(Chapter 7) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 7)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Guest :

* Lee Hoya as Lee Howon (INFINITE)

* Park Geun Hyung as Kim Geun Hyung

Park-Geun-Hyung-03

* Ok Taecyeon (2PM)

* Kim Sung Soo

fullsizephoto254091

* Kim Hee Sun

476429

Mianhae jika lama. Jangan lupa komen dan like ya…..

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

7

EOMMA

Semua dewan direksi melihat ke arah Geunhyung yang saat ini berdiri di depan meja panjang termasuk. Myungsoo tersenyum melihat kearah Sunggyu  yang duduk di samping Geunhyung. Lain halnya dengan ayahnya yang menatap Sunggyu penuh kebencian.

“Terimakasih semua sudah datang dalam meeting ini. Seperti yang kalian ketahui, cucuku bergabung dengan perusahaan ini kemarin. Karena itu saat ini aku ingin memperkenalkannya secara langsung pada kalian.” Jelas Geunhyung.

Geunhyung memerintahkan Sunggyu berdiri. Terlihat jelas kegugupan melanda laki-laki itu. Sunggyupun berdiri dan menatap seluruh dewan direksi.

Annyeong haseyo. Saya Kim Sunggyu. Mohon kerjasamanya.”

Sunggyu membungkuk kepada seluruh dewan direksi. Seketika tatapan tidak suka terlihat di mata para dewan direksi.

“Untuk sementara Sunggyu akan menjabat sebagai Iseonim. Dia akan belajar keras untuk menguasai perusahaan ini. Sehingga jika dia sudah siap, kita akan mengadakan meeting kembali untuk menentukkan siapa yang pantas menjabat hwajangnim di perusahaan ini.”

Seketika suasana menjadi ricuh mendengar ucapan Geunhyung. Beberapa dewan direksipun berbisik untuk menentang ucapan Geunhyung.

“Abeoji, bukankah Myungsoo sudah menjabat sebagai Hwajangnim di perusahaan ini? Myungsoo juga sudah bekerja dengan sangat baik, mengapa abeoji membawa anak haram itu dan mengambil keputusan ini?” Marah Sungsoo ayah Myungsoo.

Minhee yang duduk di pojok ruangan menatap Sunggyu cemas. Gadis itu yakin hati Suunggyu pasti merasa sedih mendengar ucapan ayah Myungsoo.

“Tuan Sungsoo benar. Seharusnya Kim Myungsoo yang berhak menduduki kursi hwajangnim di perusahaan ini. Anda pasti sedang dalam keadaan yang tertekan saat mengambil keputusan ini bukan tuan besar Kim?” Sahut salah satu dewan direksi membuat suasana meeting semakin memanas.

“Tidak.”

Tiba-tiba suara Sunggyu terdengar dingin. Semuanya terdiam dan menatap ke arah Sunggyu termasuk Geunhyung. Minhee semakin cemas melihat Sunggyu. Semua orang menanti ucapan selanjutnya yang akan Sunggyu katakan. Mata Minhee membulat saat melihat Sunggyu membungkuk 90° di hadapan semua pemeran penting dalam perusahaan Kim.

Joseonghamnida jika keputusan tuan besar Kim sangat merisaukan semua. Tapi saya bisa menjamin jika keputusan tuan besar Kim diambil tanpa tekanan apapun. Tuan Sungsoo benar, memang saya adalah anak yang dilahirkan di luar pernikahan tapi dalam tubuh saya masih mengalir darah keluarga Kim jadi anda suka atau tidak saya juga tetap termasuk anggota keluarga Kim. Saya datang kemari tidak serta merta ingin bermain-main tapi saya akan menunjukkan kinerja jadi tolong beri saya kesempatan. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik.” Ucap Sunggyu kembali membungkuk.

Minhee tersenyum mendengar ucapan Sunggyu. Sama halnya dengan Minhee, Geunhyung juga tampak senang.

“Sebelum kalian mengajukkan protes kembali, bukankah lebih baik kita melihat bagaimana hasil kerjanya dulu. Jika memang Sunggyu tidak bisa bekerja sebaik yang kalian lihat, aku akan mencabut keputusanmu. Tapi jika hasil kerja Sunggyu memuaskan maka rencanaku akan berjalan seperti yang aku jelaskan tadi. Cukup sampai di sini. Meeting berakhir.” Geunhyungpun keluar diikuti Taecyeon, Sunggyu dan Minhee.

Geunhyung berhenti dan menghadap Sunggyu. Sang kakek itu menepuk bahu cucunya itu.

“Jangan mengecewakanku Sunggyu-ya.” Ucap Geunhyung seakan menaruh kepercayaan yang besar pada cucunya itu.

“Ne harabeoji.”

Geunhyung mengangguk puas dengan ucapan Sunggyu yang terdengar mantap. Sunggyu dan Minheepun membungkuk saat Geunhyung pergi bersama orang kepercayaannya.

“Hyung.”

Sunggyu dan Minhee berbalik. Mereka melihat Myungsoo menghampirinya.

“Hyung. Maafkan ucapan Appa ne? Mianhae aku tidak bisa membelamu hyung.” Myungsoo menunduk menyesal.

Sunggyu menepuk bahu Myungsoo.

“Tidak apa-apa Myungsoo-ah.”

Myungsoopun tersenyum pada Sunggyu.

“Apa yang kau lakukan di sini Myungsoo-ah?”

Terlihat Sungsoo menghampiri putranya. Seketika Sunggyu menarik tangannya dari bahu Myungsoo.

“Tidak apa-apa abeoji.”

“Ayo kita pergi, jangan dekat dengan anak haram itu. Kau mengerti?”

“Ne abeoji.”

