SIGHT [Chapter – 2]

sight2

SIGHT

Chapter 2: The Boy’s Wish
a story by Yoo Jangmi

PREVIOUS: Chapter 1

Genre: Supernatural; School-life; Romance; Mystery (dikit) | Length: Multi-chapter | Rating: PG15

Cast
Red Velvet Joy (Park Sooyoung) | BTS V (Kim Taehyung) | B.A.P Zelo (Choi Junhong)
and others~

I own nothing but the storyline. Please be a good reader and leave some feedback :3 happy reading~

He has one wish, a help

“Tolong aku,” kata Taehyung.

Sooyoung menatap Taehyung dengan tatapan tidak percaya, ia sendiri sekarang sedang menghadapi phobia-nya dan bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa menolong hantu yang entah datang dari mana dan baru ia kenal pagi ini?

“A-aku tidak-“

Pintu kamar Sooyoung yang bobrok tiba-tiba terbuka, memperlihatkan sosok ayahnya yang sedang panik. Sama paniknya atau malah lebih panik dari Sooyoung sendiri. Ia langsung menghampiri Sooyoung dan menggendong gadis itu keluar dari kamarnya yang gelap. Sooyoung masih bisa sekilas melihat sosok Taehyung di kamarnya, sebelum hantu itu menghilang sepenuhnya ke udara.

Di luar rumah suasananya sangat ramai, semua orang berhamburan keluar ke pekarangan rumah masing-masing untuk melihat apa yang bisa-bisanya menyebabkan satu perkomplekan itu mati listrik. Ayah Sooyoung menurunkan gadis itu di depan rumah mereka, di mana ada beberapa tetangga lain berkumpul. Pria itu membungkus tubuh anaknya dengan jaket tebal lalu tersenyum hangat, ia mengacak-acak rambut Sooyoung sambil berkata pelan, “tunggu sebentar, oke? Ayah akan mengecek beberapa hal bersama kepala keluarga lain. Jangan panik.”

Sooyoung mengangguk, sembari memperhatikan ayahnya beranjak menuju sekumpulan tetangga dan pergi bersama mereka. Sooyoung menarik napas perlahan lalu menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Ia tidak dekat dengan satupun tetangganya, ia dianggap berperilaku aneh dan anti-sosial di lingkungan rumah. Sooyoung sekarang menghela napas panjang, merapatkan jaket ayahnya agar angin dingin tidak menusuk sampai tulangnya. Jiwanya sedang berkelana dengan pikiran-pikiran tentang Taehyung dan apa sebenarnya yang ingin ia katakan pada Sooyoung. Permintaan tolong apa? Ia masih memikirkan semua itu sampai ia melihat seseorang. Seseorang yang membuatnya terkejut, lebih terkejut daripada bertemu hantu seram di museum. Laki-laki tinggi itu baru saja keluar dari salah satu rumah dan sekarang sedang berjalan menghampiri Sooyoung. Rambutnya, matanya, ekspresi wajahnya, Sooyoung mengenal laki-laki itu. Choi Junhong, di komplek rumahnya. Choi Junhong, adalah tetangganya. Choi Junhong, sedang berjalan menghampirinya. Apa ia tidak salah lihat?

Junhong sekarang berdiri di hadapan Sooyoung, sorot matanya menggambarkan kepedulian sekaligus keheranan, mungkin juga rasa terkejut karena melihat Sooyoung di komplek itu.

“Hei, kau Park Sooyoung kan? Aku tidak tahu kau tinggal di komplek ini juga. Kau terlihat pucat, kau baik-baik saja?” Kata Junhong.

Sooyoung tersenyum tipis, “aku juga baru tahu kau tinggal dua rumah dari rumahku. Aku ga apa-apa, tolong jangan pakai bahasa formal.”

Junhong menggumam “hmm” sambil menatap Sooyoung, ia tidak terlihat senang dengan jawaban gadis itu. Wajah gadis itu pucat dan ia menggigil, mana mungkin Junhong percaya kalau ia tidak apa-apa.

“Sesuatu sepertinya mengganggumu,” ujar Junhong, seolah tahu betul.

