(Chapter 8) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

Poster by flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 8)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Guest :

* Kim Sung Soo

* Kim Hee Sun

Mianhae jika lama. Jangan lupa komen dan like ya…. Oh ya BACA juga dong TEASER drama terbaru Author judulnya “THE UNWANTED LOVE” soalnya Author ingin meminta PENDAPAT Readersdeul.

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

8

Walk To Remember

Cincin-cincin emas dengan berbagai bentuk tertata rapi di tempatnya. Jiyeon menatap kagum cincin-cincin yang sangat mahal itu. Semuanya begitu indah bagi gadis itu. Tapi justru cincin itu yang membuat Jiyeon tampak tegang. Bagaimana bisa dia memilih cincin pernikahan yang tidak akan dipakainya.

“Jadi kau ingin yang mana?”

Nafas Jiyeon tercekat saat merasakan kepala Myungsoo mengintip dari bahunya.

“Apa ada yang kau suka?” Tanya Myungsoo kembali.

“Entahlah. Oppa saja yang memilihkannya.” Jawab Jiyeon tak tahu mana yang harus di pilihnya.

Myungsoo membalikkan tubuh gadis itu dan menatapnya.

“Kalau begitu kita pergi saja.”

Seketika mata Jiyeon melotot saat Myungsoo menariknya pergi.

“Tapi bagaimana dengan cincinnya Oppa?”

“Kita kembali saja nanti. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Jiyeonpun dengan patuhnya mengikuti Myungsoo masuk ke dalam mobilnya. Jiyeon melirik ke arah Myungsoo yang sedari tadi tak henti-hentinya menampilkan senyuman manisnya.

Begitu bahagiakah kau Oppa? Tanya Jiyeon dalam hati.

Keduanya hanya terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Jiyeon terus saja mengecek ponselnya menanti kabar dari Woohyun yang tak kunjung datang. Mobil Myungsoo terhenti sampai di depan Lotte World.

“Taman hiburan? Untuk apa kita kemari Oppa?” Bingung Jiyeon.

Myungsoo mematikan mesin mobil dan menoleh.

“Bukankah kau tidak pernah ke taman hiburan Minhee-ah, jadi kita akan bersenang-senang sebelum kita menikah. Ayo.”

Jiyeon keluar dari mobil mengikuti Myungsoo. Seketika laki-laki itu langsung menarik Jiyeon masuk ke dalam taman hiburan itu. Jiyeon mengamati Myungsoo yang begitu bahagia bersamanya.

Mianhae hwajangnim. Ijinkan aku menjadi dirimu satu hari saja. Aku ingin merasakan kebersamaan ini. Harap Jiyeon dalam hati.

Bibir Jiyeon menyunggingkan sebuah senyuman dan mulai menikmati kebersamaanya bersama Myungsoo.

*   *   *   *   *

Mobil Sunggyu berhenti tak jauh dari sebuah jalanan yang sempit. Masih banyak sekali rumah-rumah adat Hanok yang menghiasi kedua sisi jalan. Diapun mematikkan mesin mobil dan menoleh melihat Minhee meremas-remas sabuk penhamannya sedari tadi.

“Kata ahjuma tadi, rumahnya ada di ujung jalan ini.” Ucap Sunggyu setelah menanyakan rumah ibu Minhee saat dalam perjalanan.

Minhee masih terdiam dan mengamati jalanan itu ragu-ragu.

“Bagaimana jika alasannya tidak sesuai dengan yang aku pikirkan? Bagaimana jika dia sudah melupakanku? Lalu bagaimana jika….”

“Dia merindukanmu?”

Minhee menoleh kaget.

“Merindukanku?”

Sunggyu mengangguk meyakinkan Minhee. Tangannya terulur melepaskan genggaman Minhee di sabuk pengaman dan meremasnya lembut.

“Jangan takut. Aku akan selalu ada di sampingmu.”

Keraguan Minhee seketika menghilang mendengar ucapan Sunggyu. Diapun mengangguk dan melepaskan sabuk pengamannya. Mereka keluar dari mobil dan berjalan menyusuri jalan yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki ataupun bersepeda. Minhee menggenggam tangan Sunggyu saat mendekati pintu rumah yang mereka tuju.

“Sudah siap?” Tanya Sunggyu sampai di sebuah pintu kayu.

Minhee mengangguk mantap.

Tookk… Toook… Toookk…

Sunggyu mengetuk pintu itu membuat perasaan Mimhee semakin tak menentu. Tak ada suara dari dalam membuat keduanya bertatapan bingung. Sunggyu kembali mengetuk pintu namun tak kunjung ada orang yang membukanya.

“Apa kalian mencari Minjung?”

Keduanya menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di samping mereka.

“Ne ahjuma. Apakah dia tidak ada di rumah?” Tanya Sunggyu.

“Jika sore begini Minjung belum pulang dari bekerja.”

Sunggyu menatap Minhee yang masih terdiam.

“Hmmm…. Memang dia bekerja di mana ahjuma?”

“Dia menjadi kasir di supermarket kecil di sana. Tanya saja di sana semua orang pasti tahu.”

“Ne. Gamsahamnida ahjuma.”

“Ne.”

Wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan Sunggyu dan Minhee.

“Ayo kita kesana.” Ucap Sunggyu menarik tangan Minhee.

Namun langkah Sunggyu terhenti saat Minhee tak juga bergerak. Laki-laki itupun berbalik dan menatap gadis itu bingung.

Waeyo?”

Minhee menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Itu tidak mungkin eommaku. Menjadi kasir bukanlah image yang tepat untuknya. Aku yakin kita salah orang Sunggyu-ssi.”

“Kita tidak akan tahu jika kita tidak melihatnya bukan? Ayo.”

Sunggyu kembali menarik Minhee pergi.

*   *   *   *   *

“Ommo… Aku takut Oppa.” Ucap Jiyeon berjalan dalam rumah hantu.

Myungsoo memeluk bahu Jiyeon menenangkan hati gadis itu.

Gwaenchana Ada aku di sini.”

Jantung Jiyeon berdegup lebih cepat bukan kareena ketakutan melainkan karena dirinya dalam pelukan Myungsoo. Jiyeon berusaha menenangkan jantungnya sendiri namun sayang tidak bisa. Gadis itu bahkan melupakan ketakutannya dalam rumah hantu itu karena terlalu fokus pada Myungsoo. Tak berselang lama merekapun keluar. Myungsoo tersenyum pada Jiyeon yang masih terdiam.

“Kau tidak apa-apa Minhee-ah?”

Jiyeon yang tersadar langsung melepaskan diri dari pelukan Myungsoo.

“Ne Oppa aku tidak apa-apa. Ayo kita cari permainan yang lain.”

Jiyeon berjalan terlebih dahulu. Dirasakanmya sebuah tangan menggenggamnya erat. Diapun menoleh dan melihat Myungsoo tersenyum senang padanya.

“Bagaimana jika yang itu? Aku ingin memberikan sesuatu padamu dengan usahaku sendiri. Bagaimana?” Tanya Myungsoo menunjuk satu stand tak jauh dari sana.

“Tapi apa Oppa bisa bermain darts?” Ucap Jiyeon ragu-ragu melihat permainan yang menancapkan benda kecil seperti panah.

“Jangan meremehkan kemampuanku Minhee-ah. Ayo.”

Myungsoo menarik Jiyeon penuh semangat.

“Kau ingin hadiah yang mana?” Tanya Myungsoo sampai di depan permainan itu.

Jiyeon melihat-lihat hadiah yang di tawarkan untuk yang memenangkan permainan ini. Jiyeon tertarik pada boneka kuda nil berwarna kuning yang terlihat sangat menggemaskan.wpid-1-piece-small-size-30-cm-new-arrrived-cartoon-style-baby-fruit-font-b-hippo-b.jpg

“Aku ingin yang itu Oppa.” Ucap Jiyeon menunjuk boneka yang diinginkannya.

“Baiklah. Aku pasti akan mendapatkannya untukmu.”

Seorang penjaga menghampiri Myungsoo dan menyerahkan 3 panah darts padanya.

“Kau hanya memiliki 3 kesempatan. Peraturannya kau hanya perlu menancapkan panah darts ini tepat di tengah-tengah papan darts itu. Jika bisa kau bisa memilih hadiah yang kau mau.”

“Ne aku mengerti.”

“Oppa Fighting!!”

Myungsoo mengangguk mendengar ucapan semangat Jiyeon. Laki-laki itupun mulai fokus menatap papan darts tak jauh darinya. Tangannya bersiap-siap melemparkan panah darts. Myungsoopun melemparkan panah darts itu dengan cepat. Namun sayang panah darts itu berada di luar titik yang ditujunya.

“Kesempatan satu terlewatkan. Tenang saja masih ada 2 kesempatan lagi.” Ucap sang penjaga.

Myungsoo mulai beraiap-siap melemparkan panah darts keduanya. Jiyeon tampak tegang melihat aksi Myungsoo. Laki-laki itupun mulai melemparkan panah dartsnya kembali. Sayang nyaris sedikit saja panah itu hampir mendekati titik tengah papan darts.