Myungsoopun mengikuti ayahnya pergi.

“Aiishhh… Tadi dia menyesal tapi sekarang dia mengikuti abeojinya.” Gerutu Minhee.

Sunggyu tersenyum melihat Minhee.

“Jangan seperti itu. Myungsoo sebenarnya baik hanya saja dia tidak bisa menentang ucapan abeojinya.”

“Benarkah?”

Sunggyu mengangguk.

“Ne. Di keluarga Kim hanya harabeoji dan Myungsoo yang baik padaku. Meskipun abeojinya selalu melarang Myungsoo dekat denganku tapi diam-diam Myungsoo selalu mendekatiku. Dia sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri.”

Minhee melihat Myungsoo yang memasuki lift. Laki-laki itu tersenyum pada Minhee sebelum pintu lift tertutup. Minhee tersenyum sadar jika tunangannya tidak seburuk yang di perkirakan.

“Sunggyu-ssi.” Panggil Minhee saat mereka berjalan bersama menuju tempat kerja mereka.

Nde?”

“Apa kau tidak apa-apa tentang ayah Myungsoo?”

“Aku tidak apa-apa. Ucapan itu sudah kuanggap angin lalu saja.”

Sunggyupun kembali berjalan. Sedangkan Minhee masih terdiam di tempat dan menatap punggung Sunggyu. Sebagai seorang Presiden direktur yang pedas, Minhee memang selalu dikatakan hal-hal yang buruk oleh orang lain di belakangnya. Tapi gadis itu tak bisa membayangkan bagaimana jika orang-orang yang membencinya mengatakan hal-hal yang buruk di hadapannya seperti yang dilakukan ayah Myungsoo pada Sunggyu.

*   *   *   *   *

Jiyeon terlihat semakin panik saat mendengar nomor yang ditujunya sedang tidak aktif. Jiyeon kembali menghubungi Minhee untuk kesekian kalinya namun jawabannya tetap sama. Woohyun yang duduk di hadapan Jiyeon menatap gadis itu bingung.

“Kau sedang menghubungi siapa Jiyeon-ssi?” Tanya Woohyun.

Jiyeon meletakkan ponselnya dan menatap Woohyun dengan wajah seperti seekor kucing dalam film Shrek.

a20792a12440a89e6c7c69_m

“Woohyun-ssi….”

Waeyo?” Bingung Woohyun.

Otteokke?”

“Ada apa Jiyeon-ssi?”

“Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Dan aku yakin Tae hwajangnim pasti akan mengamuk mendengarnya.”

“Kesalahan apa?”

Jiyeonpun menunduk dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela tangannya.

“Tae hwajangnim akan menikah dengan Myungsoo.” Ucap Jiyeon lirih namun masih terdengar telinga Woohyun.

MWWOOO?”

Jiyeon yakin jika Minhee mendengarnya pasti reaksinya akan sama seperti yang ditunjukkan Woohyun saat ini.

“Ta-tapi bagaimana bisa?”

Jiyeon mendongak dan menatap Woohyun memelas sebelum akhirnya menceritakan apa yang terjadi semalam.

~~~FLASHBACK~~~

“Tae Minhee, menikahlah denganku.” Myungsoo menatap Jiyeon lembut.

Jiyeon yang masih berada di bawah tubuh Myungsoo menatap debgan penuh kebingungan. Gadis itu tak mampu mengelak lagi. Hanya dua pilihan yang harus diambil Jiyeon. Menolak dengan menjelaskan dirinya bukan Tae Mimhee atau menerima lamaran Myungsoo tanpa memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pilihan pertama sangatlah tidak mungkin tapi Jiyeon ragu mengambil pilihan kedua.

“Oppa… Aku….”

Myungsoo menatapnya penuh harap.

“Baiklah Oppa.”

Bibir Myungsoo seketika melebar membentuk senyuman. Diapun langsung memeluk Jiyeon erat.

“Aku sangat bahagia Minhee-ah. Aku sudah lama menantikan hal ini. Gomawo Minhee-ah.”

Jiyeon hanya bisa memaksakan senyumannya.

~~~FLASHBACK END~~~

“Bagaimana ini Woohyun-ssi. Tae hwajangnim pasti akan membunuhku.” Rengek Jiyeon.

“Tae hwajangnim tidak akan membunuhmu Jiyeon-ssi. Tapi dia pasti akan marah padamu.”

Ucapan Woohyun bukannya menenangkan Jiyeon tapi justru membuat gadis itu semakin terpuruk.

“Bukankah itu sama saja Woohyun-ssi.” Kesal Jiyeon.

Mianhae. Tapi Tae hwajangnim memang benar-benar akan marah.”

“Tapi sebenarnya apa alasan Tae hwajangnim belum juga menikah dengan Mgungsoo Oppa? Bukankah mereka sudah bertunangan lama?”

“Karena Tae hwajangnim mencurigai keluarga Kim hanya menginginkan perusahaan Taeyang saja. Tae hwajangnim sedang berusaha memcuri bukti namun sayang sekali tak ada bukti yang menguatkan kecurigaannya itu.”

“Myungsoo Oppa ingin merebut perusahaan ini? Tapi dia terlihat sangat menyukai Tae hwajangnim.

“Ne. Tapi Tae hwajangnim masih tidak yakin padanya.”

Jiyeon meletakkan kepalanya dimeja dan menghela nafas lemas.

“Dia pasti benar-benar marah.” Ucap Jiyeon pasrah.

*   *   *   *   *

Minhee mengobrak-abrik isi tasnya. Bahkan diapun mengeluarkan barang-barang dalam tasnya. Minhee semakin tidak tenang ketika tidak menemukan apa yang dicarinya.

