau sekarang?”

“Aku sedang dalam perjalanan pulang.”

“Baiklah aku akan segera menyusulmu.”

Belum sempat Jiyeon meresponnya Myungsoo sudah menutup telpon itu.

“Jadi Kim hwajangnim sudah mendengarnya?” Tanya woohyun.

“Ne. Dia terdengar cemas. Dia bilang akan segera ke rumah.”

“Kalau begitu aku akan secepatnya mengantarmu.”

Jiyeon mengangguk dan kembali memperhatikan jalanan dari jendela.

*   *   *   *   *

Minhee melihat Sunggyu yang terbaring di atas ranjang dan masih belum sadarkan diri. Setelah lukanya selesai dijahit, Sunggyu dipindahkan ke kamar rawat. Minhee mengulurkan tangan menggenggam tangan Sunggyu. Terlihat tangan Sunggyu lebih besar di dalam genggaman Minhee.

Gomawo Sunggyu-ssi.” Ucap Minhee namun Sunggyu masih belum juga sadarkan diri.

Terdengar pintu terbuka dan Minhee langsung menarik tangannya lalu berdiri. Dia melihat kakek Sunggyu masuk diikuti Taecyeon.

Annyeong hasseyo tuan besar Kim.” Sapa Minhee membungkukkan tubuhnya.

Geunhyung menatap Minhee dengan tatapan tajam. Geunhyung mendekati Minhee.

“Jadi kau sekertaris Sunggyu?” Tanya Geunhyung.

“Ne.”

“Jadi karena kau Sunggyu menjadi seperti ini?” Terdengar nada marah dari suara Geungyung.

“Ne. Joseonghamnida.”

“Maaf saja tidak cukup. Apa kau tidak tahu besok adalah hari yang penting untuk Sunggyu HUH?” Bentak Geunhyung.

Minhee terdiam karena ucapan kakek Sunggyu benar, ini semua kesalahan Minhee yang sudah membuat Sunggyu memjadi seperti ini. Minhee meremas tangannya menyalahkan dirinya sendiri.

“Ini bukan salah Jiyeon harabeoji.”

Minhee dan Geunhyung menoleh dan melihat Sunggyu sudah sadarkan diri.

“Sunggyu-ya.” Geunhyung Menghampiri cucunya itu.

“Harabeoji. Kumohon jangan salahkan Jiyeon atas kejadian ini. Dia tidak bersalah. Aku sendiri yang memilih untuk menyelamatkannya.”

“Tapi Sunggyu-ya besok adalah hari yang penting untukmu bagaimana mungkin kau akan melewatkannya?”

“Harabeoji tenang saja. Besok aku pasti akan datang.”

“Dengan keadaan seperti ini?”

“Aku sudah tidak apa-apa harabeoji. Ini hanya luka kecil.”

“Tapi Sunggyu-ya…”

“Percayalah padaku harabeoji.” Potong Sunggyu.

Geunhyung menghela nafas.

“Baiklah. Harabeoji percaya padamu. Ingat mereka akan senang jika kau tidak datang. Jadi jangan membuat mereka senang.”

“Ne.”

Sebelum keluar Geunhyung menatap Jiyeon dengan penuh kebenciam sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan itu diikuti Taecyeon. Sunggyu menoleh melihat Minhee masih berdiri terdiam di tempatnya.

“Minhee-ssi….” Panggil Sunggyu tapi gadis itu tak bergerak sama sekali.

“Minhee-ssi….” Suara Sunggyu sedikit lebih keras menyadarkan gadis itu.

“Oohh… Nde?”

“Kemarilah?” Sunggyu mengayunkan tangannya meminta Minhee mendekatinya.

Perlahan Minhee menghampiri Sunggyu dan berdiri di samping ranjang. Gadis itu menatap Sunggyu yang tengah menyunggingkan senyuman lemah.

“Jangan pikirkan ucapan harabeoji.” Ucap Sunggyu.

