An Remember? (CHAPTER 2)

1

Title: An Remember? (CHAPTER 2)

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Cast: Exo

*Oh Sehun (Exo)

* Byun Baekhyun (Exo

* Kim Jaemi or You

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance

Length: Trilogi

Disclaimer: No Copas!! No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

“Karena dialah aku harus meminjam tubuh namja ini, karena dia juga aku tak bisa berkeliaran di siang hari, aku harus menunggu namja ini tertidur baru aku bisa meminjam tubuhnya.”

“Ga (Pergi)?” Perintahku padanya. “Garagu (Pergi kataku)? Sebelum aku membunuhmu untuk yang kedua kalinya, anya (tidak) kau sudah mati, sebelum namja yang tak bersalah ini menjadi korban. Ga? Karna aku tak ingin membunuh siapa pun.”

“Tapi itu akan terjadi, di saat itu terjadi aku akan terbebas, terbebas dan bisa kembali ke tubuh asliku.” Aku meninggalkannya, aku mendapati luka cakaran di tanganku. Rupanya ia tak sengaja mencakarku ketika dia menarik tanganku.

“Gwenchana?” Tanyanya khawatir, dengan sakit di tangan aku berlari menuju rumah. Aku mengingat kejadian malam yang membuat tanganku terluka untukku seorang diri. Baekhyun menyadarkanku dengan erangannya, aku juga bisa merasakan betapa kesalnya dan betapa marahnya dia saat ini.

“Untuk beberapa bulan ini kau tinggal saja di rumahku?” Perintahku padanya.

An Remember Chapter 2

—INI SUMPAHKU UNTUK MEMBUNUHNYA DENGAN KEDUA TANGANKU—

#Author *Pov*

Dengan diantar oleh pengawal pribadi, seorang yeoja berangkat ke kampusnya. Setelah apa yang terjadi di malam itu ia mendapat pengawalan ketat dari ayahnya. Ayahnya memerintahkan beberapa vampire lain untuk menjaganya, bahkan kemanapun ia pergi harus diikuti oleh namja-namja bertudung hitam.

“Ya Jaemi-a! Sudah dua minggu aku tak melihat Baekhyun. Kau tau dimana dia?” Sesaat Jaemi hanya terdiam mendengar Park jiyeon bertanya, ketiga temannya juga turut menatapnya dengan tajam.

“Molla (tidak tau) eonni.” Jawabnya berbohong. Bisa dilihat bahwa Jiyeon tengah mengawatirkan namjachingunya yang beberapa minggu ini tak menghubunginya.

“Mianhe (maaf) eonni.” Ucap Jaemi dalam hati, dengan langkah gontai Park jiyeon meninggalkannya. Yeoja itu benar-benar bingung harus berbuat apa, ia beranggapan bahwa Baekhyun tak lagi mencintainya. Jiyeon menitihkan air mata menuju atap gedung, ia berniat untuk bunuh diri.

“Yaa… yaa… ada seorang yeoja di semester empat yang akan bunuh diri di atap gedung.” Ungkap salah satu mahasiswa yang sedang berlari keluar ruangan. Jaemi dan teman-temannya yang turut mendengar juga ikut berlari keluar melihat yeoja itu.

“Yaa Jaemi-a! Bukankah itu…” Krystal menghentikan ucapannya ketika melihat sahabatnya yang baru saja di sebelahnya menghilang.

“Dimana si pucat?” Tanya Krystal pada kedua teman namjanya.

“Bukankah kau tadi bersamanya?” kini Ricky terlihat berpikir dan masih terheran-heran dengan menghilangnya Jaemi yang tiba-tiba.

@Atap Gedung

“Neo eodi e Baekhyun-a (kau dimana Baekhyun-a)? Kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Kau tau betapa sedihnya aku tanpamu?” Tangis penuh isak Jiyeon yang hendak meloncat dari atap gedung. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kumohon jangan hukum aku seperti ini…”

“Eonni hajima (jangan lakukan itu)!” Teriak Jaemi yang juga tiba-tiba berada di atap gedung.

“Sebenarnya aku membencimu Jaemi-a, kau selalu mengganggu hubunganku dengan Baekhyun, sebenarnya kau siapa? Apa hubunganmu dengannya, kenapa dia sebegitu perduli terhadapmu?” Yeoja ini memang tidak tau kalau Baekhyun dan Jaemi adalah sodara, tak ada satu pun mahasiswa yang mengetahui bahwa mereka berdua adalah sodara, bahkan Krystal, Ricky dan Chanyeol sekalipun. Hanya Kris yang mengatui bahwa mereka berdua adalah kakak beradik dan satu namja lagi yaitu Sehun.