“Ya, aku… nyctophobia, atau achluophobia apapun itu namanya,” kata Sooyoung dengan suara serak.

“Kenapa? Maksudku, ga ada yang perlu kau takuti dalam gelap, ga ada apa-apa. Atau kau takut hantu?”

Sooyoung nyaris tersedak ketika mendengar kata hantu. Ia tidak akan bertahan hidup waras sampai saat ini kalau ia takut hantu dan bisa melihat mereka dengan jelas setiap saat dimana saja, bahkan mengobrol dengan mereka. Ia tersenyum kecil pada Junhong sambil menggelengkan kepalanya.

“Hmm engga, aku ga takut hantu. Mereka ga menakutkan…eung maksudku aku ga pernah lihat hantu,” Sooyoung berbohong.

“Aku sangat takut pada hantu. Maksudku kamu tahu kan film-film horror selalu menunjukan bentuk yang menyeramkan,” Junhong bergidik sambil mengusap-usap kedua lengannya, membuat Sooyoung terkekeh melihatnya.

“Jangan percaya film horror,” kata Sooyoung, kemudian tersenyum manis pada Junhong.

“Ya tentu saja, ngomong-ngomong yang tadi itu memalukan, ja-jangan bilang apa-apa di sekolah soal itu,” Junhong tergagap sambil menggaruk belakang kepalanya.

Sooyoung tertawa kecil, sambil membentuk tanda oke dengan tangan kanannya. Junhong menerima itu sebagai tanda kalau rahasia kecilnya yang memalukan akan aman. Tapi melihat Sooyoung tertawa karena kebodohannya membuatnya senang, gadis itu tadi terlihat pucat tapi sekarang rona merah muda sudah mulai muncul di kedua pipinya. Ia diam-diam berharap Sooyoung akan lebih banyak berbicara lagi padanya di sekolah, seperti sekarang ini.

“Kenapa kau takut gelap?” Tanya Junhong penasaran.

“Kegelapan itu dingin, suram. Aku ga suka. Aku sering memikirkan hal-hal buruk dalam gelap, kadang kegelapan membuatku memikirkan kematian. Entahlah.”

Jawaban Sooyoung meninggalkan ekspresi tercengang di wajah Junhong, laki-laki itu baru saja akan membuka mulutnya untuk melontarkan lebih banyak pertanyaan pada gadis nyentrik di hadapannya itu, tapi Sooyoung menutup mulut Junhong dengan telapak tangannya.

“Ayahku datang. Sampai ketemu besok di sekolah, Junhong-ah!” kata Sooyoung setengah berseru. Ia melepaskan tangannya dari mulut Junhong, lalu menghampiri ayahnya yang langsung menggandeng tangannya, membawanya masuk ke dalam rumah yang sekarang sudah kembali terang-benderang.

Junhong tersenyum bingung (?) seolah sesuatu dari Sooyoung baru saja menyengatnya dan menjadikannya orang linglung.

See ya tomorrow, Sooyoung.” Ia menggumam.

Or should i nickname you Joy? Cause you bring joy to me..

Bel istirahat siang baru saja berbunyi pukul 11:00, terlambat satu jam dari biasanya. Semua anak berhamburan keluar kelas kecuali Sooyoung yang tetap duduk dengan lemas di kursi pojok kelas. Sooyoung meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar tanpa peduli untuk menutup mulutnya yang terlihat seperti vacuum cleaner mini. Gara-gara kejadian mati listrik semalam ia tidak bisa tidur sampai pagi, jadi sekarang ia benar-benar mengantuk dan butuh tidur. Sooyoung melipat kedua lengannya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya di atas kedua lengannya. Ia memejamkan matanya perlahan, hampir tertidur sangat pulas jika ia tidak teringat soal Taehyung. Laki-laki itu belum muncul sampai sekarang, padahal biasanya ia selalu ada di kelas ini, duduk di bangku Sooyoung sampai gadis itu kembali ke tempat duduknya. Sooyoung juga kembali teringat pada permintaan tolong Taehyung semalam.

“Kira-kira bantuan apa yang ia inginkan?” Batin Sooyoung.

