RAINY BLUE 1

RAINY BLUE

RAINY BLUE

Twoshoots

By Risuki-san

SHINee’s Onew & IU | PG17 | Romance, Married Life, Hurt/Comfort

© 2015 Risuki-san

.

‘Being wet in the cold rain, I remembered a sad story’

.

Halaman 1


Seoul, 1997, July 18th at 10.00 AM

Sepasang kaki meredam tanah, jari-jari kecil tersembunyi nyaman di balik sepatu merah muda. Goresan noda khas tanah basah mengusik keindahannya.

Gadis kecil berjongkok sendirian, di depan sebuah sekolah kanak-kanak dan butiran hujan menemani.

Menemaninya menunggu, lagi.

‘Being wet in the cold rain, I remembered a sad story’

Jieun, kamu bodoh ya? Ibumu sudah tidak ada. Kenapa masih menunggunya?”

Gadis kecil itu terdiam, matanya lurus ke depan, mengabaikan suara temannya yang selalu mengejek.

Jieun tak peduli, ia membutuhkannya. Ibunya yang telah pergi selamanya.

“Kamu suka hujan, ya?”

Suara asing mengetuk telinganya, Jieun tak ingin berpaling tapi ia tahu jika anak itu bukan teman sekolahnya.

“Aku juga menyukainya! Hei, kamu pernah minum air hujan?”

Pertanyaan aneh yang memaksa Jieun melihatnya, kening gadis itu mengerut.

Sepasang mata sabit memandangnya, seragam khas sekolah dasar melekat pada tubuh siswa laki-laki dengan pipi yang lebih chubby dari miliknya.

Jieun sedikit terkejut, ia bergerak mundur menghindari tangan seorang anak yang menurutnya asing namun Jieun juga jelas mengetahui jika anak itu bersekolah di tempat yang sama, hanya berbeda tingkat.

Jieun siswa taman kanak-kanak dan anak itu siswa sekolah dasar.

Sangat terlihat jelas dari pakaian seragamnya.

“Cobalah sedikit! Kau akan sangat terkejut!”

Jieun menggeleng pelan meski Jinki –setidaknya itu yang tertulis pada pakaiannya- memaksanya meminum genangan air hujan yang ia kumpulkan dengan telapak tangan.

“Tapi itu kotor…”

Jieun mengucapkannya, kalimat fakta yang menuntun Jinki untuk menggaruk lehernya yang sesungguhnya tidak gatal.

Jieun hanya diam bahkan saat tangan besar Jinki melakukan ini dan itu. Memasang sesuatu pada tubuh kecil Jieun.

“Bermain hujan sangat menyenangkan, tapi akan membuatmu sakit. Jadi, jangan lupa memakai jas hujan”

Bibir kecil Jieun hampir terbuka, mengucapkan kalimat yang ia pelajari sebelumnya. Tapi Jinki pergi, sangat cepat, seperti angin.

.

.

.

Seoul, 2015, July 18th at  07.00 PM

Kaki yang sama seperti dua puluh tahun lalu. Namun sebuah stiletto perak yang memenjarakannya.

“CHEESE~”

Menarik selekuk sabit Jieun tak sanggup melakukannya, ia ingin tersenyum, sangat lebar. Ia ingin menunjukkan pada dunia betapa ia berbunga. Betapa beruntungnya memiliki pangeran berkuda putih seperti pangerannya.

Jieun melihatnya, mata sabit yang sama seperti saat itu.

Namun ada yang berbeda, Jieun sangat merasakannya.

.

.

.

Jieun menatap sekitar, membidik tiap sudut ruangan. Sebuah rumah minimalis milik Jinki, sebuah rumah yang Jinki beli dengan hasil keringatnya senidiri.

Bukan harta milik ayahnya atau uang perusahaan keluarga Lee.

Oppa, dimana kamar mandinya?”

Jieun cukup pintar untuk berkeliling dan mencarinya sendiri, tapi memutuskan bertanya karena situasi dimana hanya ia dan Jinki di rumah, terasa sangat canggung.

Gadis itu memilih mendekat, mendekat pada Jinki yang terlelap di atas sofa, ekspresi damai yang Jinki tunjukkan benar-benar menyihirnya.