Minhee menggelengkan kepalanya.

“Tidak Sunggyu-ssi. Tuan besar Kim benar. Jika saja kau tidak menyelamatkanku, kau tidak mungkin terluka.”

Sunggyu menghela nafas dan mengulurkan tangannya menggenggam tangan minhe.

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu asalkan bisa menyelamatkanmu aku rela melakukannya. Karena kau adalah orang yang penting bagiku Tae Minhee.”

Minhee menatap Sunggyu dengan tatapan tak percaya. Tatapan mereka bertemu. Mata sunggyu seakan mengunci mata gadis itu membuatnya tak bisa mengalihkan tatapannya.

“Aku menyukaimu Tae Minhee.”

Seketika mata Minhee membulat memperlihatkan manik mata coklatnya.

“Me-menyukaiku? Sejak kapan?”

“Sejak kau pertama kali menginjakkan kaki di Taeyang Group. Awalnya aku hanya mengagumimu yang pantang menyerah untuk belajar agar bisa menggantikan mendiang tuan Tae. Tapi kekaguman itu semakin bertambah sehingga tanpa sadar aku tidak bisa mengalikan perhatianku darimu Minhee-ssi.”

Entah mengapa ada perasaan senang di hati Minhee mendengar ucapan Sunggyu yang begitu manis. Namun sadar dengan statusnya dalam keluarga Kim membuat kesenangan Minhee menghilang.

“Tapi aku adalah tunangan Myungsoo.”

Sunggyu tersenyum pahit mendengar Minhee mengatakan hal itu.

“Ne aku tahu tapi perasaan ini tidak akan berubah Minhee-ssi.”

Minhee tak dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Ini adalah kali pertama Minhee merasakan hatinya memanas dan jantungnya berdegup kencang lalu kepalanya seakan tak bisa bekerja dengan benar. Myungsoo selalu mengatakan hal-hal yang manis padanya tapi ucapan Sunggyu berbeda. Dia mengatakan seakan Minhee sangat berarti untuk laki-laki itu. Tepukan di tangannya menyadarkan Minhee.

“Aku tidak membutuhkan jawabanmu Minhee-ssi. Yang kuinginkan saat ini, kau bersikap biasa padaku seakan aku tidak mengatakan apapun.”

Sunggyu bergerak mencari tempat yang nyaman bagi tubuhnya. Diapun mengerang saat merasakan sakit di bahunya.

“Sepertinya aku harus istirahat. Agar besok aku bisa keluar dari rumah sakit?”

MWO? Jadi kau benar-benar akan pergi?” Kaget Minhee.

“Ne. Karena besok adalah hari yang penting untukku.”

“Tapi Sunggyu-ssi, kau butuh banyak istirahat untuk memulihkan lukamu itu.”

“Tidak apa-apa Minhee-ssi. Aku sudah tidak apa-apa. Kau tenang saja.”

“Aiishhh… Dasar keras kepala?”

“Bukankah sama denganmu?”

Sunggyu tertawa melihat Minhee cemberut. Gadis itu begitu menggemaskan dengan bibir yang maju dan wajah yang di tekuk.

“Aaiishhh… Terserah kau.” Minhee berbalik dan bersiap tidur.

Terlihat jelas kesenangan di balik senyuman Sunggyu.

wpid-sunggyu.gif

*   *   *   *   *

Jiyeon keluar dari mobil Woohyun. Jendela mobil Woohyun terbuka dan Jiyeonpun menyunggingkan sebuah senyuman.

Gamsahamnida Woohyun-ssi.”

“Ne. Sampai jumpa besok Jiyeon-ssi.”

Jiyeon mengangguk dan mobil Woohyunpun langsung melesat pergi. Jiyeon berbalik dan berjalan menuju rumahnya. Langkahnya terhenti saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Jiyeon bisa merasakan nafas yang memburu menerpa lehernya.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu Minhee-ah.”