“Yyaahhh… Sayang sekali. Kurang sedikit lagi kau hampir menang. Tinggal satu panah darts lagi. Jangan sia-siakan kesempatanmu anak muda.” Ucap sang penjaga.

Aku pasti bisa. Ucap Myungsoo dalam hati

Myungsoo mulai bersiap melempar. Dia kembali fokus dan berkonsentrasi. Panah dartspun mulai terlepas dari tangan Myungsoo. Dalam hitungan detik panah darts itu menancap tepat di tengah papan.

“YYYYEEE…..” Jiyeon berteriak senang memeluk Myungsoo saat mendapati laki-laki tu berhasil memenangkan permainan.

“Kau hebat tuan dan hadiah apa yang kau inginkan?” Tanya sang penjaga.

Jiyeon melepaskan pelukannya dan membiarkan Myungsoo memilih hadiahnya.

“Aku ingin boneka kuda nil kuning itu.” Myungsoo menunjuk boneka yang diinginkan Jiyeon.

Sang penjagapun mengambil boneka yang dimaksud Myungsoo lalu menyerahkannya padanya.

“Ini tuan selamat atas kemenangannya.”

Myungsoopun berbalik dan menghampiri Jiyeon.

“Ini untukmu.” Myungsoo memberikan boneka itu pada Jiyeon.

Gadis itu tersenyum menerimanya.

Gomawo Oppa. Lalu kita ke mana lagi?”

Myungsoo menunjuk studio yang biasa digunakan untuk menonton film.

“Bagaimana jika kita beristirahat sebentar sambil menonton film?”

Jiyeonpun mengangguk menyetujui ide Myungsoo. Merekapun berjalan bersama dan tak lupa Myungsoo selalu menggandeng tangan Jiyeon. Setelah Myungsoo membeli tiket, mereka berdua masuk ke dalam theater. Tampak tempat itu sudah gelap karena film sudah di mulai. Mereka duduk di bangku paling belakang.

“Doraemon?” Kaget Jiyeon melihat film doraemon di layar besar itu.

“Ne. Bukankah film ini bagus?”

Jiyeon tersenyum geli karena tak menyangka seorang laki-laki seperti Myungsoo menyukai kartun anak-anak seperti doraemon.

“Apa kau melihatku Minhee-ah?”

Mata Jiyeon melotot kaget saat melihat film doraemon tergantikan dengan gambar Myungsoo. Jiyeon menoleh dan tak lagi menemukan Myungsoo duduk di sampingnya.

“Aku ingin menyanyikan lagu untukmu. Lagu ini khusus aku persembahkan untukmu karena lagu ini menggambarkan isi hatiku saat ini. Dengarkanlah.”

Tampak Myungsoo mengambil sebuah gitar dan memangkunya. Kedua tangannya dengan ahli memainkan melodi yang lembut.

I love you neoreul sarang-hae

I love you, I love you

chama hajimothan mal

the words that I can’t bear anymore

tteollineun gaseumi nae mami

my trembling heart

neul sumkyeowaht-deon geureon-mal

the words that I kept hiding in my heart

 

achimimyeon nunbushike nareul bichojuneun

Just like the sunshines that glaringly shines on me when the morning comes

neul haessal-gateun neoneun nae-ge-neun neoneun

You, who’s always shines like sunshine, that’s what you are for me

 

I like you neoreul chowahae

I like you, I like you

meotjin geun namucheoreom

You, who’s always comfortly be by my side,

eonjena pyeonanhi naegyeote

You, who’s always protecting me

nal jikyeojuneun geureon neol

Just like a big great tree

 

kakkeumeun nado moreuge

Sometimes I don’t even know why

nae-mam deul-gil-keot kata

My heart feels like enjoying this

ni ape meotcheo-geun useumman

I can’t stop smiling in front of you

keujeo pabo-gachi useumman

Just smiling like a fool

 

achimimyeon nunbushike nareul bichojuneun

Just like the sunshines that glaringly shines on me when the morning comes

neul haessal-gateun neoneun nae-ge-neun neoneun

You, who’s always shines like sunshine, that’s what you are for me

 

hokshina uridul-sa-i eosae-khaejil-kkabwah

Our relationship may be still awkward

joshimseure nan neoreul oneuldo nan neoreul

Me, who’ll always carefully approaching you ,Today too, carefully

 

han-chameul hamkke-han uri tto han-cham chinanhue

We, who’s been together for such a long time

ireohke pyeonanhi hamkke

Even after such a long time

neul neoneun naegyeote

You’ll always by my side

neul nan neoye gyeote

I’m always by your side

yeongwonhi uri hamkke-hae

Let’s be together forever

 

L and Kim Yerim – Love U Like U

Jiyeon terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan Myungsoo. Tidak hanya musiknya yang ceria tapi isi lagu itu menunjukkan bagaimana Myungsoo mencintai Minhee.

Mencintai Minhee? Pertanyaan itu seakan menonjok hati Jiyeon.

“Apa kau menyukainya? Lagu ini adalah hadiahku untukmu Minhee-ah.”

Video itupun mati membuat ruangan itu menjadi gelap gulita.

“Oppa.. Myungsoo Oppa.” Panggil Jiyeon dalam kegelapan.

Tatapan Jiyeon tertuju pada lilin-lilin yang menyala tak jauh darinya. Lampu-lampupun menyala dan Jiyeon bisa melihat Myungsoo berdiri dengan membawa kue tart berbentuk lingkaran kecil di kedua tangannya.

Saengil chukha hamnida, saengil chukha hamnida, saranghaneun Tae Minhee, saengil chukha hamnida.”

Myungsoo menyanyikan lagu ulang tahun dan menghampiri Jiyeon. Tubuh Jiyeon masih tidak bergerak hanya terdiam menatap Myungsoo. Gadis itu tidak tahu jika hari ini adalah hari ulangtahun Minhee.

“Minhee-ah… Minhee-ah…” Panggil Myungsoo menyadarkan Jiyeon.

Nde?”

“Buatlah permohonan dan tiuplah lilinnya?”

Tapi ini bukanlah ulangtahunku. Apa tidak apa-apa jika aku yang memohon? Tanya Jiyeon dalam hati.

Jiyeonpun menutup mata dan mengucapkan permohonan. Selesai, gadis itu membuka matanya lalu meniup lilin-lilin yang ada di atas kue.

“Selamat ulang tahun Minhee-ah.”

Gomawo Oppa. Jadi Oppa sudah mempersiapkan semua ini?”

Myungsoo mengangguk.

“Oppa juga menyewa tempat ini?”

“Ne. Aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu. Oh ya ada satu hadiah lagi yang belum kuberikan.”

Myungsoo meletakkan kue tart itu di kursi dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya. Dia membuka kotak beludru berwarna biru tua. Tampak sepasang cincin putih tertata rapi dalam kotak. Cincin yang sederhana namun memiliki mata berlian yang sangat cantik di tengahnya.wpid-wedding-rings-6.jpg

“Ini….” Jiyeon menatap Myungsoo kaget.

“Sebenarnya aku sudah menyimpan cincin ini setelah kita bertunangan. Tapi aku belum bisa memberikan ini padamu.”

“Jika Oppa sudah mempersiapkan cincin ini kenapa kita harus memilih cincin di toko tadi?”

“Aku berpikir jika kau memiliki cincin yang kau suka selain ini.”

Jiyeon menatap cincin yang indah itu.

“Cincin ini cantik sekali Oppa. Mana mungkin aku memilih yang lain jika ada cincin secantik ini.”

“Jadi kau setuju jika cincin ini akan dipakai saat pernikahan kita?”

Jiyeon mengangguk perlahan. Myungsoo menarik tubuh Jiyeon ke dalam pelukannya.

Gomawo Minhee-ah. Ini adalah hari paling bahagia untukku.”

Ini juga hari paling bahagia untukku Oppa jika kau melakukan semua ini untukku. Sedih Jiyeon.

*   *   *   *   *

Sunggyu dan Minhee melihat seorang wanita yang sibuk di meja kasir. Wanita itu mengenakan seragam supermarket itu dan tampak tersenyum ramah pada setiap pembeli. Tak jarang dia berbicara pada pembeli yang dikenalnya.

“Apakah dia benar eommamu?” Tanya Sunggyu menoleh pada Minhee yang saat ini terlihat shock melihat ibunya.

“Ne. Tapi dia berbeda sekali dengan eomma yang aku temui terakhir kalinya.” Jawab Minhee yang masih mengamati ibunya.

“Semua orang pasti akan berubah Minhee-ah. Bukankah kau juga sudah berubah? Ayo kita turun.”

Sunggyu bisa melihat keraguan kembali merundung Minhee. Diapun kembali mengulurkan tangannya menggenggam tangan Minhee untuk meyakinkam gadis itu.

“Percayalah padaku. Ayo.” Ajak Sunggyu.

Merekapun keluar dari mobil dan menghampiri meja kasir yang tampak sepi.

“Selamat siang. Anda ingin mencari apa?” Sapa wanita itu.