Ia kembali membuka kedua matanya perlahan, tanpa menyangka kalau Taehyung akan muncul di hadapannya. Wajah pucat tak bernyawa itu tepat berada di depan wajahnya, membuat Sooyoung hampir berteriak histeris. Gadis itu langsung duduk dan menatap Taehyung tajam.

“Maaf,” kata Taehyung pelan.

“Jangan lakukan lagi,” ujar Sooyoung.

Taehyung tidak menjawab, ia masih pada posisi berlutut di sebelah bangku Sooyoung. Memandangi gadis itu dengan sorot mata yang sulit digambarkan. Perpaduan antara sedih, penuh harapan dan sesuatu yang lain. Kepedihan, seolah jiwa laki-laki itu pernah terluka semasa hidupnya. Seolah ada sesuatu yang belum selesai.

“Aku butuh bantuanmu, Sooyoung-ah,” Taehyung setengah berbisik.

“Apa itu?” Tanya Sooyoung ragu.

“Aku rasa ada yang membunuhku. Aku ingin tahu siapa, dan aku ingin mereka dihukum,” kata Taehyung.

“Me-membunuhmu? Memangnya di mana kau… meninggal?” Tanya Sooyoung lagi dengan hati-hati, sejujurnya ia takut ikut campur urusan hantu atau roh yang belum tenang seperti Taehyung.

“Di sini. Di sekolah ini. Aku ingat ada air, mungkin di kolam renang. Sooyoung-ah, aku mohon bantu aku,” pinta Taehyung.

Sooyoung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Ia tidak mau seperti neneknya yang seorang median, yang pekerjaannya membantu orang-orang mati atau menghubungkan mereka dengan orang yang masih hidup. Ia tidak mau jadi semakin aneh. Ia tidak mau mengambil resiko membantu urusan dunia Taehyung yang belum selesai itu.

“Aku tidak mau Taehyung-ssi,” ujar Sooyoung dingin.

“Aku mohon Park Sooyoung, kau satu-satunya yang bisa melihatku, cuma kau-“

“Mereka semua bilang begitu! Cuma aku yang bisa lihat mereka, cuma aku harapan mereka. Aku tidak mau mencampuri urusan hantu!” Seru Sooyoung jengkel.

“Tapi aku benar-benar butuh bantuanmu, Sooyoung.”

Sooyoung tidak menghiraukan permohonan Taehyung, ia berpura-pura tidak mendengar suara laki-laki itu, ia berusaha mengalihkan pandangan ke jendela. Apapun untuk membuat Taehyung berhenti memohon padanya, meskipun laki-laki itu tidak sama sekali beranjak dari posisinya dan masih memohon.

“Sooyoung-ah!”

Sebuah suara lain tiba-tiba memanggil namanya. Sooyoung menoleh ke arah panggilan itu berasal dan mendapati Junhong sedang berdiri di depan kelas dengan setumpuk buku di kedua tangannya.

“Ayo bawa buku-buku ini bersamaku, ke ruang guru,” kata Junhong sambil tersenyum cerah.

Sooyoung melirik untuk melihat Taehyung dengan ekor matanya. Laki-laki itu masih berlutut disana. Sooyoung membisikkan kata “minggir” dan berdiri dari kursinya, kemudian ia berlari kecil menghampiri Junhong. Ia membantu Junhong mengangkat sebagian buku catatan itu, lalu mengikuti Junhong melangkah keluar kelas.

“Buku catatan apa ini?” Tanya Sooyoung.

“Bahasa Inggris. Mr. Hong memintaku membawakan ini dari kelas sebelah karena kebetulan tadi aku bertemu dengannya di kantin. Menyebalkan sekali,” kata Junhong, ia menggembungkan pipinya dan menghembuskan napas panjang.

Sooyoung terkekeh melihat wajah Junhong, tanpa sadar ia langsung mengatakan “kau lucu” cukup keras untuk di dengar Junhong.

“Hm yeah aku tahu aku lucu, kau sudah tertawa beberapa kali karena aku sejak kemarin,” Junhong tersenyum jahil.

Sooyoung hanya bisa nyengir, ia tidak pernah bicara sebanyak ini pada laki-laki sebelumnya dan sekarang bisa-bisanya ia mengatakan itu pada Junhong yang baru ia kenal kemarin.
“Aku malu sekali,” batin Sooyoung. Pipinya semerah kepiting rebus.

