White “Secrets” Little Scandal [Chapter 3]

white

Author : morschek96

Tittle : White “secrets” Little Scandal

Genre : Drama, Life, General, Psychology

Cast:

Han Sora, Kim Jong In, Oh Sehun

Others.

[who is Kim Jong In]

***

Previous : [1][2]

__

Hari masih pagi, tapi kenapa udara disekitarnya sangat panas? Keringat keluar dipelipisnya, juga jantungnya yang bertalu-talu karena ia harus berlari dari luar gerbang hingga ke koridor. Pukul 06.58 tapi kenapa keadaaan sekolah sepi sekali? Padahal ia tadi sudah harus cepat-cepat agar tidak terlambat. Ia tidak salah hari kan? Jika diingat lagi ini masih hari kamis, apa ia sedang dikerjai? Ah, itu pertanyaan bodoh Han Sora.

Masih dengan keadaan koridor dan ruang-ruang kelas yang sepi, tibalah ia di lapangan sekolah. Terlihat hampir seluruh siswa berkumpul pada sudut sebelah barat,tepatnya itu ruang guru. Apa yang sedang terjadi? Ia hendak berjalan mendekat hingga Yerim yang berada dikerumunan sana terlihat melambaikan tangan kearahnya.

“Sora-ya! Sebelah sini..!” teriaknya sambil berlari kearah Sora yang berdiri mematung di tepi lapangan.

“apa yang terjadi?”

“se.. sebentar” nampaknya Yerim sedikit kelelahan setelah berlari kencang hingga tak jarang menabrak siswa lain yang ada disekitarnya.

“kenapa kau datang telat eoh? Kau melewatkan pertunjukan” sambungnya setelah berhasil mengatur napas.

“pertunjukan? Apa?”

KRRIIIIIINNGGGGG!!!

Bell tanda masuk telah berbunyi, terlihat siswa-siswa yang berkumpul mulai membubarkan diri menuju kelas masing-masing. Tak jarang guru Kang selaku guru ketertiban harus ikut serta membubarkan kerumunan.

“akan kuceritakan setiba dikelas. Kurasa kita punya banyak waktu untuk mengobrol mengingat kejadian pagi ini, guru-guru pasti masih mengurusi hal ini.”

***

“ceritakan padaku, apa yang telah kulewatkan?” ucapnya setelah berhasil duduk di bangku yang terletak bersebelahan dengan Yerim. Tak hanya Sora&Yerim, siswa lainpun sepertinya sedang membicarakan hal yang sama, terdengar suara gaduh mereka mengisi seluruh penjuru ruang kelas.

“ini tentang Im Hana” ucapnya pelan dengan muka serius. “gadis gila yang sengaja menumpahkan minumannya kebadanmu kemarin”

“ada apa dengannya?”

“menurut teman sekelasnya, tadi pagi Hana bilang padanya untuk pergi ke toilet. Tapi setelah bermenit-menit agak lama, ia tak juga kembali ke kelas.” Yerim memberi jeda dan menarik napas. Sedikit memberikan Sora gambaran untuk dipikirkannya.

“tak lama kemudian, ada anak kelas 1 masuk kedalam toilet dan menemukan Hana sedang tertidur pingsan dilantai dekat wastafel. Kemudian ia memberitahu guru Kang , lalu para guru yang mendengar kejadian tersebut langsung menelfon orang tua Hana.

Setelah sadar dari pingsannya, Hana terlihat seperti sangat ketakutan, ia sampai meminta kepada orang tuanya untuk dipindahkan sekolah.”

“sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?” masih dengan muka serius, Yerim menggeleng atas pertanyaan yang dilontarkan Sora.

“tidak ada yang tahu. Karena temannya bilang ia dan Hana berangkat pagi dan keadaan sekolah masih bisa dibilang sepi, belum ada banyak siswa yang datang. Jadi bisa dibilang tidak ada saksi yang melihat tepatnya kejadian yang menimpa Hana.”

Sora terdiam, coba menerka-nerka meski jawabannya ia pun tidak tahu. Ia baru 4 hari menginjakkan kaki di sekolah ini, apa yang ia harapkan. Tapi setelah dipikir lagi, ada yang sedikit mengganjal. Ia menoleh kepada Yerim , “Tapi jika dipikir lagi, apa mungkin kalau pelakunya adalah seorang perempuan? Tidak mungkin kan kalau anak laki-laki yang masuk ke toilet perempuan?”