Gadis itu tersenyum, ia merasa beruntung, sangat beruntung karena memilikinya, pangeran impian setiap gadis.

Oppa, tidurlah yang nyenyak, aku mencintaimu”

.

.

.

Ia impian, ia dambaan.

Jinki pangeran berkuda putih yang ia cari, Jinki pangeran berkuda putih yang ia pilih yang tidak memilihnya tapi Jieun memilikinya.

.

.

.

Oppa, aku hanya…”

“HARUS KUKATAKAN BERAPA KALI! AKU BILANG BERHENTI MEMBUAT MASALAH UNTUKKU!”

“…”

Aliran lambat kopi yang membasahi kertas pekerjaan Jinki berhasil memantik api di dalam hatinya.

“Aku akan membersihkannya…”

“JANGAN PERNAH MENYENTUH BARANG-BARANGKU!”

Jinki marah, sangat marah hanya karena Jieun yang sedikit mengganggu pekerjaannya.

“KAU TIDAK LEBIH BAIK DARI PARASIT! KAU MENGGUNAKANKU UNTUK KEPENTINGAN PERUSAHAAN! PERGILAH! KUMOHON PERGILAH!”

Terus mengucapkannya, berkali-kali, terus menerus. Layaknya sebuah kaset usang yang sangat Jieun benci.

YA, BENAR!

Jieun menggunakan Jinki untuk menyelamatkan Hyewon Construction, perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut dan sebuah keajaiban datang, keajaiban yang menuntunnya pada takdir yang ia tahu berawal sesak namun ia yakin sebuah akhir indah tengah menantinya.

.

.

.

‘Nikahkan anakmu dengan anakku, bukankah terdengar bagus?’

.

.

.

Sinar terik matahari seolah merasakan betapa mendidih hatinya saat ini. Sepasang mata sabit menyala marah. Tangan besar Jinki menghalangi tiap gerak gadis di depannya.

“AKU BILANG JANGAN PERGI! AKU AKAN MENGURUSNYA!”

“BIARKAN AKU PERGI!”

Jinki menghela nafas, jemari besarnya menggenggam erat jemari kecil gadis itu.

“Hyeri, dengarkan aku, ayah berjanji takkan memindahkanmu jika aku bersedia menikah dengannya, jadi kau tak perlu pindah”

“Aku yang memutuskan”

“Apa?”

“AKU YANG MEMUTUSKAN PINDAH! AKU TAK TAHAN TERUS MELIHATNYA! AKU MELEPASMU! AKU MENYERAH!”

Jinki hanya terdiam, menyaksikan seseorang yang berturut-turut menjadi ‘mantan’ baginya pergi.

Mantan sekretaris dan dalam detik yang sama berstatus mantan kekasih.

Jinki bernafas dengan sangat tidak teratur, memburu molekul oksigen dengan bar-bar. Otaknya berpikir keras, ini tidak mungkin. Hyeri tak boleh meninggalkannya!

Oppa, aku membawa…”

Dan Jieun datang di saat sebuah bom dapat kapan saja meledak, Jieun datang saat sebuah granat telah ditarik pemantiknya dan di lempar tepat padanya.

“AKU BILANG JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI KOTORMU DISINI! APA KAU BODOH?! KAU TULI?!”

.

.

.

Takdir yang diawali sesak namun dengan akhir yang indah?

Jieun mulai meragukannya…

.

.

.

Lukisan alam khas malam, pancaran kerlap-kerlip bintang yang menemaninya.
Jieun dengan selimut dan sebuah ayunan pada teras rumah Jinki.

JIEUN! CEPAT BUKA! JIEUN! JIEUN!”

Gadis itu terperanjat, memutuskan bergerak cepat menuju sebuah pintu. Ia tahu pasti situasi macam apa yang akan ia temui.

Jinki dan bau alkohol.

Oppa, berhentilah minum alkohol, kau bisa sakit”

Jieun bersuara, menyuarakan kekhawatirannya yang jelas sangat beralasan. Jinki mabuk setiap hari!

JieunJieun…kau sangat jahat, aku mencintainya tapi kau datang! Kau sangat jahat!”