“Aku dan Baekhyun hanya berteman eonni, kumohon turunlah! Baekhyun sangat mencintaimu, hanya saja untuk beberapa minggu ini dia tak bisa menemuimu.”

“Wae? Neo ttaemunyeo (apa itu karenamu)?” Jaemi hanya terdiam. “Jinjja? Kenapa kau diam? Aah… aku tau sekarang, kau dan Baekhyun…”

“Gereonggo anya (itu tidak seperti yang kau pikirkan).” Jiyeon menatap mata Jaemi penuh dengan kemarahan, rasa benci yang teramatlah yang kini berada di hatinya. Ia memejamkan matanya kemudian menjatuhkan tubuhnya, semua mahasiswa yang melihat berteriak histeris, dengan cepat ia sudah berada di pelukan Jaemi.

“Barusan itu apa?” Ungkapnya setengah ketakutan, mata Jaemi masih menelusuri di sekitar tempat, ia melihat bayangan di samping tandon air.

“Eonni gwenchana?” Tanya Jaemi yang masih memusatkan pandangannya ke arah tandon. Krystal, Ricky dan Chanyeol telah berada di atap gedung. “Yaa Krystal-a! Bawa Jiyeon eonni ke ruang kesehatan!” Perintah Jaemi, Krystal bingung kenapa harus dirinya yang membawa jiyeon, kenapa tidak Jaemi saja? “Aku akan segera menyusul, yaa… Palli!!!” Jaemi merasa keberatan karena tubuh jiyeon melemah, dengan segera Krystal dan kedua temannya membawa jiyeon ke ruang kesehatan.

“Eoppa.” Jaemi mengintip bayangan di samping dinding. Terlihat namja itu sedang melepuh akibat sinar matahari. “Babbo, kenapa kau keluar dengan memakai lengan pendek?” Ucap Jaemi yang seketika membuka jaket besar miliknya. Sebenarnya jaket itu memang milik Baekhyun yang dipinjamnya beberapa waktu lalu. Jaemi membawanya ke tempat yang teduh dan juga terbebas dari sinar matahari. “Kau pakai ini juga!” gumamnya memberikan kaca mata hitam miliknya, ia juga mengajak Baekhyun untuk segera pergi dari tempat itu.

“Bukankah itu Baekhyun dan Jaemi, Baekhyun-a?” Teriak Ricky.

“Eodi e?” Tanya Krystal yang tak melihat mereka berdua.

“Tadi aku melihatnya disana.” Jelas Ricky yang juga heran kemana mereka pergi dengan secepat itu.

“Dimana Baekhyun?” Tanya Jiyeon ketika seseorang menyebut nama namjachingunya.

“Eopso (tidak ada) eonni, Ricky hanya salah mengira saja.” Krystal, Chanyeol dan Ricky kembali membawa Jiyeon memasuki ruang kesehatan.

@Rumah Jaemi

“Kenapa kau memakai lengan pendek?” Gerutu Jaemi sembari menidurkan seorang namja di peti. Baekhyun tak ingin tidur di atas ranjang ia bilang bahwa ranjang membuatnya tak nyaman bahkan ia juga tak bisa tidur jika berada di atasnya.

“Changkan-changkan (Tunggu-tunggu). Apa tadi ketika kau menyelamatkan Jiyeon eonni kau tak mencium darahnya?”

“Aku menahannya, kau tau betapa sulitnya aku tadi. Rasa haus yang teramat, rasa ingin menghisap darahnya, bahkan saat ini aku juga merasakan darahmu.”

“Apapun yang terjadi, sehaus apapun dirimu kau tak boleh menggigit manusia, kau akan mati jika itu terjadi. Dalam dunia vampire semua itu juga ada undang-undangnya. Kau paham?” Baekhyun menganggukan pelan.

Setiap harinya Jaemi dengan sabar mengajari Baekhyun cara-cara untuk menjaga dahaga. Menjadi vampire layaknya manusia biasa, karena bola mata Baekyun masih berwana merah, Jaemi memasang lensa berwarna hitam di kedua bola matanya. Hal ini juga akan membantunya untuk menghindari sinar uv. Jaemi melukai tangannya dengan pisau, saat ini mereka tengah berjarak sepuluh meter. Terlihat Baekhyun hendak berlari mencengkram mangsanya karena mencium aroma darah.