Sunggyu tersenyum dan membungkuk sekilas.

“Selamat siang ahjuma. Kami datang kemari ingin mencari seorang wanita bernama Tae Minjung. Bisakah kami bicara sebentar dengannya?”

Seketika wajah wanita itu mendingin mendengar nama ‘Tae Minjung’. Detik kemudian wanita itu menggeleng tanpa menatap Sunggyu.

“Tidak ada orang bernama Tae Minjung di sini. Kalian salah orang.”

Wanita itu merapikan benda-benda disekitarnya tanpa memperdulikan Sunggyu dan Minhee.

“Bagaimana dengan Lee Minjung?”

Wanita itu menatap Minhee kaget. Seakan Minhee mengetahui apa yang sudah di sembunyikan selama ini.”

“Bagaimana kau tahu nama itu?” Tanya wanita itu.

“Seorang anak tidak mungkin tidak tahu marga eommanya bukan?”

Wanita itu melotot mendengar ucapan Minhee.

“Mi-Minhee. Hanya Minhee yang tahu nama itu.” Panggil wanita itu tak percaya.

“Ne. Karena aku memang Tae Minhee putri yang kau tinggalkan.”

Wanita itu mengamati Minhee dengan tatapan meneliti.

“Hentikan omong kosongmu. Kau bukanlah Minhee. Wajahmu berbeda dengannya.”

Minhee meremas tangan Sunggyu dalam genggamannya dan menatap ibunya dingin tanpa ekspresi. Sunggyu tahu ini bukanlah situasi yang pantas dibicarakan di tempat seperti ini mengingat banyak antrian di belakang mereka yang tampak seperti kereta.

“Anda percaya atau tidak tapi dia benar-benar Tae Minhee ahjuma. Aku bisa menjelaskannya jika ahjuma bisa meluangkan waktu anda. Sangatlah tidak nyaman membicarakan masalah keluarga di sini bukan?”

Sunggyu menunjukkan antrian di belakang mereka membuat wanita itu tahu apa yang dimaksud Sunggyu

. Lalu wanita itu menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Sunggyu.

“Baiklah. Duduklah di sana aku akan segera menyusul.” Wanita itu menunjukkan tempat duduk di depan supermarket.

“Ne ahjuma.”

Sunggyu menarik Minhee yang masih menatap ibunya. Sunggyu dan Minhee duduk di tempat yang di tunjukkan Minjung. Sunggyu menatap Minhee yang masih bungkam. Dia mengulurkan tangannya menggengham tangan Minhee.

“Kau tidak apa-apa?” Cemas laki-laki itu.

“Aku tidak apa-apa.” Minhee menggelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian Minjung menghampiri mereka dengan membawa 3 botol minuman. Wanita itu duduk di hadapan mereka seraya menyerahkan minuman itu pada Sunggyu dan Minhee.

“Jadi apa penjelasanmu anak muda?”

Sunggyu bisa mendengar nada suara yang sama dengan Minhee dari wanita bernama Minjung itu.

“Awalnya aku juga tidak percaya melihat Minhee dalam tubuh yang berbeda. Tapi setelah melihat tingkah dan ucapannya aku yakin dua memang benar-benar terjadi ahjuma. Jiwa Minhee tertukar dengan seorang gadis bernama Jiyeon. Ahjuma bisa membuktikannya jika ahjuma belum mempercayai ucapanku.”

“Membuktikannya?” Bingung Minjung.

“Ne. Ahjuma bisa menanyakan hal yang hanya diketahui Minhee.”

Minjung menatap Minhee yang tak bergeming.

“Baiklah. Aku akan menanyakan sesuatu padamu. Aku memiliki sebuah bekas luka yang tidak diketahui orang lain selain Minhee dan ayahnya.”

Minjung menunggu jawaban yang di berikan Minhee begitupula Sunggyu yamg begitu gugup menatap gadis itu.

“Di perutmu. Kau memiliki luka tusuk di perutmu karena aku tidak sengaja melakukannya saat kau mengajariku memasak.”

Minjung tampak terkejut mendengar ucapan Minhee yang sangat tepat.

“Ka-kau…. Jadi kau benar-benar Minheeku. Tae Minhee?”

Minhee mengangguk lalu melihat Minjung berdiri dan memeluknya. Hati Minhee terasa seperti di siram hangat. Kehangatan itu menjulur ke seluruh tubuhnya. Perasaan Minhee sedabg bercampur aduk saat ini. Tapi setiap melihat ibunya tidak hanya kerinduan yang Minhee rasakan tapi juga muncul perasaan benci karena ibunya sudah meninggalkannya. Minhee melepaskan pelukan ibunya.

“Aku kemari ingin menanyakan sesuatu padamu.” Terdengar nada serius dalam suara Minhee.

Minjung menatap putrinya lalu kembali duduk dan menghapus air mata rindunya.

“Apa yang kau ingin tanyakan?”

“Aku ingin bertamya mengapa kau meninggalkanku?”

Pertanyaan yang terdengar polos itu membuat Minjung terdiam. Terlihat jelas suasana berubah menjadi canggung. Sunggyu memilih diam karena tidak ingin membuat suasana itu bertambah kacau.

“Itu hanya masa lalu Minhee-ah.”

“Tapi aku ingin mendengarnya.” Ucap Minhee dingin.

“Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu.”

Minhee menatap ibunya menunggu sang ibu bercerita.

“Pernikahanku dan ayahmu hanyalah sebuah perjodohan yang sudah diatur kedua orangtua kami. Appamu sangat baik, dia selalu membantu eomma. Tapi tak sekalipun terbersit rasa cinta di hati eomma. Eomma tahu ini salah tapi meskipun Eomma sudah berusaha keras mencintai appamu sayangmya hal itu tidak pernah berhasil. Eomma berpikir setelah lahir, mungkin rasa cinta muncul seiring dengan waktu. Namun setelah kau lahirpun eomma tetap tak bisa mencintai appamu.” Mimjung tampak sedih menceritakan masa lalunya.

“Jadi karena itu kau meninggalkanku dan appa?”

Minjung menggelengkan kepalanya.

Aniyo. Bukan itu alasannya.”

“Lalu apa alasanmu?” Minhee terdengar tidak sabar mendengar alasan ibunya.

“Suatu hari eomma bertemu dengan namja lain dan Eomma jatuh cinta padanya. Appamu tak pernah tahu hubunganku dengan namja itu. Tapi kecerobohanku membawa petaka besar. Eomma mengandung anak dari namja itu.”

Penjelasan itu seakan menyulut api dalam hati Minhee. Dengan keras Minhee menggebrak meja dan berdiri menatap ibunya penuh kebencian.

“Jadi ini alasanmu? Kau meninggalkanku dan appa demi namja yang kau cintai? Jadi kau meninggalkanku karena kesenanganmu sendiri? Tak kusangka kedatanganku kemari hanya untuk mendengar penjelasanmu yang egois.”

“Minhee-ah dengarkan penjelasan eomma dulu.”

“Tidak. Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi karena aku membencimu. Sangat membencimu.”

Minhee berjalan meninggalkan supermarket itu bahkan tak memperdulikan Sunggyu yang datang bersamanya.

“Minhee-ya.”

Sunggyu menahan Minjung yang hendak mengejar Minhee.

“Biarkan dia sendiri dulu ahjuma. Aku yakin dia ingin menenangkan dirinya sendiri.” Ucap Sunggyu.

Minjung menatap Minhee yang berjalan menjauh. Diapun kembali duduk dengan lemasnya.

*   *   *   *   *

Mobil Myungsoo sampai di depan rumah Minhee. Diapun mematikan mesin mobilnya dan menoleh ke arah Jiyeon.

“Apa kau lelah?” Tanya Myungsoo.

“Setelah berkeliling di taman bermain tadi, ya aku sangat lelah.” Ucap Jiyeon tersenyum senang.

Myungsoo mengulurkan tangan menyentuh pipi Jiyeon.

“Aku seakan bermimpi mendengar kau menerima lamaranku Minhee-ah. Dan aku tak ingin bangun dalam mimpi ini.”

Tubuh Jiyeon Jiyeon mematung mendengar Myungsoo mengatakan hal itu.

Aku juga berharap tidak terbangun dalam mimpi ini Oppa. Tapi mimpi ini akan segera berakhir jika Tae hwajangnim mengetahuinya. Ucap Jiyeon dalam hati.

“Aku masuk dulu oppa. Gomawo untuk hadiahnya.” Jiyeon melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil.

Myungsoo membuka kaca mobil dan tersenyum pada tunangannya.

“Besok aku akan menjemputmu untuk mencoba baju pengantin ne?”

“Ne Oppa. Sampai jumpa besok.”

Myungsoo melambaikan tangannya pada Jiyeon sebelum akhirnya melajukan mobilnya. Jiyeon berbalik dan menatap rumah Minhee yang besar. Diapun berjalan menaiki tangga. Langkahnya terhenti dan gadis itupun memutuskan duduk di salah satu anak tangga. Helaan nafas terdengar dan gadis itupun menatap bonekka kuning yang di pegangnya.

“Tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini bukan Hippo?” Tanya Jiyeon pada boneka yang diberi nama ‘ Hippo’ itu.

“Jadi kau menyukainya?”

Jiyeon mendongak dan terkejut melihat Woohyun sudah berdiri di hadapannya.

“Woohyun Oppa?”

Woohyun mengambil tempat duduk di samping Jiyeon.

“Jadi tebakanku benar jika kau menyukainnya?” Tanya Woohyun kembali.

Jiyeon menarik bonekanya dan memeluknya.

“Tapi aku tidak boleh memiliki perasaan itu Oppa.”

“Tidak ada larangan untuk perasan suka Jiyeon-ah. Aku rasa dia juga menyukaimu.”

“Myungsoo Oppa menyukaiku? Jangan memberikan harapan palsu padaku Oppa.”

“Aku tidak memberikanmu harapan palsu. Dengar Jiyeon-ah. Kau dan Tae hwajangnim sangat jauh berbeda. Tae hwajangnim dingin dan tidak perduli pada siapapun, sedangkan kau ceria dan penyayang. Aku yakin Myungsoo lebih menyukaimu.”

“Hentikan Oppa. Meskipun Myungsoo Oppa menyukaiku, dia akan tetap akan menikah dengan Tae hwajangnim. Lagipula Tae hwajangnim sudah berubah sekarang. Oh ya, Oppa sudah memberitahu Tae hwajangnim?”

Woohyun menggeleng.

“Eommamu mengatakan Tae hwajangnim pergi ke Wonju. Sepertinya dia sedang mencari eommanya.”

“Eommanya?”

“Ne. Dulu Tae hwajangnim pernah menyuruhku mencari tahu keberadaan eommanya. Tapi aku tidak tahu kenapa dia baru mencarinya sekarang.”

“Kita hanya bisa menunggu Tae hwajangnim kembali.”

Woohyun mengangguk setuju dengan ucapan Jiyeon. Gadis itu kembali memeluk bonekanya. Sedangkan Woohyun menatap Jiyeon dengan sedih.

*   *   *   *   *

Minhee menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan tampak sepi dan haripun sudah mulai gelap. Udara semakin dingin sedangkan Minhee tidak mengenakan pakaian yang tebal. Minhee mengelus kedua lengannya yang sudah sedingin es.

“Tadi jalan mana yang aku lewati?” Bingung Minhee.

“Kau tersesat?”

Minhee terlonjak kaget saat Sungjong tiba-tiba datang.

“YA!! Kau membuatku kaget saja.” Kesal Minhee.

“Kenapa kau tak memaafkannya?”

Nde?” Bingung

“Kenapa kau tidak memaafkan ibumu?”

Wajah Minhee menjadi dingin mendengar kata ‘eomma’ di sebut.

“Untuk apa memaafkan eomma yang meninggalkan putrinya untuk keegoisannya sendiri.” Kesal Minhee kembali berjalan meminggalkan Sungjong.

Sungjong meraih tangan Minhee dan mengangkatnya. Mata Minhee membesar tatkala melihat salah satu mutiara birunya hampir berubah menjadi hitam.

“YA!! Apa yang terjadi?” Kaget Minhee.

“Ini hasilnya jika kau tak bisa memaafkan seseorang. Tak seharusnya kau mengambil kepilutusan sendiri tanpa mengetahui kejadian keseluruhan. Kau ingat kisah yang aku ceritakan padamu?”

“Ne.”

“Itu adalah kisah nyata. Aku akan membawamu untuk melihatnya.”

Sebelum Minhee sempat bertanya Sungjong sudah menarik tangannya pergi dari tempat itu. Entah bagaimana mereka bisa sampai di sebuah caffe.

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” Bingung Minhee melihat dirinya sudah duduk di salah satu bangku.

“Bukankah itu abeoji Myungsoo?” Tanya Minhee melihat ayah Myungsoo duduk di salah satu bangku tak jauh darinya.

Sungsoo tampak sibuk merapikan diri seraya menantikan seseorang. Minhee menoleh pada Sungjong.

“Untuk apa kita kemari?”

“Lihat saja.”

Minhee mendengus kesal tak puas dengan jawaban Sungjong. Terdengar pintu terbuka dan Minherpun menoleh. Gadis itu terkejut melihat ibunya masuk dan menghampiri Sungsoo.

“Apa yang eomma lakukan bersama abeoji Myungsoo?” Bingung Mimhee.

Minjung duduk di hadapan Sungsoo dan seketika wajah laki-laki itu menjadi cerah akibat senyimam lebarnya.

“Minjung-ah, apa benar yang kau katakan?” Tanya Sungsoo penuh semangat.

Minjung mengangguk lemah menjawab pertanyaan Sungsoo.

“Ne. Itu benar Oppa. Aku mengandung anakmu.”

Mulut Minhee terbuka tak percaya jika laki-laki yang dicintai ibunya adalah ayah Myungsoo. Dari berjuta-juta laki-laki di dunia ini, Minhee tak pernah berpikir jika ayah tunangannya yang disukai oleh ibunya. Sungsoo menarik tangan Minjung.

“Baguslah. Ayo kita pergi meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru Minjung-ah.” Sungsoo terdengar bersemangat.

Minjung menggeleng dan menarik tangannya membuat Sungsoo bingung.

“Tidak Oppa. Sudah cukup kesalahan yang kita lakukan. Aku sudah mengkhianati suamiku dan Oppa juga sudah mengikhianati istrimu. Aku tidak ingin kita melakukan kesalahan lagi Oppa. Kita hentikan saja sebelum seseorang mengetahuinya.”

Sungsoo menggelengkan kepala lalu menarik tangan Minjung kembali.

“Tidak aku tidak ingin kita berhenti. Minjung-ah. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin memilikimu dan juga anak kita. Aku akan melepaskan segalanya agar kita bisa bersama. Jadi aku mohon ikutlah denganku.”

Minjung kembali menggeleng.

“Tidak Oppa. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan istri dan putramu. Aku memiliki putri yang seumuran dengan putramu Oppa. Jadi aku tahu bagaimana perasaan istrimu jika kau meninggalkannya. Mereka masih membutuhkanmu Oppa.”

“Tapi bagaimana dengan anak kita?”

“Aku bisa merawatnya sendiri Oppa.”

“Jungwoo tidak akan menginginkan anak itu Minjung-ah. Jadi ikutlah denganku.”

“Jika memang Jungwoo Oppa tidak menginginkan anak itu. Aku akan merawatnya sendiri Oppa.”

“Tapi Minjung-ah….”

“Ini yang terbaik untuk keluarga kita berdua Oppa.”

Minhee yang masih tidak percaya tak sadar jika Sungjong membawanya pergi. Kali ini dia berada di rumahnya. Minhee bisa melihat ibunya tengah menata tempat tidur. Tatapan Minhee beralih pada ayahnya yang baru saja masuk ke kamar. Jungwoo meletakkan selembar kertas di atas ranjang dengan kasar. Minjung melihat kertas itu sekilas dan langsung tahu apa isi kertas itu.

“Aku meninggalkanmu bekerja selama 3 bulan dan kau sudah hamil 1 bulan?” Terfengar suara Jungwoo meninggi.

“Oppa…. Akuu…..” Minjung tampak ketakutan melihat amarah Jungwoo.

“Apa yang kurang kulakukan untukmu Minjung-ah? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Mianhae Oppa.”

“Siapa namja itu?”

Minjung terdiam tak kunjung menjawab. Jungwoo mengulurkan kedua tangannya dan mencengkram bahu Minjung lalu mengguncangkan keras.

“Katakan padaku siapa namja itu?”

Minjung masih tidak menjawab. Jungwoo melepaskan cengkramannya dan tatapannya berubah dingin.

“Jika kau tidak mau mengatakannya maka gugurkanlah.”

Minhee terkejut mendengar ayahnya berkata sekeji itu.

MWO?” Kaget Minjung mendengar ucapan suaminya.

“Tidak aku tidak akan melakukannya Oppa.”

“Aku tidak peduli penolakanmu. Aku tidak ingin merawat anak yang bukan darah dagingku sendiri. Beaok kita akan ke dokter bersama untuk melenyapkan janin itu.”

Jungwoo meninggalkan Minjung yang masih tidak mempercayai ucapan suaminya. Tangan Minjung memeluk perutnya seakan melindungi janin di perutnya.

“Kenapa appa sejahat itu.” Gumam Minhee.

“Apakah masih ada lagi?” Tanya Minhee menoleh pada Sungjong.

“Ne. Satu lagi.”

Sungjong kembali menarik tangan Minhee. Merekapun berada di kamar Minhee. Gadis itu bisa melihat dirinya saat masih kecil. Dia bisa melihat Minhee kecil tidur di atas ranjang. Pintu terbuka dan Minjungpum masuk dengan mengenakan baju lengkap beserta mantel musim dinginnya. Sang ibu itu menghampiri sisi ranjang dan duduk di sisi ranjang mengelus rambut panjang Minhee kecil.