Gadis itu hanya diam, ia menulikan telinga saat Jinki mengingatkannya. Iya, Jieun adalah gadis jahat, ia takkan menyangkalnya.

Jieun takkan menyangkalnya, maka makilah gadis jahat itu setiap hari, tapi ijinkan ia disisimu selamanya.

.

.

.

Akhir yang indah, kenapa terasa semakin jauh?

.

.

.

Jieun, kau sangat harum”

Jinki mengucapkannya di bawah pengaruh alkohol, memijak lantai dengan sempoyongan dan Jieun yang membantunya.

Menghirup aroma Jieun dan sesuatu yang aneh merasukinya.

BUGGHH

Jinki mendorongnya hingga gadis itu bergetar takut. Perilaku Jinki sangat aneh, sangat menakutkan.

Gadis itu berteriak saat Jinki terus memaksanya, menahan pergerakannya, mengunci diantara tembok dan dada bidangnya yang kokoh.

Menyentuh bibir Jieun dengan kasar, air asin terasa samar pada tenggorokannya. Jinki berhenti, menatap muka Jieun yang basah.

Jieun sangat kejam namun terlihat begitu rapuh, sangat memuakkan!

BUGGHH

Membuang gadis itu diatas sofa, membuang tubuhnya sendiri tepat di atas tubuh Jieun.

“Layani aku”

.

.

.

Kenapa ‘awal’ tak kunjung berakhir?

Kenapa ‘akhir’ tak kunjung menjemputnya?

Kenapa ‘akhir yang sesungguhnya’ tak juga tiba di saat Jieun mulai lelah menunggu?

.

.

.

Nyanyian burung pagi ini tak seindah kicauan biasanya, Jieun tak dapat menikmati tiap fenomena alam yang selalu ia kagumi sebesar ia mengagumi ayahnya yang sangat hebat hingga mampu membesarkan gadis setegar Jieun sendirian.

Tanpa sosok ibu Jieun dan jutaan kasih sayangnya, hanya tuan Lee dengan usaha kerasnya untuk menjadi sosok ibu yang di perlukan Jieun untuk tumbuh dengan sangat baik.

Gadis itu diam, ia tak mampu bersuara.

“Tentang semalam…”

Suara bass Jinki memecah sunyi. Menatap gadis di depannya yang Jinki tahu sedang tidak seperti biasanya.

“…maaf”

Jieun mendengarnya, satu kata yang akan menghapus segalanya?

“Dengan satu syarat”

Jieun mengucapkannya, diikuti gerakan tangan yang terulur untuk menyentuh bagian tubuh Jinki, hatinya.

Bibir gadis itu terbuka merapalkan satu kalimat, menusuk Jinki tepat pada rongga dadanya.

“Berikan sedikit ruang untukku…disini”

.

.

.

Akhir yang indah, benarkah sudah dekat?

.

.

.

Sinar hangat matahari menyambutnya, Jieun dan sekeranjang makanan. Melukiskan tokoh dongeng yang selalu berakhir menakjubkan. Kaki-kaki pendeknya memijak tanah dengan pelan, gadis itu berjalan sangat lembut, melupakan apa yang terjadi sebelumnya.

Jieun begitu mudah memaafkan.

Oppa, kau akan berangkat?”

“…y-a…”

Jinki menjawab dengan canggung. Jika sebelumnya, Jinki hanya akan berlalu pergi dan mengacuhkannya.

Terkadang sedikit amukan di pagi hari karena Jinki dipaksa untuk menelan masakannya yang masih seumur jagung.

Dan kemarahan itu terasa lebih baik ketimbang terabaikan. Karena kemarahan Jinki menandakan jika Jieun disana dan Jinki melihatnya, memandangnya, menganggapnya ada.

Oppa, kau mau roti? aku baru membelinya, ini masih hangat”

Jieun mengucapkannya lalu mengusik keranjang makanannya, menarik selembar roti gandum, mengulurkannya pada Jinki.

.

.

.

Setitik noda kecil di langit, Jieun kembali melihatnya, sebuah harapan.

.

.

.

Jieun tersenyum kecil menyaksikannya, deretan makanan setelah berperang di dapur selama beberapa jam.