“benar juga” ucap Yerim sambil pengetukkan jari telunjuk pada dagunya. “tapi sudahlah.. tidak penting bagiku”

Sora terdiam, mungkin benar seharian ini guru-guru akan sibuk mengurusi kasus Hana, buktinya tak ada satu gurupun yang datang kekelasnya untuk paling tidak memberi tugas.

Ia edarkan pandangannya keseluruh kelas, hingga tepat pada pojok kanan ruangan, tempat duduk Jongin. Masih seperti biasa ia tidur bersender dinding seraya memasang headphone pada kedua telinganya. Nampak damai dengan dunianya sendiri.

***

Malam ini Sora menghabiskan waktu untuk sekedar berjalan-jalan di kota Seoul mengingat ia tak pernah melakukan hal semacam ini setibanya disini. Mulai dari berbelanja di mall, makan makanan korea yang sangat ia rindukan hingga hanya berjalan-jalan di trotoar dan melihat-lihat toko.

Hingga kini kakinya terasa makin lelah setelah berjalan cukup jauh, ia duduk di bangku panjang yang berada di depan toko kue. Namun yang terjadi selanjutnya malah tak pernah ia duga, mungkin preman-preman suruhan musuh appanya. Kini ia merutuk dalam hati karena telah menolak tawaran Kris untuk ditemani.

Sora pura-pura tak melihat dan langsung berjalan menjauh. Agak sulit karena ia sedang memakai boots yang mempunyai heels. Juga dapat ia rasakan bahwa preman-preman itu masih saja membuntutinya dibelakang. Ia berjalan cepat sambil menghindari setiap orang yang berada didepannya. Hingga.. BUGH!

 

Tak sengaja Sora menabrak seseorang, mungkin karena ia sedari tadi hanya menunduk guna menghindari kontak mata dengan preman-preman itu. “m-mian, aku harus buru-buru”

Namun yang dilakukan orang yang telah ia tabrak tadi malah diluar dari pemikirannya, orang tersebut malah menarik Sora untuk mengikutinya. Sora makin panik kalang kabut, apakah orang lelaki yang sedang menariknya ini adalah salah satu dari preman-preman tersebut?

Sora tak habis pikir, selanjutnya lelaki ini malah menuntunnya untuk memasuki.. sebuah boutique?

“terimakasih?” ujar lelaki tersebut dengan nada mengejek. Segera ia balikkan tubuhnya menghadap Sora.

A-apa? Apa Sora tak salah lihat? Lelaki ini adalah Kim Jong In? si manusia berparas tembok ini barusaja menolongnya.

***

“kau tinggal di appartemen?” Sora sedikit berjengit ketika mobil mewah Jongin berbelok kearah parkiran bawah tanah sebuah appartmen mewah di daerah myeongdeong. Ia menerima tawaran Jongin untuk menginap ditempatnya selama semalam. Tidak mungkin ia kembali kerumah dengan kemungkinan kalau preman-preman tadi akan mengikutinya dan menyerang rumahnya. Hell no! tak lupa juga ia memberitahu Kris jika sedang menginap di rumah teman agar tidak khawatir.

Lalu ia mengekori Jongin yang sudah lebih dulu berjalan menuju lift.

Keduanya berjalan beriringan menyusuri koridor-koridor panjang appartmen berlantai 22 tersebut. Hingga tibalah mereka ditempat yang dituju, kamar dengan nomor 1612 milik Jongin.

Ketika memasuki kamar tersebut tak dapat Sora sembunyikan raut kagumnya. Design arsitekturnya sangat berkelas dengan barang-barang mewah yang terletak diruangan tersebut, pasti hanya kalangan atas yang dapat menyewa kamar di appartmen mewah ini.

“kau ingin bertemu appaku?” Sora menoleh kearah Jongin yang berdiri didepan kulkas lalu mengambil sebotol air mineral dari dalamnya.

“appamu juga tinggal disini?

“ne”

“sejak kapan kalian tinggal disini?”