“Kau sedang mencari apa Minhee-ah?”

Minhee mendongak dan melihat Sunggyu sudah berada di samping mejanya.

“Aku mencari ponselku.” Minhee kembali mencari ponselnya di seluruh kaci mejanya.

“Mungkin tertinggal di rumahmu.”

Minhee terdiam mengingat-ingat dimana dia meletakkan benda pentingnya itu. Tangan Minhee menepuk keningnya saat mengingat sesuatu.

“Kau benar ponsel itu tertinggal di kamarku.”

Sunggyu hanya tersenyum melihat tingkah Minhee.

“Tak kusangka Tae Minhee pelupa ne?”

“Ini kan hanya sekali.” Ucap Minhe cemberut.

Sunggyu mengulurkan tangannya mencubit pipi Minhee.

“Ne… Nee… Minhee-ah.”

Seketika kedua pipi Minhee merona merah mengingat pernyataan suka Sunggyu saat di rumah sakit. Mengingat rumah sakit, Minhee juga teringat telpon ibu Jiyeon.

“Sunggyu-ssi.”

“Hmm…?”

“Semalam penagih hutang itu tak kunjung datang. Apa kau mengetahui sesuatu?”

Sunggyu terlihat aneh saat Minhee menanyakan hal itu.

“Aku tidak tahu.” Ucap Sunggyu berlalu menuju ruangannya.

Minheepun mengikuti Sunggyu masuk ke dalam ruangannya.

“YA!!! Sunggyu-ssi… Kau pasti mengetahui sesuatu.”

Minhee menarik tangan Sunggyu membuat tubuhnya terhuyung dan jatuh diatas tubuh Sunggyu.

“Aaaauuuww…..” Sunggyu meringis kembali merasa kesakitan di bahunya.

Mi-mianhae.”

Mimhee hendak menyingkir dari tubuh Sunggyu namun kedua tangan Sunggyu menahannya. Minhee menatap Sunggyu yang sedang mengamati wajah Minhee dalam tubuh Jiyeon.

“Wajahmu memang Jiyeon, tapi kau bukan Jiyeon.” Gumam sunggyu.

“Kau berkata apa Sunggyu-ssi. Bukankah kau sudah tahu aku adalah Minhee?”

“Ne. Karena itu aku ingin mengamati Minhee meskipun dalam tubuh ini.”

“Su-Sunggyu-ssi.” Panggil Minhee gugup.

Tangan Sunggyu merambat menyentuh pipi Minhee yang mulai memanas. Gadis itu tak pernah merasakan sentuhan laki-laki seintim ini. Bahkan Minhee tak pernah membiarkan Myungsoo, tunangannya untuk menyentuhnya.

Tiba-tiba sebuah pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Tampak Myungsoo menatap keduanya kaget.

Mianhae. Tadi aku tidak melihat sekertarismu hyung.”

Minhee dan Sunggyupun segera berdiri dan merapikan pakaian mereka.

“Tidak apa-apa, Myungsoo-ah. Ada apa kau kemari.”

Myungsoo menunjukkan map yang dibawanya.

“Aku membawa data perusahaan agar bisa kau pelajari hyung.”

Sunggyu mengambil map itu dan membacanya sekilas. Diapun tersenyum pada laki-laki yang sudah dianggap adiknya.

Gomawo Myungsoo-ah.”

“Kalau begitu aku akan kembali dulu ke ruanganku hyung.”

“Ne Myungsoo-ah.”

Myungsoo menatap Minhee sekilas sebelum keluar dari ruangan Myungsoo. Sunggyu melihat Minhee yang masih melihat jejak dimana Myungsoo tadi berdiri. Diapun menghela nafas berat.

“Lupakanlah kejadian barusan. Aku tidak bermaksud merebutmu dari Myungsoo.” Ucap Sunggyu kembali ke meja kerja.

Minhee menoleh dan menghampiri Sunggyu.

“Aku bukan barang yang bisa diperebutkan Kim Sunggyu.” Geram Minhee.

Sunggyu mendongak dan terlihat santai menghadapi Minhee yang sedang marah.

“Aku tahu.”

“Jika kau ……”

Ucapan Minhee terhenti saat melihat sesuatu. Sunggyupun menatap gadis itu bingung.

“Aku kenapa Minhee-ah?”

“Darah.”

Nde?” Bingung Sunggyu.

Minhee memutar meja dan mebghampiri Sunggyu. Tangannya menyentuh bahu Sunggyu. Dan tampak darah menempel di telapak tangan Minhee.

“Bahumu kembali berdarah. Aku akan mengobatimu.”

Sunggyu melihat kemejanya yang terkena noda darah.

“Ini hanya sedikit Minhee-ah.”

“Tidak boleh dibiarkan. Kau tunggu di sini, aku akan mengambil peralatannya.”

Sunggyu tersenyum melihat Minhee berlari keluar ruangannya.

*   *   *   *   *

Myungsoo memasuki ruangan ayahnya. Dia menghampiri Sungsoo yang tengah berdiri di depan jendela.

“Abeoji.” Panggil Myungsoo.

“Hmm?” Ucap Sung tanpa menoleh.

“Bisakah jika kita tidak harus membunuhnya?” Ucap Myungsoo dengan nada yang bergetar.

Sungsoo menoleh dan menatap putranya. Bunyi ketukan sepatu Sungsoo terdengar menghampiri Myungsoo.

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal ini Myungsoo-ah?”

Myungsoo menunduk tak berani menjawab pertanyaan ayahnya. Dengan keras Sungsoo menepuk bagu putranya.

“Katakan mengapa kau mengatakan hal itu Myungsoo-ah?” Kali ini suara Sungsoo terdengar dalam membuat Myungsoo yakin ayahnya tengah marah.