“Andwe eoppa! Jika kau melangkah sekali saja maka semakin lama kau akan bertemu dengan Jiyeon eonni.” Ancam Jaemi padanya. Baekhyun hanya bisa menelan ludahhnya menahan dahaganya sendiri.

“Jika kau bertahan selama satu jam saja, besok kau boleh kuliah.” Ketua Kim melihat usaha anaknya yang ingin membuat Baekhyun terlihat seperti manusia biasa.

“Tak ada vampire yang kuat menahan darah segar milik manusia” ucapnya dalam hati.

Baekhyun menundukan kepalanya ketika ketua Kim mendekat kearah mereka. Jaemi masih marah dengan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya pada eoppa sekaligus sahabat, teman kecil serta orang yang paling ia sayangi. “Kau masih marah padaku jaemi?” Jaemi hanya diam dan mulai memasang wajah kekesalannya.

“Yaa! Akulah yang memohon pada samchun agar menggigitku, tak seharusnya kau seperti itu pada ayahmu sendiri!” Jelas Baekhyun, namun tetap saja Jaemi diam membisu tak berniat membuka mulutnya.

@Kampus

Jaemi dan Baekhyun berjalan melewati koridor, banyak sekali yang melihat kearah mereka, mereka berdua memakai tetudung hitam. Jaemi sengaja ikut memakai tetudung hitam agar teman-temannya tak mencurigai perubabahan di diri Baekhyun. Namja ini memang tak menyukai warna gelap terutama hitam, hal ini mungkin nantinya akan membuat teman-temannya mencurigainya.

“Ingat!!! Anggap saja darah yang berada di tubuh meraka adalah air.” Pesan Jaemi dengan menepuk bahu eoppanya. Tak lama kemudian Jiyeon sadar akan kedatangan Baekhyun, bergegas ia memeluk namjachingunya dengan sangat erat. Di pelukan Jiyeon, Baekhyun menelan ludahnya, ia terus melihat leher yeoja yang tengah memeluknya itu. Ia terus saja menelan ludah dan melihat kearah leher Jiyeon. Jaemi khawatir karena Jiyeon memeluk Baekhyun dengan terlalu lama, dia khawatir bahwa Baekhyun akan menyergap dan menghisap darah Jiyeon yang akan membuat semuanya sia-sia. Untung saja Krystal, Ricky dan Chanyeol datang, membuat Baekhyun melepas pelukan yeoja itu.

“Yaa! Kau kemana saja? Apa kau tak tau betapa khawatirnya kami? Eoo?” Omel Crystal, dengan cerewetnya ia memarahi Baekhyun sembari memiting kepala sahabatnya itu.

#Jaemi *Pov*

Hari ini aku dan keempat temanku tengah menyewa vila untuk semalam. Kami merayakan atas kembalinya Baekhyun ke tengah-tengah kami. Sudah lima bulan semenjak Baekhyun digigit oleh ayah, kami tak pernah keluar bersama lagi. Aku yang selalu merawat dan mengajari Baekhyun membuat kami juga tak memiliki banyak waktu untuk berkumpul. Sepulang kuliah aku langsung pulang demi untuk melihat keadaan eoppa tercintaku itu. Disini kami bernyanyi-nyanyi sambil membakar jagung, Ricky menari bersama Chanyeol, mereka menari lagu Mr.chu Apink, membuat kami bertiga tetawa oleh tingkah konyol mereka berdua.

@Rumah Jaemi

Aku melihat ada yang aneh dengan keadaan rumahku yang berantakan. Aku mencari ayahku dimana-mana namun tak kunjung menemukannya. Saat ini Baekhyun tengah pulang ke rumahnya. Aku sendiri masih sibuk mencari ayah dengan panik.