“sejak..” Jongin berlagak seperti sedang berpikir keras, hingga ia melanjutkan “sejak aku lahir”

“mwo?

Bagaimana bisa selama ini tinggal di appartmen?.” Sora hampir kelepasan mengontrol bibirnya, untung saja ia tidak sampai berteriak. Jika hal itu benar terjadi, ia pasti akan merutuki dirinya berkali-kali.

“tentu saja bisa.”jawabnya enteng sambil berjalan lalu duduk di sofa yang sama dengan Sora.

“karena appartmen ini milik ayahku.”

“MWO?” tak habis pikir. This boy is damn rich.

“benar. Ayahku tinggal dilantai paling atas, akan ku kenalkan kau padanya. Ia pasti sangat senang menerima tamu, mengingat jarangnya ada orang yang berkunjung.”

“a-apakah itu perlu? Aku rasa tidak usah.. aku, malu” ucapnya terbata-bata. Tidak salah kan jika ia sedikit waspada? mengingat hal-hal yang sering digosipkan Yerim pada lelaki ini dan keluarganya. Ia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.

“tidak apa-apa. ku jamin kau akan menyukai ayahku”

Damn! apa dia bilang tadi? Menyukai ayahku? Ia tidak akan macam-macam kan?

“ikut aku” Jongin menarik lengannya sebelum ia sempat berkata apa-apa, oh hell! Tidak bisakah lelaki ini bersikap sedikit manusiawi? Ia kan seorang perempuan.

Jongin membawanya menuju lantai paling atas appartmen yakni lantai 22. Keadaan di lantai ini sangatlah berbeda dari semua lantai lainnya. Terlihat lebih luas, juga terdapat bagian yang tidak memiliki atap (outdor) disisi sebelah kiri. Sangat cocok digunakan untuk sekedar melihat pemandangan kota Seoul, apalagi pada malam hari dengan ditemani semilir angin yang lembut membelai wajah. Juga yang lebih istimewanya lagi, hanya ada satu kamar di lantai ini, kamar appa Jongin sendiri.

Dengan masih menggengam tangan Sora, Jongin sedikit menariknya dengan tujuan agar Sora segera mengikuti langkahnya.

“Kai, kau membawa siapa?” terlihat seorang lelaki paruh baya sedikit gemuk mengenakan kemeja hitam dengan celana berwarna senada membukakan pintu untuk keduanya.

“dia temanku ottosan(ayah), aku mengajaknya kemari” Jongin sedikit membungkukkan dirinya disusul Sora mengikuti.

“ah, baiklah ajak temanmu itu masuk Kai” apa ia tidak salah lihat dengan semua ini? Keadaan yang ia lihat saat ini sangat bertolak belakang pada semua yang diceritakan teman-temannya tentang Jongin dan keluarganya.

Terlihat dari senyum yang mengembang sedari tadi, Appa Jongin terlihat sangat hangat dan ramah, apa ia cocok untuk disebut sebagai mafia? Yang benar saja.

Dan, apa Sora tidak salah dengar? Appa Jongin memanggilnya dengan, Kai? Siapa itu Kai?

Sora mengekor dibelakang Jongin lalu duduk bersama di sofa putih yang berada di ruang tamu tersebut.

“Jongin-ah, boleh aku bertanya?” bisik Sora dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kearah kiri.

“apa?”

“Kai itu siapa?”

Pffttt…

Jongin berpikir gadis ini akan menanyaka sesuatu yang lebih penting dari sekedar nama.

Dan.. apakah Sora salah bicara? Mengapa lelaki ini malah tertawa.. ah, maksudnya menahan tawa.

“Kai itu aku” jawabnya singkat.

“Kai, apa temanmu itu suka dengan jus jeruk? Di kulkasku sedang kehabisan isi” appa Jongin kembali sambil membawa tiga gelas jus jeruk.

“tidak apa-apa aboenim” Sora tersenyum kearah appa Jongin.

“aih, temanmu terlihat manis sekali eoh. Apa benar kalian hanya teman?” mendengar penuturan appa Jongin membuat pipi Sora sedikit bersemu. Apa wajar jika ia merasakannya?

“haha kita hanya teman ottosan”

“namamu siapa nak?”