Seperti kebiasana laki-laki itu selalu memainkan ujung jasnya saat ketakutan melandanya.

“Aku… Aku menyukainya abeoji.”

Terlihat senyuman sinis tampak di wajah Sungsoo membuat siapapun pasti merinding ketakutan melihatnya.

PLOKK… PLOKK… PLOK….

Sungsoo bertepuk tangan seraya berjalan mundur.

“Putraku menyukai mangsanya sendiri eoh.”

Sungsoo mengangguk-angguk seakan sulit mencerna ucapan Myungsoo. Tangan Sungsoo meraih sebuah vas dan melemparkannya ke dinding membuat Myungsoo terlonjak kaget mendengar suara vas yang pecah itu.

“Aku menyuruhmu untuk membuat gadis itu menyerahkan perusahaannya bukan untuk menyukai gadis itu.” Bentak Sungsoo.

“Bukankah abeoji hanya menginginkan perusahannya bukan? Bagaimana jika aku mendapatkannya tanpa harus menyingkirkannya?”

Sungsoo menoleh dan dahinya berkerut menatap putranya.

“Apa maksudmu?”

“Dia akan menikah denganku abeoji. Dan aku akan membuat dia menyerahkan perusahaannya jadi aku mohon abeoji jangan menyingkirkannya.” Ucap Myungsoo.

Tanpa ekspresi Sungsoo menghampiri putranya. Langkahnya terhenti tepat di depan Myungsoo. Dia mengamati Myungsoo yang menunduk takut. Kedua tangan Sungsoo terulur memegang kedua bahu Myungsoo.

“Kau benar melakukannya?”

Myungsoo mendongak terkejut karena mengira ayahnya akan marah padanya.

“Ne. Dia menerima lamaranku semalam.”

Sebuah senyuman menghiasi wajah dimgin Sungsoo.

“Kau benar karena abeoji hanya menginginkan perusahaan itu jadi kau boleh memilikinya.”

Myungsoo tersenyum tak percaya.

“Benarkah abeoji?”

Sungsoo mengangguk.

“Ne. Tapi ingat kau harus merebut perusahaan itu.”

Myungsoo nengangguk penuh semangat.

“Ne”

“Baiklah telpon eommamu sekarang dan beritahu kabar gembira ini agar dia bisa mempersiapkan pernikahanmu.”

“Ne abeoji.”

Myungsoopun keluar dengan hati yang sangat berbunga-bunga. Bahkan senyuman tak kunjung lenyap dari bibirnya. Saat Myungsoo tengah berjalan diapun melihat Minhee yang berjalan berlawanan dengannya. Gadis itu tampak membawa kotak perobatan.

“Untuk apa kotak itu Jiyeon-ssi.”

Awalnya Minhee terkejut namun detik kemudian gadis itu menyunggingkan senyumannya.

“Untuk mengobati luka Kim Iseonim.”

“Sunggyu hyung? Jadi rumor Sunggyu hyung terluka karena melindungimu itu benar Jiyeon-ssi?”

Minhee memgangguk.

“Ne hwajangnim.”

“Hmm…. Jiyeon-ssi. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Minhee tampak ragu mendengar permintaan Myungsoo. Gadis itu takut jika Myungsoo menyadari dirinya adalah tunangannya.

“N-Ne ada apa hwajangnim?”

“Hhmm….”

Myungsoo menengok ke kanan dan ke kiri. Merasa tidak ada orang lain yang menguping diapun mendekati telinga Minhee untuk membisikkan sesuatu.

“Apakah kau dan Sunggyu hyung berpacaran?” Bisik Myungsoo dengan suara pelan.

MWO?” Minhee tampak kaget dengan pertanyaan Myungsoo.

“Jangan sekeras itu Jiyeon-ssi.”

“Hee.. He… Mianhae. Aku hanya terkejut dengan pertanyaan anda hwajangnim.”

“Jadi jawabannya iya?”

Sunggyu memang sudah menyatakan perasaannya pada Minhee tapi gadis itu belum memberi balasan padanya.

“Mengapa anda bisa berpikiran seperti itu Hwajangnim?”

“Aku melihat Sunggyu hyung berbeda.”

“Berbeda?”

Myungsoo memgangguk.

“Ne. Sejak kecil setelah kematian ibunya, Sunggyu hyung diambil harabeoji untuk tinggal di keluarga Kim. Setelah melihat meeting tadi kau pasti tahu bagaimana perlakuan keluarga Kim pada Sunggyu hyung bukan?”

“Ne.”

“Karena itu Sunggyu hyung menjadi namja yang cuek dan tak memperdulikan orang lain kecuali orang yang spesial di hatinya.”

“Maksud hwajangnim aku?” Minhee menunjuk hidungnya sendiri.

“Ne. Dan sudah lama aku tidak melihat Sunggyu hyung sesenang tadi saat di ruangannya.”

Minheepun ingat saat Myungsoo melihat dirinya berada di atas tubuh Sunggyu.

“Aahhh.. Itu hanya kecelakaan kecil hwajangnim.”

“Kecelakaan besarpun tidak apa-apa Jiyeon-ssi. Karena aku senang Sunggyu hyung bisa kembali bahagia.”

“Apa dia tidak pernah merasa bahagia?”

Myungsoo menggeleng.

“Semenjak kematian ibunya baru kali ini aku melihat Sunggyu hyung bahagia. Jadi tolong jaga dia ne Jiyeon-ssi.”

Myungsoo menepuk bahu Jiyeon sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

*   *   *   *   *

Nde? Nanti malam? Hmmm… Ne eommonim. Saya pasti akan datang. Ne.”