“Maafkan eomma Minhee-ah. Eomma terpaksa harus meninggalkanmu. Eomma harus menyelamatkan bayi ini Minhee-ah. Bayi yang akan menjadi adikmu.”

Minjung menunduk dan mencium putrinya.

“Eomma tahu kau pasti akan membenci eomma, tapi eomma tidak punya cara lain. Maafkan eomma Minhee-ah. Eomma sangat menyayangimu.” Minjung menghapus air mata yang tercurah keluar.

Tanpa sadar air mata Minhee juga jatuh membasahi pipinya melihat perpisahan itu. Sungjong mengembalikan mereka ke tempat semula. Sedangkan Minhee masih terdiam memikirkan kilasa masa lalu yang dilihatnya tadi.

“Jadi eomma meninggalkanku bukan karena keegoisannya tapi karena ingin menolong bayi itu?”

Sungjong mengangguk.

“Cerita yang kau ceritakan padaku semalam adalah cerita eomma?” Gumam Minhee.

“Sepertinya kau sudah mengerti. Jadi pikirkanklah apakah perlakuanmu pada eommamu sudah benar?”

Sungjong menghilang membiarkan Minhee memikirkan apa yang harus dilakukannya.

“Minhee-ah.”

Minhee berbalik dan melihat Sunggyu berlari ke arahnya. Gadis itu langsung menghapus air matanya sebelum Sunggyu melihatnya.

“Syukurlah aku menemukanmu. Kau ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi.” Sunggyu menyentuh pipi Minhee.

“Aku hanya berjalan-jalan tadi tapi tak kusangka aku tersesat dan tak tahu harus kemana.”

Sunggyu mengelus pipi Minhee dan merasakan jemarinya basah.

“Kau habis menangis?” Tanya Sunggyu.

Minheepun mengangguk samar.

Mianhae sudah membuatmu dalam keadaan yang berat seperti ini.”

Minhee menggeleng tidak setuju dengan penyesalan Sunggyu.

“Tidak Sunggyu-ssi. Ini bukanlah kesalahanmu.”

“Jika kau ingin pulang aku akan mengantarmu. Ayo.”

Minhee menahan tangan Sunggyu.

Ani Sunggyu-ssi. Aku ingin menemui eomma. Bisakah kau mengantarkan aku ke sana?”

Sunggyu tampak ragu dengan permintaan Minhee. Dia menepuk kedua bahu Mimhee perlahan dan menatap gadis itu lembut.

“Minhee-ah. Sebenarnya aku sudah mendengar cerita dari eommamu. Dia…”

“Aku tahu Sunggyu-ssi. Karena itu antarkan aku padanya.” Potong Minhee.

“Tahu apa?”

“Eomma meninggalkanku bukan karena keegoisannya sepeti yang aku katakan tadi padanya. Dia melakukannya karena dia harus menyelamatkan adikku yang akan digugurkan appa.”

“Bagaimana kau tahu?” Bingung Sunggyu.

“Sungjong yang memperlihatkannya padaku. Jadi tolong antarkan aku ke sana Sunggyu-ssi.”

Sunggyu menatap Minhee dalam-dalam lalu menghela nafas.

“Baiklah. Ayo.”

Minhee menyunggingkan senyuman lalu berjalan bersama Sunggyu di sampingmya.

“Tunggu sebentar.”

Sunggyu menghentikan langkah mereka berdua, sedangkan Minhee menatap Sunggyu dengan polosnya.

“Ada apa Sunggyu-ssi?”

“Minhee-ah, siapa nama malaikat yang mengikutimu itu?” Tanya Sunggyu.

“Lee Sungjong. Memang mengapa kau menanyakannya?”

Sunggyu berhadapan dengan Minhee dan menatap gadis itu serius.

“Apa kau tidak berpikir Lee Sungjong adalah adikmu?”

“Mwo? Jangan bercanda Sunggyu-ssi.”

“Aku tidak bercanda. Bukankah eommamu bermarga Lee? Dan bukankah Sungjong tinggal di Wonju?”

“Ne itu memang benar. Tapi tidak mungkin bukan yang bermarga Lee hanya eomma saja.”

Sunggyu menggidikkan bahunya.

“Entahlah. Tapi firasatku mengatakan jika dia adalah adikmu.”

“Sudahlah aku ingin menemui eomma sekarang.”

Sunggyu mengangguk dan keduanya kembali berjalan. Minhee diam karena terlalu sibuk memikirkan ucapan Sunggyu yang masuk akal. Tapi Mimhee juga yakin masih banyak anggota di sini yang bermarga Lee. Tak lama kemudian Minhee bisa melihat tak jauh darinya ibunya tengah membersihakan meja di depan supermarket.

Minheepun terus melangkah memdekati ibunya tanpa menyadari Sunggyu yang mengikutinya di belakangnya. Bayangan masa lalu Minhee bersama ibunya kembali teringat di pikiran Minhee. Dia ingat bagaimana ibunya bermain bersama, dia ingat bagaimana ibu menyanyikan lagu saat di tidur, dan dia juga ingat bagaimana ibunya memeluk tubuhnya dan mengucapkan kata sayang padanya. Minhee hampir mendekati ibunya yang masih belum sadar dengan kehadirannya. Langkah Mimhee terhenti dan saat ini hatinya berkecamuk antara perasaan bersalah, rindu dan juga bahagia karena bertemu dengan ibunya.

“Eo-eomma.” Minhee tampak kikuk memanggil Minjung dengan ‘eomma’.

Minjung mendongak dan tampak terkejut dengan panggilan yang dilontarkan Mimhee. Minjung menjatuhkan sapu dan langsung menghampiri Minhee. Dia tersenyum menatap putrinya.

“Kau memanggilku apa tadi?” Tanya Minjung tak percaya.

“Eomma.”

wpid-mp5-00025.jpg

Minjung tersenyum bahagia dan langsung memeluk putrinya. Minheepun membalas pelukan ibunya sama erat. Sunggyu yang berdiri di dekat mereka hanya bisa tersenyum tak ingin mengganggu moment bahagia itu.

“Kau tidak marah lagi pada eomma?”

Minhee menggeleng seraya menangis dalam pelukan ibunya.

“Kau tidak membenci eomma?”

Minhee kembali menggeleng.

“Aku sudah tahu semuanya eomma.”

Minjung melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putri.

“Kau sudah tahu semuanya?”

Minhee mengangguk. Seakan belum percaya Minjung menoleh ke arah Sunggyu. Laki-laki itupun mengangguk menjawab pertanyaan Minjung. Wanita itu kembali menatap putrinya dengan tatapan yang menyesal.

“Maafkan eomma ne?”

Mimhee mengamgguk.

“Maafkan aku juga eomma sudah berkata kasar pada eomma.”

Ibu dan anak itu kembali berpelukan. Minheepun melihat satu mutiara putihnya berubah menjadi biru. Hal itu membuat gadis itu bertambah senang.

“Kim Sunggyu? Bukankah kau Kim Sunggyu putri Kim Yoohee?”

Sunggyu menoleh dan melihat seorang wanita yang mengenalinya. Wajah wanita itu tidak asing bagi Sunggyu. Ingatan Sunggyupun kembali saat terakhir kali dia melihat ibunya. Dia ingat ibunya menitipkan dirinya pada wanita itu sebelum pergi dan tak pernah kembali. Minhee melepaskan pelukan ibunya dan melihat kearah Sunggyu.

“Song ahjuma?”

“Kau masih mengingingatku?”

Sunggyu menganggukan kepalanya.

“Ne. Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan pembuat Kimchi paling lezat di dunia.”

Wanita itu justru tertawa mendengar ucapan Sunggyu yang sama seperti Sunggyu kecil.

“Kenapa kau lama sekali tidak kemari?”

“Maafkan aku ahjuma. Aku terlalu sibuk.”

“Sebenarnya aku sudah lama menunggumu kembali Sunggyu-ssi.” Ucap bibi Song itu dengan nada serius.

“Ada apa ahjuma menungguku?”

“Ada yang ingin kusampaikan padamu Sunggyu-ah. Ini soal eommamu.”

“Eomma?”

Bibi Song mengangguk.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu Sunggyu-ah. Ikutlah denganku.” Pinta bibi Song.

Suggyu menoleh ke araha Minhee seakan meminta pendapat Minhee. Gadis itu mengangguk mengerti apa yang dimaksud Sumggyu.

“Aku akan segera kembali.” Ucap Sunggyu sebelum akhirnya pergi bersama bibi Song.

*   *   *   *   *

Myungsoo berjalan memasuki rumahnya. Hari sudah gelap setelah Myungsoo mengantarkan Jiyeon. Laki-laki itu tak henti-hentinya tersenyum merasa bahagia setelah kencannya bersama tunangannya.

“Kau terlihat bahagia sekali Myungsoo-ah.”

Myungsoo menoleh dan mendapati ibunya memghampirinya.

“Kau dan Minhee sudah memesan undangan dan cincin?” Tanya Heesun.

“Sudah eomma.”