“Han Sora, aboenim”

Sora merasa sangat nyaman dengan keluarga kecil Jongin. Mereka sangatlah hangat, begitu berkebalikan dengan apa yang selama ini Yerim ceritakan padanya. Appa Jongin banyak bercerita tentang Jongin dimasa lalunya. Dimana kalau ia mandi harus ditemani dengan bebek karet.

Hingga kegiatan mereka selesai dan memutuskan untuk kembali ke kamar Jongin yang berada di lantai 16. Masuk kedalam ruangan serba putih tersebut lalu duduk di sofa yang menghadap ke tv, tanpa ada niat sedikitpun untuk menyalakannya.

“Jongin-ah, apa kau percaya padaku?” Sora bergumam pelan sambil memperhatikan Jongin yang sedang sibuk dengan smartphonenya dari arah samping.

“apa maksudmu?” jawabnya setelah selesai berkutat pada smartphone lalu meletakkannya diatas meja, balas menatap kearah Sora.

“kau baru beberapa hari mengenalku, itu pun tidak terlalu dekat, tapi kenapa kau membiarkanku untuk menginap ditempatmu?”

Terlihat Jongin sedikit mengerutkan keningnya, nampak berpikir. Benar juga apa kata gadis ini.

“alasan yang sama mengapa kau bersedia ikut denganku dan menginap ditempatku.” Jawabnya enteng, tak begitu lama kemudian hingga ia menunjukkan smirk andalannya.

“dan apa kau bilang tadi? Aku tidak terlalu dekat mengenalmu begitu?” ia memberi jeda beberapa sekon lalu kembali melanjutkan. “apa kau mau kita lebih dekat eoh?”

“Ya! Apa maksudmu Kim Jong In-ssi??” akh, kenapa yang keluar dari mulutnya berbeda dengan yang dirasakan hatainya? Ehm, maksudnya hanya sedikit berbeda dengan hatinya, hanya sedikit, tidak banyak.

“hahaha kau polos sekali eoh, lihatlah pipimu langsung memerah”

Ya! Apa-apaan dengannya? Terkutuk kau pipi jelek! Bisa-bisanya kau bersemu hanya mendengar kata-kata seperti itu.

Sora menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya diantara helaian rambut yang ia biarkan tergerai. Sebisa mungkin menatap kebawah hingga Jongin tak dapat melihat wajahnya yang kian bersemu saat ini.

.

Lalu dengan tangan kanannya ia menarik Sora untuk berdiri dan mengikuti langkahnya menuju balcon. Mereka berdiri beriringan, masih dengan menatap satu sama lain.

Malam mulai menyambut dengan hembusan angin sejuk yang menerpa wajah, dan sedikit memainkan surainya hingga berterbangan. Sedikit ngilu jika dinginnya angin tersebut sampai mengenai daun telinga.

“apakah kau tahu?” Jongin kembali membuka suara setelah beberapa menit lalu suasana terasa hening. Dengan pandangan yang bisa dibilang cukup gelisah, ia menoleh kedepan. Entah apa yang dipandanginya, gedung-gedung kah atau lampu-lampunya.

“mwo?” Sora pun ikut melempar pandangannya jauh kedepan.

Jongin menarik napas, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. Mungkin ingin membuang sesuatu yang dirasa berat didalam dadanya.

“kau, orang pertama yang mengetahui tempat tinggalku”

Sora menoleh kearahnya, sepertinya ia pernah mendengar kalimat tersebut. Tidak ada yang tahu dimana alamat Jongin yang sebenarnya, di biodata sekolahpun alamatnya tidak valid. Memang alamat rumahnya yang tertulis benar, tapi nyatanya itu hanyalah sebuah rumah kosong. Ia pernah mendengar kalimat tersebut, entah Yerim atau gadis yang duduk didepan bangkunya yang pernah memberitahunya seperti itu.

“kau tidak pernah membawa temanmu kemari?” ujarnya berhati-hati, setidaknya ia harus pintar-pintar menyusun kata-kata yang dirasa tidak menyinggung lelaki tan ini.

“tidak”

“kenapa?’