“Ayah… ayah kau dimana?” teriakku mencari-carinya, aku menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Betapa terkujutnya aku melihat ayah yang sudah terluka parah di dekat foto ibu. Segera aku menidurkannya di pangkuanku. “Apa yang terjadi ayah?” Dengan kekuatan membaca pikiran vampire lain, aku mencoba untuk melihatnya. Aku melihat ayah diserang beberapa manusia srigala, tapi aku tak bisa melihat wajah seorang namja yang memakai kalung berbentuk srigala. Penglihatanku terhenti begitu saja, aku mencoba melihatnya lagi tapi semua sia-sia karena itu hanya akan membuat lemah tubuhku. Entah kenapa dengan ayahku yang tak bisa memulihkan lukanya sendiri. Aku teringat dengan kalung, ayah tak memakai kalungnya mungkin itulah sebabnya ayah tak bisa memulihkan luka di sekujur tubuhnya. Aku mengambil kalung yang diberikan ayah padaku beberapa bulan lalu, dengan segera aku mengalungkan di lehernya. Tak ada reaksi apa-apa dari kalung ini, aku melihat ayah hanya semakin merintih kesakitan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang masih dimilikinya, ia menceritakan kejadian semalam. Dimana namja itu menyerang habis-habisan pada ayah tercintaku. Mungkin ayah segera berlari menuju ruang bawah tanah. Karena kalung ini aku gantung di pintu menuju ruang bawah tanah, mungkin juga itulah sebabnya mereka tak bisa masuk ruangan ini. Bola mataku memerah, taringku keluar, kukuku juga memanjang. Untuk pertama kalinya aku merasakan menjadi vampire sesungguhnya.

“Kendalikan dirimu Jaemi!” Ucap ayah dengan suara parau. Ayah memintaku untuk mengambil pisau dan gelas, ia menyayat nadinya kemudian mengisi gelas penuh dengan darahnya. Aku masih tak mengerti apa yang sedang ayah lakukan. “Jaemi, ayah tak ingin kau menjadi vampire, tapi ayah tak punya pilihan lain. Minumlah darah ayah ini!” Perintahnya di detik-detik terakhir. “Jaemi, setelah kau meminum darah ini kau adalah vampire sepenuhnya. Jika sekali kau meminum darah manusia maka selamanya kau akan menjadi vampire.” Ayah melepas kalung yang tadi aku kalungkan padanya, seketika aku melihat tubuhnya lenyap di pangkuanku. “Selamat tinggal anakku.”

“Andwe…” Teriakku yang kini hanya memegang kalung berbentuk bulan sabit dengan bertuliskan nama Jaemi di belakangnya. “Aku bersumpah dengan kedua tangankulah aku akan membunuhmu.” Geramku yang masih penuh isak tangis meratapi kepergian ayah. Mungkin kalung ini dibuat sebagai jimat pelindungku. Dulu ayah pernah berkata bahwa banyak dari manusia srigala yang mengincar darahku, itulah sebabnya ayahku membuatkan jimat berbentuk bulan sabit yang bertuliskan namaku sendiri. Ayah juga pernah bilang bahwa akan ada masa dimana aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, maka kalung inilah yang akan membantuku untuk mengendalikannya dan menemukan jati diri. Aku segera mengalungkan kalung pemberian terakhir ayah dileherku, seketika aku berubah menjadi manusia biasa. Sesak yang teramat dalam sampai-sampai aku susah untuk bernafas. Aku meringkuk dilantai yang dingin, luka yang saat ini kurasakan bertambah ketika aku mengingat siapa yang telah membunuh ayahku.

“Yaa! Kau harus menjaga adik kesayanganku ini, jika tidak kedua tangankulah yang akan membunuhmu.” Ancam Baekhyun pada namja di sampingku.

“Kau pikir aku takut padamu.” Jawab namja yang bernama Sehun. Waktu itu kami bertiga baru memasuki sekolah menengah atas. Aku melihat sosok namja yang tak asing di mataku, ia berjalan mendekat kearah kami.

“Yaa! Kau darimana saja, berapa tahun kau meninggalkan kami berdua?” Oceh Baekhyun sembari memeluk sahabat kecilnya yang menghilang tiga tahun belakangan ini. Saat itu mungkin kami masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama.

“Yaa Babbo! Kau masih mengingatku?” Tanyaku yang turut memeluk namja tinggi bernama Kris.

“Siapa yang bisa lupa dengan si bawel Jaemi.” Ungkapnya sembari menjitak kepalaku, aku mengenalkannya pada namjachinguku yaitu Sehun. Entah kenapa mimik wajah Kris berubah, dengan intens dia melihat kearah namjachinguku. Memang seperti itulah dia jika berhadapan dengan orang asing atau yang baru dikenalnya.

Malam ini aku dan Sehun berjalan-jalan di dekat sungai Han, kami berdua saling perpegangan tangan. Beni yang kukenakan diambil olehnya, aku belari mengejarnya. Aku tak cukup tinggi untuk menggapai beni yang diangkat tinggi melebihi kepalanya itu, karena dia terlalu tinggi hingga aku tak bisa meraihnya. Aku berpura-pura marah padanya dan duduk di tepi sungai dengan mencemberutkan wajahku. Ia mendekatiku kemudian memakaikan beni di kepalaku.