“Apa kau menyukai Minhee, Myungsoo-ah?”

Myungsoo mengangguk penuh semangat.

“Ne eomma. Aku sangat menyukainya.”

Heesun tersenyum tipis mendengar jawaban putranya. Wanita itu mengekus pipi Myungsoo penuh sayang.

“Eomma jadi iri pada Minhee.”

Senyum Myungsoo memghilamg mendengar ucapan ibunya.

“Mengapa eomma iri?”

Heesun menggeleng cepat.

Ani. Tidak apa-apa. Apa kau lapar?”

Myungsoo menahan tangan ibunya yang hendak pergi ke dapur.

“Ada apa eomma? Mengapa eomma berkata seperti itu?”

Heesun menyunggingkan senyum dan menggeleng.

“Tidak apa-apa Myungsoo-ah. Eomma sudah membuatkanmu miyeok guk (Sup rumput laut), apa kau mau?”

Myungsoopun tak ingin memaksa ibunya. Diapun tersenyum kepada ibunya.

“Ne. Aku ingin makan masakan buatan eomma.” Myungsoo memeluk ibunya.

“Aaiiggoo…. Kau sebentar lagi akan menikah, bagaimana bisa kau semanja ini eoh?” Ucap Heesun terkekeh geli.

“Tidak masalah bukan selama aku belum menikah? Ayo eomma aku sudah lapar.”

“Ne.”

Myungsoopun menarik ibunya ke dapur. Tanpa mereka sadari Sungsoo mendengar pembicaraan istri dan putranya. Sungsoo berbalik melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya. Memasuki ruang kerjanya, dia menghempaskan tubuhnya di bangkunya. Pikirannyapun terbang ke masa lalu dimana dirinya masih bersama Minjung gadis yang dicintainya. Sejak mengenal wanita itu, Sungsoo tak henti-hentinya memikirkan Minjung hingga hari ini. Tangannya terulur membuka laci mejanya lalu mengambil selembar foto. Tampak wajah Minjung yang tersenyum senang dalam foto itu.

“Kau membuatku harus melakukan ini Minjung-ah. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku kehilanganmu.” Ucap Sungsoo mengelus foto Minjung.

Di sudut ruangan Dongwoo menatap Sungsoo penuh kebencian. Kedua tangannya terkepal seakan ingin memukul Sungsoo yang tak jauh darinya.

*   *   *   *   *

Sunggyu duduk bersila di hadapan bibi Song. Matanya bereda mengelilingi isi rumah wabita itu yang masih sama seperti terakhir kali Sunggyu memgingatnya.

“Rumah ini tidak berubah ahjuma.” Sunggyu berkata.

“Aku lebih suka menikmati suasana yang sama Sunggyu-ah.”

“Tadi ahjuma mengatakan ingin menyampaikan sesuatu padaku. Apa itu?” Tanya Sunggyu tak sabar.

“Saat kau dibawa harabeojimu, ahjuma ingin sekali mendekapmu erat dan tak membiarkan dia membawamu pergi. Tapi hal itu tidak mungkin kulakukan. Karena harabeojimulah yang berhak atas hak asuh dirimu.”

“Memang mengapa ahjuma tidak menginginkanku dibawa keluarga Kim?”

Bibi Song mengambil kotak berukuran sedang di sampingnya dan meletakkannya diatas meja.

“Apa ini ahjuma?” Tanya Sunggyu menatap kotak itu bingung.

“Ini adalah sisa barang eommamu yang bisa kutemukan.”

Sunggyu membuka kotak itu. Banyak sekali foto-foto dan juga kertas-kertas di dalam kotak itu. Sunggyu mengambil selembar foto yang terletak di paling atas. Ayah Sunggyu memeluk ibunya yang sedang mendendong seorang bayi seraya tersenyum ke arah kamera. Bayi itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Foto itu diletakkannya lalu dia mengambil selembar memo dan membacanya.

Jangan pernah menemui putraku lagi. Atau kau akan kehilangan bayi itu.

 

Membaca kata ‘putra’, Sunggyu yakin kakeknyalah yang menulis surat itu.

“Apa harabeoji yang menulis ini?”

Bibi Song mengangguk menjawab pertanyaan Sunggyu.

“Seperti yang kau ketahui. Harabeoji-mu tidak menyetujui hubungan appa dan eommamu.”

Sunggyu kembali mengambil sebuah buku. Saat membukanya tulisan tangan yang rapi memenuhi setiap lembaran.

“Itu adalah buku harian eomma-mu. Bacalah di halaman terakhir.”

Sesuai ucapan bibi Song, Sunggyu membuka halaman terakhir dan mulai membacanya.

Kabar kematianmu tidak hanya menjadi kabar buruk untuk keluargamu Oppa tapi juga untuk keluarga kecil kita. Kemarin aku melihat dongsaeng-mu yang sedang mencariku dan Sunggyu. Aku tidak tahu apa yang diinginkan dongsaeng-mu yang jelas aku yakin tujuannya tidak baik untukku dan Sunggyu. Dan benar saja saat aku kembali kerumah, kamar Sunggyu sudah diobrak abrik. Aku menjadi yakin mereka menginginkan Sunggyu. Untuk itu aku memutuskan untuk pergi. Apa yang harus aku lakukan Oppa? Aku takut jika aku tidak bisa melindungi Sungyu. Bantulah aku Oppa…..

 

Darah dalam tubuh Sunggyu berdesir membaca ketakutan ibunya. Diapun mendongak dan menatap bibi Song.

“Jadi eomma sudah tahu Sungsoo ahjushi hendak melenyapkanku?”

“Ne. Karena itu eomma-mu menitipkanmu padaku untukmu menyembunyikanmu.”

“Jangan-jangan kebakaran yang membunuh eomma juga ulahnya?”

Bibinsong menghela nafas.

“Aku tidak yakin Sunggyu-ah. Aku juga berpikir seperti itu. Tapi kepolisian tidak menemukan bukti bahwa kebakaran itu disengaja.”

“Apa harabeoji mengetahui ini?”

Bibi Song menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku juga tidak bisa mengatakannya karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku selalu mengkhawatirkanmu Sunggyu-ah.”

Sunggyu menggenggam tangan bibi Song yang ada di atas meja.

“Ahjuma tenang saja. Meskipun harabeoji tidak tahu hal ini tapi harabeoji sangat menjagaku dengan baik. Harabeoji juga sudah mencium kebusukan Sungsoo ahjushi. Karena itulah,harabeoji memintaku umtuk melawannya.”

“Tapi ini sangat berbahaya Sunggyu-ah. Aku merasa ahjushi-mu itu akan melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya bahkan menggunakan cara kotor sekalipun.”

“Aku tahu. Tapi hanya inilah caraku untuk mengungkapkan apa yang sudah dia lakukan pada appa dan eomma.”

Bibi Song tak lagi menasihati Sunggyu karena sepertinya akan sia-sia saja melakukannya.

*   *   *   *   *

Minhee masih memeluk lengan ibunya saat memasuki rumah Minjung. Rumah itu sangat sederhana dan tidak terlalu luas. Berbeda sekali dengan rumah yang Minhee tinggali.

“Eomma jadi dimana dongsaeng-ku?”

Minjung yang sudah membuka pintu terdiam mendengar pertanyaan putrinya.

“Eomma…. Eomma….” Panggil Minhee menyadarkan ibunya.

“Oihh… Ne? Eomma akan memasakkan sesuatu untukmu.”

“Eomma. Mengapa sejak tadi eomma menghindari pertanyaanku ini? Apa eomma menyembunyikan sesuatu padaku?” Curiga Minhee karena sejak tadi ibunya selalu mengalihkan pembicaraan jika Mimhee menanyakan tentang adiknya.

Minjung berbalik dan menatap putrinya.

“Tunggulah di sini sebentar.”

Minhee tampak bingung melihat ibunya masuk ke dalam rumah. Gadis itu memutuskan untuk duduk di bangku depan rumah seraya menikmati pemandangan pedesaan. Tak lama kemudian Minjung keluar dengan memeluk sebuah pigura. Wanita itupun duduk di samping putrinya.

Dongsaeng-mu memiliki wajah yang sepertimu Minhee-ah.”

“Apakah dia yeoja?”

Aniyo. Dongsaeng-mu namja.”

Namja?”

“Ne. Dia namja yang sangat manis dan pintar. Kau tahu, dia selalu membantu eomma mengambil air di sungai yang sedikit jauh dari sini. Dia selalu membantu eomma dan rajin belajar.”

Terlihat Minjung tak tahan menahan air matanya yang sudah dikeluarkan berkali-kali dalam sehari ini.

“Eomma mengapa eomma menangis?” Minhee memeluk bahu ibunya.

“Dia bercita-cita ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkanku jika aku sedang sakit.”

“Dokter?”

Karena ingin bersekolah kedokteran di Seoul, jadi eomma menawarkan tempat tinggal padanya.

Minheepun teringat ucapan Hyerim, ibu Howon.

“Eomma. Aku ingin melihat fotonyanya.” Pinta Minhee.