Jiyeon bisa mendengar suara Myungsoo yang bergetar.

“Myungsoo Oppa?”

“Jangan berbalik.” Larang Myungsoo saat Jiyeon hendak berbalik.

“Kau tidak apa-apa Oppa?”

“Pertanyaan itu seharusnya aku yang mengucapkannya bukan?”

Jiyeon menyunggingkan senyumannya.

“Aku tidak apa-apa Oppa. Kau bisa melihat tubuhku tidak terluka sedikitpun.” Ucap Jiyeon meyakinkan Myungsoo.

Jiyeon melepaskan tangan Myungsoo dan berbalik. Gadis itu terkejut melihat wajah Myungsoo yang ketakutan hingga menangis. Jiyeon menyentuh pipi Myungsoo yang berkeringat.

wpid-tumblr_mb6j5gfh7h1r2vcsx.gif

“Oppa… Ada apa denganmu? Apa yang terjadi.”

Myungsoo menangkup kedua pipi Jiyeon.

“Kupikir aku akan kehilanganmu Minhee-ah.”

Jiyeon menggelengkan kepalanya.

Aniyo Oppa. Bukankah aku sudah berada di hadapanmu saat ini? Ayo kita masuk.”

Jiyeon menarik Myungsoo masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu. Jiyeon mengambil handuk kecil lalu mengelap wajah Myungsoo yang penuh dengan keringat.

“Aku akan mengambilkan minum untukmu Oppa.”

Jiyeon hendak berdiri namun tangannya ditarik membuat tubuh gadis itu terjatuh di sofa dengan Myungsoo berada di atas tubuhnya. Wajah Jiyeon tampak terkejut melihat wajah Myungsoo yang begitu dekat dengannya.

“Menikahlah denganku Tae Minhee.” Ucap Myungsoo dengan nada yang serius.

Nafas Jiyeon tercekat mendengar permintaan Myungsoo. Gadis itu tak menyangka Myungsoo akan mengatakan hal itu saat ini.

“O-Oppa….”

“Aku ingin terus melindungimu Minhee-ah. Dengan menikah, setiap saat aku bisa berada di dekatmu dan melindungimu.”

Jiyeon begitu bingung menjawabnya. Gadis itu tak mungkin mengatakan bahwa dirinya bukanlah Minhee, tunangan Myungsoo. Tapi jika tidak mengatakan yang sebenarnya bagaimana gadis itu bisa mengungkapkan alasannya menolak Myungsoo.

“Aku… Aku akan memikirkannya Oppa.” Jiyeon hendak mendorong Myungsoo tapi tangan Myungsoo menghalanginya.

“Memikirkannya? SAMPAI KAPAN KAU MEMBUATKU MENUNGGU TAE MINHEE.” Teriak Myungsoo tampak kesal.

Pertama kalinya Jiyeon melihat Myungsoo marah. Biasanya laki-laki itu selalu lembut dan selsapu tersenyum padanya. Tapi kali ini dia benar-benar marah.

“Tae Minhee, menikahlah denganku.” Ucap Myungsoo lebih lembut.

~~~TBC~~~

9 thoughts on “(Chapter 6) Love & Revenge

  1. Astaga … ceritanya makin seru aja …
    nah gue ngerti sekarang !! Seungjong itu saudaraan sama Minhee kan ??
    Astaga, truss si L beneran punya perasaan kan sama Minhee ? Ough, jan ampe nyakitin pliss … T_T
    Nanti pas L udah tauu kalau sebenarnya itu Jiyeon, mudah2an L bisa nerima yaa … ^_^

    Ditunggu lanjutannya …
    Fighting !!

  2. Aigoo… ceritanya tambah seru eon…
    Huh.. seandainya minhee udh kembli ketubuhnya yg asli saat myungsoo melamarnya. -_-.
    Tapi ff ini baguss banget eon.
    Fighting eonni.
    *mian baru sempat bacanya. Hehe*

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s