“Saranghae Sehun-a.” Ucapku padanya.

“Ehm.” Jawabnya.

Aku mengernyitkan bibirku menatap tajam kearahnya. Sadar telah membuatku kesal ia tersenyum manis. Apa dia kira senyum manisnya itu mampu meredakan amarahku? Haiis… nappeun namja.

“Yaa! Mwo? Ehm?” Gerutuku kesal, melihatku kesal dia malah tertawa, memangnya dia pikir semua ini lucu? “Chih.” Aku memalingkan wajahku memandang pancuran yang kini telah menyala. “Waah yepputa.” Aku hanyut akan indahnya lampu pada air mancur di sungai Han. Kini aku tengah memfokuskan pandanganku ke air mancur itu. “Air mancur jauh lebih indah dari pada aku harus melihatnya.” Gumamku pada diri sendiri. “Ya ya arraso, cukup tau siapa dia.” Aku melirik namja yang duduk di sampingku. “Ut…” Belum sempat aku melanjutkan bibirnya telah mendarat di bibirku, membuatku terbungkam olehnya. Aku masih terdiam tak berani bergerak, dengan kasar aku mendorongnya. “Haiis… siapa yang mengijinkanmu untuk menciumku…?” Lagi-lagi bibirnya telah mencapai bibirku, kali ini aku hanya bisa diam dan menelan ludah. Aku mulai memejamkan mataku merasakan semua sensasi yang diberikannya.

@Pantai

Aku, Sehun, Baekhyun dan juga Kris berada di perjalanan menuju pantai di busan, kami berempat bercanda dan bersenda gurau. Sesampai kami disana aku tak ingin turun dari mobil.

“Yaa Jaemi palli!” Perintah Baekhyun padaku yang masih terduduk di kursi depan, aku hanya terdiam tanpa meresponnya.

“Ya palli!!!” Ucap Kris dengan wajah datarnya.

“Kau tidak ingin turun?” Dengan kesal Baekhyun mengangkatku kemudian melemparkanku ke air yang tak begitu dalam. Aku menjerit kesakitan akibat terkena batu karang, Sehun dan Baekhyun berlari untuk menolongku. Ada yang aneh saat itu, Kris sama sekali tak menolongku. Aku melihatnya dengan tubuh gemetaran, mungkin saat itu dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan dirinya sendiri.

“Babbo.” Aku menjitak kepala Baekhyun di gendongan Sehun, namjachinguku ini meletekanku di atas pasir.

“Manhi appo (apa sangat sakit)?” Tanyanya sembari melihat-lihat luka di kakiku, ia juga mencoba untuk mengeluarkan batu karang yang menancap di kakiku.

“Aaak… aaak…” aku mengerutkan wajahku menahan sakit.

“Ini tidak akan lama, bersabarlah!” pinta Sehun, Baekhyun yang masih jongkok di sampingku terus melihat kearahku, mungkin saat ini ia tengah menyesal telah melakukan hal itu padaku.

“Yaa Kris! Neo gwenchana?” aku bertanya ketika melihat tingkah aneh yang ia lakukan.

Mengingat-ingat masa lalu hanya akan membuat sesak di dadaku, kini aku adalah vampire, vampire yang haus akan darah. Siapa pun yang menghalangi jalanku akan mati di tanganku. Untuk apa aku menjadi manusia, toh namja yang aku cintai telah berubah menjadi mungsuh. Buat apa aku menunggunya untuk mengingatku kembali, toh dia tidak akan mengingatku. Aku berada di atas tebing yang tinggi mengerang-erang dan berteriak marah menyebut nama namja itu.

“Jaemi-a! Apa yang terjadi padamu?” Tanya Baekhyun yang entah dari mana datangnya. “Neo!” Mungkin dia terkejut melihatku yang telah berubah menjadi vampire sama seperti dirinya.

“Eoppa.” Panggilku yang mulai melemah dan terjatuh pingsan. Dahagakulah yang membuatku pingsan, aku belum meminum darah manusia sama sekali.

Kabar kematian ayahku telah tersebar luas di dunia vampire. Banyak vampire yang dengan sengaja menghisap darah segar milik manusia. Kini warga telah berantisipasi untuk serang-serangan dari manusia seriga dan vampire. Seakan tak mau kalah manusia srigala juga telah melampaui batasnya. Perjanjian yang telah dibuat oleh ayahku dan pimpinan manusia srigala hanya menjadi perjanjian yang hilang entah kemana. Pertarungan demi pertarungan antara vampire dan srigala terjadi dimana-mana. Bahkan banyak vampire yang juga menjadikan manusia sama seperti mereka. Manusia srigala juga turut menjadikan manusia menjadi kelompok mereka. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menghentikan vampire, dengan kalung pemberian ayah, kini aku menjadi pimpinan mereka.