Minjungpun dengan perlahan menyerahkan foto itu. Minhee memarik nafas dan menduga-duga jika aka melihat sosok Sungjong dalam foto itu. Mata Minheepun membasar tatkala tebalannya benar. Dalam foto itu terlihat Minjung tengah bersama seorang laki-laki muda yang tampak manis tengah memeluknya.

“Eomma memberi nama dia Lee Sungjong. Sayangnya dia tak bisa bertemu denganmu karena Sungjong sudah meninggal dua tahun yang lalu.” Sedih Minjung.

Minhee menutup mulutnya tak percaya jika tebakan Sunggyu benar. Sungjong memanglah adiknya.

“Eomma. Aku sudah bertemu dengan Sungjong.”

Minjung menoleh dan terlihat bingung.

“Kapan?”

“Eomma ingat penjelasan Sunggyu tentang jiwaku yang tertukar?”

Minjung mengangguk menjawab pertanyaan Minhee.

“Sejak saat itulah Sungjong menemuiku sebagai malaikat yang selalu mengarahkanku untuk berbuat baik.”

“Sungjong menjadi malaikat?”

“Ne eomma.”

“Aku tidak tahu harus percaya atau tidak Minhee-ah. Mendengar kau dalam tubuh orang lain saja,aku sangat sulit untuk percaya.”

“Tapi percayalah eomma. Ucapanku memang benar. Bahkan saat ini dia duduk di samping eomma.”

Minhee melihat Sungjong duduk di samping Minjung dan tersenyum pada Minhee. Minjung menoleh namun tak bisa melihat apapun.

“Tapi aku tidak melihatnya Minhee-ah.”

“Ne eomma. Hanya aku yang bisa melihatnya. Sunggyupun juga tak bisa melihatnya tapi dia percaya padaku.”

Minjungpun merasa tidak adil jika orang lain saja bisa percaya dengan ucapan putrinya, tapi dia yang sebagai ibu kandungnya tidak bisa percaya dengan ucapan putrinya.

“Sungjong mengatakan jika dia merindukan eomma.”

Tak tahan lagi Minjungpun menjatuhkan airmatanya mendengar putranya yang sudah tiada merindukannya.

“Eomma juga sangat merindukanmu Sungjong-ah.” Ucap Minjung.

“Sungjong juga bilang jika dia akan selalu berada di sisi eomma. Jadi eomma jangan sedih lagi.” Ucap Minhee menyampaikan pesan Sungjong.

Gadis itupun memeluk ibunya yang masih menangis. Sungjongpun juga ikut memeluk ibu dan kakak perempuannya itu. Hatinya benar-benar senang bisa menemukan ibu dan adiknya.

“Oh ya, eomma punya hadiah untukmu.” Minjung melepaskan pelukan putrinya dan langsung masuk ke dalam.

“Hadiah apa?” Tanya Minhee pada Sungjong.

Sang malaikat itu hanya menggidikkan bahunya tidak tahu. Tak lama kemudian Minjung keluar dengan membawa sebuah boneka barbie yang sangat cantik.

“Selamat ulang tahun Minhee-ah.”

Minhee terkejut karena dirinya sudah melupakan hari ulangtahunnya. Gadis itu meraih boneka itu dan tersenyum pada ibunya.

“Gomawo Eomma.”

“Sebenarnya eomma ingin memberikan itu saat ulangtahunmu ke sepuluh tapi eomma tak berani. Mianhae.”

Minhee berdiri dan memeluknya.

Gwaenchana eomma. Aku merasa ini ulangtahun yang paling membahagiakan untukku. Karena aku melewatkannya bersama eomma dan dongsaeng-ku.”

“Selamat ulang tahun noona.” Bisik Sungjong ikut memeluk kedua anggota keluarga.”

*   *   *   *   *

Minhee terlihat sedih saat duduk di dalam mobil Sunggyu yang membawanya pulang. Sunggyu mekirik kearah Minhee dan tahu apa yang membuat gadis itu bersedih.

“Oh ya aku masih mempunyai satu hutang denganmu.”

Minhee menoleh ke arah laki-laki yang tengah menyetir itu.

“Hutang apa?”

“Bukankah aku ingin mengajakmu ke suatu tempat bukan?”

“Memang kita akan ke mana?”

“Rahasia.”

“Aaaiiasshh…. Mengapa kau jadi terdengar seperti Sungjong?”

Sunggyu hanya bisa terkekeh geli melihat Minhee yang kesal. Paling tidak Sunggyu lebih suka Minhee kesal daripada harus bersedih karena ibunya tidak ingin ikut dengan Minhee kembali ke Seoul.

“Aku yakin eomma-mu masih belum siap untuk kembali. Apalagi mengingat namja yang disukainya adalah appa Myungsoo.”

Minhee mengangguk setuju dengan ucapan Sunggyu.

“Ne. Kau benar. Tapi paling tidak aku sangat bahagia hari ini bisa bertemu dengan eomma dan dongsaeng yang selama ini berada di dekatku.”

“Kau akan bertambah bahagia sebentar lagi.” Sunggyu tersenyum senang membayangkan bagaimana reaksi Minhee nanti.

“Apakah hobimu selalu membuat orang penasaran tuan Kim?” Minhee mendengus kesal karrna penasaran.

Lima belas menit kemudian mobil Sunggyupun terhenti. Minhee melihat sebuah pintu gerbang yang terbuka. Di sekelilingnya dinding-dinding menjulang tinggi membuat Minhee menebak-nebak tempat di balik dinding-dinding itu.

“Tempat apa ini?”

“Kau akan mengetahuinya nanti. Ayo kita turun.”Ajak Sunggyu melepaskan sabuk pengaman dan keluar.

Minheepun juga ikut keluar dari mobil. Minhee merasakan tangannya ditaruk Sunggyu memasuki pintu gerbang itu. Mata Minhee membulat melihat pemandangan indah di hadapannya. Bunga-bunga beraneka warna tertanam rapi di atas tanah. Minhee menyunggingkan senyum melihat tempat yang sangat cantik itu. Benar ucapan Sunggyu, Minhee bertambah bahagia melihat pemandangan yang sangat cantik itu.

“Tempat ini indah sekali Sunggyu-ssi.”

“Sudah kuduga kau akan menyukainya.”

Minhee menoleh dan menyunggingkan senyuman manisnya.

“Mana mungkin aku tidak menyukai pemandangan secantik ini.”

Minheepun berkeliling meniknati pemandangan bunga di berbagai sudut. Mata Sunggyu terus mengamati Minhee di setiap geraknya. Langkah Minhee terhenti dan dmgadis itu berjongkok laku menghirup setangkai mawar berwarna kuning, kesukaannya.

“Sunggyu-ssi kemarilah. Bunga ini harum sekali.” Minhee mengayunkan tangannya meminta Sunggyu mendekatinya.

Sunggyu menghampirinya dan berlutut di samping Minhee menghirup bunga itu. Benar ucapan Minhee, bunga itu sangat harum.

“Harum kan?” Tanya Minhee.

Sunggyu menoleh dan mendapati wajah mereka begitu dekat. Suasanapun menjadi hening dan Minhee hanya bisa mematung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Nafas Minhee tercekat melihat wajah Sunggyu semakin dekat dengannya. Gadis itu memegang dadanya yang berdetak lebih cepat dan menutup matanya dengan erat. Sunggyu tersenyum geki melihat Minhee tampak tegang. Sebuah kecupan mendarat di kening Minhee.

“Kau tenang saja aku tidak akan menyerangmu. Ayo kita jalan-jalan lagi.” Sunggyu hendak berdiri.

Minhee menahan tangan Sunggyu membuat laki-laki itu kembali ke tempatnya semula.

“Ada apa Minhee-ah?” Tanya Sunggyu.

Minhee menatap Sunggyu dengan serius membuat Sunggyu semakin bingung karena tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Minhee-ah…” Panggil Sunggyu menyadarkannya.

“Tidak apa-apa jika kau ingin melakukannya.” Suara Minhee mengecil namun Sunggyu masih bisa mendengarnya.

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal ini Minhee-ah?”

“Karena…. Karena…”

Minhee menundukkan kepalanya tak berani melihat Sunggyu.

“Karena aku menyukaimu.” Ucap Minhee menutup matanya karena terlalu malu mengatakan hal itu.

Jemari Sunggyu mengangkat dagu Minhee dengan lembut dan tersenyum padanya.

“Itu berarti kau adalah milikku?”

Minhee menepis tangan Sunggyu kesal.

“Sudah kubilang aku bukanlah barang yang bisa dimiliki siapapun.” Kesal Minhee.

“Tapi kau memang barang Minhee. Barang yang sangat berharga untukku.”

Minhee menoleh mendengar kata-kata Sunggyu. Tangan laki-laki itu terulur menangkup pipi Minhee. Ibu jarinya mengelus pipi Minhee dengan lembut.

“Karena itu aku ingin menjaga barang berharga ini.”

Minhee sudah tersihir dengan ucapan Sunggyu yang begitu manis. Hingga tanpa sadar Sunggyu sudah mendaratkan ciuman di pipinya.