Setelah melewati koridor dan berbelok-belok, akhirnya mereka sampai di ruang guru. Ruangan itu sangat besar, setiap meja kerja masing-masing guru dibatasi dengan sekat. Sekat-sekat itu tidak membentuk bilik sekecil telpon umum, tapi membentuk ‘ruang kerja’ yang lumayan luas untuk setiap guru. Mereka berdua masuk ke dalam dan harus berjalan melewati sekitar lima atau enam meja untuk sampai ke meja kerja Mr. Hong, guru bahasa inggris. Meja Mr. Hong terletak di pojok ruangan, agak gelap dan lembab. Baru beberapa langkah mendekati meja Mr. Hong, Sooyoung langsung merasa tidak nyaman.

Ia dan Junhong meletakkan buku-buku itu di meja, lalu Mr. Hong berbicara sebentar pada Junhong. Sooyoung berdiri diam di sebelah Junhong sambil sesekali memperhatikan Mr. Hong. Aura pria itu sangat gelap, hampir berwarna hitam, atau coklat gelap, sangat negatif. Sooyoung menarik lengan seragam Junhong dan mundur selangkah karena takut.

“Ada apa?” Tanya Junhong bingung.

“Auranya sangat gelap. Aku takut,” gumam Sooyoung.

“Hah apa?”

Tiba-tiba saja di belakang Mr. Hong bermunculan hantu remaja mengenakan seragam SMA. Semuanya perempuan dan terlihat marah pada Mr. Hong, mereka terlihat berusaha mencakar-cakar atau mencekik Mr. Hong namun tidak bisa. Sooyoung mencengkram lengan seragam Junhong semakin kuat, ia hampir berteriak panik ketika para hantu itu beralih menatap tajam ke arahnya dan menyeringai liar.

“Ayo pergi dari sini aku mohon,” Sooyoung menggigil ketakutan.

“Ada apa sih?” Tanya Junhong semakin kebingungan.

“Aku… mau muntah. Ayo cepat!” Kata Sooyoung mulai panik, hantu-hantu marah tadi sedang berusaha menggapainya sekarang.

“Kami permisi dulu Mr. Hong,” kata Junhong, lalu membungkuk sopan pada Mr. Hong.

Ia mengamit lengan Sooyoung dan buru-buru membawa gadis itu keluar dari ruang guru. Ia tidak menanyakan apa-apa pada Sooyoung, membiarkan gadis itu mencengkram lengan seragamnya kuat-kuat, karena ia pikir Sooyoung sedang menahan muntah.

“Sekarang kau baik-baik saja?” Junhong menyentuh dahi dan pipi Sooyoung dengan punggung tangannya.

Sooyoung menepis tangan Junhong dengan cepat kemudian merapihkan rambutnya dan mengelap keringat dinginnya dari pipinya.

“Aku baik-baik saja,” ia setengah berbisik.

Sooyoung memandangi Junhong sekali lagi lalu berlari ke kelas. Laki-laki itu dibuat semakin bingung dengan kelakuan Sooyoung, gadis itu sepertinya sama sekali tidak biasa.

Pelajaran terakhir hari ini adalah bahasa Inggris. Sooyoung masih merasa pusing karena kejadian di kantor guru sejam yang lalu. Ia mengeluarkan buku latihan dan sebuah bolpoint, meletakan benda-benda itu di meja. Beberapa saat kemudian bel berbunyi tiga kali menandakan jam masuk. Murid-murid berhamburan masuk ke dalam kelas dan menempati tempat duduk mereka masing-masing. Tak lama terdengar suara langkah kaki semakin mendekat menuju kelas. Suara langkah kaki itu milik Mr. Hong yang akan segera mengajar di kelas 2-1, kelas Sooyoung.

Begitu Mr. Hong memasuki ruangan, Sooyoung langsung mengunci pandangannya pada Mr. Hong. Aura gelapnya terlalu kentara sehingga Sooyoung tidak bisa tidak melihat pendar hitam itu. Hantu-hantu perempuan yang tadi juga masih mengikuti pria itu.