“Sudah berapa banyak anggota manusia srigala?” Tanyaku pada sidang keputusan.

“Nona… sekarang wilayah Seoul seperempatnya telah menjadi srigala.” Ungkap tuan Song yang memang selalu setia pada ayahku.

“Hentikan semua dengan segera! Jika aku masih mendengar salah satu dari kalian menjadikan manusia sama seperti kita, dengan tangankulah kalian akan mati.” Ancamku yang kemudian pergi dari sidang itu, aku menuju kamarku mengambil wine berisikan darah. Yaah… aku memutuskan untuk menjadi salah satu dari mereka, untuk melindungi bangsa ayahku.

“Akan terjadi peperangan nona, manusia srigala telah melampaui batasnya lagi. Jika kita tidak mencari anggota kita akan kalah jumlah.” Namja bertudung ini menginformasikan hal di luar sana. Aku teringat dengan teman-temanku, aku tidak akan membiarkan para manusia srigala itu menjadikan salah satu temanku di kelompoknya. Aku dan Baekhyun berlari menuju rumah Krystal, aku melihatnya tengah ditikam dan hendak digigit.

“Yaa!” Teriakku yang dengan seketika menendang wajah seorang namja, Krystal sendiri masih terduduk lemas. “Eoppa… bunuh dia! Aku akan membawa Krystal pergi menuju rumah Chanyeol dan Ricky. Sesampaiku disana aku melihat Ricky dan Chanyeol yang memang berada ditempat yang sama. Mereka berdua memegang leher mereka dengan menejrit kesakitan. Aku melihat namja bertudung yang juga berhasil menggigit mereka. “Neo! Bukankah sudah kukatakan jangan pernah menggigit temanku atau menjadikan temanku sama seperti kita?” Amarahku keluar, aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku melihat kearah Krystal yang gemetar ketakutan kemudian menancapkan besi berlapis perak yang telah di simpan di sinar uv, seketika namja bertudung itu lenyap dari pandanganku. Krystal menjatuhkan diri dan menyandarkan tubuhnya di sofa, ia menangisi kedua temannya yang dianggapnya telah meninggal.

“Andwe!” Teriakku ketika melihat Chanyeol dan Ricky hendak menikam Krystal. Aku berlari dengan cepat berdiri di hadapannya. Mereka telah berubah menjadi vampire.

“Kendalikan diri kalian, dia temanmu sendiri!” Ucapku menyadarkan mereka. Vampire mana yang akan mendengarkan orang lain disaat mereka haus akan darah.

“Eoppa, halangi mereka!” Perintahku pada Baekhyun yang kebetulan sudah berada disini.

Ketika aku hendak meninggalkan mereka aku melihat Ricky dan juga Chanyeol tengah memegangi dada mereka. “Apa secepat itu mereka…” Ucapku dalam hati. Mereka terjatuh dengan masih memegangi dada mereka.

“Krystal-la bolehkan aku meminta bantuan padamu?” Sebenarnya tak seharunya aku meminta ini pada sahabatku Krystal. Aku menjelaskan padanya bahwa dalam waktu dua jam mereka tak meminum darah manusia, maka mereka akan mati untuk selama-lamanya. Krystal mengiyakan permintaanku, mengingat Chanyeol adalah namja yang ia cintai selama ini. Ia rela jika darahnya diberikan untuk Chanyeol atau pun Ricky. Tapi dia meminta syarat padaku, sejenak aku enggan untuk menuruti syaratnya. Aku meminumkan darah pada mereka berdua, seketika taring dan kuku mereka menghilang, rasa sakitnya juga telah menghilang. Kini tinggal janjiku pada Krystal, ia memintaku untuk menggigitnya. Mana mungkin aku tega untuk melakukan itu. Mengingat dia adalah sahabat terbaikku. Tapi aku berpikir ulang sebelum dia digigit oleh manusia srigala, lebih baik aku saja yang menggigitnya. “Mianhe Krystal-la.” Aku menggigitnya dengan kedua taringku.

Bersambung…

Terimakasih buat yang mau baca dan ninggalin jejak ….

One thought on “An Remember? (CHAPTER 2)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s