“Aku rasa aku semakin pintar memasak”

Jieun mengucapkannya dengan mata yang seolah berbicara penuh arti. Selekuk senyum kebanggaan ia ukir.

“Ahh, Oppa, ayo sarapan”

Jieun sedikit terkejut menemukan Jinki disana, telah memposisikan tubuh tegapnya pada sebuah kursi.

Tangan kecil Jieun mengambil beberapa makanan untuk Jinki. Dan lelaki itu hanya diam, Jinki benar-benar melakukannya.

Memberikan sedikit ruang untuknya, untuk Jieun.

.

.

.

Setitik noda di langit kian bersinar namun Jieun kehilangan sinar miliknya yang paling terang. Ini menyedihkan namun setitik noda di langit masih bersinar untuknya, seolah mengatakan…

‘Kau masih memilikiku, harapan yang lebih baik’

.

.

.

Air bening jatuh mengikuti hukum gravitasi, begitu deras hingga tak ada satu orang pun yang mampu menahannya.

Bukanlah sebuah hujan karena pawang hujan sangat mahir menghentikannya kapan saja.

Tapi…

Air yang jatuh di balik kelopak, menjadikan lantai rumah sakit sebagai saksi. Betapa kesedihan tengah merambatinya.

Jieun, kau harus kuat, ayahmu telah bahagia di surga, maka disini kau juga harus bahagia”

Suara khas seperti milik Jinki terus menuntunnya, memberikan petuah-petuah yang menenangkan.

Menyalurkan usapan hangat pada punggung Jieun.

Jieun, ayo, kau sedikit demam, sayang”

“Ayah?”

“Ya?”

“Apa aku boleh memanggil ayah Jinki Oppa dengan sebutan ayah?”

Dan garis sabit yang tampak, mata sipit tuan Lee yang tenggelam dan selekuk senyum tulus menyapa dunia Jieun yang sempat gelap kembali terang.

“Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku ayahmu, sayang”

.

.

.

Jieun…”

“…”

“Tak apa, aku disini, aku akan menjagamu, sesuai janjiku pada ayahmu”

.

.

.

Seorang malaikat penjaga karena sebuah janji…

Sebuah janji dan bukan ketulusan.

.

.

.

Lagi, mengintimidasi langit dengan pancaran mata kecilnya yang lebih indah dari purnama. Jieun mendudukkan tubuhnya di atas ayunan yang telah menjadi teman berkeluh kesah selama hampir setahun.

Tangan kecil Jieun menyentuh pelan tepat pada perutnya, merasakan sebuah kehidupan baru.

“Ibu akan menjagamu, maka tumbuhlah dengan baik”

Jieun bersuara lalu tersenyum kecil, tangan putihnya teralih pada selembar kertas dari rumah sakit.

Jieun, masuklah, di luar dingin”

Suara Jinki memecah lamunannya. Seketika lekukan bibir Jieun mengembang, kian melebar. Ini waktu yang tepat, iya ‘kan?

“Ha-mil?”

Jieun mengangguk antusias, tangan kecilnya meraih telapak Jinki lalu meninggalkan selembar kertas disana.

Oppa, kau bahagia?”

“Aku…”

.

.

.

Ia tak bahagia, Jieun mengetahuinya.

.

.

.

Kicauan binatang malam tidak mengusiknya tapi Jinki tak mampu terlelap, sedikitpun ia tak mampu terlelap.

Mata sabitnya memandang Jieun yang terpejam damai, dengan ekspresinya yang selalu polos.

Jinki menggeleng cepat, tubuh kokohnya terus bergerak.

Tidak, Jinki tak bisa menerimanya, tapi bagaimana cara menyampaikannya?

Oppa, kau belum tidur?”

Jieun…”

Dengan perasaan ragu Jinki membuka suara, mendudukkan diri, mengisyaratkan Jieun untuk melakukan hal yang sama.

Telapak besar Jinki meraih telapak gadis di depannya, menyentuhnya pelan.

Jieun, aku rasa…ini bukan waktu yang tepat”

“Ya?”

“Aku terus berusaha melihatmu, hanya melihatmu”

Oppa…”

“Kumohon gu..gur..kan”

Jinki terbata mengucapkannya, ia ragu karena sesungguhnya ini salah.