“Oh ini ga bagus,” gumam Sooyoung, lalu menggigit bibir bawahnya.

Benar saja, hantu-hantu itu langsung menyadari keberadaannya dan melesat cepat menghampiri gadis itu. Sooyoung memejamkan matanya karena ketakutan, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Sooyoung membuka kembali kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi. Taehyung sedang berdiri di sebelah mejanya, menghalangi hantu gadis-gadis marah itu untuk mendekati Sooyoung.

“Jangan ganggu dia,” kata Taehyung tenang, seketika hantu-hantu itu mundur.

Sooyoung bernapas lega, sambil memperhatikan hantu-hantu itu satu persatu kembali ke sekitar Mr. Hong. Setelah itu gadis itu mengalihkan pandangannya pada hantu lelaki muda di sebelahnya, terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Aku berhutang padamu untuk yang satu itu,” ujar Sooyoung pelan.

“Jadi? Sudah memikirkan soal permintaanku? Kau mau menolongku kan?”

Sooyoung mendengus kesal lalu memijat kepalanya seolah ia sedang pusing. Taehyung terus memaksanya dan ia benci kenyataan bahwa ia kasihan pada laki-laki itu dan ingin membantunya. Tapi ia takut, dan ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya untuk membantu Taehyung.

“Baiklah, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Sooyoung.

“Kau bisa mulai dengan kolam tempat aku meninggal.”

Sooyoung mengangguk pelan, ia setuju untuk memeriksa kolam renang sekolah nanti setelah bel terakhir berbunyi. Sementara mereka sibuk dengan urusan ini, Mr. Hong sedang menerangkan pelajaran di depan kelas tanpa sedikit pun menyadari keberadaan hantu-hantu di sekitarnya.

“Kenapa aura Mr. Hong sangat gelap?” Tanya Sooyoung, ia tahu Taehyung juga bisa melihat pendar hitam di sekitar tubuh pria itu.

“Mana ku tahu, apa artinya aura yang gelap itu?” Taehyung malah balik bertanya.

“Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya padamu,” kata Sooyoung kesal.

“Aku rasa aku ingat sesuatu tentang Mr. Hong, tapi cuma sekilas.”

“Apa itu?” Sooyoung bertanya penasaran.

Tapi sebelum Taehyung bisa mengungkapkan ceritanya, Mr. Hong mendekat ke meja Sooyoung dan memukul meja gadis itu dengan penggaris. Sooyoung sedikit terkejut dengan suara yang ditimbulkan penggaris besi itu saat membentur mejanya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Mr. Hong.

“Ms. Park, kau tidak memperhatikan pelajaran,” kata Mr. Hong datar.

Sooyoung diam saja, ia sedikit takut pada guru di hadapannya ini ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk membela diri.

“Apa yang kau lakukan? Saya lihat kau sedang bicara sendiri sejak tadi,” Mr. Hong menyerangnya dengan pertanyaan.

“Aku- hm aku sedang…aku tidak melakukan apa-apa pak, dan aku tidak cukup gila untuk bicara sendiri,” tukas Sooyoung.

Mr. Hong tersenyum tipis lalu mengangguk, “baiklah, sekarang perhatikan pelajarannya. Kalau saya melihat kau melakukan hal lain lagi selain memperhatikan papan tulis di depan, kau akan dikeluarkan dari kelas, Ms. Park.”

Mr. Hong akhirnya meninggalkan meja Sooyoung, kembali ke depan kelas untuk melanjutkan pelajaran. Sooyoung bertopang dagu, lalu mencatat sekedarnya di bukunya. Ia ingin bel pulang cepat berbunyi.

Bel terakhir baru saja berbunyi sekitar 5 menit yang lalu tapi dengan cepat hampir seluruh ruang kelas di gedung sekolah itu menjadi kosong. Tentu saja semua murid suka jam pulang, Sooyoung pun begitu, tapi ia punya rencana lain sore ini. Gadis itu membereskan tasnya, lalu ia dan Taehyung segera pergi ke kolam renang sekolah yang terletak di lantai paling bawah gedung sekolah. Satpam sekolah baru saja akan mengunci ruang kolam renang tepat saat mereka sampai.