Jiyeon meletakkan ponselnya setelah panggilan dari ibu Myungsoo berakhir. Gadis itu tak menyangka berita pernikahan itu bisa membuat ibu Myungsoo sangat heboh.

“Apa akan ada makan malam di keluarga Kim?”

Jiyeon menatap Woohyun yang duduk di hadapannya. Diapun mengangguk lemah pada laki-laki itu.

“Jika ini makan malam untuk membahas pernikahan berarti makan malam akan diadakan secara tradisional karena keluarga Kim akan mengundang matchmaker.”

MWO? Apa maksudmu Woohyun-ssi.”

Woohyun menghela nafas sebelum menjelaskannya.

“Keluarga Kim masih menjunjung tinggi adat Korea. Karena itulah mereka masih tinggal di Hanok. Jadi untuk urusan membicarakan pernikahanpun akan diadakan secara tradisional.”

“Matilah aku. Aku bahkan tak mengerti hal seperti itu.”

“YA! Memang kau orang mana Jiyeon-ssi. Bahkan hal seperti itu tidak bisa?”

“Aku selalu tertidur dalam pelajaran sejarah heee..heee….” ucap Jiyeon dengan polosnya.

Woohyunpun menghela nafas kembali.

“Baiklah. Aku akan mengajarimu. Tapi yang penting saat ini adalah mencari hanbok yang cocok untuk acara nanti malam. Ayo.”

Woohyun menarik Jiyeon pergi.

“Kenapa kita tidak datang ke perusahaan Kim untuk bertemu dengan Tae hawajangnim terlebih dulu?” Tamya Jiyeon menghentikan langlah Woohyun.

“Tidak akan ada waktu. Karena aku harus mengajarimu tata cara tradisional.” Woohyunpun kembali menarik Jiyeon keluar ruangan.

*   *   *   *   *

Minhee terus membelitkan perban di bahu Sunggyu. Gadis itu tak mengalihkan pandangannya dari Sunggyu.

“Minhee-ah?”

Nde?”

“Sampai kapan kau akan melilitkan perban itu?”

Minheepun menunduk dan melihat bahu Sunggyu sudah sangat penuh dengan lilitan perban. Minheepun hanya nyengir kuda melihat kecerobohannya.

Mianhae.”

Mimheepun memperbaiki perban Sunggyu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mulai menyukaimu?”

Minhee mendongak dan terlihat jelas rona merah tercetak jelas di kedua pipinya.

“A-Aku… A-Aniyo… A-aku…”

Sunggyu tersenyum geli melihat Minhee salah tingkah. Laki-laki itu mengambil kemejanya dan mengenakannya kembali.

“Tak perlu menjawabnya. Oh ya soal pertanyaanmu tadi….”

“Pertanyaanku?”

“Soal penagih hutang itu, aku sudah membayarnya.” Ucap Sunggyu tengah mengancingkan kemejanya.

MWO?”

“YA!!! Bukankah sudah kubilang akan membayarnya? Mengapa kau melakukannya?”

Sunggyu menoleh dan tersenyum pada Minhee.

“Karena aku ingin melindungimu.”

Karena itu Sunggyu hyung menjadi namja yang cuek dan tak memperdulikan orang lain kecuali orang yang spesial di hatinya.

Minheepun teringat ucapan Myungsoo.

Spesial? Benarkah aku orang yang spesial untuk Sunggyu? Batin minhee.

“Minhee-ah… Kau tidak apa-apa.” Tanya Sunggyu menyadarkan Minhee.

“Sepertinya ada seseorang yang sedang jatuh cinta.”

Minhee menoleh dan melihat Sungjong tengah bersandar di dinding.

“Aaiishhh…. Diam kau?” Gerutu Minhee.

“Apakah Sungjong lagi?”

Minhee kembali menoleh pada Sunggyu dan mengangguk.

“Dia selalu saja mengganggu.” Ucap Minhee seraya melirik kearah Sungjong.

Sungjong menghampiri Mimhee dan menunduk tepat di telinga gadis itu.

“Baiklah aku tidak akan mengganggu sepasang kekasih.”

MWO?”

Belum sempat Minhee menyemprot Sungjong namun malaikat itu sudah menghilang seperti kebiasaannya.

“Aaaiishhh… Selalu saja menghilang seenaknya sendiri.” Kesal Minhee.

“Dia menghilang lagi?” Tanya Sunggyu.

“Ne. Oh ya aku belum cerita padamu jika aku melihat foto Sungjong bersama Howon dan Yena dirumahnya.”

“Di rumah Howon?”

“Ne. Aku sudah bertanya pada eommanya Howon dia bilang Sungjong adalah teman howon yang meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan. Ibu Howon juga mengatakan keluarga Sungjong tinggal di Wonju.”

“Wo-Wonju?”

Minhee menatap Sunggyu heran.

“Apa kau tahu desa itu?”

“Tentu saja. Aku dan eomma pernah tinggal di sana. Aku rasa hal itu yang membuat aku merasa familiar dengan nama Lee Sungjong.”

“Benarkah?”

“Ne.”

“Apa kau mengenal Tae Minjung?”

“Tae Minjung? Entahlah. Aku sudah lama. Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Memang siapa dia?”

Minhee tampak sedih saat membicarakan ibunya.

“Dia… Dia eommaku.”

Sunggyu terkejut Minhee membicarakan ibunya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya menepuk bahu Minhee.

“Apa kau ingin menemuinya?”

Minhee menatap Sunggyu terkejut. Pikiran itu tak pernah terlintas di otak gadis itu atau bahkan gadis itu berusaha tidak menginginkan pikiran itu.

“Tidak. Aku rasa itu bukan ide yang bagus.”

Waeyo?”