“karena aku tidak mempunyai teman” sergahnya cepat seraya berbalik arah menghadap Sora. Juga Sora yang dengan spontan menoleh kearahnya.

“t-tidak seharusnya kau seperti ini. Kau anak yang baik, mengap-

“kau belum pernah mendengar tentangku?!” tidak terlalu kasar namun cukup untuk membuat Sora terbelak, lelaki itu lagi-lagi memutus ucapannya.

“kau murid pindahan kan?”

Sora terdiam, sedikit ada perasaan takut untuk menatap kearah Jongin yang berada dihadapannya kini. Benar kan apa katanya tadi? Ia harus dapat memilih kata-kata yang tepat agar sisi monster Jongin tidak kembali keluar.

“k-kau..” akh, apa Sora harus mengatakannya? “ngg, tentang.. ayahmu..”

“itu semua benar” jawabnya mantab. “semua yang kau dengar tentang aku dan keluargaku itu semua benar”

Detik detik berikutnya hanya Sora lakukan dengan menjadi pendengar yang baik untuk Jongin. Ia tak menyangka dibalik sifat dingin Jongin diluar ternyata lelaki ini cukup pandai menari. Siapapun pasti takkan percaya.

Jongin menceritakan hampir semua unek-uneknya pada Sora yang tak bisa ia bagi dengan orang lain entah mengapa ia hanya merasa nyaman dengan kebripadian Sora. Layaknya orang yang telah ia kenal sejak lama.

and then I realize, who is Kim Jong In

***

“yak! Kenapa kau ikut masuk kesini eoh?” ucapnya ketika melihat Jongin yang memasuki kamar yang sama dengannya. Bukannya kamar sama sebenarnya, karena hanya ada satu kamar tidur di appartmen Jongin

“tentu saja ini kan kamarku” jawabnya tak mau kalah.

Sora tak habis pikir, tidak bisakah lelaki ini sedikit mengerti posisinya sebagai perempuan?

“pilihanmu ada dua” sambung Jongin lagi.

“apa?”

“tidur di sofa atau di koridor depan” ujar Jongin santai.

Baiklah, sepertinya malam ini akan berlangsung sedikit lama bagi keduanya. Saling berebut kamar Jongin dan keduanya tidak mau ada yang mengalah.

“ya! Bisa-bisa orang berpikir kalau aku gelandangan. Ayolah Jongin-ssi, tidakkah kau melihat kalau aku ini perempuan? Mengalahlah sedikit padaku, hanya kali ini” bujuknya dengan menampilkan puppy eyes.

“berhentilah ber-aegyo, kau sangat mirip cihua-hua jika seperti itu” Jongin melangkah menuju ranjang king sizenya tanpa mempedulikan Sora yang tengah berteriak-teriak diambang pintu.

“kemarilah”

Dan Sora hanya menurut tanpa melontarkan kata-kata protes. Ia melangkah mendekat menuju ranjang Jongin.

“apa?”

“kita suit, yang kalah harus tidur di sofa. Otte?”

Hana-dul-set

 

Dan dimenangkan oleh Sora.

“yeay aku menang! Berdirilah dari ranjang itu. Kau yang tidur di sofa.” Ujarnya gembira.

“ng.. tidak tidak. Harus dua kali” Jongin yang tidak terima kekalahannya pun kini sedikit bermain curang. Baiklah kali ini ia pasti menang.

“ah benarkah?” dan Sora tidak menyadarinya.

Hana, dul,set

“yeay aku menang lagi!”

“tidak tidak, harus tiga kali”

“aisshh! Kau menipuku yah.. tidak mau Jongin-ssi. Kau yang harus tidur di sofa” Sora menarik Jongin untuk berdiri dari ranjang dan harus sedikit menyeretnya untuk dapat keluar dari kamar. Agak berat memang, karena tubuh kecilnya harus melawan Jongin yang lebih tinggi.

.

.

-To Be Continue-

Lanjut atau Tidak?

Tolong diharapkan review di kolom komentar, dont be siders :-) dosa ditanggung pembaca.. oh iya ada yg lagi cari-cari bacaan bagus tapi bingung cari dimana?? nih saya bantu, klik [Recomendation Fanfic]

One thought on “White “Secrets” Little Scandal [Chapter 3]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s