“Tunggu sebentar aku meninggalkan sesuatu di dalam sana!” Seru Sooyoung pada satpam yang sedang mengunci ruang kolam renang.

“Baiklah, cepat ambil benda itu lalu pulang nona. Kalau sudah selesai panggil aku di pos,” kata si satpam kelihatan acuh tak acuh.

Tanpa lupa mengucapkan terima kasih pada si satpam, Sooyoung menghambur masuk ke ruang kolam renang diikuti Taehyung di belakangnya. Sooyoung melempar tasnya ke pinggir kolam, dan berjongkok di sisi kolam untuk melihat seberapa dalam kolam itu. Ia mengernyitkan dahinya, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin orang bisa bunuh diri di kolam seperti ini, maksudku kau ga akan tenggelam di kolam sedangkal ini, aku saja bisa berdiri di dalamnya,” kata Sooyoung.

“Kau yakin?” Tanya Taehyung.

“Ya, kau ingin aku mencoba masuk ke kolam sekarang?”

“Tidak perlu,” ujar Taehyung.

Sooyoung berdiri dan melihat ke seluruh ruang kolam renang untuk mencari kejanggalan tapi ia tidak menemukan apapun.

“Aku rasa memang ada yang bertanggung jawab atas kematianmu. Cobalah ingat sesuatu, aku tidak punya petunjuk apa-apa,” kata Sooyoung sambil berkacak pinggang.

Taehyung melihat ke arah kolam di hadapannya, sekelebat memori mulai terlihat. Ia mengingat bagaimana dadanya terasa sesak di bawah air dan seberapa banyak air yang masuk ke dalam paru-parunya. Ia ingat ada suara seorang pria, samar-samar. Dan seseorang memegangi kepalanya, menahannya tetap di dalam air sampai ia tidak bernapas lagi.

“Aku hanya ingat kejadian sebelum aku mati,” kata Taehyung lalu menceritakan semua yang ia ingat pada Sooyoung.

“Kau punya dugaan siapa pria yang mungkin kau dengar suaranya itu?” Tanya Sooyoung.

“Entahlah, akan aku ceritakan padamu lagi kalau aku bisa mengingat lebih banyak hal.”

Sooyoung mengangguk setuju, “tapi aku rasa aku butuh bantuan,” katanya.

“Bantuan siapa?” Tanya Taehyung bingung.

“Menurutmu siapa satu-satunya teman yang aku punya di sini? Dia mungkin tahu sesuatu kan?” kata Sooyoung sambil mengambil tasnya dari lantai.

“Kau mau minta bantuan Junhong? Memangnya dia akan percaya padamu kalau kau melihat hantu dan semacamnya?”

“Dia akan percaya kok, dia harus percaya. Sekarang aku harus pulang, ayahku akan membanjiri handphone-ku dengan miss call,” Sooyoung tersenyum pada Taehyung sekali lagi lalu beranjak keluar dari ruang kolam renang dengan terburu-buru.

Tanpa mereka ketahui seseorang sejak tadi memperhatikan mereka dari balik loker.

Sooyoung sampai di depan rumahnya tepat pukul 7 malam. Baru saja sampai di halaman rumah, ayahnya keluar dari dalam rumah dan begitu melihat Sooyoung pria paruh baya itu langsung menghampirinya dan memeluknya erat-erat.

“Dari mana saja? Kau seharusnya sudah di rumah sejak sejam yang lalu,” kata ayah Sooyoung.

“Ayah, aku bukan anak umur 5 tahun lagi dan aku baik-baik saja. Aku dari sekolah,” jawab Sooyoung, tersenyum lebar pada ayahnya supaya pria itu tenang.

“Baguslah. Oh, kita mendapat undangan makan dari salah satu tetangga kita. Rumahnya hanya berjarak sekitar 3 rumah dari kita. Cepat ganti bajumu kita pergi sekarang.”

Sooyoung mengangkat bahunya, “oke, tunggu sebentar.”