“Karena aku membencinya. Jadi aku tidak ingin menemuinya.”

“Mengapa kau membenci eommamu sendiri Minhee-ah.”

“Karena dia sudah meninggalkanku.”

Sunggyu bisa melihat kesedihan yang mendalam dimata Minhee. Tapi Sunggyu juga yakin ada sedikit kerinduan di hati Minhee.

“Aku yakin eommamu punya alasan tersendiri melakukannya Minhee-ah.”

Minhee terrsenyum sinis.

“Tentu saja eomma melakukan hal itu agar bisa terbebas dariku dan appa.”

“Apa kau yakin itu alasan eommamu.”

Minhee memang tidak yakin dengan alasan ibunya karena appanya selalu menghindar jika dirinya menanyakan tentang ibunya. Gadis itu merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Minhee melihat tangan itu lalu menoleh ke arah pemiliknya.

“Bagaimana jika kita mencari tahu?” Tawar Sunggyu.

Minhee tampak ragu menerima tawaran itu. Di satu sisi Mimhee penasaran dengan apa yang terjadi pada ibunya tapi di sisi lain Minhee takut jika alasan ibunya akan semakin menyakiti ibunya. Sunggyu mengeratkan tangannya.

“Kau tenang saja. Aku akan selalu ada di sampingmu jadi jangan takut.”

Ucapan Sunggyu bagaikan air es yang menyirami tubuhnya di saat panas. Begitu nyaman bagi Minhee. Gadis itupun mengangukkan kepalanya.

“Baiklah.”

“Karena besok kita libur. Bagaimana jika kita pergi besok?”

“Ne. Gomawo Sunggyu-ya.” Ucap Minhee senang.

Dari kejauhan terlihat Sungjong tersenyum senang.

3078225_1353307836505.3res_500_365

*   *   *   *   *

Jiyeon menghela nafas panjang sebwlum akhirnya menggerakkan kakinya menaikki tangga satu persatu. Kali ini Jiyeon mengenakan jeogori berwarna merah dengan lengan yang berwarna-warni. Sedangkan Chima yang dikenakan berwarna hijau yang berkilauan membuat Jiyeon terlihat cantik.

QSPnuZWTsC9UcJhn-QagnX19O7TausJeZTxKzHIrIfEmXfCnUriZP6JIWo22rpXv-fM4iGREq13ECwneruqZE6I44GCjkGscbPwaDziQk6j1ICOLDi3NeAjdk3EVdkh3fZ81QkQNJ-s2wSbqoyAF=w308-h478-nc

Pintu terbuka dan Jiyeon langsung disambut Geunhyung yang duduk tanpa ekspresi. Jiyeon mengambil posisi dan segera memberi hormat pada kakek Myungsoo.

Jiyeon berpindah dihadapan Sungsoo dan Heesun yang mengenakan hanbok. Gadis itu mulai membungkuk pada kedua orangtua Myungsoo. Selesai Jiyeonpun duduk di samping Myungsoo yang mengenakan setelan hitam yang rapi.

“Lakukan tugasmu Jungsoo-ssi.” Perintah Geungyung.

“Baik tuan besar Kim.”

Seorang laki-laki yang bertugas menjadi matchmaker duduk di hadapan Myungsoo dan Jiyeon. Laki-laki bernama Jungsoo itu menatap Jiyeon dengan tatapan yang menyelidik membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

“Ada apa Jungsoo-ssi? Kenapa kau belum mulai melakukan tugasmu?” Tanya Geunhyung.

Joseonghamnida tuan besar Kim. Tapi dia bukanlah tunangan tuan Myungsoo.”

Seketika semuanya terkejut mendengar ucapan Jumgsoo. Seketika semua mata memandang ke arah Jiyeon yang mulai ketakukan.

“Apa yang kau katakan Jungsoo-ssi? Bukankah kau melihatnya sendiri saat pertunangan mereka?” Tanya Heesun.

Jungsoo menghampiri Jiyeon dan menatap wajah Jiyeon dengan seksama. Gadis yang di tatappun berusaha menghindar ketakutan jika dirinya bukanlah Minhee.

“Ne. Tapi yang kulihat saat ini berbeda dengan gadis dingin yang kulihat kemarin. Gadis ini memiliki aura yang berbeda. Aku yakin dia gadis yang berbeda.”

Dengan susah payah Jiyeon menelan ludah. Saking gugup bahkan Jiyeon tak bisa mendengar bagaimana bunyi detak jantungnya sendiri. Sebuah tangan menahan Jungsoo mendekati Jiyeon.

“Jungsoo-ssi. Hentikan omong kosong anda. Dia adalah tunanganku dan aku tahu betul dia bukanlah gadis lain. Jadi lakukan saja tugasmu.” Ucap Myungsoo dingin.

tumblr_inline_ms7hl5nCKx1rjopgf

Jungsoopun masih mengamati Jiyeon seraya kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Jiyeonpun bisa bernafas lega karena Myungsoo sudah menyelamatkannya.

“Baiklah aku akan mencari tanggal yang baik untuk calon pengantin Kim Myungsoo dan Tae Minhee.”

Jungsoopun mulai melakukan ritual untuk menentukan tanggal pernikahan yang tepat.

*   *   *   *   *

Dahi Minhee berkerut saat melihat 20 panggilan dari Jiyeon saat dirinya melihat ponselnya. Minhee duduk dan bersandar di dinding. Diapun menelpon balik Jiyeon namun sayang ponsel Jiyeon tidak aktif.

“Mengapa Jiyeon menghubungi? Aku yakin ada masalah penting. Tapi kenapa dia tidak mengaktifkan ponselnya? Aneh.” Heran Minhee.

Sebuah pesan masuk dan Minheepun langsung membukanya.