Jinki menyadari  jika ini salah tapi ia memejam menjadi buta dan tetap melaksanakannya.

.

.

.

Jinki berjanji untuk menjaganya.

Namun hatinya terus meronta…

‘Pergilah, menyingkirlah dari hidupku, kumohon’

.

.

.

Jieun menggeleng cepat, mata kecilnya berkaca. Ini sangat sesak.

Jieun, kumohon”

Jinki memintanya, memohon dengan mata sabit yang juga berkaca. Jinki belum siap? Benarkah hanya itu?

Oppa, kita tak boleh membunuhnya”

Jieun, ini yang terbaik, kumohon”

Jinki terus memohon, cairan bening di balik kelopak matanya berjatuhan. Turun mengikuti hukum gravitasi.

Dengan cara apa untuk mengubah pikiran Jieun?

Haruskah ia berlutut?

Seperti yang dilakukan Hyeri untuk mempertahankannya saat itu?

Seketika sesuatu di dalam hatinya mendidih. Aura merah melingkupi Jinki. Hyeri memohon dan gadis itu abai, Jinki memohon dan gadis itu abai.

“Kau sangat keras kepala, aku tak yakin apa aku bisa melupakan Hyeri dan berpaling pada gadis sepertimu”

.

.

.

Hari-hari yang sama kembali menyambutnya. Jinki yang acuh dan mengabaikannya. Marah besar bahkan saat Jieun hanya membuat sebuah kesalahan kecil.

Menanggung kehidupan baru di dalam tubuhnya seorang diri.

Bukankah ia berhasil membuat sedikit ruang disana? Tapi kenapa kau menghancurkannya, Lee Jieun?

.

.

.

Kaki-kaki kecilnya melangkah berat, Jieun harus membuat keputusan besar. Meraih kenop pintu ruang kerja Jinki, menemukan lelaki itu dengan tumpukan kertas di meja.

Dapat Jieun tangkap peralatan tidur di atas sofa.

Jinki merasa lebih nyaman tidur di atas sofa sempit ketimbang berada dalam ranjang yang sama dengannya.

Mata sabit Jinki seolah tak melihatnya, mengabaikannya.

Oppa…”

“…”

“Aku…”

“…”

“Aku akan melakukannya, sesuai permintaanmu”

Jinki terperanjat, tanpa sadar ia berdiri. Mata sabitnya menatap lurus pada gadis itu.

“Kau serius?”

Dan segaris senyum yang Jieun tunjukkan, begitu sulit tersenyum untuk saat ini tapi Jieun memaksa dirinya.

Tersenyumlah, karena senyummu saat ini menunjukkan kesungguhanmu, tersenyumlah dan buat ia membalas senyummu.

Jinki bahagia dan itu cukup.

.

.

.

Aroma rumput basah terhisap jauh ke dalam saluran nafasnya, Jieun menyukai bau tanah basah saat hujan, Jieun menyukai bau rumput basah saat hujan, Jieun sangat menyukai hujan.

Sesuatu di dalam dirinya menghangat, hatinya menghangat saat tangan besar Jinki menariknya sedekat ini.

Sebuah payung dan hujan di pagi hari.

Pada halaman rumah sakit.

Memasuki lobi, membuka suara, mengatakan ini dan itu. Lalu melangkah pada suatu destinasi tertentu.

Mendudukkan diri diatas sebuah bangku panjang, Jinki memerangkap telapak kecil Jieun, menggenggamnya hangat.

Jieun, kau akan baik-baik saja, aku berjanji”

.

.

.

Jieun berada di tengah-tengah perang dunia, seluruh peluru dan hempasan pedang tidak tertuju padanya.

Ia akan baik-baik saja, Jieun tahu itu.

Tapi ia ingin pulang, ini bukan tempat yang baik, apa yang ia lakukan bukanlah hal benar.

Jieun ingin pulang.

.

.

.

Tempat yang asing.

Jieun melihatnya, peralatan medis yang akan membantunya, tidak, tapi membantu Jinki. Merasakan jantungnya memompa sangat cepat, telapak kecilnya saling menggenggam erat.

Terasa basah karena Jieun berkeringat dingin.