Gadis itu mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang pantas untuk acara makan malam biasa, ia menyisir rambut hitamnya dan menyematkan sebuah jepit berbentuk kupu-kupu di rambutnya. Setelah merasa cukup rapi, ia kembali menemui ayahnya di luar rumah. Pasangan ayah dan anak itu pun berjalan bersama menuju rumah tetangga mereka.

Rumah itu bentuknya tidak jauh berbeda dari rumah Sooyoung atau pun rumah lainnya di komplek itu tapi rumah itu termasuk rumah baru di komplek tersebut. Sedangkan rumah Sooyoung adalah rumah tua. Rumah tetangga ramah yang secara tidak biasa mengundang mereka makan malam itu memiliki tembok yang dicat warna oranye, taman mereka penuh bunga hias, memiliki kesan baik dan ramah seperti pemiliknya.
Sooyoung menekan tombol bel berwarna putih yang terletak di sebelah pintu, terdengar alunan lagu Jingle Bells selama beberapa detik sampai akhirnya pintu itu dibuka oleh seorang wanita tinggi, berwajah ramah dengan rambut panjang berwarna cokelat yang diikat ekor kuda. Wanita itu tersenyum ramah pada Sooyoung dan ayahnya.

“Hai, aku sudah menunggu kalian, ayo masuk ke dalam,” ujar wanita itu, mempersilahkan keduanya memasuki rumah.

Sooyoung dan ayahnya mengikuti di belakang wanita itu langsung menuju ruang makan, dan setelah melihat anak laki-laki yang sedang membantu menyiapkan makanan Sooyoung pun mengerti kalau keluarga ini bukan secara tiba-tiba menjadi ramah dan mengundang mereka makan malam. Rumah itu adalah rumah keluarga Junhong.

“Junhong-ah!” Sapa Sooyoung sambil tersenyum ceria.

“Hey, selamat datang,” kata Junhong, membalas senyuman Sooyoung dengan salah satu senyum termanisnya.

“Junhong bilang ada salah satu temannya yang tinggal di komplek ini dan ia memberi tahu padaku rumah kalian, ia yang punya ide soal makan malam hari ini,” kata ibu Junhong lalu tertawa kecil.

“Terima kasih atas undangannya. Ini pertama kalinya seorang tetangga bersikap ramah pada kami,” ujar ayah Sooyoung sambil tersenyum.

Ibu Junhong pun mengajak mereka semua duduk untuk menikmati makanan. Setelah makan, ibu Junhong dan ayahnya Sooyoung pun mengobrol soal berbagai hal sementara Junhong mengajak Sooyoung melihat tempat favoritnya di rumah, yaitu rooftop.

Di atas sana mereka bisa berteriak-teriak sekeras mungkin, atau melihat bintang, melihat seluruh komplek, banyak hal yang bisa di lakukan di rooftop itu. Karena itu Junhong sangat menyukai rooftop-nya.

Rooftop itu kosong, hanya ada sebuah bangku kayu panjang ditempatkan di sana. Junhong duduk di atas bangku itu lalu memandangi langit malam yang berawan dengan kedua matanya, ia mendesah kecewa karena tidak menemukan pemandangan indah langit malam yang berbintang untuk ditunjukkan pada Sooyoung. Meskipun begitu Sooyoung tetap duduk di sebelahnya dan ikut-ikutan melihat langit yang berawan.

“Ini tempat yang hebat, rumahku ga punya rooftop,” kata Sooyoung.

“Ya memang ini tempat yang hebat. Tempat terbaik di seluruh rumah.” Junhong tersenyum bangga setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Kau hanya tinggal dengan ibumu?” Tanya Sooyoung.

“Sejak berusia 13 tahun aku hanya tinggal dengan ibuku,” jawab Junhong.

“Oh tapi aku melihat seorang pria tadi, ia terus mengikutimu. Kupikir ia ayahmu,” ujar Sooyoung, yang sepersekian detik kemudian menyadari ia baru saja mengatakan pada Junhong kalau ia melihat hantu ayah Junhong.

“Ayahku sudah meninggal Sooyoung-ah,” kata Junhong pahit.

“Maafkan aku,” kata Sooyoung pelan, kemudian menggigit bibir bawahnya karena ia gugup. Ia merasa sudah mengangkat bahan pembicaraan yang salah.