From : Sunggyu Oppa

Apa kau sudah bersiap untuk besok?

Minhee tersenyum mendapat pesan dari Sunggyu. Diapun segera membalasnya.

To : Sunggyu Oppa

Ne. Bagaimana denganmu Sunggyu-ssi?

“Kau terlihat bahagia mendapat pesan darinya.”

Minhee terlonjak kaget saat Sungjong tiba-tiba muncul.

“Aaiiggoo… Kau masih saja mengagetkanku.”

Sungjongpun tersenyum tanpa dosa lalu duduk di samping Minhee.

“Jadi kalian sudah berpacaran?”

Minhee menoleh dan tampak tak mengerti dengan ucapan Sungjong.

“Siapa yang berpacaran?”

“Kau dan sunggyu.”

Aniyo.”

“Bukankah Sunggyu sudah menyatakan perasaannya padamu?”

MWO? Bagaiamana kau tahu?”

TTUUKKK…

Sungjong menyentil dahi Minhee.

“Apa kau lupa aku malaikat eoh?”

“Nee.. Ne…”

“Lalu kenapa kau tak menerima perasaannya? Bukankah kau juga menyukainya?”

“Aku menyukainya?” Tanya Minhee tak percaya.

“Ne. Apa kau tidak sadar kau jadi mudah tersenyum saat dekat dengannya?”

Terdengar ponsel Minhee kembali berdering dan tampak satu pesan masuk.

From : Sunggyu Oppa

Aku juga sudah bersiap. Aku tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu padamu saat di sana.

Minhee kembali menyunggingkan senyumannya. Dengan semangat gadis itu membalas pesan Sunggyu.

To :Sunggyu Oppa

Sesuatu apa?

Pesanpun terkirim dan Minhee tak sabar menantikan balasan Sunggyu.

“Lihat bukan. Kau kembali tersenyum saat membaca pesannya.” Sungjong berkata menatap gadis itu.

“Sungjong-ah. Ini benar-benar sulit untukku.”

“Sulit apanya?”

“Aku sangat nyaman bersama Sunggyu bahkan aku merasa seperti seekor burung yang bebas mengelilingi angkasa bersama dengannya. Tapi jika mengingat kehidupanku, aku adalah tunangan Myungsoo, sepupu Sunggyu. Kenyataan itu seakan menjadi tembok besar yang menghalangiku dan Sunggyu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

Minhee memeluk kedua lututnya dan menumpukkan kepalanya dengan lemas. Sungjong tersenyum mendengar keluh kesah Minhee.

“Aku tidak bisa berkomentar apapun tapi aku punya cerita yang sangat mirip dengan yang kau rasakan saat ini.”

Minhee mendongak dan terlihat sangat antusias ingin mendengar cerita itu.

“Cerita apa?”

“Ada seorang gadis yang sama denganmu memliki seorang tunangan yang sangat mencintainya. Meskipun sudah berusaha bekali-kalipun tapi gadis itu tetap tak bisa mencintai tunangannya. Tapi suatu hari gadis itu bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Menurutmu mana yang akan gadis itu pilih?”

“Orang yang membuatnya jatuh cinta.” Jawab Mimhee.

Ani. Gadis itu memilih tunangannya.”

“Tapi bukankah dia tidak mencintai tunangannya? Lalu kenapa dia memilih tunangannya?”

“Karena tunangannya selalu membantu disaat gadis itu membutuhkannya.”

“Jadi gadis itu memilih tunangannya karena ingin membalas kebaikan tunangannya bukan karena mencintainya?”

“Tepat sekali.”

“Apa mereka hidup bahagia?”

“Tidak. Mereka hidup jauh dari kata bahagia.”

“Lalu bagaimana dengan akhirnya?”

“Mereka berpisah dan kehilangan kedua namja itu. Karena itu pilihlah dengan benar siapa yang kau cintai. Karena pilihanmu akan menentukan kebahagiaanmu. Jadi pilihlah dengan benar ne?”

Sungjong mengacak puncak kepala Minhee sebelum akhirnya menghilang.

“Memilih dengan benar?”

Minhee menunduk menatap ponselnya. Karena terlalu asyik mendengar cerita Sungjong, Minhee tidak mendengar pesan yang masuk.

From : Sunggyu Oppa

Besok kau akan nengetahuinya sendiri. Beristirahatlah. Jaljayo.

Jaljayo Sunggyu-ssi.” Ucap Minhee seraya mengetik pesan itu dan mengirimkannya pada Sunggyu.

“Jiyeon-ah.”

Minhee terkejut melihat Jikyeong masuk dengan membawa beberapa kotak bekal.

“Apa ini eomma?” Bingung Minhee melihat kotak-kotak bekal yang tersusun rapi.

“Ini adalah bekal untukmu besok. Apa kau sudah menyiapkan banyak pakaian?”

“Eomma. Aku hanya akan pergi besok dan malamnya akan kembali untuk apa membawa banyak pakaian?”

“Eomma hanya berpikir jika ada hal yang tak terduga datang membuatmu harus mengganti baju. Bagaimana?”

Minhee tersenyum melihat Jikyeong begitu mengkhawatirkan dirinya.

“Eomma.”

Nde?”

Minhee mendekati Jikyeong dan memeluknya.

Gomawo. Aku senang bisa memiliki eomma.”

Jikyeong terharu mendengar ucapan putrinya. Diapun mengelus rambut hitam panjang Minhee.

“Eomma juga senang memiliki putri sepertimu Jiyeon-ah.”

Minhee melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tabgan Jikyeong. Mataby tak lepas dari mata keibuan Jikyeong.

“Eomma apa kau tidak pernah berpikir untuk meninggalkanku?”