“Jangan gugup, rileks saja”

Suara dokter Kim sedikit membantunya.

“Pembiusan akan kami mulai”

Jieun sedikit terperanjat, jadi ini benar? Jieun benar-benar melakukannya?

Otaknya berpikir keras, Jieun sangat yakin semalam tapi hari ini entah kenapa ia merasa sangat ragu.

“Tunggu!”

Jieun mengatakannya, memutuskan untuk bangun dari posisi berbaringnya.

“Maaf, aku…aku takkan melakukannya, bisa tolong cabut ini?”

Dengan sedikit berkaca Jieun meminta, memohon pada perawat disana untuk melepas infusnya.

.

.

.

Takdir seolah memaksanya memilih dan Jieun telah memutuskan untuk jatuh bukan pada Jinki.

.

.

.

Jieun berjalan pelan, mengumpulkan keberanian untuk menemui Jinki. Bersiap mendengar letupan amarah lelaki itu.

Jieun, kau…ada apa?”

Jinki bertanya-tanya, Jieun baru saja masuk tapi kenapa sudah keluar.

“Aku tak ingin melakukannya”

Jinki menghela nafas, sangat berat.

“Kau mempermainkanku?”

Ada nada tak senang yang Jinki tunjukkan, lelaki itu tersenyum meremehkan.

BUGGHH

Tangan besar Jinki memukul telak tembok tepat di samping gadis itu, Jieun memejam rapat karena tak memiliki keberanian untuk melihatnya tepat di depan mata.

“Kau bilang tidak, lalu bilang ya, sekarang tidak lagi? Apa aku begitu menyenangkan untuk dipermainkan?”

Jieun tidak bermaksud melakukannya tapi juga tak berani membantah.

“Aku akan mengurus perceraian, Jinki Oppa tak perlu repot memikirkan anak ini”

“Kau ingin aku dibunuh ayahku? Kau bodoh? Kau pikir kenapa aku sudi menikahimu?!”

Jinki sangat marah, takkan padam meski Hyeri datang setelah pergi hampir setahun.

Kaki kecil Jieun menyentuh lantai secara langsung, kulit halusnya menyapa dingin lantai rumah sakit.

Tangan kecilnya merasakan tarikan kuat, sedikit terseret ia melangkah. Jieun masih sama, pakaian pasien dan sandal rumah sakit yang bahkan hanya tersisa satu.

BRAKK

Partikel udara terkoyak hebat saat Jinki menutupnya, sebuah pintu di tangga gawat darurat. Jinki melepas tarikannya. Nafasnya masih sangat memburu, sekuat tenaga mendinginkan pikiran.

Dengan emosi yang sekuat tenaga ia tahan, Jinki bersuara.

“Aku berjanji hanya akan melihatmu, tapi aku bilang ‘akan’ karena aku masih belum bisa melakukannya. Aku masih sangat berharap menemukan Hyeri, aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya jika melihatmu mengandung anakku. Aku takut jika aku membenci anakku sendiri, kumohon Jieun, aku belum siap”

Jinki merangkai kata mengutarakan kejujuran.

.

.

.

Selalu Hyeri yang menjadi alasan sesungguhnya.

.

.

.

Sangat terlihat, begitu jelas terlihat seperti matahari yang bersinar saat siang, begitu jelas terlihat seperti  sinar bulan yang memancar diantara gelapnya langit.

Begitu jelas terlihat bagaimana Jieun menghancurkan dunia mereka.

Jinki dan Hyeri.

Jieun, kumohon…”

Hyeri berlutut untuk mempertahankan Jinki dan sekarang Jinki berlutut untuk Hyeri. Haruskan Jieun abai? Sekali lagi?

Oppa…”

Jieun memikirkannya, fakta bahwa ayah Jinki lebih sering berada di Amerika. Gadis itu menemukan satu cara.

“Ayah akan menghubungimu saat akan pulang ke Korea, jika ayah menelepon, hubungi aku, maka aku bisa segera menyusulnya”

“…”

“Hiduplah bahagia, temukan Hyeri, aku akan pulang ke Jepang”

.

.

.

Jieun menyerah.

To be continued…

copyright

 

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s