Lalu ia teringat pada Taehyung dan janjinya menolong laki-laki itu. Ia harus minta bantuan pada Junhong untuk melakukannya, ia yakin ia akan butuh bantuan. Tapi Sooyoung tidak tahu apakah Junhong akan mempercayainya atau mengatainya gila dan memutus pertemanan mereka. Ia takut karena pengalamannya, ketika ia memberitahu rahasia kecilnya, dunia aneh miliknya, pada orang lain dan mereka tidak percaya. Ia dianggap gila dan tak seorang pun mau menjadi temannya. Ia tidak mau hal itu terjadi lagi.

Jantung Sooyoung berdetak sangat cepat, ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya untuk memberitahu Junhong rahasianya. Ia mempelajari air muka Junhong yang tadi sempat suram karena ia membicarakan ayahnya, sekarang wajah itu sudah terlihat ramah lagi. Sooyoung merasa semua rasa cemas dan takutnya untuk memberitahu Junhong sudah hilang. Junhong akan percaya. Ia yakin itu.

“Um Junhong-ah, aku butuh bantuanmu,” kata Sooyoung memulai.

“Tentu saja, apa itu?”

“Tapi sebelumnya aku harus memberitahu sesuatu dulu.” Sooyoung melanjutkan.

Gadis itu menarik napas sembari menatap Junhong serius, “Aku bisa melihat hantu dan berkomunikasi dengan mereka.”

Terjadinya keheningan seketika diantara mereka, Junhong terlihat bingung dan sedang berusaha mencerna perkataan Sooyoung. Keadaan menjadi canggung, karena itu Sooyoung langsung melanjutkan kata-katanya.

“Dan a-ada seorang hantu di sekolah, di kelas kita. Ia butuh bantuan untuk-“

“Kau gila ya? Apa kau pikir ada orang yang akan percaya semua itu?” Junhong menyela.

Sooyoung merasa tenggorokannya tercekat dan ia akan segera menangis gara-gara perkataan Junhong.

No, but i didn’t expect you to be the one who won’t.

Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang dan dingin menusuk sampai menembus tulang, Junhong merapatkan jaketnya dan melihat ke sekitar lalu ke arah Sooyoung. Ia merasa tidak enak dan ia tidak suka sorot mata Sooyoung saat ini.

“Kalau begitu buat aku percaya, buktikan kata-katamu!” Seru Junhong.

Sooyoung menatap tajam pada Junhong, membuat bulu kuduk lelaki muda itu berdiri.

“Aku bisa tunjukkan padamu.”

–TO BE CONTINUED–

Helloww it’s been ages ;-; just got time to write again and post this, welcome me back? ekekeke. terima kasih yg masih mau baca ff gaje ini. 4 bulan men baru dilanjutin 8′) lol ya ini kambek stej saya(?) maap lama banget. i really appreciate readers who left their comments in the first chapter i will reply them now :3 thank you so much~~ pls leave some feedback too here. love you!

P.S: Happy Eid Mubarak! (belom XD)

5 thoughts on “SIGHT [Chapter – 2]

    • Kak, ini penulisannya emang ngga pake bahasa Indo yang baku atau gimana? Jujur, aku agak gimana pas bacanyaa, hehe maapkeun :D
      Aku curiga sama Mr. Hong, mungkin dalangnya dia kali yaa? Trs itu hantu ceweknya kenapa pada sebel gitu sama Mr. Hong?
      Ampun dah, Taetae di sini jadi hantu :”3
      Endingnya ga sama Suyeong dong, hiks:” yaudah gapapa, sama aku aja ya Tae *dirajam
      ditunggu kelanjutannya kaak ^^

      • hehehehe itu buat ngebedain bahasa formal sama non formal sih maksudnya 8′) kan zelo sm joy temen(?) jd mereka ga pake bhs formil gitu(?) bisa sama sooyoung kalo dia idup lagi /g XD tunggu saja lanjutannya hahaha(?)
        thanks udah mampir :”D

  1. seru. gak sabar pngen baca lanjutannya. mungkin mr.hong yang bunuh taehyung sm cewe2 itu. taehyung tau rahasia mr.hong. jd dibunuh deh si taehyung nya.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s