Kali ini Jikyeong heran mendengar pertanyaan Minhee yang terdengar baginya.

“Meninggalkanmu? Bagaimana bisa eomma meninggalkanmu? Eomma tidak akan melakukan itu.”

“Benarkah.”

“Tentu saja. Mana mungkin eoma meninggalkan putri eomma sendiri. Memang ada apa kau menanyakan hal itu?”

“Tadi seorang temanku bercerita jika sejak kecil eommanya sudah meninggalkannya pergi ke tempat yang jauh. Sejak saat itu temanku menjadi membencinya. Apakah seorang eomma selalu tega meninggalkan putrinya?”

Jikyeong menghela nafas dan menumpukkan kedua tangan Minhee dan tangannya.

“Setiap eomma pasti akan mengalami kesakitan yang begitu hebat saat melahirkan anaknya. Itu merupakan keajaiban Tuhan yang luar biasa yang di berikan pada setiap eomma. Jadi tidak mudah meninggalkan seorang putri yang sudah susah payah di lahirkannya. Eomma yakin eomma temanmu itu pasti memiliki alasan mendesak yang membuatnya harus meninggalkan putrinya. Tapi katakan pada temanmu. Kebencian seorang anak bagaikan sebilah pisau yang menusuk hati seorang eomma. Jadi jangan pernah membencinya.”

Minhee begitu tercengang mendengar ucapan Jikyeong. Entah apa yang harus di katakan gadis itu. Karena saat ini hati Minhee tengah bergemuruh akibat ucapan itu.

“Jiyeon-ah.”

Nde eomma?”

Jikyeong tersenyum dan membelai rambut Minhee.

“Tidurlah bukan besok kau akan pergi pagi sekali?”

“Ne eomma.” Ucap Minhee senang.

*   *   *   *   *

Woohyun melirik ke arah Jiyeon yang duduk di bangku sampingnya seraya bersandar. Gadis itu bagaikan tak bernyawa karena hanya diam membisu dan tak bergerak sama sekali. Woohyun yang sedabg menyetir menjadi  semakin khawatir.

“Apakah acara tidak berjalan lancar?” Woohyun bertanya.

Jiyeon menggeleng lemah.

“Apakah mereka mengetagui kau bukanlah Tae hwajangnim?”

Jiyeon kembali menggeleng lemah.

“Lalu apa yang membuatmu tampak lesu seperti itu Jiyeon-ssi?”

Perlahan Jiyeon menoleh pada Woohyun.

“Tanggal pernikahan sudah di tentukan Woohyun-ssi.”

“Memang kapan tanggal pernikahannya?”

“7 Juni depan.”

MWO? Jadi tinggal 2 minggu lagi?”

Jiyeon mengangguk lemah sedangkan Woohyun menghela nafas berat. Woohyun menggenggam tangan Jiyeon dan meremasnya lembut.

“Kau tenang saja. Aku yang akan berbicara dengan Tae hwajangnim besok. Jadi kau tak perlu khawatir ne?”

Jiyeon tersenyum tipis dan memgangguk.

Gomawo Oppa. Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?”

“Tentu saja Jiyeon-ah.”

*   *   *   *   *

“Kau sudah siap?” Tanya Sunggyu bersandar di pintu seraya melihat Minhee yang sedang menutup tasnya.

“Ne. Eomma aku pergi dulu ne?”

Minhee memeluk Jikyeong.

“Ne. Sunggyu-ah, jaga putriku tercinta ne?”

Sunggyu memberi hormat layaknya seorang prajurit.

“Ne Ahjuma.”

“Sampai nanti eomma.”

“Ne. Hati-hati ne?”

Minhee mengambil tasnya dan langsung mengikuti Sunggyu masuk ke dalam mobil. Gadis itu mengenakan sabuk pengaman seperti yang dikenakan sunggyu.

“Kau sudah siap?”

“Ne.”

Eomma tunggu aku ne? Semangat Minhee dalam hati.

Mobil Sunggyupun melaju meninggalkan rumah Jiyeon. Tak berselang lama mobil Woohyun berhenti di depan rumah Jiyeon. Dengan mengenakan pakaian santai Woohyun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Jiyeon.

Annyeong hasseyo ahjumonim.” Sapa Woohyun.

Nde?” Jikyeong tampak bingung menatap Woohyun.

“Ahjumonim, Apakah Jiyeon ada? Aku adalah Woohyun temannya.”

“OOhh… Josonghamnida Jiyeon baru saja pergi.”

“Ke mana?”

“Ke Wonju katanya ada urusan perusahaan di sana.”

“Ohh.. Begitu. Kalau begitu aku akan menelponnya.”

Woohyun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jiyeon. Terdengar suara dering ponsel Jiyeon dari kamarnya. Jikyeongpun berjalan menuju kamar Jiyeon. Lalu Jikyeong keluar dengan membawa ponsel; Jiyeon yang tertinggal.Woohyunpun mewnghela nafasnya berat.

Kapan aku bisa menemuimu Tae Minhee? Cepatlah kembali ada yang harus kukatakan padamu. Batin Woohyun.

~~~TBC~~~

10 thoughts on “(Chapter 7) Love & Revenge

  1. duh, makin penasaran Author …
    kisah yg diceritain Sungjong ntuh kisahnya sendiri atau kisahnya eomma Minhee ? feeling aku kyaknya itu kisahnya Sungjong deh …
    cepetan di post lanjutannya nee ~

    FIGHTING !!

  2. sungjong itu pasti kenal sama ibunya minhee? terus minhee akhirnya samaa sunggyu atau myungso? jd sungjong itu siapa sebelum jd malaikat? ._.
    ditunggu post selanjutnya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s