“Ayo. Sepertinya kau mau meleleh dengan ucapanku.” Goda Sunggyu.

“Aaaiishhh…. Percaya diri sekali.”

Meskipun kesal tapi Minhee tersenyum bahagia dan hatinya sudah memutuskan untuk memilih Sunggyu sebagai orang yang disukainya.

*   *   *   *   *

Jiyeon sudah membersihkan badannya dan saat ini dia sudah mengenakan piyama sutra berwarna pink muda. Gadis itu duduk di ranjang dan menatap boneka kuda nilnya. Dia tersenyum senang mengingat bagiamana usaha keras Myungsoo untuk mendapatkan boneka itu.

“Tidak bisakah kau tidak bersikap manis padaku?” Tanya Jiyeon yang menganggap boneka itu adalah Myungsoo.

“Jika kau melakukannya lagi kau akan membuat perasaanku semakin terluka. Karena kau melakukan semua itu hanya untuk Minhee bukan untukku. Apa kau mengerti?”

Sebagai benda mati tentu saja boneka itu tidak menjawab. Jiyeonpun menjitak kepala boneka itu.

“Jawablah. Kenapa kau diam saja eoh?”

Jiyeon menghela nafas. Diapun berbaring membawa boneka itu bersamanya. Mata gadis itu menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.

“Aku memang pernah menginginkan menjadi Minhee tapi tidak seperti ini. Aku ingin Myungsoo Oppa menyukaiku sebagai Jiyeon bukan Minhee. Apakah harapanku itu terlalu berlebihan Tuhan?”

Suasana menjadi hening tak ada jawaban. Jiyeon mengangkat boneka kuning itu.

“Tidak bisakah kau menyukai Park Jiyeon, Kim Myungsoo?” Tanya Jiyeon pada Hippo.

*   *   *   *   *

Mobil Sunggyu berhenti tepat di depan rumah Jiyeon yang sudah tertutup. Minhee menoleh dan tersenyum senang.

“Gomawo Oppa sudah mengantarku.” Setelah kebersamaan mereka tadi, Minheepun akhirnya memanggil Sunggyu dengan sebutan ‘Oppa’ yang membuat mereka semakin dekat.

“Ne. Mau aku antar masuk?”

“Tidak perlu aku bukan anak kecil.”

“Benarkah?” Goda Sunggyu.

“Tentu saja.”

“Oh ya.”

Minhee menoleh kearah Sunggyu yang mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sunggyu menyerahkan kotak berukuran sedang yang dibalut dengan kertas kado berwarna kuning kepada Minhee.

“Apa ini Oppa?”

“Hadiah ulangtahunmu. Bukalah.”

Dengan senang hati Minhee membuka kotak itu. Sebuah bola kristal dikeluarkan Minhee. Dalam bola kristal itu ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang bergandengan tangan.

wpid-winter-love-couples-large-rotating-crystal-ball-font-b-music-b-font-box-the-city-of.jpg

“Aku tahu selama ini kau selalu merasa kesepian Minhee-ah. Tapi sekarang kau tidak akan merasakan hal itu lagi. Jika kau melihat bola kristal ini, kau akan ingat jika ada aku yang akan selalu menemanimu.”

Hati Minhee terasa hangat mendengar ucapan Sunggyu. Tak pernah gadis itu merasakan hal yang seperti itu.

Gomawo. Aku masuk dulu ne? Sampai jumpa besok Oppa.”

Minhee mencium pipi Sunggyu sebelum keluar dengan cepatnya karena malu. Sunggyu tersenyum melihat kepergian Minhee. Laki-laki itu sama bahagianya dengan Minhee. Mobil Sunggyupun melaju meninggalkan rumah Jiyeon. Di dalam rumah Minhee berjalan masuk dan tak henti-hentinya tersenyum.

“Kau sudah pulang?” Ucap Jikyeong melihat Minhee masuk.

“Ne eomma.”

“Sepertinya kau bahagia sekali. Apa terjadi sesuatu antara kau dan Sunggyu?”

Tebakan Jikyeong tepat sasaran membuat Minhee terkejut. Jikyeong langsung menarik Minhee duduk di kursi.

“Jadi kau dan Sunggyu sekarang berpacaran?”

Minhee tersenyum malu dan mengangguk perlahan.

“Aaiiggoo… Putri eomma sudah dewasa rupanya.”

“Aku kan memang sudah dewasa eomma.”

“Nee.. Nee… Eomma tahu. Eomma senang jika kau bersama Sunggyu. Dia namja yang baik dan manis. Oh ya tadi setelah kau pergi seseorang mencarimu.”

“Seseorang? Siapa?”

“Namanya…. Tunggu dulu eomma lupa. Wo.. Woohyun.”

“Ohh.. Nam Woohyun. Ada apa dia mencariku?”

“Entahlah. Dia tidak mengatakan sesuatu dia hanya menanyakanmu saja.”

“Aku akan menelponnya.”

Minhee beralih menuju kamarnya dan mengambil ponselnya. Dia segera mencari dan menghubungi Woohyun. Tak lama setelah nada tunggu Minhee bisa mendengar suara Woohyun menyapanya.

“Woohyun-ssi.” Sapa Minhee.

Hwajangnim, darimana saja anda? Sejak kemarin saya sulit menghubungi anda.”

Mianhae. Tadi aku ada urusan. Memang ada masalah apa?”

Woohyun terdiam membuat Minhee merasakan ada yang tidak beres.

“Woohyun-ah ada apa? Katakan padaku.” Perintah Minhee.

“Sebenarnya kemarin lusa Jiyeon menerima lamaran Kim Hwajangnim?”

MWO? YA!!! Sejak kapan dia bisa seenaknya mengambil keputusan yang harus kuambil HUH?” Marah Minhee.

Josseonghamnida hwajangnim ini tidak sepenuhnya salah Jiyeon. Dia mengambil keputusan ini dalam keadaan yang tertekan. Jadi saya mohon jangan salahkan dia.” Mohon Woohyun.

“Sekertarismu benar. Ini bukan salah Jiyeon.”

Minhee menoleh dan melihat Sungjonh sudah berdiri di sampingnya.

“Aku tidak bertanya padamu.” Kesal Minhee.

Nde hwajangnim?” Bingung Woohyun.

“Bukan kau Woohyun-ah.”

Kau memang tidak bertanya padaku. Aku hanya meluruskan jalanmu saja. Ingat kau masih terikat dengan gelang itu jadi jangan bertindak ceroboh.” Ucap Sungjong sebelum akhirnya menghilang.

“Baiklah. Kita akan bicarakan ini dengan Jiyeon besok pagi Woohyun-ah.” Ucap Minhee meredakan amarahnya.

“Baik hwajangnim. Saya akan menjemput anda besok pagi.”

“Ne.”

Minhee menutup telpon itu lalu menghempaskan tubuhnya kelantai dengan lemasnya. Baru saja Minhee merasakan kebahagian bersama Sunggyu dan sekarang dia harus dihadapkan dengan berita pernikahan dirinya dan Myungsoo.

Karena itu pilihlah dengan benar siapa yang kau cintai. Karena pilihanmu akan menentukan kebahagiaanmu. Jadi pilihlah dengan benar ne?

Minhee teringat ucapan Sungjong adiknya. Gadis itu mengambil bola kristal yang diberikan Sunggyu padanya. Minhee tersenyum membayangkan sosok laki-laki dan perempuan dalam bola kristal itu adalah dirinya dan Sunggyu. Untuk pertama kalinya Minhee merasakan memiliki kekasih yang disukainya. Helaan nafas berat terdengar dan dengan lunglai dia meletakkan ponselnya.

Mimheepun teringat bagaimana manisnya Myungsoo memperlakukannya. Jika dia menolak pernikahan itu, maka tidak hanya berakibat buruk bagi keluarga Myungsoo tapi juga akan berakibat buruk dengan perusahaannya karena perusahaan Myungsoo memiliki andil yang besar di perusahaan-perusahaan lainnya. Jika Minhee memicu kemarahan perusahaan Kim maka Perusahaan Taeyang akan mengalami kesulitan karena tidak memiliki kerjasama dengan perusahaan lain. Lebih biruknya perusahaan Taeyang akan hancur begitu pula impian ayahnya.

“Siapa yang harus aku pilih?” Bingung Minhee.

~~~TBC~~~

Iklan

4 thoughts on “(Chapter 8) Love & Revenge

  1. keren keren (y) (y) (y)
    mutiarany yg mau jd hitam itu gmana? udh jd htam ato g jadi htam? pernikahanya udah mau 2minggu lg,tp blum pada balik ketubuh masing2!!gmana tuh? ayahnya L gitu bgt ke minhee apa dia g tau kalo minhe anaknya selingkuhanya dulu?

    • Mutiaranya kan dah jdi biru pas minhee meluk ibunya karena sudah memaafkan ibunya. Ayah L tentu saja tahu justru karena itulah dia melakukannya. Tunggu part selanjutnya ja ya pasti akan tahu. Gomawo

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s